
Di rumah Eggy...
Eggy menurunkan anak dan istri nya di rumah mereka, tak lupa ia menggendong Ghifari yang sudah tertidur untuk masuk ke dalam kamar nya.
"Suam ngantar Omen dulu ya? Mungkin Suam agak lama pulang nya soal nya Suam mau ngajak Omen ngopi dulu di MW karena ada yang mau kami bicarakan. Boleh kan?". Eggy meminta izin pada Almira setelah ia membawa Ghifari ke dalam kamar nya.
Almira mengangguk pelan.
"Iya boleh kok, Suam hati - hati ya di jalan. Jangan ngebut - ngebut bawa mobil nya. Jangan lupa banyak baca doa di saat mengendarai mobil supaya terhindar dari hal - hal yang buruk, apa lagi zaman sekarang lagi musim begal. Hiiiih nauuzubillah himin zaliq".
Eggy mengelus pipi Almira sambil tersenyum.
"Iya sayang, doa kan juga Suam selalu di lindungi dari hal - hal yang buruk, ya sudah Suam pergi ya? Pintu kamar jangan di kunci dari dalam okay he he he".
Almira tersipu.
"Iyaaaa, ya sudah sana cepat, nanti makin malam".
"Hmmp. Assalamualaikum".
"Waalaikumussalam".
Eggy berlari keluar rumah menuju ke mobil nya.
"Sorry Men lama nunggu". Ujar nya sembari memakai sit belt nya.
"Enggak apa - apa, kalau pun kau enggak balik lagi kan gampang, bisa aku lariin mobil kau ini ha ha ha".
Eggy melirik nya, kemudian menghidupkan mesin mobil nya dan berlalu.
"Hiiih... Kau belajar ilmu dari mana itu?".
"Ha ha ha, kalau untuk kayak gitu enggak payah pakai ilmu dodol ha ha ha. Oh ya kata nya ada yang mau kau omongi sama aku? Mau ngomong soal apa? Kalau bukan soal photo shoot aku enggak mau dengar". Omen menoleh ke Eggy yang fokus dengan stir nya.
"Hiiiish kau ini, egois kali jadi orang, giliran hal kau saja sibuk kali kau". Eggy memutar bola nya.
"Ha ha ha bercanda aku, mana pernah aku egois - egois kayak gitu sama kau ya koplak. Sudah cepat, kau mau ngomong apa? Nanti keburu nyampek ke rumah aku, dah.. Tak jadi lah cakap nya".
"Bising kali kau. Ke MW kita dulu, sudah lama kita enggak ngopi - ngopi di tempat biasa he he he". Eggy mengemudikan mobil nya ke arah Merdeka Walk.
"Lah... Nanti marah pulak binik kau, kau lama kali pulang nya". Omen mengerutkan dahi nya, ia terheran - heran pada sahabat nya itu.
"Sudah, tenang saja kau, aku sudah minta izin sama binik aku". Eggy pun memarkirkan mobil nya ke pinggir jalan khusus tempat parkiran mobil pengunjung Merdeka Walk.
Kemudian mereka berjalan menuju ke salah satu tempat duduk yang berada di luar ruangan tepat di depan caffe kopi tempat langganan mereka.
__ADS_1
Omen merasa sangat penasaran apa yang ingin Eggy omongkan ke dia sampai dia rela ngopi bareng di waktu yang hampir larut itu.
"Aku jadi takut sama kau kalau kau tiba - tiba mendadak kayak gini, apa lagi ngajak aku ngopi jam segini". Omen menaruh curiga pada Eggy yang sedang menyeruput kopi yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Ha ha ha takut kenapa kau? Ada gila nya kau, aku ngajak kau ngopi kayak gini malah takut. Kayak enggak pernah saja, padahal kan dulu sering nya kita kayak gini, setiap malam malah bahkan kadang kita enggak pulang ha ha ha". Eggy meletakkan kembali kopi nya di atas meja usai dia menyeruputnya sedikit.
"Iya, memang dulu kita setiap hari kayak gini, tapi kan itu dulu sebelum kau nikah. Lah sekarang tumben - tumbenan saja kau ngajak kayak dulu lagi, karena kan setelah kau nikah, mana pernah lagi kita ngopi - ngopi, jangan kan ngopi - ngopi, jumpa saja sudah payah, maka nya aku rada takut jadi nya he he he".
Eggy menggelengkan kepala sembari terbahak.
"Ha ha ha, Men... Men... Kemarin - kemarin saja sibuk kali ngajakin aku ketemu, ngopi, ngobrol. Ini pas aku ngajakin, kau nya malah curigaan ha ha ha. Oh ya kayak nya enggak ada yang berubah ya di sini?". Eggy melihat ke sekeliling area Merdeka Walk yang sama sekali tidak berubah sejak terakhir kali ia nongkrong di tempat itu.
"Hmmp iya, masih sama saja, cuma kita saja yang berubah jadi tua". Sambung nya sembari menatap lampu - lampu di atas kepala nya.
Eggy tertawa kecil melirik ke arah Omen.
"Ck, he he he, kau saja lah yang tua, aku belum. Aku masih muda ha ha ha".
Omen menjitaki kepala Eggy.
"Memang lah bapak - bapak satu ini enggak tahu diri, enggak sadar umur, sudah jelas - jelas umur sudah kepala tiga masih saja ngelak di bilang tua".
Eggy sedikit merintih.
"Hiiiiist... Oh ya ngomong - ngomong sudah tua. Ada lah yang mau aku tanyakan ke kau, ini penting buat kau".
"Biasa saja lah mata kau, enggak usah kau mendelik - mendelikan kayak gitu. Ku colok nanti mata kau itu". Eggy merapatkan gigi nya sembari tangan nya membentuk dua jari yang hendak mencolok mata Omen.
Omen pun kembali mengatur mata nya seperti biasa.
"Sudah, cepat lah cakap. Enggak usah bikin aku penasaran".
"Sabar napa sih kau hiiish. Gini... Sebenarnya aku sudah lama mau cerita dan nanya sama kau soal ini tapi aku masih belum ada waktu mau ngasi tau ke kau, tau lah kau gimana aku sibuk nya di rumah sakit".
"Sudah cepat lah, jangan bikin aku makin penasaran ini". Wajah Omen nampak mupeng.
"Iya, sabar lah, kau ini ku jitak juga nanti kepala kau itu. Jadi, sebelum aku cerita ke inti nya, aku mau nanya dulu sama kau, tapi kau harus jawab jujur, jangan bohong kau sama aku karena aku tahu kalau kau bohong enggak nya".
Rasa penasaran Omen berubah menjadi khawatir serta jantung nya berdegup kencang. Omen menelan ludah nya menanti pertanyaan Eggy yang mendebarkan.
Eggy mendekat kan wajah nya pada Omen serta mengecilkan suara nya agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Awas kau kalau bohong sama aku. Kau... Sudah pernah berhubungan suami istri sama Widya?".
Sontak membuat Omen terperanjat karena terkejut.
__ADS_1
"Apa? Ya enggak pernah lah. Ada gila kau ngasi pertanyaan kayak gitu ke aku".
"Enggak usah bohong kau". Eggy memerhatikan wajah Omen yang benar - benar terkejut.
"Ya ALLAH Gy, sumpah demi ALLAH, tak pernah aku ngelakuin yang haram kayak gitu sama Widya, walau pun sering aku nginap di kos - kosan dia tapi tak pernah aku mau berbuat kayak gitu sama dia".
"Nanti pernah tapi kau enggak ingat".
Omen mengusap wajah nya, gimana cara nya agar si Eggy percaya pada nya walau sebenarnya Eggy percaya pada diri nya.
"Ya ALLAH, benaran sumpah demi ALLAH, aku enggak pernah ngelakuin itu sama Widya, paling intim itu cuma ciuman doank enggak lebih. Karena aku sayang sama Widya maka nya aku enggak mau ngelakui hal itu sebelum aku ngehalalin dia".
Eggy memandang kasihan pada sahabatnya itu dan semakin enggak tega mau membicarakan sesuatu yang inti dari pembicaraan ini.
"Huuh...".
Omen kembali penasaran kenapa tiba - tiba Eggy bertanya soal itu kepada nya.
"Tunggu dulu, kenapa kau tiba - tiba ngasi pertanyaan itu ke aku? Jadi alasan kau ngajak aku ngopi gini karena cuma mau nanya'in ini saja atau ada hal lain yang lebih penting lagi?".
Eggy menghelakan nafas nya dan harus tega mengatakan yang sebenar nya.
"Sebenar nya sebulan yang lalu aku lagi meriksa data - data pasien yang ada di rumah sakit aku, terus aku enggak sengaja ngeliat ada data Widya. Aku pikir itu data Widya karena sakit ringan. Terus aku check ternyata data nya seperti di rahasiakan, data nya cuma ada nama dokter yang menangani nya, yaitu Dokter Ratna, dokter specialis kandungan di rumah sakit aku".
Darah Omen berdesir deras ketika mendengar specialis kandungan, namun begitu ia masih mendengar Eggy dengan seksama.
"Terus aku tanya sama Dokter Ratna, ternyata benar dugaan aku, kalau Widya sedang hamil".
#Jedeeeeeeeer........
Omen terkejut batin, yang ia takut kan ternyata benar. Omen tidak bisa berkata apa - apa. Wajah nya menjadi pucat pasih serta Kaki nya terasa lemas.
"Kata Dokter Ratna, awal nya Widya meminta ia untuk menggugurkan kandungan nya, tapi Dokter Ratna menolak nya karena Dokter Ratna punya prinsip kenapa dia menjadi seorang Dokter specialis kandungan. Jadi dengan secara terpaksa Widya mengurung kan niat nya untuk menggugurkan kehamilan nya asalkan merahasiakan ini semua ke aku, tapi kemarin Dokter Ratna bilang ke aku kalau si Widya mau mencari dokter kandungan lain atau bidan yang bisa menggugurkan kandungan nya. Maka nya aku nanya'in ini ke kau langsung, karena aku pikir kalian berdua sudah ngelakuin hal itu dan Widya hamil anak kau". Eggy sudah menceritakan apa yang terjadi sebulan yang lalu mengenai Widya.
"Kau pasti bercanda kan Gy? Kau pasti lagi nge - prank' in aku kan Gy he he he". Espresi wajah Omen membingungkan antara mau ketawa bercampur sedih dan kecewa.
"Ngapain pulak aku bercanda, apa lagi sampai nge - prank. Enggak kerjaan aku lah itu. Lagian aku ada bukti nya kok, ini". Eggy menyodorkan ponsel nya yang berisi file data Widya di rumah sakit nya.
Tangan Omen gemetar setelah ia membaca file tersebut dan benar apa yang di bilang oleh Eggy. Dada nya terasa sakit serta menyesakkan.
"Ck, dulu aku sempat pernah ngajak Widya ngelakuin itu tapi dia menolaknya terus aku juga sadar bahwa aku enggak pantas ngelakuin itu kalau aku benar - benar sayang sama dia. Selama ini aku selalu berusaha untuk menahan nya setiap kali aku dekat sama dia. Terus lama - lama aku berpikir agar kami bisa terhindar dari perbuatan itu, maka nya aku memutus kan untuk mengajak nya menikah, tapi malang nya aku, Widya belum juga siap atas komitmen aku. Dan sekarang... He he heh dia malah hamil sama cowok lain yang enggak tahu siapa bapak nya dan aku juga enggak tahu kenapa aku bisa kecolongan kayak gini ha ha ha, hu hu hu". Omen seperti orang frustasi, ia mengacak rambut nya yang gondrong, awal nya ia tertawa menceritakan nya kemudian ia menangis karena kecewa.
Eggy turut prihatin atas apa yang menimpa sahabat nya itu. Ia mengusap punggung Omen untuk menguatkan nya.
"Kau yang sabar saja ya Men. Mungkin ALLAH punya rencana yang indah buat kau. Aku sudah pernah bilang ke kau, terlalu sayang sama seseorang itu boleh, tapi jangan sampai membuat kau menjadi buta dan tuli. Aku tahu ini pasti berat buat kau untuk mengikhlaskan ini semua, tapi kau mesti mengambil keputusan mana yang terbaik buat kau karena cepat atau lambat semua nya pasti terungkap, kau harus mengikuti kata hati kau jangan pernah mengikuti kata nafsu kau".
__ADS_1
Omen menutupi wajah nya dengan tangan nya ke atas meja agar orang sekitar tidak melihat nya sedang menangis tersedu - sedu. Sedangkan Eggy hanya bisa menguatkan nya saja serta memberikan nya nasihat.