
" Cinta buruan!" Kalau tidak sabar menunggu Cinta yang sejak satu jam lalu bersolek tak selesai-selesai.
" Sebentar Kala. Aku kan mau kelihatan cantik di depan orang tua kandung kamu. Siapa tahu nanti aku diajak gabung ke manajemen artis Mama kamu," begitu jawaban Cinta ketika berkali-kali Kala tanya.
Kala tersenyum kikuk pada dua lelaki berbadan kekar yang masih setia menunggunya. Johan dan si Botak. Mereka berdua tak mau masuk meski Kala mengizinkan mereka masuk, juga tak mau minum meski Kala menyediakan mereka minum.
Hari ini adalah hari dimana Kala akan melakukan tes DNA di Rumah Sakit Lekas Sembuh. Kala tak mau sendiri. Ia meminta Cinta untuk menemaninya. Namun, perempuan itu sangat merepotkan. Jika Kala tak mengajak Cinta, barangkali ia sudah sampai.
" Ayo, Kala!" Cinta berlari dari ruang tengah kontrakannya yang disulap menjadi kamar. Kala terkejut, Cinta menggandeng tangannya.
Tak ada masalah. Kala segera memberi tahu Johan jika mereka semua akan segera pergi. Meskipun mereka terlambat satu jam, tak masalah. Dian Miranti bisa melakukan apapun dengan uangnya.
" Pegangnya yang erat ya," Kala berbisik pada Cinta dan memegang tangan Cinta agar mengeratkan gandengannya.
Sadar, Cinta melepas tangannya dan mencubit lengan Kala, membuat lelaki itu mengaduh. Namun, Cinta tak melihat kemarahan dari Kala. Kala justru membukakan pintu mobil untuknya.
Cinta masuk dan tersenyum malu. Pipinya memerah, " Kala jangan lebay deh!" pekiknya kemudian.
Kala terkekeh dan masuk ke sisi sebelah Cinta, dibukakan Johan. Tak enak dengan perlakuan Johan Kala berbisik, " lain kali saya buka sendiri aja, ya," Kala percaya diri. Seolah ini bukan terakhir kalinya naik mobil bagus ditemani dua lelaki berbadan kekar sebagai bodyguard-nya.
Meski tampak tak enak, Johan akhirnya mengangguk, " maaf kalau anda tidak nyaman," ucapnya seraya berjalan menuju kursi di belakang kemudi.
" Dia romantis banget ya," Celetuk Cinta, membuat Kala terkekeh.
" Namanya Johan," Kala meralat ucapan Cinta, membuat perempuan di sebelahnya mengangguk. " Satunya?"
Kala melirik si botak yang duduk di kursi depan, sebelah Johan, " Pak botak, siapa nama kamu?" tanyanya akhirnya.
Terdengar suara tawa tertahan. Kala tahu itu berasal dari Johan.
" Perkenalkan, nama saya Gunawan."
Kala manggut-manggut dan berbisik kepada Cinta, " Gunawan."
Cinta terkikik, menahan tawa. Ia balik berbisik kepada Kala, " Gundul Menawan."
Kala tak bisa menahan tawa. Ia terbahak-bahak hingga perutnya sakit. Sungguh, humor Cinta sangat luar biasa. Tak tertandingi dengan apapun. Di sebelah Kala, tawa Cinta tak kalah heboh. Namun, Cinta segera sadar dan mencubit hidung Kala.
__ADS_1
" Kala, kamu nggak boleh ngetawain orang kayak gitu," bisik Cinta tepat di telinga Kala.
" Cinta, bisa nggak sih kalau nggak nyubit hidung aku?"
" Kala, hidung kamu besar dan lebar, jadi enak kalau dicubit."
Kala geram mendengar jawaban Cinta yang selalu bisa. Kali ini, Kala memiringkan badannya agar menghadap wajah Cinta. Kemudian Kala menangkap pipi gembil Cinta, mengelusnya dan tersenyum ketika melihat Cinta tersipu malu.
" Cinta, kamu kenapa?"
Cinta tak berkata apa-apa. Ia hanya menggeleng dan senyum-senyum sendiri.
Kala menahan tawanya, mengamati jemarinya yang baru saja mendarat di pipi Cinta, kemudian mengelap jemarinya ke celana jeans hitam yang Cinta kenakan. Kala tertawa ketika bekas jemarinya terlihat jelas di celana Cinta. Itu bedak di wajah Cinta yang menempel di jemarinya.
" Kala!"
Kala tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya sakit. Barangkali ia tak akan berhenti tertawa jika Cinta tak menyentil hidungnya keras. Meninggalkan jejak kemerahan di sana.
" Sakit, Cinta!"
" Bodo amat!"
" Namanya juga perempuan."
" Kayak banci."
Cinta melotot, " masa iya?" kemudian mencari cermin di dalam tasnya.
" Tapi bohong."
" Kala!" Cinta menepuk lengan Kala.
" Jangan suka pukul-pukul orang kenapa sih?"
" Maaf."
Kala tak merespon lagi. Ia memandang lurus ke depan. Untung ia mengajak Cinta untuk ikut, jadi perjalanannya menuju rumah sakit lekas sembuh tak membosankan. Jika tak ada Cinta, barangkali Kala sudah ketiduran dan tak bisa menikmati indahnya perjalanan.
__ADS_1
Diam-diam, Kala melirik Cinta yang menengok ke jendela. Jika tidak ada Cinta, mungkin hidup Kala tak akan ada warnanya. Pasti hari-harinya kelabu. Tak ada yang menyenangkan, karena hidupnya tak ada perkembangan emosi apa-apa. Untungnya Cinta mau menjadi temannya. Bagaimanapun keadaannya, tak pernah menuntut apa-apa, dan saling berbagi jika sedang ada uang.
" Kala..." Cinta menoleh membuat Kala kaget dan segera membuang muka, " kamu ngeliatin aku ya?"
" Hah? Mana ada!" Kala gelagapan. Kala bukanlah orang yang pandai berbohong. Apalagi membohongi Cinta.
Cinta terkikik, " jangan bilang kamu naksir sama aku."
" Nggak udah geer deh, Cin. Mana ada calon artis naksir sama perempuan biasa aja macem kamu."
Cinta mengalihkan pandangannya lagi. Melihat gedung-gedung yang menjulang tinggi dimana parkirannya tampak ramai. Dulu Cinta pernah bermimpi untuk bekerja di sebuah perusahaan sekuritas ternama di Asia, namun ia terlalu malas untuk belajar akuntansi. Pusing karena selalu menghitung sesuatu yang bukan milik sendiri.
" Akuntansi itu jurusan orang-orang halu. Sama kayak penulis cerita fiksi." Begitu kiranya yang pernah ia katakan Pada Kala ketika belum lama mereka kenal.
" Kala..."
Mereka berdua sama-sama menoleh. Terkejut mata mereka saling bertabrakan, keduanya membuang muka bersamaan.
" Kala, kalau kamu jadi orang kaya... kamu harus aku jalan-jalan ke luar negeri ya," ucap Cinta, tanpa menengok kepada Kala.
Kala tak merespon. Menjadi kaya saja belum, anak ini sudah minta yang macam-macam. Tiba-tiba jantung Kala berdegup kencang ketika mobil memasuki area parkir Rumah Sakit Lekas Sembuh. Mobil berhenti dan Kala keluar. Mengatur napas sebelum bejalan mengekori Johan dan Gunawan menuju ruangan tes.
" Cinta, kamu ikut masuk ya," Kala meraih tangan Cinta dan menggenggamnya sangat erat. Tubuh Kala mendadak mengeluarkan keringat dingin. Kala takut disuntik. Apakah tes DNA akan disuntik?
Berjalan mengekori Johan dan Gunawan, rupanya untuk sampai ruangan yang dituju sangat dekat. Makin tak karuan saja perasaan Kalau. Dian Miranti dan seorang lelaki tersenyum ke arah Kala.
" Akhirnya kamu datang juga, Kala," ucap Dian Miranti senang. Ia melirik tangan Kala yang menggenggam Cinta, " kamu bawa pacar?"
Kala melirik Cinta, kemudian sadar jika ia bergandengan dengan Cinta sejak di parkiran. Kala segera melepas gandengannya dan mengusap telapak tangannya pada kemeja kotak-kotak yang ia kenakan.
" Kenalin ini teman saya, Cinta," Kala memperkenalkan Cinta kepada Dian Miranti.
" Dian Miranti," perempuan empat puluh tahun itu menjabat tangan Cinta dan segera menariknya lagi, " Kenalkan ini Kevin Adiguna. Papa kandung Kala Adiguna, mantan suami saya."
Kala menelan ludah. Mantan suami?
" Kevin. Senang ketemu kamu lagi, Kala."
__ADS_1
***