
Almira yang kini sudah hijrah memakai setelan Syar 'i dengan khimar nya yang panjang. Dia berdiri menyandar kan tubuh nya pada dinding suatu ruangan yang di lengkapi dengan interior ruangan yakni ruangan gedung management kelas modelling nya.
"Kamu yakin Ra mau keluar kelas?". Salah satu teman model nya yang sibuk merapi kan hijab nya di depan cermin bertanya pada Almira.
"In Sya ALLAH yakin La". Ujar nya melirik teman nya itu.
"Sayang banget kalau kamu keluar, padahal kalau lagi ada event - event kamu yang selalu di pilih sama pihak management, kan lumayan juga itu duit nya. Lagian apa sih alasan kamu keluar kelas?".
Almira tertawa kecil/ "Hmm . . Masih banyak kewajiban aku yang belum aku selesai kan La, aku takut ntar enggak bisa membagi waktu nya, terus alasan yang paling kuat kenapa aku keluar itu, karena aku lagi proses memperbaiki diri aku sama ALLAH, aku enggak mau hijrah hanya setengah - setengah, selebih nya kamu pasti faham maksud aku gimana".
Ola/ "Hmp . . Iya sih, aku ngerti maksud kamu apa, sebenar nya pun kita sebagai wanita muslimah tidak boleh menampil kan diri pada banyak orang apa lagi di sini kita posisi nya memamer kan kecantikan kita, bukan hanya kaum wanita yang melihat tapi kaum pria juga, belum lagi kalau kita lagi ada event couple, otomatis kita pasti berinteraksi sama cowok itu".
Almira/ "Itu dia La, Bagi kebanyakan orang, itu suatu hal yang membangga kan dapat menginsfirasikan wanita muslimah lain nya dan mereka beranggapan bahwa kita udah menjadi wanita muslimah sesungguh nya, padahal itu belum tentu sama sekali di mata ALLAH. Aku sama sekali enggak menyalah kan orang lain dan merasa aku yang paling benar, enggak sama sekali, karena itu hak masing - masing. Urusan lain nya hanya ALLAH yang tahu. Emang hijrah itu butuh proses dan ada tahapan nya enggak bisa langsung bisa ke tahap akhir, tapi paling enggak nya sedikit demi sedikit aku melangkah menuju kebaikan, aku enggak terus - terusan jalan di tempat".
Ola/ "Iya Ra, aku juga mikir nya gitu, ibarat cuma hijrah palsu, orang - orang beranggap aku sudah hijrah hanya karena aku sekarang sudah berhijab, padahal aku juga masih ke buka tutup nih hijab, belum lagi sama sifat - sifat buruk aku yang masih melekat di diri aku, mereka mana tau soal itu, yang mereka tau aku itu yaaa wanita muslimah salihah yang bisa menginsfirasi kan mereka".
Almira/ "Itu lebih baik dari pada tidak sama sekali La, kalau kamu benar - benar melakukan ini semata - mata karena ALLAH Taala dan istiqomah di jalan ALLAH, In Sya ALLAH cepat atau lambat kamu pasti bisa melangkah menuju ke tahap berikut nya".
Ola/ "Aamiin, semoga kita selalu istiqomah di jalan ALLAH. Pantesan aja akhir - akhir ini aku tengok penampilan kamu berubah drastis, terus selalu nolak kalau di ajak event couple, apa lagi kalau lagi ada kumpul - kumpul sama cowok - cowok nya, kamu menjauh. Aku pikir karena kamu ada rasa kesal sama salah satu dari mereka, ternyata teman ku ini menjauh karena kamu sudah benar - benar salihah banget ".
Almira/ "He he he aku masih jauh dari kata salihah La, aku masih mau memamerkan diri aku sendiri dan aku juga masih mau ngobrol - ngobrol sama lawan jenis dan jalan bareng mereka. Aku merasa enggak pantes di sebut salihah".
Ola/ "Elleh kamu itu selalu aja merendah".
Almira/ "Bukan merendah tapi benaran, wanita salihah itu seperti Ibunda Siti Khadijah, Fatimah Az - Zahra, Aisyah, Asiyah dan wanita - wanita salihah lain nya di zaman nabi dulu yang enggak mau menunjuk kan jati diri nya ke halayak ramai, terutama di hadapan kaum lelaki. Aku mah jauh banget dari beliau - beliau he he he".
Ola/ "hmm iya deh iya, mudah - mudahan kita bisa seperti mereka ya".
Almira/ "Aamiin Allahhumma Aamiin".
#Yang kau lihat sempurna, masih banyak kekurangan nya.
Yang kau anggap suci, masih banyak khilaf dan dosa nya.
Banyak orang terjebak dalam istilah hijrah, tapi sedikit dari mereka yang hanya mengubah penampilan tapi lupa memperbaiki keimanan nya.
Hakikat hijrah sebenar nya adalah mengubah penampilan dan meningkat kan keimanan, lalu mengamalkan nya dalam keseharian.
Jangan lah terlihat mulia di mata manusia namun terlihat buruk di mata ALLAH Subhanaahuu Wataala.
.
.
Usai mengobrol serta berpamitan pada pihak management atas keluar nya dia dari kelas. Almira berjalan menuju ke pinggir jalan tempat pemberhentian angkot. Almira berdiri di bawah cuaca yang lumayan panas, sesekali dia melirik ke ujung jalan menanti angkot jurusan ke arah rumah nya yang tak kunjung datang.
Biasa . . . Gitu emang kalau di Medan, di tunggu tak nongol - nongol tuh angkot, giliran tak di tunggu sudah kayak di terminal, berjajar di tepi pasar menunggu penumpang.
Tanpa sengaja mata Almira mendapati seorang lelaki yang membelakangi sedang bermain dengan beberapa anak - anak kecil yang menggemas kan di resto yang terletak di belakang nya. Almira tersenyum dan terasa sejuk melihat pemandangan itu. Anak - anak tersebut tertawa bahagia karena lelaki tersebut melakukan hal - hal yang lucu untuk mereka. Meski Almira tak mengetahui siapa dia dan tak mendengar suara tawa mereka tapi Almira merasa bahagia melihat raut kebahagiaan terukir di wajah mereka.
"Permisi nak . . . ". Seorang Kakek - kakek mengaget kan Almira.
"Allahhu Akbar". Almira terkejut dan menoleh ke arah kakek yang terlihat lusuh dan siapa pun yang melihat kakek tersebut akan menangis karena iba dan kasian melihat kondisi nya.
"I . . Iya Kek . . ?".
"Kakek boleh minta tolong?".
"Tolong apa kek?". Tutur nya dengan lembut.
"Ini kakek butuh duit untuk makan tapi kakek bukan minta sedekah, kakek mau jual ini". Kakek itu menunjuk kan kotak kecil yang ada di tangan nya. Meski dia takut namun dia merasa iba melihat kakek itu.
"Apa itu kek?". Alis nya mengerut melihat box itu.
"Ini hamster kesayangan kakek, karna kakek lagi butuh duit terus enggak ada lagi yang bisa di jual, jadi kakek harus ngejual hamster - hamster ini".
"Oh . . . Ya sudah kek, gini aja, hamster nya kakek bawa pulang aja lagi, ini saya kasih sedikit rezeky untuk kakek". Almira merogoh kan dompet nya yang ada di dalam tas dan mengeluar kan beberapa uang seratus ribuan.
"Enggak usah nak, kakek bukan minta sedekah". Tolak nya.
Almira/ "Iya kek, saya tau, tapi saya ikhlas kok".
"Kakek enggak mau nerima nya kalau kamu cuma ngasi duit tapi kamu enggak mau hamster nya, lagian kakek juga udah enggak sanggup lagi melihara mereka, kakek udah tua belum lagi biaya makan nya".
Almira semakin iba dan meraih box kecil itu/"Hmm . . . Ya sudah kek, saya beli ya hamster - hamster kakek, berapa harga nya kek?".
"Seikhlas nya aja nak".
Almira mengeluar kan dompet nya lagi dan menambah kan lembaran uang seratus ribuan nya lalu menyodor kan ke kakek itu.
"Ini kek . . Saya beli dengan harga segini ya kek".
"Ini banyak kali nak". Kakek itu terkejut melihat uang yang di sodor kan Almira yang kira - kira lima ratus ribuan.
"Enggak apa - apa kek, mudah - mudahan berkah ya kek". Almira tersenyum melihat kakek itu tampak senang tapi sedikit terkejut. Almira melirik ke jalan yang kebetulan angkot yang dia tunggu akhir nya nongol juga. Dengan terpaksa Almira menyetop angkot tersebut dan pamit pada kakek itu berhubung hari semakin sore.
Almira/ "Kek, maaf ya saya tinggal duluan, soal nya angkot yang saya tunggu udah ada ".
"Iya, enggak apa - apa nak, makasi banyak ya nak, semoga rezeky nya berlimpah berkah dan bahagia di dunia dan di akhirat.
"Aamiin, makasi banyak ya kek, saya pamit kek". Almira menaiki angkot tersebut dan tak lupa membawa box kecil berisi sepasang hamster yang dia beli dari kakek tersebut.
.
.
"Assalamulaikum ". Ucap nya setiba di rumah.
"Waalaikumsalam". Aira menjawab salam nya.
Almira berjalan melewati Aira yang duduk di ruang tv sambil bermain hp.
"Bawa apa tuh?". Aira melirik bawaan Almira.
"Ouh ini, hamster". Almira memamer kan mereka.
"Ya ALLAH . . Kamu carik marah ayah nih beli - beli beginian".
"Beli apa?". Sang Ayah pun muncul dari kamar nya.
Aira dan Almira menoleh.
Aira/ "Ini Yah, si Rara beli hamster".
Si Ayah mengusap wajah nya / "Carik kerjaan lagi kamu Ra?, itu kelinci kamu aja masih ada, ini nambah lagi hamster, mau kamu letak mana entar?".
"He he he, kan enggak apa - apa Yah, biar makin rame". Almira nyengir tanpa memberi tahu alasan dia membeli mereka.
Ayah/ "Huh . . Sekalian aja entar kamu buat mini zoo di rumah ini".
Almira/ "Ooop . . . Rencana nya gitu Yah, kan keren itu ha ha ha ha".
Pak Syarif menggeleng kan kepala nya dengan hobby anak nya sejak kecil yang suka memelihara hewan - hewan yang menggemas kan.
.
.
"Kamu bawa apa itu nak ?". Pak Syarif alias Ayah dari Almira dan Aira menanyakan pada anak bungsu nya alias Almira kecil yang baru pulang dari sekolah sedang menenteng bungkusan plastik.
"Ini Yah . . Tadi pulang sekolah Rara beli ikan mas koki di sekolah Rara, cantik - cantik ikan nya Yah". Rara kecil memamer kan nya pada sang Ayah. Terlihat lah sepasang ikan mas koki yang gembul berwarna jingga bercorak putih pada ekor nya.
__ADS_1
Ayah/ "Ya ampun sayang, mau di letak di mana ikan nya?, ikan nya mesti pakek oksigen".
"Ya udah ayah beli aja lah tempat sama oksigen untuk ikan nya hi hi hi". 👧
.
.
"Kucing siapa itu kamu bawa ke rumah?". Pak Syarif melihat Almira sedang memberi makan pada anak kucing lucu sepulang dia bermain dengan teman - teman nya.
"Bukan punya siapa - siapa yah, tadi Rara ketemu di jalan, kasian dia kelaparan yah maka nya Rara bawa he he he". Almira menoleh ke ayah nya sembari mengelus - ngelus kepala kucing tersebut. "Meaw 😸 ".
.
.
"Ciiit ciiit". Terdengar suara riuh anak ayam dari belakang rumah. Karna penasaran pak Syarif bergegas menuju halaman belakang rumah nya.
Mata Pak Syarif terbelalak ketika dia melihat banyak nya anak - anak ayam berwarna - warni biasa nya di sebut ayam teletubies. Dan di tengah nya ada Almira sedang memberi mereka makan.
Ayah/ "Rara . . . Kamu beli ayam ?".
Rara menoleh ke arah pusat suara.
"he he he iya Yah ".
Ayah/ "Astaghfirullah . . Kamu itu ya, enggak ada habis - habis nya. Ada aja yang kamu beli untuk di pelihara, biasa nya anak - anak kecil itu beli nya jajan sama mainan, ini kamu ngabisi duit jajan untuk beli hewan - hewan peliharaan".
Almira/ "Nama nya Rara suka Yah". Almira tertunduk.
Ayah/ "Hmm . . . Suka boleh tapi jangan banyak - banyak sayang, ikan sampek 2 aquarium di tambah lagi kura - kura, trus kucing yang udah beranak pinak, ini lagi ayam teletubies, di rumah ini udah kayak mini zoo kamu buat sayang".
Almira/ "Kan enggak apa - apa yah, keren punya mini zoo di rumah jarang di rumah orang yang ada mini zoo nya. Terus lagi kalau ayam - ayam ini ntar udah besar bisa kita potong terus di makan Yah he he he".
Sang Ayah cuma bisa menepuk jidat serta menggeleng kan kepala nya dengan kesukaan anak bungsu nya itu.
.
.
Almira sedang sibuk mengatur kandang hamster yang baru dia beli di pet shop terdekat.
Dia meletakkan serbuk kayu serta tempat makan dan mainan ke dalam kandang tersebut.
"Kamu itu, dari dulu enggak pernah berubah, ngabisi duit selalu untuk beginian, kamu nurun siapa sih suka binatang kayak gini". Buk Imah alias mamak nya merasa heran memperhatikan nya.
Almira/ "Mana lah Rara tau nurun siapa. Mungkin ayah kali, soal nya Rara liat ayah juga suka ngasi makan binatang - binatang di luar".
"Iya, tapi enggak di bawa pulang juga". Pak Syarif tiba - tiba menyambung pembicaraan mereka dan mengusap kepala Almira. Almira menoleh dan memonyong kan bibir nya.
Mamak/ "Kok lama kali pulang dari mesjid nya bang?".
Ayah/ "Iya, tadi abis shalat enggak sengaja jumpa sama kawan sekolah abang dulu jadi cerita - cerita lah sama dia". Beliau pun duduk di samping istri nya.
Mamak/ "Ouh . . Kawan abang yang mana?".
Ayah/ "Imah enggak kenal. Nama nya Anto dulu dia tinggal dekat sini tapi abis tamat sekolah dia merantau kerja ke Malaysia, terus sekarang dia udah balik lagi tinggal di sini karena anak - anak nya yang nyuruh buka usaha aja di sini enggak payah kerja lagi di negara orang".
Mamak/ "hmm . . . Emang di Malaysia dia kerja apa bang?".
Ayah/ "Buka usaha juga dia, usaha warung sarapan pagi, jadi anak - anak nya mau nya di sini ngelanjuti usaha nya, terus pun anak - anak nya udah sukses semua di sini jadi enggak mau lagi ngeliat orang tua nya capek - capek nyarik duit".
Mamak/ "bagus lah itu, betul juga anak - anak nya. Percuma lah kita udah nyekolahi anak - anak kita tapi anak - anak kita masih membiar kan orang tua nya kesusahan".
Ayah/ "Iya, ini kata nya anak pertama nya mau nyarik jodoh".
Mamak/ "Anak nya laki - laki apa perempuan bang?".
Ayah/ "Laki - laki, umur nya 28 tahun, dia PNS di dinas pendudukan. Orang nya alim kalau tampang lumayan lah. Tadi dia ikut juga shalat di mesjid, kalau enggak salah nama nya Khairil".
Spontan Almira menoleh ke arah orang tua nya. Yang tadi nya dia di cueki dan masih sibuk dengan hamster - hamster nya spontan mata nya terbelalak.
Almira/ "Iiih apaan mamak ini".
Mamak/ "Ya kan betul, jodohi sama kamu aja, apa lagi, dia udah dewasa, mapan pokok nya udah pas lah untuk kamu, kan kamu bilang kalau kamu enggak mau pacar - pacaran lagi, mau nya langsung nikah".
Almira/ "Enggak . . Enggak . . Enggak . . Emang Rara mau nya langsung nikah enggak pakek pacar - pacaran tapi enggak kayak gini juga".
Mamak/ "Lho emang nya kenapa?".
Almira/ "Rara belum siap untuk nikah, lagian masa iya Rara mau ngelangkahi kak Aira".
Mamak/ "Nama nya juga udah jodoh nya gitu gimana lagi. Lagian salah dia juga kenapa lama - lama kali pacaran nya, enggak langsung nikah aja".
Almira/ "Enggak mau tau, pokok nya Rara bakal nikah kalau kak Aira sudah nikah. Rara enggak mau ngelangkah - langkahi".
Ayah/ "Iyaaa, kalian ini ngomong apa sih, lagian belum tentu orang nya mau sama Rara, udah cerita langkah - melangkahi aja".
Almira/ "Betul itu Yah, belum tentu dia mau sama Rara, apa lagi dia orang nya kayak gitu udah pasti dia mau nya yang sama kayak dia, PNS juga. Bukan calon istri kayak Rara yang pengangguran".
Mamak/ "hmm . . . Iya iya . . .".
"Assalamualaikum . . ". Terdengar suara Aira yang baru pulang abis nemeni Ryan ke tempat teman nya.
"Waalaikumsalam". Jawab mereka secara serentak.
Dengan santun Ryan menciumi tangan kedua orang tua pacar nya.
"Om . . Buk . . ".
Ayah/ "Kalian dari mana?".
Ryan/ "Dari rumah kawan Ryan om, dia baru pindahan jadi dia buat syukuran".
"Hmm . .".
"Baru beli hewan peliharaan lagi Ra?". Ryan memperhatikan Almira yang masih sibuk dengan hamster - hamster nya.
Almira/ "Iya bang, he he he".
"Hmm . . Biasa, kalau sudah dari luar, pasti ada saja yang di bawa nya ke rumah". Aira menimpal.
Almira/ "Biarin, nama nya juga hobby lweek".
"Isssh . . . Dasar".
"Ha ha ha". Ryan tertawa melihat kakak beradik ini.
.
.
Tak lama mereka mengobrol bersama sembari melihat Almira yang tengah sibuk dengan hewan - hewan kesayangan nya. Ryan pun pamit pulang, tak lupa dia mencium tangan kedua orang tua pacar nya alias Pak Syarif dan Buk Imah.
Aira mengantar nya sampai di depan pintu rumah dan kembali masuk ke dalam usai melihat Ryan berlalu dengan sepeda motor nya.
"Aira". Terdengar suara lembut namun tegas memanggil nya.
"Iya Yah . . ?". Aira menghampiri Pak Syarif yang sudah duduk di kursi tamu.
Ayah/ "Ayah mau ngomong sama kamu".
__ADS_1
Aira duduk di kursi yang berhadapan dengan Ayah nya.
"Mau ngomongin apa Yah?".
"Hubungan kamu sama Ryan mau sampai kapan seperti ini terus?". Tanpa basa - basi Pak Syarif mempertanyaakan hal yang membuat Aira sulit untuk menjawab nya dan tertunduk.
Ayah/ "Mau sampai kapan kalian kayak gini terus - terusan?. Emang nya kalian enggak pengen menunaikan sunnah Rasul (menikah) ?, merasakan indah nya hubungan yang halal. Umur kalian semakin bertambah, apa lagi kamu sudah berumur 27 tahun, kamu itu perempuan, enggak baik kalau kamu kelamaan nikah nya. Ayah nasihati kamu seperti ini untuk kebaikan kamu bukan memojok kan kamu. Ayah tahu, jodoh itu di tangan ALLAH, kita berencana ALLAH yang menentukan, tapi semua nya ada ikhtiar nya, enggak bisa kita diam - diam saja menerima mentah - mentah apa yang ada di depan kita. Mamak kalian sudah memburu - buru'in Rara untuk menikah bahkan mau menjodohkan Rara dengan seseorang, tapi Rara menolak nya karena menunggu kamu, dia enggak mau sampai melangkahi kamu. Kalau kamu sayang sama Ayah, Mamak dan Rara, terlebih lagi kalau kamu sayang sama diri kamu sendiri, coba kamu tanya sama hati kamu, apa kamu bahagia dengan hubungan kayak gini terus?. Coba kamu tanya dan bicarakan baik - baik sama Ryan, mau di bawa kemana hubungan kalian. Kalau kalian masih gini - gini terus dan enggak mau berkomitmen sampai tiba jodoh nya Rara, Ayah akan memaksa kamu untuk ninggalin Ryan yang enggak pernah mau berkomitmen sama kamu. Bukan ayah enggak sayang sama kamu, Ayah bukan memaksa kamu karena Rara, tapi ini semua demi kebaikan kamu, demi masa depan kamu".
Aira hanya tertunduk mendengarkan dengan seksama nasihat sang ayah yang membuat nya berpikir keras.
Aira merenungkan nasihat dari ayah nya, ia termenung di dalam kamar nya dan masih enggak tau apa yang harus dia lakukan.
"Kak, pinjam flashdisk lah". Almira tiba - tiba masuk ke dalam kamar Aira dan mengagetkan nya.
Aira tersentak dan menoleh ke arah Almira.
"Itu di atas laptop". Aira menunjukkan ke arah meja rias nya.
Almira menuju meja rias kakak nya untuk mengambil flashdisk yang tergeletak di atas laptop Aira. "Pinjam bentar ya".
Almira melangkah untuk keluar kamar.
"Ra . .". Panggil nya, menahan Almira keluar dari kamar nya.
Almira menoleh. "Hem?".
Aira/ "Emang kamu mau cepat nikah ya?".
Dahi Almira berkerut mendengar pertanyaan Aira.
"Hffft . . . Ini pasti mamak cerita ke kakak ya, soal mau ngejodohi Rara sama anak teman Ayah, iya kan?".
Aira/ "Enggak, mamak enggak ada cerita soal itu ke kakak".
Almira/ "Jadi, kenapa nanya'in itu?".
Aira/ "Enggak apa - apa, kakak cuma mau tau saja. Kalau kamu emang mau nikah cepat dan harus melangkahi kakak, itu enggak masalah, kakak ikhlas kok, kamu enggak perlu menunggu kakak".
Almira menghampiri Aira duduk di samping nya.
"Kakak ku tersayang, umur Rara masih 21 tahun, masih muda banget. Kan Rara sudah pernah bilang ke kakak, walau pun Rara emang sudah enggak mau lagi pacar - pacaran dan mau nya langsung nikah saja, bukan berarti Rara mau nya nikah cepat - cepat. Rara butuh kesiapan yang benar - benar matang. Emang kita enggak permah tau jodoh itu datang nya kapan tapi paling enggak nya Rara akan menikah di saat Rara benar - benar siap dan benar - benar pantas untuk menikah".
Aira/ "Ini pasti karena kamu enggak mau dan takut kan ngelangkahi kakak?".
"Iiih perasaan kali, siapa juga yang takut ha ha ha". Almira meledek Aira dan memeluk nya.
Almira/ "Udah kak, enggak usah kakak pikirin kali, In Sya ALLAH Rara enggak akan ngelangkahi kakak, Rara masih mau menikmati proses perbaikan diri dulu baru mikirin tentang itu. Paling entar - entar lagi bang Ryan bakal ngelamar kakak, tenang saja kakak, he he he".
Aira/ "Sok tau".
"Ya tau lah, kan Rara punya Indera Herlambang ehh maksud nya Indera ke 6, jadi Rara bisa menerawang nya dari kuku - kuku Rara. Ha ha ha ha". Celetuk nya untuk meringankan beban pikiran Aira.
"Ha ha ha . . . Orang stres cakap gini nih, ngomong nya ngacok".
"Enak aja bilangi Rara stres". Almira memanyunkan bibir nya sembari mata nya memicing sinis.
"Ha ha ha, tapi kalau tiba - tiba ada cwowok yang bikin kamu jatuh cinta terus langsung ngelamar kamu, gimana hayo?, apa mau kamu tolak?".
Almira/ "Mmm . . . Ya Rara coba tanya aja ke dia nya, mau nungguin atau enggak. Kalau dia mau nungguin Alhamdulillah silahkan, kalau enggak mau, ya udah bye bye, berarti bukan dia yang ALLAH pilihkan untuk Rara. Lagian cowok di muka bumi ini banyak kok, masa iya enggak ada sebijik pun untuk Rara ha ha ha".
Aira/ "Sebijik . . ., kamu kira dia biji - bijian di bilang sebijik, ha ha ha".
.
.
Setelah berpikir keras, akhir nya Aira bertekad untuk meminta kepastian dari Ryan. Apa pun jawaban dari Ryan, Aira sudah memiliki keputusan yang sudah dia tekadkan dengan bulat.
Aira mengajak Ryan makan malam bersama di salah satu caffe langganan mereka.
Mereka menikmati makan malam yang sudah di hidangkan oleh seorang pelayan caffe.
Alunan musik jazz membuat suasana caffe terasa lebih romantis.
"Kamu kok tumben cuma pesan cake doank, enggak pesan makanan berat nya?". Ryan merasa heran pada Aira.
"Iya . . . Perut aku lagi enggak enak". Jawab nya, tersenyum pada Ryan.
Ryan/ "Jangan bilang kalau kamu lagi diet - dietan?".
Aira/ "Enggak kok Yank, emang lagi enggak enak aja perut nya".
Ryan/ "Hmm . . . Kira'in kamu lagi diet. Awas kalau kamu diet - diet ya".
Aira/ "Iya . . .".
Ryan/ "Ya sudah, siap makan, kita langsung pulang saja ya, enggak usah kemana - mana lagi, biar kamu bisa cepat istirahat, biar bangun besok sudah enakan perut kamu".
Aira menganggukkan kepala nya. Ia masih bingung harus memulai nya dari mana.
Waktu terus berjalan, Aira masih belum bisa membicarakannya pada Ryan. Mereka sudah selesai menyantap makanan tersebut. Dan Ryan pun mengajak Aira pulang.
"Yok . . . Kita pulang". Ryan bangkit dari duduk nya, sedang kan Aira masih terpaku di tempat duduk nya.
"Nanti dulu, ada yang mau aku omongin ke kamu". Aira menahan Ryan dan duduk kembali, menatap nya.
"Mau ngomongin apa Yank?".
Aira menarik nafas dengan tenang. Aira menatap wajah Ryan yang sudah siap - siap mendengarkan nya.
"Hubungan kita sudah berlangsung cukup lama, tanpa sadar itu sudah berjalan hampir 7 tahun".
Ryan masih terdiam mendengarkan Aira dengan seksama.
Aira/ "Aku pikir hubungan kita ini akan cukup untuk kita bahagia bersama, tapi aku salah. Justru hubungan yang kita anggap sangat indah ini memberikan dampak buruk bagi orang - orang di sekitar kita. Aku tidak ingin memaksakan kamu. Kalau kamu sayang dan cinta sama aku, tolong beri aku satu ikatan yang halal di mata ALLAH. Jika tidak . . ". Hati Aira terasa sesak dan mata nya sedikit panas ingin mengeluarkan air mata, hingga kalimat nya terputus.
Aira kembali menarik nafas nya dengan relax.
"Jika tidak, aku ikhlas melepaskan kamu".
Ryan terkejut mendengarkan ucapan pacar nya, terlebih lagi kalimat terakhir untuk diri nya. Hati Ryan menjadi tak karuan dan bingung harus apa.
Ryan mengusap wajah nya dan melirik Aira sudah meneteskan air mata ke pipi nya.
Berkali - kali Ryan menarik dan menghelakan nafas nya agar bisa relax.
Gegana (Gelisah, Galau, Merana).
Ryan menggenggam tangan Aira. "Beri aku waktu". Aira mengangguk pelan sembari mengusap air mata nya.
.
.
Suasana hening, di perjalanan menuju ke kediaman Pak Syarif, mereka larut dalam diam, tak mengucapkan sepatah kata pun. Mereka tiba di depan rumah Aira. Ryan pamit pulang pada orang tua pacar nya.
"Aku pulang ya . .".
Aira hanya menggangguk pelan menatap raut wajah Ryan yang terlihat jelas sedang berpikir keras. Aira berbalik dan masuk ke kamar nya. Dia kembali merenung.
#Malam ini, aku bertekad untuk melangkah ke jalan yang harus nya sejak dulu aku lalui.
__ADS_1
Begitu berat.
Apa pun keputusan nya, aku harus ikhlas menerima nya.