Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
71. Mendadak Moody


__ADS_3

Sampai di gedung RPA jam 6 sore. Pintu besi lantai satu toko, sudah tertutup rapat. Sebagian besar karyawan sudah pulang. Sebagian lagi masih santai berbincang di selasar mushola dan juga di parkiran motor khusus karyawan. Cia masih nampak riang berjalan dengan menggandeng tangan Puput memasuki lantai 2 yang juga sudah sepi.


Pintu ruangan Rama terbuka lebar dan terdengar tengah ada perbincangan. Puput yang lebih dulu mengetuk pintu dan berucap salam. Meski pintu terbuka lebar, ia menghargai dua orang di dalam yang tengah berbincang serius. Rama dan Hendra. Bersama Cia memilih duduk di sofa, tidak mengganggu dua orang yang barusan menoleh dan kompak menjawab salam.


"Saya duluan pulang, Pak Rama." Selesai diskusi, Pak Hendra pamit sambil mengulurkan tangan menjabat tangan Rama. Juga menyapa Puput dan Cia sebelum keluar ruangan.


Rama beranjak bergabung di sofa, duduk di samping Puput. Dahinya mengkerut memperhatikan perbedaan wajah Cia dan Puput. "Pulang shopping yang satu happy yang satu kusut. Ada apa?" pandangannya fokus pada Puput yang kini menutup muka dengan kedua tangan.


Cia mentertawakan sikap Puput itu. "Puput takut diomelin Kakak. Karena belanjanya banyak. Itu juga kebanyakan aku yang milihin. Puput takut disangka matre, takut disangka aji mumpung mentang-mentang megang kartu."


"Owh, kirain ada masalah." Rama tersenyum simpul. Menurunkan kedua tangan Puput yang menutupi muka. Malah wajah kekasihnya itu terkesan imut karena meringis sambil menggigit bibir bawah. Menggemaskan.


"Kan aku udah bilang tadi, sepuasnya. Jangan gak enakan gini." Rama mencolek hidung Puput. "Tapi penasaran juga emang habis berapa. Cia ambilin hape!" Menunjuk ke arah meja kerja. Dan Cia pun bergegas mengambil.


Rama membuka m-banking dan mengecek mutasi hari ini. Kedua alisnya bertaut. Lalu mendongak menatap Puput dengan wajah datar.


Puput mendapat tatapan seperti itu, wajahnya berubah pias. "Ke-kebanyakan ya? Maaf Aa, tadi tuh aku cuma milih satu baju, satu sepatu. Tapi Cia maksa milih lagi. Malah ditambah pula beli baju kantor sama paket perawatan kulit. Tambah beli juga buat Ibu, Aul, sama Ami." Ia mengangkat dua jari sebagai bentuk penyesalan.


Rama menyimpan ponsel di meja. Beralih melipat kedua tangan di dada. Kembali menatap Puput dengan wajah datar.


"Aku akan ganti, Aa. Tapi tunggu aku gajian bulan ini. Maaf sekali lagi ya." Wajah Puput memelas. Sambil mengatupkan kedua tangan di dada. Merasa tidak enak mendapat tatapan tajam dari Rama yang tak juga berbicara. Sepertinya laki-laki itu menahan marah.


"Total pengeluaran segitu kamu pakai belanja berdua?" Rama bersuara dengan nada dingin. Tetap lekat menatap wajah Puput yang menjawab dengan anggukkan. "Padahal dipakai belanja kamu sendiri juga itu nggak seberapa, Neng." sambungnya dengan merubah raut muka menjadi penuh senyum.


"HAHH?!" Puput melongo.


"Bhuahaha.....kasian deh lo kena prank." Cia yang sejak tadi menahan tawa, kini meledak dengan lepas. "Mingkem, Put! bisa aja tadi di mobil ngeledek aku...sekarang kena deh." Masih terus melajutkan tawa. Merasa terhibur dengan ekspresi calon kakak iparnya itu.


Puput tersadar. Mengatupkan bibir dengan wajah berubah memberengut. "Ishh, nyebelin deh. Aku udah jantungan tau----" Spontan ia memukul-mukul bahu Rama yang sama-sama mentertawakannya.


Usai menunaikan shalat magrib, barulah pulang. Sampai di depan rumah Puput, Cia mengetuk pintu memanggil Ami. Kangen melihat kehebohan bocah centil itu saat mendapat oleh-oleh.


"Wow, banyak syekaleee. Kayak mau pesta." Heboh Ami saat melongok dari pintu mobil yang terbuka. Dengan senang hati menenteng kantong belanjaan yang diulurkan padanya sampai dua balik.


"Kak Rama, Kak Cia, makasih ya oleh-olehnya. Semoga berkah." Ujar Ami yang sebelumnya mendapat bisikkan dari Puput.


"Sama-sama, bestie." Cia memeluk Ami sebelum masuk lagi ke mobil. Rama yang sudah duduk di jok kemudi, mengacungkan satu jempol dengan wajah penuh senyum.


Puput dan Ami melambaikan tangan melepas kepergian Rama dan Cia yang menolak masuk dulu karena gerah mau mandi, katanya.


"Teh, unboxing ya sekarang!" Ami meminta persetujuan kakaknya dengan wajah penuh binar. Semua belanjaan di gundukkan di karpet ruang tengah.


"Nanti. Teteh mau mandi dulu. Yang boleh dibuka sekarang pizza aja." Puput bergegas menaiki tangga. Ia juga penasaran ingin menghitung totalan belanjaannya.


Semua keluarga duduk bersama di karpet. Puput membagikan barang belanjaan sesuai peruntukkannya. Tentunya ia yang paling banyak. Semua struk belanja yang dikumpulkan tengah dijumlahkan oleh Aul dengan kalkulator ponsel. Ami tidak bisa diam, berjalan berlenggak lenggok mencoba baju dan sepatu baru.


"Teh, oleh-olehnya ada yang kurang satu." Celetuk Ami yang kini beralih membuka kotak berisi aneka roti.


"Kurang apa?" Sahut Puput tanpa menoleh. Ia tengah menghirup satu-satu aroma produk the loly shop yang ternyata dua paket beda varian.


"Kurang donat madu." Jawab Ami dengan pipi mengembung karena mengunyah roti dalam gigitan besar. Gak ada kenyangnya. Padahal tadi sudah menghabiskan dua potong pizza.


"Donat madu nggak ada di mall. Jauh lagi jaraknya, gak sempet waktu." sahut Puput lagi.


"Ami nggak boleh gitu. Syukuri rejeki yang ada, yang kita terima ini alhamdulillah sangat banyak." Ibu mengingatkan dengan berkata lembut.

__ADS_1


"Iya, Ami. Alhamdulillah gitu...." Aul menghentikan dulu berhitung untuk menimpali.


"Iya Ami mah. Itu udah dibeliin baju sama sepatu juga. Harganya 10 kali lipat donat madu. Harusnya bilang Alhamdulillah." Zaky tak kalah menceramahi.


"Iya-iya...maaf, aku lupa. Santuy atuh bro sis. Jangan ngegas." Ami mencolek-colek pinggang Zaky. Hingga membuat Zaky yang memasang wajah galak lama-lama berubah tertawa karena kegelian.


"Teh, totalnya empat belas juta sembilan ratus sepuluh ribu rupiah." Lapor Aul dengan ekspresi takjub.


Puput menghela nafas panjang. "Itu belanjaanku. Belum lagi punya Cia. Dan komen si Aa katanya itu nggak seberapa." sahutnya dengan lemas.


"Si Teteh siap-siap jadi istri sultan euy." Zaky menggodanya. Ia pun tengah mengagumi jam tangan sport yang dipakainya seharga satu setengah juta itu.


"Pokoknya Ibu mah nitip. Teteh jangan berubah sikap. Tetap sederhana dan rendah hati. Juga harus pandai membawa diri dengan lingkungannya Rama. Harus jadi pendamping yang membuat suamimu bangga."


"Aul, Zaky, Ami, juga gak boleh sombong. Allah sedang menaikkan derajat kita lewat perantaranya Teh Puput. Tetap rendah hati dan ramah pada siapapun."


"Iya, Bu." semuanya menyahut dengan takzim.


Puput membereskan semua barang baru miliknya di kamar. Semua baju akan dicuci besok subuh. Ia hanya memberitahu Ibu tentang black card yang dipegangnya. Yang ekornya berjajar sembilan digit.


...***...


"Seru ya jalan bareng Puput. Tau nggak, Kak. Tiap lampu merah banyak yang kenal sama Puput. Semuanya cowok. Keren-keren lagi." Cia antusias bercerita di depan semua orang yang berkumpul makan malam bersama.


"Jangan lebay. Emangnya temennya Puput pengamen lampu merah?" Rama mendelik. Hatinya mulai gerah.


"Ya bukan lah. Tapi polantas. Tadi sempet say hallo dulu. Namanya Anggara. Ganteng, punya lesung pipi, uhh senyumnya manis banget. Si polisi itu ngajak selfie juga."


"Terus ketemu lagi polisi temannya Puput juga. Ternyata mereka satu komunitas silat. Ganteng pula, Kak." Cia tanpa beban bercerita ditambahi bumbu. Membuat Rama meneguk minum sampai habis dalam satu tarikan nafas.


"Di parkiran mall ketemu juga teman Puput. Lagi-lagi cowok keren atlet basket. Tapi penilaianku, mereka semua cowok baik dan sopan. Pada memuji Puput yang katanya makin cantik, glowing in and out." Cia melirik Rama yang mengupas kulit pisang raja dengan kasar.


"Tenang....bukan itu maksudnya. Aku suporter Kak Rama dong. Malah pas kenalan aku bilangnya Cia calon adik iparnya Puput."


"Beneran kamu ngomong gitu?!" Rama memicingkan mata ingin memastikan. Dijawab Cia dengan anggukkan kuat.


"Nah sekarang masuk ke pertanyaan. Acara nanti mau dimana, konsepnya gimana?" Cia selesai dengan makannya. Mulai serius pada tujuannya memanas-manasi sang kakak.


"Puput bilangnya mau di rumah aja. Undangan keluarga dan teman dekat paling total 70 orang. Aku udah suruh pakai jasa WO dan catering biar ga capek. Tapi belum sempat survey katanya."


Enin dan Bibi Ratih masih diam menyimak.


Cia menggeleng. "Aku gak setuju, Kak. Kakak harus tahu di luar sana banyak cowok mapan yang naksir dan mengidolakan Puput. Dan ternyata Kakak pemenangnya."


"Masa iya seorang Ceo RPA ngadain acara lamaran biasa aja. Bisa-bisa kena tikung sebelum janur melengkung." Cia mengompori. Membuat Rama menegakkan punggung. Memasang wajah protes.


"Bukan gitu. Tadinya aku nurut maunya Puput yang pengen lamaran sederhana. Dia juga nurut maunya aku untuk konsep nikah akan diadakan di hotel. Dua kali. Di Ciamis sama di Jakarta." Jelas Rama yang memang sebelumnya sudah diskusi berdua dengan Puput.


"Jangan ngikutin Puput deh. Dia orangnya gak aji mumpung, Kak. Tadi aja sungkan banget pake black card dari Kakak. Untuk acara lamaran, dia pasti bakal ngatur pengeluaran sehemat mungkin. Kalo modelan si Zara yang dikasih kartu, beuh....shopping tiap hari pastinya."


"Pokoknya acara lamaran harus mewah. Pilih venue di ballroom hotel atau di resto yang konsepnya outdoor, Kak. Undang tuh semua cowok temennya Puput. Ya...gak papa kan kita pamer kelas. Biar cowok-cowok yang naksir Puput jadi ciut lihat lawannya."


Pendapat Cia membuat Rama diam sejenak berpikir. Ia sudah tahu jika temannya Puput kebanyakan adalah laki-laki. Sering membuatnya khawatir dan cemburu.


"Idemu oke juga. Kalau gitu Kakak serahin aja urusan persiapan acara sama kamu. Nanti aku bicara sama Puput."

__ADS_1


"Enin juga setuju acaranya jangan di rumah. Keluarga besar kita harus dikasih tahu. Kalau undangan dibatasi 70 ya gak akan keundang semua. Mami kalian juga pasti protes." Enin buka suara setelah menyimak semua percakapan kedua cucunya itu. Pun Bibi Ratih yang sudah ditunjuk membuat seragam keluarga, menyetujui.


"Sebentar, Cia. Emangnya udah gak takut ketemu cowok gak dikenal? Perasaan dari tadi cerita riang banget." Bibi Ratih baru tersadar. Kini semua mata tertuju pada Cia.


"Eh, iya ya. Aku juga gak nyadar." Cia pun membelalakkan mata. "Entahlah. Selama bersama Puput, aku enjoy aja dikenalin sama cowok temennya Puput itu. Mungkin chemistry kali ya. Hati tahu kalau Puput itu my hero." Matanya berbinar karena sepertinya sudah lepas dari trauma.


Nampak raut kelegaan dan bahagia di wajah Enin, Bibi Ratih dan juga Rama.


...***...


Pagi menyapa. Sengaja sepanjang jalan menuju kantor, Rama tidak bersuara. Lebih tepatnya mogok bicara. Menguji reaksi Puput seperti apa. Sebenarnya ingin sekali menggoda. Karena begitu duduk bersama di dalam mobil, tercium wangi harum yang berbeda dari tubuh kekasihnya itu. Wangi yang menenangkan. Sepertinya bakal betah untuk dipeluk. (Eh...sabarrr)


Namun ditahan dulu untuk menggoda. Rasa cemburu teringat cerita Cia semalam, membuatnya ingin merajuk. Kekanak-kanakan? Entahlah. Ada hasrat ingin sekali bermanja karena besok akan pulang ke Jakarta.


Beberapa kali Puput menolehkan wajah. Tumben perjalanan 15 menit menuju kantor sepi tanpa percakapan dan canda yang biasanya dimulai oleh Rama.


"Aa, sakit?" Puput menatap heran. Rama hanya menggeleng.


Puput merasakan ada yang berbeda. Tapi ia menahan diri untuk tidak bertanya lagi. Menunggu sampai tiba di kantor.


"Jangan dulu buka berkas!" Puput menahan tangan Rama. Menangkupnya sambil menggelengkan kepala. "Cerita dulu sama aku, kalau bukan sakit kenapa mukanya gak semangat gitu?" sambungnya dengan menatap lembut.


Dalam hati Rama bersorak girang mendapat perhatian seperti itu. Lain dengan wajah yang menampakkan lesu. Ia pun menuntun tangan Puput menuju sofa.


"Cia bilang kemarin ketemu banyak temen cowok di tiap lampu merah. Di mall juga. Kenapa gak cerita?" Akhirnya Rama buka suara usai puasa sepanjang jalan.


"Apa? Ketemu cowok tiap lampu merah? Ih Cia ngarang ah." Puput jelas membantah. "Aku ketemu Anggara, polantas yang juga teman di grup Silat. Terus di parkiran mall ketemu Billy, teman sesama atlet Porda. Hanya dua orang kok."


"Mereka cuma teman. Nggak ada yang istimewa. Hanya Aa seorang my special person, sang pemilik hati." Puput tersenyum lebar. Entah keberanian dari mana bisa berkata selugas itu.


Membuat terbit semringah di wajah Rama yang sedari tadi lesu. Tak dipungkiri dadanya penuh luapan bahagia.


"I love you, Neng. Titip jaga cintaku saat kita jauh." Ia meraih tangan Puput dan menangkupkan di wajahnya.


"Sebentar saja. Besok aku pulang, pasti bakal kangen berat." Rama menahan tangan Puput yang akan ditarik. Dengan mata yang masih terpejam menikmati luapan perasaan. Di samping ia merasa aneh dengan sikapnya hari ini yang mendadak moody.


Jam 10, keduanya berangkat menuju butik Sundari untuk melakukan fitting. Bibi Ratih menyambutnya dengan senang diiringi canda omelan terhadap Rama yang dianggapnya terlalu mepet waktu.


"Maaf ya Bunda, jadinya direpotin deh. Emang A Rama mendadak banget ngajak khitbahnya." Aku aja kaget." ujar Puput yang menganggap serius omelan Bibi Ratih.


"Hehe...becanda kok, Put. Bunda malah seneng kalian akan segera halal." sahut Bibi Ratih yang turun tangan sendiri mengukur badan Puput dan Rama. Melakukan diskusi rancangan baju serta warnanya sampai menjelang waktunya shalat jum'at.


"Aa mau jum'atan dimana?" Puput meminta kunci mobil untuk mengambil baju koko yang tergantung di hanger.


"Masjid yang paling dekat dimana ya?!" Rama balik bertanya karena tidak tahu wilayah itu.


"Tinggal nyebrang aja, nanti ada gang. Bareng Sodiq aja berangkatnya, Ram." Sahut Bibi Ratih baru ingat dengan security butiknya. Rama pun mengangguk.


Puput pamit menuju parkiran untuk mengambil baju koko. Tersenyum dikulum membayangkan tugasnya ini seolah tengah melayani suami. Baju koko putih lengan panjang diserahkan pada Rama yang wajahnya setengah basah usai berwudhu.


"Put, jangan langsung pulang ya! Kita maksi bareng. Ada sop buntut enak langganan Bunda." Pinta Bibi Ratih.


"Iya, Bunda." Keduanya pun asyik berbincang santai sambil menunggu Rama pulang dari masjid. Mengingat sudah waktunya shalat duhur, Puput beranjak pergi ke mushola. Lupa, jika tas berisi mukenanya tertinggal di mobil. Jadinya kembali lagi ke parkiran meski Bibi Ratih menawari mukena miliknya.


Dari kejauhan Puput melihat rombongan para pria yang baru bubar jum'atan. Diantaranya ada sosok Rama yang bersiap akan menyebrang. Senyumnya terkembang. Terselip di hati rasa bangga. Bangga akan sosok calon imamnya itu.

__ADS_1


Saat akan membalikkan badan untuk membuka pintu mobil, dari spion tertangkap mata ada motor yang melaju kencang dari arah kanan. Naluri pendekarnya terbangun. Merasa ada yang janggal. Berpacu dengan detik-detik yang berharga, Puput berlari.


"Aa.....AWASSS!"


__ADS_2