Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
117. Selesaikan Kesalah Pahaman


__ADS_3

Puput mengangguk saat Rama menatapnya. Ia juga penasaran apa maunya perempuan tidak tahu adab itu. Tanpa malu mengejar dan mencekal tangan Rama di depannya. Padahal sudah diterangkan status beristri.


"Aku mau mendengarkan karena ada izin dari istriku. Mau bicara apa? Waktuku tidak banyak." Rama bersidekap tangan di dada.


"Ram, bisa kita bicara 4 mata. Just five minute. Promise!" Karenina mengangkat telunjuk dan jari tengahnya.


"Maaf tidak bisa. Baiklah, kalau tidak mau bicara di sini, kami permisi." Rama tidak lagi ketus, namun berubah tegas. Ia beralih berjalan memutar ke arah Puput. "Sayang, ayo pulang." ujarnya sambil membukakan pintu.


"Tunggu, Rama!" Karenina menjegal langkah Rama di depan kap mobil saat akan kembali ke pintu kanan. "Oke. Kita bicara di sini."


Puput yang sudah duduk di di dalam mobil menyaksikan dari kaca depan. Bisa mendengar ucapan dengan jelas. Ia pusatkan perhatian pada dua orang yang saling berhadapan itu.


"Bisa cepat tidak? Kamu udah buang-buang waktu." Rama menatap jam di pergelangan tangannya. Cara halus pengusiran.


"Rama, aku balik ke Indo karena baca berita kamu diculik sama Zara. Aku ikutin perkembangan beritanya. Pengen buru-buru balik tapi lagi ada pemotretan. Pas denger lagi kamu udah selamat, I'm so happy. Dan gak nyangka bisa ketemu di sini. Padahal aku ke sini diundang dinner oleh owner agency. Kamu.....berubah makin tampan." Karenina menatap dengan sorot penuh kekaguman diiringi senyum lebar.


"Sudah kan bicaranya? Kalau gitu aku permisi." Rama sama sekali tidak menanggapi basa basi mantan tunangannya itu.


"Rama, aku selalu dihantui rasa bersalah. Aku menyesal karena dulu....."


"Itu sudah berlalu dan aku sudah lupa. Tidak perlu dibahas lagi."


"Maafin kesalahanku, Rama. Aku akan menetap lagi di Jakarta. Bisakah kita tetap menjalin silaturahmi sebagai teman? Boleh aku berteman sama istrimu juga?"


Puput yang mendengar jelas percakapan itu mengulas senyum tipis. Ia tidak bodoh meski tidak berpengalaman. Sedikit geleng-geleng kepala melihat gestur perempuan yang tidak tahu malu mencoba mendekati lagi Rama. Ia penasaran ingin melihat bagaimana reaksi suaminya itu.


"Aku sudah maafkan. Tapi untuk berteman, maaf tidak bisa!" Rama tak lagi berbasa-basi untuk pamit. Ia berlalu dan masuk ke dalam mobil. Mesin dihidupkan. Membuat Karenina menepi sambil menghentakkan kaki.


...***...


Sesaat tercipta kebisuan begitu mobil meninggalkan parkiran restoran. Rama memperhatikan kondisi lalu lintas yang ramai lancar. Ia melirik dengan sudut mata jika Puput tak seceria seperti sebelumnya.


"Neng, mau jalan-jalan kemana lagi sekarang?" Rama menoleh sekilas. Memecah kebisuan.

__ADS_1


"Pulang."


"Masih siang lho. sayang. Mau shopping ke mall nggak? Aku temenin."


"Nggak."


"Sayang, marah?" Rama menoleh. Tangan kirinya menyentuh tangan Puput dan menautkannya.


"Tidak." Puput tetap meluruskan pandangan ke depan dengan ekspresi datar.


"Kenapa jawabnya pendek-pendek, hm?" Rama mengangkat tangan yang saling bertautan itu ke bibirnya. Mengecupnya lama.


"Aku ngantuk."


Rama tidak lagi memperpanjang. Kembali kebisuan tercipta. Pandangannya meneliti situasi jalanan, mencari-cari posisi yang memungkinkan untuk berhenti. Segera menepikan mobil saat menemukan bahu jalan yang luas dan nyaman.


"Kenapa berhenti di sini?" Puput menoleh dengan raut heran.


"Aku nggak betah lihat istriku ngambek. Kita bicarakan dulu ya." Rama membuka sabuk pengaman. Memiringkan badan ke arah Puput. Menatap wajah sang istri yang menjadi pendiam.


"Neng, bicaranya tatap Aa!" Rama dengan sikapnya yang lembut menyentuh dagu. Memalingkan wajah Puput sehingga saling bertatapan.


"Kamu marah karena kehadiran dia tadi, kan?" Rama mencoba menebak. "Aku juga tidak menyangka bisa ketemu lagi. Dan yang pasti aku sudah menolak tegas ajakan dia untuk berteman."


Puput mengikuti membuka sabuk pengamannya agar lebih leluasa karena akan membahas hal serius. "Kenapa Aa bersikap ketus tadi?" tanyanya santai dan datar.


"Kamu ingin aku bersikap manis padanya?" Rama menatap heran.


"Bukan begitu. Harusnya bersikap biasa aja. Kalau seperti tadi kesannya masih ada urusan yang belum tuntas. Terkesan masih ada rasa yang tertinggal. Entah itu rasa cinta yang belum kelar, rasa kecewa, rasa marah. Sepertinya Aa belum sepenuhnya move on, ya? Entahlah, hanya kamu dan Allah yang tahu." Puput mengangkat bahu. Mencebikkan bibir.


Rama menggeleng. Meraih kedua tangan Puput dan menggenggamnya. "Nggak-nggak. Jangan salah faham, Neng. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Tadi tuh spontan. Aku lagi happy, tiba-tiba dia muncul dengan sikap tidak tahu malu. Kan jadinya bad mood." ujarnya menyangkal.


"Tetap aja salah. Harusnya Aa tunjukkan sikap biasa, tenang. Apalagi bisa menunjukkan kemesraan di depannya itu lebih bagus. Biar dia bisa lihat kalau Aa tuh udah bahagia." Puput keukeuh dengan argumennya. Diakhiri hembusan nafas panjang. Tidak dipungkiri ada sedikit rasa kesal.

__ADS_1


Rama menggaruk kepala yang tak gatal. Wajahnya meringis. Serba salah jadinya. Mau membela diri, menyangkal lagi tuduhan Puput, sepertinya bisa jadi panjang. Hanya bisa mengumpat dalam hati, gara-gara bertemu mantan jadinya merusak suasana bahagia.


"Sayang, tadi kan aku menghadapinya sambil meluk kamu." Rama tetap bersikap lembut menyampaikan pembelaan diri.


"Memang iya. Tapi tanganmu itu tegang, nggak rileks. Aku bisa merasakannya. Kenapa coba? Grogi ya?" Puput menaikkan kedua alisnya. Tersenyum sinis sedikit mengejek.


Rama menghembuskan nafas panjang. "Jujur aku tadi kaget, sayang. Selebihnya tidak ada apa-apa. Tidak ada rasa apapun yang tertinggal, yang belum kelar, seperti dugaanmu itu. Masa lalu dengannya sudah dibuang ke tempat sampah, sudah dibakar abis. Hanya kamu seorang yang mengisi seluruh relung hati. Aku udah bahagia memilikimu, sayang."


"Hmmm." Puput bergumam pendek. Tetap memandang ke depan.


"Sayang, udahan dong ngambeknya." Rama merajuk, menatap dengan memelas. Lalu membawa tubuh Puput ke pelukannya.


"Tadi aku dengar dia mau menetap lagi di Jakarta. Kalau berpapasan di manapun bersikaplah biasa saja! Jangan lagi terulang seperti tadi." ujar Puput yang kini kepalanya bersandar di bahu Rama.


"Siap, sayang. Dan kalau membuatmu gak tenang, aku bisa mengirimnya pulang ke Paris dan kapok datang lagi ke Jakarta." Rama mengecup kepala sang istri penuh sayang.


Puput menegakkan badannya. Menatap dengan pandangan menyipit. "Ciee, yang katanya mantan sudah dibuang dan dibakar ke tempat sampah. Tapi masih hafal dimana tinggalnya. Masih anget bilang, katanya sudah tidak ada rasa yang tertinggal." Sindirnya dengan mengangkat satu sudut bibir.


"Astaga. Salah paham lagi." batin Rama sambil menepuk jidat dengan keras.


"Sayang, jangan salah paham lagi dong. Orangtuanya dia kan tinggal di Paris. Please, jangan curiga deh." Rama menggelitik pinggang Puput dengan gemas.


"Iya-iya deh. Aku percaya. Ampun ah__" Puput menahan tangan Rama sambil mengerutkan bahunya. Paling anti pinggangnya digelitik karena sensitif dengan rasa geli. "Udahan ngobrolnya. Kita pulang!" Pintanya. Sudah cukup mendengar penjelasan Rama yang kelihatannya sungguh-sungguh dan jujur. Sudah seharusnya menanamkan saling percaya untuk menangkis hama yang mau menyerang.


"Nggak mau pulang, maunya...." Rama menggantungkan ucapan. Beralih menangkup wajah, meraup bibir Puput dan memagutnya dengan lembut.


Puput menarik diri usai terbuai lima menit lamanya. Menggeleng protes. "Nanti ada yang lihat. Dikira lagi mesum lagi. Hayu ah pulang!"


"Aku masih betah pacaran. Kita nonton ya, sayang. Ada jadwal terakhir jam sembilan."


"Cek dulu filmnya. Kalau ada film action, hayu. Kalau nggak ada mending pulang."


"Kirain seleranya film drama percintaan atau horor, ternyata kita satu server." sahut Rama sambil membuka ponselnya. Ia tunjukkan judul film yang sedang tayang hari ini di bioskop. Dan Puput setuju dengan pilihannya. Dua tiket dipesan secara online dengan tempat duduk jajaran paling atas.

__ADS_1


"Aa kabarin Mami dulu. Jangan sampe cemas menunggu. Kita bakal pulang tengah malam, kan?" Puput mengingatkan.


"Ah iya, lupa kalau kita masih tinggal dengan orang tua." Rama yang sudah menghidupkan mesin, meraih dulu ponselnya. Menyentuh kontak Mami.


__ADS_2