Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
84. Pergi Untuk Kembali?


__ADS_3

Suara saling bersahutan berakhir dengan saling menormalkan deru nafas. Dalam posisi satu kaki yang menyilang memeluk tubuh polos yang sama-sama basah oleh peluh, dikecupnya seluruh permukaan wajah Puput yang memejamkan mata, penuh sayang, penuh kepuasan. Selimut lebar dan tidak terlalu tebal serta halus selembut sutra, menutupi sampai dada. Membiarkan pendingin udara menerpa bahu dan punggung polos untuk membantu mendinginkan hawa panas serta menyerap keringat.


"Neng tidur aja. Aku mau beresin kerjaan dulu biar besok full time untuk kita berdua." Rama merapihkan rambut yang berantakan di dekat telinga Puput. Mengecup bibir yang selalu menggoda ingin diraup setiap saat.


"Temenin....sampe aku lelap. Baru Aa boleh keluar." Ucap Puput manja dengan tatapan merajuk. Memang tubuhnya serasa tak bertenaga untuk sekadar bangun. Meski Rama memperlakukannya begitu lembut dengan ******* kalimat manis memuja, namun berbagai gaya eksplorasi membuat tulang-tulangnya serasa luluh lantak.


Rama tersenyum simpul. Sampai menggigit dagu istrinya itu dengan gemas. Butuh waktu 15 menit dengan mendekap dan mengusap-ngusap pelan pipi yang halus lembut itu, sampai terlihat sang istri terpejam rapat.


Rama beringsut pelan untuk turun dengan bibir melengkungkan senyum. Menatap wajah lelah bercahaya yang lelap dengan bibir sedikit terbuka. Baginya, gaya tidur Puput terlihat cantik dan menggemaskan. Memberi satu kecupan di kening, sebelum ia berlalu ke kamar mandi.


Wajahnya segar dengan rambut setengah basah serta keharuman sabun yang menguar usai mandi. Rama melanjutkan meneliti dan menandatangani berkas-berkas yang masih menumpuk di meja. Yang harus selesai sampai sore ini. Karena besok ia tak mau menyentuh apapun tentang pekerjaan.


Di luar ruangan, Damar mendekati meja Nova yang tengah menerima kiriman paket dari OB.


"Apaan tuh, Nov?" Damar yang datang kali kedua ingin bertemu Rama, dibuat penasaran dengan tiga kantong yang ada di meja Nova.


"Ini pesanan Pak Rama. Burger, es lemon, dan.....hairdryer." Nova mengulum senyum saat mengucap kata terakhir.


Damar mengernyit. "Apa hubungannya burger sama hairdyer? Jangan-jangan kamu salah denger." Tuduhnya dengan mata menyipit.


"Turunin saya jadi staf biasa kalau saya salah mengerjakan perintah." Sahut Nova santai. Ia beranjak dari duduknya usai memindahkan dua burger dan dua es lemon pada nampan serta menenteng pengering rambut pesanan sang boss. Membiarkan Damar yang nampak belum puas dengan jawabannya. Yang kemudian mengekori masuk usai Nova memberitahu via intercom.


"Taruh di meja, Nov!" Rama menunjuk dengan dagunya ke arah meja sofa. Kini duduk berhadapan dengan Damar usai sekretarisnya itu keluar. Keduanya larut dalam pembicaraan serius membahas pekerjaan dan diskusi sampai setengah jam lamanya.


"Bro, jangan lama-lama di sana. Gue mau lamar Cia nunggu kamu pulang." Damar keluar dari tema pekerjaan, beralih obrolan ringan. Calon kakak iparnya itu menjadi orang kedua yang diberitahu setelah Cia. Ucapan penjajakan namun penuh kesungguhan.


Rama menggantungkan pena saat akan menandatangani berkas berikutnya. Menatap Damar dengan wajah semringah. Berita bagus.


"Sure. Kalo perlu, gue akan kerja siang malam biar cepet balik. Puput jadi motivasi utama. Rasanya bakalan kesiksa jauh dari dia." Ujarnya dengan mendengkus.


"Hmm, manten anyar. Nggak kuaaatttt." Goda Damar yang lalu pergi begitu saja dengan deraian tawa. Meninggalkan Rama yang melotot tajam.


Satu jam kemudian Puput terbangun oleh suara keroncongan perut karena mencium aroma makanan dalam kamar. Terduduk dengan selimut yang membungkus tubuh, ditatapnya nampan yang ada di atas nakas berdampingan dengan hairdyer. Ia menggelung rambutnya ke atas agar tak terlihat berantakan.


"Sudah bangun?" Rama yang baru masuk menatap penuh senyum.


"Pegel-pegel." Puput memanyunkan bibir. Ia menjuntaikan kaki ke bawah ranjang sambil melakukan peregangan ringan.


Rama duduk di sisinya. Terkekeh lalu menciumi leher jenjang yang terekspos keseluruhannya. "Kamu kalo gini malah bangunin lagi adek kecil." Ia mengarahkan tangan Puput ke inti tubuhnya yang mengeras.


"Ish, setelah anu otak Aa jadi mesum terus." Puput menarik tangannya beralih mencubit pinggang Rama yang tertawa.


"Anu itu apa? Yang jelas. Jangan sampe aku salah persepsi." Goda Rama dengan kerlingan nakal.


"Anu itu....sesuai apa yang ada di otakmu." Puput menyeruput es lemon yang ia ambil dari nakas. Sensasi asam dan dingin membuat tubuh dan otaknya menjadi segar. Mengabaikan Rama yang tertawa sambil memeluk pinggangnya.


"Makan dulu burgernya. Pasti kamu lapar, kan? Terus mandi, shalat. Kalo aku udah. Nanti satu jam lagi ada utusan dari Ciamis nganterin buku nikah kita." Rama mencium bahu putih yang kontras oleh banyaknya tanda kepemilikan.


Puput mulai menggigit burgernya diiringi helaan nafas. "Hari ini aku jadi pemalas. Makan, tidur, makan...." ucapnya dengan mulut mengunyah cepat. Ia benar-benar merasakan lapar padahal waktu baru menunjukkan pukul 4 sore.


Rama menyeringai. "Bukan jadi pemalas, Neng. Tapi dalam rangka menyenangkan suami. Kan-----"

__ADS_1


"Menyenangkan suami itu pahala." Puput menjegal. Beralih ia yang melanjutkan sambil menggelitik pinggang Rama dengan gregetan. Membuat suaminya itu tertawa lepas.


...***...


Berkas yang dibawa utusan dari Ciamis mulai ditandatangani oleh Rama di tiap lembarnya, kemudian Puput melakukan hal yang sama. Terakhir, tanda tangan di buku nikah. Resmi sudah pernikahan keduanya terdaftar dan diakui secara hukum. Ditutup dengan foto berdua dengan memamerkan buku nikah untuk arsip dokumentasi di KUA.


"Alhamdulillah." Puput tersenyum lebar sambil menangkup dua buku nikah di dadanya, setelah dua orang petugas tersebut keluar didampingi Nova.


Rama balas tersenyum. "Aku sengaja minta urus secepatnya untuk memberi tenang sama kamu saat kita berjauhan. Jangan sampe terbersit ketakutan kalau aku akan mencari wanita lain di sana, setelah meregukmu."


Mata Puput membelalak. "Hm, Aa seperti cenayang. Jujur, waktu tiba-tiba Aa ngajak nikah agama, aku memang ada ketakutan seperti itu. Maklum, nikah agama rentan disalahgunakan menjadi kawin kontrak. Kalau udah puas, si perempuan diceraikan cukup dengan lisan, selesai. Janda bodong jadinya. Yang rugi perempuan. Apalagi kalo kemudian ditinggalin dah punya anak....." Ia menerawang dengan tatapan kosong.


Rama mengecup pipi Puput sambil merengkuh pinggangnya. "Aku bukan player. Pernikahan itu sakral tidak boleh dipermainkan. Kita akan lalui bersama jika nantinya harus mengalami ujian demi ujian pernikahan." Puput mengaminkan dengan membalas memberi kecupan di bibir. Membuat Rama tersenyum senang.


Tamu terakhir di agenda hari ini datang dibawa Damar. Rama mempersilakan duduk terhadap wanita berusia 33 tahun yang berpakaian formal dan mengenakan hijab.


"Bu Dwi, kenalkan ini Putri Kirana istri saya." Rama membuka percakapan dengan penuh wibawa sebagai seorang boss.


Puput menyambut uluran tangan wanita yang memperkenalkan diri bernama Dwi Anggia, yang tersenyum ramah dan sopan. Ia pun balas tersenyum sambil menyebutkan nama. Tanpa tahu akan maksud tujuan suaminya itu.


"Sayang, Bu Dwi ini akan menjadi asistenmu sekaligus asisten pribadi. Dia akan membantumu mengelola cabang Ciamis, juga me manage kegiatan harian. Seperti menemani kegiatan sosial, belanja, mengingatkan jadwal perawatan kulit. Dan yang lainnya." Jelas Rama.


Puput hampir menganga menatap Rama dengan raut kaget. Ia tengah berlatih menjaga attitude untuk lebih anggun demi menjaga marwah suami. Ingin protes tapi ditahan dulu, menunggu nanti bicara empat mata. Sementara ini memilih menyimak dulu.


"Bu Dwi prepare aja. Nanti Pak Damar akan konfirmasi kapan waktunya berangkat ke Ciamis bareng istri saya." Lugas Rama memberi perintah.


"Baik, Pak. Dengan senang hati saya akan menunggu." Dwi mengangguk sopan. Perkenalan singkat ini dicukupkan dan ia pamit keluar sendirian.


"Tapi pertanyaannya, kenapa aku harus pakai asisten? Di sana ada Pak Hendra, orang yang selama ini nyaman sebagai tim work. Lagian maaf, di Ciamis kan kantor kecil. Struktur jabatannya tidak sebanyak kantor pusat. Terus juga kegiatan harian aku.....aku bisa mandiri kok." Puput mengungkapkan argumennya menatap Rama dan Damar silih berganti.


"Sayang, setiap jabatan direktur akan didampingi asisten. Itu sudah regulasi. Lagian nanti kalau aku sudah pulang dari NY, kamu akan sering berada di dekat suamimu ini. Kamu bisa mantau cabang dari Jakarta, kan ada Dwi yang dipercaya di sana."


"Jangan protes soal aspri. Nanti seiring waktu akan merasakan perannya yang sangat membantu kegiatanmu." Rama menggeleng saat Puput akan membuka mulut.


"Semuanya sudah aku atur, Teh. Sudah kontrak satu rumah di perumahan Cikoneg. Agar dekat dengan rumah Teh Puput. Nanti kabari aku aja kapan waktunya pulang ke Ciamis. Dwi akan nemenin pulang." Jelas Damar.


Puput mengalah dan mengangguk pasrah.


...***...


Selepas magrib Rama dan Puput meninggalkan kantor menuju hotel bintang lima yang sudah dipesan. Kamar president suite menyambut kehadiran sepasang pengantin baru itu. Puput takjub menatap dekorasi di didalamnya bak kamar pengantin. Semerbak harum bunga mawar tercium. Berasal dari hiasan bunga mawar merah dan putih di samping kiri dan kanan ranjang berseprai putih. Kelopak bunga mawar merah yang ditabur di karpet yang dilintasi menambang romantis suasana.


"Aa sengaja pesan seperti ini?" Puput menatap penasaran.


Rama mengangguk. "Anggap kita lagi honeymoon, sayang." ujarnya sambil memeluk Puput dari belakang. Memberi kecupan mesra di pipi kanan.


"Ayo ganti baju dulu. Di sini ada resto Jepang yang enak. Kita dinner di sana." Ajak Rama yang diangguki Puput dengan semangat. Hatinya membuncah bahagia mendapat perlakuan istimewa. Sorot mata sang suami yang kini memakai celana chinos dan kemeja yang lengannya digulung sampai sikut, kentara memancarkan cinta yang besar untuknya.


"Aku suka make up seperti ini. Simple dan keliatan cantiknya alami." Rama menangkup wajah sang Puput yang tersipu malu di depan pintu sebelum keluar kamar. Bergandengan tangan keduanya memasuki lift menuju resto Jepang dengan ornamen dan pelayanan khas negeri Sakura. Makan menggunakan sumpit dengan aneka hidangan dalam piring-piring besar tapi sajiannya teronggok kecil di tengah piring. Khas hotel bintang lima yang mengedepankan estetik sajian. Makan saling menyuapi diselingi obrolan ringan penuh canda dan tawa.


Kamar menjadi tempat pelabuhan berikutnya. Enggan pergi kemana-mana. Pun Puput mulai merasakan setiap menit begitu berharga untuk dilalui bersama. Mengingat kamis pagi Rama akan meninggalkannya.

__ADS_1


Sampai di kamar, dan melaksanakan shalat isya berjamaah. Puput membersihkan diri lagi. Tanpa disuruh, berganti baju memakai lingerie hitam dengan rambut digulung ke atas. Keluar dari kamar mandi dan menyemprotkan parfum di kedua leher. Rama belum menyadari karena tengah menunduk di sofa membaca serius email yang dikirim Jo tentang perkembangan kasus perusahaan.


Puput setengah membungkuk di depan Rama dan telapak tangan menutup layar ponselnya. "Sayang, stop pekerjaan. Malam ini pengen begadang, kan? ujarnya dengan kedipan mata. Rama yang mendongak, menelan ludah melihat pemandangan indah yang tersaji. Segera mematikan ponsel, melempar asal di sofa.


Rama berdiri sejajar. Menatap kagum dan penuh hasrat. Meski ia sudah beberapa kali melihat sang istri dalam keadaan polos. Tetap saja tubuh molek dibalik gaun tipis itu menjadi candu yang menggoda syahwat.


"My sexy wife...." desisnya penuh bangga. Direngkuhnya tubuh ramping dan sintal itu dengan erat. Kali ini tak ingin buru-buru berbagi peluh. Tapi mengisi waktu dengan obrolan ringan sambil bermain-main di setiap inci tubuh yang menjadi candunya itu.


Hari berganti rabu. Jika semalam Puput yang bermanja di pangkuan sang suami. Kini sebaliknya, Rama yang bermanja di pangkuan istrinya itu. Memilih sarapan dan makan siang dengan room service. Sepanjang hari dunianya hanya seluas kamar mewah dengan kesegaran bunga mawar yang masih harum semerbak. Tak ada bosan mengisi waktu dari pagi sampai sore dengan kemesraan. Puput dalam balutan lingerie coklat menjadi magnet buat Rama yang ingin terus menempel.


Barulah malam selepas shalat isya berjamaah, memulai lagi petualangan menapaki surga dunia. Lebih syahdu, saling menjiwai, dengan lirihan, *******, dan racauan yang menggila. Mendebarkan jantung lebih cepat. Sadar, berat untuk berpisah. Kedua kening yang menyatu usai pencapaian nirwana bersama, buliran bening menetes dari sudut mata.


"Jangan nangis, Neng. Aku jadi berat untuk pergi." Rama yang masih mengungkung tanpa membebani, mengusap buliran bening itu dengan ibu jarinya.


"Maaf....aku lagi membayangkan nanti tidur sendiri kehilangan nyamannya pelukanmu." Puput terkekeh dalam isak. Mengeratkan kalungan tangan di leher Rama yang menatapnya sendu.


"Aku usahakan 2 bulan sudah kembali. Kalau harus tinggal lebih lama, aku akan memintamu menyusul. Oke?" Rama mengecup bibir yang mengangguk samar itu. Sesuangguhnya ia yang merasa akan tersiksa karena harus puasa, tidak bisa mereguk candunya itu.


Pukul sepuluh malam, keduanya check out meninggalkan hotel. Pulang.


Rama akan berangkat ke bandara dari rumah selepas subuh. Packing koper besar sudah beres dipersiapkan sebelum mini honeymoon selama dua malam itu. Jadi sampai di rumah hanya tinggal menghabiskan malam dengan tidur memeluk erat sang istri sampai subuh menjelang.


...***...


"Pak, keluar dulu ya!"


Doni, sang sopir Papi Krisna yang mengantarkan ke bandara, mengangguk patuh keluar dari mobil di parkiran bandara itu. Meninggalkan Rama dan Puput di jok belakang. Sementara Papi Krisna sudah lebih dulu terbang ke Surabaya dengan asistennya tadi malam.


Puput nampak lebih tegar dan ceria. Berbeda dengan semalam yang sedih akan datangnya perpisahan pagi ini. Ia telah merenungi, tak boleh menambah beban sang suami yang kentara enggan berpisah. Sampai saat berpakaian pun memintanya memakaikan baju mulai dari pakaian dalam dan luar. Ibarat bayi besar.


"Give me kiss and hug!" Pinta Rama dengan tatapan merajuk.


Puput menangkup wajah Rama. Kali ini ia yang akan memulai. "Aa punya jatah 5 kiss lagi ya. Udah total 95 soalnya." ucapnya diiringi kerjapan mata ceria.


"Serius menghitungnya?" Rama menatap tak percaya.


"Iyalah...kan project. Jadi harus serius." Puput tersenyum manis. "Tenang, aku bonusin sampai kamu puas."


Selanjutnya tak ada kata. Berganti dua bibir yang menyatu, memagut, menyesap, dan membelit, diiringi dorongan rasa rindu yang mulai menyergap. Padahal masih bersama. Berakhir Puput melingkarkan tangan di balik punggung. Memeluk hangat dan erat. Membenamkan wajah di dada sang suami yang terdengar debaran jantungnya bertalu cepat. Saling diam tanpa kata dengan mata terpejam meresapi.


Rama merangkum bahu Puput memasuki bandara. Sudah ada petugas khusus menyambutnya dan membawakan koper. Penerbangan kelas bisnis menjadi pilihan sehingga ia akan mendapat servis di lounge yang fasilitas ruang tunggunya sangat nyaman dan spesial.


Keduanya berpelukan erat kembali sebelum berpisah. Rama memberi kecupan lama di kening Puput.


"Hati-hati pulangnya ya, sayang. Istirahat aja di kamar. Kamu keliatan lelah dan kurang tidur gara-gara aku." Rama tersenyum miring.


"Aa juga. Ingat, harus segera kabari kalo udah sampe. Biar tidurku nyenyak."


Lambaian tangan dan kiss bye berkali-kali dilakukan Rama dan dibalas Puput hal yang sama. Perpisahan untuk pertama kalinya ini begitu membuat sesak di dada. Di rasakan keduanya meski sama-sama tak diucapkan.


"Pulang, Pak!" Ucap Puput pada Doni yang mengawasi dari jarak 4 meter atas perintah Rama. Karena khawatir jika dirinya tersesat saat keluar bandara sendirian.

__ADS_1


__ADS_2