Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
142. Senja di Canggu


__ADS_3

Jakarta


Puput duduk manis menghadap layar ponsel yang dipasang menggunakan holder di meja makan. Sabtu pagi ini ada panggilan video dari Zaky yang meminta support karena akan melakukan Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) pencak silat.


"Zaky nggak nanya sama Aul soal UKT?" Ucap Puput karena adiknya itu meminta sharing pengalaman.


"Tadi malam udah nanya. Tapi katanya lebih afdol kalo nanya ke Teteh. Teteh kan tamat sampe sabuk violet."


"Teh Aul tadi jam enam berangkat healing ke Pangandaran sama Kak Panji, Ami, dan Padma, Teh." Lapor Zaky.


Puput manggut-manggut. Ia tidak merasa khawatir jika Aul pergi dengan orang yang sudah dikenalnya.


"Zaky, yang ikut UKT berapa banyak sekarang?" Puput menyuapkan sesendok gado-gado ke mulutnya. Subuh tadi tiba-tiba terbersit ingin makan gado-gado. Beruntung bahan-bahannya tersedia di dapur. Dibantu Bi Lilis yang membuat bumbu kacang, jadilah ia bisa menikmati sekarang.


"Sekitar delapan puluh orang campur tingkatan, Teh. Kalau seangkatan aku ada 30 orang. Tadinya tempat UKT mau di Padepokan. Jadinya pindah ke Graha Andalan karena digabung dengan ranting Banjar." Jelas Zaky yang sudah memakai celana jogger dan kaos hitam. Karena akan diuji jurus oleh Puput.


"Waktunya dua hari ya, Ky?" Puput memastikan sembari memakan gado-gado nya.


"Betul, Teh. Aku jadi nervous takut nggak lulus. " Zaky meringiskan wajah.


Puput menggeleng. "Jangan nervous. Karena itu akan mengganggu konsentrasi. Mau latihan, mau ujian, ataupun real ketemu orang jahat, ketenangan jadi kunci utama."


"UKT sabuk merah prosedurnya sama aja dengan ujian tingkat di bawahnya. Hanya saja materi jurusnya lebih banyak dan harus hafal. Makanya butuh konsentrasi penuh."


"Ujian Gerak akan dimulai malam hari. Zaky dari sekarang awet-awet tenaga biar nanti malam full power. Coba Teteh tes dulu latihan jurus buat Ujian Gerak." Ucap Puput setelah panjang lebar memberi pengarahan.


Zaky bersiap memakai penutup mata. Karena nanti pun saat materi Ujian Gerak, semua peserta akan ditutup mata.


Lari pagi sampai tiga kali berkeliling komplek perumahan, cukup membuat sekujur tubuh Rama berkeringat. Ia masuk le dalam rumah sembari berucap salam. Melangkah lebar menuju ruang makan saat mendengar sahutan Puput berasal dari sana.


Rama menghampiri sang istri yang sedang bervideo call di kursi makan. Membuatnya penasaran mengintip layar.


"Bentar ya Aa, lagi ngetes Zaky yang mau ujian tingkat." Lirih Puput yang tetap memfokuskan perhatiannya pada layar. Berperan sebagai juri yang menilai gerakan sang adik.


Rama mengerti. Mengecup pipi Puput sebelum duduk dan meneguk segelas air putih yang berdampingan dengan piring gado-gado.


"Cukup, Zaky." Puput menghentikan gerakan Zaky yang akan beralih jurus. "Teteh lihat penguasaan meterinya sudah bagus. Hanya saja ada beberapa gerak kaki kurang sempurna. Lihat Teteh ya!"


Puput berdiri. "Aa, tolong pegangin hape sebentar. Arahin sama gerakan aku ya." ujarnya. Sembari menggeser dua kursi agar lebih leluasa.


"Siap, jawara. Kalo nggak nurut takut dibanting ah." Sahut Rama. Membuat Zaky tertawa lepas mendengarnya. Puput hanya terkekeh.


Puput memberi contoh kesempurnaan gerak kaki sembari memberi penjelasan sampai Zaky faham dimana letak kekurangan gerakan dia tadi.

__ADS_1


"Zaky, besok ujian puncaknya. Bakalan lari 10 km ditambah terakhir Ujian Power. Biasanya level sabuk merah, batako yang harus dipatahkan sama tangan dan kaki. Masih ingat kan kunci kekuatan harus tertumpu dimana?" Puput mengingatkan trik rahasia yang diturunkan dari almarhum Ayah.


"Ingat, Teh. Kalau lari 10 km nggak masalah udah biasa fisik. Ya udah ya Teh, aku mau prepare dulu. Abis Duhur berangkat ke lokasi UKT." Zaky berterima kasih pada Puput juga Rama.


"Semoga Zaky terpilih jadi yang terbaik. Jangan lupa minta do'a sama Ibu sebelum berangkat." Puput memotivasi.


"Aamiin. Siap, Teh."


"Good luck, Zaky. Kalo jadi peserta terbaik, Kak Rama akan kasih reward." Rama tak kalah menyemangati. Muncul di layar sembari merangkum bahu Puput.


"Wow. Moodboster banget ini sih." Zaky mengepalkan tinju ke udara.


Sambungan terputus usai Zaky berucap salam.


"Aa mau gado-gado juga? Aku bikinin ya." Puput hendak beranjak. Melihat Rama lahap memakan gado-gado miliknya.


"Jangan dulu, Neng. Nikmat yang ini. Makan sepiring berdua." Rama menarik tangan Puput untuk kembali duduk.


"Sayang, pengen jalan-jalan kemana?" Rama seperti biasanya selalu menawarkan liburan saat weekend datang jika ia tidak sibuk kerja.


"Aul sama Panji, Ami, Padma lagi otewe Pangandaran. Aku juga jadi pengen mantai." Puput memejamkan mata sembari menjilat bibir.


Rama terkekeh melihat ekspresi Puput yang nampak ngiler. "Pengen mantai kemana. Ke Bali atau ke Pulau Seribu?"


"Mungkin karena seminggu ini Aa kurang perhatian sama kamu kali. Karena Aa pergi ke Malang dan Surabaya." Terka Rama sembari menatap Puput yang giliran menyuapkan gado-gado.


Puput diam dengan kening mengkerut. "Hm, mungkin kali ya." Ia sendiri merasa tidak yakin.


"Neng pengen ke Bali kan? Cek aja penerbangan yang paling cepat jam berapa. Packing baju buat nginep semalam ya. Aa mandi dulu." Rama mengajak Puput beranjak. Melangkah bersama menaiki tangga menuju kamar.


Semangat Puput langsung on karena liburan spontanitas ini. Jadwal penerbangan ke Bali pun tidak bingung. Banyak pilihan maskapai. Ia mengeluarkan koper, memilih pakaiannya juga pakaian untuk Rama. Bersiap malam mingguan di Bali.


...***...


Vila ternama di desa Canggu yang berada di pinggir pantai, menghadap laut lepas, dengan kolam renang pribadi, menjadi pilihan Puput. Ia sudah lama membaca di media sosial tentang pantai Canggu yang terletak di Kabupaten Badung itu. Dan kini tanpa rencana, bisa menginjakkan kaki di pantai penuh pesona itu.


"Aa nanti makan siangnya di rooftop ya. Pasti bagus lihat pemandangan yang lagi surfing dari atas." Puput menggelayut di lengan Rama yang satu tangannya menarik koper.


"Iya, sayang. Terserah Neng aja." Rama mengangguk dan tersenyum.


"Aa, jangan iya-iya aja. Kalo ada request bilang. Kenapa aku terus yang nentuin semuanya." Protes Puput sembari masuk ke dalam kamar.


"Karena tugas suami manjain istri. Tugasmu nanti malam nyenengin suami. Neng harus servis Aa. Kita begadang sampe lemes." Rama menaik turunkan alisnya.

__ADS_1


"Hm, pantesan manut bae. Ada udang dibalik bakwan ternyata." Puput mencubit pinggang Rama yang tertawa lepas.


Usai beristirahat sejenak di dalam kamar, Rama dan Puput mulai berpetualang di kawasan Canggu dengan menyewa mobil. Sepanjang jalan disuguhi pemandangan alam yang eksotik yang memanjakan mata.


Puas berpetualang dengan singgah ke berbagai spot, saatnya menikmati sunset sembari ngemil sore di cafe pinggir pantai usai mandi sore.


"Sayang, sunsetnya bagus banget. Ayo kita foto!" Beberapa foto selfie dilakukan Rama. Pose mesra dengan Puput dengan latar belakang matahari terbenam. Cuaca sore yang cerah membuat warna jingga di langit senja melengkapi indahnya panorama sunset.


"Hai, nggak nyangka kita ketemu Canggu." Tanpa permisi, seorang perempuan yang mengenakan tank top dan hot pant menarik kursi dan duduk di depan Rama dan Puput.


Rama mendecak. Namun di bawah meja, pahanya dipegang Puput. Urung memperlihatkan kekesalan karena isyarat tangan istrinya itu.


"Karen, liburan disini juga ternyata." Puput berbasa badi dengan bersikap tenang.


"Iya. Kesini baru aja. Soalnya tadi di Denpasar ada pemotretan." Seolah dengan sengaja Karenina duduk sedikit membungkuk. Sehingga gundukan dadanya terlihat jelas di hadapan Rama.


"Karen, sendirian kesini?" Lanjut Puput. Melihat Rama hanya diam dan menundukkan pandangan pada layar ponsel.


"Sama teman-teman ada empat orang. Mereka duduk di sana." Sahut Karenina menunjuk ke sebelah kiri.


"Kalo udah selesai ngobrolnya silakan pindah duduknya. Kita pengen berduaan." Ucap Rama tanpa melihat lawan bicara. Anteng mengamati foto-foto hasil jepretan barusan.


"Oke, Rama. Sorry kalo merasa keganggu. Aku cuma pengen menyapa aja kok. Kita kan udah jadi teman." Karenina berusaha tetap tersenyum meski merasa tersinggung karena diusir Rama.


"Makasih Karen, udah menyapa kami. Emang kalo nggak disapa duluan, nggak akan tau kalo kamu ada disini juga. Maaf ya, suamiku suka manja pengen makan disuapi. Tapi nggak mau ditonton orang lain. " Puput tetap tersenyum ramah. Mengusir tamu tak diundang itu secara halus.


"Enjoy your holiday. Permisi." Karenina mengibaskan rambut panjangnya. Memaksakan tersenyum sebelum beranjak.


Waiter datang mengantarkan makanan dan minuman. Dua porsi spageti hot tuna, ditambah kopi untuk Rama dan lemon tea pesanan Puput.


"Udah, jangan bete lama-lama. Kita makan." Puput mengusap rahang Rama yang tidak seceria tadi. Menggoda untuk mengembalikan mood suaminya itu.


"Jijik aja liat penampilannya dan tak tahu malunya itu." Kilah Rama. Jangan sampai Puput salah faham lagi seperti dulu.


"Hehe...urat malunya udah putus kali. Aku aja risih liatnya. Sengaja banget itu dada dipamerin sama Aa." Puput menggedikkan bahu. Ia beralih mulai menikmati spagetinya.


"Sayang, katanya mau nyuapi?" Rama memiringkan badan sembari menopang dagu. Melihat Puput yangnmengunyah dan nampak berselera.


"Idih, Aa makan sendiri aja. Barusan kan cuma modus ngusir kakaren dengan cara halus." Puput mengerlingkan mata.


"Nggak mau modus. Pengen beneran disuapi. TITIK!" Rama mendekatkan wajah, membuka mulutnya.


Puput tersenyum mesem. Menuruti kemauan Rama. Yang pada akhirnya bergantian saling menyuapi sembari larut dalam canda tawa. Dalam suasana hati yang penuh kebahagiaan. Menikmati senja di Canggu.

__ADS_1


Canggu, terbentang diantara Pantai Kerobokan dan Pantai Echo. Kini sang mentari mulai terbenam. Warna langit pun mulai menggelap. Bar-bar pinggir pantai itu mulai gemerlap oleh lampu-lampu. Para pengunjung yang hampir setengahnya turis mancanegara, menikmati pemandangan laut yang indah dengan gemerlap cahaya. Gemuruh serta gelombang ombak yang tinggi merupakan salah satu yang terbaik di dunia, surga bagi para peselancar.


__ADS_2