Kala Cinta Menggoda

Kala Cinta Menggoda
120. Rumah Baru, Rejeki Ami


__ADS_3

Kesibukan masih berlanjut. Hari ini Rama dan Puput mengundang keluarga besar ke rumah baru. Mumpung banyak keluarga dari pihak Papi Krisna dan Mami Ratna masih berkumpul, belum pulang ke kota masing-masing. Acara syukuran kecil diadakan dengan menghadirkan ustad. Jamuan catering pun sudah disiapkan. Meski terbilang acara dadakan, namun lancar dan khidmat hingga sang ustad menutup tausyiah dengan do'a. Resmi, mulai hari ini Rama dan Puput pindah rumah.


"Mami kira mau nanti aja pindahannya setelah resepsi. Mami masih pengen ngumpul." Mami Ratna terlihat berat untuk berpisah. Bersama Ibu Sekar dan Puput, ia baru saja berkeliling rumah melihat-lihat. Dan kini duduk di sofa ruang keluarga di lantai dua.


Di lantai bawah pun sedang ramai obrolan ringan keluarga penuh canda tawa sambil menikmati hidangan.


"Kata Aa udah pengen mandiri. kita akan sering main ke rumah Mami kok." Puput mengusap lembut bahu Mami yang terlihat sendu.


"Bu Ratna masih mending, jaraknya cuma setengah jam. Kapan pun mudah untuk ketemu. Kalau saya jaraknya enam jam. Kalau kangen paling vc an. Memang hati mah berat ngelepas anak gadis dibawa pergi oleh suaminya. Tapi harus rela karena sudah punya kewajiban baru." Sahut Ibu Sekar yang tentu saja merasakan sedih yang sama dengan besannya itu.


"Benar, Bu Sekar. Sedih tapi harus rela. Belum nanti juga Cia dibawa pindah sama Damar. Ah, berasa baru kemarin anak-anak tuh sedang lucu-lucunya sekaligus menjengkelkan dan menguji kesabaran karena super aktif. Sekarang udah pada dewasa dan punya kehidupan baru."


Puput terkekeh menjadi pendengar obrolan ringan Mami yang mengenang masa kecil Rama juga Cia. Disambung oleh Ibu yang juga menceritakan masa kecil Puput yang tomboy dan lebih senang bermain dengan anak laki-laki.


Di teras belakang yang sejuk dengan tanaman hias yang terpajang dalam pot di beberapa titik. Riak kolam renang dengan airnya yang jernih berkilau memantulkan cahaya matahari. Tiga bersaudara duduk di kursi santai menikmati menu catering yang enak-enak.


"Teh, kita bakal nginep, nggak?" Ami menatap Aul dengan kedua pipi menggembung karena mulut penuh makanan.


"Nggak. Aa besok ada ujian praktek. Kita akan pulang setelah salat Duhur. " Zaky yang mewakili menjawab sambil menikmati steak di piringnya.


"Yaah, padahal aku pengen nginep di rumah baru ini." Ami mendesah kecewa.


"Kan Ami juga harus ke pondok lagi. Nggak boleh bolos. Delapan hari lagi juga kita akan balik lagi ke sini." Aul menengahi sambil anteng menunduk dengan jempol yang lincah mengetikkan pesan.


Panji muncul dengan membawa 2 cup es krim dan duduk di samping Aul yang sendirian di kursi panjang.


"Aku bawain es krim nih. Mau yang strawberi atau coklat? " Panji mengulurkan dua cup pada Aul untuk memilih.


"Aku yang coklat. Makasih, Kak." Aul menerima diiringi senyum manis. "Sebentar aku lagi balas chat dulu." Sambungnya sambil menyimpan es krim di meja.


"Wah, aku nggak dibawain, Kak." Protes Ami.


"Ami, mau? Ini aja buat Ami. Belum dimakan kok." Panji mengulurkan es krim miliknya.


"Nggak usah, Kak. Aku mau ambil sendiri." Ami bangkit sambil membawa piring kotor bekasnya makan. Disusul Zaky yang beranjak karena ponselnya berbunyi.


"Makan dulu es krimnya keburu cair. Lagi chattingan sama siapa sih?" Panji menatap Aul yang masih fokus menekuri ponsel. Es krim masih utuh di simpan di meja.


"Sudah selesai." Aul mendongak. Menyimpan ponselnya di meja. Beralih mengambil es krim miliknya.


"Barusan chat sama Kak Angga. Dia ngajak latihan nyetir lagi. Kak Angga nggak tahu kalau aku lagi di Jakarta. Jadi aku jelasin lagi di rumah Kak Rama, abis acara lam....."


"Latihan nyetir lagi? Maksudnya selama ini diajarin nyetir sama dia?" Panji memotong ucapan Aul dengan tatapan menyipit.


"Iya, udah tiga kali. Awalnya di lapang, sekarang udah ke jalan." Jelas Aul dengan santai sambil menyendok es krimnya.


"Kenapa nggak bilang sama aku? kenapa nggak latihan di tempat kursus aja? Kan lebih aman dilatih pengajar profesional." Cicit Panji.


"Apa aku harus laporan setiap kegiatan sama Kak Panji?" Aul menaikkan kedua alisnya.


"Eh, nggak gitu juga. Aku kan sahabat kamu. Jadi berbagi cerita lah meski aku lebih sering ada di Bandung. Kan aku juga hampir tiap hari chat kamu. Kalo kamu ngasih tau, minimalnya aku bisa ngasih support, kan?"


"Iya, maaf deh. Lain kali aku akan lebih terbuka. Awalnya Kak Angga nanya aku bisa nyetir nggak. Aku jawab seadanya, belum bisa. Dan udah rencana mau kursus. Tapinya dia maksa menawarkan diri ngajarin nyetir. Ya, aku terima aja mumpung gratis." Aul terkekeh.


"Padahal kalau mau kursus, aku siap bayarin. Daripada gratis gitu entar malah modus. Apa dia bersikap sopan? gak pegang-pegang tangan kamu waktu latihan?" Panji berubah berwajah datar setelah tahu Aul sedang berbalas pesan dengan rivalnya.


"Oh, nggak dong. Kak Angga orangnya sopan. Cuma ngasih instruksi, penjelasan fungsi ini itu. Kalau macem-macem mah pasti kutendang anunya. Nggak mau lagi deh berteman dengannya. " ujar Aul berubah wajah galak.


"Ih, Kak Panji nyuruh aku makan es krimnya. Punyaku dah habis. Lah punyamu cuma dipegang doang. Ngobrolnya sambil dimakan dong." Aul tidak tahu jika suasana hati pemuda di sampingnya itu sedang dilanda cemburu.


"Udah kenyang, ah." Panji menaruh es krimnya di meja.


"Eh, harus dimakan! Jangan dibiasakan mubazirin makanan atau minuman. Tidak baik itu. Ayo abisin. Enak lho es krimnya." Aul mengulurkan lagi es milik Panji.


"Nanti dulu. Ada email masuk dari Prita, sekretaris di butik." Panji serius menatap ponselnya.


"Keburu cair, Kak. Baca emailnya sambil aku suapin, mau?"


"Mau banget." Sahut Panji tersenyum dengan wajah semringah.


"Hm, sahabat kok manja." Aul mencebik. Tak urung mulai memberikan sesendok es krim.

__ADS_1


...***...


"Dari mana dulu? Kok baru datang." Rama melakukan tos dengan Akbar dan Leo yang baru saja berucap salam. Diikuti Damar yang memang sedang duduk di ruang tamu bersama Cia.


"Sorry, ada urusan urgent dulu." Sahut Akbar yang kemudian menyapukan pandangan. "Keren rumahnya, Bro."


"Thanks. Lo tau nggak arsitek perumahan ini siapa? Lo pasti kenal." Ujar Rama tersenyum penuh teka-teki.


"Siapa ya? Ada tiga orang arsitek yang gue kenal baik." Akbar menautkan kedua alisnya mencoba menebak.


"Dulu....temen senior kita di club otosport. Punya saham juga di perusahaan bokap lo. Yang jadi mualaf." Rama memberikan clue.


"Mizyan alias Michael?" Tebak Akbar yang mendapat anggukkan Rama.


"Wah, dah lama gak ketemu. Sekarang dia tinggal dimana? Dah merit belum?" Akbar terlihat berbinar.


"Udah anak dua. Yang satu anak sambung, satu anak kandung. Istrinya orang Aceh. Tinggalnya sih di Bandung. Nanti bakalan datang ke resepsi gue."


"Sip. Bisa reunian kalo gitu. Lo ngundang all member club juga?"


"Sure. Pokoknya selain relasi, teman nongkrong juga semua diundang. Kecuali mantan." canda Rama yang membuat semua orang tertawa.


"Kakak kalo ngundang mantan sama aja ngundang huru-hara. Awas aja!" Cia yang dari tadi menjadi pendengar, mencebikkan bibir sambil menatap tajam.


"Ada apa ini bahas-bahas mantan?"


Semua mata tertuju pada sumber suara bernada dingin. Ada Puput yang berdiri dengan melipat tangan di dada.


"Sayang. Kita lagi becanda kok. Aku lagi bahas tamu undangan." Rama nampak terkejut. Segera mendekat dan merengkuh bahu istrinya itu dengan wajah pias.


Puput menepis tangan Rama dari bahunya. "Aa dipanggil sama Mami di atas." ujarnya sambil lalu dengan wajah datar.


"Sayang, tunggu...." Rama mengejar langkah Puput yang menaiki tangga. Segera memeluk pinggangnya sambil berbicara menjelaskan.


"Xi xi xi.....si Rama bakalan tidur di sofa malam ini." Ucap Damar sambil terkikik.


"Nih, jadi perhatian buat semua cowok. Jangan pernah bahas-bahas mantan. Cewek itu suka sensi." Ujar Cia menyapukan pandangan pada Damar, Akbar, dan Leo.


...***...


Akbar dan Leo mengamati jamuan yang tersisa. Salah mereka datang paling akhir hingga sebagian menu sudah habis. Keduanya memilih lontong sate serta minuman es jeruk. Duduk lesehan di karpet ruang tengah.


"Hai, Neng. Sini...." Leo melambaikan tangan pada gadis remaja yang baru mengambil es krim.


"Om, manggil aku?" ujar Ami yang datang mendekat.


"Aduh, jangan manggil Om dong. Masih muda aku." Protes Leo yang menyuruh Ami duduk.


"Ya masa manggil tante, kan Om laki-laki."


"Jawaban yang cerdas." Akbar menjentikkan jari dengan senyum lebar.


"Hah, baru tahu ya? Ami itu bukan hanya smart, tapi cantik dan imut." jawab Ami dengan santai sambil memakan es krimnya.


Akbar tersedak sate. Leo tertawa lepas.


"Jadi namanya Ami, ya?" tanya Leo merasa tertarik berbincang sama gadis narsis itu.


"Itu sih nama beken. Nama aslinya keren."


"Oh ya, boleh dong Kak Leo sama Kak Akbar tau nama asli Ami siapa, umurnya berapa?" Secara tidak langsung Leo memperkenalkan diri.


"Mau tau aja,mau tau banget?" Tantang Ami tanpa menatap lawan bicara. Lebih suka menikmati es krim coklatnya.


"Kata Kak Akbar, mau tau banget." Leo tertawa tanpa suara melihat Akbar yang sedang mengunyah, mendelik.


"Kenapa kepo sama aku? Mau daftar jadi fans, ya?"


Akbar spontan tertawa lepas, apalagi Leo.


"Emangnya Neng Ami sudah punya fans ya?"Leo tergelitik untuk terus menanggapi.

__ADS_1


"Iya dong. Semua fans aku itu suka ngasih oleh-oleh dan uang jajan." Ami pun mengabsen satu persatu urutan nama fans nya.


"Wah, Kak Leo sama Kak Akbar juga mau daftar jadi fans Ami. Boleh nggak?"


"Hm, entar dipikirin dulu ya." Ami mengetuk-ngetuk pelipisnya.


"Pinjam dompet. Buruan!" Leo berbisik kepada Akbar. Dengan raut heran, Akbar menyerahkan dompetnya.


"Ami, ini lumayan buat jajan." Leo mencabut empat lembaran merah dari dompet Akbar.


Ami menggelengkan kepala. "Kebanyakan, Kak."


"Nggak papa. Ini kan dari kita berdua." Sahut Leo.


"Ya boleh deh kalau maksa mah. Kan aku nggak minta. Makasih ya Kakak-kakak ganteng. Semoga rejeknya berkah." Ami menerima dengan tersenyum lebar.


"Eh, Ami belum jawab tadi. Nama asli sama umur." Leo mengingatkan.


"Oh iya. Namaku Rahmi Ramadhania. Umur 13 tahun. Udah ya, Kak. Aku mau ketemu bestie." Ami pamit sambil melambaikan tangan.


"Bro, 13 sama 29 beda 16 tahun. Mau nggak? pasti stres kerja hilang kalo punya istri seperti Ami." Leo terkikik.


"Sableng lo!" Akbar menjitak kepala Leo yang usil menjodohkan dengan Ami. "Gaji lo bulan ini dipotong 2 juta!"


"Eh kenapa, boss?" Leo terkejut.


"Lo udah ngambil duit gue 400 ribu tanpa izin. Sanksinya ganti rugi lima kali lipat." Jelas Akbar tanpa beban.


"Dasar boss pelit. Sedekah sama anak yatim itu. Pantesan aja hilal jodoh belum keliatan. Pelit lo." Ledek Leo dengan bibir mencebik.


"Eh, si Ami beneran anak yatim?" Akbar nampak terkejut.


"Ck, ternyata info tentang keluarga Puput lebih tau gue daripada lo." Leo melahap sate ditusuk terakhirnya.


Ami mengedarkan pandangan mencari keberadaan Cia diantara kelompok orang yang berbincang blok-blokan di semua ruang.


"Ami! Sini...." Panggilan dari arah ruang tamu membuat Ami tersenyum lebar. Yang dicari-cari ternyata sedang makan buah potong sepiring berdua dengan Damar.


"Kak Cia, aku mau pulang ke Ciamis nanti abis Duhur sama Ibu, sama Teh Aul, sama Aa Zaky. Sopirnya sama Kak Panji lagi." Lapor Ami yang duduk di single sofa.


"Yaaah, kenapa gak nginep sehari lagi, plis?" Cia menatap kecewa. Tadinya akan mengajak Ami tidur di kamarnya.


"Kan besok harus kembali ke pondok. Terus A' Zaky juga ada tugas praktek di sekolahnya. Tidak boleh bolos." Jelas Ami sambil mengayun-ngayunkan kedua kaki.


"Tapi nanti harus ke sini lagi pas resepsi Teh Puput, kan?" Tanya Cia sambil beralih tatap meminta dompet kepada Damar.


"Insyaa Allah, Kak." Ami mengangguk kuat.


Cia membuka dompet dan meminta persetujuan Damar saat mengeluarkan lima lembaran merah. Tanpa beban, Damar mengangguk setuju.


"Ini buat jajan Ami, ya. Yang rajin belajarnya ya, bestie." Cia mengedipkan mata.


"Ashiap, Kak." Ami menerima dengan penuh senyum. "Makasih Kak Cia, Kak Damar. Semoga rejeknya berkah," sambungnya. Lalu mencium tangan sepasang kekasih itu dengan riang.


"Aamiin." kompak Damar dan Cia. Yang menatap kepergian Ami dengan tersenyum geli karena remaja itu berjalan sambil berjoget-joget ceria.


"Ami!"


Ami menghentikan langkah di tangga kedua dan berbalik badan. Tujuannya sekarang untuk menemui Ibu di lantai atas. Mau menyerahkan uang yang didapatnya.


"Ada apa, Kak Akbar?" Ami mengerutkan kening. Ia masih ingat nama pria berhidung banjir itu.


"Ini tambahan buat Ami." Akbar memberikan lembaran merah yang digulung ke telapak tangan Ami. "Yang rajin belajarnya ya, biar cepet gede!"


"Hah? Rajin belajar itu biar pinter, Kak. Tidak belajar pun aku bakalan tumbuh gede." Ami mengoreksi dengan wajah protes.


Akbar terkekeh. "Anak pintar." Ia berlalu usai mengusap kepala Ami yang berbalut hijab.


"Kak Akbar, makasih ya." Teriak Ami karena Akbar sudah berlalu jauh.


Akbar memutar badan dan mengacungkan jempol diiringi senyum.

__ADS_1


__ADS_2