
"Maaf Mas, tidak ada minyak telon 2 liter. Yang literan itu minyak goreng." Mbak kasir mengulum senyum. Sepertinya berusaha untuk tidak mentertawakan konsumennya itu.
"Ini yang paling bagus menurut saya. Ukuran yang paling besar 125 ml. Wanginya enak, tidak menyengat seperti telon dengan harga di bawahnya, wangi tahan lama sampe 8 jam. Mau telon plus atau biasa?" sambung mbak kasir. Mengeluarkan botol tutup kuning dan ungu dari jajaran minyak telon berbagai merek di dalam etalase kaca.
"Bedanya apa, mbak?" Rama dilanda dilema untuk menentukan pilihan.
"Yang plus selain digunakan untuk membantu meredakan perut kembung serta memberikan rasa hangat pada tubuh bayi, juga membantu menghindari dari gigitan nyamuk/serangga." Jelas mbak kasir.
"Justru aku gak akan nolak kalo digigit-gigit Puput." Ucap batin Rama sembari menimang-nimang dua botol di tangan kiri dan kanannya. Tidak bisa mencium aromanya karena kemasan tersegel.
Rama melajukan motor keluar dari parkiran minimarket dengan wajah riang dan penuh semangat. Satu kantong kresek besar berisi sabun bayi batang dan cair serta minyak telon. Minyak telon ukuran besar dengan merek rekomendasi mbak kasir diborong habis. Yang biasa dan plus. Daripada harus bolak-balik jika salah satunya tidak cocok di hidung Puput, lebih baik keduanya dibeli.
Melewati masjid yang berada di tengah komplek, Rama mambelokkan motornya ke parkiran masjid karena bersamaan dengan adzan isya berkumandang.
"Buru-buru sekali, Mas Rama." Ucap marbot masjid yang sedang menyapu lantai teras. Ia tak segan menyapa karena penghuni baru di perumahan elit itu selalu ramah. Kadang ngopi bareng kopi sasetan di teras masjid.
"Lapar, kang. Belum makan. Pulang dulu ya!" Sahut Rama sembari memasukkan selembar uang ke dalam saku baju koko sang marbot yang berasal dari Garut itu.
"Jazakallah, Mas Rama." Sang Marbot setengah berteriak karena Rama bergegas tancap gas.
Tiba di rumah disambut Puput yang duduk di ujung tangga. Sengaja menjaga jarak demi menghindari mual-mual.
"Aa, makan dulu. Udah disiapin di meja." Puput memperhatikan kantong kresek yang ditenteng suaminya itu.
"Iya, Neng. Aa ke kamar dulu."
"Aa, bawa apa itu?" Puput penasaran.
"Ada deh....kalo penasaran sini turun." Rama tersenyum jahil.
Puput menggelengkan kepala. "Nggak mau ah. Perutku baru aja diisi fulltank. Gak mau keluar lagi." Sebenarnya penasaran karena Rama merahasiakan isi kantong yang dibawa masuk ke kamar itu. Ia memilih beranjak duduk di sofa sembari mengecek semua pesan di ponselnya.
Rama makan dengan cepat. Usai makan bergegas ke kamarnya yang berada di samping tangga. Ia menunggu waktu satu jam setelah makan untuk memulai eksperimen mandi dengan sabun bayi dan membalur tubuh dengan minyak telon.
Sembari menunggu waktu, Rama mengecek email berisi laporan bulanan dari perusahaan yang berada di Amerika.
...***...
Jam sembilan malam, Rama meniti tangga menuju kamar utama. Semerbak aroma telon menguar sepanjang tangga sampai tiba di depan kamar. Dengan percaya diri masuk ke dalam kamar yang tidak terkunci itu.
"Aul, dah dulu ya. Teteh dah ngantuk. Besok lagi, dadah...." Puput menguap panjang di depan layar ponsel yang tersambung panggilan video dengan Aul. Menjatuhkan punggung ke belakang usai sambungan selama satu jam itu terputus.
Hidung Puput mengendus-ngendus merasakan aroma yang tiba-tiba tercium hidung. Sampai bangun dan menoleh ke arah pintu. Nampak Rama berdiri dengan punggung menyender ke pintu serta kedua tangan terlipat di dada.
"Aa, pake telon ya?" Puput tersenyum geli. Turun dari ranjang dan berjalan perlahan sembari memastikan indera penciumannya apakah akan mual atau tidak. Semakin mendekat dan kini berhadapan. Ia melebarkan mata karena rasa mual jika berdekatan dengan Rama, kini tidak terasa.
"Neng, sekarang gak mual-mual deket Aa?" Rama menatap wajah Puput dengan lekat untuk memastikan ekspresi sang istri.
__ADS_1
Puput menggeleng sembari tersenyum lebar. "Berarti Aa harus pake telon biar aku gak berasa mual."
"Coba sini peluk Aa." Rama membuka kedua tangannya lebar-lebar dengan wajah berbinar. Senyumnya semakin merekah manakala Puput memeluknya dengan erat sembari menghirup aroma telon di lehernya diiringi kecupan-kecupan kecil.
"Alhamdulillah....akhirnya ketemu solusi." Rama pun mengetatkan pelukan dengan wajah semringah. Saran dokter Rendi manjur. Ia berniat akan berterima kasih di grup hot daddy itu besok.
Yang terjadi malam ini melebihi ekspektasinya. Puput bukan hanya tidak mual lagi, tapi juga memperlakukannya laksana bayi. Terus dikeloni, dipeluk, dan dicium-cium dengan gemas.
"Umma, kalau gini terus bayi kecil jadi meronta-ronta. Pengeeen." Rama merajuk dengan tatapan sayu. Karena perlakuan Puput bukannya membuatnya terbuai ingin tidur, malah memancing gairah naik ke ubun-ubun. Tangannya mulai bergerilya menyusup ke balik piyama.
"Papa boleh anu tapi jangan banyak gaya ya. Calon dedek masih rawan." Puput mengingatkan. Tangannya memijat-mijat bayi kecil yang menggeliat-geliat.
"Iya, Umma." Kebahagiaan Rama berlipat ganda. Bukan hanya bisa tidur sekasur lagi. Namun juga diizinkan bertempur setelah seminggu lamanya nganggur. Sungguh malam jumat yang nikmat.
Pagi menyapa. Kantong kresek berlogo minimarket dibawa pindah ke kamar utama. Diserahkan kepada Puput untuk ditata.
"Ya salam, Aa mau jualan?" Dengan rambut setengah basah yang digerai, Puput melongo melihat isi di dalam kantong kresek. Meraih struk belanja kartu debet yang terdapat di dalamnya. Belanja sabun bayi masih wajar. Jumlah minyak telon 50 botol dengan dua varian membuatnya menepuk jidat. Total belanja dua juta lebih hanya untuk membeli telon.
"Aa kan bayi besar. Pake telon sebotol paling buat tiga hari. Ya kalo kelebihan kan bisa buat baby nanti. Expire nya masih lama." Ucap Rama santai. Usai mandi besar langsung tubuhnya dibaluri telon sehingga bisa tetap berdekatan dengan Puput.
"Nanti malam jadinya gimana? Aa berubah pikiran mau nemenin ke nikahan Idam?" Tanya Puput.
"Iya dong jadinya sama Aa." Rama berucap tegas.
"Aa nggak malu pake parfum telon?" Puput menarik sudut bibirnya. Iseng menggoda.
Puput tertawa lepas. "Duh bayi besar ngegemesin deh." Ia Menguyel-nguyel kedua pipi Rama dengan ekspresi gemas.
Rama memutuskan berangkat kerja dengan baju santai dan akan memakai baju kerja di kantor sekalian mandi ulang untuk menghapus aroma telon berganti semprotan parfum.
"Demi Umma, Papa rela." Ucap pasti Rama usai mengakhiri morning kiss dengan menggigit gemas bibir Puput di kamar mereka. Baju kerja dalam hanger di tenteng di tangan kanan. Tangan kirinya memeluk pinggang sang istri menuruni tangga sampai ke teras. Ia melambaikan tangan dengan wajah fresh begitu mobil melaju perlahan meninggalkan pekarangan.
"Pak Kur, bawakan baju saya ke atas ya!" Ucap Rama begitu mobil tiba di depan lobi. Sudah ada Damar yang berdiri menunggu di depan pintu masuk.
"Monggo, Pak Rama." Sang sopir mengangguk sopan. Ia melajukan mobil menuju parkiran khusus pejabat tinggi perusahaan.
Damar mengernyit melihat penampilan Rama yang santai dengan outfit celana chinos dan kaos hitam serta sepatu sneakers. Makin mengkerut begitu mencium aroma boss RPA yang kini mendekat.
"Lo ganti parfum apa ini?" Bisik Damar agar tidak didengar oleh para karyawan yang mulai berdatangan. Bahkan tertangkap sudut mata pada menoleh ke arah Rama sembari menahan senyum.
"Ini minyak telon bayi. Setelah pake ini Puput gak mual-mual deket gue. Smart solution dari para suhu." Rama berucap bangga sembari berjalan menuju arah lift. Ia abaikan curi-curi pandang para karyawan yang mungkin merasa heran dengan aroma bayi yang menguar.
Damar geleng-geleng kepala. Tak urung merasa geli dengan tingkah calon Papa yang pagi ini begitu cerah ceria. "Sakarepmu lah pakmil. Tapi nanti siang ada meeting sama Pak Edwin masa pake baju hangout."
"Tenang aja. Gue bawa baju kantor. Mau mandi ulang juga ganti aroma." Sahut Rama santai.
Pintu lift terbuka. Rama berpisah arah ruang kerja dengan Damar. Ia tersenyum bangga melihat Nova yang selalu datang lebih dulu darinya.
__ADS_1
"Selamat pagi, Pak Rama." Rama tersenyum dan mengangguk sopan. Sekilas tergambar raut kaget karena mencium aroma minyak telon.
Rama menghentikan langkah sembari memasukkan keduatangan ke dalam saku celana. "Nggak usah heran, Nov. Saya udah ikutin saran kamu buat nanya pengalaman teman. Dan hasilnya ini. Saya harus jadi bayi besar. Mandi pake sabun bayi sama pake minyak telon. Mulai tadi malam saya tidak lagi gegana." Jelasnya dengan penuh bangga.
Nova tersenyum lebar. "Alhamdulillah. Saya ikut senang. Saya juga gak akan nolak kalo dikasih bonus," ujarnya diiringi senyum dikulum.
"Ck, ngelunjak deh." Rama mendecak tapi tangannya merogoh dompet di saku belakang celananya. "Cuma ada duit cash 600. Lumayan buat jajan bakso."
Nova dengan girang menerima uluran lembaran merah dari Rama. "Terima kasih, boss. Alhamdulillah jumat berkah dan cerah." Dalam hatinya pun berharap hari-hari ke depan, boss nya itu tidak moddy lagi.
...***...
Puput menyambut Rama pulang kerja dengan menggelayut manja di lengan suaminya itu. Aroma minyak telon yang menguar dari tubuh sang suami membuatnya menanti waktunya pulang dengan tidak sabar.
"Aa jangan mandi lagi ya. Udah gini aja, wangi." Ucap Puput sembari bersandar di dada Rama yang memakai lagi baju yang sama saat berangkat ke kantor. Keduanya duduk santai di sofa ruang keluarga lantai atas.
"Emang Aa udah mandi di kantor sebelum pulang." Rama mengecup puncak kepala Puput penuh sayang. Ia rela mandi tiga kali untuk menggonta-ganti aroma tubuhnya.
Waktunya menghadiri resepsi Idam. Rama selesai mengenakan baju batik slimfitnya. Puput yang menyiapkan dengan warna disenadakan gaun yang dikenakannya. Keduanya bergandengan tangan menuruni tangga.
Bi Lilis yang melihat kemesraan pasangan cantik dan ganteng itu tersenyum geli. Tetapi juga salut karena Rama percaya diri pergi ke kondangan dengan aroma bayi.
Tiba di lokasi resepsi. Puput tak lepas menggelayut di lengan Rama. Aroma bayi dari tubuh suaminya itu sungguh membuatnya menjadi manja ingin selalu menempel. Sama-sama percaya diri melangkah naik ke pelaminan meski menjadi pusat perhatian karena aroma minyak telon.
"Idam, barokallahu laka......" Puput berucap doa sang pengantin sampai selesai sembari menjabat tangan Idam dan pengantin wanita yang disatukan dalam genggamannya itu. Rasa bahagia tulus terpancar dari sorot matanya.
"Aamiin. Terima kasih, Put. Aku seneng banget deh kamu bisa datang." Ucap Idam. Yang juga diaminkan istrinya.
"Mas, terima kasih untuk kedatangannya. Sebuah kehormatan buat kami." Sambung Idam sembari berpelukan dengan Rama. Yang dijawab Rama dengan tersenyum dan mengangguk.
"Ngomong-ngomong, ini aroma-aromanya sih ada yang lagi hamil?" Idam menaikkan satu alisnya. Masih menahan langkah Puput dan Rama.
"Eh, kok bisa tau? Karena aroma telon ya?" Tebak Puput menatap Idam.
Idam tertawa. "Iya, bener. Soalnya jadi keinget kakak ipar yang punya baby usia 2 bulan. Aromanya sama. Iya kan, sayang?" ujarnya menatap sang istri di sampingnya. Dan mendapat anggukkan.
"Hanya aroma telon yang bikin aku bisa dekat sama paksu. Selain itu, aku bakal mual muntah." Jawab Puput jujur. Yang menciptakan tawa bersama. Sebelum turun pelaminan, fotografer mengabadikan kebersamaan dalam gaya formal dan gaya bebas.
Rama menuntun Puput turun pelaminan dengan hati-hati. Beralih memeluk pinggang istrinya itu dengan posesif. Karena ia menangkap pandangan kaum adam yang mencuri pandang terhadap Puput dengan sorot penuh ketertarikan. Ia sendiri mengakui aura calon ibu dari anak-anaknya itu semakin mempesona.
"Aa, pulang yuk!" Puput menghentikan langkah sebelum sampai ke jajaran stand makanan dan minuman.
"Kenapa buru-buru, sayang? Nggak mau nyicip dulu makanan?" Rama menatap heran.
"Masih kenyang ah. Yang penting udah setor muka sama pengantinnya. Pengen pulang aja, jadi pengen ngelonin bayi besar." Puput mengusap perutnya yang masih rata. Sebelum berangkat memang sudah makan malam dulu bersama Rama. Tak bisa menunda lapar.
Tanpa kata, Rama memeluk pinggang Puput menuju pintu keluar. Dengan senang hati mengabulkan keinginan bumil yang sama sekali tidak merepotkan. Malah menyenangkan.
__ADS_1