Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
Konfirmasi dari Ibu


__ADS_3

Buku itu tak terlalu tebal. Jika dilihat dari halamannya, buku itu hanya memiliki lima belas halaman termasuk halaman sampul, halaman pernyataan dan pengesahan.


Kala terkikik membaca judul-judul pada tiga halaman utama. Mengingat buku panduan skripsi yang ia peroleh gratis dari Fakultas. Kurang lebih urutan penyusunan skripsinya nanti seperti inilah.


Ia membaca lembar demi lembar. Di halaman pernyataan tertulis dan menyatakan jika sebundel dokumen yang dijilid menjadi satu ini sah secara hukum. Dian Miranti dan Kevin Adiguna selaku pihak pertama bisa saja menuntut Burhan Aminudin dan Wiwit Priyati selaku pihak kedua.


Astaga benar-benar surat pernyataan. Kala lanjut membaca.


Apabila terjadi sesuatu terhadap Kala Adiguna selaku pihak ketiga, misalnya : sakit parah, terluka parah, meninggal dunia, pihak kedua harus menerima tuntutan apapun dari pihak pertama, termasuk membayar denda sebesar lima milyar dan dipenjara seumur hidup.


Apabila pihak kedua mampu membesarkan pihak ketiga dengan baik, pihak pertama akan memberikan hadiah sebesar lima milyar kepada pihak kedua.


Kala menelan ludah membacanya. Lalu, hal yang paling mengejutkannya, di bagian bawah tertulis : Jakarta, 29 Oktober 1998. Di bawahnya dibubuhi tanda tangan Kevin Adiguna, Dian Miranti, Burhan Aminudin dan Wiwit Priyati, di atas materi enam ribu dengan note : dokumen ini sah secara hukum dan dibubuhi tanda tangan notaris.


Penasaran, ia balik ke lembar berikutnya. Ia membaca cepat semua yang ada pada buku ini. Kala tidak percaya jika buku ini benar-benar dokumen perjanjian yang sah secara hukum. Bahkan, yang membuat Kala lebih terkejut adalah keberadaan akta kelahirannya yang asli. Padahal, selama ini, Kala tak pernah melihat dokumen penting itu. Orangtuanya hanya menyimpan akta kelahiran legalisirnya yang disimpan rapi di dalam bindex.


Kala menyerahkan dokumen itu kembali kepada Dian Miranti. Meski telah membaca semua isinya, Kala masih tak percaya jika ia bukan anak kandung Burhan Aminudin dan Wiwit Priyati. Semuanya tampak tak masuk akal di kepala Kala.


" Jadi, kamu percaya?"


Kala menggelengkan kepalanya mantap, " saya tetap nggak percaya."


" Kenapa begitu?"


" Kalau kamu adalah Ibu saya, kenapa kamu nggak mau ngurus saya sejak bayi?"


Ekspresi Dian Miranti berubah. Tatapan tegasnya kini berubah sayu, " ada alasan yang buat saya ngelakuin semua itu."


" Apa?" Kala menaikkan sebelah alisnya. Kini giliran ia yang menginterogasi artis terkenal.


Dian Miranti membuang napas, " kamu pasti tahu nanti. Mulai sekarang, kamu nggak usah tinggal di kontrakan sempit lagi, ya."


Kala menggeleng, " saya nggak mau. Walaupun Dian Miranti terkenal seantero Indonesia, bahkan Ibu saya di kampung juga tergila-gila sama Ibu, tapi saya nggak bisa. Saya nggak bisa percaya begitu aja sama orang asing. Bagaimanapun, setenar apapun Ibu, Dian Miranti tetaplah orang asing bagi saya."


Dian seperti dicekoki jamu pahit mendengar perkataan Kala, " apa yang harus saya lakukan supaya kamu percaya?"


Kala melihat langit-langit ruangan yang dicat putih. Terlihat senada dengan warna cat dinding yang juga berwarna putih. Sambil berpikir tindakan apa yang akan meyakinkannya, Kala menenggak habis sisa minumannya di gelas besar tadi.

__ADS_1


" Gimana kalau tes DNA?" Hanya itu yang ia pikirkan saat ini. Mengingat di film atau sinetron Indonesia sering menyebut-nyebut Tes DNA dapat mengetahui silsilah keluarga yang sebenarnya. Meski Kala juga tak begitu yakin dengan keakuratannya, tapi, apa salahnya dicoba?


" Deal. Kita Tes DNA besok pagi, jam sepuluh di Rumah Sakit Lekas Sembuh."


Kala hampir saja mengatakan iya. Namun, ia ingat jika besok jam sepuluh ada jadwal bimbingan dengan Pak Rahmat di kampus pusat.


" Gimana kalau lusa?"


Dian Miranti tampak berpikir agak lama, kemudian. ia menjabat tangan Kala, " oke. Lusa, jam sepuluh di Rumah Sakit Lekas Sembuh."


Kala memohon pamit pada Dian Miranti. Namun, perempuan paruh baya itu menahannya untuk pergi. Dia bilang ingin mengobrol dengannya barang satu jam lagi.


" Mama kan harus kenal sama anak kandungnya," begitu katanya.


Kala berkali-kali menolak. Ia kemudian berusaha kabur, namun rupanya laki-laki bewok bernama Johan berjaga di depan ruangan Dian Miranti dan menangkapnya. Nyaris mematahkan tangannya andai Dian Miranti tak mencegah.


" Kala, Mama sudah mengatakan yang sebenar-benarnya. Tapi, kalau kamu masih anggap Mama sebagai orang asing, tidak apa-apa," ucapnya. Perempuan itu berjalan masuk ke ruangannya, mengambil dompet kulit dengan tulisan Hermes di bagian depannya, " ini kartu kredit. Kamu bisa pakai sesukamu sampai limit dua puluh juta."


Kala melirik kartu kredit di tangan Dian Miranti dan wajah perempuan di depannya bergantian. Wajah itu terlihat tulus. Berharap segera bisa cepat pergi dari sini, Kala akhirnya menerima kartu kredit tersebut.


Kala tak percaya. Dian Miranti benar-benar baik terhadapnya. Apakah ia bena-benar anak Dian Miranti? tiba-tiba perasaannya galau antara harus percaya atau tidak pada sosok di depannya.


" Johan, kamu antar Kala pulang ke tempat tinggalnya ya."


Lelaki bernama Johan mengangguk dan mengatakan kepada Kala untuk mengikutinya.


" Hati-hati, ya...."


Kala tak menoleh. Ia masih tetap mengekor Johan hingga sampai parkiran. Kala kembali tersentak ketika Johan membukakan pintu mobil untuknya lagi.


" Nggak perlu repot-repot, saya bisa sendiri kok," Kala yang merasa tak enak dengan perlakuan Johan akhirnya menutup pintu sendiri. Membuat Johan tak bergerak dari tempatnya.


" Pak Johan, ayo antar saya pulang."


Johan tersadar dan segera duduk di balik kemudi.


Sepanjang perjalanan pulang, Kala terus berpikir apakah ia benar-benar dititipkan kepada keluarga Burhan Aminudin? Jika pun iya, apa alasannya? Mulai pening, akhirnya Kala menghubungi nomor ponsel adik tertuanya, Lila.

__ADS_1


" Halo, Mas Kala..."


Terdengar suara lembut dari teleponnya, " Lila, Ibu ada?"


" Sebentar... Ibu... Mas Kalau nelpon..."


Kala menjauhkan ponsel dari telinga. Suara Lila memang lembut, tapi jika sudah teriak, suara Cinta pun kalah.


" Halo, Kala? tumben nelpon."


" Ibu, Kala mau tanya sesuatu."


" Apa?"


Kala diam sejenak. Ragu ingin bertanya soal ini kepada Ibunya.


" Kala, kamu mau tanya apa, Nak?"


Suara Ibunya mengingatkannya jika ia sedang melakukan panggilan.


" Apa ibu kenal Dian Miranti dan Kevin Adiguna?"


Semenit. Dua menit. Tiga menit. Ibunya tak menjawab. Namun, Kala dapat mendengar suara tarikan napas berat dari teleponnya.


" Bu?"


" Ya... Kala, kenapa kamu tiba-tiba tanya begitu?"


" Ibu, Kala sudah dewasa. Tolong jangan buat Kala bingung."


Terdengar suara gedebuk yang cukup keras.


" Bu?"


" Kala... dia orangtua kamu..."


***

__ADS_1


__ADS_2