Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
149. Sanksi Untuk Damar Dan Cia


__ADS_3

"Gak papa, Teh. Biar nanti aja Ibu yang main ke rumah Enin. Paling satu jam lagi ya. Teteh mau dibawain apa?" Bu Sekar nampak semringah mendapat kabar dari Puput jika kini positif hamil. Padahal kemarin waktu baru tiba, sudah konfirmasi pagi ini akan datang. Tapi harus menurut sang mertua yang melarang bepergian keluar rumah.


"Teteh pengen Tutut yang pedesnya sedang aja, Bu." Puput menjilat bibirnya saat membayangkan makan tutut suruput.


"Ada. Ini baru aja masak masih panas nih. Nanti ibu bawain. Ibu siap-siap dulu ya."


Puput selesai menelepon Ibu. Beralih menghubungi Via yang pastinya sedang bekerja di jam 9 pagi ini. Mami Ratna benar-benar tegas melarangnya ke dapur. Baru pegang sapu saja sudah diultimatum. Terpaksa hanya rebahan di sofa dengan berbagai makanan dan buah-buahan memenuhi meja. Dimanja seperti ini malah membuatnya geli sendiri.


"Sipuuuttt, beneran kamu ada di Ciamis? Cius, Puuutt?"


Puput menjauhkan ponsel dari telinganya dengan wajah meringis. Teriakan Via membuat telinga berdengung.


"Datangnya kemarin sih. Rencana pagi ini mau ke RPA ketemu kamu, Pak Hendra, Mbak Dwi. Terus mau ke Ibu juga. Tapi ambyar. Dilarang kemana-mana dulu sama Mami. Soalnya aku lagi hamil muda dan belum cek ke dokter." Jelas Puput.


"Hm, kamu mah nikung bae, Put. Nikah aku dulu yang nentuin tanggal, eh ditikung kamu. Sekarang hamil juga gak mau aku tikung ya." Suara Via terdengar mendecak.


Puput tertawa lepas. Terbayang jika ketemu langsung bisa melihat wajah sewot sahabatnya itu yang ekspresif.


"Anyway, selamat Put. Aku bakal jadi onty euy. Kapan dong kita ketemuan? Aku aja ke rumah Enin kali ya?" Sambung Via dengan nada antusias.


"Iya, Via. Kamu aja yang ke sini ya nanti pulang kerja. Ajak Adi juga. Aku kangen pengen ngobrol panjang kali lebar kali tinggi." Puput tertawa di ujung kalimat. Disusul tawa juga oleh Via.


"Oke deh, pulang kerja aku ke terbang ke puncak gunung Sawal. Bumil mau dibawain apa?"


"Nggak usah bawa oleh-oleh. Kamu aja datang bawa perut kosong. Bantuin ngabisin makanan banyak banget nih dari Mami. Tau aku jadi doyan ngemil sampe Mami semangat belanja ke minimarket segala." Curhat Puput diiringi kekehan.


"Beruntung kamu Put, disayang sama mertua. Eh, mertuaku juga sama baik ding. Kemarin pulang kerja, sama Adi diajak mampir ke rumah mertua. Dijamu makan plus pulangnya dibekali beras sekarung. Hehe rejeki menantu saleha."


Puput tertawa dengan kehebohan Via. Masih kangen cuap-cuap dengan sahabatnya itu. Namun mengingat jam kerja, ia memilih menyudahi dan dilanjutkan nanti sore.


Suara bel pintu terdengar berbunyi. Puput bergegas menuju pintu utama. Karena Mami Ratna dan Bunda Ratih sedang bersama Enin di halaman belakang. Merawat tanaman apotek hidup yang menjadi hobi Enin.


"Ibuuuu, teteh kangen." Puput memeluk tamu yang berdiri di depan pintu yang tak lain adalah Ibu Sekar. Tentengan yang dipegang ibunya diambil alih. Aroma tutut bumbu kuning langsung tercium dari dalam goodie bag.


"Pada kemana, teh? Kok sepi." Ibu Sekar mengedarkan pandangan ke seluruh ruang tengah.


"Ada di belakang lagi metik sayuran." Puput merangkum bahu Ibu mengajak ke halaman belakang. Kedatangan ibunya disambut wajah semringah Enin, Mami Ratna, dan Bunda Ratih.


...***...


Mobil yang dikemudikan Panji sudah memasuki kawasan Kadipaten. Bersama Ayah Anjar, ia bermaksud menjenguk Enin yang kemarin dikabarkan sang bunda sedang sakit.


"Pangling ya. Ayah udah berapa tahun nggak ke Ciamis, nggak melewati jalanan ini. Jalan makin bagus. Makin padat pembangunan juga." Ucap Anjar usai melewati kawasan Gentong yang kini memiliki jalur terbelah satu arah.


"Ayah juga akan pangling dengan butik Sundari yang sekarang. Kantornya makin besar. Konveksinya makin maju. Bangunan butiknya udah direnovasi makin cozy." Panji menoleh sekilas diiringi senyum senyum simpul.


"Ayah percaya. Bundamu sangat totalitas ngembangin passion nya. Pasti karirnya akan sukses." Sahut Anjar.


"Sayangnya tidak seperti Tante Ratna. Yang sukses karir dan keluarga." Panji menghembuskan nafas panjang. Pandangannya tetap fokus ke depan.


"Ikhlas dengan takdir, nak. Kamu tetap mendapatkan kasih sayang Ayah dan Bunda." Anjar menepuk-nepuk bahu Panji.


"Maaf, Yah." Panji meringiskan wajah. Ia menyesal sudah berucap seperti itu.


"Jadikan pelajaran buat Panji. Kelak kalau mau menikah, buat komitmen bersama itu wajib. Dan harus konsisten dengan komitmen yang sudah disepakati."


"Iya, Yah."

__ADS_1


Memasuki perbatasan Ciamis, waktu sholat jum'at tinggal setengah jam lagi. Anjar meminta Panji meluruskan rute menuju arah kota. Ingin melaksanakan sholat jum'at di Masjid Agung Ciamis. Sepanjang jalan dilalui sembari mengenang kisah masa lalu. Masa indah berumah tangga dengan Ratih. Memusatkan atensi begitu Panji memelankan laju mobil saat akan melewati butik. Ia tersenyum tulus melihat itu semua.


Usai melaksanakan sholat jum'at, Panji kembali memutar arah mobil. Pulang ke rumah Enin setelah membeli parsel buah sesuai keinginan ayahnya.


"Masih ada yang suka berburu ke hutan, Nji?" Anjar menikmati jalan menanjak menuju rumah mantan mertuanya itu yang berada di kaki gunung Sawal.


"Masih, Yah. Hewan dilindungi aja suka diburu. Mereka oknum yang mementingkan keuntungan duit aja. Tidak memikirkan pelestarian dan dampaknya pada keseimbangan ekosistem." Jelas Panji.


"Hm, susah emang mengedukasi orang-orang biar sadar."


Obrolan berakhir karena mobil kini memasuki pekarangan luas rumah Enin. Panji mensejajarkan mobil dengan mobil plat B milik orangtuanya Rama.


"Ayo, Yah." Panji membuyarkan lamunan Ayah Anjar yang terpaku menatap bangunan rumah. Gaya minimalis yang sama sejak dulu. Desain rumah yang tak lekang oleh perubahan zaman itu tetap kokoh dengan ciri khas cat yang berubah pula. Cat tembok putih tulang kombinasi kusen kayu coklat plamir.


Panji membuka pintu sembari berucap salam. Kedatangannya disambut lebih dulu oleh Bunda Ratih yang memeluknya penuh kerinduan.


"Ayahnya mana?" Bunda Ratih menatap heran karena yang masuk cuma Panji seorang.


"Di luar, Bun. Barusan nerima telepon dulu. Panji ke kamar Enin dulu ya." Tanpa menunggu jawaban, Panji melangkah pergi ke arah kamar sang nenek.


"Assalamu'alaikum." Anjar masuk dua langkah melewati pintu utama yang terbuka lebar. Pandangannya langsung bersirobok dengan Ratih yang sedang berdiri sejajar dengannya.


"Wa'alaikum salam." Ratih tersenyum dan mengangguk.


"Apa kabar, Ratih?" Anjar mengulurkan kedua tangan diiringi senyuman hangat.


"Alhamdulillah baik. Silakan duduk, Mas." Ratih mendadak canggung usai bersalaman. Di ruang tamu hanya berduaan. Panji malah pergi. Penghuni rumah lainnya sedang di kamarnya masing-masing.


"Hm, Padma tidak ikut?" Ratih berbasa-basi memecah kebisuan.


Ratih manggut-manggut.


"Apa Ibu lagi istirahat?" Anjar menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul satu siang.


"Tidak kok. Ibu sudah tahu akan ada tamu. Mungkin masih sholat. Panji sedang melihatnya ke kamar."


Orang yang sedang dibicarakan kini datang menghampiri diiringi Panji.


"Assalamu'alaikum, Bu." Anjar berdiri dan menyongsong kedatangan mantan mertuanya itu. Mencium tangannya dengan khidmat.


"Wa'alaikum salam. Anjar....lama tidak ketemu. Pangling ya....." Enin menepuk-nepuk bahu Anjar. Ia pun bertanya kabar mantan menantunya itu. Yang dijawab dengan ucap alhamdulillah.


"Saya sudah lama ingin sekali bersilaturahmi sama Ibu. Tapi saya malu datang ke sini. Pas kemarin dengar kabar dari Panji, Ibu sakit. Saya memberanikan diri minta antar Panji ke sini ingin menengok Ibu." Jelas Anjar usai duduk kembali di kursi semula.


"Oh, jadi harus nunggu dulu Ibu sakit baru mau datang. Begitu?" Enin memicingkan mata menatap Anjar.


"Bukan begitu, Bu. Saya sungkan datang ke sini. Takut diusir. Makanya kemarin minta izin dulu sebelum berangkat." Anjar terkekeh. Sekilas melirik Ratih yang diam dan sedang menatap ke arahnya.


"Pintu rumah ini terbuka lebar buat siapa pun yang ingin bersilaturahmi. Kamu Anjar, bukan orang asing bagi Ibu. Kamu itu Ayah kandung Panji. Masa iya Ibu mengusir keluarga. Mulai sekarang jangan sungkan-sungkan kalo mau datang ya!" Jelas Enin yang masih berwibawa dan bijak di usianya yang sudah sepuh itu.


Panji dan Ratih diam menyimak percakapan Enin dan Anjar.


"Alhamdulillah, makasih Bu. Saya terharu mendengarnya." Anjar tersenyum semringah. "Sekarang keadaan Ibu gimana?" sambungnya.


"Ibu mah udah sehat kok. Kemarin tuh darah naik karena makan nasi liwet sama pete, cocol asin peda merah. Padahal cuma nyicip, eh sorenya langsung puyeng. Yaaa udah tua mah mesti sadar diri nikmat makin dikurangi. " Jelas Enin diiringi kekehan.


"Eh, ada tamu." Ratna datang diiringi oleh Puput. Ia menyalami Anjar serta saling bertanya kabar.

__ADS_1


"Anjar, kenalin nih mantu aku, Puput. Asli mojang Ciamis lho. Dan aku bakal jadi Oma nih." Ratna memperkenalkan Puput pada Anjar penuh bangga.


"Wah selamat, Teh Ratna sama Mas Krisna bakal nimang cucu nih." Ucap Anjar usai bersalaman dengan Puput. Ia lanjut menanyakan kabar Krisna.


"Mas Krisna nanti sore berangkat dari Jakarta bareng anak-anak. Anjar nginep aja di sini ya. Biar nanti ketemu sama Mas Krisna." Pinta Ratna. Ia mengabaikan kakinya yang diinjak oleh Ratih.


"Saya akan nginep tapi di hotel, Teh. Besok baru pulang ke Bandung." Sahut Anjar sembari tersenyum.


"Udah di sini aja tidurnya di kamar Panji. Jangan di hotel segala. Nji, bawa tas ayahmu ke kamar!" Perintah Enin tegas tak bisa dibantah. Panji mengangguk patuh. Bergegas keluar menuju mobilnya.


"Ratih, di meja makan udah siap belum?" Sebaiknya kita makan dulu." Enin beralih menatap Ratih.


"Sudah siap, Bu." Sahut Ratih pendek saja. Ia masih tak menyangka ibunya menyuruh Anjar menginap.


Puput bersorak dalam hati. Ia sudah sangat lapar ingin makan. Tutut nya sudah habis dimakan rame-rame bersama Mami Ratna dan Bunda Ratih sembari mengobrol dengan Ibu di teras belakang. Ibunya baru pulang satu jam yang lalu.


...***...


Jakarta


Rama sudah berjalan mondar mandir menunggu jemputan datang. Ia akan menumpang mobil Papi Krisna. Ikut pula Cia dan Damar bersamanya. Sudah dua kali ia menelepon sang adik sudah sampai mana. Merasa lama menunggu. Maklum hati dan pikiran sudah terpaut ke Ciamis. Sudah tidak sabar ingin melampiaskan rasa bahagia dan rindunya dengan memeluk Puput.


Rama sudah ber video call dengan Puput satu jam yang lalu begitu perjalanan pulang dari kantor lebih awal. Mengabarkan akan berangkat ke Ciamis jam empat sore. Bahkan istrinya itu pesan minta dibawakan jajanan kerak telor. Ia menuruti dengan menyuruh sopir berputar-putar mencarinya. Dua kerak telor sudah dimasukkan ke dalam kotak makan. Disimpan dalam goodie bag.


Suara klakson mobil terdengar. Rama yang sudah tidak sabar menunggu di ruang tamu, terlonjak girang. Berteriak pada Bi Lilis bahwa ia akan berangkat. Bergegas keluar menuju mobil Alphard putih yang sudah terparkir di depan pintu gerbang.


"Ini pasti nungguin Cia dandan ya? Lama banget jemputnya." Omel Rama begitu duduk di jok baris kedua bersama Papi Krisna. Sementara Cia dan Damar duduk manis di jok baris ketiga.


"Dih calon Papa, sensi mulu. Kesini tuh mesti lewat jalan raya bukan lewat pintu Doraemon." Sahut Cia mendelik sebal karena sang kakak mendadak tidak sabaran. Damar hanya terkekeh melihat adu mulut kakak beradik itu. Ia sudah merasakan repotnya seharian ini di kantor menghadapi Rama yang mood swing.


Mobil yang dikemudikan sopir pribadi Papi Krisna kembali melaju meninggalkan komplek perumahan. Mengarah ke jalan tol dengan tujuan Ciamis.


"Rama, bener kata Cia waktu malam kamis ke rumah Papi, kamu lagi marah sama Puput? Nuduh Puput selingkuh?" Papi Krisna mulai mengintrogasi dengan suara tegas.


Rama menghembuskan nafas kasar. Menoleh ke belakang dengan tatapan tajam ke arah Cia yang kini menutup muka. "Cia, kamu ember ya!" ujarnya dengan gemas ingin menjitak kepala adiknya itu yang sudah mengadu.


"Jawab Papi, Rama!"


Suara tegas Papi Krisna membuat nyali Rama ciut. Ia pasrah bersiap menerima ceramah lagi. Setelah tadi usai rapat internal di kantor , Mami menelepon dan ngomel-ngomel membahas hal itu dan kelalaiannya sehingga telat tahu jika Puput sedang hamil.


"Iya, Pi. Waktu itu kan aku tiba-tiba moody karena bawaan bayi. Jadinya aku percayaan sama foto kiriman dari nomer asing itu." Ia yakin Cia sudah menceritakan semuanya secara detail pada Papi.


"Halah ngeles itu, Pi. Emang si kakak over bucin jadinya cemburu buta. Childish dia...." Cia menyahut dari belakang.


Rama menoleh ke belakang dengan mata melotot.


"Ck, mau bilang bodoh. Tapi ya anak kandung sendiri." Papi Krisna mendecak diiringi hembusan nafas panjang. Saking kecewa dengan cara Rama menyikapi sebuah permasalahan.


"Bhuhahaha." Dengan kompak, tanpa dikomando, tawa lepas Cia dan Damar meledak. Sebuah kalimat yang terulang kedua kali untuk Rama.


Rama hanya bisa mendengkus karena dua orang di belakangnya menari di atas penderitaanya.


Rama memutar tubuh ke belakang. "Lo, bulan ini potong gaji 30%." ujarnya menunjuk wajah Damar.


"Lo juga, dipotong uang jajan 60% karena dosanya dua, ngadu sama ngetawain!" Tegas Rama menunjuk wajah Cia. Meskipun sang adik punya penghasilan sendiri, ia selalu mentransfer uang jajan tiap bulannya sebagai bentuk sayangnya kepada adik satu-satunya itu.


Tawa dari jok belakang mendadak senyap. Beralih menunjukkan wajah-wajah protes.

__ADS_1


__ADS_2