Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 50 #S3


__ADS_3

#Tok... Tok... Tok...


Egga mengetuk pintu kamar Tara alias Siboy lalu memanggilnya.


"Tara...".


Tara pun membuka pintunya, ia masih terlihat lusuh karena baru bangun tidur.


" Iya Pa". Jawab nya sembari mengedip - ngedipkan mata nya dan melihat Egga sudah rapi dengan baju setelan kerjanya.


"Kamu mandi abis itu siap - siap yang rapi. Kalau sudah siap kamu turun segera untuk sarapan abis tuh kamu ikut Papa keluar". Begitu tegas dan disiplin ia berkata pada anak angkat nya itu.


Tara menganggukkan kepalanya.


"Iya Pa". Tanpa bertanya ia menuruti apa kata Egga.


" Ya sudah, Papa tunggu kamu di bawah". Egga beranjak meninggalkannya lalu turun ke lantai bawah.


Egga meraih secangkir kopi yang sebelumnya sudah di buatkan oleh asisten rumah tangganya, lalu ia menegukkan nya ke dalam tenggorokannya. "Slrruupt".


Egga tampak sedikit gelisah, ia berulang kali melirik jam tangannya dan kini sudah menunjukkan pukul 7 pagi lalu melihat ke lantai atas. Tak lama yang ia tunggu pun muncul dengan penampilan yang terlihat tampan dan keren. Melihat Tara dengan mengenakan pakaian yang ia belikan membuat Egga menyadari bahwa penampilan dapat mengubah seseorang terlihat jauh berbeda.


Tara berjalan mendekatinya, ia masih merasa canggung dan belum terbiasa dengan kehidupan baru nya.


"Maaf Pa karena Tara terlalu lama turunnya soalnya tadi Tara agak kesulitan untuk mandi karena di kamar mandi enggak ada bak mandi nya jadi agak bingung juga mau mandi tapi enggak ada air nya, jadi Tara ngambil air nya dari dispenser untuk mandi dan harus bolak balik mengambilnya". Tutur nya sembari menggaruk kepalanya.


Sekali lagi Egga menepuk jidatnya sembari tertawa karena ketidak tahuannya tentang fasilitas yang ia beri.


"Apa? Jadi kamu mandi pakai air dispenser? Ya ALLAH Tara ha ha ha. Di kamar mandinya memang tidak ada bak mandinya karena menggunakan shower ha ha ha. Kamu lihat enggak di dalam kamar mandi ada 2 tombol di dinding?".


" Lihat Pa". Tara mulai menundukkan kepala nya karena malu.


"Nah, itu tombol menghidupkan shower nya, yang satu tombol untuk mengeluarkan air hangat dan yang satu nya lagi untuk air dingin".


" Oh, Tara pikir itu tombol lampu Pa". Ucapnya dengan polos.


Egga benar - benar merasa lucu dan ngakak.


"Ha ha ha, Ya ALLAH. Ya sudah kamu sarapan saja dulu, nanti Papa bakalan kasih tahu kamu cara menggunakan semua fasilitas di rumah ini. Ya ALLAH, ha ha ha enggak kebayang Papa ngeliat kamu bolak balik ngambilin air dispenser untuk mandi wk wk wkk kkk".


Tara tertawa malu sembari melirik Egga yang duduk di depan nya lalu menyantap sarapannya.


"Oh ya, hari ini Papa akan membawa kamu ke rumah adik Papa yang bakalan jadi Om kamu. Papa akan mengenalinya sama kamu. Tapi sebelum kita ke sana, ada yang mau Papa tanya ke kamu dan kamu harus jawab jujur ke Papa. Waktu itu kamu di tabrak orang atau di pukulin orang?".


Pertanyaan Egga sontak membuat Tara berhenti menyantap sarapannya karena ia terkejut dan wajah nya menjadi pucat pasih.


Ia menelan ludah nya karena ketakutan, bahkan ia enggan melihat wajah Egga.


"Tara jawab Papa. Kamu terluka kemarin itu karena di tabrak orang atau di pukulin orang?". Egga menegaskan pertanyaannya, ia memandangnya serius, meski ia tahu kalau Tara sudah merasa ketakutan untuk menjawabnya, namun apa lah daya, tega enggak tega Egga harus melakukannya.


" D.. Ddi pukulin Pa". Jawabnya dengan gugup.


"Papa pikir kamu enggak akan menjawabnya dengan jujur karena Papa sudah tahu yang sebenarnya soalnya Mama Ratna melihat kejadian pada saat kamu di pukulin sama orang - orang berpenampilan berandalan waktu itu, tapi Papa mau tahu bagaimana bisa kamu di pukuli sampai kamu hampir kehilangan nyawa kamu seperti itu".


Perlahan ia memberanikan dirinya untuk mengangkat kepalanya untuk melihat Egga. Ia masih merasa ragu dan takut untuk menceritakannya pada Egga.


"Jadi kamu enggak mau cerita bagaimana kejadiannya? Oke, mungkin kamu butuh waktu untuk menceritakannya ke Papa dan Papa akan tunggu sampai kamu mau menceritakannya".


Bocah berumur hampir 9 tahun itu menundukkan kepalanya kembali lalu menghembuskan nafasnya.


"Tara di pukuli mereka karena Tara tidak punya uang untuk mereka. Sebenarnya bukan waktu itu saja tapi setiap kali mereka ketemu Tara, mereka pasti memukuli Tara cuma sebelum - sebelumnya tidak separah ini. Bukan cuma Tara saja tapi anak jalanan lainnya pun juga di pukuli sama mereka. Mereka itu anak punk yang suka ngelem, nyabu dan suka memalak penghasilan anak - anak jalanan seperti Tara, kalau mereka cuma mendapatkan uang nya sedikit dari kami, mereka langsung memukuli kami, bahkan ada


salah satu anak jalanan yang mati terbunuh karena mereka tidak mendapatkan duit sedikit pun dari anak itu. Sebenarnya Tara ingin sekali menceritakan soal itu ke orang lain dan melaporkan mereka ke pihak yang berwajib tapi karena kami di ancam sama mereka jadi kami enggak berani untuk menceritakannya".


Egga merasa geram mendengarkan cerita pedih anak angkat nya itu selama ia hidup di jalanan. Giginya gemeretuk.


"Mereka mengancam apa sama kalian?".


" Mereka mengancam akan membunuh kami semua".


"Huh... Jadi kalian takut sama ancaman itu? Apa kalian enggak berpikir toh kalian juga bakalan bisa mati terbunuh karena memenuhi apa mau nya mereka. Apa kalian enggak pernah berpikir juga kalau kalian berani melaporkan mereka, kalian bisa bebas dari mereka. Kalau kalian hanya diam karena takut di ancam, kalian akan selama nya hidup di tindas sama orang - orang seperti mereka dan nyawa kalian juga terancam". Nada suara Egga terdengar emosi dan tinggi.


"Mau macam mana lagi Pa, kami ini tak punya daya untuk itu. Mungkin pak polisi enggak bakal percaya dan enggak peduli soal penderitaan kami karena mereka pasti menganggap kami juga sama seperti anak berandalan itu". Lirihnya.


Egga memejamkan matanya sejenak sembari memegang dahi nya.


"Huh... Ya sudah, kamu tenang saja. Papa akan mengurus semuanya. Kamu enggak perlu takut, kamu cukup bantu Papa mendapatkan bukti untuk bisa menangkap mereka. Dan Papa juga butuh kesaksian dari teman - teman kamu yang sudah di aniaya oleh mereka, lagian mereka juga pasti akan tertangkap karena mereka sudah menggunakan narkoba, tapi Papa enggak mau mereka ketangkap karena menggunakan obat terlarang itu, Papa mau mereka menebus apa yang mereka lakukan pada kalian".


"Tapi Pa, mereka berbahaya dan Papa juga sudah melarang Tara untuk tidak boleh lagi menemui anak jalanan yang lain, bagaimana Tara bisa mendapatkan bukti dari mereka?".


" Kalau soal itu kamu cukup kasih tahu saja Papa dimana mereka berada dan tempat - tempat yang sering mereka datangi, kamu enggak perlu menemui mereka dan Papa akan mengurus itu semua tanpa harus mencelakai siapa pun. Kamu tenang saja. Papa bukannya ingin membuat kamu menjadi sombong, kalau kamu ingin membantu teman - teman kamu, Papa perbolehkan asalkan kamu jangan berhubungan lagi sama mereka, bantu mereka dari kejauhan. Karena kamu sudah menjadi anak Papa dan Mama terlebih lagi kamu akan menjadi anggota keluarga Wijaya. Kamu mengerti?".


"Iya Pa ngerti". Tara menganggukkan kepalanya.


Setelah sarapan dan mengobrol serius, Egga pun membawanya ke rumah Eggy.


Mata Tara nyaris tak berkedip sedetik pun melihat rumah Eggy yang lebih mewah dari rumah Egga yang ia tempati sekarang.


" Ini rumah apa istana Pa?". Ia bertanya pada Egga sambil memutarkan badannya melihat sekeliling rumah.


Egga tertawa kecil lalu mengajaknya masuk ke dalam. Egga memencet bel rumah tersebut dan tak lama Eggy pun muncul dari dalam rumah. Mata Egga terbelalak melihat penampilan Eggy yang mengenakan celemek masak sambil memegang sudip (sutil) sehingga ia terbahak menertawai nya.


"Bua ha ha ha ha".


" Kenapa kau ketawa?". Eggy memandangnya tajam.


"Ha ha ha, ya ampun Gy Gy. Beralih profesi nih cerita nya? wk wk wkk". Jari Egga menunjuk ke tubuh Eggy dari atas ke bawah.


" Nama nya sayang anak sama binik, ya kayak gini lah. Apa lagi kalau binik lagi sakit. Kayak enggak pernah saja kau bang wuuu". Eggy melipat kedua tangannya lalu melirik ke arah tembok rumah nya lebih tepatnya tembok tetangga nya.

__ADS_1


"Ha ha ha tapi lucu saja ngeliat gaya kau kayak gini ck ckk ck ck".


"Hempt... Ehh... Bang, masuk lah kelen cepat, nanti tetangga aku sibuk ngintipin aku". Eggy menarik tangan Egga lalu mendorongnya masuk ke dalam rumah cepat - cepat dan menyuruh mereka duduk di ruangan keluarga.


" Masih sering ngintip juga itu tetangga kelen?". Egga memang sudah tidak heran lagi dengan kelakuan tetangga adiknya itu, bahkan ia pun pernah mengintip Egga pada saat ia bermain bersama Ghifari.


"Masih lah, malah makin menjadi saja dia, aku saja sampai stres. Yang parah nya kemarin sore, gara - gara dia ngintipin aku sama Almira di halaman belakang, jahitan di perut si Almira kebuka". Keluhnya sambil membuka celemek dan baju kaosnya yang sudah bau masakan.


" Lah kok bisa?".


"Tahu lah kau kalau si Almira itu paling enggak suka kalau tubuh aku yang sexy ini di liatin sama perempuan lain, nah pas waktu itu aku sama Ghifari baru siap main bola, karena baju aku basah jadi si Almira ngebuka baju aku biar keringatnya enggak kering di badan eh ternyata si tetangga itu sudah terpacak saja di tembok kayak hantu, jadi lah si Almira spontan bangkit terus duduk di pangkuan aku karena mau nutupi badan aku yang sexy ini, abis itu langsung lah sakit perut nya pas aku check eh rupanya jahitannya kebuka haiiiis". Eggy menepuk jidatnya.


"Ya ALLAH, tapi sekarang Almira nya enggak apa - apa kan?".


" Alhamdulillah sudah enggak apa - apa bang, sudah aku perbaiki juga kok jahitannya".


"Iiih bahaya kali lah, punya tetangga kayak gitu. Itu sudah kayak semacam penyakit namanya karena suka ngintip. Kelen (kalian) enggak pernah gitu ngelapor sama RT atau RW di sini biar dia enggak tinggal lagi di perumahan ini? Karena itu sudah meresahkan warga dan melakukan pelecehan".


" Aku mau saja bang ngelapori nya, tapi si Almira enggak ngasi karena kasihan sama dia, dia itu kan janda, tinggal sendirian masa iya dia di usir dari rumahnya sendiri".


"Haiiih kasihan - kasihan, tapi lakik awak di intipin ngamok juga ha ha ha".


" Ha ha ha, entah lah bang, pening pun aku jadinya. Oh ya lupa aku kan jadi nya. Aku lupa mau siap - siap ngejemput Ghifari sekolah soal nya hari ini dia pulang cepat, haduuuuht". Eggy menepuk jidat nya lalu ngacir ke lantai atas alias ke kamar nya.


Egga menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik nya itu. Sedangkan Tara masih terpaku canggung sembari melihat sekeliling rumah. Mata nya tertarik pada satu tujuan yakni pada kucing berbulu tebal berwarna putih solid yang tengah tidur di tempat tidurnya. Tara tersenyum lalu mendekatinya dengan perlahan - lahan.


"Kamu mau kemana?". Egga kaget melihat Tara beranjak dari tempat duduk nya dan mendekati Snow. Perlahan - lahan ia mencoba mengelus - ngelus bulu halus nan lembut milik Snow sehingga membangunkan tidurnya.


"Cantik kali kucing nya Pa, lembut bulu nya". Tara mencoba memberanikan diri untuk menggendongnya.


"Itu nama nya Snow, kucing kesayangan anak Om tadi". Egga pun mendekati nya lalu ikut membelai bulu Snow.


" Baru kali ini Tara megang kucing kayak gini, biasanya cuma lihat saja di toko - toko hewan peliharaan di pinggir jalan he he he. Pasti harga nya mahal ya Pa?".


Egga tersenyum menatap wajah Tara yang berseri.


"Kamu suka kucing?".


" Suka kali lah Pa. Rang biasa nya Tara suka main sama kucing kampung kalau ketemu di jalan, bahkan Tara juga pernah melihara kucing tapi mati karena di tabrak kereta".


"Ya sudah, kalau gitu kamu boleh kok main - main sama Snow". Tiba - tiba Eggy muncul mengagetkan mereka dan menyambung pembicaraan tersebut karena ia mendengar cerita Tara.


Keduanya menoleh ke arah Eggy yang sudah berdandan rapi, sontak membuat Tara melepaskan Snow dari pangkuannya karena ia merasa segan.


" Bang, aku tinggal bentar ya, kalau kelen mau apa - apa bilang saja sama Kak Umi".


"Iyaaa".


"Assalamulaikum". Tiba - tiba terdengar suara anak nya mengucapkan salam.


" Lah, itu Ghifari nya sudah pulang". Egga menunjuk ke arah Ghifari yang berjalan cepat mendekati mereka.


"Lho baru mau Daddy jemput. Kamu pulang nya sama siapa sayang?".


" Sama dokter yang ngerawat Mommy. Tuuuh". Ghifari menunjuk Ratna yang baru muncul.


Mereka menoleh pada Ratna yang berjalan mendekati mereka sambil tersenyum.


"Dokter Ratna".


" He he he, iya Dok. Tadi saya memang di suruh Egga ke sini terus pas mau kemari enggak sengaja lihat Ghifari lagi duduk di pos satpam sekolah nya, makanya sekalian saya bawa saja pulang he he he". Jelasnya sambil mengelus kepala Ghifari.


"Oh.. Terimakasih ya Dok sudah mau nganterin Ghifari".


" Iya sama - sama Dok".


"Ya sudah sayang, sekarang kamu ganti baju dan bersih - bersih dulu sama Bu Umi, abis itu kamu langsung jumpai Mommy di kamar. Oke?". Eggy sedikit merundukkan kepala nya menatap anak nya.


"Siap Dad. Tapi abis itu Ghifari boleh kan main - main sama snow?".


Eggy mencubit kecil pipi Ghifari.


" Boleh sayang. Tapi nanti main nya bareng sama abang itu ya?". Eggy menunjuk ke arah Tara.


Ghifari pun melihatnya yang berdiri di samping Uwak nya alias Egga.


"Abang itu siapa Dad?". Tanya nya penasaran.


"Nanti saja kenalannya soalnya Daddy juga belum kenalan sama abang itu he he he. Sekarang kamu laksanakan dulu apa yang Daddy bilang tadi, baru kita kenalan, Oke?".


" Oke siap Dad. Ya sudah Ghifari ke atas dulu". Dengan setengah malas ia pun berjalan ke lantai atas sembari menyeret tas nya. Sedang kan yang lainnya hanya bisa geleng kepala serta tertawa kecil melihatnya.


"He he he, kok kita jadi pada berdiri gini yak? Duduk yuk he he he". Eggy menyuruh mereka untuk duduk. Sebelumnya Tara menghampiri Ratna lalu mencium tangannya dan Ratna mengelus kepala Tara seperti anak dan Ibu.


" Oh ya teringat nya apa cerita kelen ke sini? Dari tadi mau aku tanya'in ke kau bang tapi karena heboh ngurusi Ghifari jadi lupa aku he he he". Eggy memandangi wajah Egga dan Ratna penuh curiga di tambah lagi ia melihat ada nya Tara di antara kedua nya.


"Tak ada. Kami mau jalan - jalan saja ke rumah kelen. Sekalian mau lihat Almira ha ha ha". Egga masih belum bisa menceritakan maksud kedatangannya.


" Ahh... Enggak percaya aku".


"Ha ha ha. Oh ya ini masih ingat kan kau sama anak ini?". Egga memegang bahu Tara menunjukkan pada Eggy.


" Tara salam dulu sama Om Eggy. Om Eggy ini yang ngerawat kamu di rumah sakit".


Tara pun segera menghampiri Eggy lalu mencium tangan Eggy dengan santun.


"Masih ingat lah. Cuma agak lain ku tengok waktu di rumah sakit. Sekarang lebih ganteng he he he". Eggy memperhatikan wajah Tara dengan seksama.


" Ada tamu rupa nya, pantesan lah dari tadi kedengaran suara - suara he he he". Tiba - tiba Almira bersuara sambil berjalan dengan perlahan. Spontan Eggy langsung menghampiri nya ketika ia melihat Almira turun dari tangga bersama Ghifari.

__ADS_1


"Ist kok turun sih? Ist harus nya istirahat di kamar. Ini lagi kamu, kenapa Mommy nya di bawa keluar kamar?". Eggy ngedumelin anak dan istrinya.


" Iiih Daddy lah, kok marah nya sama Ghifari. Mommy yang maksa minta keluar kamar jadi nya Ghifari turuti lah hufft".


"Sudah lah Suam, Ist yang bosan di kamar terus. Lagian ada tamu kok Ist nya malah di kamar saja, kan enggak enak sama mereka".


"Hmm... Daddy enggak marah kok. Ya sudah, Suam gendong ya?".


" Enggak usah, malu tauk di liatin mereka". Wajah Almira memerah sembari melirik mereka yang tersenyum melihat nya.


"Hmmm ya sudah". Eggy mengenduskan nafasnya dan memapah nya berjalan sampai di sofa dimana Egga dan yang lainnya duduk.


" Bu... Gimana kondisi nya sekarang". Ratna langsung bertanya pada Almira setelah ia duduk.


"Alhamdulillah sudah membaik dengan berangsur - angsur. Cuma masih belum di kasih ngapa - ngapain saja sama Pak Dokter satu ini". Jawabnya lalu menyingkut lengan Eggy.


Ratna dan Egga tertawa kecil.


" Nama nya biar sembuh total, jadi ya harus istrihat total juga ya kan Dok? Ini heboh kali mau ngerjain ini itu". Cibir nya sembari memicingkan mata nya dengan tajam pada Almira.


"Ha ha ha wajar lah Dok, nama nya juga perempuan apa lagi ibu rumah tangga, mana bisa berdiam diri terus. Pasti bawa'an nya mau ngerjain ini itu".


" Tuh dengar sayang?".


"Hmmmpt iya dengar".


" Oh ya sudah di buat minum untuk mereka Suam?".


"Sudah, tadi Suam sudah minta tolong sama Kak Umi kok".


"Bagus lah. Eh... Iya. Ini siapa? Kok dari tadi diam - diam saja". Ternyata Almira menyadari keberadaannya. Tara langsung mencium tangan Almira.


" Nama saya Si... Tara Bu". Tara hampir saja menyebutkan nama lama nya.


"Oh... Bagus nama nya. Nama Ibu Almira istri nya Om Eggy dan Mommy nya Ghifari".


" Umak, dia yang baru muncul, dia yang langsung kenalan baah". Eggy nyeletuk menyindir Almira. Egga dan Ratna tertawa, sempat mereka memandang satu sama lain.


"Lho, memang Suam belum kenalan?".


" Ya belum lah".


"Fu fu fu. Nama nya Ist enggak tahu. Kira'in sudah kenalan hi hi hi". Almira menepuk lengan Eggy dengan manja.


" Ma... Pa... Kucing nya keluar rumah". Tiba - tiba Tara berkata seperti itu ketika ia melihat Snow keluar ke taman belakang. Sontak membuat Almira dan Eggy terkejut.


"Ma? Pa?". Eggy dan Almira melirik Ratna dan Egga secara bergantian. Wajah kedua nya menjadi getir memandang Eggy dan Almira yang penuh tanda tanya.


"Ghifari, coba kamu tengok sana Snow nya di halaman belakang nanti keluar pula dia, tapi sekalian ajak Bang Tara nya main - main ya". Egga meminta Ghifari untuk mengajak Tara bermain. Ghifari pun menganggukkan kepala nya lalu mengajak Tara ke halaman belakang rumah nya untuk bermain.


" Apa hal nih bang? Sebenar nya anak itu siapa Bang? Bukannya kau bilang dia anak jalanan yang sering di tolong sama Kak Tari. Kenapa tadi anak itu tiba - tiba manggil kelen berdua Ma Pa?". Eggy benar - benar penasaran.


Dengan perlahan Egga pun menceritakan semua nya bahkan Egga juga menceritakan mengenai Tara yang di pukuli para berandalan.


"Maka nya lah aku ke sini, maksud nya aku mau minta tolong sama kau, aku mau minta hasil medis Tara waktu dia di rawat di rumah sakit, aku mau jadi kan itu salah satu bukti untuk menangkap mereka".


Eggy mengusap wajah nya.


" Kalau soal itu, aku pasti bantuin kau bang. masalah itu gampang. Tapi yang lagi aku pikirin ini gimana tanggapan Mama dan Papa soal ini. Apa lagi Zia dan keluarga nya. Mereka pasti menentang soal keputusan kau bang".


"Itu juga yang ada di pikiran aku. Tapi kalau soal Zia, aku enggak terlalu ambil pusing, karena enggak penting juga untuk di pikirin dan enggak ada urusan nya juga sama dia".


" Gilak kau, enggak bisa kau egois gitu bang. Kau itu bakalan nikah sama dia, jadi otomatis kau juga mikirin dia dan keluarga nya. Pasti nanti mereka mikir nya kalau Tara itu anak hasil hubungan gelap kau sama Dokter Ratna dan enggak percaya kalau Tara anak adopsi kelen. Enggak kau pikirkan juga perasaan dan nama baik Dokter Ratna, apa kata orang - orang, ini bisa menimbulkan fitnah bang".


Darah Ratna berdesir serta merasa sedikit takut. Ia hanya bisa diam dan tertunduk. Almira melirik Ratna yang seperti di pojoki.


"Suam". Almira menyentuh paha Eggy untuk memahami posisi Ratna.


Egga melihat raut wajah Ratna yang terlihat murung.


" Kalau sampai ada yang bilang kayak gitu, aku enggak akan tinggal diam. Aku bakal ngebuat orang berkata seperti itu terdiam selamanya, aku akan mengusahakan supaya enggak ada yang tersakiti dengan keputusan aku ini. Tenang saja lah kau. In Sya ALLAH baik - baik saja".


Ratna memalingkan wajah nya melihat Egga yang menatapnya. Entah apa yang ada di benaknya namun membuat hati nya terasa lebih tenang ketika Egga berkata ia akan melindunginya.


.


."Tapi Suam, kayak nya kalau Papa sama Mama bakalan enggak keberatan nerima Tara, yang penting kita ngomong nya baik - baik sama mereka". Almira masih membahas soal itu sebelum mereka tidur.


" Hmm. Iya, tapi terkadang Papa ini enggak bisa ketebak sayang. Kalau Mama pasti setuju - setuju saja tapi Papa? Papa itu kayak ada anak bulan nya sayang, walau pun kata nya rela ngelakuin apa saja asalkan anak - anak nya bahagia tapi tetap saja harus ke jalur apa yang Papa mau juga". Eggy mendekati Almira.


"Ya sudah, yang penting Suam bantu - bantu juga Bang Egga, Suam bantu juga untuk ngomong pelan - pelan sama Papa dan Mama. Bang Egga pasti sudah pening kali mikirin nya, makanya Bang Egga sampai gegabah seperti itu". Almira menyentuh wajah Eggy dengan lembut.


"Iya sayang. Suam pasti menolong Bang Egga, enggak mungkin lah enggak Suam bantu. Cuma tak lah di pikirin nya gimana perasaan Dokter Ratna, karena nanti nya yang jadi korban itu pasti Dokter Ratna, dia yang jadi emak angkat nya Tara ehh Bang Egga nikah nya sama si Zia, belum lagi nanti si Zia pasti menentang semua ini dan mungkin bakal menyerahkan Tara sepenuh nya sama Dokter Ratna setelah mereka nikah, kan jadi Dokter Ratna juga yang jadi korbannya. Kasihan Dokter Ratna. Lagian Dokter Ratna pun entah kenapa dia mau - mau saja nurutin apa kata Bang Egga".


"Sudah lah Suam, mau bagaimana lagi, semua nya sudah terjadi. Mau marah pun percuma. Mungkin Dokter Ratna nya pun juga sayang sama Tara maka nya Dokter Ratna enggak keberatan soal itu".


"Hmm bisa jadi, tapi kalau enggak kayak gini kasihan juga si Tara nya. Haiih memang lah itu Bang Egga bikin palak saja, sudah lah seenak jidat nya saja ngambil keputusan terus memang dia orangnya susah untuk peka sama orang lain, bahkan sama diri nya sendiri pun dia enggak peka. Dia pun lagi masa enggak peka kalau sebenarnya dia sama Dokter Ratna itu saling suka". Eggy merasa gemes sama Abang nya itu.


" He he he, kok jadi Suam yang palak sih? Memang nya Suam tahu dari mana kalau mereka saling suka?". Almira jadi geli sendiri melihat Eggy gregetan gara - gara abang ipar nya.


"Ya elah Ist. Enggak perlu di pertanyakan lagi. Siapa pun pasti ngeliat dan ngerasa kalau mereka itu saling suka. Suam saja yang enggak begitu dekat sama Dokter Ratna sudah bisa ngeh kalau Dokter Ratna itu suka sama Bang Egga, begitu pun sebaliknya".


" Waah... Suami nya Ist hebat ya, punya indera ke enam. Bisa tahu dia perasaan orang lain ciye ciye he he he".


"Jangan kan perasaan orang lain. Perasaan istri sendiri pun sudah Suam kuasai ha ha ha". Eggy memandang Almira dengan genit sambil menowel dagu Almira.


" Heleh... Enggak usah macam - macam ya Suam, nanti terpancing Suam juga yang kualahan karena Ist belum bisa". Almira menyingkirkan tangan Eggy yang berada di tubuhnya.


"Huffft.... Iya iya. Tunggu saja tanggal main nya. Ya sudah yuk kita tidur. Selamat malam my sweet heart. Emmuaach". Eggy mengecup kening Almira.

__ADS_1


" Selamat malam juga cerewet nya Ist emuaach he he he". kemudian mereka pun terlelap.


__ADS_2