
Eggy menghentikan mobil nya lalu memarkirkannya di depan sebuah klinik praktek milik Dokter Richard. Ia tahu bahwa Dokter Richard sedang tidak memiliki jadwal di rumah sakitnya pada saat ini.
Ia berjalan dengan cepat masuk ke dalam ruko yang memiliki 3 lantai itu, tak lupa ia membawa hasil medis tersebut.
"Mbak, Dokter Richard nya ada?". Eggy bertanya pada salah satu resepsionis yang sedang bertugas di klinik itu.
" Ada Pak. Maaf, Bapak apa sudah buat janji terlebih dahulu sama Dokter Richard?". Ia bertanya sembari memperhatikan ketampanan Eggy.
Eggy /"Bilang saja sama Dokter Richard kalau Dokter Eggy di sini". Ia sempat melirik ke sekeliling klinik itu.
"Baik Pak". Ia pun langsung menelpon Dokter Richard dan memberitahunya bahwa Eggy ingin bertemu dengannya.
" Pak, mari saya antar ke ruangan Dokter Richard". Ia pun mengantar Eggy menuju ruangan Dokter Richard yang berada di lantai 2 lalu mempersilahkan untuk masuk ke dalam setelah mereka tiba di depan ruangan tersebut.
Tanpa rasa ragu Eggy pun masuk ke dalam dan melihat Dokter Richard yang sudah menunggunya sembari memasang senyumannya dan berpura - pura tidak terjadi sesuatu.
"Kenapa Dokter Eggy enggak bilang dulu kalau mau ke sini? Kan saya jadi minder kayak gini karena di datangi langsung sama Dokter Eggy he he he. Silahkan duduk Dok. Silahkan". Ia mempersilahkannya duduk kemudian menyuruh karyawannya membawakan minuman dan cemilan untuk Eggy.
Eggy pun duduk tanpa berkata sedikit pun, ia melihat Dokter Richard terlihat mencolok karena ia mengetahui maksud kedatangan Eggy.
" Oh ya, ngomong - ngomong Dokter Eggy ada apa ya tiba - tiba datang ke klinik saya? Malah untuk pertama kali nya lagi Dokter ke sini he he he. Pasti ada hal penting yang mau di omongin ya Dok?". Dokter Richard sengaja berbasa - basi.
Eggy menyodorkan laporan medis yang ia bawa sejak tadi, yakni laporan medis milik Egga dan si pendonor alias Ratna.
Wajah Dokter Richard berubah menjadi pucat pasih serta mengeluarkan keringat jagung pada wajahnya.
"He he he, apa ini Dok?". Ia mengambil map biru itu dengan ragu serta gemetaran.
" Kata asisten saya, semalam Dokter Richard bilang kalau laporan medis pasien Dokter masih ada yang belum lengkap dan setelah saya check ternyata benar, masih ada yang belum lengkap pada laporan itu jadi kedatangan saya ke sini mau minta kelengkapan dari laporan medis itu. Karena menurut saya laporan itu masih belum lengkap, nama pasiennya belum Dokter cantumkan pada laporan itu jadi pekerjaan saya belum selesai juga sampai saat ini. Jadi saya minta sama Dokter untuk mencantumkan nama pasien tersebut sekarang juga agar tidak menghambat pekerjaan saya". Dengan tenang Eggy berkata pada Dokter Richard tanpa meminta penjelasannya terlebih dahulu.
Dokter Richard sempat menelan ludahnya melihat laporan itu lalu melirik wajah Eggy yang terlihat santai sembari meraba tangannya mengambil pena miliknya.
"Tangan Dokter Richard kenapa gemetaran? Apa Dokter Richard belum sarapan ya?". Ia bertanya ketika ia melihat tangan Dokter Richard gemetaran memegang penanya.
" Ha? Enggak Dok. Saya memang suka seperti ini kalau sedang panik. Saya punya penyakit serangan panik sejak kecil he he he". Jawabnya.
"Memangnya Dokter Richard panik kenapa? Apa ada masalah sama laporan medis itu?". Eggy sengaja agar Dokter Richard mengatakan sendiri apa yang sebenarnya terjadi dan siapa pendonor itu.
" Ha? Ah enggak Dok. Enggak ada masalah apa - apa kok he he he". Ia tertawa getir sembari menyeka keringat pada wajahnya.
"Oh iya saya hampir lupa. Ini! Saya menemukan hasil medis yang lainnya tapi saya heran, kok hasil medisnya sama ya dengan hasil medis itu. Tapi di sini nama pasien nya tercantum sedang kan yang itu tidak tercantum. Apa Dokter Richard bisa menjelaskan nya sama saya biar saya enggak kebingungan?". Eggy menyodorkan selembar kertas berisi laporan medis yang sebenarnya.
Dokter Richard semakin panik. Ia pun sudah tidak bisa mengelak lagi.
"Maafkan saya Dok". Dokter Richard bangkit dari duduknya lalu berlutut di hadapan Eggy sembari memegang kaki Eggy dan memohon.
Sontak membuat Eggy terkejut melihat reaksi Dokter Richard yang melupakan wibawanya di depan Eggy.
" Maafkan saya Dok. Saya hanya menjalankan amanah saja. Saya hanya mau menolongnya saja. Maafkan saya Dok". Ia memohon sembari menangis tanpa air mata.
Eggy pun membungkukkan badannya lalu membangkitkan tubuh Dokter Richard agar tidak berlutut lagi di kakinya. Eggy tersenyum menatapnya, ia tahu bahwa ini bukan lah keinginannya, ia hanya menjalankan apa yang sudah di amanah kan oleh Ratna.
"Sudah lah. Dokter Richard tidak perlu sampai berlutut seperti ini. Dokter Richard lebih tua dari saya jadi saya enggak pantas di perlakukan seperti ini. Saya bukan siapa - siapa, saya hanya manusia biasa he he he. Maksud saya, saya ingin memastikan apa benar si pendonor itu adalah Dokter Ratna, tapi saya juga ingin Dokter Richard sendiri yang mengatakan tanpa harus saya bertanya terlebih dahulu. Tapi saya salut sama Dokter Richard, Dokter mampu menjaga amanah itu dengan baik walau pun akhirnya ketahuan juga karena kecerobohan Dokter he he he. Ya... Paling tidak saya sudah mengetahui siapa si pendonor itu. Saya sangat berterimakasih atas kecerobohan Dokter he he he". Ia malah menertawai Dokter Richard (bukan mengejek).
Dokter Richard pun menceritakan semuanya pada Eggy tanpa mengarang sedikit pun alias sejujur - jujurnya.
"Maafkan saya Dok. Saya tidak bermaksud untuk curang pada Dokter atau pun rumah sakit. Saya hanya menjalankan amanah saja, niat saya hanya untuk menolong".
" Iya, saya tahu. Ya sudah! Kalau begitu saya pamit dulu. Terimakasih sudah memberitahu saya yang sebenarnya dan maaf sudah membuat Dokter berlutut di kaki saya, saya tidak ada maksud apa - apa he he he". Eggy pun berdiri karena ingin beranjak dari tempat itu.
__ADS_1
"Iya Dok. Harusnya saya yang minta maaf dan bilang terimakasih sama Dokter atas kejadian ini". Dokter Richard masih merasa tidak enak hati.
" Ah. Sudah lah. Lupakan saja yang terjadi hari ini he he he. Saya permisi dulu".
Eggy berlalu bersama dengan mobilnya sedangkan Dokter Richard masih bingung apakah ia harus memberitahu Ratna atau tidak perihal ini, hingga akhirnya ia pun memberitahu Ratna bahwa Eggy sudah mengetahui semuanya.
Dari tempat Ratna, ia terlihat cemas setelah ia mendapat kabar dari Dokter Richard.
"Kalau Eggy sudah tahu semuanya, sudah pasti Egga juga mengetahuinya". Pikirnya.
Ratna memutuskan untuk menemui Eggy namun ia harus mengurungkan rencananya itu sebab Omen mendadak datang ke rumahnya.
" Hai Rat". Sapa nya.
"Hai... Silahkan masuk". Ratna pun mempersilahkan ia masuk ke dalam rumahnya.
" Mama kamu ada di rumah?". Omen bertanya sembari celingak - celinguk ke sekeliling rumah Ratna.
"Ada. Perlu aku panggilkan?".
" Tidak perlu. Aku ke sini memang mau ketemu sama kamu kok. Ada yang mau aku bicarakan sama kamu tapi sebaiknya kita bicara nya tidak di sini". Omen berniat untuk mengajak Ratna untuk mengobrol di luar sekalian makan siang bersama.
"Oh, boleh kalau begitu. Ya sudah, ayo". Ratna menyetujuinya.
Kemudian mereka pun pamit pada Bu Wardah alias Mamanya Ratna lalu pergi ke suatu caffe.
" Kamu mau pesan apa Rat?". Omen bertanya pada Ratna sembari memegang daftar menu di caffe itu setelah mereka tiba dan duduk di sana.
"Aku pesan jus jeruk saja". Jawabnya.
" Jus jeruk 2 ya Mbak". Omen berkata pada sang pelayan kemudian pelayan itu mencatat pesanan mereka.
"Makanan nya Rat?".
Omen /"Emm... Ya sudah kalau gitu Mbak nasi goreng spesial 1, kentang goreng 1 sama chicken nugget nya 1".
" Baik Pak. Mohon di tunggu sebentar".
"Iya mbak, terimakasih". Omen menyodorkan daftar menu itu pada sang pelayan sembari tersenyum.
"Kamu yakin tidak mau pesan Rat?".
" Iya, aku sudah kenyang. Oh ya kamu sebenarnya mau ngomong apa?". Ratna tidak ingin berbasa - basi pada Omen.
Omen bingung harus memulainya dari mana.
"Emm... Em... Aku mau nanya sama kamu. Apa kamu tahu soal masalah aku sama preman - preman yang sudah menghajar ku beberapa hari yang lalu?".
Dahi Ratna mengerut melihat Omen kemudian menggelengkan kepalanya.
" Tidak. Aku sama sekali tidak mengetahui soal itu. Memang nya ada apa? Apa preman - preman itu ada hubungannya dengan ku? Atau preman - preman itu suruhan nya Egga ya?". Dugaannya.
Omen /"He he he tidak. Mereka bukan suruhannya Egga bahkan mereka juga enggak ada hubungan nya dengan Egga. Aku bertanya karena aku pikir di antara kamu dan Eggy yang sudah melakukan sesuatu pada mereka agar mereka tidak mengganggu ku lagi karena kan hanya kalian berdua saja yang mengetahui mereka menghajar ku pada saat itu".
Ratna /"Aku sama sekali tidak melakukan apa pun kok. Mungkin ada orang yang mengetahui itu selain kami berdua. Bisa jadi dia yang melakukan itu. Apa kamu sudah bertanya juga sama Eggy?".
"Aku belum bertanya pada Eggy soalnya waktu aku ke rumah nya dia enggak ada, kata tetangga nya mereka sedang liburan keluarga dan tidak tahu apa dia sudah pulang atau belum". Omen sempat menundukkan kepalanya sembari memutar - mutarkan ponselnya.
" Eggy sudah pulang kok. Mungkin kamu sudah bisa menemuinya". Ujarnya.
__ADS_1
Omen mengangkat kepalanya melihat wajah Ratna.
"Dari mana kamu tahu itu?".
Ratna tersenyum dan enggan mengatakan yang sebenarnya.
" Tadi aku ketemu sama Eggy di rumah sakit".
"Alhamdulillah. Kalau begitu setelah ini aku bakalan ke rumah dia dan mudah - mudahan dia ada di rumah nya. Aamiin". Omen menadahkan tangannya lalu mengusap wajahnya yang terlihat lebih sembringah.
Ratna hanya menyunggingkan senyumannya sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.
" Alah Mak... Kalau aku terus - terusan ngeliat si Ratna tersenyum kayak gini, bisa - bisa aku beneran jatuh cinta sama dia". Batin Omen berkata - kata sembari memandangi wajah Ratna.
Kemudian ia menggeleng - gelengkan kepalanya karena menyadarkan dirinya.
"Heh... Omen pe'ak. Ingat kau, si Ratna itu bakal jodoh nya si Egga bukan kau. Kau enggak boleh main tikung - tikung walau pun kau sudah menikung nya lewat perjodohan ini. Tapi kau enggak boleh egois, lagian si Ratna mau menerima perjodohan ini karena terpaksa bukan karena dia cinta. Sadar kau pe'ak".
" Kamu kenapa?". Ternyata Ratna memperhatikan gelagatnya.
"Ha? Enggak apa - apa Rat. Aku cuma agak merasa capek saja ini, mungkin efek di gebukin kemarin masih terasa he he he". Jawabnya sembari berpura - pura meregangkan tulang lehernya.
Ratna /" Oh. Tapi kamu beneran enggak apa - apa kan?".
"Iya tidak apa - apa he he he". Tuturnya sembari menggaruk telinganya.
" Permisi Pak Buk. Ini pesanan nya". Seorang pelayan tiba - tiba muncul menyuguhkan pesanan mereka satu per satu.
"Terimakasih mbak".
" Silahkan menikmati Pak Buk".
Ratna tersenyum pada pelayan itu kemudian menyeruput jus jeruk nya.
"Kamu beneran enggak mau makan nih Rat? Kalau enggak kamu mau coba ini nasi goreng aku, enak lho". Omen langsung menyantap nasi gorengnya kemudian menyodorkan sesendok untuk Ratna.
Ratna menggelengkan kepala nya sembari tertawa kecil.
" Enggak. Aku sudah kenyang kali. Kamu makan saja sendiri, seperti nya kamu kelaparan kali he he he".
"Iya, sejak aku pulang dari rumah sakit bawaan nya aku mau makan saja. Seperti nya aku serasi sama perawatan di rumah sakit si Eggy he he he". Ujarnya sembari mengunyah makanannya.
" Bukan karena serasi, tapi karena tubuh kamu masih membutuhkan banyak energi sebab pada saat kamu pingsan kamu sudah mengeluarkan ion dalam tubuh kamu terlalu banyak maka nya nafsu makan kamu jauh lebih meningkat setelah sembuh. Tubuh kamu harus menyembuhkan diri sendiri dengan asupan - asupan yang kamu makan, ya semacam kemarok makan atau balas dendam gitu tubuh kamu nya he he he". Ratna sedikit menjelaskan padanya.
"Oh gitu. Pantesan kebanyakan orang kalau baru sembuh pasti asek nak makan (makan mulu) saja, ternyata itu sebabnya. Apa lagi katanya itu berpengaruh juga sama impus nya ya? Betul enggak sih?". Omen menjadi tertarik dengan dunia medis.
Ratna /" Lebih tepatnya mungkin vitamin yang di berikan oleh dokter. Biasanya dokter akan memberikan supplement untuk meningkatkan nafsu makan agar pasien segera sembuh. Karena kan kalau orang sakit paling susah untuk makan karena nafsu makan mereka sudah di tarik sementara sama ALLAH dan terasa pahit di lidah mereka".
Omen manggut - manggut karena sedikit memahami perkataan Ratna.
"Oh gitu. Eh iya! Kamu makan lah ini kentang goreng atau chicken nuggets nya, aku sengaja pesan ini untuk kamu. Kalau ngemil kan enggak begitu mengenyangkan he he he". Ia menyodorkan kedua piring itu pada Ratna.
Lagi - lagi Ratna menggelengkan kepalanya karena menolak makanan itu.
" Enggak Man. Kamu saja yang menghabiskan semua nya, tubuh kamu lebih membutuhkan nya ketimbang aku he he he".
"Ya sudah kalau kamu enggak mau, untuk aku saja. Biar aku habiskan semuanya. Awas kamu menyesal ya? Terus pulang - pulang kelaparan dan awas juga kalau kamu nanti bilang sama Mama kamu kalau kamu enggak di kasi makan sama si Omen". Omen menarik kembali kedua piring itu kemudian menyomot chicken nuggets tersebut begitu lahap sembari ngedumel sendiri.
Ratna tertawa kecil melihat tingkah asli Omen yang belum pernah ia lihat selama ia mengenalnya. Itu belum seberapa, mungkin Ratna akan terkejut bila ia melihat tingkah Omen yang sebenar - benarnya.
__ADS_1
Dari kejauhan di dalam caffe itu juga seseorang sudah memperhatikan Ratna dan Omen ketika ia melihat keduanya tiba di caffe tersebut.
Ia tersenyum lirih melihat keduanya terlihat serasi namun sedikit complang (banting) duduk berdua sembari makan siang bersama. Ingin rasanya ia pergi dari caffe itu namun itu tidak mungkin baginya hingga akhirnya ia harus menahan rasa sakit nya melihat wanita yang ia cintai duduk bersama lelaki yang akan hidup bersamanya.