
Tak ada yang lebih buruk daripada menunggu bertiga, tapi terasa sendiri. Cinta melirik Johan dan Gunawan bergantian. Dua lelaki itu berdiri, tak mau duduk. Tubuhnya membelakangi Cinta seperti mengawasi seluruh area.
Kala, Kevin Adiguna dan Dian Miranti sudah pergi untuk bertemu dengan Dokter kenalan sang Artis. Katanya sudah janjian. Sedangkan Cinta tidak boleh ikut. Kata Kevin, ia tunggu saja di sini. Biar Johan dan Gunawan menjaganya.
Namun, keberadaan dua lelaki itu sama sekali tak ada gunanya. Jika ditanya, mereka diam saja, membuat yang bertanya jadi kesal sendiri.
Ketika Cinta sedang sebal-sebalnya sekaligus bosan dan nyaris ketiduran, tiba-tiba seseorang mencolek bahunya. Cinta kaget, membuka mata dan melihat ke sumber masalah. Rupanya, Kala sudah selesai. Di belakang Kala ada Kevin Adiguna dan Dian Miranti tersenyum kepadanya.
Cinta langsung berdiri, ia berbisik kepada Kala, " gimana hasilnya?"
" Dua minggu lagi."
" Lama banget?"
Kala mengangkat bahu. Tak tahu jika ia harus menunggu selama itu untuk tahu hasilnya.
" Johan, Gunawan, kalian kembali ke kantor saja ya," ucap Dian Miranti sembari memposisikan diri di sebelah Kala, Kevin Adiguna menyusul.
" Kala, selama apapun kamu menunggu hasil Tes DNA ini, hasilnya pasti menunujukkan kalau kamu anak kami," Kevin Adiguna yang bicara.
" Jadi, ayo kita ngobrol-ngobrol dulu," Dian Miranti mencairkan. Kemudian berjalan elegan, menimbulkan bunyi 'tok...tok...' dari heelsnya yang sangat tinggi.
" Pak Kevin boleh duluan," Kala mempersilahkan Kevin untuk berjalan lebih dulu. Membiarkan dirinya dan Cinta tertinggal di belakang.
Cinta kaget ketika tiba-tiba Kala menggamdengnya, mengekor di belakang dua orang kaya itu. Cinta jadi gugup, sungguh. Setiap kali Kala melakukannya, Cinta merasa ada aliran listrik yang menyetrum urat-urat di balik kulitnya.
" Mereka duitnya banyak banget," bisik Kala, pelan-pelan sekali agar tak terdengar siapapun.
" Udah tahu. Tas Dian Miranti aja liat tuh. Hermes. Nggak mungkin KW," Cinta berkomentar. Sejak tadi matanya tak pernah lepas dari tas mahal milik artis terkenal itu, " harganya lebih dari satu em," lanjutnya lagi.
" Ah, masa sih?" Kala tampak tak percaya. Rupanya, ia juga memandangi tas warna hitam mengkilap yang dipakai Dian Miranti sepanjang perjalanan. Ia sungguh tak percaya jika harga tas kecil dengan pegangan rantai itu seharga lebih dari satu miliar.
" Iya. Aku kan perempuan. Suka penasaran sama harga barang-barang perempuan. Anggap aja buat patokan, kalau-kalau punya uang banyak. Siapa tahu nanti bisa beli."
Kala masih terlihat tak percaya. Jika ia punya uang sebanyak itu pasti sudah digunakan untuk buka usaha, membantu keluarga tirinya di kampung, dan sisanya ia belikan saham. Lumayan kan buat tabungan, " yakin kamu, mau beli tas semahal itu?"
" Kalo punya uang nganggur sekamar sih, kenapa enggak?"
Kala mengacak rambut Cinta, " Cinta, kalau aku punya uang sebanyak itu lebih baik langsung cari mahar buat kamu," celetuknya. Kala hanya becanda, tapi melirik ke samping ternyata pipi Cinta memerah. Apa jangan-jangan Cinta suka dengannya? Jika memang begitu, Kala jadi merasa tampan. Narsis sekali otaknya.
__ADS_1
Mereka sudah sampai di parkiran. Kevin mengambil tempat di belakang kemudian, Dian di sebelah Kevin serta Kala dan Cinta duduk di kursi belakang. Merasa tubuhnya bergetar ketika mesin mobil dinyalakan, Kala menyiapkan diri jika tiba-tiba dua orang yang mengaku orangtuanya bertanya.
Mobil melaju keluar area rumah sakit. Musik yang sempat populer pada tahun dua ribu empat belasan mengalun bergantian. Kala diam saja, tak mau memulai pembicaraan, karena tak tahu harus memulai dengan apa. Cinta juga tak banyak bicara, hanya sesekali ikut bersenandung pelan jika ia tahu lagu yang sedang berputar.
" Siapa nama kamu tadi?" Dian Miranti membuka pembicaraan. Ia menengok ke belakang dan tersenyum ke arah Cinta.
" Cinta, Bu," jawab Cinta, berusaha sopan.
" Bu? Panggil saja tante," Dian meluruskan.
" Eh iya. Maaf, nama saya Cinta, tante."
Kala menahan tawa melihat Cinta sok sopan dan menjaga image-nya di depan Dian Miranti. Suaranya lembut sekali seperti diblender menggunakan minyak. Tidak seperti biasanya yang hobi teriak-teriak jika bicara dengan Kala.
" Cinta, suara kamu bagus juga."
Kala melirik Cinta yang sedang tersenyum malu-malu. Sungguh, jika sedang tidak berada dalam situasi ini, Kala pasti sudah terpingkal-pingkal.
" Ah, masa sih? Saya pikir biasa aja, tante."
" Serius suara kamu bagus."
Mendengar hal itu dipertanyakan lagi, Kala harus segera menjelaskan, " teman, Om."
" Om?" Ucap Dian dan Kevin secara bersamaan.
" Dia kan Papa kamu Kala, masak kamu manggil Om?" komentar Dian.
" Mungkin Kala belum terbiasa, Dian," Kevin menimpali, " Kala, mulai hari ini kamu panggil saya Papa saja ya."
Kala menelan ludah. Ia melirik Cinta yang menampilkan senyum lebar kepadanya.
" Panggil Papa," Cinta mangap-mangap. Tak bersuara, tapi Kala dapat menerjemahkan gerak bibir Cinta.
Kala mencubit punggung tangan Cinta, membuat perempuan di sebelahnya menyentil telinganya.
" Sakit tau!" bisik Cinta.
" Bodo!"
__ADS_1
Rupanya perkelahian kecil antara Kala dan Cinta disadari oleh Dian dan Kevin, membuat dua orang tua itu tertawa sambil geleng-geleng kepala.
" Kalian lucu juga ya," komentar Kevin. Ia mengganti lagu yang terputar menjadi lagu Chrisye yang berjudul Kala Cinta Menggoda. " Nama kalian mirip sama judul lagu ini. Atau jangan-jangan... kalian memang ditakdirkan untuk bertemu?"
Kala dan Cinta saling pandang dan saling menggeleng berbarengan.
" Nggak mungkin!"
Dian Miranti terlihat takjub mendengar dua anak muda di belakang begitu kompak, " tuh kan, ngomongnya barengan," ia terkikik.
" Kala, kamu jangan ikut-ikutan!"
" Kamu kali yang ngikutin aku!"
" Kamu!"
" Bodo!"
Mereka saling membuang muka ke arah berlawanan. Kala melihat jalanan yang ramai, karena hari sudah sangat terang. Matahari nyaris mencapai puncaknya.
" Cinta, kalau kamu berminat, kapan-kapan bisa mampir ke kantor tante ya," Dian memberikan kartu namanya kepada Cinta yang langsung diterima Cinta dengan bangga.
Kala tak peduli. Ia tak akan bertanya apa-apa lagi pada Cinta sampai tiga hari kedepan. Supaya tidak dosa, Kala harus tahu batasan jika ingin mendiami Cinta.
" Wah... terimakasih, tante. Kapan-kapan aku pasti mampir!"
Kala hanya mendengarkan. Tak mau menengok apalagi merespon.
" Tuh, aku juga bakal jadi artis," Cinta mendekatkan mulutnya ke Telinga Kala. Mengipas-ngipas leher Kala dengan kartu nama Dian yang seukuran tato permen yosan.
Bodo amat! pekik Kala dalam hati.
" Kala, kamu ngambek ya?" Cinta kini menarik lengan Kala. Namun, tak ada reaksi apa-apa.
Perjalanan menjadi hening. Hanya suara lagu-lagu lawas yang terdengar. Kala hampir ketiduran jika saja bahunya tak dicolek seseorang. Kalau membuka mata, mendapati Cinta yang memegang lengannya.
" Kala, kita udah sampe."
***
__ADS_1