
Sepulang kondangan berganti setelan rumahan dan menghabiskan waktu bersama di ruang keluarga lantai atas. Cemilan buah potong menjadi teman Puput menonton tayangan kartun Nusa Rara yang dishare dari ponsel ke smart tv. Duduk di sofa di sisi kiri. Dengan bayi besar rebahan berbantal pahanya.
Rama tiduran di pangkuan Puput sembari memainkan ponsel, mulai membuka grup Brotherly Club yang ternyata sudah ramai. Ada 14 pesan yang belum dibaca. Ia menyimak dari awal untuk mengetahui tema yang sedang dibahas. Tiba-tiba tergelak membaca semua pesan saling berbalas itu.
"Lagi baca apa sih?" Puput sampai terganggu perhatiannya. Ia memberi suapan buah melon ke mulut Rama. Sedikit menunduk melihat ke layar ponsel yang dipegang suaminya itu.
"Biasa, Neng. Grup Bandung. Tiap abis magrib otaknya pada geser." Ucap Rama. Puput sudah diberitahu grup apa yang dimaksud. Sudah pernah menceritakannya bahkan ikut mengintip room chatnya.
"Bahas topik anu gak ada habisnya ya." Puput geleng-geleng kepala. Kembali menatap layar televisi. Karena Rama asyik lagi dengan dunianya.
Rama: [Punten, Pak dokter mana Pak dokter?]
Rama menunggu siapa dulu yang akan membalas. Ia meminta Puput menyuapi lagi buah potong. Menang banyak menjadi bayi besar, bermanja-manja dan dimanja-manja.
William : [Pak dokter lagi jam praktek. Apalagi kalo yang nganter pasiennya semok. Bisa lama-lama dia meriksanya 😀]
Satya : [Bisa digantung kakak iparnya kalo Pak dokter genit 🤭]
Ricky: [Curiga dah sukses jadi bayi besar, Ram]
Rendi : [Baru beres pasien. Ada apa nyari gue?]
Rama tersenyum lebar melihat Rendi mulai on. Ia mulai mengetik pesan.
[Saran pak dokter top markotop. Gue sukses jadi bayi besar. Malah istri gak mau lepas ngelonin gue terus 😁]
Nico : [Mantap. Otw hampers mendarat di Bandung ini sih]
Arya : [Bener. Kudu syukuran ini mah. Hampers for all. Gpp lah buat Rendi spesial. Buat kita juga idem]
Rama: [Ha ha ha....haseummmm]
Rama tergelak sendiri usai mengirim balasan. Membuat Puput menepuk bahunya sebagai teguran karena hampir piring buah yang dipegang terjatuh.
Rendi: [Catet noh, Ram. Kalo cuma gue yg dikasih, gue bakal diboikot para mokondo]
William: [Njirrr, bahasa alien keluar lagi 🤣]
Satya: [Enaknya jadi mokondo tuh kalo malam doang. Kalo siang gak dapet peluang. Alesan bini mau jemput anak skul 😔]
Ricky: [Untung si kembar masih bayi. Gue kadang manfaatin kerja lapangan dengan belok ke rumah dulu. Ngecas]
Arya : [PANTESAN KE KANTOR TELAT]
Ricky : [Eh jempol gue napa ember ya 🙈]
William: [Neng Kiki siap dipotong gaji 🤣]
Rama merasa terhibur dengan isi chat yang benar-benar absurd, pada bergeser otak. Terus-menerus tertawa sendiri dengan lepas.
Nico : [Btw, dokter herbal kemana ngilang? tadi mau ngasih resep kan]
Arya: [Langsung dipraktekin kayaknya. Uji coba manjur nggaknya]
Mizyan: [Heh...gue baru beres ngelonin Mentari. Si centil lagi mode on manja pengen dikelonin papa]
Mizyan: [Oke, gue spill bahan-bahannya. Hafalkan and praktekkan, broh. Diminum sendiri, hasilnya dinikmati berdua. Serrr nyut lah]
Ricky: [Mangat nih gue. Cuaca ngedukung]
__ADS_1
Chat masih panjang berhamburan. Apalagi setelah suhunya dunia peromesan merinci ramuan baru hasil eksperimennya. Dan katanya dijamin manjur.
Rama merentangkan tangan usai meletakkan ponsel. Cukup pegal juga bermain jempol meladeni chat jurusan omes hampir satu jam lamanya. Ia memiringkan badan menghadap perut Puput. Menggesekkan hidungnya di sana. Otaknya mulai traveling ingin praktek membuat ramuan.
"Neng, ada susu beruang gak?" Rama mendongak menatap Puput yang berganti mengunyah cemilan roti.
"Ada."
"Madu?"
"Ada."
"Telor bebek ato telor ayam kampung?"
"Ada juga telor bebek. Emang mau apa?" Puput mengerutkan kening.
"Mau bikin ramuan. Ide dari dokter herbal." Rama bangun dan duduk sila menghadap Puput.
"Dokter herbal siapa? Teman Aa juga?" Tanya Puput.
"Gelar baru buat si bule Mizyan. Dia rajin banget eksperimen obat kuat alami. Bikin racun buat para mokondo. Haha." Rama tergelak sendiri.
"Apa pula itu mokondo?!" Puput terheran-heran dengan istilah yang menurutnya asing.
"Ah sudahlah. Itu rahasia para suhu. Aa aja baru tau tadi. Temenin ke dapur yuk, Neng. Kita bikin ramuan." Rama mengecup pipi Puput.
"Caranya emang gimana?" Puput masih bergeming duduk di tempatnya. Meski Rama sudah berdiri mengajak turun ke dapur.
"Susu beruang dihangatkan. Siapin di gelas kuning telor bebek 1 butir campur 2 sendok makan madu. Kocok-kocok, lalu susu dituangkan. Diminum anget-anget, dua jam sebelum anu." Rama menaik turunkan alisnya.
"Aa liat sekarang jam berapa?" Puput menunjuk dengan dagu ke arah jam dinding.
"Kalo sekarang bikin ramuan, berarti pertandingan dimulai tengah malam. NGGAK BISA. Aku sekarang udah ngantuk. Bumil gak boleh begadang." Tegas Puput diiringi menguap panjang.
"Yaaah, gugur dong dunia persilatan. Mereka lagi bikin ramuan. Aa aja nih yang nggak. Gimana kalo besok pagi?" Rama yang sesaat nelangsa, kembali berbinar.
"Besok aku pengen sarapan di rumah Mami sama nginep malam mingguan di sana. Jadi pengen deket-deket sama calon manten. Gak kerasa ya lima hari lagi acara siraman Cia." Puput menatap menerawang dengan sorot berbinar.
"Setelah subuh anu dulu ya, Umma!" Rama merayu dengan mengerjap-ngerjapkan mata bak anak kecil.
Puput menggeleng. "Rayuan Papa nggak ngefek. Si utun lagi gak mau ditengok. Harus semaunya dia, Papa. Kalo Papa maksa, aku bakal mual muntah. Si utun pengennya besok pagi ke rumah Oma!"
Rama menghembuskan nafas panjang. "Iyaaaah Umma," ucapnya lemas. Eksperimen ramuan harus ditunda sampai waktu yang tidak bisa dipastikan. Tergantung mood bumil.
Pagi mulai datang. Puput sudah sangat bersemangat ingin ke rumah Mami Ratna. Dandan paripurna tak seperti biasanya. Membuat Rama takjub dengan mood istrinya itu. Padahal bangun subuh sepiring nasi goreng sudah mengisi perutnya. Kini jam enam pagi sudah mengajak pergi. Lapar ingin makan bubur ayam buatan Mami yang sudah dimintanya tadi subuh.
Tiba di rumah sang mertua disambut, Puput disambut aroma bubur ayam yang menguar sampai ke ruang tengah.
"Put, udah gak mual-mual deket Rama?" Mami Ratna menatap takjub melihat menantunya masuk sembari menggelayut di lengan Rama.
"Setelah Aa pake telon, aku malah gak mau jauh dari Aa." Ucap Puput tersipu malu.
"Wuah Rama, ide dari mana tuh?" Mami melebarkan mata.
"Ide dari teman aku yang jadi dokter anak, Mam." Rama tersenyum bangga. Ia langsung mengajak Puput ke ruang makan karena bubur ayam sudah masak.
Cia menuruni tangga dengan langkah semangat di akhir pekan yang cerah. Sudah diberitahu jika Rama dan Puput akan datang. "Mam, siapa yang bawa bayi," ujarnya mencegat langkah sang ibu sembari mengendus-ngendus aroma minyak telon yang semerbak di ruang tengah.
"Iya, Mih. Ada tamu siapa?" Susul Papi Krisna yang baru masuk usai jogging pagi. Mendengar pula pertanyaan Cia.
__ADS_1
Mami Ratna terkekeh. "Tuh bayinya di ruang makan. Ayo kita gabung." Mami Ratna mengabaikan wajah penasaran dari suami dan anak bungsunya itu. Biar saja nanti terjawab sendiri.
...***...
Ciamis
"Libur telah tiba, hore. Libur telah tiba. Hore. Hatiku gembira." Ami berjingkrak-jingkrak mengitari Ibu Sekar yang masih berdiri usai memeluknya penuh rindu. Ia baru tiba di rumah setelah dijemput Zaky ke pesantren. Hari ini memulai libur semester.
"Mi, badan aja yang bongsor. Kelakuan kayak anak TK." Zaky melempar bantal sofa yang sigap adiknya itu menghindar.
"Eit, nggak kena...gak kena." Ami memeletkan lidahnya mengejek Zaky.
Ami memang ajaib. Suasana rumah yang sepi mendadak ramai hanya oleh kehebohan dan kecentilan satu orang.
"Bu, hape dimana? Uhh, gak sabar pengen update status." Ami bertanya namun kemudian berlari menuju kamar ibunya. Membuat Ibu Sekar hanya geleng-geleng kepala.
"Bu, Teh Aul kemana?" Tanya Ami yang loncat ke sofa. Tak sabar menunggu ponselnya menyala.
"Ke kampus." Sahut Ibu singkat. Fokusnya membongkar dua tas Ami yang berisi baju bersih dan baju kotor.
"Duh ngetik apa ya?" Ami bergumam sendiri. Mengetuk-ngetuk pelipis agar muncul ide kreatif.
Ting tong.
Ami menoleh ke arah ruang tengah. Ibunya sudah tidak ada. Zaky baru saja terdengar pamit pergi ke Padepokan.
Ting tong.
"Yaelah bel-bel. Ganggu aja." Gerutu Ami tak urung turun dari posisi nyamannya duduk sila di sofa. Ponsel disimpan di meja.
Gagang pintu diputar. Pintu terbuka.
"Assalamu'alaikum, Ami..."
"Wa'alaikum salam. Bapak mau ketemu Ibu aku ya?" Ami melipat kedua tangan di dada. Mode waspada.
"Bapak mau ketemu Ami kok." Sahut pria paruh baya berbadan tegap. Bersikap tenang dan tersenyum simpul. Dia, Pak Bagja.
"Hah? Bapak boong ya?" Ami menyipitkan mata. Menggeleng tidak percaya.
"Bapak dapat kabar kalo Ami jam 10 pulang dari pesantren. Jadi Bapak pengen ngasih oleh-oleh buat anak saleha nya Ibu Sekar." Pak Bagja menunjukkan kedua tangan yang sedari tadi disembunyikan di belakang.
Tak perlu menyelidik. Sekilas mampu terbaca jika buah tangan di tangan kanan dan kiri Pak Bagja adalah donat madu dan pizza.
"Terima kasih." Ami menerima uluran dari Pak Bagja. Tidak boleh menolak kalau dikasih. Tapi wajahnya masih dalam mode waspada.
"Bapak tau dari siapa aku pulang? Dari Ibu ya?" Ami masih menahan tamu di depan pintu. Belum mau mempersilakan masuk.
"Bukan dari ibu. Tapi dari Aa Zaky." Pak Bagja tetap sabar menghadapi bodyguardnya Ibu Sekar.
Ami terdiam. Entah apa yang dipikirkan. Kedua tangan masih menenteng oleh-oleh. Sejenak menoleh ke belakang. Tidak ada ibunya.
"Bapak boleh masuk tapi harus jawab dulu dua tebakan aku." Ami memelankan suaranya.
"Kalo jawab salah?" Pak Bagja menaikkan satu alisnya.
"Kalo jawab salah, sekian dan terima kasih bapak harus pulang lagi. Bukan aku tidak sopan, tapi salah Bapak gak bisa pecahin password izin masuk."
"Kalo bapak jawab benar, selain dibolehkan masuk, Ami juga harus ngebolehin Bapak ngajak Ibu, Aul, Zaky, dan Ami buat makan malam di rumah Bapak. Deal?" Pak Bagja mengacungkan jari kelingkingnya. Ia sama sekali tidak tersinggung oleh sikap protektif anak bungsunya Bu Sekar itu.
__ADS_1
"Oke, deal." Ami menautkan jari kelingkingnya. Percaya diri.