
Eggy menyambar ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja lalu mengutak - ngatik ponselnya mencari nomor ponsel Almira dan meletakkan ponselnya pada telinganya.
Eggy# "Assalamualaikum Ist. Ist sudah makan siang? Alhamdulillah. Ghifari sudah pulang? Oh... Ya sudah nanti Suam saja ya yang jemput Ghifari sekalian Suam bentar lagi mau pulang. Iya, kerjaan Suam sudah selesai kok, lagian kan Suam ada janji ketemu sama Omen, tapi Suam pulang dulu, Suam mau mandi. Hmm.. Ya sudah. Assalamualaikum".
Eggy memutuskan panggilannya, lalu menghubungi Omen.
"Assalamualaikum, Men. Aku agak telat dikit ya ke studio soalnya aku pulang dulu, mau mandi aku, gerah kali. Iyaaaa. Iiiisss iya iya. Ya sudah Assalamualaikum".
Ia kembali memutuskan panggilannya dan beranjak keluar dari rumah sakit dengan sembunyi - sembunyi agar tidak keliatan dengan yang lainnya. Sebab, jika mereka melihatnya pasti mereka selalu bergantung pada dirinya untuk menangani pasien dan pasti akan menahannya untuk keluar dari rumah sakit.
Setelah ia menjemput anaknya lalu kembali ke rumah, ia pun langsung bergegas ke studio untuk memenuhi janjinya kepada Omen.
Eggy telah sampai di studio dengan style santai dan menawan. Di saat ia datang, kebetulan studio berada di dalam suasana yang ramai, karena ada nya beberapa model yang sedang melakukan sesi pemotretan. Eggy langsung menghampiri Omen yang tengah berbicara dengan Pak Suwandi di dalam ruangan kaca.
"Assalamualaikum". Ucapnya lalu memberi salam antar lelaki kepada Omen, dan berjabat tangan pada Pak Suwandi.
"Waalaikumsalam". Jawab mereka secara serentak sembari tersenyum lebar.
"Akhirmya kita bisa bekerja sama juga he he he". Antusias Pak Suwandi setelah mendengarkan kabar dari Omen bahwa Eggy bersedia bekerja sama dengannya. Ia langsung memeluk Eggy sembari menepuk - nepuk punggungnya.
Sungguh, Eggy merasa tidak nyaman. Ia mengisyaratkan matanya kepada Omen agar Omen bisa melepaskan pelukan itu dan Alhamdulillah Omen sangat memahami dirinya.
"He he he. Ya sudah Pak, sekarang mari kita selesaikan dulu surat kerja sama nya biar secepatnya juga kita menjalankan kerja sama ini he he he".
Pria paruh baya itu pun melepaskan pelukannya.
"Oh he he he iya iya. Mari - mari kita lanjut, saya sampai kelupaan karena sangkin senangnya ha ha ha". Ia pun duduk kembali di sofa yang ada di dalam ruangan kaca tersebut.
Setelah membaca serta menandatangani surat - surat kerja sama tersebut, Pak Suwandi pun pamit untuk pulang terlebih dahulu karena ada nya urusan lain.
Eggy berdiam memperhatikan model - model yang sedang menunjukkan bakatnya di depan kamera profesional para photographer. Sedangkan Omen masih sibuk membereskan gelas bekas minum mereka.
"Itu model - model baru Men?".
Omen menoleh ke arah ruang pemotretan.
"Hmm? Iya, tapi kata nya mereka sudah jadi top model di Jakarta. Apa lagi itu, cewek yang rada bule itu, kata nya dia itu model kesayangan para designer terkenal". Omen pun menunjukkan pada wanita berparas blasteran yang berada di tengah - tengah model lainnya. Ia terlihat lebih bersinar dari model lainnya.
Eggy melihatnya dengan seksama, tanpa sengaja wanita itu pun melirik dirinya. Sontak membuat Eggy langsung membuang mukanya dan berpaling ke arah Omen.
"Sialan... Dia nengok pulak lagi, entar dia ke GR'an pulak lagi gara - gara aku tengokin". Dumelnya.
"Ha ha ha. Makanya mata tuh harus di jaga, ingat anak sama binik di rumah". Omen ngakak melihat ekspresi wajah Eggy yang tertangkap basah.
"Bukan gitu koplak. Tadi kan kau nunjukin ke arah dia jadi nya ya tetengok aku lah tuh cewek. Haiiiih". Eggy merapatkan gigi nya.
"Ha ha ha, iya iya. Oh ya lupa aku. Kebetulan yang bakalan jadi pasangan kau di photo shoot nanti ya cewek itu, karena brand ambassador bagian ceweknya ya dia". Omen memonyongkan bibirnya mengarah pada wanita tersebut.
Mata Eggy terbelalak.
"Apa? Jadi nanti aku photo shoot nya enggak sendiri?".
"Ya enggak lah. Kau kan sudah baca surat kerja sama nya masa iya kau enggak ingat". Omen melempar surat kerja sama itu ke hadapan Eggy.
Eggy mengambilnya lalu membaca nya kembali. Sontak membuatnya menepuk jidatnya setelah melihat beberapa kolom surat kerja sama itu.
"Ya ALLAH, kenapa aku enggak baca dengan teliti sih. Mati lah aku. Bisa kenak gorok aku sama binik aku, apa lagi lawan nya bentukkan nya kayak cewek itu haduuuuh. Si Almira setuju aku balik lagi photo shoot asalkan aku enggak berpasangan dengan model wanita hiks hiks hiks".
Omen menggaruk kepalanya sembari memutar bola matanya.
"Huuuuffft. Makanya kau tengok dulu betul - betul. Kalau sudah gini mau bagaimana lagi. Mana bisa kita seenaknya saja mengubah suratnya, sedangkan kita sudah menandatanganinya. Yang ada entar kita harus ganti rugi".
" Haiiiiihhh.....". Eggy mengacak rambutnya, frustasi.
"Lagian kau juga yang salah, kenapa binik kau, kau larang ikutan photo shoot. Kalau enggak kan yang jadi pasangan kau bisa binik kau, enggak payah model cewek lain".
"Bukan aku yang ngelarang, tapi memang binik aku yang enggak mau lagi jadi photo model. Enak saja kau nuduh aku malah kemarin aku yang minta sama binik aku kalau dia ikutan gabung terus aku usahakan ke Pak Suwandi. Tapi dia yang enggak mau ". Cibirnya.
"Ya kalau untuk saat ini, ya memang enggak mau lah binik kau. Posisinya kan dia lagi bunting. Mana mau dia dengan perut buncit kayak gitu, coba kalau enggak lagi bunting pasti dia mau".
"Bukan karena binik aku lagi bunting, tapi memang dia yang enggak mau. Dia bilang kalau dia mau, dari dulu dia enggak akan ninggalin kelas modelnya".
"Hmm gitu. Jadi ya... Kalau gitu dia harus menerima resiko kerja kau ini lah. Dia harus tahan - tahan cemburu nya itu ha ha ha".
" Haaaah... Malah sejak hamil kedua ini dia bawa'an nya cemburuan saja kerjanya. Bisa - bisa enggak di kasi tidur kamar aku Men hiks hiks hiks". Eggy merengek seperti anak kecil.
"Cup cup cup... Yang sabar ya nak ha ha ha". Omen meledeknya sembari mengusap kepala Eggy seperti emak - emak yang mengusap kepala anaknya dengan manja.
__ADS_1
Dengan rasa cemas Eggy kembali ke rumahnya sambil membawa surat tersebut. Setelah mengucapkan salam ia langsung menemui istrinya alias Almira yang sudah berada di dalam kamar dan siap - siap untuk tidur.
Eggy tersenyum menghampirinya lalu mengecup keningnya dengan mesra sambil melingkarkan tangannya pada pinggang Almira.
"Maaf ya sayang, Suam pulangnya jam segini, tahu lah si Omen itu kalau sudah ketemu sama Suam pasti ada saja alasannya biar supaya Suam ikut nongkrong bentar".
Almira tersenyum.
"Iya, enggak apa - apa kok sayang. Asalkan ngabari dan jangan sering - sering. Apa lagi nanti kalau sudah mulai photo shoot nya".
"Iya sayang pasti itu he he he. Oh ya! Umm... Sebenarnya ada yang mau Suam bilang ke Ist, tapi Ist harus janji dulu jangan marah setelah Suam bilang sama Ist". Wajah Eggy kembali cemas.
"Apa rupanya Suam?". Dahi Almira mengerut.
"Janji ya jangan marah".
"Iya lho Suam, jangan buat Ist marah beneran nih".
"Nanti Suam photo shoot nya harus berpasangan sama brand ambassador cewek nya". Perlahan - lahan Eggy menceritakannya sedangkan Almira nya sendiri, matanya hampir melotot menatap Eggy.
"Memang salah Suam juga, tadi kan Suam sudah menandatangani surat kerja samanya, tapi ada beberapa point yang enggak Suam baca pas si Omen bilang bakal berpasangan photo shoot nya baru lah Suam tahu dan ngecheck lagi itu surat. Mau di ubah enggak mungkin, yang ada nanti kita yang harus ganti rugi. Kalau dari awal Suam baca, mungkin Suam sudah meminta untuk di tiadakan point itu".
Almira hanya diam memasang wajah datarnya. Ia merenggangkan tangan Eggy pada pinggangnya lalu berjalan menuju ke tempat tidur mereka. Sedangkan Eggy hanya bisa pasrah. Dia tahu bakalan seperti ini respon Almira kepadanya setelah menceritakan semuanya.
Eggy mendekati Almira yang sudah duduk selonjoran dan bersandar pada dinding tempat tidur.
"Ist... Ist marah ya sama Suam?". Ia meraih tangan Almira lalu mengusap - ngusapnya.
Almira menatapnya.
"Enggak kok".
"Terus kalau enggak marah, kenapa Ist langsung ngelepasi tangan Suam terus langsung ke tempat tidur?".
"Pinggang sama kaki Ist pegel dari tadi berdiri terus makanya Ist ke sini. Enggak lihat apa perut Ist sudah buncit kayak gini, mana lah tahan kalau berdiri lama - lama". Ujarnya sembari merintih.
" Beneran karena pegel bukan karena marah?".
"Iya Suam. Ya sudah kusuk ini kaki Ist, pegel kali rasanya". Almira memegang tangan Eggy lalu mengarahkannya pada kakinya.
Eggy tertawa kecil sambil melihat kaki Almira yang sedikit bengkak dan siap untuk melaksanakan perintah sang istri.
"Bengkak kali kaki Ist nih. Besok Ist periksa ya sama Dokter Ratna?". Sambil memijat kaki Almira.
"Ngapain? Kan bukan jadwal check up nya. Lagian ini memang sudah biasa, paling di pakaikan minyak angin In Sya ALLAH kempes bengkak nya".
"Tapi bengkak gini lho sayang, kalau di periksa sama Dokter Ratna kan jadinya kita tahu ngasi obatnya, nanti takutnya lebih beresiko kalau pakai minyak angin karena ini enggak kayak waktu Ist hamil Ghifari".
Almira menjewer telinga Eggy sembari tertawa kecil.
"Enggak apa - apa lho sayang".
" Aduh aduh duh... Kok Suam nya di jewer sih Ist". Rintihnya.
"Abisnya enggak mau dengeri cakap istrinya sih. Kalau di bilang enggak apa - apa ya enggak apa - apa hhuuuuh".
Eggy memanyunkan bibirnya.
"Ya... Kan Suam khawatir, terus belum paham soal kandungan".
"Hmm... Makanya di pelajari juga tentang kandungan. Masa dokter handal enggak paham kalau sudah berurusan tentang kandungan. Harus nya Suam itu serba bisa jadi kalau ada apa - apa biar Suam sendiri yang nangani".
"Bukan enggak paham sayang. Cuma kan takutnya kalau sering - sering di olesi pakai minyak angin kemungkinan panasnya akan masuk ke dalam karena kan minyak angin menyerap pada kulit, jadi Suam takut akan berdampak sama anak kita".
"Oooooh... In Sya ALLAH enggak apa - apa kok Suam, tenang saja". Tangan Almira meraih tangan Eggy yang sedang mengurut kakinya, lalu meletakkannya di atas perutnya yang membuncit.
"Terasa enggak tendangannya?".
Sekilas Eggy merasakan tendangan halus dari sang calon bayi.
"Terasa tapi lebih lembut enggak kayak waktu Ghifari, kalau Ghifari kan tendangannya lebih terasa".
"Iya, sudah gitu dia enggak mau nendang kalau di pegang - pegang sama orang lain selain Mommy nya, sama Suam pun jarang ya kan?". Almira mengelus - ngelus perutnya dengan lembut dan ia merasakan perutnya sedikit menegang.
"Hu uh. Berarti anak Daddy yang satu ini agak pelit dia sama badannya he he he". Eggy mengecup perut Almira.
Perlahan Almira menggenggam tangan Eggy lalu meremasnya cukup erat sehingga Eggy merintih kesakitan.
__ADS_1
"Aduh Ist, kok tangan Suam di remas? Sakit lho". Eggy melirik wajah Almira sudah tampak pucat karena menahan rasa sakit pada perut.
"Lho Ist kenapa?".
Almira menggelengkan kepalanya sembari mengatur nafasnya.
"Enggak apa - apa Suam mungkin ini kontraksi palsu saja tapi nyakiti kali sssh".
"Kita ke rumah sakit saja ya sayang". Eggy sudah mulai panik melihat Almira semakin merintih dan sudah mengeluarkan keringat membasahi wajahnya.
"Enggak usah Suam. Paling bentar lagi hilang rasa sakitnya, shh shh. Nanti saja, takutnya capek - capek kita ke rumah sakit eh malah enggak sakit lagi. Shh.. Ingat enggak waktu Ghifari dulu gimana rempong nya kita pas Ist kontraksi palsu, sampai heboh perawat - perawat nya shh hu hu hu".
"Sudah aah enggak apa - apa kita ke rumah sakit saja sekarang. Lagian rumah sakit kita kok, jadi suka - suka kita lah mau ngerempongi mereka atau enggak nya". Eggy bangkit berdiri sembari mengangkat badan Almira.
"Eiiit shhh kok gitu ngomong nya sih Suam. Itu nama nya Suam sombong shhh. Aduh... Kok rasa sakitnya makin makin ya ini. Aduuuuuh.... Aduuuhhh... Huh.. Huh...". Almira mulai menyerah dan tak kuat menahan rasa sakitnya yang semakin nyakiti.
"Tuh kan.... Enggak usah banyak cakap lah Ist. Ayo kita ke rumah sakit sekarang". Dengan sigap ia menggendong Almira. Tanpa membawa persiapan apa pun Eggy membawanya langsung ke rumah sakit. Sebelumnya ia sudah meminta kepada Kak Umi asisten rumah tangga mereka untuk menjaga Ghifari dan menjaga rumah sementara mereka di rumah sakit.
Almira semakin merintih karena merasakan sakit pada perutnya. Ia langsung di larikan ke ruangan persalinan, Ratna yang kebetulan masih stay di ruangannya pun bergegas menanganinya.
"Shh... Aduuh Suam kok nyakiti kali ini. Ini rasanya kayak waktu Ghifari lahir shh aaaduuuh huh huh huh". Keluhnya sembari meremas tangan Eggy sekencang mungkin.
Wajah tegang dan panik terpancar pada raut wajah Eggy sambil menahan rasa sakit pada tangannya yang di genggam oleh Almira. Beberapa perawat sibuk mempersiapkan alat - alat medis yang di pinta oleh Ratna.
"Yang tahan ya sayang". Ujarnya sembari membelai kepala Almira dengan lembut.
Ratna pun mulai memeriksa perut Almira dengan alatnya. Di mulai mengecheck detak jantung sang bayi, USG hingga mengecheck ke dalam rahim Almira untuk memeriksa pembukaannya.
"Dok, sepertinya Bu Almira harus segera di operasi. Kita harus mengeluarkan bayinya karena air ketuban Bu Almira sudah hampir mengering". Ratna langsung memberitahu mereka agar secepatnya mengambil tindakan.
"Shhh.... Apa? Operasi Dok? Saya enggak mau operasi Dok. Suam... Ist enggak mau operasi, Ist mau lahiran normal". Almira langsung menolak tindakan Ratna.
"Maaf Bu. Bukan nya kami tidak ingin mengabulkan permintaan Ibu, tapi ini mau enggak mau kita harus mengambil tindakan operasi. Selain air ketuban nya sudah hampir mengering, usia kandungan ibu pun juga masih belum cukup dan akan membahayakan Ibu dan anak".
Eggy semakin cemas, sempat ia melirik Ratna lalu mendekati Almira.
"Sayang, kita enggak punya cara lain karena air ketubannya sudah hampir mengering. Kalau tidak segera di operasi itu akan membahayakan kalian berdua. Suam enggak mau itu terjadi. Ist pikirin Suam, Ghifari dan calon anak kita".
Almira memejamkan matanya, seketika air matanya mengalir ke pipinya. Ia masih belum siap untuk di operasi dan ia merasa sedih harus seperti ini.
"Aaaaaah.... Sshhh.... Ya ALLAH... Sakiiiiiiiiit Suaaaaaaaaam". Almira menjerit histeris karena dahsyatnya rasa sakit tersebut dan mau enggak mau Almira harus ikhlas menjalankan operasi.
Almira langsung di larikan ke ruangan operasi. Rasa sakitnya semakin membuat Almira meronta - ronta. Ratna dan tim medis lainnya segera menyiapkan peralatan operasi tersebut. Mereka berlari ke sana ke mari dengan sigap.
"Sakit Suam hu hu hu". Rengeknya.
"Iya sayang. Suam tahu kok. Sudah Ist banyak - banyak dzikir dan istighfar biar di mudahkan sama ALLAH". Eggy menyemangatinya dan sesekali mencium dahi Almira untuk menghilangkan rasa cemasnya sendiri.
"Maaf Dok. Apa Dokter Eggy juga ikut serta dalam penanganan operasi ini?".
Eggy menoleh pada Ratna yang sudah bersiap diri untuk menjalankan operasi tersebut.
"Tidak Dok. Saya serahkan saja semuanya pada kalian. Saya ingin mendampingi istri saya di sampingnya". Jawabnya sambil tersenyum.
"Baik lah kalau begitu. Kami akan segera melakukan operasi ini".
Eggy mengangguk pelan lalu beralih ke wajah Almira yang sudah hampir setengah sadar karena obat bius yang mereka suntikan padanya sebelumnya. Kini untuk pertama kalinya Eggy menyaksikan orang terkasihnya di operasi di depan matanya. Lututnya terasa lemas melihat Ratna dan tim medisnya menangani istrinya.
Beberapa menit kemudian, air mata Eggy menetes ketika ia menyaksikan seorang makhluk kecil yang mereka nantikan muncul dari perut Almira yang sudah di bedah.
Eggy tidak bisa berkata apa - apa melihat makhluk tersebut alias anak kedua nya.
Eggy menyadari sesuatu ketika ia melihat dan merasa ada yang aneh pada anaknya itu.
"Dok, kok bayinya sama sekali tidak nangis atau merespon? Sepertinya ada yang salah pada anak saya?". Eggy melepaskan genggaman tangannya dari tangan Almira lalu mengambil alih anak nya itu. Mereka pun panik karena sang bayi tidak kunjung menangis atau pun merespon.
"Kalian urus istri saya. Biar saya yang akan menangani anak saya". Teriaknya.
Mereka berhamburan menyelesaikan operasi Almira
Sedangkan Eggy, ia berusaha mengupayakan anak nya. Eggy memeriksa detak jantung sang bayi dan perlahan memompa - mompa jantungnya yang tidak berdetak. Air mata Eggy mengalir semakin menjadi karena anak nya tak kunjung meresponnya. Ia menggosok - gosok punggungnya dan sesekali memukul bokongnya dengan pelan.
Eggy hampir putus asa. Ratna dan yang lainnya menatapnya dengan sedih.
"Mungkin bayinya sudah terlalu banyak menelan air ketubannya dan kita sudah terlambat. Maafin saya Dok karena gagal menyelamatkan anak Dokter dan Bu Almira". Ratna turut bersedih dan tertunduk.
"Tidak Dok. Ini semua bukan kesalahan dari Dokter. Ini memang sudah jalan takdir dari ALLAH kalau anak saya akan menjadi anak syurga". Lirihnya yang masih menatap bayi mungil berjenis kelam*n perempuan itu sudah tidak bernyawa di pangkuan tangan Eggy.
__ADS_1
Eggy mendekati Almira yang masih belum sadarkan diri sembari menggendong bayi mungil itu. Ia meletakkan bayi nya di atas dada Almira untuk pertama dan terakhir kalinya. Air mata Eggy tumpah melihat potret kebahagiaan yang sangat menyedihkan itu.