Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 77 #S3


__ADS_3

#Yasiin walqur'anil hakiim, Innakalaminal Mursalin....


Seruan orang - orang yang sedang membacakan surah yasiin begitu menggema di seluruh ruangan rumah yang di rundung duka.


Semua para pelayat berdatangan silih berganti. Tak terkecuali Pak Wijaya dan Eggy pun juga hadir di rumah duka.


Sedangkan Almira dan Bu Hanna terpaksa tidak ikut karena mereka harus menjaga Egga.


Dokter Richard dan Dokter Zein yang baru tiba langsung menghampiri Eggy dan Pak Wijaya. Mereka berempat kini duduk sejajar tepat di halaman rumah itu.


Sebelum sang mayit di makamkan mereka berempat secara bersamaan berpamitan untuk pulang karena tidak bisa berlama - lama di tempat itu, mengingat kondisi di rumah sakit masih belum normal.


"Pak, Buk. Kami harus pamit terlebih dahulu karena masih ada yang harus kami urus di rumah sakit. Sekali lagi kami turut berduka cita dan juga sekali lagi kami mengucapkan terimakasih banyak atas jasa anak Ibu dan Bapak yang sudah rela mendonorkan jantungnya untuk Dokter Ratna". Eggy bertutur kata begitu lembut pada kedua orang tua gadis remaja yang telah mendonorkan jantungnya untuk Ratna. Ia adalah pasien yang di tangani oleh Dokter Zein selama ini.


Gadis berumur 17 tahun bersedia mendonorkan jantung nya untuk Ratna karena ia sudah mendengar semua cerita Ratna dan Egga dari Dokter Richard. Ia merasa takjub atas pengorbanan Ratna untuk Egga dan juga karena mengingat kondisi kesehatannya tidak memungkinkan. Ia sudah mengidap penyakit cacat fisik seluruh tubuhnya sejak ia mengalami kecelakaan karena terpleset di saat ia mendaki gunung. Ia sudah tidak bisa melakukan apa pun lagi selain berbaring di atas tempat tidur menunggu ajalnya kan tiba.


"Iya Pak. Saya juga minta maaf dan terimakasih sama Pak Dokter semua, karena sudah berusaha untuk anak saya hu hu hu". Ibu nya menangis sejadi - jadi nya. Mereka sama sekali tidak kesal atau pun marah karena pada akhirnya anak mereka harus pergi meninggalkan mereka selamanya.


Mereka pun pergi meninggalkan rumah duka itu lalu kembali ke rumah sakit.


...


Suara alat medis terdengar nyaring di telinga. Suasana pun terlihat mencengkam dan sunyi.


Egga terdiam di atas kursi roda nya sembari meneteskan air matanya melihat Ratna terbaring tak berdaya bersama dengan alat - alat medis yang menempel pada tubuhnya.


Ia teringat pada saat ia menghadapi Tari yang berjuang melawan penyakitnya.


"Semua akan baik - baik saja Rat seperti apa yang kita harapkan". Lirihnya sembari meraih tangan Ratna.


Ratna masih mengalami kritis usai ia berhasil melewati masa operasinya yang berada di ambang kematian.


(Flash Back)


Eggy hampir putus asa di saat detak jantung Ratna sudah tidak lagi berdetak, namun ia teringat akan janji nya kepada abang nya untuk menyelamatkan Ratna.


Eggy terus berusaha tiada hentinya agar detak jantung Ratna kembali berdetak.


Dokter Richard dan Dokter Zein terpaku melihat kegigihan Eggy untuk menyelamatkan Ratna.


"Ya ALLAH tolong selamatkan Dokter Ratna". Eggy memohon di dalam hatinya sembari ia berusaha memompa jantung Ratna.


"Kak Ratna tolong kembali lah. Jangan buat aku mengingkari janji ku sama Bang Egga. Kak Ratna please...! Demi Bang Egga Kak, demi Tara. Please... Aku janji, aku akan tetap memanggil Kak Ratna dengan sebutan Kakak walau pun Kak Ratna tidak menjadi kakak ipar ku. Kak Ratna please...". Eggy terus memompa jantungnya dan berkata seperti itu sambil menangis tersedu - sedu.


"Dok... Sudah lah. Kita sudah berusaha semampu kita". Dokter Richard memegang kedua lengan Eggy karena ia ingin menghentikan Eggy.


Eggy menepis tangan Dokter Richard dan masih tetap berusaha hingga akhir nya...


#Teeet... Teeet... Teeet...


Alat pendektesi detak jantung pun berbunyi secara lambat.


"Dokter berhasil... Dokter berhasil... hu hu hu. Lihat...! Detak jantung Ratna kembali Dok". Dokter Zein menangis bahagia ketika ia melihat detak jantung Ratna kembali berdetak.


Eggy dan Dokter Richard pun melihatnya juga. Eggy langsung melakukan sujud syukur karena usaha nya tidak sia - sia.


" Alhamdulillah Ya ALLAH". Seru nya.


"Terimakasih Kak". Ia pun mengucapkan terimakasih pada Ratna.


Kemudian mereka pun kembali melanjutkan operasi tersebut hingga akhirnya berjalan dengan lancar.


(Flash On)


" Biar Papa saja yang menyetir Gy. Kamu pasti lelah sekali. Sini kunci mobil nya". Pak Wijaya meminta kunci mobil Eggy setelah mereka tiba di parkiran.


"Enggak usah Pa. Biar Eggy saja. Eggy masih sanggup kok. Lagian Papa bawa mobilnya lambat sedangkan Eggy mau cepat - cepat ketemu sama anak dan istri Eggy, biar rasa capek Eggy hilang he he he". Celetuknya.


" Kamu ini. Dasar bocah tengil he he he". Pak Wijaya menyikut pinggang Eggy sembari tertawa.


"Ya sudah, kalau gitu mau nya kamu. Papa pun jadi enak, Papa bisa tidur jadi nya he he he".


Eggy /" Ha ha ha, iya terserah Papa mau ngapain saja asalkan jangan di encesin saja jok mobil nya Eggy he he he".


Pak Wijaya /"Sembarangan kamu. Papa mana pernah begitu. Ya sudah yuk, nanti mereka kelamaan nungguin kita, lagian kasihan Mama kamu belum ada istirahat dari semalam".


Eggy /"Siap bos 🙋‍♂. Oh ya tapi kita singgah dulu ya Pa? Eggy mau beli makanan dulu he he he".


"Kamu ini memang enggak ada berubah nya sama sekali. Kalau lagi di jalan mau pulang pasti wajib singgah dulu beli jajan". Pak Wijaya geleng - geleng kepala.


"Kalau enggak kayak gitu bukan Eggy namanya Pa he he he". Eggy cengengesan melihat Pak Wijaya.


Kemudian mereka pun berlalu meninggalkan kawasan perumahan dimana sang pendonor tinggal.


...


Eggy dan Pak Wijaya tersenyum kepada istri mereka masing - masing setibanya mereka di rumah sakit lalu menghampiri mereka.


"Mama sama Papa pulang saja dulu, istirahat. Nanti ke sini lagi. Biar Eggy sama Almira saja yang di sini ngejaga'in Bang Egga". Eggy meminta kedua orang tuanya untuk pulang.


Bu Hanna dan Pak Wijaya menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Bu Hanna /" Ya sudah. Tapi kalian juga istirahat ya di sini. Lagian kasihan Ghifari sama Tara enggak ada kawan nya di rumah".


Eggy /"Iya Ma. Kami titip Ghifari ya Ma Pa?".


"Iya".


Keduanya pun pulang ke rumah dan tak lupa kedua nya berpamitan pada Bu Wardah yang masih termenung di samping Omen, ia memikirkan anak nya.


Tak lama Eggy pun menghampiri Bu Wardah dan meminta beliau untuk beristirahat juga di rumahnya.


" Bu, lebih baik ibu pulang saja dulu, istirahat. Nanti ibu ke sini lagi". Eggy meminta hal yang sama pada nya.


Namun beliau menolaknya.


"Saya mau di sini saja. Saya mana bisa enak - enakan istirahat di rumah sedangkan anak saya masih terbaring di dalam ruangan itu". Ia menangis sembari menunjuk ke arah ruang ICU khusus untuk Ratna seorang.


Eggy, Almira dan Omen pun juga melihat ke arah itu.


" Tapi ibu pikirkan juga kesehatan ibu. Ibu enggak bisa menjaga Kak Ratna dengan kondisi Ibu seperti ini. Lagian ada kami yang akan menjaga Kak Ratna. Ibu tenang saja, Kak Ratna akan baik - baik saja". Eggy berusaha membujuknya, kemudian ia memberikan kode pada Omen agar ia juga turut membujuk beliau.


Omen /"Iya Bu. Kita pulang saja dulu ya. Besok pagi kita ke sini lagi. Omen yang akan menjemput Ibu kok. Ibu enggak perlu khawatir, Eggy pasti akan menjaga Ratna. Ya bu?".


Bu Wardah pun berhasil di bujuk dan menuruti apa perkataan mereka.


"Kalian jaga'in Ratna baik - baik ya?".


" Iya Bu, pasti itu". Eggy menganggukkan kepalanya dan berjanji pada Bu Wardah untuk menjaga Ratna. Kemudian Omen pun pergi membawa Bu Wardah pulang ke rumah nya.


Eggy /"Bang Egga masih di dalam sayang?".


Almira mengangguk pelan.


"Masih. Bang Egga enggak mau ninggalin Dokter Ratna. Katanya dia mau tetap terus di samping Dokter Ratna".


Eggy menghelakan nafasnya.


" Huuuh...! Ya sudah kalau gitu kita masuk ke dalam yuk, kita enggak bisa membiarkan Bang Egga sendirian di samping Kak Ratna".


"Iya Suam".


Eggy menggandeng tangan Almira sembari berjalan menuju ke ruangan Ratna. Mereka pun melihat Egga masih terpaku menatap Ratna.


" Bang, istirahat lah dulu, ini sudah malam". Eggy menghampiri nya.


"Tapi aku mau istirahat nya di sini, aku enggak mau ruangan nya terpisah sama Ratna". Egga melirik Eggy.


" Iya Bang aku tahu. Aku sudah siapin kok tempat tidur untuk kau, biar kau bisa istirahat di sini juga". Eggy menunjuk ke arah tempat tidur yang sudah tersedia di samping kiri tempat tidur Ratna yang berjarak sekitar 3 meter.


"Ya sudah Bang, sini aku bantuin kau untuk naik ke tempat tidur". Tenaga Eggy tidak ada habisnya, meski ia sudah melewati hari yang begitu melelahkan serta menegangkan namun ia masih tetap kuat menggendong tubuh Egga lalu meletakkan nya di atas tempat tidur.


" Kuat kali ternyata kau ya bisa ngegendong aku he he he". Egga salut pada adiknya itu.


"Kuat lah. Kalau ngegendong kau saja mah kecil sama aku, enggak ada apa - apa nya lah he he he". Eggy menjentikkan jarinya.


" Hmmm sombong he he he".


"Ya sudah tidur lah kau. Enggak kasihan kau sama binik aku. Dia mau istirahat juga". Eggy melirik Almira yang sejak tadi tertawa kecil karena melihat abang beradik ini masih sempat berguyon.


" Iya. Ini aku mau istirahat. Bilang saja kau yang mau minta di kelonin sama binik kau ha ha ha". Egga membuat Almira tersipu malu sambil geleng - geleng kepala.


"Ha ha ha tahu saja kau bang". Eggy terbahak.


" Heh... Kalian ini. Ini sudah malam, ini bukan di rumah tapi rumah sakit, enggak lah kalian pikirin Dokter Ratna. Kalian malah sempat - sempat nya tertawa keras kayak gitu". Almira memarahi keduanya, sontak membuat kedua abang beradik itu menutup mulut dan tersadar.


"He he he kami kelupaan". Eggy berkata seperti berbisik - bisik, lalu memberikan kode untuk Egga agar ia segera beristirahat.


Egga pun memejamkan matanya dan berusaha agar ia bisa beristirahat, namun ia tidak bisa melakukan itu. Ia membalikkan badan nya agar ia tidak mengganggu Eggy dan Almira yang sedang berjaga di sofa sambil tidur - tidur ayam.


"Ist tidur lah, biar Suam saja yang berjaga". Eggy berbisik - bisik pada Almira agar tidak mengganggu Egga dan Ratna.


" Tapi Suam juga butuh istirahat, lihat ini wajah Suam lesu gini". Almira melihat serta menyentuh wajah Eggy yang terlihat sangat kelelahan.


"Suam cuma butuh Ist saja. Lihat Ist saja sudah hilang rasa capek Suam he he he".


Almira memukul lengan Eggy.


" Hiiis masih sempat - sempatnya Suam menggombal".


"He he he, sudah sudah. Kalau gitu ayuk kita tidur sama - sama, biar besok pagi Ist pulang agak segeran, kasihan anak nya enggak ketemu Mommy nya dari semalam (kemarin)". Eggy menyandarkan tubuh Almira pada tubuhnya lalu melingkarkan tangannya pada tubuh Almira dari belakang.


" Kalau kita berdua tidur, terus siapa yang ngejaga mereka?". Almira mengerutkan dahinya.


"Sudah, biarin saja mereka. Lagian kan orang itu sudah besar, ngapain pakai di jaga - jaga". Eggy berpura - pura mengacuhkan Egga dan Ratna lalu memejamkan matanya.


"Iiiih, Suam nih lah tega kali lah. Masa orang sakit enggak di jagain". Almira memukul tangan Eggy yang berada di perutnya.


Eggy melepaskan lingkaran tangannya lalu menutup mulut Almira.


" Ehh... Ssstt... Bising kali lah Ist ini, nanti Bang Egga bangun. Kalau Kak Ratna yang bangun enggak apa - apa, justru itu bagus. Tapi takutnya malah seluruh pasien yang ada di rumah sakit ini pulak yang terbangun ha ha ha".


"Iiih Suam ngeselin". Almira merengek sembari mencubiti tangan Eggy.

__ADS_1


Eggy pun tertawa dan melingkarkan kembali tangan nya pada tubuh Almira.


" Sudah, ayo tidur. Pikirin anak nya di rumah".


"Hemmp iya Suam".


...


Egga membalikkan badan nya lalu memastikan apakah Almira dan Eggy sudah tertidur atau belum. Sebenarnya ia tidak bisa tidur meski ia terus berusaha.


Ia tersenyum melihat adik dan adik ipar nya sampai terlelap menjaga nya dan Ratna.


"Kasihan kali kalian sampai tertidur seperti itu karena menjaga kami di sini, bahkan kalian rela menitipkan Ghifari dan belum melihat nya dari semalam".


...


Sesuai janji Omen pada Bu Wardah. Pagi - pagi sekali ia membawa beliau ke rumah sakit dan meminta Eggy untuk bisa masuk ke ruangannya karena tidak sembarangan orang yang bisa masuk ke ruangan itu.


Air mata tak hentinya mengalir di pipi Bu Wardah ketika ia melihat anak nya masih terbaring.


"Ratna, bangun nak! Mama di sini sayang". Ujarnya sembari memegang tangan Ratna.


Eggy, Almira, Omen dan terutama Egga merasakan kesedihan Bu Wardah.


Bu Wardah /" Bangun lah Nak! Bentar lagi kamu akan menikah sama Norman. Kalau kayak gini jadi nya, apa yang mau Mama buat? (apa yang akan di lakukan). Macam mana (bagaimana) Mama mau bilang sama saudara - saudara kita yang sudah Mama undang?".


Omen melirik ke arah Egga yang mengalihkan pandangannya agar tidak menangis ketika Bu Wardah berkata seperti itu.


Sedangkan Ratna sama sekali tidak merespon beliau.


Tak lama Pak Wijaya dan Bu Hanna pun tiba, kali ini mereka membawa Tara dan Ghifari juga ke rumah sakit.


Tara langsung mendekati Ratna ketika ia melihat Ratna.


Dan Almira langsung mendekati Ghifari lalu membawanya pada posisi di samping Eggy yang berdiri di bawah kaki Egga.


"Mama...". Tara menangis sedih melihat kondisi Ratna.


Omen terkejut mendengar seorang bocah telah memanggil Ratna dengan sebutan Mama.


Tara /" Sudah lama kita enggak ketemu, sekali nya kita ketemu Mama malah seperti ini hu hu hu. Ma... Tara rindu sekali sama Mama hu hu hu".


Mereka semakin sedih terutama Egga.


"Pa... Kenapa Mama belum bangun juga?". Tara bertanya pada Egga.


Omen semakin terkejut, sebab ia tidak mengetahui apa pun soal ini. Apa sebenarnya yang terjadi? Siapa bocah ini yang memanggil keduanya dengan sebutan Papa dan Mama? Hubungan seperti apa yang mereka jalani selama ini?.


Egga tidak bisa menjawab pertanyaan Tara. Ia memanggil Tara dengan bahasa tangannya. Tara pun mendekatinya.


"Kamu jangan sedih. Mama baik - baik saja kok. Kamu doa kan saja agar Mama lekas sembuh ya sayang". Tuturnya sembari berusaha mengangkat tangannya lalu membelai rambut Tara.


Tara menganggukkan kepala nya.


" Iya Pa. Tara sudah cukup merasakan kehilangan Mama Tari. Tara enggak mau harus kehilangan Mama Ratna juga hu hu hu".


Kini Egga tak kuasa menahan air matanya. Mereka pun pecah.


"Iya sayang. Maka nya Tara banyak - banyak berdoa ya. Biar di angkat ALLAH segala penyakit Mama Ratna, biar Mama Ratna bisa berkumpul lagi sama kita".


Tara /" Iya Pa, Tara pasti akan mendoakan Mama dan mendoakan Papa juga hu hu hu".


Tak lama Bu Wardah meminta Tara untuk mendekatinya kemudian beliau memeluk Tara sambil menangis tersedu - sedu.


"Nenek rindu sekali sama kamu Tara hu hu hu. Doa kan Mama mu lekas sembuh ya sayang". Ujarnya. Sedangkan Tara hanya menganggukkan kepalanya.


Omen benar - benar bingung dan penasaran sebab hanya dia yang tidak mengetahui hubungan mereka seperti apa.


Setelah situasi dan kondisi di rumah sakit sudah agak lebih mereda, Omen meminta izin pada Bu Wardah untuk berangkat kerja sebab ia sudah punya jadwal di studio.


Wajah Tara masih terngiang di ingatan Omen bahkan ia tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja. Dia selalu enggak fokus pada model - model nya.


"Break dulu ya. Aku mau istirahat bentar. Kalau kalian mau lanjut, lanjut lah". Ia mengatakan itu pada rekan kerja nya sesama photographer.


Mereka kebingungan melihat tingkah Omen sejak ia tiba di studio bahkan mereka bertanya - tanya pada Imam sedangkan Imam sendiri pun tidak tahu apa yang terjadi dengan Omen.


Omen merebahkan badannya pada sofa yang ada di dalam ruangannya kemudian memejamkan matanya.


"Siapa anak itu? Kenapa dia memanggil mereka dengan sebutan Papa dan Mama? Bahkan Bu Wardah pun seperti nya sangat akrab dengan anak itu. Apa jangan - jangan itu anak mereka? Apa sudah sejauh itu hubungan mereka? Kenapa Ratna atau Bu Wardah tidak cerita soal ini sama aku?". Pertanyaan itu bertubi - tubi terlintas di benak nya.


"Bang! Kau kenapa? Sebaik datang sudah melamun, habis tuh malah enggak konsentrasi pulak lagi". Tiba - tiba Imam muncul mengejutkannya. Ia sangat penasaran ada apa dengan sepupunya itu.


" Hm? Apa?". Omen seperti orang yang kelabaran lalu bangkit dari rebahannya.


Imam /"Haiiiih. Kau kenapa? Dari tadi enggak fokus gitu. Kayak punya banyak pikiran. Apa CEO parfume itu mengganggu kau lagi Bang? Apa jangan - jangan terjadi sesuatu sama calon binik kau?".


"Enggak ada apa - apa kok. Aku cuma lagi capek kali ini he he he. Oh ya bilang sama mereka pemotretan hari ini kita tunda saja lah dulu, soalnya sakit kali kepala ku, rasa nya enggak enak kali badan aku ini". Ujarnya sembari memegang dahinya.


Imam /"Hmm... Makanya jangan di porsir kali kau kerja nya. Harusnya kau ngambil cuti karena seminggu lagi kau mau nikah sama Kak Ratna, bang. Yang kau pikirin itu jangan kerja teros (mulu), kau pikirin bulan madu kalian dimana he he he. Ya sudah, aku mau bilang sama anak - anak dulu, sekalian aku bilang sama orang itu juga pemotretan di undur sampai bulan depan biar kau bisa berbulan madu sama Kak Ratna dengan tenang tanpa memikirkan pekerjaan di studio".


Omen sama sekali tidak membantah atau menghiraukan perkataan Imam yang lainnya selain perkataan Imam yang mengingatkan nya pada hari pernikahan nya bersama Ratna yang tinggal seminggu lagi.

__ADS_1


"Benar kata Imam, tinggal seminggu lagi aku akan menikah dengan Ratna, tapi aku belum juga mengatakan sama Bu Wardah dan Mama ku soal pembatalan ini. Tapi apa mungkin dengan kondisi seperti ini aku bisa mengatakan itu pada mereka? Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak berniat dan tidak rela untuk membatalkan perjodohan ini dan aku juga enggak rela melepaskan Ratna untuk Egga. Aku benar - benar bingung dan enggak tahu apa yang harus aku lakukan. Sebenarnya sudah sejauh mana hubungan Ratna dan Egga selama ini? Dan kenapa aku mendadak egois seperti ini? Kenapa aku enggak rela melepaskan Ratna untuk Egga? Kenapa? Aaaaaargg....". Omen mengacak rambutnya dan serta wajahnya. Ia semakin frustasi berada di situasi dilema seperti ini dan munculnya rasa egois itu dengan cara tiba - tiba.


__ADS_2