Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 23 #S3


__ADS_3

Di lain tempat, Eggy tergesa - gesa ingin menjemput anak nya ke sekolah setelah ia menjemput Omen dari studio.


"Gara - gara kau, aku jadi telat nih jemput anak aku". Eggy ngedumel sembari fokus dengan jalanan.


" Sorry lah bro, mobil aku di pakek sama Widya maka nya aku minta jemput sama kau, tadi saja aku naik taxi online ke studio". Jelas nya.


"Haiiiih... Mau sampai kapan lah kau kayak gini terus Men Men...". Eggy menggelengkan kepala nya, lalu menghenti kan mobil nya di tepi jalan tepat di depan pintu gerbang sekolah anak nya.


" Ya mau cemana lagi, nama nya juga....".


"Nanti kita lanjutin lagi, ada anak aku, nanti pendengaran nya berat kali kalau dia ngedengar cerita orang dewasa. Ngerti?". Eggy menghentikan pembicaraan Omen, kemudian keluar menghampiri Ghifari yang tengah menunggu nya bersama Pak satpam di pos nya.


" Assalamualaikum sayang, maafi Daddy ya, Daddy telat jemput nya he he he". Eggy mengusap kepala Ghifari.


Wajah Ghifari merengut.


"Waalaikumussalam, lama kali Daddy datang nya, kalau saja Pak Ridho enggak ada di sini, hampir saja Ghifari mau pulang sendiri naik angkot".


Pak Ridho alias pak satpam tertawa kecil.


"Iya Pak, nak Ghifari tadi saya lihat kok tumben lama yang jemput, terus nak Ghifari nya jalan sendiri ke pinggir pasar, maka nya saya langsung jaga nak Ghifari nya di sini sampai ada menjemput nya he he he".


"Terimakasih banyak ya pak, karena sudah ngejagain anak saya".


" Iya Pak sama - sama, lagian itu memang sudah jadi tugas saya kok he he he".


"Ya sudah Pak, kami langsung balik ya Pak, sekali lagi terimakasi, assalamualaikum".


"Iya Pak, hati - hati di jalan, waalaikumussalam".


Eggy dan Ghifari pun berjalan menuju ke mobil lalu masuk ke dalam mobil. Ghifari membuka pintu mobil nya, sontak membuat nya terkejut karena ia melihat Omen.


Eggy kelupaan memberitahu anak nya kalau Omen ada di dalam mobil.


" Ghifari duduk nya di belakang saja ya nak?". Dengan lemah lembut ia meminta anak nya untuk duduk di belakang.


Ghifari tidak menjawab, kemudian ia membuka pintu mobil belakang dan masuk ke dalam dengan wajah cemberut nya.


"Assalamualaikum jagoan nya Om Omen he he he". Omen membalik kan badan nya untuk melihat Ghifari sambil menegur nya.


" Waalaikumussalam". Jawab nya datar.


"Om... Om... Uwak bukan Om. Enak saja kau di panggil Om. Kau lebih tua dari aku". Eggy meralat Omen. Kemudian ia melaju kan mobil nya setelah ia memakai sit belt nya.


" Ya elah Gy, lagian kan cuma beda setahun saja nya kita. Masa kau enggak terima kalau aku di panggil Om".


"Elleh Men men, kau saja enggak terima kalau aku panggil kau abang, jadi gantian, aku juga enggak terima kalau kau di panggil Om sama anak aku, ngerti?". Eggy memplototi Omen sembari merapatkan gigi nya.


"Issh isssh, enggak keren kali lah aku di panggil Uwak. Masih muda gini sudah di panggil Uwak, huffft. Ya kan Ghifari?". Ia melirik Ghifari.


"Enggak tau". Jawab nya ketus.


Eggy melirik ke belakang.


" Ghifari, kamu enggak boleh kayak gitu nak sama Uwak Omen, enggak sopan. Memang nya Daddy dan Mommy pernah ngajarin kamu berbuat enggak sopan kayak gitu sayang?". Eggy menasihati anak nya dengan lembut karena Ghifari berlaku tidak sopan pada orang tua alias Omen.


Ghifari semakin kesal. Ia membuang muka nya ke arah jendela mobil di sisi kanan nya tepat di belakang Eggy.


"Terus tadi juga, kamu enggak boleh kayak tadi, kamu tau? Itu sangat berbahaya buat kamu, kalau belum ada yang menjemput kamu, kamu jangan berani - berani nya ke pinggir pasar apa lagi sampai nekat mau naik angkot sendiri. Dengar nak, apa yang Daddy bilang barusan?". Eggy melirik kaca spion untuk melihat anak nya, ia melihat Ghifari terlihat kesal dan pura - pura tidak mendengarkan nya.


"Sudah lah Gy, jangan kau marahi kayak gitu. Dia kan masih kecil, mana lah sampai kepikiran sama dia kalau itu bahaya untuk dia atau enggak, lagian aku enggak apa - apa juga kok di gitu' in". Omen jadi merasa bersalah, sebab gara - gara dia, Eggy telat menjemput Ghifari dan mengakibatkan seperti ini.


Eggy tidak menanggapi Omen, bukan berarti dia tidak peduli dengan apa yang di ucapkan Omen, hanya saja ia tidak ingin melanjutkan nya lagi di depan Ghifari dan memperburuk suasana hati Ghifari yang sedang merajuk.


Mereka akhir nya tiba di kediaman Egga. Belum sempat Eggy membukakan pintu untuk anak nya, Ghifari sudah terlebih dahulu membuka pintu kemudian berhambur ke dalam rumah. Eggy menggelengkan kepala nya.


"Huuu... Pasti dia kesal karena di nasihati kayak tadi".


Omen menepuk pundak Eggy.


"Rang kau, entahapa kau marahi dia, dia kan masih kecil".


Eggy menoyor kepala Omen dengan wajah kesalnya.


" Pantesan saja kau enggak kawin - kawin sampai setua gini. Ngebedain mana nasihati sama marahi pun kau tak tahu, haiiih". Eggy menggelengkan kepala nya, kemudian masuk meninggalkan Omen.


"Lah apa hubungan nya sama kawin....". Jerit nya dan menyusul Eggy untuk masuk ke dalam rumah.


Eggy dan Omen berjalan menyusuri ruang tamu yang sepi, kemudian mereka melihat sanak keluarga nya sedang berkumpul di ruang tengah. Eggy dan Omen menghampiri Bu Hanna kemudian mencium tangan beliau.


"Sehat kamu Men?". Bu Hanna mengusap punggung Omen dengan hangat, beliau sudah menganggap Omen seperti anak nya sendiri.


" Alhamdulillah sehat Ma. Mama sehat?".


"Yaaa kamu lihat sendiri lah Men gimana kondisi Mama sekarang he he he".


Omen tersenyum memandangi Bu Hanna yang sekarang ini hanya bisa terduduk di atas kursi roda dan tidak bisa melakukan hal yang lain nya.

__ADS_1


"Oh ya, kamu kemana saja selama ini, sudah enggak pernah lagi main - main sama Eggy? Kamu sudah enggak mau lagi main - main sama Eggy he he he".


" Bukan nya Omen yang enggak mau main - main lagi Ma, tapi si Eggy nya saja itu yang sudah sibuk kali dia sekarang, sampai payah kali di ajak ketemu pun he he he". Omen melirik Eggy yang matanya bukan hanya melihat mereka, akan tetapi mata nya sibuk mencari sosok wanita nya yang tidak ikut serta berada di tengah - tengah kumpulan itu.


"Apa kau, enggak tuh Ma, yang ada dia yang sok sibuk, kemarin saja di hubungi susah kali mau ngangkat, iiish".


Bu Hanna tertawa sembari menggelengkan kepala nya melihat dua sejoli ini.


"Oh ya Ma, Almira mana Ma?". Ia bertanya pada Bu Hanna sambil celingukan ke sana kemari.


" Uhmm? Tadi kata nya dia mau buat jahe hangat untuk Egga, mungkin dia sekarang lagi di teras belakang sama si Egga, tadi pun Ghifari datang - datang langsung nanyain Mommy nya, Mama suruh cari di belakang ehh Ghifari nya enggak balik - balik, mungkin mereka di belakang. Coba lah kamu tengok sana".


"Hah? Iya Ma, Eggy sama Omen ke belakang dulu ya Ma?". Wajah Eggy mendadak berubah menjadi datar.


"Ya sudah, Omen juga ya Ma?".


" Iya".


Kedua sejoli itu pun berjalan ke teras belakang, mendadak langkah kaki Eggy terhenti melihat anak dan istri nya sedang bermain serta tertawa bersama abang nya. Omen mengerutkan dahinya melirik Eggy.


"Kau cemburu?". Cetusnya.


" Hah? Buaha ha ha ha, cemburu? Ha ha ha, ya enggak lah, masa iya aku cemburu sama abang aku sendiri, yang aneh - aneh saja kau ini". Eggy menyingkut lengan Omen sembari terbahak yang di buat - buat.


"Gy... Gy... Kau pikir aku baru kenal sama kau? Ha?". Omen memutar bola mata nya, ia tahu sebenarnya Eggy sedikit cemburu melihat pemandangan itu.


" Ngomong apa'an sih kau Men. Ck. Siapa juga yang cemburu? Lagian mana mungkin aku cemburu sama abang aku sendiri terus dengan kondisi nya yang saat ini sedang berduka".


"Terus, kenapa kau tiba - tiba berhenti jalan pas ngeliat mereka lagi main - main kayak gitu? Di tambah lagi tuh muka kau itu. Eleh Gy muka kau itu sudah terbaca sama aku kalau kau itu lagi cemburu ha ha ha". Omen menampar pipi Eggy dengan pelan.


" Perasaan kau saja itu. Mana ada aku cemburu - cemburu". Ia kembali melihat mereka bertiga yang sudah seperti satu keluarga yang serasi.


Di tengah canda tawa mereka, Almira pun melihat mereka berdua yang berdiri di tengah - tengah pintu.


"Ehh... Suam?". Almira melambaikan tangan nya mengisyaratkan mengajak mereka untuk bergabung. Egga dan Ghifari pun menoleh ke arah itu juga, kemudian Egga melambaikan tangan nya juga.


" Tuh sudah manggil binik kau itu, enggak usah cemburu - cemburu kau". Omen berbicara pelan pada Eggy sembari menyingkut tangan Eggy, namun mata nya melihat ke arah Almira yang menghampiri mereka.


"Bising kali mulut kau, aku enggak cemburu ya somplak". Eggy merapatkan gigi nya.


Kini Almira sudah berada di hadapan mereka.


" Eh.. Bang Omen. Sudah lama enggak jumpa bang? Kemana saja?".


"He he he, iya Al, lagi sibuk nyari'in model gara - gara si uwak satu ini enggak bisa terus di ajakin photo shoot he he he". Jawab nya sembari menepuk bahu Eggy.


Almira tersenyum melihat kedua nya.


"Oh ya, aku ke sana dulu ya? Aku mau jumpain si Egga dulu he he he". Omen pergi meninggalkan Eggy dan Almira untuk menghampiri Egga yang masih bermain bersama Ghifari.


"Mmm... Suam mau ke kamar mandi dulu. Suam mau mandi, gerah kali". Eggy mengibas - ngibaskan kerah baju nya seolah ia sedang kegerahan.


Almira mengangguk.


"Iya, ya sudah Ist siapkan baju Suam ya? Tadi sengaja Ist bawa baju ganti juga untuk Suam. Tapi bentar, Ist panggil Ghifari dulu, biar Ghifari sekalian mandi juga sama Suam. Ghifari.... Sini sayang... Ghifari mandi dulu sama Daddy, abis tuh ganti baju yuk... Nanti main lagi". Almira pun meneriakin Ghifari, sedangkan Ghifari menggelengkan kepala nya ketika di bilang mandi sama Eggy.


"Enggak mau, Ghifari enggak mau mandi sama Daddy". Jerit nya dengan nada kasar.


Omen tahu Ghifari masih kesal sama Eggy, sedangkan Egga mengerutkan dahi nya dengan sikap Ghifari terhadap Eggy.


"Sudah... Enggak usah di paksa'in, Ghifari enggak bakal mau mandi sama Suam. Suruh saja dia mandi sama Bang Egga. Suam duluan" . Nada bicara Eggy rada aneh, Eggy beranjak meninggalkan Almira yang bingung ada apa dengan bapak dan anak ini.


"Ghifari... Sini nak". Almira kembali memanggil anak nya. Awal nya ia enggan untuk menurut. Kemudian Egga membujuk nya untuk menghampiri Almira dan Ghifari pun menurut. Ia menghampiri Almira.


Almira mengajaknya masuk ke dalam kamar tamu di rumah Egga. Ia mendudukan Ghifari di atas tempat tidur, sedangkan di dalam kamar mandi terdengar suara gemercik air menandakan seseorang sedang mandi di dalam nya, yakni Eggy.


"Ghifari... Coba kasi tahu dulu ke Mommy kenapa Ghifari enggak mau mandi sama Daddy terus bilang nya pakai teriak - teriak kasar kayak tadi?". Almira memegang kedua tangan anak nya dengan lembut dan meminta penjelasan kepada anak nya dengan pelan.


Ghifari memasang wajah kesal nya sambil menarik tangan nya dari genggaman Almira, kemudian ia melipat kedua tangannya.


"Ghifari kesal sama Daddy, masa Daddy marah - marah sama Ghifari, sudah jelas - jelas Daddy yang salah karena telat jemput Ghifari, masa Ghifari yang di marah - marahi huuffft".


"Masa sih Daddy marah - marah sama Ghifari? Pasti ada sebab nya kan? Kenapa Daddy marah sama Ghifari? Tapi ya... Setahu Mommy, Daddy enggak pernah deh marahin Ghifari. Coba Ghifari jelaskan dulu gimana cerita nya?". Almira ngerti, pasti anak nya telah salah menanggapi Eggy.


Ghifari pun menceritakan kronologi kejadiannya. Almira tertawa kecil sembari mengusap pipi Ghifari.


"Sayang... Daddy itu bukan nya marah sama kamu. Itu nama nya Daddy lagi menasihati dan menegaskan ke kamu karena kamu sudah melakukan kesalahan. Enggak baik kalau kamu seperti itu, itu bukan perilaku akhlak yang mulia. Coba deh kamu pikir gimana khawatir nya Daddy kalau kamu benar - benar nekat naik angkot sendirian terus kenapa - kenapa, bukan cuma Daddy saja yang khawatir tapi juga Mommy bahkan yang lain juga khawatir sama Ghifari. Bisa - bisa Mommy bakalan pingsan kalau Ghifari nekat kayak gitu. Memang nya Ghifari mau seperti itu?".


Ghifari tertunduk sembari menggelengkan kepala nya.


"Dan lagi... Kamu juga salah tadi sama Uwak Omen, itu nama nya enggak sopan sayang. Kan Mommy sama Daddy pernah bilang ke Ghifari, kita harus menghormati orang tua, enggak boleh kalau kita lagi kesal terus malah orang lain yang kena. Walau pun Ghifari masih kecil tapi Ghifari harus belajar dari sekarang gimana cara nya menghormati orang lain terutama kepada orang tua. Ghifari enggak boleh lagi ya kayak gitu? Sebenarnya Daddy itu sayaaaang kali sama Ghifari bahkan Daddy lebih sayang sama Ghifari dari pada sama Mommy. Ingat enggak? Waktu Ghifari masuk sakit? Daddy rela enggak bertugas untuk ngejaga Ghifari sakit. Ghifari ingatkan?".


"Iya Mommy. Ghifari ingat, Ghifari sadar kalau Ghifari salah".


Almira memeluk anak nya dengan erat.


"Nah... Kalau gitu, sekarang Ghifari harus melakukan apa?".

__ADS_1


" Ghifari harus minta maaf sama Daddy dan Uwak Omen". Jawab nya.


"Pintar nya anak Mommy dan Daddy yang shalih ini. Ummm... Gemes Mommy nya". Almira mencium ubun - ubun sang anak sembari tersenyum bangga.


Tak lama Eggy pun keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk serta rambutnya yang basah. Almira menyingkut tangan Ghifari dan menyuruhnya mendekati Eggy. Perlahan Ghifari mendekati Eggy yang sedang mengeringkan rambutnya.


" Daddy...".


Eggy pun menoleh ke arah Ghifari.


"Hmm?".


"Daddy... Ghifari minta maaf ya sama Daddy karena Ghifari sudah kesal sama Daddy". Ghifari tertunduk merasa bersalah. Eggy tersenyum memandangi wajah anak nya yang benar - benar menyesal. Eggy pun berlutut di hadapan Ghifari, kemudian mengusap rambut nya.


"Ghifari enggak salah kok. Daddy yang salah karena Daddy sudah telat ngejemput Ghifari terus menasihati Ghifari di depan Uwak Omen. Enggak seharusnya Daddy kayak gitu. Daddy juga minta maaf ya sayang".


Ghifari mengangguk pelan dan sudah berani menatap mata sang Daddy.


"Iya Daddy. Ghifari juga mau minta maaf sama Uwak Omen kalau Ghifari sudah tidak sopan sama Uwak Omen tadi".


"Iya sayang, nanti kita sama - sama bilang nya ke Uwak Omen ya? Tapi ingat! Jangan mau kalau Uwak Omen nyuruh Ghifari manggil Uwak Omen Om. Okay?". Eggy membentuk tangannya seperti emoji okay 👌 sembari mengedipkan mata nya.


" Okey 👌 Daddy".


Almira tertawa kecil sembari menggelengkan kepala nya melihat keduanya sudah berbaikan dan mengambil kesepakatan tidak memanggil Omen Om melainkan Uwak.


"Ya sudah, sekarang Ghifari mandi sana , abis tuh ganti baju, baru jumpain Uwak Omen". Almira mendekati kedua nya.


" Ghifari malas kali lah Mom mau mandi, nanti sore mandi lagi".


"Eeit... Ingat apa kata Daddy, kebersihan salah satu cara kita untuk menghindari....?".


"Virus - virus dan penyakit". Ghifari menyambung kalimat Eggy.


" He he he, pintar anak Daddy. Ya sudah mandi sana. Biar Mommy dan Daddy tunggu'in di sini selagi Daddy mau pakai baju". Eggy berdiri kemudian ia mendorong badan anak nya menuju ke kamar mandi dengan pelan.


"Iya Daddy, jangan tinggalin Ghifari ya? Tungguin". Ghifari menutup pintu kamar mandi nya.


" Iya sayang he he he". Eggy dan Almira menjawab secara serentak.


Almira menyodorkan baju kaos dan celana trening berbahan kaos untuk Eggy.


Eggy pun mengambilnya tanpa sepatah kata pun. Kemudian memakainya.


"Suam sama Bang Omen sudah makan apa belum?".


" Belum". Jawab nya hemat.


"Ya sudah, nanti abis ini, kita makan siang sama ya sekalian juga itu ngebujuk Bang Egga, dia juga belum makan malah dari tadi pagi belum makan".


"Isssh memang lah anak itu kebiasaan kali lah". Dumel nya sembari merapatkan gigi nya.


"Suam".


" Apa?". Spontan Eggy menjawab Almira dengan nada ketus, sontak membuat raut wajah Almira berubah dan menundukkan kepala nya.


"Eh... Sssh". Eggy mengusapkan wajahnya, ia sadar bahwa itu adalah reflex karena kekesalan nya. Eggy menghelakan nafas nya kemudian mendekati Almira.


" Maafin Suam ya? Suam reflex. Suam enggak bermaksud ngebentak Ist". Eggy berlutut di depan Almira yang duduk di atas tempat tidur.


Almira melirik diri nya dengan pandangan yang tajam.


"Pantesan saja anak nya kalau lagi kesal orang lain juga kena imbas nya, ternyata ada yang nurunin. Daddy sama anak sama saja sifat nya kalau sudah kesal huufft". Gerutunya.


" Nama nya juga Daddy sama anak nya, yaa wajar lah kalau sifat nya sama". Eggy memutar bola mata nya.


"Iiish sifat buruk nya yang di tiru kok bangga". Cibir nya.


" Siapa juga yang bangga, lagian Suam memang lagi kesal sama Ist". Ceplos nya.


"Kesal kenapa?".


Eggy enggan menjawab.


" Enggak. Enggak apa - apa". Ia pun berdiri lalu memakai celana nya.


Almira penasaran dan ia mendekati Eggy.


"Suam kesal kenapa sama Ist? Ha? Jawab dulu". Almira memegang wajah Eggy.


" Sudah, enggak. Enggak ada. Suam salah ngomong tadi, entah pun Ist salah dengar". Eggy menepiskan tangan Almira dengan lembut dan berjalan ke meja rias untuk berkaca.


"Ghifariiiii.... Sudah siap belum nak? Daddy sudah siap nih". Teriak nya sambil menyisir rambut nya.


"Iya, bentar". Ghifari pun keluar dari kamar mandi.


"Sudah cepat pakai baju nya sama Mommy". Eggy mengalihkan Almira kepada anak nya. Almira terpaksa mengurungkan rasa penasaran nya.

__ADS_1


__ADS_2