Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
61. Saturday Night Vibes


__ADS_3

Rama sejenak tertegun dan mengernyit heran menatap perubahan halaman rumah Puput. Ditinggalkan seminggu ke Jakarta, sebuah bangunan setengah jadi berdiri kokoh di halaman sebelah kanan memanjang ke belakang. Dan selama ini Puput sama sekali tidak pernah cerita. Baiklah, nanti akan ditanyakan.


Wajah yang dirindukan hadir membukakan pintu. Kini nampak di hadapan dengan raut kaget sampai menganga segitunya. Membuat Rama tersenyum geli.


"Eh....Neng, kenapa ditutup?" Kini Rama yang tergaket karena tidak diduga pintu ditutup lagi oleh Puput.


Di balik pintu Puput bersandar, meraba dadanya yang berdebar kencang. Kaget dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Halusinasikah?


Astagfirullah.. mungkin jin yang menyerupai Aa Rama?


Tapi ini kan malam minggu, kalau malam jum'at mah mungkin percaya.


"Neng, yakin gak mau bukain pintu?"


"Ya udah, aku balik lagi ke Jakarta deh."


Dua kalimat yang disuarakan dari luar pintu membuat Puput kini yakin. Kembali membukakan pintu.


"Wa'alaikum salam. Maaf-maaf barusan kaget." Ia tersenyum meringis.


"Aa, kenapa gak bilang mau datang. Kan jantung aku hampir lompat. Aku kira---" Puput tak melanjutkan ucapannya.Takut pria tampan yang kini terkekeh itu menjadi illfeel. Berganti salah tingkah dengan telapak tangan dibuka tutup. Jadi bingung harus menyambut dengan melakukan apa.


Memeluknya? TIDAK. Ia masih bisa mengendalikan perasaan.


Cium tangan? Ah, masa iya. Puput geleng-geleng kepala sendiri. Serba salah jadinya.


"Kenapa malah bengong, Neng? Apa aku gak dibolehin masuk?!" Rama mengangkat kedua alis. Merasa gemas dengan tingkah Puput yang bisa ditebaknya jika gadis itu masih polos untuk urusan asmara.


"Ah iya lupa. Masuk yuk!" Puput merasa diingatkan. Namun langkahnya ditahan dulunoleh Rama.


"Sebentar! Ini buat kamu!" Rama menyerahkan buket bunga yang ia sembunyikan di balik punggung. Seikat besar bunga mawar segar perpaduan warna putih dan pink. "Kalau mau peluk aku, dengan senang hati gak akan nolak. Kalau gak mau, wakilin peluk buket aja." Sambungnya membulatkan mata jenaka.


Puput menerimanya dengan netra penuh binar sekaligus malu. "Makasih. Bunganya cantik banget " Mendekap buket cantik itu dengan hati-hati di dada. Berlanjut menghirup aromanya dengan segenap perasaan. Seolah tengah menyalurkan rasa rindu dengan mengusap seluruh permukaan bunga yang lembut itu.


"Ecie-ecie...."


"Uhuuyyy....."


"Prikitieewww...."


Sahut-sahutan suara ketiga adiknya terdengar. Puput memutar badan. Begitu juga Rama yang menjadi memusatkan pandangan pada ketiga adiknya Puput yang kini tertawa cekikikan.


"Ih rese ya kalian." Puput memutar bola matanya, jengah dengan kelakuan iseng ketiga adiknya. Suasana romantis yang baru tercipta berubah ambyar.


Dengan wajah tanpa dosa ketiganya tidak mempedulikan omelan Puput. Malah menghambur menyalami Rama yang mengekori Puput masuk ke ruang tamu.


"Zaky, kenapa masih pakai kolor? Kan mau ke---"


"Bohong kok. Emang bener Clarisa ultah tapi aku males hadir. Aku nyuruh Teteh dandan buat pergi ngedate sama Kak Rama." Zaky menyambar dengan cepat. Menjawab dengan santai.


"Hmm, maksudnya apa ini?" Puput beralih menyipitkan mata menatap Rama penuh selidik.


"Mereka tim sukses aku." Rama tertawa melihat Puput berdiri berkacak pinggang memelototi ketiga adiknya yang mengacungkan dua jari diiringi tawa.


"Ada apa ini rame banget?" Ibu muncul dari dapur karena terusik. Baru beres menyalakan kompor untuk mengukus 15 bungkus pepes ikan nila pesanan Ibu kades. Baru tahu jika tamu yang memencet bel adalah Rama.


"Bagaimana kabar Cia sekarang?" Tanya Ibu usai disambut Rama dengan mencium tangannya dan bertanya kabar.


"Cia masih trauma, Bu. Sekarang ada di rumah Enin. Pengen healing dulu di sini katanyam" Rama menjawab diiringi helaan nafas panjang.


Ibu menatap dengam sorot prihatin. "Kasian Cia. Teteh, nanti kita sama-sama nengok Cia ya?! ujarnya beralih menatap Puput.


Puput mengangguk. "Iya, Bu. Paling besok sepulang tanding ya."


"Aku ikut...aku ikut." Ami mengacungkan tangan dengan semangat.


"Iya. Semuanya ikut. Kita semangatin Kak Cia biar cepat pulih mentalnya." Ibu membuat keputusan. Rama tersenyum lebar. Merasa senang dengan adanya perhatian dari keluarga Ibu Sekar. Pasti akan berpengaruh positif pada sang adik.

__ADS_1


"Ehm-ehem....Kak Rama. Dua tanganku nganggur nih. Ada yang bisa aku kerjakan?!" Ami mengayun-ngayunkan tangan membuat gerakan hom pim pa.


"AMIII...."


"AMIII...."


"AMIII...."


"AMIII...."


Ibu, Puput, Aul, dan Zaky, satu suara dan searah menatap si bungsu yang duduk di single sofa.


"Yaelaaahhh....paduan suara keluar deh." Ami menepuk jidat lalu menutup muka dengan bantal sofa. Menghindar dari serangan pelototan.


Rama tertawa lepas tanpa sungkan. Sampai bahunya terguncang-guncang. Inilah keseruan yang tidak akan ditemukan di rumahnya. Inilah kekonyolan si centil yang selalu menyebalkan namun menyemarakkan dan menghibur.


"Ada oleh-oleh di mobil. Ambil sama Zaky dan Ami ya!" Rama menyerahkan kunci remot pada Zaky. Tanpa disuruh dua kali Ami mengikuti. Berjalan berjingkrak-jingkrak dengan girang.


...***...


Surga kuliner lebih banyak terdapat di kawasan Tasik. Mulai dari kelas kaki lima sampai kelas bintang lima. Hasil riset Rama siang tadi membaca setiap review dan rating restoran, maka diputuskanlah tempat yang akan dikunjungi untuk acara dinner dengan Puput malam minggu ini. Resto yang berada di sebuah hotel di kawasan pusat kota yang terkenal dengan julukan Kota Santri itu.


"Jelasin, Neng! Kenapa gak bilang sama aku kalau lagi bikin warung nasi?" Tadi Rama hanya bertanya singkat terhadap Ibu Sekar. Mengingat waktu yang terbatas karena ingin mengajak Puput jalan-jalan menikmati malam minggu. Sambil menunggu menu yang sudah dipesan, ia mulai membuka percakapan serius.


Puput tersenyum lebih dulu. Agar wajah cool di depannya itu lebih rileks tidak memasang mimik serius. "Kenapa aku harus bilang?!" Ia mengembalikan pertanyaan itu untuk mengorek jawaban yang mungkin sama dengan dugaannya.


"Karena kalau bilang, aku akan support. Apa saja yang dibutuhkan tinggal lapor Pak Hendra. Semua free buat kamu." Rama menatap lembut wajah cantik yang dipenglihatannya makin bersinar itu.


"Itulah kenapa aku gak cerita. Karena takut free. Bukan mau menolak rejeki, bukan. Tapi untuk usaha kuliner yang dirintis ini, biarkan kami mandiri. Karena semua sudah terkonsep, budget sudah disiapkan sejak awal."


"Maaf Aa, aku gak mau aji mumpung. Untuk saat ini Aa belum berkewajiban membantu semua urusan keluarga aku." Puput berkata dengan hati-hati. Agar jangan sampai Rama salah faham, bisa menerima penjelasannya.


"Jadi menurutmu kapan aku boleh berperan banyak membantu keluargamu?" Umpan Rama mulai ditebar.


"Maaf mengganggu---"


Puput hanya menaikkan alis sebagai kode jawaban. Menunggu pria yang tak dikenalnya itu melanjutkan ucapan. Namun tak lama keningnya menyusul mengkerut seolah wajah itu pernah dikenalnya.


"Maaf....apa mbak ini Putri Kirana bukan?!" Pria atletis itu bertanya dengan sedikit ragu. Mengingat wanita yang ditanyanya itu mengenakal jilbab.


"Iya betul. Mas siapa ya?!" Puput masih berpikir mengingat-ngingat wajah tampan yang sepertinya familiar itu.


Si pria atletis tersenyum lebar karena ternyata tebakanya benar. Mengulurkan tangan diiringi candaan. "Aku Jordan, ketua OSIS yang selalu mentraktirmu jajan siomay Mang Dudung. Ingat gak?!" ujarnya dengan sorot berbinar.


"Ah iya-iya....ingat sekarang." Puput berdiri menyambut uluran teman SMA nya itu. "Aku dari tadi sambil mikir....perasaan kenal tapi dimana. Beda ya....dulu item dan dekil, sekarang putih kinclong. Pangling euy.... kayak oppa." terkekeh dan ceplas-ceplos membalas canda sambil nostalgia masa SMA dulu.


Pria bernama Jordan itu tertawa. "Justru kamu yang pangling. Dulu kan tomboy banget. Sekarang pakai jilbab...jadi anggun, makin cantik."


"Ehemm." Rama berdehem.


Puput seolah diberi alarm. Menatap Rama yang air mukanya berubah datar.


"Jordan, kenalin dulu ini---"


"Rama. Calon suaminya Putri Kirana." Rama menyambar cepat. Berdiri dan mengulurkan tangan dengan penuh percaya diri. Kedua cowok ganteng itu pun saling berjabat tangan.


"Maaf, udah mengganggu ya. Aku nginap di hotel ini bertiga sama rekan kerja. Lagi tugas luar kota. Kalau kantor dan rumah di Bandung." Ujar Jordan sebelum pamit pergi menuju mejanya lagi. Yang disimak Puput dengan baik. Namun acuh bagi Rama dan malah berharap segera menjauh dari mejanya.


"Beneran pangling si Jordan. Makin dewasa usia, wajah juga bisa bertranspormasi ya. Ada yang makin good looking ada juga sebaliknya." Puput mengomentari teman yang sudah berlalu dengan meninggalkan sebuah kartu nama.


"Kembali bahas soal kita aja!" Protes Rama.


Puput mengulum senyum. Seiring jalan makin teraba bagaimana karakter Rama. Bagaimana dulu cari perhatian bolak balik keluar masuk rumah bersama Ami, saat tengah menerima tamu Roy dan Miller.


"Iya-iya, Aa. Ish, jangan manyun dong. Nanti gantengnya berkurang." Puput mengerlingkan mata. Sadar jika pria maskulin yang berpindah duduk di kursi sampingnya itu tengah merajuk.


Puput berhasil membuat senyum Rama terukir lagi. Tangan kekar itu memberi usapan sayang di puncak kepalanya.

__ADS_1


"Hm, harus selengkap itu ya tadi kenalannya?" Puput tersenyum kecil. Memangku dagu sambil memiringkan badan menatap Rama.


"HARUS. Biar gak ada yang nikung." Rama mencolek hidung Puput dengan gemas. "Pasti selama ini banyak cowok yang antri ya?"


"Antri sembako maksudnya?" Puput terkekeh sambil menghindar dengan memundurkan wajah ke belakang saat Rama akan mencolek lagi hidungnya.


"Gak penting berapa banyak cowok yang antri. Yang penting siapa yang berhasil mencuri hati." Ah, jatuh cinta membuatnya menjadi mudah merangkai kalimat puitis. Merasa dirinya bukan Puput. Ia memalingkan wajah ke arah penyanyi yang tengah mempersembahkan lagu romantis. Menyembunyikan wajahnya yang memanas dan tentunya merona. Iringan akustik piano menambah syahdu suasana malam minggu di resto berkelas itu.


"Neng, liatnya ke Aa. Bukan ke sana!" Rama meraih dagu lancip itu agar kembali menatapnya. "Falling in love with you was completely out of my control. Love at first sight, itu beneran aku alami." Dua pandangan saling bertaut dan mengunci. Andaikan saling merapat, akan terasa degup jantung masing-masing yang berdetak sangat kuat.


Kedatangan waiter memutus kontak mata keduanya yang masih terbuai indahnya jatuh cinta. Dua menu steak beserta minuman dihidangkan diatas meja. Kepulan asap panas membumbung dan menguarkan aroma keharuman yang menggoda. Tanpa malu Puput memesan steaknya disertai nasi, Rama tidak.


"Neng, lanjutin jawab yang tadi sebelum temanmu itu datang!" Pinta Rama disela memotong-motong steak tenderloin yang empuk dan menggugah selera.


"Tadi sampe mana ya?!" Puput mengingat-ngingat percakapan yang terjeda iklan kedatangan Jordan.


"Jadi kapan aku bisa berperan besar membantu keluargamu?" Rama mengingatkan pertanyaan yang menggantung.


"Ya....nanti setelah menjadi anggota keluarga."


"Kalau begitu ayo kita nikah. Mau kapan? Bulan depan? Atau minggu depan? Aku siap. Aku gak main-main. Kita ikuti gaya islami. Pacaran setelah menikah." Rama berkata dengan sorot mata penuh kesungguhan. Mendekatkan garpu berisi sepotong tenderloin ke depan mulut Puput.


Puput menggeleng kecil. "Aku kan punya." Menolak suapan yang ditawarkan. Namun Rama bergeming dengan sorot tajam pertanda tidak boleh ditolak. Membuat gadis itu pasrah menerima dengan semburat merah di pipi.


Tidak tahu saja. Jika Rama sengaja sedang memamerkan kemesraan pada orang yang berada di meja berjarak 2 meter segaris dengan mejanya. Dapat menangkap jika teman SMA nya Puput itu terus-terusan mencuri-curi pandang. Itulah mengapa ia berpindah duduk untuk show time.


"Jangan buru-buru memutuskan menikah. Kita belum saling mengenal watak, kebiasaan ataupun hal lainnya. Apakah bakal bisa saling nerima kekurangan atau tidak? Jangan sampe kaget di tengah jalan. Karena aku berharap menikah hanya sekali seumur hidup." Puput berusaha menjawab bijak.


"Aku sih udah bisa membaca watakmu. Udah tahu juga kebiasaanmu. Aku mencintai apa yang ada pada dirimu. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya." Jawab Rama diiringi senyum simpul. Memberi lagi suapan ketiga. Sambil menikmati wajah sang kekasih yang berulang merona.


"Udah ah cukup! Aa kapan makannya? Punyaku malah utuh." Puput menggeleng agar Rama tidak menyuapinya lagi.


"Ya udah ganti rugi. Sekarang aku yang disuapi!" Rama menyimpan pisau dan garpunya. Beralih melipat kedua tangan di meja. Mogok makan.


"Ih, sok mararodel." Puput mendelik, menggerutu. Mengalah, menuruti permintaan Rama. Jadilah acara makan saling menyuapi diselingi obrolan santai namun menjurus pada langkah masa depan.


"Apa yang ingin kamu ketahui tentang aku. Tanyakan aja! Biar kamu gak khawatir atau ragu sama keseriusan aku." Rama mengulurkan tisu untuk menyeka bawah bibir Puput. Dengan dalih ada saus yang nempel. Padahal tidak ada sama sekali. Masih dalam momen show time. Karena orang yang di meja sana belum beranjak.


"Boleh tanya soal masa lalu?"


Rama mengangguk cepat sebagai jawaban.


"Aa punya berapa mantan?!"


"Apa itu penting?" Rama balik bertanya sambil mengaduk segelas ice coffee caramel.


"Seorang boss RPA, cowok metropolitan yang good looking, pasti banyak cewek kelas nasional dan internasional yang memuja. Aneh, sekarang malah terpikat cewek regional." Puput menunjuk dadanya sendiri. "Jadi aku mau bangun mental baja dulu jika di jalan ketemu cewek yang complain, yang mengintimidasi, apalagi sampai ada konspirasi buat hancurin hubungan kita." Jelas Puput serius.


"Hmm, cewek regional. Ada-ada aja istilahnya, Neng." Rama tersenyum geli. Ia tidak keberatan untuk menceritakan soal mantan.


"Oke. Biar tidak ada dusta diantara kita. Biar kita bisa saling percaya. Karena kita tidak tiap hari bersama. Aku akan cerita soal mantan."


Entah lagu ke berapa yang kini didendangkan sang penyanyi wanita cantik dalam balutan gaun hitam itu. Namun lirik lagu Titi Dj ini begitu menyentuh hati Rama juga Puput yang sejenak saling diam. Mencerna suara merdu sang biduan sambil saling menatap penuh binar cinta.


Jalan mungkin berliku


Takkan lelah bila di sampingmu


Semakin ku mengenalmu


Jelas terlihat pintu masa depan


Jangan berhenti mencintaiku


Meski mentari berhenti bersinar


Jangan berubah sedikitpun

__ADS_1


Di dalam cintamu ku temukan bahagia


__ADS_2