
Ketahuan berada di chat room yang sama. Bahkan mendapat sapaan yang otomatis centang biru. Puput merasa seolah maling yang tertangkap basah. Takut, tegang, dan jantung berdebar kencang. Untuk dua menit lamanya hanya menatap layar dengan status online. Mencoba mengetik tapi dihapus lagi. Menjadi lebih hati-hati dalam mengirim pesan setelah kejadian emot yang memalukan, menurutnya.
Ah...aku basa basi apa ya?!
Puput menghela nafas prustasi. Mendadak blank karena suasana hati yang tegang. Yang dihadapi adalah boss bukan teman. Kalau dengan Pak Hendra masih bisa santai. Tapi dengan sang owner RPA entah mengapa makin ke sini rasa hati makin sungkan meski di sis lain ada rasa senang saat mendengar suaranya.
Suara dering panggilan masuk membuat tubuhnya terjengit kaget. Baru sadar jika dari tadi masih bengong dengan pemikiran sendiri. Puput mengucap salam menerima panggilan dari Rama.
"Aku tungguin dari tadi lama sekali ngetiknya. Mau ngetik apa dan sepanjang apa sih? Ya udah by phone aja!" Suara Rama dari sebrang sana terdengar penasaran usai menjawab salam Puput.
Satu tangan Puput menempatkan satu bantal sofa di pangkuannya, sebelum menjawab rasa penasaran Rama.
"Maaf, Pak. Justru saya juga bingung mau ngetik apa dulu. Karena ada beberapa pertanyaan. Jadi urutannya mana dulu....malah ketik hapus jadinya." Ujar Puput sambil terkekeh. Bahkan heran sendiri kenapa kalimat itu malah lancar keluar dari bibir. Dan tegang serta takut pun menguap begitu mendengar suara pria di sebrang sana itu. Padahal yang dipikirkan tadi adalah keresahan harus mengucap basa basi apa. Aneh. Otak dan hati tidak kompromi.
"Put, please....jangan panggil Pak! Ini di luar jam kerja." Suara tegas Rama membuat Puput tersenyum meringis. Gak neneknya gak cucunya, kini sama-sama protes.
"Baiklah...aku panggil Kak Rama aja ya ikutan seperti Ami." Puput mengalah menuruti. Meralat ucapan dulu memanggil Aa saat Enin menginterupsinya. Karena dirasa-rasa panggilan Aa kesannya mesra, menurutnya.
"Oke. Tapi ini temporer ya! Nanti suatu saat....harus ganti panggilan lagi."
"Siap, Pak. Saya ngerti. Kalau jam kerja akan manggil Pak Rama. Di luar jam kerja panggilannya Kak Rama." Dengan yakin Puput membuat kesimpulan sendiri.
Lain halnya Rama yang menepuk jidat tanpa suara. Umpan pancingannya tidak mengena sama sakali. Puput seperti yang sudah-sudah. Tidak peka.
"Jadi kamu mau bicara apa, Putri Kirana?!" Rama menahan sabar dengan kembali pada pertanyaan awal.
"Ah iya. Pertama, Kabar Pak eh Kak Rama baik kan? Sudah seminggu gak dengar kabarnya." Puput terkekeh kecil. Ia teringat nasehat Pak Hendra tentang salah satu tugas menjadi sekretaris Rama.
"Bisa dibilang baik bisa tidak. Soalnya raga di sini tapi hati dan pikiran sering melayang ke Ciamis."
"Sudah kangen pengen mudik ya, Kak?! Sabar....nanti juga tiba waktunya." Puput menghibur.
"Hmm---" Hanya dijawab Rama dengan gumamam lesu tanpa semangat.
"Iya...aku akan sabar sampai tiba waktunya." Lanjut Rama yang sebenarnya penuh makna.
"Nah gitu dong, Kak. Semangat!!!" sahut Puput dengan riang. "Ngomong-ngomong, jadi mudik pakai mobil atau pesawat?"
"Pakai pesawat aja. Aku udah pesan tiket. Mobil akan diantarkan lebih awal oleh sopir kantor soalnya abis lebaran ada acara reunian."
"Put, ada tugas buat kamu-----"
Percakapan masih berlanjut membahas seputar mudik. Sampai terdengar suara motor memasuki halaman. Puput meminta izin menyudahi sambungan telepon begitu mengintip dari gorden jendela jika yang datang adalah Aul dan Billy.
"Oke. Jangan lupa tanggal 28 ya, Put!" ujar Rama mengingatkan lagi.
"Insyaa Allah, Kak." Puput mengakhiri dengan mengucap salam.
Kemudian beranjak membukakan pintu saat mendengar ketukan dan salam dari sang adik.
"Teh, saya pamit pulang sudah malam." Billy yang telah mengantarkan lagi Aul, menyalami Puput dengan sopan. Ia datang lebih awal 5 menit dari waktu yang ditargetkan kakaknya Aul itu.
"Makasih ya, Billy. Hati-hati di jalan!" Puput memperhatikan Billy yang melajukan motor keluar, berpapasan dengan Zaky yang masuk dengan motor Supra nya. Puput menyuruh adik laki-laki satu-satunya itu untuk mengunci selot dan gembok pintu pagar besi. Karena semua anggota keluarga sudah lengkap berada di dalqm rumah.
"Siapa Billy? Pacar ya?!" Puput menggelitik pinggang Aul sambil berjalan bersisian menuju tengah rumah.
"Cuma temen, Teh. Say no pacaran untuk saat ini. Fokus kuliah dulu sampai lulus!" tegas Aul yang juga mengikuti prinsip sang kakak dulu.
"Bagus! Ini baru adik Teteh." Puput memiting leher Aul tentunya dengan becanda. Walaupun begitu, tetap saja Aul mengaduh karena lehernya merasa tercekik.
...***...
__ADS_1
"Kenapa dijual?! Padahal kamu cocok pakai motor ini." Aris menyayangkan akan keputusan Puput yang datang bertamu minggu siang ini yang menawarkan motor N max warna merah.
"Aku butuh modal buat buka usaha kuliner Ibu. Motor mah masih banyak di dealer. Nanti ada rejeki beli lagi." Setelah dipikirkan berulang kali, Puput ingin segera merealisasikan membuka usaha kuliner Ibu yang lebih maju lagi. Mantap merelakan tunggangan kesayangannya yang sudah lunas setelah kredit selama 2 tahun itu. Sengaja hari libur ini menemui pemilik padepokan karena pernah bilang tertarik dengan motornya.
"Tapi duitnya gak bisa sekarang, Put. Tahu sendiri lah mau lebaran banyak pengeluaran." ujar Aris yang sudah memiliki satu orang putri berumur 7 tahun.
"Gak harus sekarang kok, Kang. Aku butuh dananya buat seminggu abis lebaran. Bisa?!" Puput memperhatikan Aris yang tengah melihat-lihat motornya.
"Oke. Kalau abis lebaran bisa." sahut Aris yakin. "Ah...hampir lupa. Kamu masih ingat sama si Acil?! sambungnya menahan Puput yang beranjak siap pulang.
"Dari padepokan Tapak Suci, bukan?!" Puput balik bertanya untuk meyakinkan jika nama itu adalah sang pemimpin padepokan.
"Iya. Dia titip salam sama kamu. Terus dia nawarin ini. Aku share aja ya!" Aris mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Puput mencermati kiriman pesan dari Aris dengab mata memicing. Nampak terdiam sejenak dengan kedua alis bertaut. Berpikir keras.
"Aku ikut, Kang. Tolong daftarin ya!" Puput membuat keputusan bulat dan yakin. Kejuaraan silat non formal yang diadakan di padepokan Tapak Suci. Hadiah yang menggiurkan membuatnya tertarik untuk jadi peserta.
Pamit dari teras rumah rekan seperguruan itu. Tak lupa titip salam untuk istrinya Aris yang tengah pergi ke pasar. Puput melajukan motornya kembali pulang ke rumah. Aroma pepes yang tengah dikukus menguar terbawa angin. Tercium sampai ke halaman.
"Teh, jam berapa ke rumah Enin? Aku udah telepon Kak Cia, udah bilang mau datang ngirim pepes." Ami mengayun-ngayun lengan Puput dengan riang. Sudah tidak sabar ingin segera berangkat.
"Nanti aja abis ashar. Sekalian ngabuburit." Puput menuju dapur melihat sang Ibu yang tengah mengaduk perlahan kolak labu agar santannya tidak pecah. Malam ini Ibu mendapat giliran suguhan di masjid untuk jemaah tarawih. Setelah meletup-letup, api kompor dimatikan.
"Bu, mau pakai gelas cup atau plastik?!" Puput membantu memindahkan panci besar berisi kolak yang masih panas itu dengan hati-hati. Terlalu berat kalau harus diturunkan ke lantai oleh Ibu.
"Pakai plastik aja, Teh. Biar praktis bawanya."
Puput mengangguk setuju.
Selepas ashar, Puput menegur Ami yang berjalan berputar-putar di kamarnya. Sang adik yang sebelum adzan sudah semangat mandi dan wangi. Kini sudah tak sabar mengajak berangkat ke rumah Enin.
"Idih...muji karena ada maunya. Gak ge er!" Puput memasang capit rambut di belakang agar kedua sisinya lebih rapih. Mencebikkan bibir lewat pantulan kaca terhadap Ami yang cengengesan.
"Teteh belum cantik maksimal....kalo belum pakai jilbab. Ya kan, Mi?!" Tahu-tahu Zaky tengah melongokkan kepala di pintu kamar yang setengah terbuka itu.
"Hmmm----" ujar Puput speechless. Sementara Ami tidak berkomentar. Hanya cekikikan tertahan karena Zaky jadi sering menyentil kakak sulungnya itu selama bulan puasa ini.
"Sok atuh pada do'ain biar Teteh bisa mantap berhijab." Puput tidak marah dengan sindiran sang adik yang kini rebahan di tempat tidurnya memeluk guling.
"Aamiin---"
"Aamiin---"
Ami dan Zaky kompak menjawab sambil mengangkat kedua tangan.
...***...
"Alhamdulillah---- ditengokin sama cucu-cucu Enin." Dengan wajah semringah Enin menyambut uluran tangan Puput juga Ami yang menyalaminya. Membalas dengan memberi pelukan hangat serta kecupan di kening.
"Enin, sehat?!" Puput mengusap lembut punggung tangan wanita yang masih terlihat cantik di usia senja itu. Sementara Ami dituntun Cia dibawa pindah ke kamar. Membiarkan Puput dan sang nenek berbicara empat mata.
"Alhamdulillah, ditengokin Puput, Enin tambah sehat."
"Ah Enin mah bisa aja---" Puput tersipu malu. Merasa sukses digombali.
Enin terkekeh. Tangan lembutnya beralih mengusap-ngusap punggung Puput.
"Kamu dan Ami datang, ibumu yang perhatian ngasih pepes, itu bikin hati Enin bahagia."
"Kesehatan itu datang bukan hanya dari pola makan yang teratur dan bergizi. Tapi juga dari hati yang bahagia dan selalu bersyukur."
__ADS_1
"Sama halnya penyakit fisik. Bukan 100% dari pola makan yang salah atau makanan yang tidak sehat, tapi juga dari hati karena dipenuhi iri dengki, ujub, benci, hasud, prasangka buruk dan yang lainnya."
"Intinya hati bisa jadi sumber kesehatan juga sumber penyakit fisik. Tergantung bagaimana kita bisa mengelolanya."
Puput mendengarkan petuah Enin dengan seksama sambil manggut-manggut. Sangat jelas dan mudah dimengerti.
"Pantas aja Enin selalu bugar dan selalu ceria. Tahu deh sekarang kunci rahasianya." Puput dan Enin saling pandang dengan jenaka. Lalu sama-sama tertawa penuh kehangatan.
"Teteh----" Suara Ami mengalihkan atensi Puput dan Enin. Sama-sama menoleh ke arah sumber suara. Nampak Ami berdiri di samping Cia dengan malu-malu.
"Tolong dewan juri beri nilai!" Cia bak seorang host yang meminta perhatian untuk mengamati penampilan Ami yang memakai baju baru.
"Bagus banget baju dan sepatunya. Ami makin cute deh!" Puput mengacungkan dua jempol. Model baju muslim casual itu cocok untuk anak seusia Ami. Dipadu sepatu kets warna putih makin trendy.
"Enin sih yes." Komentar Enin yang menirukan juri idol membuat semuanya tertawa riang.
"Udah bilang terima kasih sama Kak Cia?!" Puput mengingatkan Ami yang dengan polosnya berlenggak lenggok di depan semua orang.
Ami menggeleng. "Kata Kak Cia bilang makasihnya sama Kak Rama. Ini kado ulang tahun dari Kak Rama. Kan besok ulang tahun aku, Teh. Nanti malam telepon Kak Rama nya pinjem hape Teteh ya. Sekarang masih sibuk kerja." ujarnya dengan polos serta sorot mata yang penuh binar keriaan.
Mulut Puput menganga kerena kaget. Segera mingkem begitu alarm ibu on di otaknya. "Ami minta ya?!" tuduhnya dengan pandangan tajam menyelidik. Bagaimana mungkin Rama bisa tahu ulang tahun si bungsu yang secara kalender hijriah lahir di hari Nuzulul Qur'an.
Ami menggeleng. "Nggak kok, Teh. Aku cuma tebak-tebakan sama Kak Rama waktu acara selametan pindah rumah. Namaku Rahmi Ramadhania, berarti lahir bulan apa?! Kak Rama nebaknya benar, bulan ramadhan. Terus tebakan lagi, tanggal lahirku diperingati seluruh umat islam dunia yaitu hari turunnya Al Qur'an. Jawaban Kak Rama benar lagi, 17 ramadhan."
Cia yang memang tahu karena waktu teleponan memakai ponselnya. Kini tertawa lepas lagi mendengar penjelasan Ami terhadap Puput. Enin juga sama terkekeh-kekeh sampai mata berair. Semua orang dewasa akan faham jika ucapan anak SD itu adalah kode.
"Ih Ami...bikin malu Teteh." Puput menggeleng-gelengkan kepala dengan lemah. Sang adik kecil-kecil sudah pinter modus. Puput merasa kalah pintar.
"Tenang, Mi....dari Kak Cia entar kita beli baju lebaran bareng ke mall Tasik. Oke?!" Cia mengajak adu tos yang disambut Ami dengan tepukan penuh semangat.
...***...
Pulang shalat tarawih, Ami dengan tidak sabar berlari menaiki tangga usai menggosok gigi, menyusul masuk ke kamar Puput. Meminjam ponsel untuk chatingan dengan Kak Rama.
"Teteh jangan keluar. Temenin---" Ami merajuk dengan manja. Membuat Puput yang sudah berganti baju tidur dan ritual skin care, urung keluar kamar dan naik ke atas kasur. Tiduran di samping Ami yang duduk sila sambil mengetik pesan.
"Jangan lama-lama chatnya. Teteh udah ngantuk!" Puput memejamkan mata sambil tidur miring memeluk guling. Springbed yang empuk dengan seprai harum pewangi yang baru dipasang, membuai mengajak terbang ke alam mimpi. Sayup-sayup terdengar suara percakapan. Tidak jelas, samar terdengar tawa, karena setengah sadar sudah terlelap.
"Ami, itu Teh Puput tidur apa pingsan." Rama jelas melihat pemandangan Puput. Ia memilih melakukan panggilan video saat Ami mengirim pesan ucapan terima kasih. Menanggapi Ami yang menceritakan selama berada di rumah Enin tadi sore. Sambil tatapannya menikmati gadis cantik yang tengah tidur dengan mulut sedikit menganga.
Ami menoleh ke kiri dimana sang kakak menemani di sampingnya. "Kak, Teteh kalau tidur suka ngiler. Tuh lihat.....mulai netes." sambil terkikik mendekatkan ponsel ke wajah sang kakak yang terpejam rapat. Namun sudut bibir bawah yang dekat dengan bantal sudah basah.
Rama berusaha menaham tawa kerasnya dengan membekap mulut. Geli dan merasa lucu melihat layar dipenuhi wajah Puput yang tengah ngiler.
"Tapi Teteh mah bobo gitu juga tetep cantik." Ami menormalkan lagi posisi ponsel di depan. Membela dengan tulus kakak sulungnya itu tanpa modus. "Aku sangat sayang sama Teteh," sambungnya dengan sungguh-sungguh dari hati.
"Setuju. Kak Rama suka sama Teh Puput karena cantik dan apa adanya. Kak Rama juga sangat sayang sama Teh Puput. Tapi ini rahasia ya...Ami jangan bocorin ya!" Rama leluasa menggibah, toh orangnya tidak akan mendengar. Ia memangku dagu. Menatap dengan lembut serta senyum tipis, wajah lelap yang masih nampak di layar. Membayangkan andainya ada di sana. Ingin sekali membelai wajah ayu itu.
Inginnya berlama-lama. Masih betah memandangi Puput yang tidur mangap namun tetap cantik. Namun Ami yang sudah menguap membuatnya mengerti.
"Udah dulu ya, Mi. Lain waktu vc an lagi."
"Iya, Kak. Aku juga udah ngantuk ah." jawab Ami seadanya.
"Titip kecup kening Teteh dong, Mi! Bisikan, I love you!"
Ami menurut. Mengecup perlahan kening sang kakak. "Teh, kata Kak Rama I love you...."
Puput menggeliat. Beralih posisi telentang sambil bibir mengecap-ngecap. Berlanjut punggung tangan menyusut sudut bibir yang basah.
Ami dan Rama saling pandang dan terkikik bersamaan. Layar ponsel berubah hitam usai Ami melambaikan tangan dan mengucap salam. Malam ini memilih tidur di kamar sang kakak. Mengganti lampu tidur dan menarik selimut sambil melingkarkan tangan memeluk perut kakak tersayangnya itu.
__ADS_1