
"Selamat siang. Maaf mengganggu waktunya." Seorang pria bersetelan jas rapih menghampiri meja panjang itu. Mengangguk sopan sambil memegang gift box. Semua mata tertuju padanya.
"Ada ucapan terima kasih dari manajemen mall untuk mbak Putri Kirana. Sekali lagi, terima kasih sudah membantu melerai keributan yang terjadi tadi." Leo yang ditugaskan sang boss, menyerahkan kotak exlusive itu di depan meja Puput.
Semua orang menyipit penuh keingintahuan. "Memangnya mbak Putri ini ngelakuin apa, mas?" Jeng Yuni yang bertubuh tambun tergelitik ingin tahu. Semuanya pun memasang telinga lebar.
Dan Leo menceritakan perihal keributan tadi secara detail. Sekaligus memberi pujian kepada kepiawaian Puput menjadi penengah. Tidak lama, ia pamit meninggalkan ruangan itu.
Mami Ratna menatap Puput dengan kedua alis terangkat. Mau tidak mau Puput mengangguk, membenarkan.
"Maaf, Mi. Tadinya nggak mau cerita biar nggak jadi bahan gosip." Puput tersenyum meringis.
Mami tersenyum lebar. Mengusap bahu Puput dengan sorot penuh kebanggaan. "Nah, inilah kelebihan menantu saya, jeng. Dia bukan hanya cantik tapi juga rendah hati. Padahal jawara silat sabuk violet lho. Tingkat paling tinggi itu." Jelasnya terang-terangan memuji di depan teman-temannya.
Puput hanya tersipu dan tersenyum simpul saat kembali kumpulan sosialita itu memujinya.
Diperjalanan menuju kantor Cia, Puput membuka kotak kado berwarna coklat itu. Bukan hanya ia yang penasaran dengan isinya, Mami juga.
"Parfum?" Puput bergumam pelan. Teringat saat tadi ia melihat-lihat display deretan parfum.
"Mami, apa ini hadiah tidak berlebihan? Tadi tuh pas kejadian ribut, aku lagi berdiri di gerai parfum." Puput menyerahkan kotak yang sudah terbuka itu.
Mami mengernyitkan kening melihat logo parfum itu. "Ini parfum mahal, Put. Tapi melihat mall tadi yang memang bonafid, Mami rasa wajar aja sih manajemen ngasih hadiah ini. Bisa jadi dia mah nggak perlu beli tapi free."
Mami tidak lagi membahas soal hadiah parfum itu. Tapi setidaknya Puput mwrasa lega apa yang didapatnya diketahui sang mertua. Menghindari adanya kesalah fahaman.
Berada di kantor Cia cukup lama. Bagian depan yang merupakan konter ponsel yang ramai pengunjung, ternyata di dinding belakangnya ada 6 meja berisi 6 orang admin yang sibuk menatap layar komputer, melayani pesanan online via market place dan juga media sosial.
"Teh, besok aku ikut ya jemput Kak Rama!" Cia sudah diberitahu Damar jika kekasihnya itu akan mengantar Puput ke bandara besok jam 4 sore.
"Boleh banget, Cia." Puput menyambut dengan senang hati.
"Mami, telepon Papi dong. Mumpung lagi ngumpul, kita dinner di luar aja." Pinta Cia menatap Mami yang baru selesai melaksanakan salat Ashar.
"Ide bagus, sayang. Bentar Mami telpon dulu." Mami menghubungi sang suami yang letak gedung kantornya di sebrang jalan. Dan ajakan dinner itu disetujui Papi Krisna yang baru bisa keluar kantor selepas magrib.
Cia bertepuk tangan girang. Lantas ia menelpon Damar untuk mengajak ikut serta makan malam bersama.
Kumpul keluarga dalam momen makan malam minus Rama itu terlaksana. Ide spontan yang bisa menyatukan para pria sibuk berkumpul dalam satu meja di sebuah restoran.
__ADS_1
"Nanti kitq ulang dinner bareng kalau Rama sudah pulang." Ucap Papi Krisna yang juga bahagia bisa berkumpul satu meja.
"Iya dong harus!" Mami menyahut antusias.
...***...
Sabtu siang, Puput mengulang mandi untuk yang kedua kalinya. Dengan memanjakan diri melulur tubuh lalu berendam di bathtub dalam hangatnya air yang sudah ditetesi aroma terapi esensial. Semua itu dilakukan untuk menyambut kedatangan sang suami.
Menghitung mundur jam. Rasa degdegan melanda dada. Seolah rasa yang sama kala pertama kali merasakan jatuh cinta pada pria yang sudah memilikinya secara utuh. Puput senyum-senyum menatap pantulan diri di cermin. Melihat wajahnya yang terus bersemu membayangkan kurang lebih tiga jam lagi akan berada dipelukan Rama.
Sebentar lagi pulul 4 sore. Ia mengatur nafas. Menenangkan debaran di dada. Penampilannya sudah rapih. Tas selempang sudah disampirkan di bahu. Kembali mengulang touch up wajah dengan menyapukan spon bedak untuk memastikan riasan sederhananya sudah sempurna dan glowing. Done.
Puput menuruni tangga menuju Damar dan Cia yang sudah siap di ruang tengah. Mereka pun pamit kepada Papi dan Mami yang memilih menunggu di rumah.
Sore ini hujan rintik-rintik. Perjalanan menuju bandara internasional di wilayah Tangerang itu normalnya ditempuh 1 jam menggunakan roda empat. Masih leluasa waktu karena jam 6 sore pesawat Rama akan landing. Sesuai info terakhir yang didapat, jika transitnya lancar sehingga pesawat akan tiba tepat waktu.
Memasuki tol dalam kota, hujan lebat mulai mengguyur jalanan. Cia mengingatkan Damar agar tidak mengebut meski jalanan terbilang lengang. Damar mengangguk patuh. Hanya memacu mobil pada kecepatan 60-70 km/jam.
Damar yang membawa mobilnya di lajur kanan, tiba-tiba menegakkan punggung. Memberi sen kiri untuk berpindah lajur. Raut wajah kaget itu tertangkap oleh Cia yang duduk di jok sampingnya.
"Ada apa, Kak?"
"Ada masalah sama ban kayaknya." Damar menatap spion. Ia merasakan jalannya mobil tidak nyaman, sedikit oleng. Memperhatikan ban belakang sebelah kanan, tapi terlihat normal. "Kita harus menepi dulu." Dengan menekan tombol lampu hazard, ia mencari posisi bahu jalan yang lebar dan aman.
Awan hitam dan hujan lebat membuat waktu yang baru menunjukkan pukul setengah lima, terlihat lebih gelap seperti waktu magrib. Wiper kaca bergerak ke kiri dan ke kanan membersihkan kaca depan dari guyuran air hujan agar pandangan tetap jelas dan terang.
"Teh, punten ambilin payung di jok belakang." Damar membuka sabuk pengaman bersiap turun mengecek kondisi ban. Puput sigap mengambilkan.
Berpayung hitam, Damar keluar dari mobilnya dengan membawa senter. Dengan teliti, ia memutari mobil mengecek kondisi semua ban. Beruntung memakai celana jeans pendek, sehingga cipratan air hanya mengenai sepatu sneaker dan betisnya, tidak membasahi celana. Keningnya mengkerut, melihat ban belakang sebelah kiri koyak tertancap ranjau paku.
Puput menyaksikan adanya mobil yang berhenti di belakang mobil yang ditumpanginya. Sama-sama menyalakan lampu hazard, dua orang turun dari pintu depan dan belakang menghampiri Damar. Pikirannya positif, mungkin mereka akan memberi bantuan.
Bugh.
"Arghh!"
Semuanya terjadi begitu cepat dan mengejutkan. Damar mengerang dan tersungkur saat sebuah pukulan benda tumpul menghantam belakang kepalanya.
"Kak Damar!" Cia menjerit histeris. Spontan gadis itu membuka pintu untuk menghampiri kekasihnya. Namun salah seorang berjaket hitam mencekal dan membekap mulutnya. Cia melotot, tak lama terkulai dan ambruk dalam guyuran air hujan.
__ADS_1
Tak dipungkiri badan Puput menegang. Matanya tajam penuh kewaspadaan dan siaga memusatkan tenaga pada kaki kanannya. Begitu pintu dibuka dari luar, ia menendangnya. Membuat pria berkupluk hitam terjengkang ke belakang.
Puput turun dari mobil. Tidak memberi kesempatan orang yang membuka pintu itu bangun. Dua tendangan bertubi-tubi dilayangkan pada wajah dan perut. Darah segar bercampur air hujan mengalir dari mulut dan hidung.
Puput menangkup tongkat baseball yang dilayangkan pria berjaket hitam dengan kedua tangannya. Sebuah tendangan kaki dilayangkan ke perut. Membuat pria berjaket hitam itu terhuyung. Ia pun sama terhuyung karena tongkat baseball yang terlepas dari tangan pria itu.
Puput akan mengejar dua pria yang berlari masuk ke dalam mobil, namun erangan Damar yang memegang belakang kepala dan basah oleh darah dan air hujan, menghentikan langkahnya, menoleh dengan nafas tersengal. Terlambat, mobil pelaku kekerasan sudah melaju kencang meninggalkan prahara.
...***...
Seorang pria tampan dengan outfit casual berjalan tegap menarik koper besar. Meski raut lelah itu nampak, namun binar bahagia lebih mendominasi. Ia menghela nafas lega, bersyukur kembali ke tanah air lebih cepat dan selamat.
Ponsel dengan nomer operator dalam negeri sudah diaktifkan lagi. Rama membaca pesan terakhir dari Puput yang mengatakan sedang berada di tol dalam kota. Di terminal tiga menuju tempat penjemputan, ia menghubungi sang istri untuk menanyakan posisi sekarang. Namun dua kali terhubung belum ada jawaban.
"Pak Rama?"
Rama urung melakukan panggilan ulang saat seorang pria berseragam sopir menyapanya.
"Ya."
"Saya sopir kantor Adyatama. Saya disuruh menjemput Pak Rama oleh Pak Damar. Karena mobilnya Pak Damar mogok di luar tol."
"Setelah menjemput Pak Rama, nanti langsung menjemput Pak Damar dan Bu Putri yang menunggu di rumah makan."
"Begitu ya?!" Rama terdiam sesaat memperhatikan wajah sopir yang tidak dikenalnya itu juga mencerna penjelasan barusan. Tapi melihat name tag dan logo perusahaan di saku kemeja pria itu, ia menganggukkan kepala.
Kopernya diambil alih. Rama mengikuti langkah orang yang mengaku sopir itu ke parkiran di terminal tiga. Sepertinya hujan baru reda melihat aspal yang masih basah oleh sisa air hujan.
Pintu mobil belakang dibuka. Namun Rama menghentikan langkah. Ia menjadi ragu melihat mobil hitam innova didepannya itu. Rasanya perusahaan selalu meremajakan mobil inventaris kantor. Mobil ini terlihat seperti keluaran lama.
"Sebentar, saya mau telpon Damar dulu!" Rama merogoh saku hodienya. Namun bekapan di mulutnya dari arah belakang, membuatnya terkaget. Ia berontak saat bau menyengat terhirup hidung. Namun ada sosok lain yang menyergap tangannya dengan kuat. Selanjutnya rasa pusing begitu kuat dan pandangan tiba-tiba menggelap.
...****************...
Besties,
Give away "Tanda Kasih dari Author" diperpanjang sampai 31 Juli 2022 jam 23.59 WIB.
Ayo jangan lupa setor ss hadiah kopi kepada admin Imas Perwati. Siapa tahu kamu adalah 5 pemenang yang akan mendapatkan tas cantik.
__ADS_1
Cemungut all 💪❤