Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 70 #S3


__ADS_3

Ratna terlihat sedikit cemas melihat kondisi Omen yang berbaring di atas tempat tidur dengan wajahnya yang babak belur serta di perban.


"Hmmm... Kamu kenapa bisa di hajar sih sama preman - preman itu?".


"Aku juga enggak tahu Rat. Mungkin ada orang yang menyuruh mereka melakukan ini sama aku. Oh ya! Kamu sudah ngasi tahu ke Mamak aku enggak?". Omen menyunggingkan senyumnya.


"Belum. Aku belum ngasi tahu ke mamak kamu karena aku takut mamak kamu bakalan terkejut. Memang nya kamu mau aku ngasi tahu mamak kamu kalau kamu di sini? Biar aku langsung kabari ini". Ratna mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.


" Enggak usah. Jangan kasi tahu mamak aku, aku takut nanti sesak nafas mamak ku kumat". Omen mencegahnya untuk menelpon orang tuanya.


"Oke. Tapi mamak kamu apa enggak mencari kamu karena kamu enggak pulang - pulang?". Ratna pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.


Omen /" He he he, kalau itu sudah biasa. Mamak aku sudah enggak heran lagi kalau aku enggak pulang karena aku memang sering enggak pulang ke rumah. Aku lebih sering di luar apa lagi kalau lagi banyak kerjaan he he he".


Ratna hanya tersenyum melihatnya.


"Emm... Kamu sudah bilang sama Mama kamu soal pembatalan pernikahan kita?". Omen beralih menyinggung pembicaraan mereka kemarin.


Ratna /" Belum. Soalnya kemarin aku belum ketemu sama Mama ku sejak beliau pulang".


Omen pun manggut - manggut. Mereka memang tidak banyak bicara, apa lagi Omen jika berada di depan Ratna, ia bukan seperti dirinya yang selalu ngomong cablak dan suka iseng. Justru malah kebalikannya, terkadang ia ngomongnya serius, terkadang ia bertutur kata yang rapi dan sopan bahkan tidak pernah sedikit pun terlontar kata - kata anak Medan yang terkesan kasar.


#Tok... Tok.. Tok...


Seseorang mengetuk pintu itu lalu masuk ke dalam ruangan Omen, tak ketinggalan ia mengucapkan salam.


"Permisi. Jadwal pemeriksaan Dokter ya Pak". Seorang suster berkata padanya kemudian Eggy dan asistennya pun masuk mendekati Omen.


Eggy sempat terkejut melihat Ratna berada di samping Omen menemaninya namun ia berusaha untuk cuek agar masih tetap berwibawa di depan karyawannya. Terlebih lagi Ratna dan Omen, keduanya pun tak jauh beda dengan Eggy bahkan mereka terlihat canggung dengan kedatangan Eggy.


Eggy memeriksanya layak seperti pasien pada umum nya, tak banyak bicara apa lagi basa - basi. Eggy hanya berbicara pada asisten dan perawat yang mendampinginya. Ia menyuruh mereka untuk mencatat semua hasil pemeriksaan Omen hari ini.


Omen dan Ratna hanya bisa diam. Di tengah pemeriksaan ponsel Omen berdering akan tetapi Omen enggan menjawab panggilan itu mengingat ia harus menghormati pekerjaan Eggy. Nada deringnya terus berbunyi sehingga menganggu Eggy.


Eggy meliriknya dengan datar.


"Angkat saja telpon nya Pak. Mana tahu itu penting".


" Ha? I... Iya... Maaf ya Dok". Omen gelagap menghadapi Eggy kemudian ia mengambil ponselnya lalu menjawab telponnya. Ia sempat memutar bola matanya melihat yang menelpon ialah Imam.


"Memang lah ini anak". Ia pun mengerutu sembari merapatkan giginya.


" Hallo Assalamualaikum. Kau itu ganggu saja, aku lagi di periksa sama Dokter ini, nanti saja kau nelponnya". Ia memarahi Imam dan ingin menutup panggilannya. Namun...


"Apa?". Spontan ia bernada tinggi sehingga yang lainnya melirik dirinya terutama Eggy yang begitu penasaran apa sebenarnya yang terjadi padanya. Omen sempat memejamkan matanya sejenak mendengar obrolan Imam dari balik panggilan tersebut.


"Ya sudah, nanti aku telpon balik kau. Iya. Hmm. Sudah! Enggak usah takut kau. Iya. Assalamualaikum". Omen menutup panggilannya dan baru tersadar bahwa mereka sedang melihat dirinya kecuali Eggy, ia berpura - pura cuek kemudian keluar dari ruangan itu setelah menyelesaikan pemeriksaannya tanpa berbicara sedikit pun pada Ratna dan Omen.


"Kau betul - betul marah sama aku Gy. Hingga sekarang kau sudah menganggap aku orang asing dan menganggap aku sama seperti pasien lainnya". Lirih dalam hatinya ketika melihat kepergian Eggy tanpa berbicara sedikit pun padanya.


" Dokter Eggy pasti sudah membenci aku karena aku sudah mengkhianati abangnya makanya ia bersikap tidak ramah pada ku bahkan pada sahabatnya sendiri, ia sama sekali tidak berbicara apa pun padanya". Ratna pun berpikir yang hampir sama dengan Omen, sempat ia melirik Omen yang masih melihat ke arah pintu.


" Oh ya Man, sepertinya aku harus balik sekarang juga soalnya aku sudah ada janji sama teman ku. Maaf kalau aku tidak bisa berlama - lama di sini". Ratna pun pamit mengingat ia sudah punya janji bersama dengan Dokter Richard.


Omen /"Iya, enggak apa - apa kok Rat he he he. Ya sudah kamu hati - hati di jalan ya".


Ratna tersenyum.


"Iya. Oh ya kalau kamu butuh apa - apa telpon saja aku".


Omen menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.


" Iya, terimakasih ya Rat dan terimakasih sudah mau menjenguk aku he he he".


Ratna mengangguk pelan sembari tersenyum kemudian ia keluar meninggalkannya.


"Hmm... Salah nya saja kau itu punya si Egga Rat. Kalau enggak mungkin sudah klepek - klepek jatuh cinta aku sama kau Rat Rat". Ujarnya setelah Ratna benar - benar sudah pergi.


" Ehh benar juga ya apa kata orang - orang, kita pasti akan berkata sopan dan lembut jika berhadapan dengan orang yang berkata sopan dan lembut juga. Hmm pantesan aku selalu ketemu sama orang yang selalu ngomongnya suka sembrenget (cablak atau ceplas - ceplos) rang aku kek (kayak) gitu juga ngomong nya haiiih. Kalau lama - lama kek gini bisa - bisa aku jatuh cinta beneran sama si Ratna eh tapi enggak, enggak boleh. Dia punya si Egga, aku enggak boleh ngasal nyerobot saja. Aaah kenapa aku jadi kepikiran yang enggak penting gini bah". Ia berbicara sendiri lalu memukul kepala nya sendiri.


...


Karena rasa penasarannya Eggy memutuskan untuk pergi menemui Imam di studio. Ia terkejut melihat kondisi studio begitu hancur berantakan.


"Assalamualaikum". Salamnya pada Imam yang sedang membereskan satu per satu properti yang bergeletakan di lantai.


Imam pun menoleh.


" Waalaikumsalam, eh Bang Eggy. Ada apa bang ke sini? Si Omen butuh sesuatu ya Bang? Atau jangan - jangan abang ke sini mau ngasi tahu kalau Bang Omen sudah.... Innalillahi". Imam nyerocos sembarangan.


"Ah... Kau ini ngasal ngomong saja he he he. Aku ke sini mau jumpai kau karena aku mau ngasi kau job sedikit. Tapi kayak nya kau lagi sibuk kali di sini". Eggy sengaja tidak langsung bertanya pada Imam.


" Hufft. Iya Bang. Gara - gara 3 preman suruhan CEO parfume itu jadi bertambah kerjaan aku di sini. Hmmp kasihan kali aku sama Bang Omen, sudah hancur semua kayak gini studionya, dia masuk ke rumah sakit terus di tambah lagi tadi pagi dapat kiriman surat. Ku pikir surat cinta untuk aku ehh ternyata surat tuntutan dari CEO itu, dia bakalan memenjarakan Si Omen pulak kalau Si Omen enggak bayar ganti rugi mereka". Ceplosnya dengan jelas tanpa di tanya sebelumnya. Imam sama sekali tidak tahu tentang masalah ini melibatkan Eggy juga.


Eggy sudah menduganya bahwa ini ulah Pak Suwandi. Ia merasa geram namun ini lah hal yang paling ia tunggu - tunggu agar ia bisa menyelesaikan masalah ini.


"Oh... Kasihan ya! Ehh jadi cerita nya kau enggak bisa nih aku kasi job?".

__ADS_1


"Kalau untuk sekarang - sekarang ini enggak bisa lah bang, kau tengok lah bang macam mana (bagaimana) kondisi studio ini. Aku mesti ngeberesi semua ini sendirian selama tiga hari sebelum jadwal pemotretan di mulai lagi, mana mungkin aku tinggalin ini". Dengan berat hati ia menolak Eggy.


" Hmm... Ya sudah lah kalau gitu. Aku pun enggak bisa lama juga nya di sini. Kalau gitu aku langsung balik saja lah. Biar aku tanya sama yang lain saja, soal nya aku butuh cepat ini". Eggy menepuk lengannya.


"Iya Bang. Maaf ya bang kalau aku enggak bisa bantuin Abang. Lain kali saja ya bang". Imam merasa tidak enak hati padanya.


" Iya enggak apa - apa. Ya sudah aku balik. Oh ya jangan bilang ke Omen kalau aku datang ke sini mau ngasi kau job nanti takutnya kau di pecat pula sama dia kalau tahu kau bakalan ngambil job sama aku he he he". Eggy sengaja menakut - nakutinya sebagai alasan agar Imam tidak memberitahu Omen atas kedatangannya.


"Iya lah Bang. Ngapain aku bilang - bilang sama dia. Yang ada nanti aku kenak repetan (omelan) dia. Sakit kepala aku dengarin dia merepet terus huffft". Imam mengeluh sembari menutup telinganya.


Eggy tertawa kecil.


" He he he ya sudah. Aku balik ya Mam. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam".


Eggy segera bergegas pergi menuju ke salah satu kantor cabang Pak Suwandi. Kebetulan beliau berada di kantor tersebut. Ia terkejut melihat kedatangan Eggy.


" Eh he he he. Ternyata model favorite saya akhirnya datang juga ke kantor saya". Antusiasnya menyambut Eggy membuat Eggy tak gentar ingin melabraknya.


"Enggak usah banyak berbasa - basi. Kedatangan saya di sini cuma mau ngasi ini saja untuk anda". Eggy menyodorkan selembar cek bernominal cukup besar dengan cara kasar. Pak Suwandi dan staf karyawannya terkejut.


"Apa ini? Maksud nya apa? Saya tidak mengerti". Beliau berlagak tidak berbuat apa - apa mengingat semua karyawannya sedang fokus pada keduanya. Ia takut image nya sebagai Bos yang baik hati serta ceria akan tercemar begitu saja.


" Enggak usah berlagak tidak tahu. Itu untuk kerugian yang anda alami karena saya memutuskan kontrak kerja kita secara sepihak. Kalau anda masih merasa kurang. Anda bisa tinggal bilang ke saya berapa yang anda inginkan. Asalkan... Jangan pernah mengacak - mengacak Omen atau yang lainnya dan jangan coba - coba untuk mengganggu kehidupan kami lagi. Ngerti". Mata Eggy memerah menatapnya. Ia benar - benar ingin menghajar wajah sok polos namun ngeselin itu, namun ia tahu memposisikan mereka berada dimana. Eggy masih tetap menjaga kehormatan serta wibawa Pak Suwandi di depan karyawan - karyawannya.


Pak Suwandi melirik ke sekitar. Mereka saling berbisik - bisik satu sama lain dan itu membuat nya sudah merasa malu.


"Kalau anda masih tetap mengganggu kami lagi. Anda tunggu saja nanti, apa yang akan saya lakukan sama anda bahkan seluruh aset anda". Eggy sudah tidak bisa mendiamkan nya lagi. Itu bukan lah ancaman isapan jempol saja, Eggy benar - benar akan melakukannya jika itu terjadi.


Eggy pun beranjak meninggal kan nya yang masih memegang selembar cek tersebut.


"Apa yang kalian lihat? Kalian kembali bekerja". Ia meneriaki para karyawannya karena ia sudah merasa kalah malu. Mereka pun berhamburan lalu berpura - pura sibuk bekerja.


Namun ada yang berbeda dari karyawannya yang lainnya. Salah seorang wanita berparas cantik yang sejak tadi ada di tempat itu memutuskan untuk keluar dari kantor. Ia ingin menghampiri Eggy namun Eggy sudah berlalu dengan mobilnya.


"Rania". Seseorang mengegetkan nya. Ia pun menoleh.


" Kamu kenapa keluar? Kamu sudah di tungguin sama Pak Suwandi di dalam ruangannya".


"Ehh... Iya. Terimakasih Mbak". Rania pun mengikuti wanita itu masuk ke dalam kantor, sempat ia melirik ke arah jalanan.


" Pa... Apa - apaan tadi?". Rania langsung bertanya pada Pak Suwandi ketika ia sudah masuk ke dalam ruangan beliau.


Wanita yang bersama nya yakni asisten Pak Suwandi terkejut mendengar Rania memanggil Pak Suwandi dengan sebutan Papa. Pak Suwandi pun menjadi kikuk sembari melirik asistennya.


Bagaimana tidak! Karena tak seorang pun mengetahui bahwa Rania adalah anak semata wayang Pak Suwandi bahkan ia sudah di kenal sebagai seorang pria bujangan.


"Emm... Kamu bisa tinggalkan kami berdua saja?". Pak Suwandi menyuruh asistennya keluar dari ruangan.


" Baik pak". Ia pun menurutinya dengan menyimpan rasa penasarannya.


"Kamu kenapa sih Rania? Masuk - masuk sudah marah terus malah nyebut Papa di depan asisten Papa. Kamu kan tahu, enggak ada satu orang pun yang tahu kalau kamu itu anak Papa dan enggak ada seorang pun yang tahu kalau Papa ini seorang duda. Yang mereka tahu Papa ini masih lajang". Pak Suwandi berkata sembari memastikan apakah asistennya benar - benar sudah keluar dari ruangan dan tidak menguping pembicaraan mereka.


Rania /"Iya aku tahu. Papa lebih senang orang lain mengatain (cibir) aku itu simpanan Papa ketimbang di akui sebagai anak Papa".


Pak Suwandi mendekatinya kemudian memegang kedua lengannya.


"Bukan gitu lho sayang. Kamu kan tahu Papa ngelakuin semua ini ke kamu agar kamu itu bisa terhindar dari bahaya, kamu kan juga tahu banyak sekali yang mencoba untuk menjatuhkan Papa, jadi Papa enggak mau mereka tahu kalau kamu itu anak Papa demi keselamatan kamu bukan karena Papa enggak mau mengakui kamu".


" Hmm lagian kan yang ngebuat keselamatan aku terancam itu karena ulah Papa sendiri, tapi ya sudah lah itu enggak penting. Sekarang jawab pertanyaan aku tadi. Kenapa tiba - tiba Eggy datang seperti itu? Apa yang Papa lakukan pada nya? Apa Papa mencoba mengancam nya karena dia membatalkan kontrak kerja kemarin?". Rania hafal betul watak Papanya itu.


"Ha ha ha, kamu itu pintar ya nak, sama seperti Mama mu. Kamu bisa menebak apa yang terjadi ha ha ha". Beliau terbahak lalu duduk kembali pada kursinya.


" Enggak usah ketawa Pa. Jawab pertanyaan Rania". Ia mulai kesal sendiri melihat Papanya sendiri.


"Ha ha ha, iya. Tapi Papa enggak pernah kok mengancam dia bahkan Papa juga tidak pernah meminta ganti rugi sama dia". Jawabnya secara santai.


" Kalau bukan Eggy yang Papa ancam, lalu siapa? Enggak mungkin dia semarah itu kalau Papa tidak mengganggunya". Rania masih tidak percaya.


Pak Suwandi /"Papa memang enggak pernah mengancam Eggy, cuma Papa mengancam sahabat nya itu biar dia ngebujuk Eggy agar tetap melanjuti kerja sama kita, tapi karena si Omen tetap bersikeras tidak mau membujuknya ya sudah, Papa tuntut saja dia dan Papa minta ganti rugi kerugian yang kita alami".


"Ganti rugi apa Pa? Papa sama sekali enggak di rugikan sama siapa pun, justru produk edisi bulan ini naik pesat. Jadi Papa mau ganti rugi apa ha? Ini namanya penipuan Pa. Papa bisa di tuntut sama mereka. Apa Papa sudah lupa kalau keluarga Wijaya lebih berkuasa dari Papa. Papa bisa hancur kalau Papa berurusan sama mereka". Rania semakin paham ternyata ini lah yang membuat Papa nya memiliki banyak musuh dan akan mengancam keselamatannya.


"Ya mau gimana pun, bisnis tetap lah bisnis. Kan sudah tertera di dalam kontrak. Lagian si Eggy itu sok pakai jual mahal dan sok suci, kan ini sebatas pekerjaan saja, professional dalam bekerja. Gitu saja lebay beralasan karena takut sama Tuhan dan istrinya. Dasar munafik padahal kalau di suguhi jajanan malam (wanita penghibur) mau juga nya itu. Ck". Pak Suwandi tetap tidak ingin di salahkan.


Rania hampir pusing menghadapinya bahkan dia sempat berpikir kok bisa ia memiliki orang tua sepertinya.


" Oh my god Pa. Enggak semua laki - laki itu sama seperti Papa yang mau nyemilin jajanan malam. Sebenarnya tujuan Papa itu apa sih? Kenapa Papa tetap bersikeras untuk menjadi kan Eggy modelnya Papa?"


"Papa punya rencana mau menjodohkan kamu sama Eggy. Makanya Papa mau dia jadi pasangan kamu di setiap pemotretan biar kalian jadi dekat. Papa yakin dia pasti bakalan tergoda sama kamu kalau kalian sering - sering bersama fu fu fu". Tanpa rasa malu ia mengatakan tujuannya itu.


"What? Papa kan tahu kalau dia sudah punya istri. Jadi Papa mau ngebuat aku menjadi wanita pelakor (perebut lakik orang)". Rania terkejut dengan rencana beliau dan hampir hilang akal memikirkannya.


" Why not? Bukan nya banyak perempuan - perempuan di luar sana begitu. Bukan kah itu sudah biasa. Jadi enggak masalah kan kalau kamu merebut Eggy dari istrinya. Lagian cantikan juga kamu, terus kamu juga lebih menggoda dan sexi ketimbang istrinya".


" Oh my God. Please stop Pa, you can't do it. Kalau sampai Papa melakukan itu untuk aku. Aku enggak akan tinggal diam dan Papa siap - siap saja membawa mayat aku ke liang lahatnya Mama". Rania justru mengancamnya. Ia benar - benar tidak terima dengan tujuan Papanya yang nyeleneh dan enggak masuk di akal.

__ADS_1


"Jangan gitu lah sayang. Papa kan ngelakuin ini biar kamu bahagia punya pasangan yang sempurna seperti Eggy. Kamu jangan marah donk sama Papa. Bukan kah kamu sendiri yang bilang kalau kamu mau memiliki pasangan yang sempurna. lagian kalian itu benar - benar pasangan yang serasi. Kalian pasti bakalan jadi pasangan yang paling serasi sejagat raya fu fu fu". Bujuknya.


Rania sempat memejamkan matanya sembari memijat dahinya.


" Aaaaarggt... Aku enggak mau tahu. Papa harus minta maaf sama mereka. Papa kembalikan cek itu padanya dan jangan pernah mengganggu mereka lagi dan tolong, Papa jangan pernah berpikir untuk melakukan hal itu. Aku sama sekali tidak tertarik soal rencana kotor Papa".


"Tapi sayang, Papa ngelakuin ini agar kamu bisa bahagia. Kamu kenapa sih enggak pernah ngertiin Papa. Sekali saja".


"Apa? hah? Papa bilang aku yang enggak pernah ngertiin Papa? hah... Justru Papa yang enggak pernah ngertiin aku. Kebahagiaan aku, aku yang nentuin sendiri bukan Papa". Rania menekankan kalimatnya sembari merapatkan giginya, kemudian ia keluar dari ruangan beliau dengan rasa marahnya.


Asisten Pak Suwandi begitu sigap ketika ia melihat Rania keluar kemudian langsung mengikutinya berjalan bermaksud untuk mengantarnya ke luar.


"Ehem... Mbak Rania, apa benar Mbak anak nya Pak Suwandi? Mbak anak Pak Suwandi dari wanita yang mana? Atau jangan - jangan Mbak istrinya Pak Suwandi ya?" . Begitu lancang ia mempertanyakan itu secara langsung pada Rania, sebab ia tahu sudah berapa wanita yang sudah menjadi cemilan malam Pak Suwandi.


Rania menghentikan langkah kakinya lalu meliriknya dengan mata nya yang tajam.


"Kamu punya niatan ingin di pecat dari pekerjaan ini? Atau berniat ingin di makam kan secepatnya?". Ia mengancamnya begitu kejam karena emosinya semakin membesar.


Asisten itu langsung ketakutan sembari menggelengkan kepalanya.


"Maaf Mbak... Maaf saya sudah berkata lancang Mbak. Mbak boleh melakukan apa saja pada saya asalkan jangan melakukan yang barusan hu hu hu". Ia pun memohon sembari menangis ketakutan.


Rania menatapnya dengan datar.


" Pergi kamu dari hadapan saya dan saya minta jangan pernah berharap kalau kamu bisa menjadi bagian dari Pak Suwandi, kamu cukup menjadi pelepas nafsunya saja. Dasar wanita murahan. Kalau sampai mulut murahan kamu itu lancang seperti tadi, ingat saya enggak akan melepaskan kamu lagi sampai kapan pun". Rania sebenarnya sudah geram pada Pak Suwandi dan asistennya itu. Ia pun juga tahu kalau mereka sering melakukan hubungan yang int*m dari sebelum almarhumah Mama nya meninggal.


Terlebih lagi, ia sangat mengetahui bahwa asisten Pak Suwandi itu punya maksud terselubung dari kedekatan mereka.


Sontak membuat asisten itu terkejut dan kesal karena di hina olehnya seperti itu, sempat ia mengepalkan tangannya hingga memerah karena menahan emosinya dan berpikir dari mana Rania mengetahui bahwa ia adalah salah satu jajanan malam Pak Suwandi.


...


Setelah kedatangan Eggy melabrak Pak Suwandi serta permintaan Riana, akhirnya Pak Suwandi pun berhenti mengganggu dan mengancam Omen, tapi tetap saja ia masih bersikeras untuk tidak meminta maaf sama mereka dan masih tetap terobsesi pada Eggy.


Omen merasa heran ketika Imam memberitahunya bahwa tuntutan Pak Suwandi telah di batalkan secara mendadak serta tak sedikit pun beliau mengancamnya.


Omen pun sudah kembali dari rumah sakit sejak tadi pagi kemudian ia langsung ke studio untuk melihat kondisi studionya.


"Kau yakin enggak terjadi sesuatu pada saat aku di rawat rumah sakit?". Ia bertanya pada Imam yang sedang memperbaiki meja yang patah akibat ulah 3 preman itu.


" Yakin lah Bang. Rang waktu hari pertama kau di rumah sakit, mereka ngirimin surat ini". Imam menghentikan pekerjaannya lalu mengambil sesuatu dari dalam lemari dan menyodorkan selembar kertas yakni surat tuntutan dari Pak Suwandi.


"Terus yang anehnya kemarin mereka malah ngirimin surat ini tanpa berkata apa pun. Pas aku baca ehh surat pembatalan tuntutan". Kemudian ia menyodorkan selembar kertas yang lainnya yakni surat pembatalan tersebut.


Alis mata Omen menyatu melihat kedua surat tersebut dan keduanya memang benar - benar surat yang sah dari pihak yang berwajib.


"Aneh kali lah ku rasa. Masa iya mereka cuma mau mempermainkan kita saja. Kayak nya enggak mungkin, soalnya ini surat bukan surat sembarangan. Ini pasti ada yang enggak beres, kenapa mereka melakukan ini". Omen masih merasa heran dan curiga karena ia tahu, tidak mungkin bagi Pak Suwandi melakukan ini dengan mudahnya tanpa ada imbalan apa pun.


" Mam, siapa saja yang tahu soal ini? Anak - anak tahu enggak?".


Imam sempat berpikir.


"Kayak nya enggak ada lah Bang. Paling tahunya kau di gebukin sama 3 preman saja itu pun yang tahu calon binik kau sama Bang Eggy. Sudah itu saja. Anak - anak pun tak tahu kalau kau sakit".


Omen /" Emm... Terus apa yang kau bilang sama orang itu soal penundaan photo shoot?".


"Ya aku bilang saja studio lagi di renovasi". Jawabnya kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Omen berpikir dan menerka - nerka apa yang membuat Pak Suwandi membatalkan tuntutannya begitu gamblang.


"Aku yakin ini pasti ada hal buruk lainnya yang akan terjadi. Enggak mungkin dia melepaskan ini begitu saja tanpa mendapatkan apa pun, sedangkan kemarin - kemarin dia seperti singa yang akan memangsa seekor kancil".


Kemudian ia teringat yang mengetahui ia di gebukin yaitu Ratna dan Eggy.


"Apa jangan - jangan Eggy di balik ini semua?". Pikirnya lalu pergi meninggalkan Imam sendirian di studio.


...


Dengan nekat Omen menghampiri Eggy ke rumah nya sebab di saat di rumah sakit ia tidak menemukan Eggy karena ia tidak bertugas pada hari itu.


#Ting... Tong... Ting... Tong...


Omen memencet bel rumah tersebut secara berulang kali namun tak sedikit pun ada tanda atau sautan dari sang pemilik rumah.


"Nyari siapa Bang?". Tiba - tiba seseorang mengagetkannya kemudian Omen pun menoleh dan melihat seorang ibu - ibu paruh baya yang berdiri di balik pagar sebelah rumah Eggy alias tetangganya.


" Eh... Nyari Eggy Buk he he he". Omen menampakkan giginya.


"Oh... Mereka lagi enggak ada di rumah. Seperti nya mereka sedang liburan, soalnya sejak subuh mereka sudah sibuk bersiap - siap". Jawabnya.


Omen /" Oh... Ibu tahu mereka liburannya kemana?".


"Kalau itu saya tidak tahu Bang he he he. Sepertinya mereka liburan keluar kota kali ya soalnya mereka bawa koper".


Omen terdiam sejenak.


" Oh mmm... Ya sudah Buk terimakasih ya Buk kalau begitu saya permisi dulu".

__ADS_1


"Iya Bang sama - sama".


Omen pun pergi dari rumah itu tanpa mendapatkan informasi apa pun dan berniat ingin menghampiri Pak Suwandi ke kantornya tanpa rasa takut.


__ADS_2