
Beberapa bulan telah berlalu setelah hari pernikahan Aira dan Ryan.
Almira di pusing kan oleh sang Mamak yang sibuk mencarikan nya jodoh terbaik.
"Maaaaak . . . Kan Ra sudah pernah bilang Rara masih belum mau. Rara belum siap untuk nikah dalam waktu dekat ini". Rengek nya.
Bu Imah/ "Enggak ada cerita. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau kamu bakal nikah setelah kakak kamu nikah, masa kamu enggak ingat?".
"Iya Ra ingat mak, tapi kan Ra juga bilang, itu pun sampek Ra siap nikah. Bukan berarti gitu Kak Aira siap nikah abis tuh langsung Rara. Umur Rara masih seumur jagung mak, baru aja 22 tahun". Almira cemberut.
Bu Imah/ "Seumur jagung dari mana, itu malah udah cocok untuk nikah. Coba lihat teman - teman kamu udah pada nikah, malah mereka udah punya anak lagi".
"Itu sih mereka aja yang ngeletik nak ngebet kawin". Gumam nya pelan.
Bu Imah/ "Mamak enggak mau tau, pokok nya mamak harus cepat - cepat cari kan jodoh untuk kamu, biar tau juga itu orang - orang yang nyi - nyirin kamu yang bilang kamu bakal enggak laku gara - gara penampilan kamu. Jadi mau mamak bukti kan sama orang itu". Ternyata Bu Imah masih kesal dengan mulut - mulur nyi - nyir orang di luar sana.
Almira mengusap wajah nya, stres.
"Huuuuh . . . Ya ALLAH yaaaaaaah, tengok ini mamak". Kali ini Almira merengek pada Pak Syarif yang sejak tadi duduk anteng mendengar kan perdebatan kedua anak beranak nya.
"Ayah enggak mau ikut - ikutan. Sudah kamu turuti aja apa kata mamak kamu, lagian kan belum tentu bakal berjodoh sama kamu, yaa kalau emang salah satu dari mereka itu jodoh kamu, berarti ALLAH menetapkan jodoh kamu dalam waktu dekat ini ha ha ha". Pak Syarif meledek Almira, sekaligus mencoba untuk meredakan ego anak nya.
"Ayaaaaaaaah . . . . . .". Almira semakin merengek karena sang Ayah sama saja dengan sang Mamak.
.
.
Almira nyaris bete seharian karena orang tua nya terutama sang mamak. Almira berdiam di halaman belakang rumah nya, lebih tepat nya berada di dekat kandang - kandang hamster milik nya yang sudah beranak pinak.
"Fuuuhhhtt . . . ". Almira menarik nafas nya lalu mengeluarkan nya dengan pelan.
"Kamu kenapa dari tadi tarik nafas terus?". Aira mengejutkan nya dan segera duduk di dekat adik satu - satu nya itu.
Almira memutar bola mata nya dengan wajah masam nya.
__ADS_1
"Ngeselin".
Aira/ "Siapa?".
Almira/ "Siapa lagi kalau bukan mamak, di tambah lagi ayah juga ikut - ikutan, udah tau anak nya masih belum siap nikah ehh malah kesibuk 'an nyariin jodoh buat Ra".
Aira/ "Yaaa maksud mamak kan baik untuk kamu Ra".
Almira/ "Iya, Ra tau, tapi kan enggak bisa di paksa - paksa gitu kak. Kakak aja lah waktu sebelum nya pasti karena udah di buru - buru 'in kan sama mamak maka nya abis tuh kelen nikah".
Aira/ "Iya juga sih, rasa nya enggak enak kalau apa - apa di paksa 'in".
Almira/ "Nah itu kakak tau, kakak juga udah ngerasa 'in nya sendiri rasa nya enggak enak kan".
Aira/ "Heemm . . . Emang rasa nya enggak enak tapi kalau di pikir - pikir dengan tenang dan menghilang kan rasa emosi dan ego kita sendiri, kita pasti ngerasai kalau apa yang di lakukan ayah dan mamak untuk kita adalah demi kebaikan kita sendiri. Mamak dan Ayah kan enggak mau ngasi sesuatu yang buruk untuk kita. Coba deh kamu renungin diri kamu sendiri, kamu pasti tau apa yang harus kamu buat".
Almira menarik nafas nya dengan pelan.
"Fuuuht"
Aira/ "Lagian apa yang kamu permasalahin?, kamu takut cowok pilihan mamak enggak sesuai kriteria kamu?".
Aira/ "Ha ha ha ha, kan enggak apa - apa, pas itu sama kamu yang manja dapat nya yang lebih dewasa".
Almira/ "Iiiiissssh . . . , Ra enggak manja ya kak, kalau pun di atas Ra paling enggak nya jarak nya beda dikit gitu, paling jauh beda - beda 5 tahun lah, bukan nya macam bapak - bapak gitu, itu udah kelewat dewasa huh".
Aira/ "Ha ha ha, ya udah tinggal kamu bilang aja ke mamak kriteria calon suami kamu yang kayak gimana".
Almira/ "Kalau pun di bilang pasti enggak bakalan ada kandidat nya di mamak".
Aira/ "Ehh . . . Jangan salah, mana tau ada, coba kamu kasi tahu dulu yang kayak gimana kriteria kamu?".
Almira/ "Emm . . . Kriteria pria idaman Rara itu, dia cakep, sholeh, smart, lemah lembut, penyayang sama keluarga, baik sama keluarga dia mau pun keluarga kita, penyabar, bisa ngebuat Rara menjadi wanita yang sempurna di dalam hidup nya, terus bisa ngebuat Rara makin dekat sama ALLAH, dan yang paling penting dia kaya raya ha ha ha, kalau bisa profesi nya dokter, jadi kalau keluarga kita sakit enggak payah - payah ngeluarin biaya mahal ha ha ha".
Awal nya Aira mendengarkan adek nya dengan serius namun pas ending nya, Aira memutar bola mata nya.
__ADS_1
"Dasar matrek".
"Ehh . . . Bukan matrek kak, tapi itu kebutuhan". Sangkal nya.
"Enggak ada beda nya". Aira menoyor kepala Almira.
"Aduh". Almira meringis sembari mengusap kepala nya.
"Ya beda lah kak, kalau matrek itu, dia memporoti uang orang tersebut, terlebih lagi untuk poya - poya diri nya sendiri. Lah kalau Rara bukan matrek, tapi Ra mau nya ngedapeti orang kaya itu untuk kebutuhan bersama, untuk Rara dan masa depan anak - anak kami entar. Rara enggak mau anak - anak Ra entar hidup susah".
Aira/ "Ya kan sama yang biasa - biasa aja kan bakal bisa juga ngebuat anak - anak kalian enggak kesusahan. Enggak harus ngedapati yang kaya juga".
Almira/ "Emang iya, tapi kan, kalau dapet bonus nya dari awal melangkah hingga akhir kan enggak apa - apa juga kak, ha ha ha".
Aira/ "Hemm . . . Ye lah tuh, semoga kamu bakal ketemu dengan cowok itu, Aamiin . . ."
Almira/ "Aamiin he he he".
Aira/ "Oh ya . . . Teringat nya, kamu jadi ngirimin undian sabun berhadiah itu?".
Almira/ "Jadi, Udah seminggu yang lalu pun Ra kirim".
Aira/ "Hmm . . . Kamu hati - hati sama penipuan, soal nya ini lagi musim penipuan berkedok undian berhadiah".
Almira/ "Iya kak, Rara tau, mudah - mudahan kita di jauh kan dari hal yang buruk, Aamiin".
"Aamiin . . .".
#Banyak wanita yang ingin menikah dengan lelaki yang baik akhlak nya dan agama nya sebagai tolak ukur.
Aah . . . Namun tetap saja sebagian besar hanya teori meski puluhan dalil sudah di kuasai dan bab masalah memilih calon sudah di fahami, namun tetap materi dan fisik juga mendominasikan hati nya.
Banyak laki - laki yang menginginkan seorang istri yang baik akhlak dan agama nya dan yang penting qona' ah.
Aah . . . Namun masih banyak juga yang hanya menjadikan hal itu sebagai retorika bukan prinsip dalam memilih pasangan, meski sudah faham bagaimana sabda Rasulullah Shallallaahu Alayhi Wassalam tentang bagaimana memilih jodoh, nyata nya ngelotok di teori namun praktik masih kalang kabut. Tetap saja, cantik dan hal lain nya jadi syarat nomor satu sebagai incaran.
__ADS_1
Allahul Musta 'an. Dunia oh dunia. . .
Belajar lah merenungi diri mu sendiri, jangan memaksakan mau mu seperti ini seperti itu namun terima lah apa yang ALLAH tetap kan, sebab apa yang ALLAH tetap kan pasti ada suatu kebaikan bagi hamba nya.