Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
67. Kalang Kabut


__ADS_3

Ami mengetuk pintu kamar kakak sulungnya. Dengan tangan kiri mendekap dua buah buku di dada. Namun saat pintu terbuka, keningnya mengkerut melihat sang kakak keluar dengan berpakaian rapih.


"Teteh mau pergi kemana?" Wajah Ami berubah memberengut. Padahal rencananya mau minta dibimbing belajar karena jadwal ujian besok adalah matematika. Mata pelajaran yang sering membuatnya pusing.


"Teteh ada janji ketemu teman. Ami belajarnya sama Teh Aul dulu ya!" Melihat Ami yang mendekap buku dengang bibir mengerucut, Puput sudah faham jika sang adik ingin belajar ditemani olehnya.


"Jangan manyun. Nanti pulangnya dibeliin kebab. Mau nggak?" Puput merangkum bahu Ami, merayu sambil mengajak menuruni tangga.


"Mau yang size L, yang pedas. Buat obat pusing. Soalnya pelajaran matematika."


"Ashiaapp. Ya udah sana ke kamar teh Aul. Atau mau belajar sama A Zaky?" Puput menunjuk Zaky yang tengah makan sambil menonton televisi.


"Sama teh Aul aja. A Zaky mah emosian ngajarinnya. Killer." Ami memeletkan lidah begitu kakak laki-lakinya menolehkan wajah.


"Latihan mental, Mi. Nanti di SMP bisa jadi ada guru yang galak, jadi udah terbiasa." sahut Zaky beralasan. Ia memang tak bisa sesabar dua kakak perempuannya jika kebagian tugas membimbing si bungsu belajar.


Puput melajukan motor vario ke arah Karangresik setelah pamit kepada Ibu yang berada di kamar. Memarkirkan motor di depan cafe yang nampak tidak terlalu ramai. Mungkin karena bukan akhir pekan, pikirnya. Ini kali pertama ia mengunjungi cafe yang terletak di perbatasan Ciamis - Tasik itu. Datang tepat waktu di jam 7 malam. Di depan pintu masuk, Puput bermaksud menelpon sang teman lama untuk menanyakan posisinya.


"Put, sorry aku gak jadi datang. Mendadak sakit perut pas mau berangkat."


"Plis, jangan marah ya. Next time kita jadwal ulang. Sekali lagi maafff ya, Put ✌."


Puput menghembuskan nafas kasar. Niat mau menghubungi temannya itu malah mendapati dua pesan yang masuk 6 menit yang lalu. Kecewa, iya. Ia hanya membalas singkat dengan kata 'oke'.


"Hei, tunggu!"


Puput yang baru dua langkah berbalik arah, tidak jadi masuk ke dalam cafe, dibuat heran dengan kedatangan seorang perempuan yang menghalangi jalannya.


"Kamu Putri Kirana, bukan?!"


Puput menelisik wajah perempuan yang bertanya padanya. "Iya." sahutnya pendek. Dalam hati menyimpulkan tidak kenal sama sekali dengan perempuan cantik berpenampilan fashionable bak model itu.


"Bisa kita bicara di dalam? Kamu mungkin tidak kenal saya. Nanti kita kenalan sambil duduk."


Puput bergeming di tempatnya berdiri. Masih berpikir menimang-nimang.


"Saya mau cerita soal Rama Adyatama."


Puput menaikkan kedua alis. Lumayan terkejut karena perempuan berpakaian tertutup namun ketat itu mengaku tahu banyak tentang Rama. Ia menurut. Berjalan bersisian masuk ke dalam cafe. Ia menolak saat perempuan asing itu menawarkan memesan makanan. Memilih pesan segelas hot chocolate untuk menghangatkan badan karena cuaca dingin mulai menyergap.


"Maaf, mbak. Saya gak bisa lama-lama. Ada keperluan lain lagi. Mbak mau bicara apa ya?!" Puput sudah dilingkupi rasa penasaran. Tidak sabar ingin mendengar penuturan perempuan dengan gaya rambut panjang curly itu.


"Oke. Sebelumnya kenalin dulu. Namaku Zara." Mengulurkan tangan dengan wajah berubah redup dan senyum dibuat getir.


"Jauh-jauh datang dari Jakarta, sengaja hanya untuk bertemu denganmu. Semoga kedatanganku ini belum terlambat." Kalimat lanjutan itu mengiringi jabat tangan yang disambut Puput. Yang berusaha bersikap tenang, tidak menampakkan raut keterkejutan.


Zara...


Satu nama yang mengingatkan Puput pada nama mantan yang pernah diceritakan Rama secara singkat tanpa penjelasan sebabnya putus.


"Sebelum aku cerita, aku pengen make sure dulu. Benarkah kamu pacarnya Rama?!" Menatap Puput dengan sorot mata sendu dan wajah yang muram.


"Iya." Cukup satu kata. Puput menunggu kelanjutan cerita perempuan bernama Zara itu.


Zara menjalin jemari di atas meja. "Aku ini mantan tunangannya Rama." Memejamkan mata. Seolah mengumpulkan tenaga dan keberanian untuk menyambung cerita selanjutnya.

__ADS_1


Puput tak menyela. Diam menyimak dengan ekspresi wajah datar.


"Aku hanya mau mengingatkan kamu. Jangan tertipu sama penampilan fisiknya Rama. Jangan tertipu sama sikap manisnya. Jangan terpedaya oleh hadiah yang selalu memanjakan. Semua itu hanya trik, umpan buaya darat. Perempuan mana yang gak akan meleleh dengan itu semua. Aku sudah jadi korbannya. Habis manis sepah dibuang."


Puput mengatupkan bibir. Pandangannya tak lepas dari menelisik wajah perempuan di depannya yang tengah menyeka sudut mata yang berair.


"Aku memasrahkan hati dan tubuh ini karena cinta mati sama dia. Ah kamu juga mungkin tahu, pacaran sampai melakukan ML udah hal biasa jaman now. Lagian aku gak nolak, karena kita selangkah lagi akan nikah."


Puput spontan menggelengkan kepala.


"Kalau kamu gak percaya. Aku punya buktinya." Zara mengambil ponselnya dari dalam tas. Menggesernya ke depan Puput dengan layar yang menampilkan galeri foto.


Puput menelan saliva karena tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Tidak dipungkiri tangannya sedikit gemetar saat Zara menyuruh menggeser untuk melihat semua foto berjumlah 5 buah itu.


"Aku diputuskan begitu saja setelah dia bosan dengan tubuhku. Dan setelah aku cari info, ternyata dia menemukan mangsa baru di sini. Yaitu kamu."


"Semoga kamu belum diapa-apain sama si playboy itu. Mau heran tapi ini zaman now. Cowok tampan dengan status eksekutif muda, mereka biasa menjadikan perempuan sebagai mainan. Sudah bosan akan nyari lagi yang baru."


"Rama memperlakukan saya dengan baik. Dia bersikap sopan." Telinga dan hatinya terlampau panas mendengar runtutan cerita Zara. Namun bibirnya spontan membela kekasihnya itu.


Zara tertawa sumbang. "Tapi biasanya dia akan ngajak tunangan dulu, baru nanti merayu minta 'jatah'." Zara memberi tanda kutip dengan jarinya. "Mantannya yang dulu juga sama. Putusnya setelah tunangan. Aku udah ngasih tahu. Mau lanjutin hubungan atau tidak, up to you. Aku udah berbaik hati jauh-jauh datang ke sini, agar kamu tidak berakhir menjadi sampah seperti aku. Menyesal selalu datang diakhir bukan?"


Puput tidak lupa dengan janjinya terhadap Ami. Membeli kebab sepulang dari cafe. Pada akhirnya membelikan untuk semua orang di rumah. Masa menunggu pesanannya beres, ia berusaha menjernihkan hati dan pikiran. Berusaha tenang meski ini teramat sulit untuk menolak dan membantah semua tuduhan Zara yang menjelekkan Rama. Apalagi fakta foto-foto ranjang berhasil membuat tubuhnya menegang. Panas dan mengacaukan pikiran.


Tenangkan diri, Put. Tenang.....


Menarik nafas dalam-dalam, menghembuskan perlahan. Berulang kali, lebih dari tiga kali. Diiringi ucap istighfar. Jangan sampai pulang ke rumah menampakkan wajah kacau.


"Mangga Teh... kebabnya." Suara penjual membuyarkan upaya Puput yang tengah mensugesti diri.


Pagi menjelang. Rama bersiap berangkat ke kantor. Hanya dua hari lagi ia berada di Ciamis. Ingin memanfaatkan quality time sebaik mungkin bersama sang kekasih, sebelum kembali ke Jakarta.


Cia menghampiri sang kakak yang tengah memakai sepatu. "Kak, aku mau jalan ke mall hari ini. Tapi jangan nunggu Puput pulang kerja. Kesorean. Ijinin Puput kerja setengah hari ya, please. Aku pengen perginya jam 2 an...."


Rama memandangi wajah Cia yang nampak bersemangat. "Oke. Nanti dikabari lagi jam pastinya. Hari ini ada meeting penting dulu soalnya."


Mobilnya berhenti tepat di depan pintu pagar yang sudah terbuka lebar. Namun pintu utama tertutup rapat. Tumben, biasanya Puput sudah ada di teras dan menyambut kedatangannya dengan senyuman manis.


"Lho, Puput udah berangkat tadi. Katanya sengaja lebih awal mau nyiapin bahan buat meeting. Kirain nak Rama tahu." Bukan hanya Ibu yang terheran saat membukakan pintu. Rama jelas mengernyitkan kening karena Puput tidak mengkonfirmasi. Semalam memang tidak ada komunikasi karena ia sibuk membahas pekerjaan lewat video call bersama Damar sampai larut malam.


Rasa heran berubah tanda tanya ketika sampai di ruangan kantornya. Membuka pintu dengan modus yang disiapkan di otaknya untuk menghukum Puput yang berangkat tidak bersamanya. Nyatanya, meja kerja Puput kosong tak berpenghuni.


"Masuk!" sahut Rama saat pintu ruangannya diketuk. Ia memang sengaja memanggil Novia sahabatnya Puput. Setelah lewat jam 10 ini, sang kekasih tak jua datang. Mulai nampak rasa cemas menghiasi wajah tampannya.


"Duduk, Via!" Rama tak bisa menyembunyikan raut gelisahnya di depan Novia yang menurut duduk di hadapannya.


"Kamu tahu gak Puput kemana? Sudah puluhan kali ditelpon gak diangkat. Ibu Sekar bilang Puput sudah berangkat pagi sekali. Jadi khawatir terjadi apa-apa di jalan." Rama tanpa sungkan mengeluarkan kegundahannya pada sahabatnya Puput itu.


Sejak tiba di kantor, Via berencana untuk berbincang dengan Puput membahas persiapan pernikahannya yang kurang dari sebulan lagi. Akan meminta pendapat warna dan model gaun untuk bridesmaid yang referensinya sudah ada di ponsel. Namun ternyata, ia hanya melihat sang boss berjalan sendiri tanpa Puput.


Via terkejut mendengar cerita kronologis Puput. Menautkan kedua alis. Merasa ada hal yang tidak beres.


"Puput gak bilang apa-apa sama aku, Pak. Tadi aku udah chat dia, nanya kenapa gak ke kantor. Aku belum cek hape lagi apa sudah dibalas atau belum, Pak."


Via menurut saat Rama memintanya membawa ponsel. Dan ia melihat centang dua belum terbaca. Melihat status online terakhir jam 05.00. Di depan Rama pula ia mencoba menghubungi Puput sampai berulang kali. Semuanya sama, tersambung namun tidak dijawab.

__ADS_1


"Pak Rama tenang ya. Aku yakin Puput baik-baik saja. Dia pintar jaga diri kok." Via mencoba menghibur Rama yang berulang kali mengusap wajah kasar. "Ingat dulu kan Pak, waktu Puput telat datang. Ternyata nolongin dulu adik Pak Rama. Bisa jadi ini juga Puput abis nolongin orang terus nganterin dulu orang itu pulang. Tasnya biasanya disimpan di jok motor. makanya gak diangkat." Sambungnya berusaha menarik benang merah akan kebiasaan Puput yang ia ketahui.


Rama tercenung. Lalu manggut-manggut. Ucapan Via masuk di akal. Sedikit membuatnya lebih tenang. Ia pun mempersilakan Via keluar melanjutkan tugas kerja.


Meeting bersama jajaran tinggi dicancel karena ketidakhadiran Puput, orang yang akan ia perkenalkan sebagai pimpinan tertinggi RPA cabang Ciamis.


Tanda tanya dan keheranan juga tergambar di wajah Hendra mengetahui Puput tidak masuk kerja tanpa kabar sampai menjelang pulang ini. Sudah mengirimkan pesan sebagai bentuk perhatian tulus. Bertanya kenapa tidak datang ke kantor. Biasanya selama ini Puput selalu terbuka padanya jika ada masalah di kantor ataupun di luar kantor. Berulang kali dicek, ternyata belum juga dibaca.


Via merapihkan meja kerjanya. Waktunya untuk pulang. Tapi hatinya gundah memikirkan Puput yang belum jua ada kabar. Ia mengulang mengirim pesan.


"Put, jujur sama aku ada apa?"


"Aku bestie kamu kan Put?"


"Balas, SIPUT! 😭😭😭"


Via menelungkupkan wajah di meja. Harap-harap cemas menunggu Puput mau membalas pesannya. Ponsel yang digenggamnya mulai basah karena keringat ketegangan. Sudah 7 menit berlalu. Dan ia tak lagi bisa mensugesti diri jika sang sahabat baik-baik saja. Hal buruk mulai mempengaruhi pikirannya.


Tring.


Via terperanjat dengan punggung tegak. Wajah tegangnya berubah semringah melihat pesan dari orang yang ditunggunya.


"Via, temui aku di tempat biasa kita nongkrong sepulang kerja. Jangan bilang Aa Rama. AWAS!"


Via setengah berlari keluar dari ruangan yang sudah kosong. Takut bertemu dengan sang boss yang ia tahu masih berada di ruang kerja. Takut ditanya lagi tentang Puput.


Rama berjalan mondar mandir di depan meja kerjanya. Berharap dan menunggu puluhan panggilan dan puluhan chatnya dibalas oleh Puput. Ia urung mengabari Ibu Sekar jika Puput sebenarnya tidak ada di kantor. Hanya akan menambah daftar orang yang cemas. Bukan hanya Ibu Sekar, pastinya akan merambat ke seluruh keluarga.


Cia sudah dikabari jika rencana ke mall dengan Puput harus dipending lain waktu. Beralasan jika di kantor tengah sibuk.


Ia kehilangan konsentrasi kerja sehari ini. Yang ada di dalam otaknya hanya tentang Puput. Duduk gelisah, berganti berjalan mondar mandir lagi dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Seperti itu terus. Berulang kali mengecek room chat Puput. Tetap sama, status aktif terakhir jam 05.00 WIB.


"Sayang, please angkat! Jangan bikin aku cemas gini." Rama kembali merapalkan ucapan perlahan. Dengan ponsel yang ia rapatken ke telinga. Menghubungi Puput untuk yang kesekian puluh kalinya.


Prustasi. Rama mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar. Ia nampak kusut wajah dan penampilan. Dua kancing kemeja dibiarkan terbuka karena gerah meski pendingin ruangan menyala. Menjatuhkan badan hingga telentang di sofa dengan mata terpejam karena kepala yang mendadak berdenyut-denyut. Pusing.


Tring.


Notif di keheningan terdengar nyaring karena semua staf sudah pulang. Membuat Rama terbangun spontan dan menyambar ponsel yang tergeletak di meja.


"Aa, maaf udah bikin kamu cemas."


"Aku baru buka hape."


"Ada urusan mendadak yang harus dibereskan."


"Jemput aku di rumah nanti jam 7, bisa?"


"Ada hal penting yang harus kita bahas."


"Maaf A, hape lowbat. See u....❤"


Jempol Rama sigap menekan ikon telepon. Ia ingin berbicara usai membaca rentetan pesan yang berhasil membuat perasaannya lega. Apalagi emot hati yang membuatnya menjadi rindu ingin mendengar suara sang kekasih yang selalu riang itu.


Sayangnya, nomer Puput kini tidak aktif. Segera menyampar tas kerjanya untuk pulang. Sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan sang kekasih

__ADS_1


__ADS_2