
Jam sembilan malam, mobil Panji sudah terparkir di depan rumah Ibu Sekar. Pintu gerbang sedikit terbuka. Pintu utama rumah terbuka lebar. Rupanya semua orang sudah siap untuk berangkat. Ia masuk dengan berucap salam. Disambut si bungsu Ami yang menjawab dengan riang.
"Kak Panji, tenang...kalau pegel dan ngantuk nanti ada aku yang pijitin." Ami terkikik. Ia pun baru datang satu jam yang lalu usai dijemput Zaky ke pesantren. Dan sudah meminta izin kepada gurunya karena ada acara keluarga di Jakarta.
Tentu saja Ami ikut karena Cia menghubungi, memohon pada Bu Sekar agar bestie nya itu hadir pula di acara lamarannya.
Panji terkekeh. Menguyel-nguyel kepala Ami yang berbalut hijab instan. Bersamaan dengan Ibu yang datang bergabung menenteng sebuah tas.
"Ibu jadinya ngerepotin Nak Panji." Ibu Sekarbmenatap sungkan. Padahal Puput sudah mengabari jika berangkat ke Jakarta beriringan bersama keluarga besar Enin. Mobil dan sopir sudah disediakan. Namun sore tadi Panji yang baru tiba dari Bandung, datang dan menawarkan diri untuk naik mobilnya yang kosong.
"Nggak direpotin, Bu. Kan sama aku juga mau ke Jakarta." Panji tersenyum simpul. Beralih menatap Aul yang baru keluar dari kamar dengan pakaian kasual yang sedap dipandang mata.
"Berangkat sekarang, Kak?" Pertanyaan Aul membuat Panji mengerjap.
"Iya. Biar nyampe sana subuh." Sahut Panji. Bundanya dan Enin sudah berangkat sore tadi beriringan dengan mobil yang berisikan perwakilan keluarga besar Ciamis. Ia berhasil merayu Aul agar berangkatt bersama. Meminta agar mau menunggunya selesai kuliah siang tadi. Sehingga sore hari sudah tiba di Ciamis.
"Kak Panji, apa nggak cape baru datang dari Bandung terus lanjut nyetir ke Jakarta?" Aul mengamati raut wajah Panji, menatap khawatir usai merapihkan barang-barang bawaan di bagasi.
"Aku masih muda. Stamina masih jos. No problem." Panji menunjukkan otot lengannya yang menyembul dari kaos hitam berlengan pendek itu. Membuat Aul terkekeh.
Aul duduk di depan menemani sang driver. Ibu dan Zaky duduk di baris tengah.
"Uhh, senangnya.....bebas merdeka. Aku mah spesial kelas VIP." Celetuk Ami yang sendirian di baris ketiga. Sengaja membawa sebuah bantal boneka.
Ami menepuk bahu Zaky. "Pelayan! Nanti siaga siapin cemilan untuk Neneng Ami, oke!"
Membuat Zaky memutar badan ke belakang dan menjitak kepala adik yang menyebalkan itu.
"Sudah-sudah! Malah becanda kalian ini. Berdo'a dulu, ayo!" Ibu menegur kelakuan dua anaknya itu yang saling balas menjitak sambil cekikikan.
"Iya ih. Malu-maluin aja punya adek teh." Aul ikut berkomentar setelah sesaat hening berucap do'a. "Maaf ya kak Panji keluarga aku mah suka rusuh. Itu biang rusuhnya yang paling belakang."
Panji yang baru melajukan mobilnya terkekeh. "Aku malah seneng, jadi rame."
Perjalanan jauh itu telah memasuki fly over perbatasan Ciamis - Tasik, menuju arah Jakarta. Lalu lintas semakin malam semakin lengang. Membuat mobil bisa melaju dengan kecepatan tinggi. Meski begitu, Panji mendengarkan teguran Ibu ataupun Aul yang meminta mengemudi dengan kecepatan sedang.
...***...
Sementara rombongan Enin sudah tiba di kediaman Krisna pukul 10 malam. Tuan rumah belum tidur sengaja menunggu kedatangan keluarga Ciamis.
"Keluarga Bu Sekar mana?" Ratna yang menyambut tujuh orang yang masuk ke dalam rumah, terheran.
"Baru berangkat jam sembilan sama Panji. Paling jam subuh baru sampe." Sahut Ratih.
"Gimana Kartika besok mau datang?" Ratih bertanya pelan kepada adiknya itu. Disaat yang lain sedang berbincang dengan Krisna.
Ratih menggeleng. "Dia nggak bisa hadir. Alasannya mau nyari inspirasi buat dresscode resepsi Rama nanti. Biar tidak mengecewakan, katanya. Udah kebaca sih, sebenarnya dia sungkan."
Ratna mendesah kecewa. Tapi tidak bisa memaksa jika merasa tidak nyaman.
Rama dan Puput baru pulang lewat tengah malam. Keduanya terlihat berbinar bahagia. Mobil sport merah berlogo kuda jingkrak di parkir sejajar dengan dua mobil ber plat Z.
"Alhamdulillah, keluarga Enin udah datang ya." Ujar Puput yang mengenali kedua mobil tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya iya. Kalau Ibu sudah sampe mana sekarang?" Rama meraih jas yg disampirkan di jok.
"Lagi di tol katanya." Puput sudah mendapat update terakhir dari Aul sekitar 15 menit yang lalu. Sambil berpelukan, keduanya masuk ke dalam rumah.
Sesuai estimasi, mobil yang dikemudikan Panji tiba jam 4 subuh setelah dua kali istirahat di rest area. Puput yang bangun lebih dulu, menyambut keluarganya dengan penuh kerinduan dan sukacita. Setelah berbincang sebentar, ia mengajak ke kamar tamu untuk beristirahat. Sementara Panji dan Zaky langsung tepar di sofa usai salat subuh.
Hari ini rumah besar itu riuh ramai oleh banyaknya keluarga yang berkumpul. Persiapan acara lamaran yang akan dilaksanakan jam 7 malam sudah beres semua. Tidak ada yang perlu dirisaukan hanya tinggal menunggu waktu.
Cia mengajak Ami ke kamarnya. Ia baru bertemu anak gadis itu jam 8 pagi karena Ami melanjutkan tidur usai subuh.
"Wow, kamar Kak Cia luas banget. Bisa main lompat tali ini sih." Ami berputar-putar di depan sofa letter L. Interior kamar dengan warna nuansa ungu kombinasi putih itu cermin dari pemiliknya yang menyukai warna ungu.
"Kak Cia, aku kayak ada di rumah barbie. Jadi betah, hihihi." Ami memeluk bantal sofa ungu bergaris putih yang lembut di tangan.
Cia tertawa. "Ami, pindah aja sekolahnya ke Jakarta. Bisa tidur sama Kak Cia di sini Biar aku juga ada temennya." ujarnya sambil merebahkan diri di sofa. Ia mengingat saat SD sempat merengek kepada Mami, ingin sekali punya adik.
Meski Mami Ratna melepas kontrasepsi, namun ikhtiar ingin memenuhi keinginan Cia itu tidak terwujud. Sempat hamil. Namun di usia 10 minggu mengalami keguguran. Dan dokter menyarankan untuk tidak hamil lagi karena kehamilan baru memicu darah tinggi dan berbahaya untuk keselamatan nyawa.
"Kan Kak Cia mau nikah sama Kak Damar. Nanti bakal bobo bareng. Masa aku bobo di tengah. Kayak wasit pertandingan silat aja." Sahut Ami sambil memutar-mutar bantal sofa.
Cia tertawa lepas sampai memegang perutnya. "Ami itu nemu bahasa gitu dari mana." Ia mengusap air mata yang keluar karena kebanyakan ketawa.
"Suka denger aja kalau emak-emak lagi masak di dapur pas hajatan nikah. Ngobrolnya sambil ketawa ketiwi pula." jelas Ami dengan santai.
Cia gantian terkekeh. "Mi, kita selfie dulu. Kak Cia mau kirim buat Kak Damar."
Ami menyambut dengan acungan jempol. Mulai bergaya imut di depan kamera ponsel dipegang Cia.
Di teras belakang menghadap kolam renang, Rama Puput, Panji Aul, berbincang santai menghadapi meja yang dipenuhi cemilan dan minuman ringan. Sesekali terdengar tawa karena lemparan candaan.
"Game apa nih?" Panji menatap sepupunya penasaran. Mewakili Aul dan Puput yang sama-sama ingin tahu.
"Truth or dare." Sahut Rama yang siap menjadi pemula permainan. "Pada tahu kan rule nya? nggak perlu dijelasin?"
"Iya tau, Kak. Tapi jadi deg-degan nih. Awas, yang nanya jangan yang sulit ya!" Aul menggosok-gosok kedua telapak tangannya sambil meringis.
"Let's start the game....!" Rama mulai memutar botol. Dan ternyata tutup botol itu mengarah padanya. Membuatnya menepuk jidat. Yang lain mentertawakan.
"Aku ya yang ngasih pertanyaan." Panji mengangkat telunjuk diiringi senyum menyeringai. "Kak Rama pilih truth or dare?"
"Truth." Rama menjawab yakin.
"Awas kalau bohong diceburin ke kolam!" Ancam Panji yang ditertawakan Puput dan Aul.
"Sebutkan tiga jurus modus yang dilakukan sehingga berhasil mendapatkan hati Teh Puput?" Tanya Panji. Yang membuat Rama mendelik dan meminta diganti pertanyaan. Namun ditentang Puput dan Aul.
"Hayo jawab!" Puput menatap tajam terhadap Rama yang kini garuk-garuk kepala.
"Pertama pinta pada ibunya, kedua nyogok Ami dengan oleh-oleh dan uang jajan, ketiga jadiin Puput sekretaris selama aku berkantor di Ciamis. Berhasil deh." Rama tersenyum menatap Puput yang wajahnya memerah.
Giliran Panji yang memutar botol dan kemudian berhenti di depan Aul.
"Aku yang ngasih pertanyaannya. Truth or dare?" Tanya Rama.
__ADS_1
"Dare." Jawab Aul yakin.
Rama membuka ponselnya. Kedua jempolnya mengetik dengan cepat. "Tantangannya, bacakan dengan lantang pesan yang aku kirim barusan!"
Aul mengernyit. Segera merogoh ponselnya dan membuka kunci layar. "AH TIDAK!" ujarnya menggelengkan kepala dengan wajah merona. Namun semua orang menolak bantahan.
"KAK PANJI, AKU MENERIMA AJAKAN DINNER. HANYA BERDUA TANPA AMI." Teriak Aul yang berdiri menghadap Panji. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus saat Puput dan Rama mentertawakan. Sementara Panji menyambut mengiyakan.
Tak terasa waktu terus merambat. Keseruan game yang dipenuhi tawa berakhir pas adzan duhur. Di dapur disibukkan dengan persiapan makan siang untuk semua orang.
Sementara Zaky berada di ruang kerja, baru selesai menggambar tiga dimensi sebuah kapal penjelajah di sebuah kertas, yang selesai dikerjakan satu setengah jam lamanya dengan menggunakan pensil.
Papi Krisna yang memintanya. Ia sudah pernah melihat bakat Zaky dari Cia yang menunjukkan miniatur mobil VW dari kayu. Kini menyaksikan langsung skill adiknya Puput itu. Ia manggut-manggut dengan ekspresi puas.
Sebuah kapal penjelajah yang seolah nyata bisa dipegang. Padahal hanya lukisan di atas kertas hasil gorengan pensil.
"Kamu sangat berbakat, Zaky. Papi akan kuliahkan kamu di luar negeri agar bakatmu makin terasah. Jangan pikirkan biaya. Semuanya Papi yang tanggung. Tugasmu hanya belajar dengan sungguh-sungguh. Mau, ya?"
Mata Zaky terlihat berbinar. "Kalau Ibu mengizinkan, aku mau, Papi."
...***...
Selepas ashar, semuanya menuju hotel tempat acara lamaran. Semuanya akan merias wajah dan penampilan di sana. Keluarga besar dari Papi Krisna akan hadir pas acara dimulai.
Ballroom hotel sudah disulap menjadi ruang penuh hiasan bunga nan indah dan elegan. Dekorasi nuansa soft purple sudah sesuai konsep yang diinginkan Cia. Teman-teman terdekat Cia pun sudah berdatangan untuk mengawal moment bersejarah hari ini. Dua jam lagi, acara selangkah menuju halal itu akan digelar.
Di balkon apartemen, dua pria duduk di kursi menatap langit senja Jakarta. Yang satu orang bersandar menopang kepala dengan kedua tangan. Yang satu lagi duduk sila di atas kursi sambil bermain game.
"Leo!"
Tak ada jawaban. Orang yang duduk sila tetap menunduk menekuri ponselnya.
"LEONARDO!"
"Apa sih Akbar Pahlevi! Ganggu aja." Sungut Leo yang tak terima ponselnya dirampas.
"Ngapain lo nemenin gue kalau anteng dengan dunia lo sendiri." Akbar tak kalah bersungut-sungut.
"Oke-oke, mau apa? Muka bete gitu kayak cewek lagi PMS." ledek Leo.
Akbar tak lagi menanggapi. Beralih menghela nafas panjang.
"Bentar lagi kita ke undangan lamaran Cia. Sampe kapan kita jadi tamu undangan terus?" Keluh Akbar. Bukannya tidak laku. Wanita-wanita cantik dan seksi siap merapat di pelukan seorang pengusaha tampan dan mapan sepertinya. Namun belum ada seorang pun yang menggetarkan hati setelahnya patah hati diikhianati kekasih tercinta, empat tahun yang lalu. Padahal segala fasilitas ia beri. Namun wanitanya tergoda pria yang lebih kaya darinya.
"Kita? Lo aja kali yang jomblo. Gue mah dah punya cewek." Leo segera loncat dari kursinya karena Akbar akan menoyornya. Lanjut tertawa lepas.
"Kalau bukan teman, sudah kupecat lo dari asisten." Sarkas Akbar. Entah kenapa hari ini ia merasa sensi.
"Boss, siapa tahu nanti malam ketemu cewek cakep. Jangan nelangsa gitu kayak nggak laku aja. Lo kan tampan mapan. Tapi....emang real nggak laku sih."
"LEONARDO!!!" Akbar berteriak kencang karena asistennya itu sudah kabur ke dalam.
__ADS_1
Tbc