Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 29 #S3


__ADS_3

"Suam... Cerita lah kejadian tadi malam. Cerita kejadian Bang Omen sama Widya". Pagi - pagi buta Almira sudah sibuk menuntut apa yang di janji kan oleh Eggy pada nya, sedang kan Eggy baru saja pulang dari mesjid untuk melaksana kan sholat subuh. Almira sudah tidak sabar karena rasa penasaran yang ia simpan sejak tadi malam kini semakin memuncak.


" Ya ALLAH sayang.... Masih pagi lho, malah belum terbit lagi tuh matahari nya sudah mau nyeritain orang saja. Ist sudah sholat subuh belum?". Eggy menepuk jidat nya lalu geleng kepala lihat istri nya yang kepo nya minta ampun.


Almira mendekat kan wajah nya pada wajah Eggy sambil merengek.


"Sudah. Cerita lah Suam. Iiih Suam suka kali lah kayak gitu. Suka kali dia buat istri nya mati penasaran huffft". Dumel nya sambil memanyunkan bibir nya.


Spontan Eggy menutup mulut nya.


" Sssst... Jangan ngomong mati - mati, ngerti? Lagian sabar lah sayang, Suam pasti cerita kok sama Ist, cuma yaa enggak sepagi ini juga". Eggy menarik bibir Almira, gemes.


Almira merengut kan wajah nya tanpa berkata apa - apa lagi. Eggy tertawa kecil melihat tingkah istri nya akhir - akhir ini semakin seperti anak kecil yang manja, justru Almira yang nampak cuek dan lebih sabar sudah hampir tak terlihat lagi sejak kehamilan nya yang kedua ini.


Eggy menarik tubuh Almira kemudian memeluk nya dari belakang.


"Jangan merengut kayak gitu lah sayang, nanti cepat tua, terus muka nya keriput, daaaah tak cantik lagi hi hi hi". Bisik nya pada telinga Almira.


"Terus kalau Ist sudah enggak cantik lagi, Suam jadi enggak cinta lagi gitu sama Ist nya?". Tanya nya sembarangan sambil mencubit kecil tangan Eggy yang melingkar di pinggang nya.


" Emm... Masih enggak ya?".


Sontak membuat Almira membalik kan badan nya.


"He he he he masih donk sayang. Kan Suam cinta sama Ist bukan karena kecantikan fisik yang Ist miliki melainkan karena kecantikan akhlak yang Ist miliki". Ujar nya sambil mencubit pipi Almira dan tersenyum semanis mungkin.


Almira hanya menatap wajah Eggy dengan serius tanpa merespon nya.


"Mmm... Iya lah. Kalau di perhatiin muka Suam itu memang beneran cantik deh, malah kalau di tengok lagi lebih cantik Suam lagi dari pada Ist. Tapi heran nya Ist enggak tahu cantik nya dari mana".


#Gubraaaaak.....


Eggy terbodoh menatap istri nya sedang memperhatikan wajah nya sambil berkata bahwa ia cantik. Eggy menggaruk kepala nya, stres.


"Ist... Terserah Ist lah mau bilang Suam cantik kek mau bilang Suam Tampan kek, terserah Ist lah pokok nya. Tapi ingat! Jangan bilang - bilang nya di depan orang lain apa lagi di depan anak kita, cukup kita berdua saja ehh bertiga sama ALLAH". Eggy menunjuk kan jari nya ke langit - langit.


Almira menggelengkan kelapa nya.


"Mm... Mm.. M... Bukan bertiga, tapi berempat". Ralat nya sembari mengelus perut nya.


" Haiiih... Iya iya, berempat. Pokok nya jangan sampai di dengar sama orang lain".


Almira mengangguk kan kepala sambil tersenyum lebar, lalu...

__ADS_1


"Siap Suam yang cantik hi hi hi".


" Huuuuuh...". Eggy menghelakan nafas nya dengan lesu.


"Ya sudah, Suam mau siap - siap dulu mau berangkat ke rumah sakit. Ist mau ikut sekalian enggak? Sekalian ngejenguk Lutfi". Eggy melepaskan pelukan nya dari berjalan menuju ke lemari baju nya.


" Mau... Mau... Mau... Ehh.. Tapi... Kalau Ist ikut Suam sepagi ini siapa yang ngantarin Ghifari sekolah".


"Ya sudah, kalau gitu abis ngantar Ghifari sekolah saja Ist ke rumah sakit nya tapi enggak sama Suam lah berangkat nya, atau kalau enggak pas Ghifari pulang sekolah saja, jadi Suam bisa menjemput kalian. Gimana?". Eggy mencari solusi untuk memudahkan istri nya sambil mengambil baju kemeja nya yang ada di dalam lemari.


" Hmm... Ya sudah, lihat nanti saja lah Suam. Nanti Ist kabari Suam nya, soal nya kan enggak tahu juga mood Ghifari hari ini gimana, bisa jadi nanti dia sekolah, enggak mau Mommy nya tinggal".


Eggy tersenyum simpul.


"Hemm ya sudah, terserah Ist nya saja".


Dahi Eggy mendadak mengerut ketika ia mendapatkan selembar sapu tangan berwarna merah maroon yang terlipat rapi di sejajaran tempat khusus hijab Almira. Eggy mengambil sapu tangan itu dan memperhatikan nya. Ia sama sekali belum pernah melihat sapu tangan itu.


" Ist baru beli sapu tangan ya? Kok tumben?". Ia bertanya sambil memperhatikan sapu tangan itu kemudian mencium aroma parfume pria yang melekat pada sapu tangan tersebut. Dan aroma parfume tersebut pun bukan aroma parfume milik nya.


"Ha? Enggak kok. Lagian sejak kapan Ist beli sapu tangan, Ist kan lebih suka pakai tissue ketimbang pakai sapu tangan". Almira mengerutkan dahi nya lalu menghampiri Eggy.


" Jadi ini sapu tangan siapa?". Eggy menunjuk kan nya pada Almira.


"Oh... Itu sapu tangan punya Ari". Jawab nya tanpa pikir panjang.


Sontak membuat hati Eggy terbakar api cemburu. Bagaimana tidak? Barang milik sang mantan kekasih masih di simpan oleh istri nya. Mood Eggy berubah seketika, ia meletak kan kembali sapu tangan itu ke tempat semula lalu beranjak keluar kamar tanpa menutup lemari nya kembali.


"Oh. Suam mau banguni Ghifari dulu, nanti dia kesiangan ke sekolah nya".


Almira mengangguk pelan dan masih bingung kenapa Suami nya mendadak datar.


" Hemm".


"Oh.. Itu sapu tangan punya Ari".


Jawaban Almira yang begitu enteng masih terngiang di telinga Eggy. Rasa geram menjalar pada diri nya, sempat ia menghentikan langkah kaki nya sambil memukul dinding rumah nya sehingga meninggal kan luka pada jari - jari nya, lalu ia kembali berjalan menuju ke kamar anak nya.


Eggy tanpa berbicara sepatah kata pun di saat mereka sarapan pagi bersama, ia mencoba menutupi jari - jari nya yang terluka dari anak dan istri nya. Eggy begitu fokus dengan nasi goreng buatan Almira dengan tampang yang datar. Bahkan setelah sarapan ia langsung berangkat ke rumah sakit tanpa melakukan ritual selamat pagi dan semangat berkerja bersama Almira seperti biasa nya.


"Suam berangkat, Assalamualaikum". Ujar nya sambil berjalan cepat keluar rumah.


" Tunggu... Tunggu... Suam... ". Almira berlari meninggal kan sarapan nya untuk mengejar Eggy ke dapan, langkah kaki Almira kalah cepat, Eggy sudah berlalu dengan mobil nya.

__ADS_1


" Jiaaah... Sudah pergi. Apa lagi dapat panggilan darurat ya? Maka nya Suam buru - buru kayak gitu sampai - sampai enggak sempat nyium istri nya hmmm". Almira memasang wajah kecewa nya, namun begitu ia masih berprasangka baik pada Suami nya.


"Haiii Almira". Tiba - tiba sang tetangga ganjen alias Devi menyapa nya dari balik tembok rumah nya, dia rela memanjat ke tembok demi bisa melihat tetangga sexy nya itu alias Eggy, dengan begitu ceria ia melambaikan tangan nya pada Almira.


Almira terkejut menoleh pada nya lalu tersenyum getir.


" Hai Kak Devi".


"Waaah kamu hamil lagi ya Al?". Devi baru menyadari nya setelah ia memperhatikan perut Almira dengan seksama.


" He he he iya Kak Devi". Jawab nya tersipu.


"Waaah memang top banget ya Eggy itu, enggak sia - sia dia punya kesexian yang begitu menggoda kayak gitu fu fu fu. Saya saja suka enggak tahan kalau sudah melihat suami kamu itu, apa lagi kamu ya yang setiap hari nya sama - sama, yang pasti sudah lihat luar dalam nya fu fu fu, pokok nya suami kamu itu sexy nya minta ampun deh fu fu fu fu". Tutur nya dengan malu - malu dan genit.


Almira tercengang melihat nya dan tertawa getir.


" Ha? He he he Kak Devi bisa saja".


(Bisa gawat kalau punya tetangga kayak gini terus janda pulak lagi, kabooooor ha ha ha).


"Ya sudah Kak Devi, saya masuk ke dalam dulu ya? Kasihan anak saya di tinggal sendirian di dalam". Almira tidak ingin berlama - lama mengobrol dengan tetangga nya itu, yang ada akan memancing emosi Almira saja.


" Oh iya iya silahkan fu fu fu".


"Mari kak".


Almira pun masuk dengan tampang kesal dan menggerutu sendiri.


" Ihh dasar tetangga genit, pakai bilang - bilang enggak tahan lagi kalau lagi lihat Suam, dia pikir enggak dosa apa lihat - lihat lakik orang apa lagi sampai berani ngegoda lakik orang. Itu sama saja sudah zinah nama nya. Awas saja sampai berani ngegoda Suam, huffft ngeseliiiiiiiin". Almira merapatkan gigi nya karena kesal bin geram sama tetangga nya itu.


"Mommy kenapa? Kok marah - marah gitu? Daddy bikin kesal Mommy lagi ya?". Tiba - tiba Ghifari muncul mengagetkan nya. Ia heran melihat Mommy nya marah - marah enggak jelas.


" Eh.. Enggak apa - apa kok sayang. Daddy enggak bikin Mommy kesal kok he he he. Oh ya Ghifari sudah siap sarapan nya?". Almira memegang pundak Ghifari sambil tersenyum ceria dan membuang kekesalan nya.


Ghifari mengangguk kan kepala.


"Sudah Mom. Tapi sarapan Ghifari enggak habis, soal nya Ghifari sudah kenyang kali, jadi Ghifari enggak sanggup menghabiskan nya". Ia berkata sambil memegang perut nya.


" He he he, Alhamdulillah kalau anak Mommy sudah kenyang, enggak apa - apa kalau enggak sanggup menghabiskan nya, tapi lain kali Ghifari enggak boleh menyisakan makanan nya lagi ya sayang, itu nama nya mubazir, nah kalau mubazir itu kawan nya...?".


"Syaiton". Ghifari menyambung kalimat Almira.


" Pintar anak Mommy nih, ummm gemes mommy nya... Ya sudah, kalau gitu yuk kita siap - siap mau berangkat ke sekolah, biar makin pintar anak Mommy dan Daddy". Almira menuntun anak nya berjalan menuju ke kamar nya untuk bersiap - siap berangkat ke sekolah.

__ADS_1


__ADS_2