
"Kamu kenapa enggak bilang mau ke sini sama Oma dan Opa? Padahal Mommy sama Daddy memang mau pulang lho". Almira bertanya pada Ghifari.
Kini Almira dan Ghifari berada di ruangan Eggy karena Eggy melarang anak nya berlama - lama berada di ruang ICU dan menyuruh Almira membawa Ghifari ke ruangannya.
"Gimana mau bilang! Rang Ghifari kan enggak punya hp, kan enggak mungkin Ghifari pakai hp Opa atau Oma. Lagian pun Opa enggak bilang - bilang mau ke sini. Opa cuma ngajak kami keluar saja gitu". Ghifari menjawabnya sembari mengunyah roti yang mereka beli sebelumnya untuk sarapan pagi.
" Hmm... Ya sudah kalau gitu kita tunggu Daddy dulu, habis itu baru kita pulang".
"Nanti saja kenapa sih Mom. Ghifari masih mau di sini, Ghifari mau nemenin Bang Tara sama Uwak Uncle di sini". Ghifari merengek tidak ingin pulang.
"Ghifari enggak boleh lama - lama di sini. Ghifari kan tahu kalau ini rumah sakit sedangkan Ghifari kan sehat - sehat saja. Memangnya Ghifari mau kalau penyakit - penyakit yang ada di rumah sakit ini menghinggapi ke tubuh Ghifari? Nauzubillah Himinzaliq. Lagian Daddy pasti enggak akan ngizinin kita lama - lama di sini. Kalau kita pulang jadi Daddy bisa istirahat di rumah karena sudah 2 hari Daddy enggak tidur. Memang nya Ghifari enggak kasihan sama Daddy? Ghifari enggak sayang sama Daddy?". Almira berusaha membujuknya.
Ghifari pun merengutkan wajah nya dan dengan berat hati menuruti apa kata Almira.
"Iya deh, Ghifari ikut pulang. Tapi nanti kita ke sini lagi ya Mom?".
Almira tersenyum sembari mengelus kepala anaknya.
" In Sya ALLAH sayang".
Tak lama Eggy pun menghampiri keduanya lalu mengajak mereka pulang ke rumah dan tak lupa berpamitan pada kedua orang tua nya dan Egga.
"Ma Pa. Kami pulang bentar ya. Nanti kalau ada apa - apa langsung telpon Eggy". Ia berkata pada mereka sembari menggandeng tangan Ghifari.
" Iya, hati - hati di jalan kalian ya. Oh ya kamu enggak usah buru - buru ke sini. Istirahat saja dulu di rumah, lagian kan ada Papa dan Mama di sini yang menjaga Egga dan Ratna". Bu Hanna menyuruh nya karena beliau melihat wajah anak bungsu nya terlihat lesu dan lelah.
"Iya Gy. Lagian aku juga sudah tidak apa - apa kok. Jadi kau istirahat saja dulu. Kalau kau ngedrop sama saja kan nanti enggak ada yang ngerawat kami he he he". Egga menambah pembicaraan itu.
" Hmm... Ya sudah. Tapi janji ya, kalau ada apa - apa langsung telpon Eggy". Ia menghembuskan nafasnya dengan berat hati ia menuruti apa kata mereka.
"Ya sudah kami pulang ya Ma Pa, Bang".
Satu per satu dari mereka bertiga menyalami Bu Hanna, Pak Wijaya, Egga dan Bu Wardah dengan cara bergantian.
Eggy mendekati Tara lalu mengelus kepalanya.
" Tara, kamu jangan sedih - sedih lagi ya. Mama akan baik - baik saja kok".
"Iya Om, terimakasih ya Om sudah menjaga Mama dan Papa". Ia pun menyunggingkan senyumannya melihat Eggy kemudian berpaling melihat ke arah Ratna.
Eggy dan yang lainnya merasa terharu atas sikap Tara yang melebihi sikap seorang anak kandung.
...
Setiap hari Tara tak pernah lelah mengunjungi Ratna yang tak kunjung sadarkan diri. Ia melakukan apa yang pernah ia lakukan pada Egga di saat ia terbaring koma.
Ia selalu melantunkan ayat suci Al Qur'an di samping Ratna meski ia masih terbata.
Begitu juga dengan Omen. Ia selalu datang ke rumah sakit setelah ia melakukan pekerjaan nya di studio.
Awalnya ia tidak peduli dengan ada nya Egga dan Tara di sisi Ratna mengingat ia harus memenuhi permintaan Eggy beberapa hari yang lalu.
Namun setelah beberapa hari menjelang hari pernikahan nya dan Ratna membuat ego nya semakin memuncak.
Ia tidak ingin Egga dan Tara saja yang menemani Ratna.
Langkah kaki Omen terhenti ketika ia ingin masuk ke ruang Ratna. Ia melihat Tara dan Egga sedang mengaji bersama di samping Ratna.
Mendadak ia merasa minder dan sadar diri karena tak banyak yang ia lakukan untuk Ratna setelah ia melihat keduanya yang selalu di samping Ratna.
Ia berpikir apakah ia pantas untuk Ratna sedangkan ia sama sekali tidak melakukan apa pun untuk Ratna. Yang bisa ia lakukan hanya menunggu Ratna terbangun.
"Pa, kalau Mama bangun, apa Mama akan kembali lagi bersama kita seperti dulu?". Tara bertanya pada Egga setelah mereka selesai mengaji. Sedangkan Omen menguping pembicaraan mereka dari balik pintu.
Egga tersenyum lirih melihat Tara, hati nya terenyuh mendengar pertanyaan Tara.
" In Sya ALLAH. Kalau pun Mama akan memiliki keluarga baru nantinya, Mama akan tetap bersama kita dan Mama akan tetap menjadi Mama kamu".
Tara mengerutkan dahinya karena ia sedikit bingung dengan jawaban Egga.
"Oh ya Pa! Calon suami Mama yang sering datang ke sini itu ya Pa?".
Egga /" Iya. Om itu nama nya Om Norman tapi biasa di panggil Om Omen. Om Omen yang akan menjadi suami nya Mama dan otomatis akan menjadi Papa nya Tara he he he".
Wajah Tara terlihat murung.
"Hmm... Tara enggak mau Pa. Bagi Tara cuma Papa lah Papa nya Tara dan enggak ada dua nya".
Egga tertawa kecil dan merasa terharu.
" He he he kalau Papa sih memang enggak ada dua nya dari yang lain. Tapi kamu enggak perlu takut, Om Omen orang nya baik kok malah Om Omen itu orang nya kocak. Om Omen pasti mau menerima kamu menjadi anak nya".
Hati Omen merasa terenyuh mendengar obrolan keduanya terutama pujian yang di lontarkan Egga untuk nya begitu tulus tanpa di rekayasa sedikit pun.
__ADS_1
Omen masih berpikir keras apakah ia sanggup mementingkan ego nya setelah ia menyaksikan cinta Egga dan Tara untuk Ratna begitu besar. Ia sempat perang batin memikirkan hal itu.
...
Melihat kondisi Ratna akhirnya mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan pernikahan itu.
Rencana mereka untuk mengundang seluruh sanak keluarga dan kerabat harus di tunda terlebih dahulu setelah Ratna sadar dan sembuh.
Bagi mereka yang terpenting pernikahan tersebut tetap di laksanakan di hari itu juga walau pun Ratna dalam keadaan belum sadar.
Awalnya Bu Wardah merasa keberatan pernikahan ini tetap di langsung kan bahkan sempat beradu mulut dengan pihak keluarga Omen yang tidak terima untuk menunda pernikahan tersebut.
Hingga akhirnya Egga sendiri dengan berbesar hati membujuk Bu Wardah. Ia berusaha mendorong kursi roda nya untuk mendekati Bu Wardah yang duduk di samping Ratna.
"Bu... Ibu yang sabar, mungkin ini memang mau nya Ratna seperti ini. Ratna pasti akan sedih melihat Ibu seperti ini. Niat keluarga Omen sangat baik, mereka masih mau menerima Ratna dalam kondisi apa pun".
" Coba lah Egga pikir siapa yang sanggup seperti ini. Harusnya pernikahan itu hari yang berbahagia tapi ini malah menyedihkan. Sudah lama Ibu menanti hari pernikahan Ratna malah akan menyaksikan pernikahan nya dalam keadaan nya seperti ini. Apa salah nya sih menunggu nya sebentar, paling tidak sampai Ratna sadar". Bu Wardah merasa sedih merenungkan nasib anak nya seperti ini.
"Mungkin ini memang jalan nya. Mungkin ALLAH punya rencana yang tiada sangka untuk Ratna. Kita enggak pernah tahu Bu. Coba lah Ibu untuk meredakan emosi Ibu paling tidak ini demi Ratna". Tutur kata Egga begitu lembut berbicara pada Bu Wardah.
Mata Bu Wardah berkaca - kaca memandangi wajah Egga yang tersenyum tulus namun menyimpan luka di hati nya.
" Padahal hati kamu sedang hancur karena pernikahan ini, tapi kamu sanggup tersenyum bahkan kamu juga berbesar hati membujuk Ibu agar tetap melanjutkan pernikahan ini. Maafin Ibu dan Ratna ya nak, karena sudah melukai hati kamu hu hu hu". Bu Wardah tak sanggup menahan air matanya kemudian ia memeluk tubuh Egga.
"Sudah lah Bu, tidak apa - apa. Ibu enggak perlu minta maaf karena ini bukan lah sebuah kesalahan". Air mata Egga pun mengalir di pipinya karena menahan sesak di dadanya.
Sedangkan Ratna yang masih terbaring pun merasakan kesedihan itu. Air matanya mengalir pada saat itu tanpa mereka sadari.
Tepat di hari pernikahan Omen dan Ratna yang sudah di rencanakan sebulan yang lalu, namun Ratna belum juga sadarkan diri.
Tak banyak orang yang akan menyaksikan pernikahan itu. Hanya beberapa orang yang penting saja seperti orang tua Ratna dan Omen, penghulu, dan tak terkecuali keluarga besar Wijaya yang akan menjadi saksi pernikahan itu.
Di atas tempat tidur Ratna tepat nya di ruang ICU mereka akan melaksanakan ritual sakral tersebut.
Omen sudah terlihat bersiap diri dengan setelan kemeja putih serta peci yang ia kenakan.
Begitu juga dengan Ratna, mereka sedikit memberikan polesan pada wajah Ratna dan memakaikan ia gaun pengantin berwarna putih.
Sedangkan Egga harus menahan hati nya sekuat - kuatnya.
Eggy sempat mengajaknya untuk tidak menyaksikan pernikahan itu karena Eggy juga pernah merasakan hal yang sama namun Egga menolaknya.
Keluarga Wijaya berdiri di belakang Egga yang sedang duduk di atas kursi roda, mereka berusaha menguatkan Egga terutama Tara yang tak pernah melepaskan tangannya dari genggaman tangan Egga.
Hatinya berkecamuk dan merasa tidak tenang.
ALLAH membuat nya menjadi satu satu nya orang yang menyaksikan air mata Ratna mengalir kembali.
Ia sangat terkejut bahkan ia sempat melirik ke sekitar yang sama sekali tidak menyadari bahwa Ratna sedang meneteskan air matanya.
"Mak...". Omen memanggil Mamak nya yang sedang sibuk berbicara pada Bu Wardah.
Jangan kan Mamaknya bahkan seluruh yang ada di ruangan ICU itu melihat ke arah Omen yang sudah duduk di samping Ratna kemudian ia berdiri.
" Mak... Aku mau membatalkan pernikahan ini". Lanjut nya.
Semuanya terkejut terutama Mamaknya dan Egga.
"Apa - apaan kau ini? Enggak usah bercanda kau. Mamak tahu kau itu suka bercanda dan suka ngerjain orang tapi lihat - lihat juga kondisi nya. Ini pernikahan kau bukan main - main".
Omen /" Aku enggak bercanda Mak. Aku beneran enggak mau melanjutkan perjodohan ini. Dari awal aku sama Ratna memang sudah berencana akan membatalkan pernikahan ini dan mengatakannya sama Mamak dan Bu Wardah, tapi karena takdir ALLAH yang sudah membuat Ratna seperti ini membuat aku enggan mengatakannya dan semakin mendekati hari ini entah kenapa ego aku semakin besar. Aku enggak rela perjodohan ini di batalkan dan mengambil kesempatan dengan kondisi Ratna seperti ini. Aku pikir ini akan berjalan sesuai dengan rencana ku, tapi aku salah. Hati aku berperang sama diri aku sendiri, hati aku merasa enggak tenang. Aku membuat kesalahan besar dalam hidup ku jika aku tetap melanjutkan ini. Sebenarnya sejak tadi aku menyaksikan Ratna sedang meneteskan air matanya berulangkali".
Mereka melihat wajah Ratna yang menyisakan air matanya di bagian pinggir matanya. Bahkan mereka pun juga menyaksikan air mata itu mengalir kembali.
Mata mereka terbuka lebar dan meneteskan air mata ketika melihat bahwa dalam keadaan tidak sadar pun Ratna merasa sedih dan menangis.
Jantung Egga tiba - tiba berdegup begitu kencang sehingga ia langsung memegang dadanya. Eggy pun menyadari Egga sedang merintih sambil memegang dadanya.
"Bang. Kau enggak apa - apa? Kita keluar saja ya dari sini?". Bisiknya.
Egga menggelengkan kepalanya.
" Enggak. Aku enggak apa - apa kok".
"Kau yakin enggak apa - apa?". Eggy memastikannya kembali dan Egga pun mengangguk kan kepalanya.
"Ratna pasti akan membenci ku kalau aku tetap melanjutkan ini. Dan aku juga hampir melakukan kesalahan terbesar karena aku sudah memisahkan Ratna dari cinta sejatinya". Omen melirik ke arah Egga kemudian mendekatinya.
Egga terkejut Omen menghampirinya sembari tersenyum.
" Enggak ada cinta yang lebih besar melebihi dari cinta mereka berdua. Mereka enggak pernah berhenti berkorban bahkan hingga sampai sekarang. Mungkin tak banyak orang yang akan melakukan apa yang mereka lakukan bahkan aku pun tak akan sanggup melakukan itu. Mereka rela mengorbankan cinta mereka bahkan nyawa mereka sekali pun agar bisa melihat salah satu dari mereka bahagia. Tapi mereka bodoh he he he, mereka enggak menyadari bahwa perbuatan mereka justru membuat mereka tidak bahagia. Kali ini aku enggak akan membiarkan kalian menderita lagi Ga. Maafin aku karena sudah membuat kalian seperti ini". Omen berkata dari lubuk hati nya yang paling dalam. Ia pun berlutut di kaki Egga sembari memohon maaf.
Egga menepuk pundak Omen karena ia marah melihat nya berlutut seperti itu.
__ADS_1
"Bangkit kau. Ngapain kau berlutut kayak gini. Harusnya kau bukan berlutut di depan aku tapi kau harusnya peluk aku".
Egga menyambar tubuh Omen, memeluknya dengan erat. Tangisan mereka pecah tak terkecuali yang lainnya. Mereka pun juga menangis menyaksikan itu.
Omen melepaskan pelukan mereka lalu menyeka air mata nya sembari tertawa.
" Jadi hilang kejantanan aku gara - gara air mata ini ha ha ha". Celetuknya dan membuat yang lain geleng kepala sambil tertawa kecil.
"Pak penghulu, pernikahan nya tetap di lanjutkan tapi mempelai pria nya di ganti. Cocok Bapak rasa?". Ia berkata dengan ciri khas cablak nya.
" Cocok! Jadi kita lanjutkan ini?". Pak penghulu pun tak kalah cablaknya.
"Lanjuuuuut". Dengan semangat Omen berseru.
Sedangkan yang lainnya tertawa melihat kekocakkannya.
Meski belum ada persiapan apa pun namun Egga di tuntut harus siap untuk menikahi Ratna.
Setelah Pak penghulu menyiapkan berkas - berkas nya, mereka pun segera melaksanakan pernikahan tersebut.
Di atas tubuh Ratna dan di saksikan oleh keluarga mereka, Egga pun bersiap mengucapkan ijab qabul.
"Saya terima nikah nya Ratna Wati Binti Abdul Rahman dengan mas kawin tersebut di bayar tunai". Dengan satu nafas Egga mengucapkan ijab qabul yang begitu sakral.
" Sah?". Pak penghulu pun bertanya pada saksi - saksi.
"Sah....!". Mereka berseru dengan semangat terutama Omen suara yang paling kuat dari yang lainnya.
" Alhamdulillah...".
Dan di lanjuti dengan doa setelah mengucapkan ijab qabul.
Tak lupa juga Egga mengucapkan sumpah janji suci pernikahan mereka kemudian menanda tangani berkas - berkas pernikahan tersebut sedangkan Ratna hanya menggunakan cap seluruh jarinya saja sebagai tanda bukti ada nya pernikahan tersebut.
Egga pun memakaikan cincin pernikahannya yang terdahulu (cincin nikah Tari) ke jari manis Ratna. Sebelumnya Ratna sudah mengembalikan cincin itu padanya.
"Sayang maafkan aku, bukan nya aku tidak ingin membelikan cincin pernikahan kita yang baru, namun pada saat ini aku hanya memiliki ini sebagai tanda cinta ku pada mu serta restu Tari untuk kita. Tapi aku janji, aku akan memberikan mu cincin pernikahan yang terbaik untuk kita berdua, asalkan kamu mau secepatnya membukakan mata kamu dan segera sembuh".
Mereka yang menyaksikan menangis sedih bercampur bahagia.
Egga mencium dahi Ratna sambil menitihkan air matanya dan berharap ALLAH menunjukkan kekuasaannya untuk segera menyadarkan Ratna.
Air mata Ratna mengalir kembali bahkan alat pendeteksi jantung berbunyi secara tidak normal.
Eggy langsung mendekatinya lalu memeriksa kondisi Ratna.
Mereka pun menjadi panik enggak karuan bahkan Bu Wardah menangis histeris.
"Bang tolong mundur bentar, aku harus memeriksa Kak Ratna secepatnya". Eggy meminta agar Egga sedikit menjauh dari Ratna.
Egga mengangguk dan ingin melepaskan genggaman tangannya namun tangan Ratna meresponnya, justru tangannya yang mengeratkan genggaman tangan Egga karena enggan untuk melepaskannya.
Sontak membuat mata Egga terbuka lebar melihat genggaman tangannya.
"Gy lihat!". Ucapnya sembari menangis bahagia.
Eggy pun melihatnya.
" Ma Sya ALLAH". Ia berseru cukup keras sehingga yang lain melihat ke arah mereka dan terdiam.
Bu Wardah langsung mendekati Ratna.
Perlahan kelopak mata Ratna bergerak - gerak seakan ingin membukakan matanya kemudian bibir Ratna pun bergetar seakan ingin berbicara. Suasana semakin membuat bulu kuduk berdiri saja.
"Sayang, bangun sayang ini Mama nak. Buka mata kamu sayang. Di sini juga ada Egga dan Tara. Sekarang Egga sudah menjadi suami kamu. Kalian bisa berkumpul lagi seperti dulu. Bangun sayang". Bu Wardah memanggilnya, air mata beliau tak hentinya mengalir.
Kemudian Tara pun mendekati mereka.
Genggaman tangan Ratna semakin erat, Egga sempat mencium tangan nya.
"Bangun lah sayang, aku di sini bersama yang lainnya. Kami menunggu kamu kembali". Batinnya berkata.
" M... Maaa". Kata pertama yang di ucapkan oleh Ratna. Mereka semakin terkejut.
Bu Wardah /"Iya sayang. Ini Mama nak. Mama di sini nak. Buka mata kamu sayang".
"M... Maaa". Ucapnya sekali lagi lalu perlahan ia mampu membuka matanya.
" Alhamdulillah Ya ALLAH". Secara serentak mereka berseru serta menangis bahagia karena menyaksikan peristiwa yang mengharukan itu.
Bu Wardah langsung memeluk tubuh Ratna.
"Alhamdulillah nak, akhirnya kamu sadar juga". Ujarnya, sedangkan Ratna masih terlihat linglung melihat ke sekeliling nya.
__ADS_1
" Terimakasih sayang. Terimakasih karena kamu kembali pada kami". Egga memandang wajah Ratna dengan mata berkaca - kaca sambil berkata di dalam hatinya.