
"Assalamualaikum". Ucap nya ketika ia masuk ke dalam kamar rawat inap anak nya.
Almira dan Ghifari menoleh.
" Waalaikumussalam". Jawab mereka secara serentak.
Eggy meletakkan semua barang - barang nya di atas meja yang ada di bawah tv. Almira melihat wajah sang suami yang tampak lesu dan lelah.
"Suam mau makan dulu atau mandi dulu?".
" Mandi". Singkat nya lalu mengambil handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Almira sudah menduga pasti Eggy akan bersikap dingin pada nya setelah kejadian tadi siang.
Beberapa menit kemudian Eggy pun keluar dari kamar mandi dengan stel baju tidur.
"Suam mau makan sekarang? Biar Ist siap kan". Meski di dingini seperti itu namun Almira tetap melayani nya.
" Enggak usah, lagian Suam sudah kenyang".
Ghifari/ "Daddy sudah makan ya di luar? Hmm padahal Mommy tadi sengaja enggak makan sama dengan Ghifari, soal nya Mommy bilang mau makan sama dengan Daddy. Eh Daddy nya malah sudah makan di luar, tuh kan Mom, apa yang Ghifari bilang tadi Mommy makan saja sama Ghifari, kalau kayak gini kan Mommy jadi makan sendiran kan. Lagian kasihan adek bayi nya karena Mommy enggak makan dari tadi siang".
Eggy melirik Almira. Sebenar nya ingin sekali ia mengomelin istri nya namun tidak mungkin di depan putra nya. Almira melihat Eggy yang tidak merespon tentang itu bahkan ia terkesan cuek
"Enggak apa - apa kok sayang, lagian Mommy memang lagi enggak nafsu makan saja, ya sudah sekarang waktu nya Ghifari bobok, biar cepat sembuh terus biar bisa cepat pulang".
" Iya mom". Ghifari mengangguk pelan.
"Ya sudah, jangan lupa baca doa sebelum tidur nya". Almira menarik selimut untuk menutupi tubuh Ghifari lalu, ia mencium dahi nya.
" Bismillahhirrohmanirrohhim, Bismikallahhumma wabismika ahyana waamut, aamiin". Ghifari pun memejamkan mata nya usai membaca doa sebelum tidur.
Almira melirik Eggy yang sedang duduk di sofa sembari menatap nya dengan tampang marah nya. Eggy menarik nafas nya lalu menghelakan nya kembali.
"Kenapa dari tadi siang enggak makan?".
" Lagi enggak nafsu makan". Almira menjawab dengan sembarang.
"Kalau enggak nafsu makan, terus di turuti gitu? Ist pikirin donk kesehatan Ist, Ist itu lagi hamil, pikirin juga anak kita". Eggy mengomelin nya seperti memarahi anak kecil, sedang kan Almira perlahan menundukkan kepala nya.
" Jangan yang di pikirin orang lain, gara - gara ngurusi orang lain lupa sama kesehatan sendiri, lupa makan". Eggy mulai menyinggung soal Ari. Almira hanya terdiam.
"Ya sudah, Ist makan sana cepat, sudah hampir satu harian enggak makan entah supaya apa". Sekilas ia melihat mata Almira sudah berair karena menangis. Eggy mendekati Almira lalu kemudian, ia memeluk nya.
Seketika tangisan Almira pecah, pas kena pada hati nya di saat Eggy mengomelin nya. Almira sadar kalau ia salah dan pantas di omelin, tapi bukan itu masalah nya, Almira menangis akhir nya Eggy tidak lagi berbicara dingin dengan nya.
"Maafin Suam, Suam enggak ada maksud marahi Ist. Suam cuma kesal saja, kenapa Ist enggak makan - makan dari tadi siang. Suam enggak mau kalau Ist sakit. Ist jangan nangis lagi ya cup cup cup". Dengan lembut Eggy menenangkan Almira yang menangis sengkukukan di dalam dekapan nya.
" Sudah, jangan nangis lagi ya sayang, kita makan sama - sama ya, Suam juga sudah lapar banget". Eggy mengusap - ngusap punggung Almira.
Almira mendongakkan kepala nya untuk melihat wajah Eggy.
"Bukan nya Suam bilang, Suam sudah makan?".
" Tadi Suam bohong karena kesal sama Ist". Eggy mempelototi Almira..
Hanya sebentar saja Almira menangis sudah terlihat sembab pada wajah nya serta mata yang membengkak. Almira memanyunkan bibir nya karena di bohongi.
#cup
Secepat kilat Eggy mencium nya.
"Sudah, yuk kita makan, enggak kasihan apa sama anak nya". Ujar nya sembari mengelus perut Almira yang masih rata. Almira mengangguk pelan.
Usai menyiapkan makanan nya, mereka pun menyantap nya bersama - sama. Almira melihat Eggy begitu lahap menyantap makanan masakan mertua nya yang di kirim kan setiap hari nya selama Ghifari di rawat di rumah sakit.
"Oh ya, emmm... Papa nya Ari sudah meninggal". ia memberitahu berita duka itu kepada istri nya.
Almira berhenti menyuapkan makanan nya ke dalam mulut nya.
" Innalillahhi waiina ilaihi rojiun".
"Besok Suam mau tukam ke rumah Ari, Ist mau ikut?". Dengan sangat terpaksa Eggy mengajak nya.
Almira menolak nya/ " Enggak, Suam saja yang tukam. Ist kan ngejaga Ghifari, masa Ghifari di tinggal sendiri".
Eggy/ "Kita kan bisa minta tolong sama Mamak atau Kak Aira untuk ngejaga Ghifari sebentar".
Almira meraih tangan Eggy.
" Enggak usah sayang". Ia tersenyum sembari menggenggam tangan Eggy.
"Oh ya, Ist minta maaf ya karena sudah membuat Suam kesal, Ist tahu kok kalau Suam kesal bukan cuma karena Ist enggak makan seharian, tapi Suam....". Ucapan Almira terhenti karena Eggy menutup mulut Almira dengan jari telunjuk nya.
Eggy tersenyum.
" Sudah, enggak usah di lanjutin atau di bahas lagi. Sekarang, mari kita habis kan makanan nya".
Almira mengangguk pelan. Mereka kembali menyupkan makanan mereka ke dalam mulut nya masing - masing.
"Nyaam... Masakan mamak emang the best, kalah sama masakan Ist he he he". Eggy memuji masakan mertua nya.
Almira/ " Ya iya lah lebih enak masakan mamak, rang Ist kan belajar masak nya dari mamak. Masa iya masakan murid nya lebih enak dari pada masakan guru nya".
Eggy/ "Tapi enggak juga tuh, bukti nya masakan Suam lebih enak dari pada masakan mama".
" Masa? Siapa yang bilang? Perasaan Suam enggak pernah masak lah dan setahu Ist, Suam enggak bisa masak". Almira mengerut kan alis nya.
"Tuh lah kan nampak kali enggak ada peduli nya. Terus yang buat bubur waktu Ist sakit itu siapa?".
" Emang siapa? Mama kan?".
__ADS_1
"Haaaiiiiih.... Nampak kali kan. Itu Suam yang buat bukan mama lho sayang".
" Ahh masa? Enggak percaya lah, Suam bohong lagi ya? Suam enggak boleh ngaku - ngaku, dosa tauk..". Almira mencubit hidung Eggy.
Eggy menggaruk jidat nya.
"Siapa yang ngaku - ngaku coba, haiiiiist. Kalau enggak percaya ya sudah". Wajah nya cemberut.
" Percaya kok he he he, lagian mama juga cerita ke Ist, waktu Ist sakit karena ngidam, Suam itu super duper panik, semua nya Suam yang ngerjain, enggak boleh orang lain. Terus lagi, kalau ada yang jenguk Ist, Suam itu langsung nyuruh orang itu steril dulu, biar virus dari luar enggak masuk ke dalam rumah. Ya kan? Ha ha ha lebay". Almira tertawa mengingat moment itu.
"Bukan lebay sayang, tapi kita itu harus menjaga dan waspada karena kuman itu ada dimana - mana, jadi semua nya harus hygiene. Lagian kan Suam enggak mau kalau istri dan anak Suam kenapa - kenapa".
" Iya Pak Dokter cantik". Almira mencubit pipi Eggy, gemes.
"Haiiiih di bilang cantik lagi huaaaa, masa Suam cantik sih Ist...?". Eggy melesek enggak terima karena di bilang cantik.
"Ya enggak tahu Suam, rang Ist nengok Suam itu emang cantik kok, mungkin pengaruh calon debay (dedek bayi) nya ini, iya nak Daddy cantik ya kan? He he he". Almira mengelus perut nya sembari tertawa kecil melirik tampang Eggy manyun yang seperti anak kecil.
.
.
Tak seperti biasa nya, kali ini Eggy pamit kepada istri dan anak nya untuk ngelayat ke rumah Ari bukan pamit untuk bertugas.
Ghifari sudah merasa bosan karena sudah 3 hari ia berada di rumah sakit, ia sering meminta orang tua nya untuk pulang namun mereka tidak menuruti nya.
"Mommy....". Ghifari membuyarkan Almira yang tengah fokus menonton film india di tv.
" Iya sayang, kamu sudah bangun?". Almira menoleh lalu mengusap kepala Ghifari.
Ia pun mengangguk.
"Daddy sudah balik belum Mom?".
Almira/ " Belum sayang, Daddy masih tukam, mungkin Daddy abis sholat dzuhur baru ke sini, itu pun Daddy langsung bertugas, emang kenapa sayang? Ghifari mau apa? Ghifari mau minta beliin makanan atau ice cream ya sama Daddy?".
"Ghifari mau pulang". Jawab nya dengan sembarangan , sembari menyenderkan badan nya ke dinding.
" He he he kan Mommy enggak ngasi pilihan itu untuk Ghifari". Almira mencubit gemes hidung putra nya yang mancung itu.
Ghifari/ "Iya, tapi Ghifari mau pulang, Ghifari sudah enggak betah di sini mom, terus Ghifari mau main - main sama snow, Ghifari rindu sama snow".
Almira/ " Kamu belum boleh pulang sayang, enggak ingat apa kata Daddy?".
Ghifari / "Iya ingat, Ghifari belum bisa pulang kalau luka operasi nya masih basah".
Almira/ " Nah tuh Ghifari tahu, jadi Ghifari belum bisa pulang kan?".
Ghifari memanyunkan bibir nya.
"Tapi Ghifari suntuk Mom. Oh ya kalau enggak si snow bawa saja ke sini Mom, jadi Ghifari bisa main - main sama Snow di sini".
" No. Emang nya Ghifari mau si snow jadi sakit abis dari sini?".
"Huaaa..... Ya sudah kalau gitu Ghifari mau pulang, mau pulang...". Ghifari tiba - tiba merengek sembari melesekkan kaki nya.
#Tok ... Tok... Tok...
" Permisi buk, kami mau ngasi tahu nanti akan ada pasien baru yang akan sekamar di sini". Seorang suster memberitahu hal itu terlebih dahulu pada Almira agar ia tidak merasa heran.
Almira/ "Lho, bukan nya ini single room ya sust?".
Perawat/" Iya buk, tapi karena semua ruangan sudah penuh, jadi dengan sangat terpaksa kami akan membawa pasien di kamar ini. Lagian ini memang atas perintah Dokter Eggy".
Almira/ "Ouh, iya sust".
" Baik buk, saya permisi".
Almira mengangguk pelan dan berpikir kenapa bukan Eggy langsung yang memberitahukan nya.
"Mommy, jadi nanti di sini bakal ada yang sekamar ya sama Ghifari?".
" Iya sayang". Almira mengangguk pelan.
"Ghifari enggak mau ah Mom, bilang sama Daddy kalau Ghifari enggak mau ada orang lain yang sekamar sama kita, nanti Mommy enggak bisa bebas buka jilbab nya di sini, Ghifari sudah bosan gini malah di gabung lagi sama pasien lain di sini, huaaaa".
Almira tertawa kecil.
" Enggak apa - apa sayang, lagian kan bagus, entar Ghifari ada kawan nya di kamar ini, Kalau bisa Ghifari main - main sama kawan sekamar Ghifari, terus Ghifari enggak bosan lagi di sini".
"Pokok nya Ghifari mau protes sama Daddy". Ghifari melipat kedua tangan nya dan membuang wajah nya. Sedang kan Almira tertawa kecil melihat anak nya semakin bijak.
#Tok.. Tok.. Tok..
Sekali lagi pintu di ketuk oleh beberapa perawat dan membuka nya dengan lebar. Mereka mendorong sebuah tempat rumah sakit masuk ke dalam dan memposisi kan nya di sisi kiri yang berjarak 2 meter dari tempat tidur Ghifari. Almira dan Ghifari melihat kedatangan pasien tersebut. Beruntung Ghifari sekamar dengan seorang anak laki - laki yang seumuran dengan nya.
"Permisi ya Buk".
" Iya sust". Almira tersenyum dan senyuman nya di sambut oleh keluarga pasien yang kedua nya terlihat masih muda.
Beberapa perawat sibuk dengan pasien yang baru masuk, sedang kan beberapa yang lain nya sibuk memasang gorden penyekat antara mereka berdua.
Setelah selesai ke empat perawat itu pun permisi meninggalkan mereka.
"Mom... Tutup saja tirai nya". Ghifari terlihat tidak senang dengan kedatangan pasien itu.
" Ghifari, kamu enggak boleh seperti itu. Harus nya kamu bersyukur teman sekamar kamu yang seumuran dengan kamu bukan orang tua. Ghifari kan bisa kenalan terus punya kawan baru". Almira berbicara pelan membujuk anak nya.
Ghifari masih merengutkan wajah nya.
__ADS_1
"Sakit apa kak anak nya?". Tanpa basa - basi ibu dari pasien baru itu langsung bertanya pada Almira.
Almira menoleh pada wanita itu.
" Ha? Anak saya terkena usus belipat kak, anak kakak sakit apa?".
"Ouh anak saya, keracunan makanan akibat jajan sembarangan. Oh ya kenalkan nama saya Ria". Wanita yang memiliki paras pas - pasan namun enak di lihat itu mengulur kan tangan nya pada Almira.
" Saya Almira, dan ini anak saya nama nya Ghifari". Almira menyambut nya.
"Oh iya hampir lupa, kalau ini anak saya nama nya Aidil dan yang tadi keluar itu suami saya nama nya Hendro fu fu fu".
Sedang kan anak kedua nya melirik sinis satu sama lain.
Enggak butuh waktu yang lama, Almira bisa membaca karakter diri nya, Almira menebak pasti Ria adalah wanita yang memiliki sifat yang supel.
" Oh ya kak, tahu enggak dokter yang paling cakep di rumah sakit ini? Itu lho dokter Eggy, anak pemilik rumah sakit ini, ehh tapi sudah jadi pemilik dokter Eggy deh kayak nya fu fu fu". Ia mengecilkan suara nya agar tidak di dengar oleh suami nya.
"Aaaah... Pasti kakak tahu lah itu, lagian siapa yang enggak kenal sama dokter paling cakep kayak dokter Eggy, saya itu nge-fans banget sama dokter Eggy dari dulu maka nya setiap saya sakit atau keluarga saya yang lain nya sakit, saya selalu minta di rawat di sini biar saya bisa ketemu sama dokter Eggy fu fu fu". Ia tersipu malu menceritakan Eggy, sedang kan Almira hanya tersenyum getir.
" Itu kan Dad....". Ghifari ingin menceploskan nya bahwa dokter yang di sanjung - sanjung Ria adalah Daddy nya, namun secepat kilat Almira menutup mulut Ghifari sembari memainkan mata nya, ia memberikan isyarat agar tidak memberitahu nya.
"Eh he he he". Almira tertawa getir.
" Ini rahasia kita ya kak? Sebenar nya anak saya enggak perlu di rawat inap, tapi saya memaksa mereka agar anak saya bisa di rawat inap fu fu fu, untung saja di setujui mereka, kalau enggak di setujui jadi percuma donk kalau enggak ketemu dokter Eggy he he he".
"Kira - kira dokter Eggy sudah nikah belum ya?".
Ghifari merasa kesal mendengar nya.
" Dokter Eggy sudah nikah". Tegas nya.
"Oh ya? Tapi enggak masalah lah, mau sudah nikah kek, mau belum nikah kek, yang penting masih bisa lihat dokter Eggy fu fu fu". Wajah nya berseri - seri sembari mengingat pesona Eggy.
Almira tercengang mendengar ocehan nya, ia tak sampai pikir ada seorang wanita yang sudah bersuami berani melakukan itu untuk lelaki lain yang notabane nya suami Almira.
Almira enggak kebayang kalau Ria tahu siapa Almira sebenar nya.
.
.
Terdengar suara riuh para pelayat sedang membacakan Surah Yassin untuk sang mayit. Para pelayat ramai berdatangan dengan silih berganti namun, batang hidung keluarga Lana tak terlihat sedikit pun. Sedangkan. Eggy dan teman - teman nya yang lain masih tetap stay menemani Ari yang sedang berduka.
"Yang sabar ya bro, aku tahu ini berat buat kau dan mama kau, tapi ini sudah kehendak ALLAH". Dengan bijak nya Omen menyemangati Ari sembari mengusap punggung Ari.
" Makasi banyak bro". Lirih nya, wajah Ari serta mata nya terlihat sembab. Setiap sanak saudara yang ngelayat membuat nya menangis.
Isak tangis semakin pecah di saat tandu di bawa ke pemakaman. Ari menguatkan diri nya untuk menyemangati sang Mama yang sudah terkulai lemas. Ia menuntun sang Mama untuk mengikuti tandu sang Papa yang akan di bawa ke mesjid sebelum ke pemakaman.
Semua para pelayat, khusus nya para lelaki berbondong - bondong menggiringi tandu itu tak lupa mereka berseru lafaz tauhid ALLAH yakni Laailahaillallah.
Hak bagi mayit sudah di berikan oleh para pelayat, dari bertakjiah hingga menyolatkan dan menguburkan nya.
Eggy dan yang lain nya kembali ke rumah Ari dengan berjalan kaki. Belum sempat mereka sampai, tiba - tiba ponsel Eggy berdering. Ia mendapat panggilan darurat dari rumah sakit, dengan segera ia permisi dan menjauh dari mereka. Sedang kan mereka melanjutkan langkah kaki mereka.
Tak butuh waktu yang lama, Eggy menyusul mereka usai ia mengakhiri panggilan nya.
"Sorry ya bro, kayak nya aku mau langsung balik". Tiba - tiba ia muncul dan langsung pamit.
" Lah kok cepat kali kau pulang nya? Nanti lah dulu". Omen menahan nya untuk pergi.
"Iya, kau ini sejak sudah bebinik payah kali mau di jumpai, sombong kali kau sekarang". Yang lain nya menimpal.
Eggy tertawa kecil.
" He he he bukan gitu lho, tadi aku dapat panggilan darurat dari rumah sakit, ada pasien yang gawat darurat jadi harus aku tangani".
"Hmm.. Ya sudah lah balik lah kau sana, nanti kenapa - kenapa pulak lagi sama pasien kau, hajab kita nanti".
" He he he, ya sudah aku mau pamit dulu sama si Ari dan Mama nya". Eggy melirik kedua nya yang terduduk lemas di teras rumah nya dan di kerumuni banyak saudara yang ingin memberikan support untuk kedua nya.
Eggy berjalan mendekati kedua nya.
"Tante, Eggy balik dulu ya, tante yang sabar ya dan Eggy juga minta maaf karena enggak bisa ngebantu banyak". Eggy mencium tangan beliau.
" Iya nak Eggy, terimakasih banyak ya". Beliau mengusap punggung Eggy.
"Gek... (Nama panggilan untuk teman, sama seperti Bro, guys, sis atau panggilan lain nya)". Belum sempat Eggy mengulurkan tangan nya, Ari langsung menyambar tubuh nya, memeluk Eggy (pelukan lelaki) sembari menangis.
Eggy menepuk pelan punggung nya, ia merasakan apa yang ia rasa kan sekarang.
" Yang sabar ya Gek, aku minta maaf karena enggak bisa nolongi Papa kau".
"Enggak bro, ini sudah kehendak ALLAH, ini bukan salah siapa - siapa. Terimakasi sudah ngebantu kami selama ini, terimakasi bro". Lirih nya. Sedangkan orang di sekitar melihat kedua nya.
Eggy melepaskan pelukan Ari.
" Ya sudah aku langsung balik ya, soal nya lagi ada pasien yang ngebutuhi aku".
Ari mengangguk kan kepala nya.
"Sekali lagi, terimakasih ya gek. Nanti malam sampai malam ke tujuh kalau kau ada waktu datang lah tahlill di sini".
" In Sya ALLAH aku usahain,. Ya sudah aku balik ya. Assalamualaikum". Eggy membangunkan tubuh nya lalu beranjak meninggalkan kediaman keluarga Ari.
"Waalaikumsalam".
Eggy terlihat tergesa - gesa berjalan keluar dari area rumah itu, ia pun hanya melambaikan tangan nya saja untuk sekumpulan teman - teman nya tanpa menghampiri mereka lagi.
__ADS_1