
Di sebuah cafe yang terkesan homie terdapat Egga yang sedang rapat bersama clien nya yang sebelum nya sudah ia jadwalkan terlebih dahulu. Ia memang terbiasa rapat di luar agar menimbulkan suasana santai dan tidak tegang, ketimbang harus rapat di kantor atau di tempat yang formal.
Jiwa wibawa Egga semakin terpancar di saat ia mempresentasikan tentang proyek yang akan mereka jalani sekarang. Hampir sama dengan Eggy, tak sedikit para pengunjung wanita melirik diri nya karena kewibawaan nya yang Ma Sya ALLAH.
Rapat pun telah selesai dan para clien satu per satu beranjak meninggalkan nya. Egga harus membereskan sendiri barang - barang milik nya sebab sang asisten atau sekretaris pribadi nya berada di Jakarta. Sedangkan anggota di kantor cabang Medan nya pun tidak bisa menemani nya karena sibuk pada masing - masing tugas nya.
" Egga? ". Tiba - tiba seorang wanita menyapa diri nya
Egga pun menoleh dan melihat orang yang telah menyapa nya itu.
" Eh Ratna. Hai ". Egga tersenyum ramah pada orang tersebut yang ternyata ialah Ratna.
" Lagi makan siang sama Tari ya? Tari nya mana? ". Ratna melirik mencari Tari.
Egga mengerutkan dahi nya.
" Lho... Bukan nya kalian janjian ketemuan ya hari ini? ".
" Hah? ". Ratna pun merasa heran. Ia terdiam sejenak dan berpikir, seperti nya ia tidak memiliki janji bertemu dengan Tari hari ini.
" Apa Tari bohong ya sama Egga?". Batin nya.
" Hey Ratna? Kok diam? ". Egga membuyarkan Ratna sembari mengayun - ngayunkan tangan nya ke wajah Ratna.
" Ehh... I... Iya. Tadi kami memang janjian ketemu, tapi cuma sebentar karena aku ada janji lagi sama orang lain. Maka nya aku kira sehabis ketemu sama aku, kalian makan siang bareng di sini he he he ". Ratna terpaksa membohongi Egga demi menutupi kebohongan Tari.
" Oh gitu. Aku ke sini enggak sama Tari kok, aku lagi rapat sama clien aku di sini. Mungkin Tari sudah di rumah kali ya? Soal nya aku pun belum ngabari dia juga sih he he he. Oh ya kamu ke sini sama siapa? ".
" Hmm. Aku ke sini sendiri, aku janjian sama teman di sini tapi seperti nya teman aku belum datang he he he". Ratna celingukan mencari sosok yang akan ia temui itu.
" Mmm... Teman apa teman? Pasti cowok kan? He he he". Egga malah menggoda Ratna sehingga pipi nya terlihat memerah karena tersipu malu.
" Teman lho Ga! Bukan siapa - siapa kok ".
" He he he iya iya, lagian kalau siapa - siapa nya juga enggak apa - apa kok he he he. Ya sudah aku balik duluan ya? Soal nya aku ada rapat lagi sama anggota aku di kantor ". Ujar nya sembari melirik jam tangan nya.
Ratna mengangguk pelan.
" Iya. Titip salam buat Tari ya?".
"Iya In Sya ALLAH aku sampai kan. Oh ya titip salam juga ya sama teman special nya itu he he he he". Bisik nya.
" Iiih apaan sih Ga ".
" Ha ha ha. Ya sudah daaa assalamualaikum".
__ADS_1
" Waalaikumussalam".
Ratna tersenyum menatap kepergian Egga sembari menggelengkan kepala nya.
" Benar - benar kasihan sama pasangan ini di kasi ujian seberat itu".
Flash back...
Suasana begitu riuh karena ada nya acara reunian fakultas kedokteran dari angkatan 90' an hingga angkatan 2017 di salah satu universitas swasta di Medan. Hampir seisi gedung memiliki profesi yang sama yakni seorang dokter.
Tak ketinggalan Tari pun ikut serta pada acara tersebut, mengingat ia adalah salah satu alumni angkatan 2014 di universitas tersebut. Tari yang menggandeng Egga ke acara tersebut tak lupa ia mengenalkan Egga pada teman - teman nya.
" Ratna? ". Egga sedikit familiar pada salah satu teman akrab Tari yakni Ratna yang kebetulan ia adalah teman sekelas Egga semasa SMA.
" Kamu Ratna kan, teman sekelas aku waktu SMA? ".
Tari melirik mereka berdua.
" Iya, aku Ratna teman sekelas kamu he he he ". Ternyata Ratna memang sudah mengetahui hal ini sebelum nya, namun ia belum pernah cerita sedikit pun pada Tari.
" Ya ALLAH...! Sudah lama ya kita enggak ketemu? ".
"Iya sudah lama kali lah he he he ".
" Jadi kalian dulu nya temanan? ". Tari kini mempertanyakan pada kedua nya.
" Ya ampun. Enggak nyangka ya? Dia memang gitu anak nya beib. Pendiam kali orang nya. Cuma enggak tahu akhir - akhir dia sudah banyak berubah nya, malah di antara kami bertiga ( maksud nya Tari, Ratna dan Astri) si Ratna ini yang banyak cakap nya sekarang ha ha ha. Tapi enggak tahu nih, kali ini dia kok tumben kali enggak cerita ke aku kalau kalian temenan. Hufft". Tari terbahak sembari merangkul Ratna.
Sedangkan Ratna sendiri, ia tersipu malu karena di ceritakan seperti itu.
" Ih kalian lah. Entah apa - apa lah he he he. Maaf lah Tar, bukan nya aku enggak mau ngasi tahu kamu sebelum nya. Cuma aku memang sengaja saja, aku pengen lihat reaksi kamu setelah tahu ini ho ho ho ".
Egga tertawa kecil sedangkan Tari memanyunkan bibir nya.
" Huft dasar! Hmmp memang dunia ini sempit kali ya? Enggak tahu nya kalian teman sekelas semasa SMA. Sudah ke sana ke sini ehh ujung - ujung nya kita di pertemukan lagi dengan orang - orang yang kita kenal dulu ". Tari tersenyum sembari melirik kedua nya.
" Iya benar. Itu nama nya jodoh. Jodoh bukan berarti hanya untuk pasangan hidup kita saja, tapi jodoh itu bisa berarti untuk teman, sahabat atau pun saudara. Dan jodoh juga enggak akan kemana - mana, ia akan kembali pada masa nya ". Egga menyambung ucapan Tari sembari menggenggam tangan nya dan tersenyum menatap nya tanpa peduli dengan keramaian.
Ratna tersenyum simpul melihat pasangan ini. Pasangan yang bikin cemburu para jomblo seperti diri nya ketika melihat keromantisan mereka yang tidak terlihat norak seperti pasangan lain nya.
Flash on....
Egga tiba di kediaman nya di Medan, bukan di rumah orang tua nya, melainkan di rumah mereka sendiri. Bukan hanya di Jakarta, mereka juga memiliki rumah yang cukup mewah di salah satu perumahan di kota Medan.
Egga mengerutkan dahi nya ketika ia melihat pintu pagar rumah nya masih tergembok dari luar.
__ADS_1
" Masih tergembok? Apa Tari belum pulang ya? Tapi dia kemana? Kok dia enggak ada ngabari aku? ". Beribu pertanyaan di pikiran nya dan sedikit merasa khawatir. Ia merogoh kan saku celana nya untuk meraih ponsel nya. Kemudian ia menghubungi Tari.
#Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif
Sang operator pun bercuap - cuap.
" Kok enggak aktif sih nomor nya? Apa dia balik ke rumah mama ya?". Egga pun menghubungi nomor ponsel Mama nya, namun Tari tidak berada di sana. Kemudian ia menghubungi Almira, menanyakan nya pada Almira namun ia juga tidak ada.
Egga semakin khawatir, ia menghubungi semua orang yang dekat dengan mereka tak terkeculi Eggy yang berada di rumah sakit serta mertua nya alias orang tua Tari, namun mereka memberikan jawaban yang sama yakni, Tari tidak berada bersama mereka.
" Kamu kemana sih beib? Kok tumbenan kali dia enggak ngabari aku?". Egga mengusap wajah nya dan berpikir dimana tempat - tempat yang biasa di datangi oleh Tari. Egga berlari masuk ke dalam mobil dan kemudian berlalu dengan kecepatan tinggi.
Ternyata Tari berada di sebuah pemakaman yang terdapat liang lahat sang ibu yang sejak lama meninggalkan nya. Suasana pemakaman itu begitu hening, yang ada hanya suara lirih Tari yang bercerita di depan pusaran ibu nya.
" Bunda... Tari rindu kali sama bunda. Maafin Tari karena Tari sudah jarang ke sini nengokin bunda. Bunda! Tari lagi sedih bun, Tari merasa sangat bersalah sama suami Tari karena Tari sudah membohongi nya hari ini, Tari sudah tidak layak untuk jadi istri nya Egga, karena Tari sudah tidak sempurna lagi bun ". Air mata Tari menetes tak terhingga.
" Tari enggak tahu harus berbuat apa bun, Tari bingung. Tari enggak sanggup memberitahu Egga soal penyakit ini karena Tari enggak ingin membuat nya sedih. Setiap kali Tari melihat wajah nya rasa nya air mata Tari ingin tumpah, rasa nya Tari ingin sekali memberitahunya tapi Tari benar - benar enggak sanggup bun untuk memberitahu nya, hu hu hu ". Tari terisak begitu pilu, hijab yang ia kenakan basah karena air mata nya.
Tak lama Egga pun tiba di pemakaman itu, ia ingat kemana Tari pergi ketika ia tidak berada dimana pun. Egga mengatur nafas nya serta merasa lega ketika ia melihat sang istri berada di pinggir bibir kuburan bunda nya. Egga mendekati nya tanpa suara.
" Tari enggak sanggup bun untuk memberitahu Egga yang sebenarnya. Karena penyakit kanker rahim ini akan membuat impian nya untuk menjadi seorang ayah pasti hancur bun ". Tari masih curhat dan tidak menyadari kedatangan Egga.
Sedangkan Egga sendiri, langkah kaki nya terhenti. Ia sangat shock mendengar soal penyakit itu. Kaki nya terasa lemas dan terpaku di belakang Tari. Air mata Egga menetes seketika. " Ya ALLAH... Ingin sekali aku berlari memeluk nya. Dia pasti akan semakin sedih. Ya ALLAH... Berikan lah kami kekuatan untuk melewati ujian ini dari Mu ". Lirih nya dalam hati, sesekali ia memandangi langit yang cerah.
Egga menghapus air mata nya, lalu dengan sengaja langkah kaki nya membuat suara agar Tari menyadari ada nya seseorang. Secepat kilat Tari mengusap air mata nya lalu menoleh ke belakang. Ia terkejut melihat sosok Egga yang berada di belakang nya.
" Ya ALLAH beib, ternyata kamu lagi di sini. Aku sudah kemana - mana mencari kamu, aku khawatir sama kamu". Egga pun jongkok di samping nya, lalu memeluk nya.
Egga pun melepaskan pelukan nya dan beralih memandangi batusan Bunda mertua nya.
" Kamu kok tahu aku di sini?". Tari melirik Egga yang sedang mengusap batu nisan sang bunda mertua.
" Assalamualaikum bun. Hari ini anak bunda nakal, dia sudah membuat suami nya khawatir ke sana kemari mencari nya. Untung Egga ingat kalau anak bunda selalu ke sini kalau dia enggak ada dimana - mana. Huuuuh ". Bukan nya menjawab pertanyaan Tari, ia malah berbicara pada pusaran bunda dan mencibir Tari.
Tari merasa bersalah. Ia meraih tangan Egga dan menggenggam nya. Egga menoleh menatap sang Istri yang wajah nya sudah sembab serta hidung yang memerah.
" Maafin aku ya beib karena sudah membuat kamu khawatir ".
Egga tersenyum. Tangan kanan nya mengelus pipi dan lingkar mata Tari. Hati Egga terasa sesak namun ia berusaha untuk menutupi nya.
" Enggak apa - apa kok beib. Ya sudah, yuk kita pulang. Sudah sore kali ini ".
Tari mengangguk pelan. Mereka pun berpamitan kepada Almarhumah Bunda. Dan kemudian mereka beranjak meninggalkan pemakaman itu.
.
__ADS_1
Di malam hari, Egga memandangi Tari yang sudah terlelap terlebih dahulu di atas tempat tidur. Wajah nya masih terlihat sembab. Ia menyentuh wajah Tari dengan lembut serta menarik nafas nya dalam - dalam lalu menghelakan nya kembali.
" Kamu pasti sangat sedih menanggung ini semua sendirian. Aku enggak peduli apa pun yang terjadi sama kamu, aku akan tetap selalu ada di sisi kamu dan yakin kamu pasti bisa melewati masa - masa sulit ini ". Lirih nya.