
Panji harus menunggu bundanya selesai menerima tamu di butik untuk pergi menengok Ibu Sekar di rumah sakit. Barulah sore ini waktu luang itu ada. Bertiga bersama Enin, mereka tiba di depan pintu kamar perawatan sang pasien.
Aul yang membukakan pintu, menyambut penuh senyum dan menyalami ketiganya.
"Aul di sini sama siapa?" Panji yang paling akhir masuk, berharap jawaban yang tidak membuatnya kecewa. Karena ia melihat sosok pria yang tidak dikenalnya dengan ramah menyalami bundanya dan Enin.
"Kalau tadi sama Teh Puput dan Zaky, tapi baru saja pulang dulu. Baru 15 menitan lah. Sekarang cuma berdua sama Kak Angga, dia nemenin dulu biar aku nggak bosen sendirian katanya. Nanti kan Zaky le sini lagi, nginep."
"Emang dia masih sodara?" Panji masih penasaran. Belum beranjak dari ambang pintu. Biar percakapan pelan itu tidak terdengar ke sampai ke dalam.
"Namanya Kak Anggara, temennya teh Puput. Dia polantas yang nolongin membawa ibu ke rumah sakit. Dan yang bantu urusin masalah dengan si penabrak. Alhamdulillah udah tuntas secara kekeluargaan." Jelas Aul seadanya.
"Owh." Panji menyahut singkat.
Panji menyerahkan parcel buah yang dibawanya kepada Aul. Yang diterima dengan ucapan terima kasih. Ia pun menerima saat Aul mengenalkannya pada pria yang barusan dibahas. Menyambut uluran tangan pria bernama Anggara itu dengan tatapan saling beradu tajam. Selanjutnya ia memilih bergabung dengan Enin dan Bunda Ratih di samping bed, mendengarkan Ibu Sekar yang menceritakan kronologis.
Mereka menjenguk selama setengah jam sampai waktu magrib tiba.
...***...
Puput dan Akbar duduk berhadapan terhalang meja. Suasana Dapoer Ibu masih ada beberapa pengunjung baru yang masuk di jam yang menunjukkan waktu pukul 8 malam.
"Aku ke rumah sakit lagi abis magrib. Katanya kamu pulang dulu. Adikmu Aulia ngasih shareloc alamat ini. Tadi pas masuk mau nyapa, tapi kamu keliatannya lagi ngobrol serius. Jadinya aku nunggu aja sambil makan di meja deket situ." Akbar menunjuk meja dimana tadi ia duduk saling memunggungi dengan Puput.
"Nggak niat nguping lho. Tapi nama Rama disebut, aku jadi tertarik denger. Jadi aku denger semua strategi yang kalian rencanakan. Baru tahu kemarin dari Tante Ratna kalau kamu tuh jawara silat. Pantesan sebagai cewek, kamu beda. Keliatan tangguh. Put, libatkan aku dalam misimu!"
Puput menatap pria di depannya itu sejenak. Menelisik apakah ada kegelisahan di netra hitamnya itu sebagai bukti kebohongan ucapan. Meski benar Akbar masih kerabatnya Rama, namun ia baru berjumpa. Belum bisa mempercayai sepenuhnya dengan orang baru.
"Puput?!" Akbar mengulang meminta kepastian jawaban.
"Oke. Nanti aku kasih tahu tugasnya Mas Akbar. Tapi sementara ini jangan bilang sama Papi. Karena ada warning jangan melibatkan polisi." Puput membuat keputusan menerima bantuan Akbar. Mengikuti kata hatinya. "Dan sebaiknya sekarang pulang dulu. Besok aku akan hubungi lagi mas Akbar." Puput pun bertukar nomor kontak.
"Oke. Hubungi aku kapanpun dibutuhkan. Aku serius ingin menolong Rama. Aku pulang dulu ke hotel." Akbar berdiri bersiap pergi. Yang diikuti pula oleh Puput, berjalan menuju rumah.
__ADS_1
Zaky sudah kembali ke rumah sakit selepas magrib dengan membawa baju ganti dan juga buku pelajaran jadwal besok. Puput kini di rumah sendiri. Namun di belakang rumah ada mes yang dihuni 3 orang pegawai Dapoer Ibu. Dari jendela kamarnya, Puput melihat ke arah jalan raya. Namun tidak nampak lagi dua pengawal yang mengikutinya tadi. Ia memang sudah menyuruh mereka untuk beristirahat. Tidak perlu menjaganya di luar rumah.
Hanya kesunyian. Padahal cuaca cerah dan jarum jam pendek baru menunjuk angka 9. Puput menarik nafas panjang. Besok hari ke tujuh hilangnya Rama. Ingin sekali segera pagi. Banyak rencana yang akan dilakukannya esok hari dalam upaya menemukan jejak suaminya itu.
...***...
Pagi pun datang menyapa. Puput yang sudah bamgun sejak subuh, menyiapkan makanan yang akan dibawa ke rumah sakit. Mobil Pajero sudah terparkir di depan diantarkan oleh Mang Yaya, setelah semalam menelpon Enin meminta ijin. Hanya tinggal menunggu kedatangan Via yang akan ikut semobil dengannya.
"Ceu Nining, aku percayakan di sini sama Eceu ya. Aul masih harus nemenin Ibu di rumah sakit." Puput mewanti-wanti orang kepercayaan ibunya itu. Menitipkan rumah juga warung makan.
"Siap, Neng. Jangan khawatirkan urusan di sini. Semoga ibu cepat sembuh dan segera pulang ya."
Puput mengaminkan dan menghampiri Via yang baru datang diantar Adi.
"Put, aku kangeennn." Via memeluk dengan heboh seperti biasanya. Semalam ia menyanggupi permintaan Puput yang meminta menemaninya ke kantor.
Sejenak Puput bertegur sapa dengan Adi. Menjawab pertanyaan Adi yang menanyakan perkembangan pencarian Rama. Yang kemudian mobil suaminya Via itu melaju lebih dulu.
"Yuk jalan! Biar gak kesiangan ke kantor!" Puput menepuk bahu Via. Tujuan pertama akan menengok dulu Ibu di rumah sakit sembari membawa bekal nasi dan lauk. Karena ibu menginginkan masakan rumah.
Puput meminta Via membuka resleting depan tasnya. Mengeluarkan kertas dan menyuruh membacanya.
"Coba cocokin tulisannya. Sama nggak?" Puput menoleh sekilas saat Via bereaksi kaget membaca isi surat.
Via menurut membuka ponselnya. "Astaga! Beneran sama." Ia terkaget untuk kedua kalinya dengan mata membulat. "Ini si Septi udah insaf apa jebakan aja? Put, kamu harus waspada." Sambungnya dengan wajah tegang. Ia tidak bisa seperti Puput yang terlihat biasa saja.
Puput meminta pembahasan ini distop dulu karena sudah sampai rumah sakit. Meminta Via menormalkan ekspresi. Jangan memperlihatkan wajah tegang atau cemas karena tidak ingin Ibu tahu urusan ini.
"Ibu, sekarang keadaannya gimana? Dokter udah visit belum?" Dengan wajah cerah Puput berdiri di tepi bed. Menatap penuh sayang.
"Dokter belum visit. Sekarang terasa sakit semua badan, kaki agak kaku. Padahal kemarin mah tidak apa-apa." Keluh Ibu sambil meringis saat memiringkan badan ke arah Puput karena tangan yang digips terasa linu dan berdenyut.
"Itu karena Ibu belum makan obat pagi ini. Ini diantaranya ada obat pereda sakit. Ibu kan mau makannya nunggu bekal dari teteh." Aul bergabung dengan membawa sepiring nasi dan lauk untuk menyuapi Ibu.
__ADS_1
"Ibu harus semangat minum obat biar lekas sembuh ya Bu!" Via mengepalkan tangan memberi motivasi.
Tek berselang lama dokter datang bersama seorang perawat. Dokter dengan ramah mengajak Ibu Sekar berbincang menceritakan keluhan apa saja sambil mengecek kondisinya. Selesai pengecekan, dokter menyampaikan jika pasien masih harus dirawat sekitar dua atau tiga hari lagi karena harus memantau kondisi tangan yang digips.
Membuat Ibu mengeluh dan berdecak usai dokter dan perawat keluar. "Ibu bosen, Teh. Mau di rumah ajalah dirawatnya."
"Sabar, Bu. Tangan Ibu kan nggak boleh banyak gerak. Ikuti dulu saran dokter ya!" Puput mengusap kepala ibu yang berbalut hijab. Ia tahu, Ibu orang yang nggak betah diam. Mesti ada saja kegiatan yang dilakukan sejak bangun sebelum subuh sampai sore hari tiba. Hanya setengah jam berkunjung, ia dan Via pamit pergi ke kantor.
"Aku kesiangan masuk karena jalan sama boss. Jadi nggak akan kena SP ya, Bu boss?" Ujar Via dengan senyum menyeringai saat mobil kembali memasuki wilayah Ciamis. Sudah bisa dipastikan akan terlambat 30 menit sampai ke kantor.
"Hm---" Puput menoleh sekilas dengan bibir mencebik. Ia kembali fokus menatap jalan di depannya yang lengang. Berbeda dengan satu jam yang lalu, padat karena jam sekolah dan jam berangkat kerja.
Puput sampai harus menurunkan kecepatan sekaligus mengurut rem saat di depannya berjarak sekitar 7 meter, ada perempuan turun ke jalan dan melambaikan kedua tangan di atas.
"Put, itu...itu Septi!" Via yang juga fokus memandang ke depan, terkaget begitu jelas melihat wajah yang dulu menjadi atasannya itu.
Puput menghentikan mobil di jarak 3 meter dari tempat Septi berdiri. Berniat turun, namun menunggu dulu mobil pick up yang melaju kencang yang terlihat dari spion, lewat menyalip mobilnya. Tak diduga, mobil pick up itu dengan sengaja menghantam tubuh Septi sampai terpental melayang di udara.
Kejadian mengerikan itu jelas terlihat oleh Puput dan Via. Bersamaan menjeritkan nama Septi. Puput turun dan berlari menuju tubuh Septi yang terpental terbang ke bahu jalan. Sementara mobil yang menabrak sudah sangat jauh melarikan diri, melaju kencang ke arah kota. Warga dan beberapa pemotor mendekat ke arah korban tabrak lari itu. Ada pula pemotor yang berupaya mengejar mobil itu.
"Septi....Septi. Kamu harus bertahan!" Puput spontan membalikkan tubuh Septi yang telungkup. Wajah dan kepala wanita itu penuh darah, nafasnya tersengal-sengal.
"Tolong siapapun. Telpon ambulance. CEPAAATTT!" Puput berteriak panik menatap orang-orang yang berkerumun mendekat.
Septi meraih tangan Puput dengan gemetar dan susah payah. "Ma-ma-maa...af." Bibir yang mengalir darah segar itu mengucap lirih.
Puput menggeleng saat tangannya digenggam kuat oleh Septi. "Bertahan Septi. Ingat kamu masih punya Nabila, kamu punya Ibu. Kamu nggak boleh pergi sekarang. Kamu harus kuat, Sep!"
Tiba-tiba genggaman kuat itu melemah dan perlahan merenggang, pandangan Septi nanar dan menggenang air mata. Puput merasakan ada kertas di telapak tangannya saat tangan Septi mulai melorot. Dalam keadaan panik, ia segera mengatupkan tangan. Jangan sampai orang yang berkerumun dan merekam, melihatnya.
Puput yang nersimpuh di dekat tubuh Septi, beringsut membuat jarak saat korban tabrak lari itu mulai mengatupkan mata dengan kepala terkulai. Ia gemetar untuk menyentuhnya lagi. Terlalu takut melihat kenyataan di depan matanya itu.
"Ya Allah, tidak Septiii. Jangaannn" Via pun menjerit dan menangis keras diiringi gelengan kepala. Ia sangat tidak tega melihat keadaan mantan supervisor store itu.
__ADS_1
Beruntung sebuah mobil patroli polisi melintas dan diberhentikan orang-orang. Dengan gerak cepat orang-orang membantu. Tubuh Septi diangkat dibujurkan di bak belakang.