Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 28 #S3


__ADS_3

#Ckrek... Ckrek... Ckrek...


Riuh suara bunyi kamera yang sedang melakukan tugas nya untuk mengambil foto terbaik dengan kemampuan kualitasnya.


Omen terlihat tidak bersemangat untuk bekerja hari ini. Dia lebih banyak diam dari biasa nya. Kawan - kawan seprofesi nya merasa heran melihat nya beberapa hari iniini berdiam diri.


"Eh si Omen kenapa? Dari kemarin aku tengok diam mulu. Enggak kayak biasa nya dia yang selalu kreak". Salah satu photographer bertanya pada photographer lain nya sambil melihat Omen yang terdiam duduk di ruang bebas rokok.


"Enggak tahu aku, mungkin dia lagi ada masalah kali. Coba lah kau tanya ke dia". Jawab seorang photo grapher yang lain nya sembari melihat Omen.


"Ah enggak mau aku. Nanti kenak semprot pulak aku sama dia. Kau saja lah yang nanyain".


"Ah... Aku apa lagi, aku masih anak baru di sini, takut lah aku nanyak nya".


Dan mereka pun saling sodor menyodor untuk mendekati Omen, tapi enggak berani untuk menanyakan nya.


Sedang kan Omen, ia berulang kali menarik nafas nya lalu menghelakan nya kembali.


Masih terngiang di telinga nya tentang apa yang Eggy cerita kan pada nya.


Flash Back...


"Sebenar nya sebulan yang lalu aku lagi meriksa data - data pasien yang ada di rumah sakit aku, terus aku enggak sengaja ngeliat ada data Widya. Aku pikir itu data Widya karena sakit ringan. Terus aku check ternyata data nya seperti di rahasiakan, data nya cuma ada nama dokter yang menangani nya, yaitu Dokter Ratna, dokter specialis kandungan di rumah sakit aku".


"Terus aku tanya sama Dokter Ratna, ternyata benar dugaan aku, kalau Widya sedang hamil".


#Jedeeeeeeeer........


Omen terkejut batin, yang ia takut kan ternyata benar. Omen tidak bisa berkata apa - apa. Wajah nya menjadi pucat pasih serta Kaki nya terasa lemas.


"Kata Dokter Ratna, awal nya Widya meminta ia untuk menggugur kan kandungan nya, tapi Dokter Ratna menolak nya karena Dokter Ratna punya prinsip kenapa dia menjadi seorang Dokter specialis kandungan. Jadi dengan secara terpaksa Widya mengurung kan niat nya untuk menggugur kan kehamilan nya asalkan merahasia kan ini semua ke aku, tapi kemarin Dokter Ratna bilang ke aku kalau si Widya mau mencari dokter kandungan lain atau bidan yang bisa menggugurkan kandungan nya. Maka nya aku nanya'in ini ke kau, karena aku pikir kalian berdua sudah ngelakuin hal itu dan Widya hamil anak kau".


Eggy sudah mencerita kan apa yang terjadi sebulan yang lalu mengenai Widya.


Flash On...


Ia enggak sampai pikir itu yang terjadi pada diri nya dan di khianati oleh orang kekasih nya. Ia melirik ponsel nya yang ia genggam ketika ponsel nya bergetar dan menunjuk kan ada nya panggilan dari sang kekasih, yakni Widya.


Omen enggan menjawab panggilan itu dan memutuskan untuk beranjak dari studio tanpa berpamitan dengan yang lain nya. Ia kembali ke rumah nya dengan lesu, bahkan ketika ibu nya menegur diri nya pun ia seperti tidak menghirau kan beliau dan membuat ibu nya merasa bingung.


Omen bersandar pada dinding kamar nya sembari memegang jidat nya serta mengacak rambut nya.


#Tring...


Omen membaca sebuah pesan dari Widya setelah ia merogohkan ponsel nya yang berada di dalam saku celana nya.


#Widya /"Sayang, kok telpon aku enggak di angkat - angkat dari tadi? Kamu lagi sibuk ya? Mobil kamu, aku yang ngantarin ke rumah kamu atau kamu yang ngejemput di kos - kosan aku?".


Omen hanya membaca nya saja, lalu mencampak kan ponsel nya ke sisi kiri tempat tidur nya. Omen mengusap wajah nya serta mengacak rambut nya, ia masih bingung dan belum tahu keputusan apa yang terbaik untuk diri nya. Dia benar - benar frustasi karena ini.


Tiba - tiba ponsel nya bergetar kembali, Omen melirik ponsel nya. Kali ini bukan Widya yang menghubungi nya melainkan Eggy. Omen segera mengangkat panggilan itu.


"Hmm?".


#Eggy /"Hemm Hamm Hemm... Assalamualaikum".


#Omen /"Walaikumussalam. Kenapa?".


#Eggy /"Pakek nanyak lagi kau, kenapa. Kau lagi dimana? Aku ke studio kau sudah enggak ada di sini".


#Omen /"Aku sudah pulang. Kenapa?".


#Eggy /"Ya ALLAH malah nanyak lagi. Haiiiish... Ya sudah aku ke rumah kau nih sekarang".


"Hemm".


Panggilan pun berakhir. Butuh waktu setengah jam Eggy pun tiba di rumah Omen, tak lupa juga ia bercengkrama dengan orang tua Omen. Kemudian ia masuk ke dalam Omen.


Eggy melirik ke sekitar kamar Omen yang berantakan nya minta ampun.


"Ya ALLAH Men, ini kamar atau gudang? Kenapa berserak kayak gini? Ini lagi apa'an, kolor kau berterbangan di mana - mana. Iiiiuhhhh". Eggy menunjuk kan pada barang - barang Omen yang berserakan di mana - mana.


"Hemm... Kok tumben kau nyarik aku di jam sibuk kau kayak gini?". Omen melirik Eggy dengan mata nya yang terlihat sayu.


"Huh... Aku jumpain kau, salah, enggak jumpain pun juga salah. Entah apa mau kau". Eggy memutar bola nya kemudian duduk di kursi meja belajar Omen.


"Bukan gitu. Kan tumben saja kau nyarikin aku di saat jam sibuk kayak gini". Ulang nya sembari menggaruk paha nya yang terasa gatal.


Eggy mendekati Omen lalu merangkul nya sembari senyum - senyum.


"Aku kan sayang sama kau hi hi hi, maka nya aku jumpain kau, terus belain enggak kerja hari ini he he he he".


Omen menyingkirkan tangan Eggy.


"Apaan sih kau. Enggak usah sok imut kau".


Eggy tertawa melihat sahabat nya yang berusaha sok Oke.


"He he he, ya sudah yuk kita keluar. Kita mendaki gunung Sibayak gimana?".


Sontak Omen mengerutkan dahi nya, lalu mengecheck dahi Eggy.


"Kau lagi sakit wak? Enggak ada angin, enggak ada hujan, enggak gledek, tiba - tiba ngajakin aku naik ke gunung Sibayak".


"Sudah ayuk siap - siap kau biar cepat kita ke sana, kita pulang hari, enggak usah nginap di sana". Eggy menarik tangan Omen, memaksa nya untuk bangkit dari tempat tidur.


"Iih ada gila - gila nya lah kau ini. Enggak kau pikirin anak sama binik kau? Iiss isssh". Omen kerap menolak nya.


"Sudah, enggak usah kau pikirin itu. Lagian aku sudah minta izin kok sama mereka, dan mereka ngizini he he he. Ayok cepat. Nanti ku pangkas rambut kau itu kalau kau enggak mau nurut apa kata aku". Eggy merapat kan gigi nya mengancam Omen dengan memangkas rambut kesayangan nya.


Mau enggak mau ia menuruti Eggy, karena ia merasa takut kalau Eggy sampai nekat memangkas rambut nya.


"Iya.. Iya... Sudah mulai enggak waras si bapak satu ini". Gerutu nya sambil berjalan menuju ke kamar mandi. Eggy terbahak melihat nya, sempat ia menepak bokong Omen.


Flash back...


Almira, Eggy dan Ghifari sedang menyantap sarapan mereka di atas meja makan sebelum mereka melakukan aktivitas lain nya.


"Oh.. Ya Suam, gimana keadaan Lutfi sekarang?". Almira membuka pembicaraan sambil mengunyah makanan yang ia suap ke dalam mulut nya.


"Alhamdulillah, berangsur - angsur membaik. Rencana nya hari ini dia akan di pindahkan ke ruangan". Jawab nya.


"Mm.. Alhamdulillah kalau gitu. Kalau gitu hari ini Ist bisa jenguk mereka Suam?".


"Nanti saja sayang, kalau Lutfi nya benar - benar sudah di pindah kan ke ruangan. Terus Suam pun hari ini mau jumpain si Omen ke rumah nya atau ke studio".


"Oh iya, gimana kabar nya Bang Omen Suam?". Almira beralih bertanya tentang keaadan Omen.


"Uwak Omen kenapa Daddy? Uwak Omen lagi sakit ya?". Ghifari yang tadi fokus sama makanan nya kini menyambung setelah menyebut nama Omen.


Almira dan Eggy tersenyum getir, mereka saling mengkode satu sama lain untuk tidak memberitahu Ghifari.


"Ehe he he he enggak apa - apa sayang. Uwak Omen enggak lagi sakit kok. Daddy mau jumpain Uwak Omen karena mau ngebahas photo model. Ha... Iya! Kan Daddy mau ikut photo model lagi kayak dulu, Ghifari suka kan kalau Daddy balik lagi jadi model? he he he". Eggy berdalih.


"Suka kali lah Dad, Ghifari saja nanti kalau sudah besar mau jadi model kayak Daddy he he he". Jawab nya dengan polos.


Almira melirik Eggy sembari tertawa getir.


"He he he iya sayang. Kan Daddy mau jadi model lagi. Iya kan Dad?". Almira mendelik kan mata nya pada Eggy.


"He he he iya sayang". Eggy terpaksa berbohong seperti itu karena yang ada di otak nya hanya terlintas hal itu.


Almira melirik nya dengan mata tajam nya karena Eggy memberi kan alasan pada anak nya yang bakal mengharuskan dia balik lagi jadi model. Ia mengantar Eggy sampai ke depan pintu.


Eggy membalik kan badan nya, berhadapan dengan Almira.


"Oh ya lupa Suam. Tadi Suam mau bilang sama Ist, kalau hari ini Suam mau minta izin mau ngajak Omen keluar. Di bolehin enggak?".


"Mau kemana rupa nya?". Almira mengerut kan dahi nya.


"Masih belum kepikiran mau kemana tujuan nya. Tapi nanti Suam kabari ke Ist kok kemana tujuan nya. Tapi yang pasti nya Suam enggak bakalan nginap kok, Suam pulang. Di bolehin enggak? Istri ku tercinta".


"Hmm.. Iya boleh. Tapi jangan ke tempat yang macam - macam apa lagi melakukan yang macam - macam. Terus lagi jangan ramah - ramah sama perempuan lain, kalau ketemu sama perempuan, Suam enggak boleh nengok. Ngerti?". Almira menoel kan hidung Eggy dengan menggunakan jari telunjuk nya.

__ADS_1


"Iya siap Tuan Putri ku sayang ku cinta ku manja ku yang selalu bikin gemes. Uhmmm gemes gemes gemes". Eggy merasa gemas pada Almira kemudian ia mencubit pipi nya lalu kemudian Eggy mencium nya.


"Ya sudah, Suam berangkat ya sayang. Assalamualaikum Ist ku, emmmuach". Eggy memberi kan kiss bye pada Almira dengan ala - ala drakor yang bikin baper.


"Waalaikumussalam Suam ku. Ummmuach". Almira membalas nya sembari tersenyum malu - malu.


Eggy pun berlalu meninggal kan istri tercinta nya dan langsung menuju ke studio untuk menemui Omen.


Flash On...


Eggy dan Omen berjalan mendaki gunung Sibayak yang sama sekali tidak berubah dari sebelum nya. Dengan semangat nya mereka mendaki gunung merapi tersebut dengan melawan terik nya sinar matahari yang menyengat pada kulit mereka hingga akhirnya mereka pun sampai di puncak gunung Sibayak.


Eggy bernafas lega akhir nya bisa menginjak kan kaki nya kembali di atas puncak gunung tersebut, ia menghirup udara di area itu dan begitu terasa di hidung nya aroma menyengat bau khas dari blerang.


"Haaaah.... Sudah lama kali aku enggak ke sini he he he". Ujar nya sambil mencak - mencak.


Omen melirik nya dan tertawa kecil.


"He he he, maka nya jangan rumah sakit saja yang di sibukin, sesekali manjain mata kau itu dengan pemandangan kayak gini ha ha ha".


Eggy /"Hemm... Nama nya juga sudah kewajiban aku, jadi aku harus mensyukuri semua nya. Hemm.. Jadi nyesal enggak pernah bawa anak sama binik aku ke sini he he he". Ujar sembari menatap pemandangan tersebut.


"Hmm..". Omen memutar mata nya lalu beralih menatap pemandangan indah yang berada di hadapan mereka.


"Aku jadi teringat pas pertama kali ke sini sama Almira, terus waktu itu untuk pertama kali nya juga aku sholat lagi malah berjamaah lagi sama Almira he he he he. Benar - benar enggak bisa aku lupa'in moment itu he he he". Eggy mengingat momen mengharukan tersebut sambil tersenyum.


Omen /"Hmm iya, aku juga jadi teringat waktu kau patah hati karena si Egga tunangan sama binik kau ha ha ha, terus kau ngajak aku lari ke sini untuk nenangin pikiran kau ha ha ha".


Eggy tertawa mengingat momen itu juga, lalu melirik Omen yang posisi nya sekarang sedang patah hati karena di kecewakan Widya.


"Maka nya aku ngajak kau ke sini. Aku mau gantian nemeni kau untuk menenangkan pikiran kau itu yang lagi galau he he he".


Omen melirik Eggy dengan tatapan sendu.


"Bisa saja kau ya ha ha ha". Omen memiting leher Eggy.


"Aduuh duuuh sakit wak ong. Bisa patah leher aku kau buat sshhh". Eggy menepuk - nepuk tangan Omen yang berada di leher nya. Kemudian Omen melepaskan tangan nya pada leher Eggy sambil tertawa.


" Ha ha ha ha".


Eggy/ "Sudah, enggak usah galau - galau lagi kau. Kata binik aku, masih banyak ikan di laut. Jadi enggak perlu kau galau - galauan. Tinggal kau pancing saja ikan nya, pasti bakal dapat yang jauh lebih baik dari Widya".


"Jadi maksud si Almira nyuruh aku mancing ikan terus macarin itu ikan gitu? Ha aha ha ada - ada saja binik kau itu". Omen terbahak sambil memegang perut nya. Dia gagal faham dengan maksud mereka.


"Ha ha ha, iya mana tau kan kau dapat mancing putri duyung, kan lumayan itu apa lagi kata nya putri duyung itu cantik - cantik ha ha ha". Eggy malah menimpal nya bukan nya menjelas kan apa maksud dari perumpaan itu.


Omen menggeplak kepala Eggy sambil terbahak.


"Ha ha ha memang lah, lakik binik sama saja, sama - sama otak nya sudah sengklak wk wk wk kk kk".


"Kurang ajar kau. Enak saja kau bilang aku sama binik aku otak nya sengklak. Ha ha ha kau nya saja yang otak nya enggak nyampek sama perumpaan yang di bilang binik aku". Eggy balik menggeplak kepala Omen.


Omen mengerut kan dahi nya, ia berusaha untuk mencerna apa maksud dari perumpaan itu.


"Oh.... Ho ho ho". Akhir nya ia pun faham.


Eggy /"Ooh... Kalau enggak ku geplak kepala kau itu mungkin enggak loading - loading juga ku rasa otak kau itu ha ha ha".


Omen /"Ha ha ha paham aku, paham. Paham aku apa maksud binik kau ha ha ha. Maksud nya masih banyak lagi perempuan - perempuan yang mau sama aku. Iya kan?".


"Hmmp. Maka nya otak kau itu di gunakan dengan , jangan kau museum kan saja tuh otak. Lagian macam cuma Widya saja perempuan yang ada di muka bumi ini. Macam tak ada yang lain nya. Masih banyak yang jauh lebih baik dari dia. Dulu saja, bisa kali kau nyeramahin aku waktu sama si Karin, lah sekarang malah kayak mayat hidup kau, apa lagi kemarin kau itu malu - malu' in aku gaya - gayaan mau nabrakan diri ke jalanan sambil teriak - teriak kayak orang gila. Hiiih entah lah, kalau kau bukan kawan aku, sudah ku biarin saja kau ketabrak di jalan ha ha ha. Cocok nya aku rekam waktu malam itu terus aku sebarin ke sosial media, biar malu kau sekalian ha ha ha". Eggy merepet seperti emak - emak.


Omen /"Ha ha ha, sorry lah bro. Sudah stres kali aku. Sudah enggak tahu lagi aku mau ngapain. Betul - betul terkejut kali aku. Kayak terasa tercampak semangat aku, kau tahu lah cemana cinta nya aku sama dia he he he, terus di gini'in, apa enggak sakit jiwa aku".


"Jiwa kau yang sakit ya? Bukan hati kau? ha ha ha". Eggy melirik nya.


Omen /" Kalau hati aku jangan di tanya lagi, sudah lebur kayak bubur benyek ha ha ha".


Eggy menggeleng kan kepala nya.


"Terus sekarang, Kau sudah tahu keputusan apa yang terbaik untuk kau?".


Omen mengangguk kan kepala nya sambil tersenyum.


Eggy mengerut dahi nya melirik Omen.


"Apa rupa nya?".


" Kita lihat saja nanti he he he". Omen melirik Eggy yang penasaran dengan keputusan nya.


.


.


Eggy dan Omen akhir nya kembali ke Kota Medan setelah lelah mendaki gunung. Mereka tidak langsung pulang ke rumah masing - masing. Omen meminta Eggy menemani nya untuk bertemu dengan Widya. Iya ingin memberikan keputusan pada hati nya terhadap Widya.


Omen menemui Widya di kos - kosan nya, tepat di depan pintu pagar kos - kosan khusus putri itu. Sedang kan Eggy hanya menunggu nya di dalam mobil sambil melihat kedua nya dengan seksama.


"Sayang... Kok malam - malam gini ke sini? Kenapa enggak bilang - bilang kalau kamu mau ke sini? Kamu kemana saja sih sayang? Aku telponi enggak kamu angkat - angkat". Widya mencoba untuk mencium pipi kanan dan kiri Omen seperti biasa nya ketika mereka bertemu, namun Omen menghindari nya, sontak membuat Widya merasa heran dan mengerut kan dahi nya.


"Iya maaf, tadi aku abis pergi sama Eggy terus hp nya aku silent maka nya enggak dengar, pas aku lihat hp aku ehh sudah banyak panggilan kamu yang enggak terjawab, maka nya aku langsung ke sini he he he". Omen berkata bohong.


Widya /"Hmm gitu, pantesan. Oh ya kamu mau ngambil mobil kan? Bentar aku ambil dulu kunci mobil nya di dalam kamar, atau kamu mau masuk juga ke dalam?".


Omen menggeleng kan kepala nya.


" Enggak usah, aku nunggu di sini saja. Kasihan sama Eggy, nanti dia nungguin nya kelama'an".


Widya melirik ke arah Eggy.


"Hmm.. Ya sudah, aku masuk ke dalam dulu ya, ngambil kunci mobil nya".


Widya pun bergegas masuk ke dalam kos - kosan untuk mengambil kunci mobil Omen.


Tak lama ia pun keluar lalu menyerahkan kunci mobil nya.


"Nah, oh ya sayang tadi sengaja aku enggak markirin mobil nya ke dalam soal nya aku takut tiba - tiba kamu datang mau ngambil mobil nya, maka nya aku parkirin di luar he he he. Ehh ternyata benar dugaan aku, kamu nya datang juga selarut ini he he he".


Omen melirik ke arah mobil avanza berwarna hitam yang terparkir di depan mobil Eggy lalu mengambil kunci mobil nya dari tangan Widya.


"Iya, enggak apa - apa kok. Oh ya, ada yang mau aku omongin ke kamu". Omen menarik nafas nya.


Widya "Ngomongin apa sayang? Kok enggak kayak biasa nya kamu yang main langsung cablak saja tanpa basa - basi sudah ngomong he he he".


Omen melirik ke arah perut Widya yang agak membuncit dan ia menyadari bahwa kebuncitan itu bukan karena faktor kegemukan melainkan karena kehamilan nya. Dada nya terasa menyesakkan. Dia berusaha untuk tenang, serta menarik nafas nya lalu menghembus kan nya kembali.


"Sayang...? Kamu kenapa sih? Kamu mau ngomong apa sama aku?". Widya menggenggam tangan Omen yang sedikit membeku.


"Huuuuh.... Aku mau kita putus". Ucap nya dengan lantang dan berusaha menatap wajah Widya tanpa menunjuk kan rasa sedih sedikit pun.


"Apa? Kamu bercanda kan sayang? Kamu enggak lagi beneran minta putus sama aku kan sayang?". Mata Widya terbelalak karena terkejut serta berkaca - kaca menatap Omen.


"Aku sama sekali enggak bercanda. Aku beneran mau kita putus. Dan....". Omen sekali lagi melirik perut Widya lalu menyodor kan bukti kehamilan Widya dari pihak rumah sakit.


"Apa ini?". Widya mengambil amplop coklat yang Omen sodor kan kepada nya, lalu melihat isi amplop tersebut. Sontak membuat mata Widya terbelalak, ia benar - benar terkejut, bagaimana bisa Omen mengetahui soal ini. Seketika Widya melirik ke arah Eggy yang berada di dalam mobil nya. Widya sadar siapa yang mengetahui ini terlebih dahulu mengingat ia datang ke rumah sakit yang salah.


"Kamu jaga baik - baik ya makhluk kecil yang ALLAH titip kan ke kamu. Jangan sampai kamu melukai nya apa lagi sampai melenyap kan nya. Kamu harus memberi kan ia kesempatan untuk bisa merasa kan dunia ini dan kamu juga harus bahagia bersama bapak dari sang calon bayi yang kamu kandung saat ini". Omen tersenyum ikhlas menatap Widya yang sudah berurai air mata.


"Enggak sayang... Kamu harus dengarin dulu penjelasan aku. Aku melakukan itu karena aku benar - benar khilaf, aku enggak sengaja mabuk waktu acara perayaan kenaikan pangkat aku di kantor terus kami benar - benar khilaf ngelakuin itu karena kami benar - benar mabuk dan enggak sadar kan diri. Aku sayang sama kamu. Aku bakal ngegugurin kandungan aku demi kamu sayang. Aku enggak mau putus sama kamu, aku enggak mau". Widya berusaha menjelaskan apa yang terjadi sambil menggenggam tangan Omen.


Omen tersenyum lalu melepas kan tangan Widya yang menggenggam tangan nya.


"Jangan sampai kamu melakukan dosa itu berlipat ganda. Itu akan membuat aku semakin membenci kamu. Aku mohon jangan lakukan apa pun demi aku. Aku sudah ikhlas dengan apa yang terjadi di antara kita berdua. Aku sangat berterimakasih untuk 15 tahun yang sudah kita laluin bersama dan maaf karena aku enggak bisa menjadi yang terbaik buat kamu. Aku berharap kamu bisa berbahagia dengan dia dan mendidik anak kalian menjadi anak shalih dan shalihah. Aku permisi". Omen beranjak meninggal kan Widya dengan berlalu bersama mobil nya dan di ikuti oleh Eggy dari belakang.


Sedang kan Widya, ia hanya bisa menangis tersedu - sedu dan merasa bersalah menatap kepergian Omen. Dia sebenar nya tidak ingin semua ini terjadi pada mereka. Dia benar - benar khilaf melakukan itu dan menyadari bahwa itu adalah kesalahan besar dan benar - benar menghancur kan hati Omen.


Sebelum kembali ke rumah masing - masing, Eggy mengajak Omen untuk ngopi - ngopi terlebih dahulu sambil membahas apa yang barusan telah terjadi.


"Makasi banyak ya bro sudah nemeni aku seharian ini dan kau jadi nyaksiin drama korea aku he he he. Aku enggak tahu gimana jadi nya kalau kau enggak ada, bisa - bisa aku beneran bunuh diri he he he he". Ia berkata sembari mengaduk kopi nya.


Eggy terbahak "Ha ha ha, ngomong kau terlalu formal, kayak ngomong entah sama siapa saja kau, lagian bukan gaya kau juga ngomong formal kayak gini ha ha ha. Lagian kan lumayan juga aku dapat tontonan gratis, enggak payah pakai kuota aku nonton nya ha ha ha. Jadi, gimana kedepan nya?".


"Ha ha ha sia*an kau. Ya enggak gimana - gimana, paling kayak biasa nya, aku fokus sama model - model aku, terus sama sekalian berusaha ngebujuk binik kau biar supaya kau balik lagi jadi model hi hi hi". Omen tersenyum licik menatap Eggy sembari menaik turun kan kedua alis mata nya.

__ADS_1


Eggy "Aaah... Dapat ilmu dari mana lagi kau itu. Pakai mau ngebujuk binik aku. Ha? Ha ha ha". Eggy menarik rambut Omen. " Bilang sama aku, dapat dari mana kau ilmu itu. Ha?".


"Ha ha ha, mau tahu saja kau, aku dapat ilmu nya dari mana ha ha ha, yang penting aku sudah dapat kunci nya lweeek karena aku sudah tahu kalau aku berhasil ngebujuk binik kau sudah otomatis kau enggak bakalan nolak sama permintaan binik kau ha ha ha". Omen terbahak melihat raut wajah Eggy.


"Aahh enggak betol kau ini. Main curang kau ini nama nya". Eggy menoyor kepala Omen dan masih penasaran dari mana dia ngedapatin ide kayak gitu.


Omen " Ha ha ha kau tunggu saja nanti. Eh kau enggak ngabari binik kau? Sudah jam berapa ini? Nanti merepet pulak binik kau".


Eggy menepuk jidat nya, lalu melihat jam tangan nya. Waktu menunjuk kan sudah jam 1 lewat.


"Oh iya Astaghfirullah, kelupaan aku. Mati aku, bisa - bisa enggak dapat pintu aku malam ini. Aku langsung pulang ya? Besok kita sambung lagi cerita nya. Ingat! Jangan galau - galau lagi kau. Terus jangan coba - coba kau berani ngebujuk binik aku ya, kalau kau sampai berani, tengok saja lah nanti ha ha ha". Eggy ngacir meninggal kan Omen sambil mengancam nya.


"Ha ha ha bodo amat, mana peduli aku sama ancaman kau, enggak takut aku ha ha ha, dasar bocah tengil". Omen menggeleng kan kepala nya sambil menatap kepergian Eggy.


Setelah kepergian Eggy, ia kembali merenung kan diri nya sambil menatap langit yang gelap gulita. Walau pun begitu, ia masih menyimpan luka di hati nya karena di kecewa kan oleh wanita yang selama ini mengisi hari - hari nya selama 15 tahun lama nya, dan tidak semudah itu untuk melupakan nya.


.


.


Eggy berjalan diam - diam masuk ke dalam rumah nya agar ia tidak ketauan oleh Almira. Beruntung nya, Almira tidak mengunci rumah nya dari dalam sehingga Eggy bisa masuk ke dalam rumah dengan mudah nya.


Eggy seperti maling yang memasuki rumah nya sendiri. Dengan perlahan namun pasti ia berjalan menyusuri rumah nya. Selangkah demi langkah ia berjinjit agar tidak mengeluar kan suara dari tapak kaki nya.


"Enak jalan - jalan nya Suam?". Tiba - tiba terdengar suara Almira dari sofa di ruang tv mereka, sontak membuat Eggy terkejut dan menghentikan langkah kaki nya.


"He he he... Ist belum tidur ternyata he he he". Eggy tertawa getir karena tertangkap basah oleh istri nya. Eggy berjalan pelan mendekati Almira yang sudah memasang wajah sinis nya.


Eggy "Ist kok belum tidur sayang? He he he".


Almira masih terdiam.


"Maaf ya sayang, Suam enggak ngabari Ist he he he. Soal nya tadi Suam sama si Omen kan pergi ke gunung Sibayak, terus di sana enggak ada sinyal jadi enggak bisa ngabari ke Ist, terus pas sudah balik dari sana, Suam kelupaan ngabarin nya he he he. Maaf ya sayang". Eggy memang enggak bisa mencari - cari alasan pada Almira, ia selalu berlaku jujur pada Almira. Ia menggenggam tangan Almira sambil menatap nya dengan memelas.


Almira mengendus kan nafas nya, rasa amarah nya seketika pudar ketika ia melihat wajah Eggy yang menggemes kan itu.


"Mana ole - ole dari Sibayak nya?". Almira menadah kan tangan nya ke hadapan wajah Eggy.


"He? He he he, enggak ada sayang. Soal nya Suam sama Omen enggak singgah - singgah lagi kecuali makan. Terus abis pulang dari sana kami langsung ke rumah Widya, karena si Omen mau ngasi keputusan mengenai hubungan nya ke depan". Jelas nya dengan rada - rada takut kalau Almira marah.


"Terus gimana Suam jadi nya kabar hubungan Bang Omen sama Widya?". Raut wajah Almira sontak berubah menjadi raut kepo yang sangat ingin tahu tentang mereka.


Eggy tercengang serta menepuk jidat nya.


"Cepat lah, cerita lah Suam, gimana cerita nya tadi pas kalian ke rumah si Widya, Ist penasaran ini". Almira menggoncang - goncang tubuh Eggy.


Eggy menggeleng kan kepala nya, kemudian menggendong tubuh Almira. Sontak membuat nya terkejut dan menjerit histeris.


" Aaaaaaa".


"Sssstt sudah berapa kali Suam bilang kalau Suam ngelakuin kayak gini jangan pakai teriak. Apa lagi ini sudah tengah malam, nanti Ghifari bangun terus di dengar sama tetangga. Umm". Eggy memplototin Almira sembari menarik hidung nya.


Almira memonyong kan bibir nya.


"Abis nya, Suam suka kali bikin orang terkejut kayak gini. Lagian itu memang murni dari reflex seorang wanita dari zaman atok Adam Alaihi Salam dulu. Di zaman atok Adam Alaihi Salam dulu sengaja membiarkan nenek Hawa berteriak sambil menangis histeris karena kematian anak nya, dan itu lah sebab nya kenapa para wanita itu lumrah nya menjadi cengeng dan tukang berteriak". Almira sedikit mencerita kan kisah Nabi Adam Alaihi Salam dan Siti Hawa.


Eggy mengerut kan dahi nya, ia masih tidak percaya.


"Masa sih gitu asal mula nya?".


Almira mengangguk kan kepala nya.


"Heemm... Ist sih enggak bisa menjelaskan nya secara detail nya soal nya Ist takut salah, jadi Ist cuma bisa ngasi kesimpulan nya saja hi hi hi".


"Ist dari mana dapat sumber cerita itu?". Eggy semakin penasaran.


"Dari guru ngaji Ist dulu waktu Ist rutin ngaji setiap malam jumat di mesjid dekat rumah Mamak Ayah he he he. Ya sudah deh, sekarang Suam ceritain dulu gimana tadi Bang Omen sama Widya. Ist penasaran ini Suam". Almira mengoyang - goyang kan badan nya dari gendongan Eggy sehingga membuat Eggy berdiri tidak seimbang.


"Eh.. Ehh.. Jangan goyang - goyang sayang, nanti kita jatuh lhooooo". Eggy berusaha menyeimbangi tubuh nya agar tidak terjatuh.


Almira malah nyengir.


"He he he, cerita lah Suam. Ya... Ya... Ya... Ya...?". Almira memasang wajah imut - imut nya agar Eggy luluh dan mau mencerita kan nya semua.


Eggy menggeleng kan kepala.


"Huuh... Suam gigit juga nanti ini Ist ya? Mau?". Eggy merapatkan gigi nya karena gemes sama Almira.


"Sudah, ayok kita tidur, sudah jam berapa ini, Suam ngantuk banget lho Ist". Eggy membawa Almira masuk ke dalam kamar nya dengan menggendong nya. Kemudian mengunci pintu kamar nya.


Dari balik pintu, suara mereka masih terdengar.


Almira /"Ih... Harus nya yang ngedumel kayak gitu itu Ist bukan nya Suam. Lagian Suam pulang nya malam kali. Gara - gara Suam juga Ist jadi nunggu'in Suan di ruang tv, sampai tertidur - tidur Ist nya huffft".


Eggy /"Iya... Iya.. Suam minta maaf, Suam yang salah. Nanti Suam enggak bakal ngelakuin nya lagi, nanti Suam enggak akan pulang malam - malam lagi. Sekarang mari kita istirahat ya sayang, Suam capek kali ini, kaki Suam terasa mau copot karena ngedaki tadi hu hu hu".


Almira /"Nanti dulu lah Suam, Suam harus cerita dulu sama Ist soal Bang Omen sama Widya tadi, abis cerita baru kita tidur".


Eggy /"Besok saja ya sayang, Suam sudah ngantok kali lho, sudah berat kali ini mata sama badan Suam. Janji deh besok Suam bakalan cerita semua nya ke Ist. Jadi sekarang Ist simpan dulu rasa penasaran nya sampai besok he he he".


Almira /"Iiih Suam gitu kali lah sama istri nya, Suam....".


Eggy /"Z.. z.. zz.. zzz.. zzttt".


Almira /"Suam....".


Eggy /"Z.. z.. z..zzzttt".


Dan Almira pun di tinggal tidur oleh Eggy. Suasana kediaman mereka pun hening seketika karena mereka sudah terlelap.


***


Hallo Assalamualaikum semua nya....


Apa kabar kalian semua?


Author harap mudah - mudahan kalian sehat - sehat semua, Aamiin.


Dan mudah - mudahan kita selalu di jauh kan dari mara bahaya dan di jauh kan dari virus yang sedang mewabah di Indonesia ini Aamiin.


Oh ya...


Pasti kalian kaget kan tiba - tiba kisah Eggy dan Almira (Keikhlasan Hati) Up lagi (perasaan kali author nya) hi hi hi hi.


Kira - kira kangen enggak sih sama kisah kehidupan mereka? he he he


Sebenar nya sudah lama author nya ngebuat cerita Keikhlasan Hati S 3, tapi kemarin - kemarin author masih kebingungan mau buat judul baru lagi atau up di sini.


Terus setelah lama berpikir akhir nya author memutus kan untuk Up di sini, karena menurut author kayak nya enggak cantik kali kalau cerita S 3 nya di pisah (di luar judul) dari S 1 dan S 2 he he he.


Tapi author minta maaf juga nih baru ini muncul nya sekarang dan sudah jarang melihat komen - komen kalian, karena author benar - benar sibuk banget bakangan ini (lebih tepat nya sok sibuk) he he he.


Hmm... ya sudah deh enggak perlu lama - lama author nya cuap - cuap sendiri di sini he he he.


Kalian pantengin terus ya sama karya - karya author, bisa jadi author nya bakal ngasi kejutan lain nya he he he (banyak kali gaya si author ini).


Oh ya satu lagi....


Jangan lupa baca juga karya author yang berjudul "Phobia (Trauma)".


In Sya ALLAH cerita nya asyik tapi bukan cerita islami sih seperti cerita author yang sebelumnya he he he


Dari pada penasaran mending di baca yuk...


he he he..


Ya sudah sekali lagi, terimakasi banyak ya buat yang masih setia sama kisah Eggy dan Almira. Nanti kan kisah berikut nya...


Semoga kalian sehat - sehat selalu ya...


Selamat membaca para readers dan Selamat menunaikan ibadah puasa (Bagi umat muslim)


Wassalamualaikum...

__ADS_1


@fidhamiraza_


__ADS_2