Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
76. Menghitung Mundur


__ADS_3

Puput perlahan menarik tangannya dari genggan tangan Rama. Tidak baik berlama -lama. Cukup duduk bersisian lebih tenang baginya. Sebaliknya, perasaan Rama tengah gelisah menanti jawaban yang diharapkan.


"Sebaiknya sesuai rencana awal aja. Hari ini lamaran, dua bulan kemudian menikah. Tapi kalau dua bulan Aa belum kembali dari Amerika, diundur aja seberesnya urusan pekerjaan di sana."


"Bukan hanya kita yang jalanin ldr-an. Di luar sana juga banyak. Kita masih bisa komunikasi tiap hari. Jadi kayaknya nggak ada yang mesti dikhawatirin. Bukankah ini hanya perpisahan sementara?"


Rama mengusap wajah diiringi helaan nafas panjang. Kecewa mendengar jawaban Puput. Namun berusaha tidak memperlihatkan. Ternyata diplomasi meluluhkan hati tidak semudah pemenangan tender. Alot dan harus menambah strategi.


Neng, kalo aku bilang alasan sebenarnya apa kamu akan memaklumi?


Dulu, rumah dan kendaraan masa depan sudah siap. Hanya tinggal selangkah lagi menentukan tanggal pernikahan. Namun aku dihempaskan oleh kenyataan pengkhianatan.


Aku trauma, Neng.


Rama mengerjapkan mata yang menyorotkan kegelisahan. Hanya berani menyuarakan dalam hati. Tidak ingin akhirnya merusak masa tenang. Dimana waktu terus bergerak, menghitung jam menuju acara lamaran.


"Karena ini ldr-an nya beda, Neng. Kalau Jakarta-Ciamis, aku masih bisa datang tiap akhir pekan. Ini New York-Ciamis..." Rama menggeleng. "Aku yakin gak bisa kerja dengan tenang. Mungkin aja baru bisa pulang tahun depan." keluhnya dibumbui drama.


"Hanya dengan nikah dulu hati ini jadi tenang. Mau ya, sayang?" Kali ini Rama memelaskan wajah menatap Puput.


Puput masih diam, mulai mempertimbangkan. "Setelah nikah agama, kedepannya gimana?" ia sampaikan apa yang mengganjal di hati.


"Rencananya begini. Hari ini nikah, besok aku akan membawamu ke Jakarta. Kita di sana dulu sampai waktunya aku berangkat. Selanjutnya kamu boleh pilih mau tinggal dulu bersama Mami atau pulang lagi ke Ciamis. Bebas, senyamannya kamu. Setelah aku kembali dari Amerika, kita nikah lagi secara negara sekaligus resepsi." Rama mengamati ekspresi wajah Puput yang serius menyimak.


Hening kembali menyergap. Puput tak kunjung menjawab.


"Apa ada yang kamu takutkan? Atau ada syarat yang harus kupenuhi? Bicarakan saja!"


Puput menggeleng. "Hmm, aku nggak bisa putusin sendiri. Mau tanya Ibu dulu. Sebentar ya!" bergegas pergi menemui ibunya di dapur.


Dan di hadapan Ibu Sekar, dengan serius Rama mengulang cerita sama persis seperti penjelasannya terhadap Puput. Yang disimak Ibu Sekar dengan baik, manggut-manggut sampai penjelasan Rama berakhir.


"Kenapa Puput tidak diajak ke Amerika?" Ibu menyampaikan rasa penasarannya. Karena Rama sama sekali tidak menyinggung ke arah sana.


"Pembuatan paspor, terutama visa butuh waktu lama sampai 14 hari, Bu. Sementara dokumen perjalanan aku sudah lengkap dan masih berlaku panjang. Bisa terbang kapanpun. Tapi itu bukan alasan utama aku tidak mengajak Puput. Puput bisa saja nyusul nantinya."


"Tapi masalahnya perusahaan di sana lagi krisis. Jadi nantinya fokusku lebih banyak ke pekerjaan. Kasian kalau Puput hanya diam di apartemen, lama-lama pasti bosan. Lebih baik lain waktu sengaja acara liburan."


Ibu manggut-manggut. Alasan Rama dirasa masuk akal.


"Kalau menurut Ibu. Keinginan nak Rama baik. Tidak hanya baik untuk kalian berdua yang akan berjauhan, tapi juga memberi ketenangan untuk Ibu dan orangtua nak Rama."


"Kategori mendekati zinah itu bukan hanya kontak fisik, tapi telpon atau video call-an juga bisa menjurus ke sana. Ini jadi kekhawatiran orangtua di jaman teknologi serba canggih gini. Setan bisa menggoda untuk terus berbuat dosa dari arah mana saja. Jadi....Ibu merestui niat nak Rama. Tapi keputusan akhir, Ibu serahin sama Teteh." Ibu menoleh terhadap Puput yang duduk di sisinya.


Restu orangtua sudah dikantongi. Tapi Rama belum lega. Masih tegang menunggu pemilik bibir ranum itu berucap.


"Kalau Ibu sudah merestui, iya....aku mau." Puput mengulas senyum manis menatap Rama, yang membalas senyum diiringi ucap hamdallah. Ibu pun berucap syukur sambil memeluk bahu Puput, mengusap-ngusapnya.


"Untuk maharnya mau apa, Neng? Aku akan siapin." Rama melirik jam di pergelangan tangannya. Tak terasa sudah satu jam. Perubahan acara ini membuatnya harus bergegas mempersiapkan berbagai hal lain.


"Cukup seperangkat alat shalat aja, A." lugas Puput menjawab.

__ADS_1


Rama mengerutkan kening. "Hanya itu? Ditambah uang atau perhiasan ya? Mau berapa aku siap."


Puput menggeleng. "Udah itu aja, Aa. Seperangkat alat sholat, jangan dilihat dari sederhananya barang. Tapi lihat dari maknanya. Aa cari tahu sendiri deh maknanya." ujarnya tersenyum simpul.


...***...


Keluarga menyambut kabar yang dibawa pulang Rama dengan sukacita. Kesibukan kecil terjadi di rumah Enin. Mami Ratna jelas paling heboh. Merasa perlu ada tambahan hantaran sebagai refleksi kebahagian karena sang anak akan lepas lajang malam ini.


"Ram, dari bibi aja ya maharnya. Di butik ada mukena dan sajadah koleksi terbaru. Gratis buat kamu." Bibi Ratih menghampiri Rama yang tengah fokus menatap layar ponsel.


Rama mendongak. "Jangan, Bi. Mahar jadi tanggungjawab laki-laki. Aku beli dari butik Bibi pakai uangku sendiri. Kalau mau ngasih hadiah, barang lain aja. Asal jangan seperangkat alat sholat itu." Adik dari Mami Ratna itu pun mengangguk setuju.


Rama dibuat penasaran oleh ucapan Puput tentang makna mahar seperangkat alat sholat yang diminta. Yang terdiri dari mukena, sajadah, Al -Qur'an dan tasbih.


Dan saat ini ia tengah fokus membaca artikel tentang filosofinya. Yang bisa disimpulkan jika suami bertanggung jawab membimbing istri dalam beribadah, mengingatkan untuk rajin membaca Al-Qur'an, tidak lalai untuk berdzikir, serta menyediakan sarana ibadah yang layak.


Rama terpekur. Merasa diri juga masih banyak kekurangan dalam melaksanakan ibadah. Masih lalai. Menjadi cambuk diri, mulai saat ini dalam hati berjanji akan terus belajar memperbaiki diri. Tak ada kesulitan baginya dalam hal memenuhi nafkah jasmani. Tapi untuk nafkah rohani, ia merasa belum punya bekal yang cukup. Nanti, perlu bersama-sama dengan sang istri, saling mengisi dan melengkapi.


Rama dan Papi Krisna duduk berdua di kursi teras belakang. Ditemani dua gelas teh hijau, Papi sengaja mengajak anak laki-laki satu-satunya itu quality time berdua. Nun jauh mata memandang adalah hamparan pesawahan yang hijau menyegarkan mata. Menjadi view pelengkap kehangatan hubungan ayah dan anak itu dalam menikmati senja sambil berbincang santai.


"Rama, Papi titip sedikit nasehat. Menikah itu ibadah seumur hidup. Di dalamnya ada lelah yang dibalut Lillah. Ada suka duka yang akan dilalui. Hanya orang-orang yang mempunyai komitmen yang kuat untuk menjaga, yang mampu melaluinya sampai nyawa terpisah dari raga. Semoga kamu termasuk diantaranya."


Rama terpekur meresapi nasehat bijak Papi Krisna.


"Apa yang kamu lihat dari cara Papi selama ini menyayangi Mami, mendidik kamu dan Cia, petik pelajarannya. Yang baiknya turuti, yang jeleknya buang." Papi Krisna menyesap tehnya perlahan sambil dinikmati.


"Bagi aku, Papi adalah the best father." Rama memandang penuh kebanggaan ke arah papinya yang masih memegang gelas.


Rama tersenyum mesem. "Jika itu dianggap kesalahan besar, aku respect dengan cara Papi menyelesaikannya. So, Papi tetap terbaik." Diangkatnya gelas teh hijau ke udara. Papi menyambutnya dengan cheers.


Menjelang Magrib.


"Eciee, calon manten. Tadi pagi pucet sekarang bercahaya bingit. Padahal matahari dah tenggelam." Cia menggoda Rama yang tengah membaca buku sambil menunggu adzan berkumandang. Damar mengekori duduk di samping Cia. Ia juga sudah bersiap memakai baju koko, akan mengikuti Rama pergi ke masjid.


"Bro, awas ya nanti pas ijab kabul. DIBAYAR KONTAN bukan DIBAYAR KOMPAN." ujarnya. Yang ditimpali Cia dengan tertawa cekikikkan. Teringat saat Rama tadi latihan dengan menjabat tangan Damar, salah ucap saking semangat.



Yang diledek hanya terkekeh. Tidak mau menanggapi. Wajah tampannya terus berhias senyum semringah. Tentu saja bahagia tak terkira, lepas dari ketegangan sejak subuh sampai siang tadi. Baru bisa tidur nyenyak jam 2 siang agar wajah menjadi fresh. Kini, dalam masa tenang menunggu waktunya tiba lepas lajang.


Benar-benar hal yang tidak disangka sebelumnya. Di luar rencana. Mendadak menikah. Serasa mimpi. Ternyata tidak ada seorang pun yang tahu tentang jalannya skenario yang Allah buat untuk hamba-Nya.


Adzan magrib terdengar berkumandang. Dan kurang dari satu jam ke depan ia dan rombongan siap bertolak menuju hotel tempat acara.


...***...


POV Zaky


Aku sama Mamang lagi memantau kerja tim WO yang masih sibuk merapihkan dekorasi di ballroom hotel. Sekarang jam satu siang. Mereka sedang tahap finishing memasang bunga segar untuk acara lamaran yang akan dimulai jam 7 nanti malam.


Tiba-tiba Ibu menelpon dan menyuruhku pulang sekarang juga. Kedengarannya sangat serius. Aku pamit pulang lebih dulu kepada Mamang. Motor supra peninggalan Ayah jadi tunggangan andalan. Wussh...aku melajukan motor kesayangan ke arah pulang.

__ADS_1


"Bu, ada apa?" Aku langsung duduk di sofa tunggal. Karena di sofa panjang ada Teh Puput dan Teh Aul. Ami tidak terlihat entah kemana.


"Zaky, acara nanti malam ada perubahan. Nanti malam bukan hanya lamaran tapi diteruskan akad nikah. Kak Rama dan Teh Puput sepakat untuk menikah agama dulu. Demi kebaikan. Karena Kak Rama mau pergi ke Amerika untul urusan kerja."


Aku menyimak ucapan Ibu. Tidak protes ataupun usul. Mereka lebih mengerti karena orang-orang dewasa. Pasti sudah mempertimbangkan dengan matang. Aku hanya mendukung dengan manggut-manggut saja.


"Zaky akan jadi wali nikah Teteh." Kelanjutan ucapan Ibu, baru membuat aku kaget. Tersadar jika akad nikah itu harus ada wali pihak perempuan.


"Waduh. Wahh...." Aku langsung meraba dada. Deg degan jadinya.


"Kenapa dadakan gini ngasih taunya, Bu? Aku kan harus latihan. Belum pengalaman. Mana empat jam an lagi acaranya." Aku meringis menyapukan pandangan pada semua orang.


"Tenang aja. Kalo Zaky gak hafal, nanti kan ada yang membimbing. Yang penting Zaky jangan gugup. Biar bicaranya lancar. Syukur-syukur bisa hafal tanpa dituntun." Teh Puput menyemangati.


Belum juga menjawab, tiba-tiba ada tamu yang datang. Ternyata pegawai butik Sundari, butiknya Bunda Ratih, mengantarkan baju beskap dengan tulisan nama aku.


"Pak wali, cobain dulu beskapnya. Cukup nggak?" godaan Teh Aul lumayan mencairkan rasa tegang. Beskap warna hitam itu seperti pakaian ningrat. Pas sekali di badan aku yang bongsor ini. Ditambah blangkon khas sunda yang juga pas di kepala. Aku jadi gagah.


"Widiwww, Aa kayak pangeran kodok." Tahu-tahu si Ami muncul entah dari mana. Membuat semua orang mentertawakan. Tak terkecuali Ibu, sampai bahunya terguncang-guncang. Padahal aku sudah narsis abis. Merasa gagah maksimal. Si Clarisa pasti makin klepek-klepek deh. Ini malah dijatuhkan sama adik menyebalkan itu. Eh, kenapa jadi bahas si Clarisa.


Selepas ashar semuanya berangkat ke hotel. Stay di sana. Ada dua kamar free dari pihak hotel untuk menginap satu malam. Di dalam kamar aku terus menghafal kata-kata ijab sambil berjalan mondar-mandir. Ibu yang melihatku terlihat mesem-mesem. Aku tes hafalan di depan Ibu. Dan Ibu menilai dengan acungan dua jempol. Membuat aku makin percaya diri. Aku peluk Ibu penuh sayang.


Adzan magrib berkumandang. Itu artinya menghitung mundur menuju acara sakral. Aku mencoba tenang dengan mengatur nafas.


"Ayah....sebentar lagi Zaky akan menikahkan Teteh. Aku akan mewakili Ayah. Tak menyangka aku merasa dewasa saat ini, Yah. Insyaa Allah, Zaky tidak akan membuat ayah malu. Tapi akan membuat ayah bangga punya anak laki-laki bernama Zaky Wijaya. Allahummaghfirlahu...Warhamhu...Wa'afihii....Wa'fuanhu. " Aku panjatkan do'a khusyu untuk almarhum di atas sajadah dengan suara lirih dan serak. Mengirimkan surat Al Fatihah. Aku jadi rindu ayah.


Aku sudah rapih memakai beskap dan blangkon. Penasaran ingin ke kamar sebelah melihat Teteh yang sedang dirias tim MUA.


"Put, gak nyangka kamu dahuluin aku. Benar-benar kejutan. Kamu makin canciiik deh, Siput." Mbak Via heboh banget ngerecokin Teteh yang lagi dirapihakan jilbabnya. Meskipun tetap memakai gaun acara lamaran, aura pengantin tetap terpancar di wajah Teteh.


Aku tersenyum simpul memperhatikan Teh Puput. Emang, si Tom versi cewek ini beneran makin cantik bercahaya. Apa setelah Teteh nikah, masih bisa mengulang ngeledek, ngerjain. Ah, jadi kangen aksi Tom and Jerry kejar-kejaran lalu adu jurus.



"Ow emji...ini Zaky atau Sangkuriang? Cakep bener. Beuh....manglingin." Teriakan Mbak Via bikin aku kaget. Padahal masih betah natap Teh Puput sambil melamun. Ah, merusak keharuan.


"Bukan, mbak. Ini Pangeran Zaky dari kerajaan Siput." Aku menepuk dada sambil berlalu ke luar kamar. Terdengar suara cekikikkan mbak Via sampai pintu tertutup. Entah Teh Puput ketawa atau tidak.


Aku berpapasan di lorong kamar dengan crew WO yang datang memberitahu jika acara akan segera dimulai. Rombongan pihak laki-laki sebentar lagi tiba.


Aku mengatur nafas. Mensugesti diri agar bisa tenang. " Bismillah.....rileks, Zaky. Siap-siap jadi wali huhh." aku mengepalkan tinju ke udara.


...***...


🌹🌹🌹🌹


Besties....


Ada undangan dari RamPut untuk semuanya. Jangan lupa datang memberi do'a, membawa kado terbaik, teristimewa.


Yuk!!!! semangatin Author yang pengen mandi kembang sama mandi kopi biar lancar nyusun acaranya. 💃💃💃

__ADS_1


__ADS_2