Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
Kalau Kala Jadi Artis


__ADS_3

" Kamu serius?" Cinta membelalak tak percaya. Es krim di genggamannya nyaris jatuh, apabila Kala tak segera menyentil pipinya, " aduh. Sakit!"


" Kalau es krim kamu jatuh nanti banyak semut!" Kala protes. Seringkali Cinta tak bertanggung jawab dengan perbuatannya. Entah habis makan piringnya tidak dicuci dan lantai tidak disapu, habis tidur kasur lantainya tak dibenahi dan seabrek tindakan jorok Cinta yang sering membuat Kala kesal.


Cinta tersenyum kemudian memasukkan es krim di genggamannya ke mulut Kala. Manis, tapi Kala tidak suka. Ini bekas Cinta. Astaga, jorok sekali perempuan di depannya ini!


" Jadi, gimana bisa gitu?" Cinta meraih bantal dan memangkunya. Bersiap ingin mendengarkan apa saja yang Kala lalui seharian ini.


Sebelum menjawab, Kala mengeluarkan es krim dari mulutnya dan membuang makanan manis itu ke plastik dan mengikatnya hingga mati, " jorok tau."


" Buruan cerita!" Cinta tidak sabar. Matanya bulatnya berbinar indah.


Melihat satu-satunya teman dekatnya antusias, Kala menceritakan semua yang ia alami hari ini. Mulai dari ketika ia memasuki mobil bersama si Botak hingga ia menelpon Ibunya di kampung.


" Serius kamu? Dian Miranti yang main film Lahir Dalam Keranda, kan?"


Kala tertawa terbahak-bahak. Tak ada yang salah dengan pertanyaan Cinta, namun judul film horor yang pernah dibintangi Dian Miranti dua tahun lalu itu membuatnya tak bisa menahan tawa.


" Kok ketawa?"


" Lucu aja. Lahir Dalam Keranda... kayak apa gitu didenger."


Cinta mencubit hidung Kala hingga lelaki itu mengaduh, memegangi pergelangan tangan Cinta, dipaksa melepas tangannya. Cinta melepaskan cubitannya dan tertawa melihat hidung Kala memerah seperti udang goreng.


" Sakit tau!"


" Lagian kamu..." ucap Cinta, membiarkan tawanya perlahan-lahan mereda, " Lahir Dalam Keranda kan film horor. Serem tau."


Kala tak peduli apapun pada film yang disebutkan Cinta. Yang jelas, ia tak pernah menonton film horor yang baginya hanya mengagetkan penonton saja.


" Katanya, waktu nobar film itu, artis-artisnya pada halu. Katanya mereka semua ngeliat perempuan yang misterius yang sama di kursi paling belakang."

__ADS_1


" Udah ah. Nggak usah bahas itu lagi. Lagian kamu kan anak komunikasi, masa percaya sama hal yang kayak gitu. Mereka itu cuma mengada-ada supaya filmnya laku. Strategi marketing."


Cinta membuang napas. Ia beringsut mendekat ke arah kasur. Meletakkan bantal yang tadi ia pangku ke atas kasur dan berbaring di sana. Matanya memandang langit-langit ruangan yang harusnya berwarna putih, tapi sekarang berwarna kekuningan. Di ujung langit-langit terdapat sarang laba-laba yang tipis. Tapi, bisa.terlihat dengan mata telanjang.


" Kala, kalau kamu bener anak Dian Miranti, berarti kamu kaya dong?" tanya Cinta tiba-tiba. " Pasti kamu banyak uang. Kamu nggak akan tinggal di sini lagi, mungkin."


" Bisa jadi." Tapi, kalaupun benar Kala anak kandung Dian Miranti, kenapa dia tidak mau ngurus Kala sejak bayi? Kenapa orangtua kandung Kala harus repot-repot membuat surat perjanjian dan mengeluarkan uang lima milyar sebagai hadiah?


" Berarti kita nggak akan sering ketemu lagi dong?"


Kini mata Kala memandang Cinta yang masih asik memandang langit-langit, " ketemu sih pasti. Tapi bisa jadi jarang."


" Kala, kalau Mama kamu artis, kamu juga jadi artis nanti? Bertrand Peto aja diangkat anak sama artis, langsung viral dan jadi artis."


Kala terkekeh, " emangnya harus banget?"


" Kalau jadi artis kan enak. Terkenal, bayarannya mahal, sering dapet endorse lagi."


" Kalau kamu jadi artis dan kaya raya, jangan lupain aku ya," Cinta mengubah posisinya menjadi tengkurap. Pandangannya teralih pada Kala yang juga sedang memandangnya. Cinta tersenyum sok imut, membuat Kala gemas ingin mencubit pipinya yang gembil.


" Kamu bakal jadi orang pertama yang aku traktir makan sepuasnya."


Mata cinta melebar. Seperti ada cahaya yang menyorot tajam, " kamu serius?"


Kala mengangguk mantap. Sesekali, membuat orang lain bahagia tidak ada salahnya, kan? Lagipula, Cinta adalah satu-satunya teman dekatnya. Jika perempuan itu tidak bawel bertanya ini dan itu ketika di kampus, kemudian mengiriminya pertanyaan ini dan itu pula melalui pesan singkat maupun telepon, pasti Kala tak akan pernah dekat dengan siapa-siapa. Waktunya yang tak banyak untuk berinteraksi dengan orang lain karena tuntutan hidup —biaya kuliah hingga harus bekerja paruh waktu membuatnya perlahan-lahan dianggap tak pernah ada dalam setiap lingkungan.


" Kala... jawab! serius nggak?"


" Serius, Cinta..."


Cinta tersenyum, terlihat bahagia. Melihat Cinta bahagia, Kala juga ikut bahagia. Ia sudah berjanji, sekarang tinggal mencari cara bagaimana cara untuk menepatinya.

__ADS_1


" Akhirnya... aku punya teman artis!" Cinta sangat bahagia. Ia kemudian melompat hendak memeluk Kala, namun ia malah menindih Kala, membuat Kala meringis kesakitan.


" Cin..." Kala tak melanjutkan. Melihat wajah Cinta tepat di depannya, dengan jarak sedekat ini, membuat jantungnya tiba-tiba berdebar. Kala tak pernah memiliki rasa apa-apa terhadap Cinta sebelumnya, tapi dengan posisi seperti ini apa yang ia rasakan terasa aneh.


Kala menutup mata, membiarkan rasa hangat menjalari tubuhnya yang berdesir-desir. Sebagai lelaki normal, posisi seperti ini membuatnya terangsang. Kala membuka mata dan berniat mencium Cinta, mengabaikan miliknya yang perlahan tegak berdiri seperti bambu runcing yang ditancapkan ke tanah. Namun, ketika jarak bibirnya dan bibir Cinta tak kurang dari satu senti meter, tiba-tiba Cinta mencubit hidungnya dengan sangat keras, membuat Kala menjerit kesakitan.


" Mesum, dasar!" Pekik Cinta.


" Cinta... Sakit... banget..." Kala berkata dengan terbata-bata. Ia berusaha melepaskan cubitan Cinta dan... lega. Cinta melepaskan. cubitannya. Jika saja perempuan itu tak melepaskannya, pasti Kala akan mati kehabisan napas.


" Kamu mau nyium aku kan tadi? ngaku?"


Kala tak menggubris pertanyaan Cinta. Ia masih sibuk mengusap-usap hidungnya yang merah tapi tidak merona. Menurutnya, hidung nya sekarang tak seperti udang goreng lagi, tapi lebih mirip kepiting goreng yang lebar, merah, panas dan berminyak. Hidung Kala bengkak dan ini semua karena Cinta.


Astaga!


" Kala, jawab!" Cinta hendak mencubit hidung Kala lagi. Namun dengan sigap, Kala menepis tangan Cinta.


" Apaan sih, Cin? kasar banget!"


Cinta tampak murung. Kala tahu Cinta merasa bersalah, " maafin aku ya, Kala."


Kala diam saja. Ia mengambil kaca dan melihat pantulan hidungnya yang sangat menyedihkan.


" Kamu marah ya?"


Kala meletakkan kacanya lagi. Kemudian memandang Cinta dan menangkup pipi gembilnya dengan kedua telapak tangannya, " jangan lakuin itu lagi, ya. Sakit tau."


Cinta mengulas senyum manis, kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Kala, " tadi ada yang berdiri ya?" tanpa menunggu jawaban dari Kala, Cinta segera bangun, meraih tasnya dan berjalan menuju pintu, " Kala, aku pulang dulu ya. Daaah."


***

__ADS_1


__ADS_2