
Namanya juga ibukota. Menjadi kota terpadat penduduk serta mobilisasi tersibuk di Indonesia. Jangan berharap bisa melajukan kendaraan dengan cepat. Situasi jalanan padat merayap harus diterima dengan sabar. Tapi kali ini berbeda bagi Damar. Membunyikan klakson berkali-kali di luar kebiasaannya. Ingin segera sampai di rumah. Menghasilkan pelototan dan umpatan dari pengendara roda dua karena berisik.
Sesekali Damar menengok ke jok baris tengah melihat keadaan Cia yang belum sadarkan diri. Raut wajahnya masih mengeras diiringi rasa cemas. Dugaannya Cia pingsan karena efek alkohol. Sebagai pria metropolitan yang sering bergaul dalam berbagai komunitas, kadang melihat modus temannya yang ingin mengajak tidur perempuan yang dikencani, maka minuman beralkohol menjadi jembatan. Dan yang menimpa gadis pujaannya itu, kurang lebih sama korban modus. Lambung Cia tidak kuat menerima asupan alkohol. Sehingga mengalami muntah-muntah.
"F*ck!" Damar masih mengumpat melampiaskan amarah yang meluap terhadap Adit. Tidak menyangka laki-laki yang selalu Cia banggakan di depannya, ternyata seorang laki-laki bejad. Dicengkramnya setir kuat-kuat dengan buku tangan yang memerah. Hampir saja emosinya tadi tak terkendali. Seandainya tidak mendengar suara muntahan Cia, bisa jadi Adtya hanya tinggal nama.
"Parto, cariin kelapa muda sekarang juga. Saya butuh air kelapanya. Cepet ya!" Damar menyerahkan uang 50 ribu usai sang penjaga membukakan pintu gerbang. Saat mobil bisa melaju cepat, ponsel yang berada di dalam tas Cia terus berdering, berulang sampai empat kali. Damar membiarkannya. Termasuk giliran ponselnya yang kini berdering, diabaikan. Ia fokus menggendong Cia dan membaringkan di sofa.
Butuh waktu 45 menit menunggu Cia tersadar. Selama itu Damar menyiapkan air kelapa ke dalam gelas. Mengompres dengan air es pada bibir bawah Cia yang bengkak dan sedikit berdarah. Ia hanya bisa melampiaskan marahnya dengan memukul tembok. Bahkan nalurinya ingin sekali menyapukan bibir untuk menghapus jejak ciuman paksa yang dilakukan Adit terhadap gadis pujaannya itu. Tapi ditahannya. Gak mau sama brengseknya dengan Adit.
Cia mengerjap dengan kening mengernyit. Merasakan kepalanya seolah berputar jungkir balik. Mengeluh dan mengaduh pusing diiringi memjiat-mijat pelipis.
"Bangun pelan-pelan aja, Cia." Damar membantu menahan bahu saat Cia yang sudah menyadari berada di rumah, ingin duduk. "Minum dulu air kelapa ini. Buat menetralisir alkohol yang sudah kamu minum," sambungnya memberikan gelas tinggi ukuran jus yang berisi penuh air kelapa.
"Alkohol?!" Cia terkejut. Menatap Damar, menggeleng tidak percaya dengan rasa pusing yang masih mendera. Belum menerima uluran gelas.
"Adit bilang itu bukan minuman alkohol, Kak. Kenapa Adit tega hiks...." Cia sudah bisa mengingat hal buruk yang menimpanya tadi. Rasa tak menyangka, sakit hati, benci, kini berpadu dan diluapkan dalam tangisan. Sangat kecewa dengan perbuatan Adit.
Damar membiarkan dulu Cia yang menangis sambil memeluk lutut. "Sebaiknya minum dulu. Biar pusingmu reda. Ayo!" ujarnya setelah merasa cukup memberikan waktu.
Cia menurut. Menyeka wajah yang basah dan hidung yang meler dengan tisu yang diulurkan Damar. Meminum air kelapa sampai habis segelas. Sedikit meringis karena bibirnya terasa perih.
"Adit mencuri ciuman pertama aku, huhuhu..." Kekesalan dan kemarahannya muncul. Terbayang kilas balik pemaksaan yang dilakukan kekasihnya dalam kilat gairah memuncak. Menggosok-gosok bibirnya yang bengkak dengan tisu tanpa mempedulikan rasa sakit yang timbul.
"Jangan lakuin itu. Bibir kamu bisa tambah luka." Damar menahan tangan Cia yang akan menggosok bibir dengan jari. "Aku udah mengompresnya tadi. Kalau gini jadinya harus dikompres lagi," sambungnya setelah mengamati bibir Cia malah bertambah bengkak. Lalu beranjak ke dapur mengambil es batu dari dalam kulkas.
"Keadaan Adit gimana, Kak?" Cia menatap Damar sambil melakukan kompres bibir menggunakan kain berisi es. Sebenarnya masih ingin melanjutkan menangis kencang melampiaskan kekecewaan. Namun entah kenapa ada Damar di sampingnya seperti memberikan kekuatan untuk tidak rapuh.
"Kamu udah dilecehin masih juga mikirin si breng sek itu. Harusnya bersikap tegas putusin dia. Laki-laki sejati tidak akan merusak tapi akan menjaga wanitanya." Damar berkata dengan suara tinggi. Meremas rambut menahan kekesalan yang tersulut.
"Cowok seperti itu yang selalu kamu banggakan, hah? Cowok seperti itu yang selalu kamu puji depan aku? Cowok seperti itu yang akan kamu jadikan suami? Cowok seperti itu yang kamu cinta, iya?! Cinta boleh saja buta. Tapi mata hati dan akal sehat harus bisa melihat, CITRA ADYATAMA!"
Cia mencengkeram erat lengan Damar dengan tubuh bergetar menahan tangis. Terus-terusan menggelengkan kepala selama Damar berucap penuh kemarahan kepadanya. Air mata pun lolos lagi membasahi pipi.
"Bukan itu maksud aku, Kak." Cia berkata serak dengan tatapan berlinang. "Maksudnya...aku gak mau Kak Damar sampai berurusan dengan polisi karena udah mukulin dia. Aku gak mau itu terjadi," mohonnya dengan sorot mata penuh kesungguhan.
"I don't care. Yang terpenting itu melindungimu. Karena aku sayang kamu, Cia." Intonasi Damar melembut. Berkata penuh perasaan. Mengusap puncak kepala Cia. Yang membuat gadis itu menyandarkan kepala di bahu kokohnya.
"Makasih, Kak. Dari dulu Kak Damar selalu ada buat aku." Cia berterima kasih dengan tulus. Isakan kecil masih tersisa. Namun hatinya lebih lega dan tenang. Selama Rama study di Amerika, Damar mengganti peran sang kakak yang selalu perhatian dan menemani kemanapun pergi jika dipinta. Sudah tentu saat SMA yang sering mengalami bully an karena badannya dulu gemuk dan diledek dengan sebutan si Atun, berani datang ke sekolah bersama Rama untuk memberi peringatan.
__ADS_1
...***...
Ciamis
Raut cemas nampak menghiasi wajah Mami Ratna. Sudah empat kali menghubungi Cia namun tidak dijawab. Disusul mengirimkan pesan juga belum dibuka. Terakhir komunikasi semalam saat anak gadisnya itu sudah sampai di rumah. Juga mendapat kabar jika Damar tidur di rumahnya karena Cia takut sendirian. Kini mengulang menelpon setelah 2 jam berlalu malah tidak aktif.
"Papi, Cia kemana ya?! Dari tadi ditelepon gak diangkat. Sekarang malah gak aktif." Mami Ratna mencegat langkah sang suami saat keluar dari dapur. Sudah siap pergi dengan menenteng alat pancing. Akan mengikuti lomba memancing ikan mas yang diadakan di kampung sebelah.
Papi Krisna mengerutkan kening. "Mami sudah telepon Damar atau Adit?!
Mami Ratna menggeleng. Tidak terpikirkan olehnya. Karena awalnya menghubungi Cia hanya untuk mengingatkan agar jangan lupa memesan parsel untuk dikirim ke rumah Pakde Anto yang baru datang dari Surabaya.
"Gak diangkat juga, Pi. Aduh Mami jadi gak enak hati ini." Makin cemas raut wajah Mami Ratna. Berdiri dengan gelisah sambil memegang ponsel.
Papi Krisna menyimpan alat pancingnya di meja. Beralih mengeluarkan ponsel dari waist bag. Berinisiatif menghubungi penjaga rumah. Hanya dengan sekali nada sambung, langsung mendapat jawaban.
"Parto, apa Cia ada di rumah?"
"Ada Pak. Tapi...."
"Tapi apa yang jelas!" Papi Krisna berdiri tegak dan berwajah serius mendengar nada keraguan dari sang penjaga rumah.
"Apa?!"
Melihat suaminya yang terkejut, membuat Mami Ratna panik.
"Parto, kamu ke dalam. Bilang sama Damar suruh telepon saya sekarang juga!" tegas Papi Krisna. Sambungan telepon terputus. Ia meminta sang istri untuk sabar menunggu kabar pasti dari Damar.
Tidak berselang lama, Damar menelpon balik. Diawali dengan minta maaf karena ponselnya tertinggal di dalam mobil.
Setengah jam kemudian Rama datang. Padahal ia baru selesai makan siang bersama di rumah Puput. Masih betah. Namun telepon dari Papi menyuruhnya pulang karena ada hal urgent.
"Breng sek si Adit." Rama mengumpat dengan marah. Di tengah kumpulan keluarga minus Bibi Ratih, Papi Krisna menceritakan kabar yang diterimanya dari Damar. Satu tangannya merangkum bahu Mami Ratna yang terisak sedih. Enin tadinya tidak akan diberitahu karena khawatir akan berpengaruh pada kesehatannya. Namun karena raut kegelisahan bisa terbaca, akhirnya di ruang tengah semuanya berkumpul. Merencanakan berangkat ke Jakarta saat ini juga.
"Enin mau siap-siap dulu. Rama, telepon bibi kamu. Bilang kalau Enin akan ikut ke Jakarta." Enin juga menyuruh Ratna untuk berkemas. Sementara ia menuju kamarnya untuk mempersiapkan diri.
Rama lebih dulu menelpon Damar sebelum menghubungi Bibi Ratih. Penasaran ingin mendengar kronologis langsung. Rasa geram dan marah tersirat di wajahnya yang kini memerah setelah mendengar cerita detil Damar. Beralih meminta memberikan telepon Damar pada Cia. Ia memberikan support agar adiknya itu kuat tidak down. Bagaimana tidak khawatir dengan kondisi mental sang adik, dua kali mengalami kejadian pelecehan.
...***...
__ADS_1
Ponsel di atas nakas berdering saat Puput membereskan aneka wadah yang tergelar di karpet bekas makan siang, dibantu Aul. Baru saja Via dan Adi menyusul pamit pulang setengah jam setelah Rama. Puput meraih ponselnya dan beranjak naik ke kamarnya setelah melihat nama pemanggil yang tampil di layar.
Entah kenapa sekarang ini ingin lebih privasi kalau ada panggilan masuk dari Rama. Merasa malu jika ada orang lain yang menguping. Puput menjawab panggilan dengan mengucap salam.
"Put, aku mau berangkat ke Jakarta sekarang. Sama Mami Papi, juga Enin."
Senyum yang terukir di bibir Puput yang riang karena mendengar suara Rama, perlahan mengendur. Nada bicara pria yang baru sehari menjadi kekasihnya itu terdengar sangat serius.
"Iya, Kak. Hmm, maaf kalau boleh tahu ada apa? Kok mendadak." Puput ragu-ragu bertanya. Takut dikira terlalu ikut campur urusan keluarganya Rama.
Terdengar hembusan nafas panjang sebelum Rama menjawab. Puput menunggu
"Cia dicekoki alkohol oleh si Adit pacarnya karena menolak diajak kissing. Si Adit mau merusak Cia. Untung saja ditolong Damar."
"Astagfirullah---Ya Allah, Cia." Puput terkejut. Ikut sedih mendengar nasib Cia yang kini dua kali mendapat perlakuan pelecehan.
"Aku mungkin lama di Jakarta. Mau selesaikan urusan Cia dulu. Maaf ya, Neng. Gak jadi mimpin halal bihalal di RPA Ciamis. Tapi mobil aku tinggalin di rumah Enin. Berangkat satu mobil aja pakai yang Papi." Suara Rama bernada kecewa. Dua hari lagi seluruh store RPA serentak buka. Padahal ia sudah membuat surprise planing. Akan memperkenalkan Puput ke semua karyawan sebagai calon istri. Mengingat selama di kantor, Puput selalu akrab dengan banyak karyawan pria. Membuatnya harus posesif menandai jika she is mine.
"Gak papa, Kak. Ada Pak Hendra yang mewakili. Urusan keluarga lebih penting. Hati-hati bawa mobilnya ya!" Puput menjawab dengan bijak.
"Dan titip salam dan pelukan untuk Cia ya, Kak. Kami sekeluarga sayang sama Cia." lanjut Puput yang tulus memberi support system untuk menghibur Cia yang mungkin tengah down.
"Kalau buat aku mana?!" Nada bicara Rama kini merajuk.
"Apanya?!" Puput mengernyitkan kening tidak faham. Yang kemudian mode panggilan dirubah Rama menjadi video call.
"Pengen pelukan sama ucapan sayang dari kamu. Aku mau nyetir nih. Butuh infus agar tidak oleng." Modus Rama yang menatap Puput dengan sorot memohon.
"Fii amanillah, Kak. Udah itu aja. Do'a lebih penting!" Puput berkelit karena malu harus berucap kata sayang terhadap Rama.
"Kurang, Neng. Come on, Mami udah manggil nih!" Nampak dari layar ponsel Puput, Rama menoleh ke arah kiri.
Membuat kedua pipi Puput merona malu dengan jantung yang berdebar tak menentu. Karena Rama keukeuh menunggu kata mesra darinya.
"Aku--- aku sayang kamu. Fii amanillah, Kak. Aku tunggu lagi kedatanganmu di Ciamis." Diawali dengan rasa gugup, berakhir dengan melempar senyum dengan kedua pipi yang memanas dan bersemu.
"I love you. So much love you, Neng. Tunggu aku kembali!" Dengan tatapan yang dalam, Rama melukiskan senyum manisnya.
Puput menangkup kedua pipinya. Masih merasakan panasnya. Masih nampak rona merahnya. Masih tersisa desiran darah dan bulu halus yang meremang mendengar ucapan cinta Rama. Meski sambungan video sudah berakhir dengan layar yang kini hitam, namun dadanya masih penuh luapan keriaan. Jatuh cinta....memang berjuta rasanya.
__ADS_1