
Di tengah perjalanan menuju pulang ke rumah, ponsel Puput berdering. Senyumnya tersungging lebar karena Rama menelponnya, mengabari jika sudah duduk di pesawat bersiap take off. Tidak lama, hanya 2 menit komunikasi mesra itu berlangsung. Karena Rama akan menon aktifkan ponsel. Ia memeluk di dada, ponsel yang sudah terputus sambungannya. Hati memanjatkan do'a lagi agar suaminya itu selamat sampai tujuan.
Rama bilang, perjalanan ke bandara John F Kennedy New York, lamanya sekitar 22 jam ditambah waktu transit sekitar 3-4 jam. Puput menghitung, berarti besok siang barulah suaminya itu tiba. Ia mendongakkan kepala dengan punggung yang rebah di sandaran jok mobil Alphard yang sangat nyaman itu. Mulai merasakan hampa, dan ia harus belajar terbiasa.
Tiba di rumah, Puput menghampiri Mami Ratna usai berucap salam. Orang yang tadi pagi memberi wejangan dengan tegas saat Rama berpamitan. Nasehat pada anak laki-lakinya agar selalu berkomunikasi dengan istri dan jaga kepercayaan serta kesetiaan selama berjauhan.
"Rama udah take off?" Mami menepuk ruang kosong di sisinya setelah menutup majalah yang dibacanya. Rumah sepi karena Cia sudah berangkat ke kantor.
"Sudah, Mi." Ucap Puput. Tanpa bisa dicegah, tiba-tiba mulutnya menguap panjang dan ditutupnya dengan telapak tangan.
Mami Ratna mengulas senyum menatap wajah menantunya yang nampak sayu dan lelah. "Puput istirahat aja di kamar. Keliatan banget cape dan kurang tidur."
Puput bergeming. Melirik jam tangan elegan yang melingkar di tangannya, barang hantaran dari Rama. "Masih pagi, jam 10. Nanti aja abis duhur, Mih." Tapi mulutnya tidak bisa diajak kompromi. Lagi-lagi menguap panjang.
Membuat Mami terkekeh. "Gak papa tidur pagi karena butuh. Bukan karena malas. Udah sana tidur aja. Biar seger lagi."
Dengan meringis malu, Puput berpamitan kepada mertuanya itu. Membuka pintu kamar tidur, Puput menyandarkan punggung di pintu yang sudah ditutupnya sambil melepas jilbab. Pandangan mengedar pada ruangan luas yang kosong tak bertuan itu. Ia dua kali menghela nafas saat karena mulai merasakan merindu.
Kini tubuhnya benar-benar terasa lelah karena akumulasi aktifitas ranjang sejak senin hingga tadi malam. Dengan mata yang sudah 5 watt, segera menghambur ke ranjang setelah menyimpan tas dan jilbabnya. Sejenak mengusap bantal dan ruang kosong di sebelah kirinya, tempat Rama tidur sambil memeluknya. Membuat tubuhnya meremang mengingat ranjang ini menjadi saksi bisu jatuhnya setetes noda darah yang kini mengering berwarna coklat. Bahkan Rama melarang mengganti dengan seprai baru. Hanya dalam hitungan menit setelahnya mengenang siang pertama itu, Puput terlelap sambil memeluk guling.
...***...
Surabaya
Pagi yang cerah menaungi area lapangan golf ternama di Surabaya. Lima orang pengusaha pria turun dari buggy car (mobil golf) usai berkelana mengitari lapangan. Wajah semringah dan semangat ditunjukkan kelima pengusaha dengan rata-rata umur 40 tahun - 60 tahun itu. Satu diantaranya pria berusia setengah abad, Krisna Adyatama.
Caddy golf membantu mempersiapkan alat karena para pengusaha kelas atas itu akan memulai bermain golf. Para aspri berdiri tidak jauh dari para bossnya itu. Wajah mereka serius dan siaga menyiapkan topi, kacamata, handuk, dan air mineral. Berbanding terbalik dengan sikap para boss yang santai dan nampak menikmati olahraga atau hobi mahal itu.
"Pak Kris, mau caddy yang mana? Free tax dari saya." Ucap seorang temannya yang bermata sipit berbisik di telinga.
Membuat Krisna tertawa dan geleng-geleng kepala. Ia yang kini mendapat giliran ke empat sudah tak aneh dengan keisengan bahkan mungkin saja keseriusan partner kerja yang menawari jajan gratis. Ia berpikir positif saja. Itu cara lawan di lapangan golf untuk mengganggu konsentrasinya memukul bola, agar kalah dalam poin. Tak pernah sekalipun memberi tanggapan angin segar.
Dua jam selesai permainan yang mempunyai manfaat diantaranya untuk menjaga kesehatan jantung, kesehatan tulang dan mata, mengurangi stres, membakar kalori. Rombongan tersebut menuju cafe yang masih berada satu lingkungan, untuk melanjutkan pembicaraan bisnis dan kerja sama.
Lobi dan diplomasi serius tapi santai bergulir. Merambat waktu sampai jam makan siang tiba. Empat orang rekan pengusaha deal, sepakat berinvestasi di perusahaan Adyatama Grup di sektor pelayanan kesehatan, yaitu membangun rumah sakit. Sudah ada dua rumah sakit beroperasi di Jakarta dan Bandung dan mendapat apresiasi positif dari masyarakat karena memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap juga tenaga medis yang qualified. Perusahaan juga memiliki program charity untuk mensubsidi pengobatan pasien yang kurang mampu. Kini rumah sakit akan merambah di Surabaya, kota kelahiran Krisna.
"Pak Krisna, anak gadis saya sudah lulus S2. Besok saya akan ke London buat dampingi wisuda. Hm, gimana kalau kita jodohin sama anakmu, Rama." Ucap rekan berwajah blasteran Jawa-Turki penuh harap.
Krisna tersenyum simpul. "Rama udah nikah." Jawabannya membuat semua orang menatap tak percaya. "Nikahnya mendadak malam minggu kemarin, baru akad. Karena Rama harus ke Amerika hari ini ngurusin perusahaan yang bermasalah di sana. Dia takut pacarnya itu ada yang nikung, makanya buru-buru diikat dulu. Nanti pulang dari sana akan resepsi."
__ADS_1
Semua yang mendengar manggut-manggut. Ada raut kecewa di wajah blasteran Turki itu yang mendecak. "Sayang sekali. Kukira kita bisa jadi besan." Ujarnya terkekeh. "Anaknya siapa mantumu itu? Apa kita kenal?"
"Bukan anak pengusaha. Dia satu kampung halaman dengan istri saya. Dan yang pasti dia menantu idaman kami. Pokoknya tunggu saja undangannya nanti ya!" Ucap Krisna dengan tenang.
Selesai makan siang, semua berpisah memasuki mobil masing-masing. Raut bahagia penuh syukur tergambar di wajah Krisna. Ia mengirimkan pesan kepada sang istri di Jakarta tentang kabar keberhasilan merekrut investor ini.
"Pak, ada kabar dari pengadilan."
Krisna menoleh pada sang asisten bernama Johan yang duduk di sampingnya. Sementara sopir kantor dengan luwes dan fokus, menyetir mobil menuju arah kantor cabang.
"Hari ini pengadilan sudah ketok palu. Pak Rio di vonis 6 tahun penjara. Tapi dia akan melakukan banding."
Krisna menghela nafas. Entah harus senang atau sedih dengan kabar ini. Orang yang selama ini dianggap sahabat dan lalu menusuk di belakang. Yang membuatnya terpenjara selama 7 tahun karena menyimpan dusta di belakang istri tercinta. Kini Rio harus merasakan karma dari hasil perbuatan piciknya itu.
"Gimana kabar Zara?" Tanya Krisna dengan tatapan lurus ke depan.
"Zara ngamuk di kamarnya, membanting barang-barang dan memecahkan kaca setelah mendengar kabar Rama sudah menikah." Lapor Johan yang menjadikan satu ART di rumah Rio sebagai mata-matanya.
"Awasi terus! Tetap kawal menantu saya kalau pulang ke Ciamis!" Tegas Krisna memberi perintah. Usai Rio dibekuk polisi, ia tidak mau lagi lengah akan keselamatan diri dan keluarganya. Terutama berkaitan dengan Rama. Ia menilai karakter Zara tidak jauh berbeda dengan Rio. Picik dan licik. Sehingga ia mewaspadai kemungkinan ada dendam yang dilakukan Zara.
Tanpa diketahui anak istrinya, Krisna menyuruh orang untuk mengawal dan mengawasi dari jarak jauh setelah Rama terlihat menunjukkan ketertarikan terhadap Puput. Pun ia tahu jika Zara datang ke Ciamis untuk menemui Puput. Termasuk aksi percobaan tabrak lari terhadap Rama di depan butik Sundari. Yang pelakunya sudah dibekuk dan merupakan suruhan Zara.
Untuk sementara Krisna menyimpan rapih. Demi ketenangan hidup anak dan istrinya itu. Ia melindungi keluarga dengan caranya.
...***...
Jakarta
Puput memberikan baju kotor yang dipinta Bi Lilis pagi ini. Sebelumnya ia mendekap semua baju kotor Rama bekas di hotel bersamanya sambil membayangkan tengah memeluk suaminya itu. Aroma parfum maskulin yang masih menempel membuatnya rindu terhadap pemilil baju-baju itu.
Kecuali tiga lingerie, ia tidak memberikannya kepada Bi Lilis karena malu. Memilih mencucinya sendiri dan kini tergantung di angin-angin di kamar mandi.
Semalam saat bersantai di ruang tengah, Puput sudah berbicara kepada Mami dan Cia jika sabtu besok akan pulang ke Ciamis. Awalnya Mami keberatan. Tapi setelah diberi pengertian jika seninnya harus masuk kantor memulai tugas baru, barulah Mami memerima meski dengan berat hati.
Dan hari ini sebagai kompensasi, Puput harus mau mengikuti Mami dan Cia menghabiskan waktu seharian dengan kebersamaan di luar rumah.
"Kita ke spa dulu ya! Perawatan seluruh tubuh." Ucap Mami saat mobil Alphard mulai melaju meninggalkan halaman rumah. Harinya tidak kesepian karena ditemani dua anaknya jalan-jalan. Karena Papi Krisna baru akan pulang besok.
Puput menggaruk kepala yang tak gatal. Nggak mungkin ikut perawatan karena di leher dan dadanya banyak stempel cinta bertebaran. Sejenak memikirkan alasan penolakan yang tepat.
__ADS_1
"Mami, aku gak ikutan perawatan ya. Hm, baru aja mandi luluran. Aku facial aja." Usulnya. Beruntung Cia juga menolak dengan alasan lagi malas. Akhirnya Mami mengalah, ke klinik skin care hanya untuk perawatan wajah saja.
Usai dua jam dimanjakan oleh terapis, perjalanan berlanjut menuju mall untuk makan dan belanja. Ketiganya riang karena bisa quality time bersama.
Puput berhenti di depan gerai resto Korea yang akan dijambangi. "Mami, Cia, aku ke toilet dulu ya!" Ia mempersilakan ibu mertua dan adik iparnya itu masuk lebih dulu.
Dengan mengikuti petunjuk arah, Puput melangkah tergesa karena kebelet ingin buang air kecil. Urusannya selesai dengan perut yang terasa lebih ringan dan plong. Ia keluar meninggalkan ruang toilet wanita.
"Awas, Bu!" Teriak Puput. Instingnya reflek menahan punggung wanita tua yang terpeleset dan nyaris jatuh karena menginjak es krim yang ditumpahkan seorang anak. Yang kemudian lari entah kemana.
"Astaga. Hampir saja...." Ucap kaget wanita berwajah etnis Tionghoa yang menyemir rambut dengan warna coklat. "Makasih, mbak. Kalau nggak ditolong, pinggang saya bisa patah."
Puput mengangguk dan tersenyum. Memapah wanita tua itu ke sebuah bangku panjang di dekat permainan anak. Sebagian pengunjung yang sempat melihat, kembali melangkah normal berlalu lalang di area itu.
"Ibu kesini sama siapa?" Puput yang ikut duduk menatap penasaran wajah yang masih menampakkan kecantikan oriental itu.
"Sama anak saya. Tapi dia lagi ke toilet." Kepalanya memutar menatap ke arah lorong toilet. "Itu dia! Dre....." Ucapnya berteriak dan melambaikan tangan.
Seorang pemuda berkulit putih memakai dan kaos hitam datang mendekat. Puput memperhatikan ada kemiripan wajah keduanya yang sama-sama bermata sipit.
"Mami barusan hampir jatuh. Untung mbak ini nolongin nahan pungung Mami. Kalau tidak, Mami bisa patah tulang yang udah keropos ini." Adunya sambil mengusap pinggang. Yang membuat tubuh tinggi atletis itu berjongkok di hadapannya dengan wajah cemas. Tangannya mengusap lembut tangan ibunya itu. Terlihat penuh kasih.
Puput tersenyum tipis. Melihat pemandangan itu menjadi kangen ibunya di Ciamis. "Kalau gitu saya permisi. Ibu sehat-sehat selalu ya." Ujarnya dengan tulus. Dirasa cukup menemani karena ada anaknya ibu tersebut yang datang. Ia mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan wanita sepuh itu sekadar menghormati.
Terburu-buru, Puput melangkah lebar setelah ibu tersebut kembali berterima kasih padanya. Ia merogoh ponsel yang berdering. Ternyata Cia yang menelpon. Mungkin khawatir tersesat jalan.
"Hey, tunggu!"
"Hey.....mbak berjilbab pink, tunggu!"
Langkah Puput terhenti. Panggilan itu berarti ditujukan padanya. Ia memutar badan. Sosok pemuda tampan bermata sipit sudah berdiri sejajar dengannya.
"Maaf. Saya belum sempat ucapin makasih sama kamu. Terima kasih ya udah nolongin Mami saya." ucapnya dengan sopan dan sedikit membungkukkan punggung. Lalu menatap lagi wajah Puput diiringi senyum manis.
"Sama-sama, Kak." Puput tersenyum. "Maaf, saya duluan. Lagi buru-buru." sambungnya sambil mengatupkan kedua tangan di dada. Kembali memutar badan.
"Saya Andreas!"
Puput menghentikan langkah. Memutar tubuhnya lagi. Memberi seulas senyum dan mengangguk. Lalu melanjutkan lagi langkahnya menuju resto Korea sambil menelpon balik Cia karena barusan terganggu kedatangan pemuda bernama Andreas.
__ADS_1