
Chapter 1 #S3
#Kata orang jika pasangan mampu melewati masa 5 tahun awal dalam pernikahan, itu tanda nya bahwa mereka adalah pasangan cinta sejati yang tak akan pernah pudar di makan masa.
Namun bagi ku berbeda...!
Semua nya bukan di ukur seberapa lama waktu yang harus kita habiskan untuk menjadi pasangan cinta sejati. Melainkan, ketika kita sudah memutuskan untuk menghabiskan waktu kita untuk bersama pasangan kita dan rela meninggalkan kehidupan lama kita untuk nya, itu lah yang di nama kan cinta sejati.
"Sayang . . . Suam . . . Suam . . . Suam...". Almira berjalan menyusuri halaman belakang rumah nya, ia mencari sosok lelaki yang sangat ia cintai yakni suami nya, Eggy.
Mata nya liar mencari sosok Eggy, namun ia tidak menemukan nya.
"Kemana sih si Suam ini?". Alis mata nya menyatu, ia kebingungan dimana suami nya itu.
"Ghifari . . . Ghifari . . . Ghifari...". Almira beralih memanggil seseorang.
"Saya Mom . . .". Seorang anak laki - laki ganteng mirip sekali dengan Eggy, ia menghampiri Almira yang berada di ruang tengah. Ia adalah anak laki - laki Eggy dan Almira yang bernama Ghifari Syafi Muzakki Wijaya di panggil Ghifari. Kini ia sudah berumur 5 tahun dan sudah duduk di bangku sekolah tingkat Tanam Kanak - Kanak.
.
.
Flash back . . .
Almira dan Eggy tengah duduk santai di balkon kamar mereka sebelum mereka tidur. Eggy memangku Almira sembari tangan nya mengelus - elus perut Almira yang membuncit alias hamil.
"Oh ya Suam, kira - kira kita kasih nama apa ya untuk anak kita?". Almira melirik Eggy.
Eggy/ "Hmmmm apa ya?, Suam masih bingung soal nya banyak banget kandidat terbaik nama - nama anak laki - laki yang sudah Suam cari, terus bagus - bagus semua pulak lagi he he he, kalau Ist gimana?".
Almira/ "Mm . . . Kalau Ist sih emang sengaja enggak nyari nama untuk anak kita, soal nya Ist sudah memutuskan untuk menyerah kan semua nya sama Suam he he he, Ist ngikut saja pilihan nya Suam".
"Huft . . . Curang". Eggy memanyun kan bibir nya.
Almira/ "Curang gimana?".
Eggy/ "Iya lah curang. Masa Suam sendiri yang berpikir keras".
Almira tersenyum simpul sembari menarik bibir Eggy yang manyun.
"Jadi enggak mau nih berpikir keras untuk anak dan istri nya sendiri?".
"Aduuuh aduuuh duuh. . . Sakit sayang". Rintih nya lalu menggapai tangan Almira.
"Bercanda sayang he he he, Suam enggak pernah berpikir kayak gitu kok, Suam akan melakukan apa pun untuk kalian". Eggy mencium perut Almira.
"Teruuuuus, jadi nya nama anak kita nanti siapa?". Almira menaikan alis mata nya sebelah.
Eggy/ "Oh iya . . . Ya sudah gini saja, gimana kalau kita tanya sama anak kita, terus kita sebutin nama - nama yang ada di list. Kalau anak kita setuju terus ngasi petanda berarti itu lah yang jadi nama anak kita". Enggak tahu entah dari mana ide itu muncul di kepala Eggy, mungkin sangkin bingung nya kali ya he he he.
Almira/ "Ha . . .?, kok bisa lah hay si Suam ini dapat ide konyol kayak gitu ha ha ha". Almira menggeleng kan kepala nya.
Eggy/ "Setuju enggak nih sama ide nya Suam?".
"Iya . . . Ist setuju setuju saja deh, terserah sama Suam, ya sudah sekarang Suam ambil dulu list nya".
"Oke Tuan Putri ku". Eggy beranjak ke dalam untuk mengambil kertas list yang sudah lama ia buat ketika mereka mengetahui bahwa sang calon bayi berjenis kelamin laki - laki.
Eggy kembali dengan membawa secarik kertas yang sudah berisi beberapa nama anak laki - laki yang bagus.
Satu per satu mereka menyebut kan nama yang ada list namun sang calon bayi enggan merespon.
Eggy mulai putus asa/ "Masa sudah 20 nama kamu enggak ngasi tanda juga sih nak sama Mommy Daddy. Hufft".
"Ya mungkin memang enggak bisa dengan cara kayak gini Suam". Almira membelai rambut Eggy.
"Huft . . . Apa jangan - jangan anak kita lagi tidur ya Ist?". Eggy melengket kan telinga nya pada perut Almira.
Almira ikut mengelus perut nya / "Enggak sih Suam. Biasa nya kalau malam gini dia lagi aktif - aktif nya, tapi heran juga sih malam ini dia enggak aktif".
"Tapi enggak satu harian kan, anak kita enggak aktif?". Eggy mulai risau alias gelisah.
Almira/ "Aktif kok, malah tadi sore dia nendang - nendang. Cuma heran saja malam ini dia enggak ada nendang Mommy nya, enggak kayak biasa nya".
Eggy/ "Salah nya saja Suam bukan dokter specialis kandungan, kalau enggak kan Suam sudah pasti tahu apa sebab nya".
Almira/ "Bagus lah kalau Suam bukan dokter specialis kandungan".
Eggy/ "Kok bagus pulak?".
Almira/ "Iya lah, bagus lah. Kalau Suam jadi dokter specialis kandungan, mungkin Ist enggak bakal bisa tidur nyenyak setiap hari, karena mikirin Suam yang setiap hari nya ngadepin ibu - ibu hamil".
Eggy tertawa geli / "Ck ck ck . . . Ist cemburu nih cerita nya? ha ha ha, tapi kan Suam juga sering ngadepin pasien wanita, jadi Ist itu cemburu juga?".
Almira/ "Yaaa, enggak sih. Biasa saja. Cuma kan kalau dokter specialis kandungan itu lebih intens sama pasien perempuan nya, ketimbang dokter umum". Mata Almira berubah menjadi tajam.
"Ha ha ha, iya iya, Suam faham". Eggy memeluk Almira sembari membelai rambut Almira yang terikat simpul.
"Ya sudah . . . Kalau gitu mari kita coba tanya kan lagi sama anak kita. Ini nama terakhir yang kita tanya kan, kalau enggak ada respon juga berarti kita yang pilih lagi". Eggy mah pantang menyerah.
Almira tertawa kecil melihat suami nya yang pantang menyerah.
__ADS_1
"Bismillahhirrohmanirrohiim, anak Daddy dan Mommy sayang, ini nama terakhir yang Daddy tanya ke kamu ya sayang. Kalau kamu suka, kamu tendang perut Mommy ya nak. Kalau kamu enggak suka, enggak usah di tendang perut Mommy. Dengerin Daddy ya nak". Eggy berbicara di depan perut Almira.
"Ghifari Syafi Muzakki Wijaya . . .". Ia menyebut nama terakhir itu. Mereka harap - harap cemas menanti apakah calon bayi mereka merespon atau tidak.
"Ghifari Syafi Muzakki Wijaya". Ulang nya.
#Geduuuuk . . . Geduuuk . . .
Tendangan kecil dari sang calon bayi begitu terasa dengan jelas. Mata Almira dan Eggy terbelalak karena terkejut bahagia.
"Ma Sya ALLAH nak . . .". Ujar mereka.
"Ghifari Syafi Muzakki Wijaya". Eggy mengulang kembali dan berulang kali juga sang calon bayi menendang perut Almira.
Eggy/ "Ya ALLAH . . . Ternyata ini pilihan kamu nak. Pilihan terakhir ya nak? Pintar kali anak nya Daddy Mommy nih, pintar dia milih nama, Ghifari Syafi Muzakki Wijaya yang arti nya Anak Laki - laki yang di lahir kan dengan kelembutan hati, dan menjadi penolong bagi orang lain".
Mata Almira berkaca - kaca.
"Ma Sya ALLAH nak, semoga kamu jadi anak yang Shalih ya nak, yang selalu memiliki hati yang lembut dan menjadi penolong bagi orang lain, sama seperti arti nama kamu ya nak, Aamiin".
"Aamiin Ya ALLAH". Eggy tersenyum bahagia sembari mengelus perut Almira.
.
.
Flash On . . .
Ghifari sudah berdiri di hadapan Mommy nya.
"Ada apa Mommy?, kok dari tadi Mommy teriak - teriak manggil Daddy?".
"Iya sayang, Mommy memang lagi nyariin Daddy kamu. Ghifari lihat enggak Daddy dimana?". Almira berlutut di hadapan anak nya agar bisa sejajar dengan nya.
Ghifari/ "Tadi pas Ghifari main sama si Snow di taman depan, Ghifari lihat Daddy pergi keluar naik mobil, tapi Ghifari enggak tahu Daddy mau kemana, Daddy pun enggak sempat ngeliat Ghifari lagi main di luar".
Snow itu kucing kesayangan Ghifari. Ia menamakan nya Snow karena bulu nya yang berwarna putih solid, tebal dan lembut.
"Ouh . . . Ya sudah, Ghifari sekarang tidur siang yok, biar badan Ghifari makin kuat dan sehat". Almira berdiri lalu mengajak anak nya masuk ke dalam kamar.
"Umm . . . Ghifari enggak mau Mom. Ghifari masih mau main sama si Snow". Rengek nya.
Almira/ "Ghifari sayang, main sama Snow nya nanti lagi sekarang kamu tidur siang dulu, lagian lihat tuh si Snow nya juga mau tidur". Almira menunjuk kan ke arah Snow yang sudah tertidur manja di sofa khusus milik nya.
"Nanti Daddy marah lho kalau kamu enggak tidur siang, terus di suntik, emang Ghifari mau kalau di suntik sama Daddy?".
Almira berhasil menakut - nakuti anak nya. Ghifari menggeleng kan kepala nya, ia takut kalau di suntik.
"Ya sudah, kalau Ghifari enggak mau di suntik, kalau gitu mari kita tidur siang yuk". Almira menggandeng tangan Ghifari, mereka berjalan menuju ke kamar Ghifari yang terletak di lantai 2.
.
.
"Assalamualaikum . . .". Terdengar suara laki - laki mengucap kan salam dari pintu utama.
Ghifari yang tengah bermain dengan Snow, menoleh ke arah pintu.
"Waalaikumsalam, Daddy . . .". Ghifari berlari mengejar Daddy nya alias Eggy.
Eggy menggendong anak nya itu.
"Aduuuh makin hari kamu makin berat saja kamu nak he he he".
Ghifari/ "Yaaah Daddy, kalau gitu mulai besok Ghifari diet lah biar badan Ghifari enggak berat".
"Ha ha ha, kamu itu ya, masih kecil sudah tahu tentang diet - diet". Eggy mencubit pipi Ghifari.
Ghifari/ "Ya tahu lah Dad, kan Daddy juga sering diet kalau Daddy lagi jadi model. Jadi Ghifari harus diet biar Ghifari bisa jadi model kayak Daddy".
"Ha ha ha . . . Kamu boleh mau jadi apa saja, yang penting kamu harus sehat, no diet diet. Ghifari masih kecil enggak boleh diet - diet. Oke". Eggy mengacungi jempol nya lalu di balas dengan Ghifari, ia menempel kan jempol nya pada jempol Daddy nya.
"Oke Dad".
"Oh ya . . . Mommy kamu dimana?". Eggy celingukan mencari Almira.
Ghifari/ "Mommy di belakang, lagi nyiapin makan malam. Oh ya tadi siang Mommy teriak - teriak lho manggilin Daddy".
" Oh ya? Emank Mommy kenapa teriak - teriak manggilin Daddy?".
Ghifari/ "Ghifari enggak tahu Dad, coba Daddy tanya saja sendiri sama Mommy". Ia menaikkan kedua bahu nya.
Eggy terdiam sembari melirik ke dapur.
"Ya sudah, Ghifari main - main lagi gih sama Snow, Daddy mau ke belakang jumpai Mommy kamu dulu". Eggy menurun kan Ghifari dari gendongan nya.
Ghifari mengangguk.
Eggy/ "Oh iya. Ghifari sudah sholat Isya?".
Ghifari/ "Sudah Dad, tadi sholat nya sama Mommy".
__ADS_1
Eggy/ "Alhamdulillah, anak Daddy yang anak sholih, ya sudah Daddy tinggal bentar ya".
Ghifari/ "Iya Dad".
Eggy berjalan menuju ke dapur, ia melihat Almira tengah sibuk membuat juice. Eggy mendekati nya lalu memeluk nya dari belakang.
"Assalamualaikum sayang".
Almira sedikit terkejut namun ia tetap fokus pada juicer nya tanpa menghirau kan Eggy. Mesin juicer pun mati, itu tanda nya juice sudah jadi. Tanpa berkata, dengan lembut Almira melepas kan lingkaran tangan Eggy yang berada di pinggang nya. Sentak wajah Eggy berubah. Ia melihat wajah sang istri begitu datar.
"Suam cepat ganti baju, abis tuh makan malam, soal nya Ghifari sudah lapar". Tanpa melihat ke arah Eggy. Ia berjalan menuju ke meja makan sambil membawa beberapa mangkuk yang berisi makanan.
"Iya sayang". Eggy menuruti nya.
Dari makan malam hingga setelah menidur kan Ghifari, Almira masih mendiam kan Eggy. Almira berjalan memasuki kamar mereka. Alis mata nya mengerut ketika ia melihat kamar nya begitu gelap. Ia meraba pada dinding yang ada tombol on off lampu. Ia memencet tombol tersebut namun lampu tak juga hidup.
"Apa putus ya lampu nya?, Su . . . .". Almira mengurung kan niat nya untuk memanggil Eggy.
#kletek . . .
Terdengar suara pintu tertutup, Almira semakin tidak bisa melihat apa pun. Ia meraba ke sana kemari untuk mencari ponsel nya atau sesuatu yang bisa mengeluar kan cahaya.
#gedebuk....
"Aduuuuh... Siapa sih yang ngeletak dinding di sini". Rintih nya sembari ngedumel dan memegangi jidat nya yang kejedot dinding.
Almira masih meraba yang ada di depan nya, tanpa sengaja ia meraba sesuatu yang membuat alis nya menyatu. Ia meraba keseluruhan nya, ehh ternyata yang ia raba itu tubuh nya Eggy yang sudah berdiri di hadapan nya. Almira sadar kalau itu adalah Eggy namun tetap cuek. Eggy menarik tangan Almira lalu memeluk nya.
"Suam minta maaf ya Ist. Maafin Suam karena Suam keseringan enggak bilang - bilang sama Ist kalau Suam mau keluar, tadi tiba - tiba saja ada panggilan darurat di rumah sakit, maka nya Suam enggak sempat bilang sama Ist". Bisik nya dengan lemah lembut.
Almira tahu ini pasti ulah nya.
"Sudah... hidup kan lampu kamar nya, gelap ini aah". Ketus nya.
Eggy/ "Maafin dulu, kalau enggak, enggak mau Suam hidup kan lampu nya".
"Ya sudah kalau enggak mau ngidupin lampu nya, Ist bisa tidur di kamar Ghifari". Almira melepas kan tangan Eggy. Namun di tahan oleh Eggy dengan sekuat tenaga.
"Ehh... Eh.. Iya iya, Suam hidup kan lagi lampu nya. Tapi jangan biarin Suam tidur sendirian ya?". Eggy pun menghidup kan lampu tidur yang ada di meja.
"Kok lampu tidur yang di hidup kan?, lampu ini". Tangan Almira menunjuk ke atas tepat di posisi lampu.
Eggy/ "Bola lampu nya putus maka nya mati, Suam lagi enggak nyimpan stock bola lampu. Maka nya lampu tidur yang Suam hidup kan".
Almira/ "Haiiiiih ternyata, pantesan saja di kletekin tombol nya enggak hidup juga, hufft".
Eggy menarik tangan Almira lalu duduk di atas tempat tidur.
"Jadi, Suam di maafin enggak nih? He he he".
Almira memutar bola mata nya.
"Ngeselin".
Eggy/ "Di maafin enggak nih Ist sayang ku cinta ku?".
Almira/ "Enggak". Ketus.
Eggy/ "Ya sudah kalau enggak di maafin, kalau gitu Suam tidur di kamar Ghifari aja".
Almira/ "Ya sudah, tidur lah sana".
"Iiiiiih kok gitu, tadi aja pas Ist ngancam kayak gitu Suam langsung nurut, masa giliran Suam yang ngancam Ist nya malah makin nyuruh Suam tidur di kamar Ghifari". Eggy merasa kesal seperti anak - anak.
Almira menahan tawa nya melihat betapa manja nya Eggy.
"Hoaaamm.... Ya sudah, Ist mau tidur, Ist sudah ngantuk ini. Kalau Suam mau tidur di kamar Ghifari jangan lupa di tutup pintu kamar nya". Almira membuang badan nya di atas tempat tidur lalu menyelimuti tubuh nya.
Eggy melesek seperti cacing kepanasan, ia tidak tahan jika Almira merajuk kepada nya. Eggy pun berbaring di samping Almira, ia melihat punggung Almira yang memunggungi nya. Eggy menghentak - hentak kan badan nya agar Almira menoleh ke arah nya. Namun Almira tak berkutik. Wajah Eggy frustasi, ia pun ikut memunggungi Almira karena usaha nya tak berhasil.
Almira sendiri sebenar nya juga tidak tahan mendiami Eggy terlalu lama, rasa nya ia ingin tertawa dengan tingkah Eggy. Almira membalik kan badan nya. Ia tersenyum melihat Eggy memunggungi nya juga lalu ia memeluk tubuh Eggy dari belakang. Respon Eggy begitu cepat, ia pun membalik kan badan nya.
"Sering - sering aja buat kayak gitu biar Ist merajuk terus sama Suam". Almira menatap wajah Eggy.
"Enggak, Suam janji, kali ini janji Suam akan di tepati, Suam janji kalau Suam mau kemana aja Suam akan bilang - bilang sama Ist". Eggy mengangkat kedua jari tangan kanan nya.
Almira/ "Wuuu... Paling entar di lupa'in lagi janji nya".
Eggy/ "Janji lho sayang, In Sya ALLAH".
"Awas janji nya kalau enggak di tepati". Almira memencet ujung hidung Eggy.
"Iya In Sya ALLAH, jadi Ist sudah enggak marah lagi kan sama Suam?". Eggy mempererat pelukan nya.
Almira menggelengkan kepala nya, rasa kantuk sudah menjalar pada Almira. Eggy mencium kening dan ubun - ubun Almira.
"Makasi ya sayang, ya sudah, yok kita tidur, besok Suam ada jadwal operasi di rumah sakit".
" Hmm".
Almira mengangguk pelan sembari tersenyum, lalu memejam kan mata nya yang terasa berat.
__ADS_1