
#Yaasiin wal qur'aanil hakiim....
Seruan para pelayat membacakan surah yaasiin menggema di setiap sudut rumah Eggy dan Almira. Tak ketinggalan sanak saudara dari berbagai pihak berdatangan untuk menunjukkan rasa bela sungkawa mereka atas musibah yang di alami oleh keduanya.
Di tengah - tengah sisi tepat di samping Eggy yang memangku jenajah anak mereka, Almira terduduk lemas dengan tangan yang masih di infus, kakinya berselonjor dan bersandar pada dinding rumahnya. Mata keduanya terlihat bengkak dan wajah yang sembab akibat menangis yang tak kunjung mereda.
Sebelumnya Almira sudah di larang untuk tidak pulang terlebih dahulu karena kondisinya yang masih lemah, namun apa boleh buat dengan musibah yang di alaminya, Dokter Ratna dengan berat hati membiarkan ia pulang dan di jamin oleh Eggy.
Almira menyandarkan kepalanya pada pundak Eggy lalu mengusap - ngusap badan sang bayi yang tertutup dengan selembar kain putih. Keduanya tidak berkata apa - apa, yang ada hanya air mata yang mengalir ke pipi keduanya.
Para pelayat berdatangan dengan silih berganti. Sedangkan di ruangan makan terdapat Bu Hanna dan Bu Imah terduduk lemas sambil memperhatikan anak - anak nya yang tak berdaya. Mereka juga tak kalah sedihnya dari keduanya. Terlebih lagi Bu Hanna yang hampir pingsan di saat ia mendapatkan berita duka ini. Kenapa tidak? Sebab dalam setahun ini beliau sudah kehilangan orang - orang yang ia sayangi.
"Ist istirahat saja di dalam kamar ya. Ist sudah lemas kali gitu". Eggy membisikannya pada telinga Almira ketika ia melihat Almira sudah semakin melemah.
Almira menggelengkan kepalanya.
"Enggak mau. Ist mau di sini saja sama adek". Ia masih membelai anaknya itu.
Eggy tidak bisa membantah nya sama sekali. Tak lama anak laki - laki mereka menghampiri keduanya lalu duduk di samping Eggy.
"Mommy Daddy, jadi adek bakalan enggak sama - sama kita ya? Berarti Abang Ghifari enggak bisa donk main - main sama adek nanti? Terus siapa donk teman adek main nanti?". Dengan polosnya ia memberikan pertanyaan - pertanyaan yang membuat Almira dan Eggy merasa semakin lirih. Sedangkan yang lain melirik - lirik dan mereka berpura - pura tidak mendengarnya agar tidak terlihat iba pada mereka.
Eggy langsung merangkul Ghifari.
"Iya sayang. Adek Janeeta sekarang sudah main - main di syurga sana. Adek Janeeta pasti punya banyak teman di sana. Jadi Abang Ghifari enggak usah khawatir, Abang Ghifari berdoa saja sama ALLAH agar nantinya kita akan bertemu dan berkumpul lagi sama Adek Janeeta di syurga". Begitu lembut Eggy bertutur kata pada anak laki - lakinya itu. Ghifari hanya terdiam mendengarkan Eggy sembari melihat Adek nya yang terbujur kaku.
Sedangkan Almira, ia sungguh terharu melihat potret keduanya menatap bayi mungil yang mereka beri nama Janeeta Kamilah Wijaya, yang berarti Hadiah dari ALLAH yang sempurna.
.
.
Dalam gendongan, Eggy membawa jenazah anaknya ke pemakaman setelah melakukan tata tertib fardu kifayah alias menangani mayit. Kali ini Almira terpaksa harus berdiam di rumah, ia tidak bisa mengikuti proses pemakaman tersebut karena kondisi nya yang tidak memungkinkan. Sanak saudara silih berganti berpamitan serta mengucapkan bela sungkawa pada Almira, tak lupa Almira menunjukkan rasa terimakasih nya kepada mereka.
Eggy beserta yang lainnya pun kembali dari pemakaman usai mereka mengantarkan sang jenazah ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Eggy berjalan menuju ke kamar nya untuk menghampiri Almira yang sudah berbaring lemah di atas tempat tidur lebih tepat nya di dalam kamar mereka. Ia duduk di samping Almira sembari mengusap kepalanya dengan lembut.
"Kita balik saja ya ke rumah sakit? Biar Ist di rawat intensive di sana". Bujuknya dengan lembut.
Lagi lagi Almira menolaknya. Ia menggelengkan kepalanya lalu menyeka air matanya yang mengalir ke pipi.
Perlahan Eggy menggeserkan kepala Almira lalu menenggelamkannya pada tubuhnya. Seketika tangisan Almira semakin pecah, ia melingkarkan tangannya pada tubuh Eggy bahkan ia tidak peduli dengan infus yang terpasang pada tangan kirinya.
"Hu hu hu... Kalau saja Ist langsung mau nuruti apa kata Suam untuk langsung pergi ke rumah sakit mungkin ini enggak akan terjadi hu hu hu. Ist sudah melakukan kesalahan yang kedua kali nya terhadap anak kita dan membuat kita kehilangan mereka hu hu hu". Ia kesal pada dirinya sendiri.
"Sayang, sudah lah, kita harus ikhlas. Ist jangan menyalahkan diri Ist sendiri, ini cobaan untuk kita. Kita enggak boleh sedih - sedih, Janeeta itu sudah menjadi anak syurga, In Sya ALLAH Janeeta dan anak pertama kita yang akan membawa kita ke syurga nanti (Aamiin). ALLAH pasti akan kasih kita kepercayaan lagi untuk punya anak kembali. Kita harus bersabar sayang. Mungkin ALLAH masih menginginkan kita untuk memanjai Ghifari. Ist jangan lah nangis lagi ya sayang, kasihan Ghifari kalau dia melihat Ist seperti ini". Tuturnya dengan lembut sembari memeluk Almira dengan erat. Ia harus menahan air matanya agar terlihat kuat di depan Almira.
"Sekarang, Ist istirahat ya? Biar enakan badannya. Ist banyak - banyak berdzikir dan istighfar, biar hati Ist tenang dan ikhlas".
Almira mengangguk pelan, ia pun berdzikir. Dengan bibir yang berkomat - kamit, perlahan Almira memejamkan matanya yang sudah terasa berat.
Tanpa suara Eggy perlahan keluar dari kamar meninggalkan Almira usai ia terlelap.
Untuk berjaga - jaga, ia meminta Kak Aira untuk menemani nya di dalam kamar. Ia menghampiri Aira yang tengah sibuk mengangkat gelas - gelas kotor.
"Kak... Eggy boleh minta tolong?".
__ADS_1
Aira menoleh melihatnya.
" Tolong apa Gy?".
"Tolong jagain Almira di dalam kamar soal nya Eggy mau jumpai tamu - tamu Eggy bentar, enggak enak kalau enggak di jumpai. Kebetulan Almira lagi tidur tapi Eggy sedikit khawatir kalau dia di tinggal sendirian".
" Owalah... ngapain sih kamu pakai minta tolong segala sih Gy, tinggal suruh saja enggak apa - apa kok. Rara kan adik kakak bukannya orang lain he he he". Aira menepuk lengan Eggy.
"He he he iya kak. Terimakasih banyak ya kak". Eggy tersenyum simpul.
"Iya sama - sama. Ya sudah, kakak ke kamar kalian ya?".
" Iya Kak. Kakak bujuk - bujuk juga ya Almira nya biar mau makan dia kak".
"Iya. Kalau dia enggak mau makan, kakak jejel saja ke mulut nya he he he". Celetuknya.
Eggy tertawa kecil dengan guyonan kakak iparnya itu.
Setelah menemui kakak ipar nya, ia pun segera menemui satu per satu tamu pelayat. Dari sanak saudara, rekan kerja, pegawainya serta teman dan sahabatnya.
Eggy berusaha untuk tersenyum menyapa mereka. Tak lupa juga mereka mengucapkan turut berbela sungkawa padanya.
"Yang sabar ya bro". Omen merangkul dirinya untuk menyemangatinya.
" Iya, terimakasih banyak ya kalian sudah datang". Ucapnya kepada teman - teman komunitasnya termasuk Ari yang ikut serta di antara mereka.
"Iya bro". Sang ketua komunitas menjawab sembari menepuk punggungnya.
" Ya sudah, aku tinggal bentar ya wei... Aku mau menyapa yang lain dulu. Nanti aku balik lagi. Kelen kalau mau minum, itu di atas meja sudah di sedia'in, ada kue nya juga kok itu". Eggy menunjuk ke arah meja yang berada di sisi kanan dari mereka duduk.
"Iya bro. Enggak usah kau pikirin kali kami ini he he he".
Akhirnya Eggy bisa duduk sendirian serta mengistirahatkan punggungnya sejenak. Para tamu perlahan sudah pamit padanya dan yang tinggal hanya beberapa orang yang benar - benar dekat dengannya. Ia menghelakan nafasnya sembari menatap taman mini zoo nya.
"Cantik ya taman mini zoo kalian. Pasti Ira ehh maksudnya pasti Almira yang buat taman ini". Tiba - tiba Ari mengagetkannya, Eggy pun menoleh.
" Iya. Basically aku yang buatkan khusus untuknya tapi setelah itu Almira yang menata nya ". Eggy membenarkan ucapannya.
"He he he, enggak nyangka akhirnya terwujud juga impian kecilnya yang ingin memiliki taman mini zoo di rumahnya sendiri he he he".
Eggy melirik dirinya yang menatap sekeliling tamannya itu. Dan sudah merasa tidak heran lagi jika ia mengetahui impian kecil Almira.
"Oh ya, aku turut berbela sungkawa ya atas anak kalian".
Eggy menyunggingkan senyumannya.
" Iya, terimakasih ya Ri".
Ari melangkah mendekati kursi kosong yang berada di sisi kiri Eggy kemudian ia duduk dengan santai.
"Rasanya sudah lama sekali kita tidak duduk bareng seperti ini, saling sharing ngebahas tentang apa pun bahkan curhat tentang cewek he he he". Ari sedikit melumerkan ketegangan keduanya.
Eggy meliriknya lalu memandang ke depan.
" Iya sudah lama sekali, mungkin ada kali ya sekitar sepuluh tahun yang lalu he he he".
"Ha ha ha, hampir. Entah kenapa sejak kau dan Egga dekat sama Almira rasanya aku kesal sama kalian dan enggak terima kalau kalian dekat he he he. Ternyata aku sendiri yang membuat kita jauh, canggung di saat ketemu, bahkan seperti punya dendam tersendiri he he he, kayak anak - anak kali ya kan?. Aku minta maaf ya Gy karena aku sempat marah sama kau dan Almira dan aku juga minta maaf karena sudah membuat kau cemburu waktu di rumah sakit he he he".
__ADS_1
Eggy menoleh melihatnya sembari mendengarkan nya dengan seksama.
"Aku tahu waktu itu aku salah karena menahan Almira pergi dan ngebuat kau cemburu. Aku enggak tahu lagi pada saat itu, perasaan aku kacau, aku merasa aku butuh seseorang di samping aku dan spontan aku menahan Almira pergi, kau pasti ngerti posisi aku pada saat itu. Memang aku masih sayang sama Almira tapi bukan berarti aku akan merebut dia dari kau, tenang saja he he he. Melihat kalian bahagia bersama itu sudah cukup bagi aku".
"Aku pun juga merasakan apa yang kau rasakan. Aku juga merasa aneh sama kau sejak aku tahu kalau Almira itu cewek yang sering kau ceritakan sama aku, mungkin karena aku cemburu kali ya he he he. Jujur, waktu itu di rumah sakit, aku benar - benar cemburu bahkan setelah itu aku diemin Almira he he he, tapi mau bagaimana pun aku harus tetap percaya sama Almira dan menyingkirkan rasa cemburu aku kepadanya. Aku enggak perduli kalau kau masih sayang sama Almira atau enggak, karena itu hak kau, enggak mungkin aku bisa melarangnya kecuali kalau kau kelewat batas, baru ku hajar kau ha ha ha". Eggy melayangkan tangan nya menempeleng kepala Ari tanpa canggung lagi.
"Ha ha ha, In Sya ALLAH enggak lah. Tenang saja kau, aku enggak kayak gitu orang nya ha ha ha. Aku bukan laki - laki rendahan, cukup dulu saja aku melakukan kesalahan dan membuat Almira terluka".
"Hmm... Aku minta maaf juga ya sama kau karena sudah membuat kita menjadi renggang dan selalu curiga sama kau he he he". Eggy menepuk lengan Ari cukup keras sembari tersenyum.
" Iya sama - sama. Pokoknya sudah enggak ada lagi yang nama nya perang dingin, kita sudah tua ha ha ha".
"Ha ha ha kau saja lah yang tua, aku nanti - nanti saja ha ha ha". Eggy terbahak seakan melupakan kesedihannya.
" Ha ha ha sialan kau".
"Oh ya! Aku lupa, bentar ya". Eggy mengingat sesuatu.
Ari mengangguk pelan dan melihat Eggy beranjak meninggalkannya.
Tak lama Eggy pun kembali menghampirinya.
" Ini". Eggy menyodorkan sapu tangan miliknya yang enggak sengaja Almira temui di rumah sakit.
Alis mata Ari mengerut melihat sapu tangannya ternyata ada bersama Eggy.
"Ini sapu tangan kau enggak sengaja ketemu di rumah sakit waktu Almarhum Papa kau di rawat. Aku mau balikin nya ke kau tapi aku enggak sempat dan lupa he he he". Eggy sengaja tidak bilang kalau sapu tangan tersebut Almira yang menemukannya.
" Oh... Terimakasih ya Gy. Aku pikir aku enggak bakalan ketemu lagi sama sapu tangan ini. Sapu tangan ini hadiah ulang tahun aku dari Almarhum Papa ku, aku selalu ngebawanya kemana - mana, waktu aku sadar kalau aku kehilangan sapu tangan ini, di saat bersamaan aku juga kehilangan Papa ku". Ari mengambil sapu tangan itu lalu memandanginya dengan lirih.
"Ouh hmm". Eggy menyunggingkan senyum nya lalu menepuk punggung Ari dengan hangat dan berpikir bahwa ia salah menduga kalau sapu tangan itu pemberian dari Almarhum Papa nya bukan pemberian Almira.
.
.
Eggy merasa lega dan tak lagi memikirkan tentang kecurigaan nya kepada istrinya serta ketakutannya mengenai peringatan Lana beberapa waktu yang lalu.
Eggy mendekati Almira yang berbaring lemas di atas tempat tidur, ia mengecup dahinya lalu berucap.
"Maafin Suam ya sayang?".
Almira membuka matanya secara perlahan.
"Suam kenapa minta maaf?".
Eggy sempat terkejut lalu tersenyum simpul memandangi wajah Almira kemudian perlahan ia membelai rambut Almira.
" Enggak apa - apa, Suam hanya minta maaf saja sama Ist karena terkadang lebih sibuk sama kerja dari pada sibuk menjaga Ist".
Eggy sengaja tidak memberitahunya sebab ia tidak ingin memperburuk kondisi Almira. Lebih baik ia menyimpan nya dengan rapat dan hanya ia dan ALLAH lah yang mengetahuinya.
Perlahan Almira mengangkat tangannya lalu melingkarkannya pada pinggang Eggy kemudian Eggy pun mengecup kembali ubun - ubun Almira.
#Terkadang khawatir yang berlebihan pada pasangan itu tidak baik bagi suatu hubungan.
Itu akan membuat kita menjadi takut dan selalu berpikiran negative padanya sehingga terjadi lah sesuatu yang tidak kita inginkan.
__ADS_1
Cukup percaya pada pasanganmu, itu akan membuatmu menjadi tenang dan tak akan kehilangannya hingga maut yang memisahkan.