
Pukul 6 pagi Almira sudah mengantarkan Eggy kerja sampai ke depan rumah. Tak lupa mengucapkan kata - kata semangat untuk Eggy. Kemudian, Almira kembali masuk ke dalam rumah hingga ia berpas - pasan dengan wanita bertubuh tinggi, kulit putih dan cantik yakni kakak ipar nya, Tari.
" Ehh... Kak, sudah bangun?". Ia tersenyum ramah.
"Iya Ra. Abis ngantar Eggy berangkat kerja ya?". Ia sempat melirik ke arah pintu.
" He he he iya kak. Oh ya kakak sama bang kalau mau sarapan langsung saja, Ra sudah siapkan sarapan nya di atas meja makan kok. Tapi Ra masak nasi goreng kak, tapi kalau kakak sama bang Egga mau, sarapan roti juga ada kok kak he he he".
"Ah.... Enggak usah repot - repot Ra. Kami jadi enggak enak karena ngerepotin kamu Ra fu fu fu". Tari merasa sungkan kepada istri adik ipar nya itu. Bagaimana tidak? Mereka memang tidak banyak bicara seperti ipar - ipar kebanyakan.
" Ya ALLAH... Kak, kayak sama siapa saja lah. Ra sama sekali enggak merasa di repotin kok he he he". Almira tersenyum yang di barengin dengan menyipitkan mata nya.
"Oh ya kak, Ra mau naik ke atas dulu ya? Mau ngebanguni Ghifari. Kalau kak butuh apa - apa bilang saja sama Ra, enggak usah segan - segan he he he".
" Oh, iya Ra. Terimakasi banyak".
"Iya kak".
Almira pun naik ke lantai atas meninggal kan Tari yang juga berjalan menuju ke dalam kamar tamu. Almira membangunkan Ghifari dan menyuruhnya mandi agar ia secepatnya bisa mengganti perban di bagian perut Ghifari.
" Ghifari, cepat sayang, mommy mau belanja lagi ini nak. Biar mommy cepat masak untuk makan siang nanti, enggak enak sama uwak kalau mommy belum nyiapin makan siang kita, bisa - bisa mommy kenak marah sama daddy". Almira berusaha menggapai tangan Ghifari yang sedang mengelus snow si kucing kesayangan nya. Yang sebenarnya ia enggak mau mandi.
"Ghifari malas lah mom. Ghifari enggak usah mandi ya? Mommy ganti saja perban nya tapi Ghifari enggak usah mandi he he he". Bujuk nya sembari menunjukkan gigi nya yang ompong.
"Enggak usah di tunjukin gitu gigi ompong nya sama mommy, jelek tauk he he he". Almira menutup wajah Ghifari dengan telapak tangan nya.
" Pokok nya mandi. Enggak malu apa entar dekat - dekat sama uwak tapi Ghifari nya bau karena belum mandi?".
Ghifari memanyun kan bibir nya sembari berjalan lemas menuju ke kamar mandi.
"Iyaaa".
Almira geleng kepala ngeliat anak sulung nya itu.
" Kamu jangan lama - lama mandi nya ya nak".
"Iya mom". Teriak nya.
Butuh waktu berjam - jam juga menyiapkan Ghifari. Mereka pun turun ke bawah lebih tepat nya menuju ke arah meja makan. Ghifari yang sudah rapi dan wangi langsung berlari mengejar Egga ketika ia melihat nya sudah duduk berdua bersama Tari sedang menikmati sarapan pagi.
" Uwak Uncle". Teriak nya penuh semangat.
"Eh jagoan sudah ganteng rupa nya. Sini sini, sarapan sama kita". Eggy menarik kursi di sebelah nya kemudia Ghifari pun duduk di kursi itu.
" Ganteng kali anak Uwak Uncle ini. Sama ganteng nya sama Uwak Uncle he he he". Egga mencubit pipi nya, gemes.
"Iya lah, nama nya Uwak Uncle mirip sama Daddy jadi sama lah kita ganteng nya".
" Oh ya, berarti kita bertiga, 3 kesatria ganteng lah kalau gitu he he he".
"Iya, Ghifari kesatria ganteng versi kecil, kalau Daddy versi dewasa nya, kalau Uwak Uncle versi tua nya ha ha ha". Ghifari memang bisa lawak - lawak sama seperti Daddy nya.
Almira dan Tari tertawa mendengar Ghifari. Sedangkan Egga enggak terima di bilang tua.
" Yaaaah masa Uwak Uncle versi tua nya sih? Uwak Uncle kan masih muda hiks hiks hiks".
Ghifari tertawa melihat espresi Egga yang pura - pura sedih seperti anak kecil.
"Ha ha ha Uwak Uncle cengeng, ha ha ha masa gitu saja Uwak Uncle nangis".
" Ghifariiiii, enggak boleh gitu sayang". Almira menegur anak nya.
Ia pun tertunduk.
"Iya Mom".
Egga tertawa kecil sembari melirik Almira.
" He he he Uwak Uncle bercanda kok nangis nya. Enggak apa - apa lah Uwak Uncle jadi versi tua nya, yang penting Uwak Uncle masih tetap ganteng he he he". Kata nya sembari mengusap rambut Ghifari. Dan Ghifari pun tertawa kecil.
Sarapan pun telah selesai, Almira pun sudah siap - siap untuk ke pajak (pasar tradisional). Sebelum nya ia sudah berpamitan pada anak nya serta abang dan kakak ipar nya.
"Almira". Tari memanggilnya lalu menghentikan langkah kaki Almira.
Ia pun menoleh.
" Iya kak?".
"Kakak boleh ikut kamu enggak ke pajak? Karena enggak asyik juga kalau kakak sendiri perempuan di sini he he he".
Almira mengangguk pelan sambil tersenyum.
" Boleh kak, boleh kali pun he he he".
"Ya sudah kakak minta izin dulu ya sama Bang Egga".
" Iya kak".
Setelah meminta izin sama Egga, akhir nya pergi naik taxi online yang sebelumnya sudah di pesan oleh Almira.
Setiba nya di pajak, mereka melihat ramai nya para pembeli berduyun - duyun serta berlomba - lomba membeli bahan pangan yang masih segar.
"Oh ya, kakak sama bang Egga mau makan apa hari ini?". Ia bertanya ketika mereka menyusuri lorong - lorong kawasan khusus pedagang menjual ikan, ayam dan daging.
" Lho, kok malah nanya kami mau makan apa sih Ra? Terserah kamu saja, mau masak apa saja kami suka kok".
"Yaa enggak bisa gitu lah kak. Mana tahu kan, kakak sama bang Egga punya selera makanan apa gitu. Lagian kan jarang - jarang Kak Tari sama Bang Egga mau ke rumah kami, pakek nginap malah, masa iya kami enggak service kalian he he he".
__ADS_1
Tari meraih tangan kanan Almira sambil tersenyum.
"Sudah, terserah kamu saja mau masak apa. Beneran".
Almira menghelakan nafas nya lalu memanyunkan bibir nya.
" Hmmm ya sudah deh".
Almira pun berburu bahan makanan seperti Ayam, Daging, Sayur, buah dan banyak lagi. Tak lupa juga ia membeli bahan - bahan kue untuk cemilan mereka.
Kedua tangan mereka sudah penuh dengan belanjaan yang di borong Almira.
"Maaf ya kak, kakak jadi repot bawa'in belanjaan nya, Ra memang gini kak kalau semua nya serba turun harga nya, Ra kalap mau beli ini itu he he he". Ia berkata sambil berjalan keluar dari area pajak. Keringat nya bercucuran serta nafas nya pun sudah ngos - ngosan.
" He he he Enggak apa - apa kok. Lagian percuma donk kakak ikut kalau kakak enggak bantuin kamu bawa ginian he he he". Tari tertawa kecil sambil sedikit menaikkan bawaa nya.
#gebraaaak...
Tiba - tiba seorang anak laki - laki kecil tanpa sengaja menabrak Tari hingga barang bawaan nya jatuh dan anak itu pun terduduk di tanah sambil menangis histeris.
Tari mengejar anak itu, ia melihat anak kecil itu merintih kesakitan.
"Ya ALLAH... Kamu enggak apa - apa sayang? Maafin tante ya, apa kamu yang sakit?".
Sedangkan Almira yang sama terkejutnya buru - buru mengambil belanjaan yang di bawa Tari, kemudian ia mendekati kedua nya.
" Kalian enggak apa - apa?".
Anak itu semakin menangis histeris sembari memanggil - manggil ibu nya. Tari dan Almira tampak kebingungan.
Tari/ "Mama kamu dimana? Biar tante antar ke tempat Mama kamu?". Tari menatap anak itu, ia sempat mengelap air mata nya. Sedangkan anak itu enggan menjawab
Hingga pada akhir nya...
"Chandra". Ibu nya pun menghampiri mereka dengan tampang marah.
" Kalian apa'in anak saya? Kenapa dia bisa nangis?".
"Gini buk....".
" Kalian pasti mau macem - macemin anak saya kan?". Ibu paruh baya itu memotong perkataan Tari dan malah menuduh mereka berdua.
"Enggak buk, tadi anak ibu....".
" Alaah, enggak usah banyak alasan kalian. Mana ada orang jahat yang mau ngaku jahat. Bertaubat lah kalian berdua, enggak kalian pikirkan gimana kalau anak kalian yang berada di posisi anak saya. Kamu lagi! Pakai hijab panjang kurang panjang tapi kerjaan nya enggak benar. Kalian harus tanggung jawab atau kalian saya laporkan ke kantor polisi". Ibu ini waras enggak sih, sudah ngomong nya ngegas, enggak mau dengarin penjelasan orang lain, pakek ngefitnah orang, terus malah menunjuk - nunjuk mereka lagi secara bergilir.
Almira menarik nafas nya dengan dalam agar tidak terpancing emosi, sedang kan Tari, ia merasa berkecil hati ketika ibu anak laki - laki itu menyinggung tentang anak.
Rasa nya mereka ingin sekali meninggalkan emak - emak mulut jabir itu, tapi mereka mengurungkan niat nya karena tidak ingin berkepanjangan.
"Maaf buk, seperti nya ibu sudah salah paham dengan kami berdua".
" Salah paham apa? Banyak kali cerita kelen, pakek salah paham salah paham". (Aduuuh kalau author ada di situ, sudah di cabe'in itu mulut emak - emak ha ha ha).
"Huuuuh.... lebih baik ibu dengari dulu penjelasan kami. Kalau ibu enggak mau ngedengari penjelasan dari kami, oke kita langsung kan saja ke jalur hukum, biar selesai semua nya". Entah pemikiran dari mana yang ia dapati, ia berani menantang ibu itu dengan membawa - bawa jalur hukum.
Sontak membuat ibu itu mati kutu.
" Macam hebat kali pulak nya kalian. Ya sudah, saya enggak mau ngedengarin penjelasan kalian, anggap saja ini enggak pernah terjadi". Sebenarnya ia merasa takut namun gengsi nya selangit, malah membungkus apa yang terjadi.
Tari yang sejak tadi terdiam, kini ia angkat bicara.
"Enggak bisa gitu buk, ibu harus ngedengari penjelasan kami, biar ibu tahu apa yang sebenarnya terjadi dan enggak menuduh kami sembarangan. Apa ibu mau kami laporkan ibu karena sudah mencemarkan nama baik kami?". Tari ingin memberi pelajaran pada ibu itu, seketika anak itu memaksa melepaskan diri lalu lari sejauh mungkin. Sontak membuat Almira dan Tari terkejut, sedang kan ibu - ibu itu menjadi kikuk.
Almira dan Tari menaruh kecurigaan kepada mereka berdua. Apa yang ada di pikiran Almira dan Tari sama, spontan mereka menangkap tangan ibu itu yang ingin melarikan diri.
"Oohh... Jadi ini pekerjaan yang benar itu? Kalian mencoba untuk menipu kami berdua? Ha? Kalian harus di bawa ke kantor polisi". Mata Tari memerah membentak ibu itu yang ternyata penipu, ia memang sengaja menyuruh anak kecil itu menabrakkan dirinya ke Tari dan berpura - pura nangis agar drama yang di buat berjalan dengan sempurna hingga akhir nya mereka mendapatkan keuntungan berupa uang atau barang - barang yang akan mereka curi dari Tari dan Almira. Namun mereka berhadapan dengan orang yang salah.
Tari benar - benar emosi. Kenapa tidak? Penipu ini sudah memaki - maki mereka, memfitnah mereka dan yang paling bikin Tari emosi ibu ini secara tidak sengaja telah menyinggung soal anak.
Ibu itu memasang tampang kasihan nya, ia memohon untuk di lepaskan.
"Ampun mbak, ampun mbak jangan bawa saya ke kantor polisi mbak. Saya punya banyak anak mbak, kalau saya di penjara nanti anak saya sama siapa mbak".
Almira dan Tari memutar bola mata mereka mendengar drama basi yang di pakai si penipu ini. Tanpa basa basi Tari begitu kuat menyeret si penipu menuju post satpam pajak. Mereka melaporkan kasus itu ke pihak yang berwajib.
Eggy dan Egga tergesa - gesa menuju ke kantor polisi setelah mereka mendapat kabar itu dari istri mereka masing - masing. Eggy rela meninggalkan pasien nya demi sang istri.
Wajah - wajah mereka penuh kekhawatiran.
"Ist enggak kenapa - kenapa kan?". Eggy memegang wajah Almira, ia sangat takut.
Almira menggelengkan kepala nya sembari tersenyum.
" Ist enggak apa - apa kok Suam". "Alhamdulillah, Suam takut Ist kenapa - kenapa". Eggy menyambar tubuh Almira alias memeluk nya.
" Kamu enggak apa - apa beib?". Egga pun sama khawatir nya seperti Eggy.
"Enggak apa - apa kok sayang, semua nya sudah di serahkan sama pihak berwajib kok". Tari tersenyum simpul.
" Permisi Buk, ini barang - barang ibu atau barang - barang si tersangka?". Mereka menoleh ke arah pal polisi yang tiba - tibs muncul menghampiri mereka lalu menunjukkan bungkusan belanjaan mereka.
"Oh, itu barang belanjaan kami tadi pak". Almira yang menjawab.
" Oh gitu. Ibu Tari dan Ibu Almira sudah bisa pulang, sekali lagi terimakasih sudah melaporkan tersangka yang kami cari dan sudah memberikan keterangan pada kami". Pak polisi itu begitu ramah.
"Iya pak sama - sama". Secara bergantian mereka mengucapkan nya.
__ADS_1
Setelah masalah selesai mereka pun kembali, tak lupa para suami yang membawa belanjaan mereka. Mereka berjalan menuju ke parkiran mobil, kemudian berlalu.
" Oh ya bang, Ghifari sama siapa?". Almira baru ingat anak nya.
"Tadi sebelum abang ngejemput Eggy, Ghifari abang antar ke rumah mama".
"fuuht Alhamdulillah". Almira menghelakan nafas nya, lega.
"Oh ya Gy, kau mau abang antar ke rumah sakit atau gimana nih?". Egga melirik Eggy yang duduk di sebelah nya.
" Pulang saja lah bang, aku mau istirahat, enggak enak kali badan aku soal nya, tapi jemput Ghifari dulu ke rumah mama". Ujar nya sembari memijat kepala nya.
"Suam kenapa? Kepala nya sakit?". Almira langsung mendekat ke sisi Eggy.
" Iya, Suam butuh charger". Eggy memainkan mata nya, menggoda Almira. Sentak Almira memukul lengan Eggy.
"Moduuuuuuus saja kau, Gy... Gy... Ha ha ha". Egga terbahak mengejek Eggy.
Sedangkan Tari terdiam memandangi jendela mobil tanpa menghiraukan mereka, seperti nya ia memikirkan sesuatu. Egga sempat melirik nya melalui kaca spion.
Mereka pun sampai di rumah kedua orang tua 2 E. Maksud hati mereka hanya ingin menjemput Ghifari saja, namun Bu Hanna dan Pak Wijaya menahan mereka pulang. Beliau meminta mereka untuk tinggal di rumah itu sampai malam.
Karena permintaan orang tua mereka, mereka pun menuruti nya dan membawa barang - barang belanjaan mereka ke dalam.
"Ist belanjaan apaan sih? Banyak kali gini". Eggy heran melihat belanjaan itu.
" Belanja makanan kita hari ini lah". Jawabnya.
"Untuk hari ini, sebanyak ini? Ya ALLAH sayang, ini nama nya kita mau kenduri". Eggy geleng kepala, lalu menyusul abang nya ke dalam membawa belanjaan itu.
"Jadi kalian bawa belanjaan seberat ini?". Egga merasakan berat nya belanjaan yang ia tenteng ke dapur.
" Iya". Secara serentak Almira dan Tari menjawab.
"Ya ALLAH... Serius Ist bawa ini?". Mata Eggy terbelalak dan Almira mengangguk.
" Bukan nya lah di pikirin nya calon anak kita, Ist itu enggak boleh bawa barang yang berat - berat". Eggy mengomelin Almira.
"Kamu lagi hamil Ra?". Bu Hanna antusias mempertanyakan itu. Tari dan Egga sontak melihat Almira.
" Iya ma". Almira tersipu sembari mengangguk pelan.
Sangkin bahagia nya Bu Hanna langsung memeluk menantu kedua nya.
"Ya ALLAH, Alhamdulillah, senang kali lah mama dengarnya. Akhir nya mama nambah cucu lagi. Emmuach emuuacch". Beliau menciumi kedua pipi Almira.
" Ma... Eggy enggak di cium?". Ia berlagak manja.
"Enggak, mama enggak mau nyium kamu". Bu Hanna memandang nya dengan tatapan tajam.
" Huffft padahal kan menantu mama hamil karena anak mama ini, itu kan bagian dari Eggy juga, masa Eggy enggak di cium hiks hiks hiks". Rengek nya seperti anak kecil. Yang lain tertawa melihat tingkah Eggy, tapi tidak dengan Tari. Dia hanya tersenyum getir dan Egga menyaksikan itu.
.
.
Suasana gelap nya malam hari serta udara yang dingin tak membuat Tari bergeming di pinggir balkon kamar Egga yang lama. Mereka memutuskan untuk menginap di rumah orang tua nya.
Sayup - sayup angin yang dingin menyentuh wajah Tari dan mengibas - ngibaskan rambut panjang nya yang terurai. Sempat ia memejamkan mata nya untuk merasakan angin yang berhembus itu dan sesekali menarik nafas nya lalu menghelakan nya dengan relax.
Egga melihat sang istri berdiri di sana, kemudian menghampirinya tanpa suara. Egga memeluknya dari belakang, itu membuat Tari sedikit terkejut. Rasa dingin yang membeku kini mendadak hangat karena suhu tubuh yang melekat pada tubuhnya.
"Dingin kali gini beib. Kok kamu tahan banget sih berdiri di sini? Malah enggak pakai jaket lagi".
Tari tersenyum sembari menyentuh pipi Egga yang sudah dingin.
" Kan sudah ada yang ngehangati aku he he he".
Egga membalikkan tubuh Tari, sehingga mereka bisa bertatapan mata. Egga memandang lain pada wajah Tari, ia terlihat murung namun berusaha menutupi nya.
"Kamu kenapa beib? Aku perhatiin sejak dari kantor polisi tadi, kamu itu diam saja bahkan aku sempat melihat kamu murung seperti ada yang di pikirin". Kedua tangan Egga menyentuh kedua pipi Tari yang membeku.
Tari tertawa kecil sembari memegang tangan Egga, perlahan ia menurunkan tangan mereka dari pipi nya.
" Aku enggak apa - apa kok beib".
Egga masih tidak percaya, dia berpikir di balik kata ENGGAK APA - APA itu mengandung banyak arti. Namun ia tidak mempertanyakan nya lagi, hingga akhir nya mereka hening seketika.
Kemudian Egga mengajak Tari untuk masuk ke dalam kamar karena udara semakin dingin dan hujan akan turun. Egga menghidupkan penghangat ruangan lalu siap - siap untuk tidur.
"Beib... Aku mau kamu nikah lagi". Tiba - tiba Tari berucap kata yang sangat mengejutkan Egga dan di sertain petir dari langit.
" Apa? Kamu ngomong apaan sih beib?". Egga sedikit bernada tinggi.
Tari tertunduk menutupi mata nya yang sudah berkaca - kaca. Ia berusaha berlapang dada.
"Aku mau kamu nikah lagi sama perempuan yang bisa ngasi kamu keturunan dan memberikan cucu untuk Mama dan Papa".
Egga mendekati nya, lalu mendongak kan wajah Tari agar ia bisa melihat wajah nya.
" Tengok aku beib! Tatap mata aku beib".
Perlahan Tari memberanikan diri untuk menatap mata Egga yang sudah memerah. Tatapan mereka pun beradu, kemudian Egga memeluk Tari sembari meratap. Air mata pecah seketika.
"Kamu enggak boleh ngomong kayak gitu beib. Aku enggak suka kamu ngomong kayak gitu. Kamu enggak boleh ngomong kayak gitu lagi. Apa pun yang terjadi, kita lewati bersama dan kita pasti bisa melewati ujian ini. Kamu jangan merasa berkecil hati hanya karena kita belum di izinkan ALLAH untuk memiliki keturunan, itu tanda nya kamu marah sama ALLAH. Kita harus nya bersyukur dan menikmati kenikmatan yang di kasi ALLAH ke kita. ALLAH masih mengizinkan kita untuk berduaan, untuk bisa lebih saling memahami satu sama lain. Kita enggak boleh nyerah beib".
Tari tak bisa berkata apa - apa lagi, yang ada hanya air mata dan lirih di dalam hati nya. Usai sudah tangis - tangisan mereka berdua. Mereka pun sudah berbaring di atas tempat tidur. Egga terlelap dengan matanya yang sedikit sembab. Sedangkan Tari diam - diam masih belum tidur. Ia bangkit dari tempat tidur lalu mengambil ponsel nya yang terletak di atas meja lampu tidur, dan sesekali ia menarik nafas nya dengan panjang.
__ADS_1