
Rombongan keluarga Rama sudah menempati kursi yang disediakan. Sang calon pengantin pria duduk paling depan diapit kedua orangtuanya. Duduk dengan punggung tegak dalam balutan setelan beskap perpaduan tradisional modern warna broken white, senada warna kebaya modern yang dikenakan Puput. Rambut belah pinggir menjadi style andalan, dengan sentuhan pomade yang memberi kesan fresh.
Kini tengah berlangsung seremonial kedua, yaitu pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan saritilawah. Sambil menunduk menyimak, sudut matanya mencoba mencari letak keberadaan Puput. Yang sejak berjalan penuh percaya diri dan menebar senyum di karpet merah, matanya belum menangkap sosok calon istrinya itu. *(Rama gak sabaran seperti readers ๐๐โโ๏ธ)
Bung MC melanjutkan tugasnya membawakan susunan acara selanjutnya.
"Hadirin tamu undangan yang saya hormati. Kembali saya ulang, jika malam ini acara khitbah antara Mas Rama Adyatama dan Neng Putri Kirana, berubah atau bertambah acara pernikahan dengan prosesi akad nikah secara agama. Atau biasa disebut nikah siri."
"Dan.....saya barusan mendapat bisikan dari tokoh yang akan menjadi saksi pernikahan Mas Rama dan Neng Putri, bahwasannya nikah siri ini akan berlanjut sah di mata hukum dengan cara mendaftarkan ke KUA. Dengan syarat melampirkan akta nikah siri serta kelengkapan dokumen administrasi."
"Jadi, Alhamdulillah....tidak perlu melakukan ijab kabul ulang. Buku nikah akan terbit setelah memenuhi syarat administrasi." Penjelasan bung MC membuat sebagian tamu undangan manggut-manggut, sebagian tersenyum lega.
"Hadirin tamu undangan yang berbahagia, malam ini kita akan melewatkan acara sambutan lamaran dari pihak pria juga sambutan penerimaan lamaran dari pihak wanita. Karena sambutan lamaran akan berganti menjadi sambutan serah terima calon mempelai pria dan calon mempelai wanita."
"Namun...tidak afdol rasanya ya, jika kita tidak menyaksikan tanya jawab dari dua sejoli sebelum menuju akad nikah. Atau yang biasa disebut marriage proposal. Apakah benar Neng Putri ini mau menerima pinangan Mas Rama? Atau jangan-jangan Mas Rama nya nih yang maksa." Gerrr hampir semua tamu tertawa mendengar guyonan Bung MC. Sementara Rama hanya tersenyum mesem di tempat duduknya.
"Marriage proposal, sebagai simbolis acara khitbah, akan kita saksikan bersama. Mas Rama silakan naik ke panggung pelaminan. Dan mari kita sambut pula kedatangan dari Neng Putri Kirana...." Dikawal Panji dan Damar, Rama berjalan naik ke atas panggung pelaminan.
Semua yang terucap dari venue, terdengar sampai ke ruang tunggu. Dimana Puput duduk didampingi Aul dan Via serta dua sepupu lainnya. Ada pula Zaky yang duduk di pojok tengah komat kamit membaca do'a karena tegang, didampingi pamannya serta dua temannya.
Zaky saat ini enggan duduk di depan mendampingi Ibu yang duduk sejajar dengan orangtua Rama. Karena wajahnya menjadi tegang dan pias saat mengintip kedatangan rombongan keluarga Rama yang banyak. Diperkirakan sekitar 70 orang. Alhasil, Ibu sementara ini didampingi Uwa Hilman yang merupakan kakak dari ibunya itu.
"Aku deg-degan." Keluh Puput sambil mengipas-ngipas tangan di depan wajah. Nervous melanda saat terdengar bung MC memanggilnya.
"Tenang....Put. Nggak boleh tegang. Kamu udah menjelma jadi Ratu Siput. Cantiiikk paripurna. Jadi nanti pas keluar, tegakkan kepala dan umbar senyum manismu. Yakin, tegangnya ilang. Oke, say. Kamu bisa yok!" Via memberi semangat dengan gaya hebohnya.
"Teteh, tarik nafas dulu sok...." Aul membimbing kakaknya untuk menarik dan membuang nafas sampai tiga kali secara perlahan. Kemudian Puput mengangguk pertanda dirinya sudah lebih baik.
Dua crew WO memberi arahan jika sudah waktunya memasuki venue, berjalan di gelaran karpet merah. Puput berdiri diapit Aul dan juga Via. Untuk terakhir kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan dad dig dug detak jantungnya. Bismillah...
Saxofonis berdiri berjarak hampir 2 meter dari posisi Puput berdiri. Menganggukkan kepala lalu mulai meniup saxophone nya. Akustik lagu Bidadari Surga mulai mengalun. Saxofonis memainkan sambil berjalan mundur perlahan. Puput didampingi dua bridesmaid cantik dalam balutan gaun soft peach berjalan maju, selangkah demi selangkah secara perlahan.
Senyum menawan tersungging dari calon mempelai wanita, pun dari dua pengiringnya. Semua tamu yang berdiri berjajar sepanjang dua sisi karpet merah, tak lupa mengabadikan dengan kamera ponsel. Crew WO sampai harus menertibkan tamu undangan karena menghalangi kerja photografer.
Rama yang sudah berdiri di panggung pelaminan, menahan berkedip demi menyaksikan kedatangan Puput yang berjalan semakin mendekat penuh senyum. Paras ayu mojang Ciamis itu makin berlipat berkat sentuhan apik MUA berpadu gaun kebaya modern two tone color, broken white-gold yang melekat anggun nan elegan. Ingin sekali mengulurkan tangan menyambut di ujung tangga satu titian itu. Namun intruksi dari crew tidak memperbolehkannya.
Kini, di atas panggung pelaminan hanya ada Rama dan Puput berdiri saling berhadapan serta Bung MC.
"Mas Rama, kedip dulu Mas...kedip. Nanti perih lho matanya." Bung MC dengan pengalaman jam terbang tinggi, dengan santai dan sengaja menggoda Rama yang tak henti menautkan pandangan ke arah Puput. Membuat ballroom berhias lampu estetik itu riuh tawa tamu undangan. Ia menyerahkan dua mic wireles kepada Rama juga Puput.
Seketika keriuhan berubah senyap. Semua mata tertuju pada dua sejoli di atas panggung pelaminan. Rama berdehem untuk memulai sesi marriage proposal. Salah satu konsep acara yang merupakan idenya Cia.
"Aku di sini bukan tentang diriku sendiri. Hanya berharap tergolong dalam naungan sang Baginda Rasul dengan menjalankan sunnah-Nya."
"Aku di sini bukanlah untuk diriku sendiri. Melainkan untuk dirimu, yang suatu saat nanti akan menjadi prioritas dalam hidupku setelah Tuhan dan Nabi."
__ADS_1
Puput tersenyum mesem dengan kedua pipi bersemu merah, menunduk dan menyimak ucapan Rama yang berkata dengan tenang.
"Aku ingin kau menjadi perhiasan terindahku, yang kelak akan bersama mengarungi titian menuju Surga, menggapai ridho-Nya."
"Malam ini, izinkan aku dengan segala perasaan yang dititipkan Tuhan ini meminta...".
โDengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Putri Kirana....bersediakah menjadi istriku, menjadi pendamping hidupku dalam suka dan duka?" Rama penuh kelembutan suara dan pandangan, tersenyum manis. Selama berkata, ia hanya fokuskan mengunci pandangan pada gadis cantik di hadapannya yang berjarak 1 meter.
MC yang berdiri di sudut panggung memberi kesempatan kepada Puput untuk memberi jawaban.
Hening sejenak.
Puput mendongak menatap sang arjuna yang setia meluruskan pandangan. "Ya. Aku bersedia." Senyumannya merekah. Begitu pula Rama membalas senyum serupa dengan mata berbinar.
Giliran Cia yang juga memakai dresscode warna soft peach, naik membawa nampan berisi buket bunga mawar putih. Penuh senyum ia mengangkat nampan di samping sang kakak.
Rama berjalan satu langkah mendekat. Ia berjongkok dengan satu lutut bertumpu di lantai. Tangannya terulur memberikan buket bunga mawar putih segar dengan keharuman lembut yang menguar.
"Untukmu, Mojang Ciamis. Yang sejak jumpa pertama...aku langsung jatuh cinta. Tak menyangka Allah menyatukan kita dalam waktu sesingkat ini. Putri Kirana....Please, marry me, tonight."
Puput merasa hatinya meleleh dan berdesir. Ini kejutan yang manis membakar, karena seluruh tubuhnya menjadi memanas. Membuatnya salah tingkah dan seolah raga ingin terbang ke awan. Sungguh sesi ini tidak ada dalam konsep. Iringan tepuk tangan dan suitan dari tamu muda mudi, menambah warna merah di kedua pipinya yang terasa panas.
Puput menerima buket cantik itu dan mendekapnya di dada. Ia menganggukkan kepala sebagai bentuk jawaban.
"Waduduhhh, saya jadi ikutan baper. Meleleh....hati abang lihat keuwuan calon manten ini." Bung MC mengusap-ngusap dadanya sambil geleng-geleng kepala. Yang disambut kekehan dan tawa hadirin.
...***...
Puput sudah kembali ke ruang tunggu. Membuat Zaky kembali ke kamar mandi karena rasa tegangnya kambuh lagi. Untuk ke empat kalinya merasa ingin buang air kecil efek tegang. Dari sound system terdengar sambutan serah terima calon penganten tengah berlangsung.
"Zaky, duduknya sini!" Puput melambaikan tangan pada sang adik yang baru keluar dari toilet sambil menggosok-gosok tangan. Aul dan Via ikut menoleh ke arah Zaky.
"Minum nih biar nggak tegang." Aul kali ini tidak ingin meledek Zaky. Malah membantu mengelap dengan tisu, keringat yang mengalir di pelipis adiknya itu. "Kenapa malah nervous lagi, tadi kan udah pede."
"Tau nih. Denger yang lagi sambutan jadinya pengen pipis. Abis ini berarti akad, kan?" Keluh Zaky dengan tersenyum meringis.
Puput merangkum bahu Zaky. Ia sebaliknya, tak lagi tegang usai melalui acara marriage proposal yang menurutnya sangat romantis. Sekarang bisa bersikap santai dan tenang.
"Tadi pas di jalan mau ke sini, kak Rama ngechat Teteh. Katanya tanyain sama Zaky pengen motor sport merk apa. Kak Rama mau ngasih hadiah. Asal Zaky harus tenang dan berwibawa saat menjadi wali." Puput mengusap-ngusap bahu kokoh remaja berusia 17 tahun itu. Yang selalu aktif bermain bola dan berlatih silat.
Mata Zaky membelalak sempurna dengan punggung tegak. "Serius, Teh?" Dijawab Puput dengan anggukan dan senyum simpul.
"Ehmm, pake sogokan langsung ilang itu nervous." Via mencebik. Tapi tak urung ikut senang melihat Zaky mengepalkan tangan sambil berloncat dengan semangat.
Waktunya akad nikah tiba. Meja khusus yang disediakan untuk prosesi akad nikah sudah diisi oleh orang-orang yang bersangkutan. Tersisa satu kursi untuk calon mempelai wanita yang sengaja tidak dihadirkan.
__ADS_1
Dua pria beda generasi yang duduk berhadapan terhalang meja, saling berjabat tangan setelah selesai khutbah nikah. Zaky terbawa aura tenang dan percaya dirinya Rama. Sehingga sorot mata tegas saling beradu seolah saling menantang.
โSaya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Rama Adyatama bin Krisna Adyatama dengan saudara perempuan saya yang bernama Putri Kirana binti Ramdan Wijaya dengan maskawinnya berupa seperangkat alat sholat. Tunai.โ Zaky sedikit menghentak tangannya.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Putri Kirana binti Ramdan Wijaya dengan maskawinnya yang tersebut. TUNAI.โ Dalam satu tarikan nafas, Rama berucap lantang.
Kata SAH menggema. Iringan do'a dipanjatkan dengan khusyu oleh ketua MUI Ciamis sebagai saksi dari pihak laki-laki. Diaminkan serempak oleh semua hadirin.
Saatnya menjemput sang pengantin wanita yang sudah berdiri di ujung karpet merah didampingi Aul dan Via. Rama melangkah tegak dan penuh senyum diiringi jepretan kamera dan rekaman video.
Tiba di hadapan gadis pujaannya itu, tangan Rama terulur. Puput mengerjapkan mata. Tangan kekar itu ia raih dengan tersenyum manis. Beralih melingkarkan tangan di lengan pria yang kini sah bertitel suami. Berjalan bersama menuju meja akad. Satu dokumen berupa akta nikah usai ditandatangi suami istri serta para saksi. Puput mencium punggung tangan Rama dengan takzim. Sebaliknya Rama membalas dengan menaruh telapak tangan di puncak kepala sang istri sambil melafalkan do'a pernikahan sesuai yamg diajarkan ustad saat di rumah.
Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.
(Artinya: " Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya.)
Lantas Rama mencium kening sang istri. Dalam dan lama. Begitu penuh perasaan.
Beralih naik ke pelaminan. Cicin pernikahan siap disematkan. Rama meraih jemari tangan kanan Puput. Menyematkan cincin emas putih bertabur 9 permata tanam di jari manis. Giliran Puput mengambil cincin perak dan menyematkannya di jari manis sang suami. Dengan mengarah ke ke fotograper, keduanya memamerkan cincin yang melekat dengan senyum semringah.
Menjadi haru dan penuh tangis saat prosesi berlanjut dengan sungkeman. Tetiba terbayang wajah Ayah tengah tersenyum pada sosok Zaky yang duduk di samping ibu. Puput tersedu dan tergugu memeluk Zaky. Kata Ibu, wajah adiknya itu refleksi wajah ayah saat muda. Begitu pula Zaky yang merasakan hal sama. Terisak dengan bahu terguncang di balik punggung sang kakak. Rindu itu kembali menyapa. Ibu merengkuh keduanya dengan linangan air mata pula. Sedih, haru, bahagia berpadu. Tak ingin menampakkan jika dirinyalah yang paling merindu akan sosok suami tercintanya itu.
Di bawah pelaminan, Aul dan Ami yang menyaksikan adegan itu, berpelukan saling menguatkan. Sama-sama menangis. Sigap Cia mendekat dan merengkuh keduanya untuk menguatkan.
"Kak Rama, titip Teteh. Jangan pernah sekalipun sakitin Teteh. Kami adik-adiknya sangat sayang sama Teteh." Dengan mata dan hidung yang masih memerah, Zaky menyampaikan harapannya dengan suara serak.
Rama mengangguk kuat. "Pasti kakak akan selalu bahagiain Teteh. Kakak juga sangat menyayanginya. Kakak juga sayang sama Zaky, Aul, dan Ami." Keduanya pun berpelukan saling menepuk punggung.
Ibu mengusap puncak kepala Rama yang beralih bersimpuh di pangkuannya. Sedikit menundukkan kepala ia berkata, "Putri Kirana mulai sekarang menjadi tanggungjawabmu, nak. Tugasmu untuk menuntunnya menjadi istri yang taat sehingga bisa memperoleh surga-Nya. Ibu hanya titip satu hal. Jangan pernah memukulnya. Karena ayahnya pun tidak pernah ringan tangan. Jika sudah tak sanggup menasehatinya, kembalikan ia pada Ibu dengan cara baik-baik."
Rama mendongak dengan mata berkaca. Haru. Menyimpan kedua telapak tangan ibu di puncak kepalanya. Ia berkata lugas, "Akan kusayangi dan kucintai putri ibu sepenuh hati. Seorang Rama Adyatama tidak akan pernah berbuat kasar ataupun ringan tangan. Aku bersumpah di depan Ibu."
Ibu beralih memeluk Rama dan mencium kening menantunya itu dengan rasa bangga.
"Selamat datang di keluarga Adyatama, Nak. Kamu adalah istri idamannya putra Papi. Semoga kebahagiaan dan keberkahan menyertai kehidupan rumah tangga kalian." Satu tangan Papi Krisna mengusap kepala Puput yang bersimpuh mencium punggung tangannya.
"Sayang, terima kasih sudah bersedia menjadi istrinya Rama. Kebahagiaan Rama adalah kebahagiaan Mami juga. Mami do'akan semoga pernikahaan penuh berkah, sakinah, mawaddah, warrohmah." Mami memeluk Puput dengan erat. Mencium kedua pipinya penuh sayang.
Kembali duduk di pelaminan. Rama menggenggam tangan Puput dengan erat. Wajah sang istri masih sendu. Memberinya minum agar lebih tenang sambil berbisik, "Istriku wanita tegar. You are my wonder woman." diiringi kedipan mata. Membuat Puput kembali mengulas senyum kecil.
"Aku merasa Ayah ada di sini. Mataku melihat yang duduk di samping ibu itu Ayah, bukan Zaky." Puput memejamkan mata agar tak lagi menangis. Padahal sejak siang ia sudah mensugesti diri untuk tegar dan kuat melampaui sesi sungkeman. Nyatanya tidak bisa.
Rama merangkum bahu Puput. "Tentu saja Ayah menyaksikan pernikahan kita dengan bahagia. Besok kita ziarah ke makam Ayah, ya?"
Puput menatap wajah Rama. Membaca netra hitam yang tengah menatapnya pula. Sorot itu teduh dan lembut menenangkan. Ia pun menganggukkan kepala.
__ADS_1
Tbc