
Masih flash back . . .
Seperti biasa Lana pergi ke kampus. Kali ini dia menemani kegiatan Dinda di kampus usai kelas mereka berakhir. Dinda dan Lana duduk di dalam ruangan khusus untuk anggota mahasiswa yang mengikuti berbagai macam kegiatan di kampus.
Dan Dinda adalah wakil ketua di salah satu kegiatan kampus tersebut.
Dinda/ "Lan . . . Sesekali kamu ikut napa sih di kegiatan kampus".
Lana/ "Males . . . Cuma buang - buang waktu".
Dinda/ "Iiissh kegiatan bagus kok di bilang buang - buang waktu sih?, aneh kamu".
Lana/ "Ya apa lagi coba kalau bukan cuma buang - buang waktu untuk ngelakui hal - hal yang enggak akan bisa buat kita cepat wisuda".
Dinda/ "hmm iya iya, tapi kali ini kamu ikut lah ya?, kali ini kegiatan nya beda, enggak bakal bikin kamu nyesel deh kalau ikutan".
Lana/ "Emang nya apa?".
Dinda/ "Kali ini kami buat kegiatan touring ke palembang bareng comunitas touring antar kota. Ya ngitung - ngitung liburan lah sama kamu. Ketimbang kamu bosan di rumah sendirian trus jalan - jalan sendiri selagi aku ke palembang mending kamu ikut.
Lana/ "Kan ada Nita yang bakalan nemeni aku selama kamu enggak ada wleeek".
Dinda/ "Hmm . . Iya iya yang punya teman banyak. ini selebaran penyelenggaraan nya, dan paling penting anak - anak comunitas touring nya pada ganteng - ganteng semua hi hi hi". Dinda menyodor kan selebaran kertas kegiatan tersebut.
Lana memperhati kan serta membaca dengan seksama selebaran itu. Hingga dia dapati sebuah nama dari sang ketua panita dari salah satu anggota comunitas touring XX. "Ariansyah Pratama" alias Ari.
Mata terbelalak ketika membaca nama itu.
"Berapa lama kita di sana?". Seperti nya Lana ingin ikut serta serta melihat nama itu yang belum tentu orang yang dia maksud.
Dinda/ "Emm sekitar 10 hari lah".
Lana/ "Kalau aku ikut entar aku sama siapa?".
Dinda/ "Kalau itu soal gampang, bisa aku atur. Kamu mau ikut enggak nih?".
"Aku pikir - pikir dulu". Lana masih memperhati kan nama Ari yang tertera di selebaran.
Dinda/ " Hemm iya jangan kelamaan mikir nya".
.
.
Lana terdiam masih memegang selebaran itu.
"Apa ini dia ya?, tapi bisa jadi nama nya aja yang sama".
"Din . . Comunitas touring yang ikut serta di kegiatan ini comunitas dari mana aja?". Lana mengirim chat WA pada Dinda.
Dinda# "Aku enggak banyak tau, soal nya banyak nama comunitas yang ikut, tapi kalau comunitas yang di medan aku tau semua". Balas nya.
Lana# "Apa - apa aja nama comunitas nya?".
Dinda# "Ada comunitas XX, ada . . . (Dan lain - lain)". Nita menyebut satu per satu nama comunitas touring yang ada di kota Medan.
Secepat kilat Lana mengecek di mbah google nama comunitas - comunitas tersebut dan memeriksa satu per satu anggota nya. Pada akhir nya dia menemu kan nama Ari beserta foto nya di pencarian nya pada comunitas XX dan dugaan nya benar bahwa dia lah orang nya.
# "Din . . . Aku ikut ". Send.
.
.
Hari dimana keberangkatan mereka menuju palembang. Sebelum nya mereka harus berkumpul di suatu lapangan yaitu lapangan merdeka medan. Lana dan Dinda serta yang lain nya sudah berkumpul tak ketinggalan sosok Ari yang masih berada di sekumpulan panitia. Mata Lana liar mencari sosok itu hingga dia dapati sosok itu sedang berjalan melewati nya dan akan memandu keberangkatan mereka.
Lana terpaku menatap nya yang berjalan melewati nya dan seperti mimpi pada akhir nya dia ketemu lagi dengan Ari. Jantung nya berdegup kencang memperhati kan Ari yang sedang berbicara di depan.
"Lan . . Ayok". Dinda membuyar kan lamunan nya menarik tangan Lana.
Mereka siap untuk berangkat. Lana berboncengan dengan ketua kegiatan di kampus nya sedang kan Dinda bersama dengan pacar nya. Mereka berada di barisan paling depan sejajaran dengan ketua ketua lain nya salah satu nya Ari yang berboncengan dengan wakil nya. Tak ketinggalan Eggy dan Omen yang ikut serta.
Tiba di lokasi alias di Palembang. Perhatian Lana tak lepas pada gerak gerik Ari.
"Din . . Aku mana ngerti ini masang tenda nya". Lana kualahan dengan tenda yang di serah oleh Dinda untuk nya.
Dinda/ "Maka nya kamu itu sering - sering ikut kegiatan kayak gini, jadi biar ngerti".
"Ya udah kalau gitu kamu lah yang masangi tenda nya". Lana menjatuh kan tenda itu.
Dinda menepuk jidad nya.
"Aku enggak bisa soal nya aku di kasi tugas untuk mencatat semua nama - nama anggota. Bentar deh, aku suruh dulu si ketua masangi tenda kamu". Dinda pergi meninggal kan Lana bersama tenda nya.
Lana jongkok memungut tenda yang dia jatuh kan tadi.
"Hufft kalau bukan karna dia, enggak bakalan aku ikut". Dumel nya.
"Perlu bantuan?". Seseorang mengaget kan nya dan dia mendongak ke atas melihat sosok itu, ternyata Ari yang menawar kan bantuan sembari tersenyum.
Ari membantu nya untuk memasang kan tenda itu. Lana yang masih tak percaya hanya bisa menatap Ari yang wajah nya terlihat lusuh dan capek. Tak sedetik pun dia berpaling ke pandangan yang lain. Pandangan nya hanya tertuju pada Ari yang hampir selesai memasang tenda, tanpa sadar kawat tenda yang dia pegang terlepas dari tangan nya sehingga Ari tersandung karna tak melihat kawat tersebut.
"Shh au ". Kaki serta siku milik Ari lecet lecet terlebih lagi darah yang mengalir di siku nya.
Perlahan Ari mencoba bangkit dan sedikit meringis.
"Kamu enggak apa - apa?". Mata Lana terbelalak dan sigap membantu Ari bangkit.
Ari/ "Shh enggak apa apa".
"tapi itu kamu berdarah". Lana itu menunjuk kan ke arah siku Ari.
"Ouh iya enggak apa apa, cuma lecet dikit aja, aku bersihi ini dulu, nanti aku lanjuti bantui kamu buat tenda nya". Ari memeriksa siku nya yang berdarah.
"Tunggu, sini biar aku obati aja bentar". Lana menahan Ari pergi dan mengambil kotak p3k milik nya dan menyuruh Ari duduk. Ari menuruti nya. Dengan telaten dan hati - hati Lana mengobati luka lecet yang Ari dapati karna ulah nya.
"Shh au". Rintih nya karna perih nya obat ketika di olesin pada luka.
Dengan sigap Lana meniupi siku Ari.
"Makasi ya".
"Iya sama sama, oh ya ken . . . ". Lana mengulur kan tangan nya dan bermaksud ingin berkenalan dengan Ari namun Terputus . .
"Ariiiiii . . . ". Terdengar suara teriakan milik seorang cowok sengak berambut gondrong yang tak lain Omen memanggil Ari.
Dan lagi Ari pergi meninggal kan Lana tanpa berkenalan. Lana hanya menatap Ari yang tak menoleh ke belakang melihat nya.
.
.
Malam acara pendekatan antara member lama dan member baru antar comunitas dari berbagai kota.
Semua para member sudah pada kumpul membuat formasi melingkar yang di tengah tengah nya sudah tersedia kayu bakar yang di jadi kan api unggun.
Lana melihat sosok Ari yang masih terlihat lusuh namun tetap ganteng berdiri di tengah tengah yang tak jauh dari api unggun untuk memandu acara pada malam itu.
__ADS_1
Lana dan Dinda duduk bersebelahan di antara lain nya.
"Ehh liat deh itu bang Eggy cakep banget kan?, iiiihhh ihhh". Dinda membisik kan nya ke telinga Lana sembari melihat pesona Eggy yang bikin klepek - klepek.
Lana/ "Apaan sih Din?, ntar aku bilang ke pacar mu baru tau rasa kamu". Ancam nya.
"Iih jangan lah, enggak asyik banget sih kamu". Dinda memukul pelan lengan Lana.
Lana/ "Maka nya enggak usah ganjen, udah punya pacar masih aja ngelirik cowok lain".
Dinda/ "Siapa yang ganjen?, lagian kan enggak ada salah nya aku menikmati keindahan dari sang Maha Pencipta yang enggak boleh di sia - sia' in he he he".
Lana melirik sosok Eggy yang tak bisa di pungkiri makhluk ALLAH yang satu ini.
"Hemm emang sih dia cakep, tapi sama aku dia biasa aja".
Dinda/ "What?, yang gitu luar biasa nya kamu anggap biasa aja, kamu normal enggak sih Lan?".
Lana/ "ya normal lah, sembarangan aja kamu, maksud aku itu emang dia cakep tapi dia terlalu cakep dan bukan tipe aku banget".
Dinda/ "Ya ampun Lan Lan, aku heran sama kamu, cowok yang enggak cakep bukan tipe kamu, cowok yang super duper cakep bukan tipe kamu juga. Jadi tipe cowok kamu itu yang kayak gimana Lan?".
"Tipe cowok aku itu, dia biasa - biasa aja, enggak cakep banget dan enggak jelek juga tapi dia menarik dan sedikit sengak, dia cuek, enggak terlalu ramah sama cewek - cewek, terlihat pendiam padahal supel". Ujar nya sembari melihat Ari yang akan membawa kan acara tersebut.
Ari/ "Assalamualaikum warahmatullahhi wabarakatuh. Selamat malam dan salam sejahtera untuk kita semua".
"Waalaikumsalam warahmatullahhi wabarakatuh, malam juga".
Mata Lana tak lepas melihat Ari. Dan tertangkap oleh mata Dinda.
"Maksud kamu kayak bang Ari?". Bisik nya.
Sentak Lana menoleh ke arah Dinda, ia terkejut dengan tebakan Dinda yang benar.
.
.
Lana yang baru keluar dari tenda nya melihat yang sudah terbangun lebih dulu dari yang lain berjalan menapaki jalan setapak yang sedikit mendaki dan di kelilingi pepohonan tinggi. Dia melihat Ari tengah sibuk mencari sinyal sembari tangan nya yang menggenggam hp nya di naiki ke atas.
"Lagi nyarik sinyal ya?". Lana menghampiri nya dan mengaget kan Ari.
"Ehh iya". Ari menoleh kebelakang melihat nya dan tersenyum.
"Hmm kalau di tempat - tempat kayak gini emank payah ya nyarik sinyal".
"Iya ". Ari masih berusaha dengan hp nya dan berjalan kecil, Lana pun mengikuti nya berjalan di samping nya.
"Oh ya aku Lana". mengulur kan tangan nya pada Ari.
"Ari". Dia pun menyambut nya.
Lana/ "Aku tau kok, aku sengaja memperkenal kan diri aku lagi ke kamu walau pun aku tadi malam udah memperkenal kan diri tapi kan kamu udah pasti lupa he he he".
Ari hanya tersenyum.
Mereka masih berjalan kecil dan tanpa sadar sudah jauh dari kumpulan mereka. Tak jauh dari mereka berdiri mereka melihat satu tempat kecil yang begitu klasik, yaitu toko souvenir.
Mata Ari dan Lana begitu liar melihat se isi toko begitu berada di dalam toko tersebut.
Lana memperhati kan Ari yang sedang berdiri memperhatikan gelang - gelang yang terbuat dari bambu.
"Waaah gelang nya bagus, unik banget". Lana tiba tiba mengaget kan Ari, lagi.
"Kamu suka?". Ari menyodor kan gelang itu pada Lana.
"Suka sih, tapi bukan tipe aku banget he he he karna aku enggak pernah pakek gelang kayak gini". Lana meletak kan gelang itu pada tempat nya semula dan memperhatikan gelang bling bling yang ada di sebelah rak gelang bambu tadi.
"Makasi banyak ya udah ngebayari belanjaan aku, enggak seharus nya kamu yang bayar". Lana menenteng bungkusan belanjaan yang dia beli.
Ari/ "Iya enggak apa apa, ngitung ngitung ngebayar karna kamu udah nolongi aku kemarin".
Lana/ "Hmm aku kan enggak minta imbalan sama kamu". Cemberut.
Ari/ "He he he iya maaf, aku enggak ada maksud menyinggung kamu".
Lana/ "hmm iya aku ngerti, oh ya gelang tadi jadi kamu beli ya kan?".
Ari/ "Iya". Mengangguk kan kepala nya.
Lana/ "Kamu beli itu untuk siapa?, kan gelang cewek. Untuk pacar kamu ya?".
Ari/ "Iya untuk pacar aku he he".
"Pacar?". Batin nya.
Sentak wajah Lana berubah, Lana nanyak itu bermaksud basa basi dan berharap kalau bukan kalimat "Iya untuk pacar aku" yang terucap dari mulut Ari. Lana tersenyum getir.
Di sepanjang jalan Mereka hening hingga sampek di kumpulan mereka. Apa lagi Lana yang merasa sakit ketika mengetahui kalau Ari sudah memiliki pacar
.
.
Lana menarik nafas nya lalu menghela kan nya mengingat perkataan Ari sembari menepuk - nepuk dada nya yang terasa nyesek.
"Huh . . . ". Dia memberes kan barang - barang nya mengingat itu adalah haru terakhir mereka berada di tempat itu.
"Butuh pertolongan?". Ari mengaget kan Lana yang sedang kesulitan melipat tenda milik nya.
"Ehh iya ini, susah banget di lipat". Lana menunjuk kan kesulitan yang dia alami.
"sini biar aku coba". Ari pun jongkok di samping Lana dan lihay memudah kan kesulitan Lana pada tenda nya.
Lana tak henti menatap Ari yang wajah ya sedikit mengeluar kan kringat. Tak butuh waktu lama Ari pun selesai mengemasi tenda itu. Lana menyodor kan selembar tissue pada Ari untuk mengelap kringat nya.
"Makasi". Ujar nya sembari tangan mengambil tissue itu dan mengelap wajah nya.
Lana/ "Beruntung ya yang jadi pacar kamu".
Ari menoleh ke arah Lana yang memandangi pemandangan yang ada di hadapan mereka.
"Beruntung?".
Lana/ "Iya beruntung, kamu itu orang nya baik, enggak terlalu ramah sama cewek, setia, ganteng malah ("Aku suka". Batin nya) he he he".
.
.
Sepanjang perjalanan Ari dan Lana mulai akrab bahkan Ari sempat bertukaran sama yang ngeboncengi Lana alias Ari yang ngeboncengi Lana. Di sepanjang jalan mereka mengobrol banyak hingga akhir nya mereka tiba di Medan.
Lana/ "Makasi banyak ya ". Tersenyum.
Ari/ "Iya sama - sama, kamu pulang naik apa?".
Lana/ "Aku bawa mobil, mobil nya aku titipin di tempat parkir".
__ADS_1
Ari/ "Ouh gitu, ya udah aku duluan ya, kamu hati hati di jalan . . .".
Lana/ "Ari tunggu dulu, hmm aku boleh enggak minta nomor hp kamu dan id chat kamu?".
"Mmm boleh ". Ari mengeluar kan hp nya dan menunjuk kan barcode id milik nya.
Lana/ "Udah, makasi banyak ya, nanti kalau aku nge hubungi kamu boleh kan?".
Ari/ "I . . Iya boleh".
Lana/ "Ya udah kamu hati hati di jalan ya".
Ari menghidup kan mesin sepeda motor nya dan tersenyum pada Lana yang masih menunggu kepergian nya. Lana merasa bahagia pada akhir nya dia bertemu kembali dengan sosok yang dulu membuat nya semangat menjalani hari - hari nya bahkan kini dia sudah akrab dengan Ari.
Setelah bertukaran nomor hp dan id chat Lana sering berkomunikasi pada Ari.
Lana# "Kamu lagi ngapain?". Send to Ari.
Ari# "Lagi rebahan aja sambil main hp. Kamu?".
Lana# "Lagi makan mie ayam nih".
Ari# "Wah enak donk makan mie ayam, mau donk aku nya".
Lana# "Mau?, kesini lah kamu hi hi hi".
Ari# "Ahh enggak mau lah, aku capek mau istirahat soal nya besok aku mau mancing sama Papa aku".
Lana# "Mancing?, wah seru tuh, kamu mancing dimana?".
Ari# "Rencana nya sih di pemancingan di daerah percut".
Dan bla bla bla bla . . .
.
.
"Pa . . . Besok Papa ada acara enggak?". Lana mencoba membujuk sang Papa yang baru tiba di Medan.
Papa/ "Besok mau ke gudang, mau ngecheck stock. Kenapa?".
Lana/ "Besok kita mancing yok Pa?".
Pak Baim terkejut dengan ajakan anak nya itu dan menoleh.
"mancing?, tumben?, bukan nya kamu paling enggak suka ya sama yang nama nya mancing, setiap Papa ajak kamu slalu enggak mau. Ini kenapa tiba - tiba ngajakin Papa mancing?".
Lana/ "Aku pengen aja Pa".
Papa/ "Enggak mungkin, ini pasti ada alasan nya, Papa tau kamu, enggak mungkin kamu tiba - tiba pengen sesuatu yang enggak kamu suka. Kamu lagi dekat sama seseorang ya?". Curiga.
Lana/ "Iih Papa apaan sih". Tersipu malu.
Papa/ "Ayo ngaku. Kamu lagi pacaran sama cowok yang suka mancing kan?".
Lana/ "Papa . . . .". Wajah nya memerah.
Papa/ "Ayo cerita ke Papa, siapa cowok itu, mana tau Papa kenal sama orang tua nya jadi biar gampang Papa nerima nya kalau dia ngelamar kamu".
Lana/ "Iiiih Papa jangan buat aku makin malu donk, Papa enggak kenal sama dia, mungkin".
Papa/ "Coba dulu liat foto nya mana tau Papa benar".
Dengan malu - malu Lana menyodor kan foto - foto Ari yang dia ambil dari album sosial media nya. Pak Baim memperhati kan satu per satu foto Ari hingga dia menemu kan foto Ari bersama dengan kedua orang tua nya.
"Lho ini kan si Hadi teman Papa sekolah dulu". Sentak nya mengaget kan Lana.
Lana/ "Papa seriusan?".
Papa/ "Iya Papa serius, jadi pacar kamu anak nya teman Papa?".
Lana/ "Dia belum jadi pacar aku Pa trus aku juga enggak tau kalau Papa nya teman sekolah nya Papa".
Papa/ "Waaah kalau kayak gini mah Papa setuju dan dukung kalau kalian berdua, bahkan kalian harus berjodoh, karna dulu Papa sama Om Hadi pernah ngobrol - ngobrol iseng bakal ngejodohi anak kami dan sekarang tanpa di jodoh kan kalian sudah berjodoh. Ya udah ntar Papa atur biar besok kita mancing bareng sama mereka. Papa udah enggak sabar mau ketemu mereka".
Lana merasa senang pakek banget - banget karna sang Papa mendukung diri nya. Rencana Pak Baim pun sukses mengatur agar mereka bisa mancing bareng dengan berbagai cara. Lana gelisah menunggu ke datangan Ari dan Papa nya.
"Pa . . . Kok mereka belum sampek juga ya?". Ujar nya yang mondar mandir enggak jelas.
Papa/ "Yaaa kamu yang sabar aja paling bentar lagi mereka nyampek".
Lana/ "Hemm oh ya Pa ntar Papa pura - pura enggak tau aja ya seperti kebetulan gitu lah cerita nya".
Papa/ "iya Papa ngerti, Papa faham soal gitu - gitu, kamu tenang aja".
Lana/ "Siiip Pa. Oh ya Aku ke toilet dulu ya Pa, kebelet".
Papa/ "Iya, jangan lama - lama, ntar mereka nyampek".
Tanpa mendengar ucapan Papa nya dia sudah lari ngacir menuju toilet. Dan tak lama kemudian Ari dan Pak Hadi pun tiba dan menghampiri Pak Baim.
Dan sesuai rencana, Pak Baim dan Lana yang pura - pura seolah - olah ini adalah kebetulan. Lana di perkenal kan dengan Ari dan di tinggal berdua oleh kedua Papa mereka untuk semakin dekat. Mereka mengobrol dan bercanda tawa di pinggir kolam yang sudah tersedia.
Pak Baim tersenyum bahagia melihat anak nya bahagia bersama anak teman nya itu dan berencana untuk menjodoh kan mereka berdua.
.
.
Lana semakin sering mengisi waktu Ari untuk diri nya dan membuat Ari tak meluang kan waktu nya untuk Almira. Meski dia tau Almira sering nge chat dan minta waktu Ari untuk Almira tapi Lana tak membiar kan Almira mendapat kan nya.
Ari sering mengantar jemput nya kemana pun dia pergi bahkan dia menyerah kan mobil nya pada Ari. Mereka sering jalan bareng walau hanya sekedar makan bersama.
Mereka seperti pasangan yang sudah berpacaran.
.
.
"Kamu kenapa?, dari pertama datang aku perhatiin kamu nya kayak lagi banyak pikiran gitu". Lana duduk mendekati Ari yang sejak dia datang ke rumah Lana dengan tampang tak semangat.
"Aku enggak apa - apa, cuma lagi kurang tidur aja tadi malam". Sangkal nya berusaha tersenyum.
Lana/ "Ouhmm, kamu enggak lagi ada masalah kan sama pacar kamu?".
Ari/ "Kayak nya aku pulang aja ya, soal nya badan aku agak enggak enak".
Lana/ "Ouh ya udah ("Ini pasti karna pacar nya". Batin nya.)".
Ari/ "Ya udah salam aja ya sama Papa Mama kamu kalau mereka udah pulang".
"Iya . . ". Lana mengantar nya sampai di depan pintu rumah nya mengikuti Ari yang berjalan di depan nya, beberapa langkah Ari menghenti kan langkah nya dan membalik kan badan nya, mata Lana terbelalak tiba - tiba Ari berbalik untuk mencium nya. Jantung nya berdegup kencang, meski pun begitu namun Lana membalas nya tanpa penolakan.
"Sorry . . . ". Ari pergi meninggal kan Lana yang masih terpaku dengan hati yang berbunga bunga menatap kepergian Ari.
Lana enggak bisa membayang kan apa yang telah terjadi barusan. Ini seperti mimpi bagi nya. Dia merasa bahagia dan berhasil memenang kan hati lelaki yang dia cintai sejak SMA.
__ADS_1
Meski Lana tau itu bukan lah pernyataan cinta dari Ari, tapi Lana masa bodo dengan hal itu, dia memberi tahu kepada orang tua nya dan orang tua Ari kalau mereka sudah berpacaran dan tanpa malu dia bercerita kalau Ari sudah mencium nya.
Ari sudah tidak bisa mengelak nya mengingat kedua orang tua nya bahagia mengetahui hubungan mereka dan berencana akan menikah kan mereka.