
#Innalillahi wainna ilaihi rojiun
Tangisan Egga yang selama ini ia tahan kini pecah membanjiri pipi nya. Egga memeluk tubuh Tari yang sudah tinggal jasad nya saja. Eggy, Pak Wijaya, Dokter Lala, Dokter Ratna dan Dokter Astri seketika lemas dan tak kuasa menahan air mata mereka yang sudah mengalir ke pipi mereka. Terkecuali Ayah nya Tari yang terdiam seperti tidak ada kejadian apa - apa.
Eggy dan Pak Wijaya keluar dari ruang ICU karena ingin memberitahu keluarga nya yang sedang menunggu di luar, yakni Almira, Bu Hanna, Om dan Tante nya Tari. Mereka langsung mendekati kedua nya ketika mereka sudah di depan pintu.
"Gimana keadaan Tari sekarang Bang?". Bu Hanna bertanya pada Pak Wijaya. Dengan lemas beliau menggelengkan kepala nya, menandakan bahwa Tari sudah meninggal.
" Suam?". Almira meraih tangan Eggy.
" Kak Tari sudah di panggil sama yang Maha Kuasa sayang". Ujar nya bernada lemas.
#Innalillahi wainna ilaihi rojiun...
Mereka menangis, terlebih lagi Om dan Tante nya Tari yang menangis dengan histeris.
Bu Hanna tidak bisa berkata apa - apa, beliau benar - benar shock dan lemas. Pak Wijaya menguatkan istri nya. Sedang kan Eggy mengajak Almira untuk duduk dimana anak nya berada. Eggy mengangkat Ghifari lalu menggendong nya dalam pangkuan nya. Almira bersandar lemas di bahu Eggy.
"Padahal Ist baru saja mulai akrab dengan Kak Tari, Suam". Kata nya sembari meneteskan air mata nya.
Eggy merangkul pinggang Almira.
" Sudah, enggak usah kita bicarakan lagi. Enggak baik. Cukup kita doa kan saja Kak Tari agar di terima di sisi ALLAH, Aamiin".
"Aamiin".
Almira mengangguk pelan di pundak Eggy.
" Ya sudah, kita pulang saja dulu, kita ke rumah Bang Egga, kita tunggu di rumah nya saja, sekalian kita siap - siap kan keperluan nya sebelum jenajah nya di bawa pulang. Lagian kasihan kali Ghifari tidur nya jadi enggak nyaman". Ujar nya sambil membelai rambut Ghifari.
"Iya Suam". Almira mengangguk.
Mereka pun berpamitan untuk pulang lebih dulu untuk membereskan rumah Egga. Setiba nya di rumah Egga. Mereka meminta satpam dan asisten rumah tangga yang ada di rumah Egga untuk menyiapkan barang - barang keperluan takjiah serta meminta mereka untuk mengumumkan berita duka ini di mesjid yang ada di dekat perkomplekan rumah itu.
"Ist istirahat saja sana sama Ghifari, nanti Ist kecapek' an. Tengok, muka nya sudah lesu kali gini". Eggy menyentuh wajah Almira yang terlihat sedikit pucat.
" Mana bisa Ist istirahat dalam kondisi kayak gini Suam". Almira merasakan sentuhan tangan Eggy.
"Di usaha'in lah sayang, kasihan anak kita kalau Ist nanti sakit. Istirahat lah, nanti kalau mereka sudah sampai, Suam langsung banguni Ist kok. Cepat lah sayang". Eggy mengelus perut Almira yang kelihatan sedikit membuncit. Almira mengangguk pelan menuruti perkataan suami nya. Dan masuk ke dalam kamar tamu rumah Egga.
Eggy kembali membantu orang - orang yang sedang membentang (menggelar) ambal serta menyusun kursi - kursi di luar rumah dan halaman rumah Egga. Teratak (tenda) pun sudah terpasang. Para pelayat berduyun - duyun datang ke rumah itu setelah mereka mendapatkan pengumuman dari mesjid.
Cukup lama menanti, akhir nya sang jenajah pun tiba dengan mobil ambulance dan beberapa mobil yang mengikuti ambulance tersebut, yakni mobil Egga yang di bawa oleh Pak Wijaya dan mobil Dokter Ratna bersama dengan Dokter Astri dan Dokter Lala.
Eggy bergegas berlari menuju ke kamar dimana Almira dan Ghifari sedang istirahat, sesuai dengan janji nya kepada sang istri, Eggy pun membangunkan Almira yang baru bisa terlelap, walau pun Eggy tidak tega membangun kan nya akan tetapi Eggy harus menepati janji nya.
"Ist... Sayang... Mereka sudah tiba sayang". Eggy mengusap punggung Almira dengan lembut. Almira pun menggeliat kan badan.
" Hmm?". Pandangan nya terlihat samar.
"Mereka sudah pulang. Yuk kita keluar".
Almira mengangguk sembari menguap dan mengucek mata nya.
" Ist mau ngambil wudhu dulu. Suam sudah ngambil wudhu?".
"Iya, ini Suam mau ngambil wudhu juga. Ghifari enggak usah di banguni ya Ist? Biarin saja dia tidur dulu".
__ADS_1
" Iya Suam". Almira merapikan selimut anak nya, kemudian bangkit dari tempat tidur berjalan menuju ke kamar mandi.
#Yasiin... Walqur'aanil hakiim, innakalaminalmursalin, alaa sirothimmustaqiim.....
Suasana rumah di penuhi dengan suara seruan ayat - ayat suci Al - Qur'an terutama surah Yasiin. Egga pun turut membaca Al - Qur'an di sisi jenajah Tari yang terbujur kaku. Ia sedikit terbata karena isak tangis nya yang terasa sesak. Egga tak berkata apa pun, apa lagi sampai meratapi kepergian istri nya, yang ada hanya air mata yang tak henti mengalir dan sesekali ia membuka selembar kain putih transfaran yang menutupi wajah Tari. Ia menatap wajah itu dan merasakan dingin nya pipi Tari.
"Bang, kau makan lah dulu. Kau belum ada makan dari semalam, nanti kau bisa pingsan bang". Eggy membisik kan nya pada telinga Egga.
" Nanti saja dulu, aku enggak lapar". Ujar nya sambil menatap Tari dengan pandangan yang tak berdaya.
"Jangan lah gitu bang. Enggak kasihan kau sama diri kau sendiri? Kak Tari pasti enggak mau kalau kau enggak makan kayak gini. Cepat lah bang". Eggy tetap membujuk nya.
Air mata Egga mengalir, ia teringat setiap kali Tari memarahi nya ketika ia lupa makan kalau sibuk bekerja. Egga mengelus pipi Tari dari balik selendang itu tanpa berkata apa - apa. Kemudian ia menuruti apa kata Eggy, ia pun berusaha bangkit dari tempat duduk nya, ia merasa lemas dan harus di bopong. Tergopoh - gopoh Eggy membawa nya ke dalam kamar.
Eggy menyuguhkan sepiring nasi beserta lauk yang di siapkan oleh Almira.
"Makan kau dulu bang. Kau isi dulu tenaga kau itu. Mau berdiri saja kau payah apa lagi nanti kau ikut bawa Kak Tari ke pemakaman". Eggy melihat abang nya yang tak punya selera makan dan hanya menatap makanan itu.
Eggy tau bagaimana rasa nya berada di posisi nya. Eggy juga hampir mengalami nya di saat Almira terbaring tak berdaya karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Rasa nya separuh nyawa nya hilang dan tak berdaya melakukan apa pun, beda nya Eggy masih di beri kan kesempatan untuk menghabis kan waktu mereka bersama lebih lama lagi dan tidak tahu sampai kapan waktu itu kan tiba.
"Makan lah bang, sedikit saja pun jadi nya bang, asal kan terisi perut kau itu. Jangan lah kau siksa diri kau sendiri. Tau nya aku kalau kau sedih tapi jangan lah kayak gini, kalau bukan kau sendiri siapa lagi bang yang di harap kan Kak Tari untuk mengantar nya ke tempat terakhir nya". Eggy memegang pundak Egga.
" Huh... Aku enggak nyangka bakalan secepat ini Tari ninggalin kita, terlebih lagi ninggalin aku. Rasa nya aku kayak lagi mimpi buruk. Aku sudah enggak tahu lagi gimana tanpa dia". Lirih nya.
Mata Eggy berkaca - kaca mendengarkan abang nya.
"Sudah lah bang. Ini semua sudah takdir ALLAH, kita enggak bisa paksakan kehendak - Nya (ALLAH). Kita enggak boleh juga sedih - sedih kayak gini, itu sama saja kita menyiksa nya di sana. Mending kita banyak berdoa saja untuk Kak Tari, semoga ALLAH menjadi kan nya penghuni syurga nanti nya, Aamiin". Eggy merangkul abang nya sembari mengusap punggung nya dengan hangat.
Egga sempat melirik Eggy yang telah menguatkan nya.
"Aamiin".
Egga menyungging kan senyuman nya. Dan akhir nya ia pun memaksa kan diri nya untuk makan beberapa suap.
Tandu sudah siap untuk di bawa ke pemakaman setelah mereka menyolatkan jenajah Tari. Isak tangis pecah di saat tandu beranjak membawa sang jenajah. Sedang kan Egga sendiri, ia harus kuat dan ikhlas atas kepergian sang istri.
Egga melakukan proses pemakaman sang istri, dari mulai mengangkat tandu hingga batu nisan di tancap kan pada pusaran nya, tepat di samping makam sang Bunda sesuai dengan permintaan nya sebelum ia di panggil sang Maha Kuasa.
Semua yang mengantar satu per satu beranjak dari pemakaman, terkecuali keluarga Wijaya yang masih tetap berada di sana, mereka menunggu Egga yang masih belum rela meninggalkan kuburan Tari, ia terduduk di pinggir kuburan Tari sembari meneteskan air mata. Ia terus memandang serta mengusap - ngusap batu nisan yang tertulis nama Mentari Rahmayanti alias Tari.
Sedang kan yang lain nya turut menangis melihat Egga. Pak Wijaya mendekati Egga, kemudian memegang pundak nya untuk memberi nya kekuatan.
" Kita pulang yuk Ga?".
Egga mengangguk pelan.
" Aku pulang dulu ya beib? In Sya ALLAH nanti aku ke sini lagi. Aku akan usahain bakal setiap hari datang ke sini. I'll really miss you beib. Assalamualaikum". Pamit nya sambil mencium batu nisan Tari.
Egga dan keluarga nya pun beranjak dari pemakaman dan kembali ke rumah Egga, kecuali Eggy beserta anak dan istri nya. Mereka meminta izin untuk pulang ke rumah nya sebentar untuk membersihkan diri dan ganti pakaian.
Setelah Almira selesai menyiapkan Ghifari alias memandikan dan memakaikan nya pakaian, ia langsung memberikan makan untuk snow yang belum makan sejak tadi pagi. Eggy menghampiri Almira ketika ia melihat nya sedang jongkok menghadapi snow yang sedang makan.
"Sayang". Eggy memegang pundak Almira dengan lembut. Almira pun menoleh kemudian berdiri di depan Eggy.
" Suam mau apa?". Almira menatapnya dengan pandangan nya yang sayu karena lelah.
Eggy memeluk tubuh Almira dengan erat.
__ADS_1
"Suam butuh di charge". Bisik nya.
Almira tertawa kecil sembari mengusap punggung Eggy.
" Jam berapa kita balik lagi ke rumah Bang Egga Suam?".
"In Sya ALLAH habis magrib, tapi Ist sama Ghifari enggak usah ikut saja ya malam ini sayang?".
Almira merenggang kan sedikit tubuh nya namun tangan nya masih melingkar di pinggang Eggy.
" Kenapa?".
"Biar Ist bisa istirahat di rumah. Besok saja baru Ist ikut".
" Hmm... Enggak enak lah sama Bang Egga dan keluarga yang lain Suam, kalau Ist enggak ke sana, nanti keluarga Suam bilang, iih istri si Eggy kok sanggup ya enak - enakan istirahat di rumah dengan kondisi kayak gini".
"Eh he he he, Ist kok malah suudzon gitu. Enggak apa - apa sayang, mereka pasti ngerti kok dengan kondisi Ist. Lagian kalau ada yang bilang kayak gitu, nanti Suam jahit mulut nya pakai alat jahit medis Suam ha ha ha". Eggy tertawa sembari menarik hidung Almira.
Almira memukul badan Eggy dengan manja sambil tertawa kecil. Kemudian Eggy memeluk nya kembali.
"Mommy sama Daddy lagi ngapain?". Tiba - tiba Ghifari muncul, ia memergokin orang tua nya sedang berpelukan.
Spontan mereka melepaskan pelukan nya karena terkejut lalu menoleh ke arah anak mereka.
" Eh... Sayang. Mommy Daddy enggak lagi ngapa - ngapain kok. Ghifari mau apa sayang? Biar Mommy ambil kan". Almira menghampiri Ghifari.
"Iya sayang, kamu mau apa? Kamu mau Daddy beli kan apa? Biar Daddy belikan". Eggy pun menyusul.
" Enggak. Ghifari enggak mau apa - apa kok. Ghifari cuma mau ngeliat snow saja". Ghifari berjalan mendekati snow yang masih sedang makan. Ia membelai bulu - bulu halus kucing kesayangan nya itu.
Almira dan Eggy tersenyum memandangi Ghifari.
"Daddy, kalau Daddy balik lagi ke rumah Uwak Uncle, Daddy bilang kan ya sama Uwak Uncle jangan sedih - sedih, kalau Uwak Uncle sedih nanti Ghifari enggak mau main - main lagi sama Uwak Uncle, Ghifari juga enggak mau lagi bekawan sama Uwak Uncle".
Eggy mendekati anak nya dan ikut jongkok di samping Ghifari.
" Ghifari bilang saja lah sendiri sama Uwak Uncle, biar Uwak Uncle mau nuruti apa kata Ghifari. Kalau Daddy yang bilang, takut nya Uwak Uncle enggak mau dengarin apa kata Daddy".
"Tapi kata Daddy, kami enggak usah ikut malam ini ke rumah Uwak Uncle? Ya kan Mommy?". Ghifari menoleh ke arah Almira.
Almira tertawa kecil. " Iya sayang".
Eggy menepuk jidat nya sembari tertawa kecil.
"Oh iya, Daddy lupa he he he. Ya sudah, kalau gitu besok saja Ghifari bilang nya sama Uwak Uncle, biar Uwak Uncle nya enggak mau sedih - sedih lagi".
" Hu umm..". Ghifari mengangguk pelan.
"Oh ya! Sebelum Daddy gerak ke rumah Uwak Uncle, Ghifari mau minta beliin apa? Biar Daddy beli kan dulu".
Ghifari memutarkan bola mata nya, ia berpikir.
" Umm.... Apa ya? Um... Enggak usah deh Dad, Ghifari mau makan masakan Mommy saja. Yang penting Daddy pulang, jangan nginap di sana, biar Daddy juga bisa istirahat".
Eggy mengelus kepala Ghifari sembari tersenyum bangga atas pengertian dan perhatian anak nya. Sedang kan Almira menggelengkan kepala nya sembari tersenyum menatap keduanya.
"Iya sayang".
__ADS_1