
Almira memastikan anak nya benar - benar tertidur setelah ia memberikan makan siang nya. Karena merasa bosan ia memutuskan untuk keluar sebentar dari kamar hanya untuk mencari angin segar. Almira berjalan ke koridor di sisi kanan nya, mata nya tertarik pada jendela kaca yang memamerkan pemandangan kota Medan yang terlihat jelas dari atas gedung - gedung serta bangunan - bangunan tersusun bagai kan mainan rumah - rumahan bongkar pasang dan Almira menghampiri pemandangan itu.
Angin menghembuskan wajah Almira yang sedikit keluar dari jendela yang terbuka, Almira memejamkan mata nya untuk menikmati hembusan angin tersebut. Wajah nya berseri - seri ketika ia merasakan sejuk nya angin yang telah mengibarkan lembaran hijab nya.
"Udara hari ini seperti nya bersahabat ya?". Tiba - tiba seseorang mengagetkan nya, Almira pun membuka mata nya lalu menoleh ke arah orang tersebut.
" Hai". Sapa nya sembari tersenyum pada Almira.
Almira sedikit terkejut melihat sosok Ari yang tengah di hadapan nya. Almira tersenyum getir.
Ari/ "Gimana kabar anak kamu Ra?".
Almira sedikit menggeserkan tubuh nya menjauh dari Ari.
" Alhamdulillah sudah mendingan".
Ari/ "Alhamdulillah kalau gitu. Kemarin aku enggak sengaja ngeliat kalian panik di ruang operasi terus aku nanya sama perawat nya, mereka bilang anak kamu yang di operasi".
Almira/ " Iya, dia terkena usus terbelit jadi harus di operasi".
Ari/ "Hmm untung saja ayah nya seorang dokter ya, jadi cepat di tangani he he he".
Almira/ " Iya... Oh ya kata nya Papa kamu di rawat di sini kan?".
Ari menundukkan wajah nya. Sedang kan Almira melirik nya.
"Iya, papa aku terkena komplikasi. Kata mereka papa aku enggak punya harapan lagi. Tapi kami masih belum rela jika harus kehilangan Papa dan masih mau berusaha lagi agar papa sembuh meski pun kami harus berkorban apa pun. Kamu kan tahu kalau papa ku itu segala nya bagi kami". Lirih nya.
Almira/ "Kamu yang sabar ya, ini ujian dan cobaan untuk keluarga kamu, In Sya ALLAH, ALLAH selalu ada untuk kita".
" Makasi ya Ra".
Ari tersenyum memandangi wajah Almira, namun Almira mengalihkan pandangan nya ke depan.
"Oh ya Lana apa kabar nya? Kok enggak kelihatan?".
" Aku enggak tahu kabar nya bagaimana".
Almira mengerutkan dahi nya lalu menoleh.
"Enggak tahu gimana maksud nya?".
Ari / " Aku sama Lana sudah bercerai setelah setahun menikah".
Almira sontak terkejut dan tidak berani mengeluarkan kata - kata.
Ari/ "Hmm.. Setelah menikah, Lana banyak berubah, dia setiap malam keluar sama teman - teman nya, kalau sudah pulang aku pasti mencium aroma alkohol di tubuh nya dan di tambah lagi dengan kebiasaan nya yang mau menang sendiri yang memang enggak bisa di ubah, ck.. aku pikir aku bakalan bisa membuat dia berubah menjadi lebih baik tapi aku salah, setelah di jalani ternyata hubungan itu tak sesuai dengan apa yang aku pikirin, hubungan kami hancur dan tidak bisa di perbaiki lagi".
Almira hanya tediam mendengarkan curhatan nya dengan seksama, sempat ia melirik wajah Ari yang terlihat menyedihkan.
Ari menyungingkan senyuman nya.
"Eggy sangat beruntung bisa memperistri kamu. Karena kamu adalah wanita, istri serta ibu yang shalihah. Aku nya saja yang bodoh, pernah menyia - nyiakan kesempatan yang ALLAH kasih ke aku. Aku malu mengatakan hal menyedihkan seperti ini sama kamu he he he".
__ADS_1
Almira sedikit menarik nafas nya.
" Ini bukan soal siapa yang beruntung memiliki siapa. Tapi ini memang sudah jalan takdir yang sudah di tetapkan sama ALLAH, mungkin untuk sekarang kamu sedang di beri ujian yang begitu besar namun siapa yang tahu ke depan nya? Di balik sebuah ujian dan cobaan pasti ada hikmah nya. Dan apa yang kita lakukan selama ini tidak ada yang nama nya sia - sia. Ra yakin kok kamu pasti mampu melewati semua nya".
Ari tersenyum menatap wanita yang pernah mengisi hari - hari nya 10 tahun yang lalu. Ari benar - benar sudah kehilangan sosok Almira yang ia kenal dulu. Almira yang dulu kekanak - kanakan gini menjadi sosok Almira yang dewasa dan bijaksana.
"Permisi... Apa kah bapak anggota keluarga dari pasien yang bernama Bapak Hadi?". Tiba - tiba seorang perawat muncul menghampiri mereka dengan tergesa - gesa.
Ari dan Almira pun menoleh pada perawat yang bertubuh mungil dan berkulit putih itu.
" Iya saya anak nya, kenapa ya sust?". Ari terlihat khawatir.
"Bapak Hadi sudah tidak memiliki waktu yang lama lagi". Ujar nya.
Sontak membuat Ari berlari menuju ke ruang ICU dengan mata nya yang merah dan berair. Sedang kan Almira dan perawat itu juga bergegas menyusul nya.
Ari ingin menerobos pintu ruang ICU namun suster jaga menolak nya, lalu menyuruh nya untuk menunggu di luar.
"Saya mau lihat orang tua saya". Ari berteriak sembari mendorong tubuh ketiga perawat yang menghalangi nya masuk.
"Maaf Bapak, kami mohon untuk tenang, ini rumah sakit, banyak orang sakit di sini. Bapak tunggu saja di luar, kami akan menangani nya semampu nya". Salah satu dari perawat itu mencoba meminta pengertian nya.
Kini Ari sudah tak kuasa menahan air mata nya, mereka pecah membasahi wajah Ari. Almira merasa simpatik melihat Ari terpaku di depan pintu dengan mata nya yang berair. Almira menghampiri nya setelah ia melirik ke arah pintu yang di jaga ketat oleh para perawat.
Almira tak mampu berbuat apa pun untuk nya, ia hanya bisa melihat kesedihan nya saja. Almira hampir saja melupakan sesuatu, ia hampir lupa kalau ia sudah meninggalkan Ghifari di dalam kamar sendirian.
"Ari, maaf Ra enggak bisa nemeni kamu di sini soal nya kasihan anak Ra sendirian di kamar nya. Almira permisi dulu, kamu yang sabar ya". Dengan perlahan - lahan ia berpamitan pada Ari. Sedang kan Ari masih terpaku tidak merespon nya.
" Jangan pergi...". Langkah kaki Almira terhenti.
"Aku mohon, jangan pergi, sebentar saja". Pinta nya.
Almira menoleh pada Ari namun ekor mata nya tertangkap satu sosok yang sangat ia kenal. Almira terpaku melihat Eggy berdiri yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Almira melihat wajah datar dari raut wajah Eggy yang menatap kedua nya.
" Suam". Almira bergegas menghampiri nya, namun Eggy mengacuhkan nya dan buru - buru masuk ke ruangan ICU.
Omen melangkah kan kaki nya mendekati Almira.
"Jadi seperti ini kerjaan si Eggy kalau di rumah sakit ya? He he he". Celetuk nya sembari melirik Almira yang masih menatap kepergian Eggy.
Omen/ " Baru kali ini aku lihat dia seserius ini, ternyata bisa berguna juga dia buat orang lain ha ha ha. Eh kok bisa ada si Ari di sini?". Omen beralih melihat Ari.
"Orang tua nya sedang di rawat di sini dan sekarang beliau sedang di tangani sama Eggy". Almira menjawab nya.
" Lho, jadi pasien yang lagi gawat ini, papa nya si Ari?". Mata Omen terbelalak.
"Hemm... Iya bang, ya sudah Ra balik dulu ya bang, kasihan Ghifari sendiri".
" Ha iya Ra". Omen melihat kepergian Almira.
"Haiiiih... Itu bocah pasti cemburu pas lihat binik nya sama si Ari maka nya si Almira di cuekin kayak tadi. Hmmm.... Apa dia bisa ya nangani pasien nya dengan kondisi tebakar kayak gitu he he he". Omen jadi gumam sendiri, lalu menghampiri Ari dan merangkul nya.
Almira pun pamit tanpa menghiraukan Ari. Pikiran nya hanya mengingat wajah datar Eggy dan mengacuhkan diri nya. Almira duduk termenung di samping anak nya yang masih terlelap. Ia masih kepikiran kejadian tadi.
__ADS_1
.
.
Hanya sekejab Eggy keluar dari ruang ICU, ia menghampiri Ari yang masih berdiri bersama Omen.
"Sorry bro, aku sudah ngelakuin semampu nya dan ALLAH sudah berkehendak lain". Eggy terlihat lesu memberitahu Ari sembari menepuk pundak nya.
" Innalillahi wainna ilaihi rojiun".
" Yang sabar ya bro". Omen memeluk nya, ia turut berduka cita. Sedang kan Ari masih terpaku menatap pintu ICU. Ia benar - benar shock, apa yang ia takut kan terjadi.
Eggy memerintahkan agar jenajah segera di proses dan segera di pulang kan ke rumah.
Eggy tampak lesu sembari berjalan mengikuti langkah kaki Ari yang rapuh menggiring jenajah Papa nya. Ambulance pun membawa mereka ke kediaman Pak Hadi.
Eggy dan Omen berdiri di depan pintu utama rumah sakit sembari menatap kepergian ambulance itu.
"Sudah lah bro, enggak usah lesu gitu kau. Lagian kan emang sudah waktu nya, kenapa jadi ngerasa bersalah gitu kau?". Omen menepuk bahu nya.
" Aku bukan ngerasa bersalah karena enggak bisa nyelamati Papa nya, tapi aku kepikiran soal tadi".
Omen/ "Soal binik kau sama Ari tadi?".
" Hmmm".
Omen/ "Ya elah, ngapain lah kau pikirin, kau itu sudah kebakar sama api cemburu. Enggak usah kau mikirin yang macam - macam. Bisa jadi kan orang itu enggak sengaja ketemu di situ terus binik kau hanya sekedar ingin tahu kondisi papa nya si Ari".
" Jangan pergi...".
"Aku mohon, jangan pergi, sebentar saja".
Eggy masih teringat dengan permintaan Ari pada Almira.
" Fuuht ya sudah Men, kau masih mau di sini atau mau langsung balik?".
"Kau ngusir aku nih cerita nya?".
" Bukan gitu lho, kau ini baper saja kerja nya. Maksud aku, kalau kau masih mau di sini kau tunggu lah aku sampai abis kerja aku. Kalau kau mau balik biar aku tunggu kau". Eggy merapatkan gigi nya.
"Aku balik saja lah, sudah sore soal nya, biar abis magrib aku ke rumah si Ari. Kau mau ikut sekalian?".
" Enggak lah, aku besok saja ke sana sampai di kebumikan, soal nya hari ini masih ada jadwal aku".
"Hmm... Ya sudah lah kalau gitu aku balik lah". Omen beranjak meninggalkan Eggy menuju ke parkiran.
" Iyo, hati - hati kau di jalan".
"Iyaaaa, ingat..! Enggak usah kau besar - besarin kali itu api cemburu kau". Teriak nya sehingga terdengar oleh orang yang berada di dekat mereka.
Eggy tertawa getir.
" Sompret kau Men, mesti kali pakek teriak - teriak". Ia melirik orang sekitar sudah melihat diri nya.
__ADS_1