
Di kediaman keluarga Eggy dan Almira.
Almira menemani Ghifari sarapan pagi nya sambil menonton film kartun kesukaannya. Almira melirik jam yang ada di dinding ruang tv rumah mereka dan sesekali ia melirik pintu kamar nya. Ia sama sekali tidak mendapatkan tanda - tanda sang suami akan keluar dari kamar mereka. Ia sedikit cemas mengingat waktu terus berjalan namun Eggy belum juga berangkat ke rumah sakit, ia enggak seperti biasa nya, sudah hampir jam 9 pagi namun ia belum berangkat juga.
" Sayang... Mommy masuk ke dalam kamar bentar ya? Mommy mau lihat Daddy di dalam, kenapa enggak keluar - keluar Daddy dari kamar ".
Ghifari hanya mengangguk sebab ia begitu fokus dengan film tersebut.
Almira beranjak meninggalkan anak nya, lalu berjalan menuju ke kamar nya.
" Suam...? ". Almira memanggil nya, namun tak ada sahutan dari Eggy. Alis mata nya mengerut ketika ia melihat Eggy masih tertidur di atas tempat tidur dengan berselimut seperti orang kedinginan. Almira mendekati nya.
" Suam... Kok masih tidur? Suam enggak ke rumah sakit ya hari ini? ". Almira sedikit menggoncang tubuh Eggy. Ia berhasil membuat Eggy terbangun. Eggy pun menoleh.
" Emm? Ke rumah sakit kok Ist. Cuma nanti siang saja soal nya kepala Suam lagi sakit, maka nya mau istirahat dulu ". Jawab nya dengan nada lemas.
Almira memegang kening Eggy. Ia tidak merasakan panas pada dahi nya. Lalu ia meletakkan tangan nya di atas ubun - ubun Eggy.
" Kenapa enggak bilang sama Ist? Ini masih sakit kepala nya? Sudah minum obat? ".
Eggy mengangguk pelan.
" Sudah kok Ist. Tinggal vitamin sama charger nya saja yang belum". Sempat - sempat nya ia menggoda Almira. Ia menggenggam tangan Almira.
Almira menggelengkan kepala nya.
" Memang lah ini, Daddy nya Ghifari tukang melece. Ya sudah Suam istirahat lah biar enakan kepala nya ". Ia mengelus - ngelus kepala Eggy begitu lembut.
" Temani ". Ujar nya dengan manja.
" Iya, Ist temani kok. Ya sudah tidur lah, kasihan Ghifari nya Ist tinggal bentar di ruang tv, dia belum siap sarapan nya ".
Eggy menggelengkan kepala nya, lalu menarik Almira ke dalam dekapan nya.
" Nemeni nya kayak gini biar vitamin dan charger nya bekerja. Lagian Ghifari sudah besar, dia bisa sarapan sendiri kok". Bisik nya sambil memeluk Almira dengan erat lalu memejamkan matanya. Almira tertawa kecil. Ia mencium wangi tubuh sang suami yang begitu hapal di hidung nya.
"Iya, tapi kan Ghifari masih belum sembuh total Suam sayang ".
Almira mendongakkan kepala nya untuk melihat Eggy, ternyata dengan sekejab ia sudah terlelap, alhasil Almira terperangkap di dekapan nya.
" Haiiih... Sudah tidur rupa nya si Suam ini. Awak yang enggak bisa lepas jadi nya ". Almira menepuk jidat nya, sempat ia tertawa kecil sembari memandangi sang Suami.
.
.
Suasana rumah sakit terlihat kualahan karena banyak nya pasien di tambah lagi dokter andalan di rumah sakit pun belum datang juga, alias Eggy.
Tari berjalan menyusuri koridor rumah sakit, sempat ia melihat sekeliling rumah sakit yang nampak sangat berubah dari sebelum nya sejak ia tinggal di Jakarta mengikuti Egga. Tari sedikit asing dengan orang - orang di rumah sakit itu, namun ada sebagian perawat yang masih mengenal diri nya dan menyapa nya.
Tari membuka pintu satu ruangan dokter, yakni ruangan dokter kandung. Ia bukan ingin berkonsultasi melainkan ingin bertemu dengan teman lama nya yaitu dokter Ratna.
"Assalamualaikum". Ucap nya salam kepada wanita manis yang berada di ruangan nya. Ratna pun menoleh, mata nya pun terbelalak melihat sosok Tari.
" Waalaikumussalam. Ma Sya ALLAH Tari....". Antusias Ratna membuat nya lupa pada image nya yang di kenal introvert alias tertutup. Ratna menyambar tubuh Tari.
"Ma Sya ALLAH. Sudah lama kita enggak ketemu. Kira' in kamu enggak jadi jumpain aku".
" He he he, enggak mungkin lah aku enggak jadi jumpai kamu.Aku kan sudah janji kalau aku ke Medan harus jumpai kamu he he he".
__ADS_1
" Iya. Ya ALLAH, rindu kali lah aku sama mu".
"Ahh lebay. Lagian kan baru kemarin kita komunikasi he he he".
Ratna menepul lengan Tari.
" Ya beda lah. Kalau ini kan aku ngeliat langsung muka kamu yang chubby itu he he he".
Tari tertawa kecil.
"He he he. Iya ya. Oh ya kok kamu kurusan? Diet ya?". Tari melirik seluruh dari Ratna.
" Hmm... Iya. Soal nya mama aku maksain aku untuk diet, gara - gara beliau mau jodohi aku sama anak kawan arisan nya. Maka nya aku mesti secantik mungkin hufft". Dumel nya.
" He he he, Ya enggak apa - apa lah. Lagian kan untuk kamu juga nya. Mama kamu kan ngelakuin itu biar anak nya cepat laku, emang kamu mau jadi perawan tua hi hi hi". Tari menakut - nakutin nya.
" Ya enggak lah. Lagian kan kalau jodoh enggak kemana. Ngapain juga mesti merubah diri sendiri untuk orang lain. Bukan nya kita harus menerima dan di terima dengan apa ada nya?".
" Iya sih. Nama nya juga kita usaha Rat. Sudah! Turuti saja apa kata Mama kamu. Ingat! Umur kamu sudah kepala tiga. Percuma donk, cantik - cantik tapi perawan tua ha ha ha".
"Iiih... Jangan lah gitu. Jadi takut aku pas kamu nyebut angka umur aku".
" Ha ha ha, maka nya cepat kawin".
" Iya... Di segerakan. Kalau sudah ada jodoh nya he he he. Oh ya... Gimana keadaan kamu? Aku sudah dengar semua nya dari Astri soal penyakit kamu".
" Astri cerita sama kamu?". Tari terkejut, ia enggak menyangka Astri bakal mengingkari janji nya.
" Iya. Kemarin malam aku video call' an dengan Astri karena aku mau sharing soal kerjaan. Terus aku enggak sengaja ngeliat hasil test kamu di laptop nya yang kebetulan ia lagi membuka hasil itu. Walaupun terlihat samar tapi aku paham mengenai test itu. Terus dengan terpaksa Astri menceritakan nya ke aku".
Yang tadi nya mereka ceria, kini suasana berubah menjadi sendu. Tari telah salah faham terhadap Astri. Ia bukan nya mengingkari janji, namun terpaksa menyatakan nya sebab ketahuan dengan sendiri nya.
" Iya. Dari awal, aku sudah curiga. Karena akhir - akhir ini setiap kali aku melakukan hubungan dengan Egga, aku merasakan sakit yang luar biasa tidak seperti biasa nya, tapi aku berusaha menutupi dan menahan nya demi Egga. Semakin hari gejala - gejala nya pun bermunculan, maka nya aku memutuskan untuk melakukan test itu. Dan ternyata dugaan ku benar. Walau pun masih stadium dua tapi cepat atau lambat stadium itu akan cepat meningkat".
Tari menghelakan nafas nya dan tertunduk.
"Aku belum siap Rat. Setiap kali aku melihat wajah Egga yang penuh harapan besar sama aku membuat aku enggak sanggup harus membebani nya seperti ini. Belum lagi, orang tua kami juga sangat mengharapkan cucu dari kami, hati aku semakin hancur Rat". Lirih nya, ia pun berlinang air mata karena takdir nya.
Ratna juga merasa sedih atas apa yang menimpa teman nya ini. Ratna mendekati nya, lalu memeluknya sembari mengusap punggung Tari untuk menguatkan nya.
" Kamu yang sabar ya Tar. Semua pasti ada hikmah nya. Dan kamu pasti bisa melewati semua ini. Aku akan ada buat kamu kok".
Tangisan mereka pun pecah. Ratna, Astri dan Tari memang sudah lama berteman bahkan mereka sudah menganggap satu sama lain seperti saudara sendiri. Mereka selalu saling menguatkan di saat mereka tertimpa masalah pribadi. Biar pun terkadang mereka di batasi oleh jarak namun tidak memutuskan tali pertemanan mereka bertiga.
Waktu sudah menunjukkan ke arah jam 3 sore. Tari pun pamit setelah ketemu kangen dengan teman nya itu, tak lupa juga mereka sholat bersama di mesjid dan makan siang bersama sembari mengobrol ringan.
Tari berjalan menuju ke pinggir halte yang tak jauh dari sakit. Ia menunggu taxi online yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia melirik ke jalanan dan sesekali melirik ke arah jam tangan dan ponsel nya. Ia melihat pada navigasi aplikasi di ponsel nya, ternyata supir taxi online tersebut tidak bergerak pada tempat nya sejak pemesanan nya, yaitu sejam yang lalu. Mulut nya sempat berdecip, kemudian ia membatalkan pesanan tersebut.
Ia kembali melirik ke jalanan yang di lalui banyak nya kendaraan. Tanpa sengaja ia melihat sosok kecil yang pernah ia temui. Ia melihat anak kecil yang telah menipu nya dan Almira kemarin, anak itu sedang mengamen di tengah lampu merah. Tari begitu penasaran pada anak tersebut, hingga ia memutuskan untuk menghampiri nya.
Tari meraih tangan anak tersebut. Sontak membuat nya terkejut ketika ia melihat Tari telah memegang tangan nya.
"Ampun buk... Ampun buk.... Aku janji, aku enggak akan menipu ibu lagi. Ampun buk.. Lepaskan aku buk, jangan bawa aku ke kantor polisi buk". Ternyata anak itu masih ingat dengan Tari. Ia terlihat ketakutan sembari meronta - ronta.
" Kamu ikut saya ". Tari menarik tangan anak itu dengan paksa.
" Ampun buk, saya mau di bawa kemana? Saya jangan di bawa ke kantor polisi buk. Saya cuma di suruh buk". Ia berusaha membela dirinya dan terus memohon.
" Kamu diam! Atau kamu mau benaran saya bawa kamu ke kantor polisi? ". Tari terpaksa mengancam nya agar ia bisa diam, sebab orang sekitar sudah memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1
Anak itu pun menuruti Tari dan mengikuti nya. Ia pasrah kemana pun Tari akan membawa nya. Tari membawa nya ke rumah makan yang bertepatan di depan rumah sakit. Anak itu tampak kebingungan.
" Kamu pasti belum makan kan?". Tari bertanya pada anak tersebut dan siap - siap ingin memesan makanan pada sang penjual. Kemudian anak itu pun mengangguk pelan.
" Pak nasi spesial pakai ayam nya satu porsi dan 2 gelas jus jeruk tapi yang satu jus jeruk nya tanpa gula ". Tari berbicara pada sang penjual.
" Baik buk. Makan di sini kan buk?".
" Iya pak ". Tari tersenyum. Kemudian Tari mengajak anak itu duduk di kursi yang kosong dan sedikit berjarak dengan pelanggan lain nya.
Beberapa menit kemudian pesanan Tari pun siap di hidang kan, lalu ia menyuruh anak tersebut melahap makanan itu. Tari memandangi tingkah anak itu yang malu - malu congok, walau pun ia malu kepada Tari namun ia seperti orang yang tidak makan berminggu - minggu ketika ia melahap sepiring nasi special itu.
" Nama kamu siapa? ". Tari mulai mengintrogas diri nya
" Siboy buk". Jawab nya sembari melirik Tari dengan rasa takut.
Tari mengerutkan dahi nya.
" Bukan nya kemarin ibu kamu manggil kamu Chandra ya? ".
Anak itu berhenti menyuapkan nasi nya ke dalam mulut. Ia melirik Tari.
" Itu bukan nama aku yang sebenar nya, terus yang kemarin itu juga bukan ibu aku. Aku kerja sama dengan dia untuk menipu orang - orang. Aku di bayar dengan makan siang dan makan malam sama dia ".
Tari sempat tercengang dengan kejujuran anak ini.
" Terus keluarga kamu dimana?".
" Aku enggak punya. Sejak kecil aku sudah di buang di depan panti asuhan yang ada di sebelah rumah sakit itu ". Ia menunjukkan ke arah rumah sakit milik mertua nya. Ia pun menoleh.
" Terus kalau kamu sudah tinggal di panti asuhan, kenapa kamu jadi seperti ini? Menipu banyak orang dan mengamen mencari duit? Bukan nya di panti asuhan sudah punya fasilitas nya? Apa kamu memang di suruh sama pihak panti asuhan untuk melakukan ini?". Tari semakin penasaran dengan kisah Siboy, anak berusia 8 tahun dan hidup tanpa keluarga.
" Enggak. Aku sudah tidak tinggal di panti asuhan itu karena aku di usir, aku di tuduh mencuri duit tabungan teman sekamar aku maka nya mereka mengusir aku dan aku berusaha mencari duit untuk aku makan sehari - hari ". Lirih nya.
Tari mulai simpatik dan hati nya terenyuh dengan kisah pilu Siboy. Tari yakin bahwa Siboy tidak mengarang cerita kepada nya.
Tiba - tiba nada dering dari ponsel Tari berbunyi, ia segera mengangkat panggilan itu.
" Waalaikumussalam Beib. Iya ini aku mau pulang kok, tadi aku enggak dapat terus taxi online nya, sekali nya dapat malah enggak jalan - jalan jadi aku cancel deh. Enggak usah beib, ini aku sudah pesan lagi kok taxi online nya. Iya. Iya beib. Iya waalaikumussalam ". Ternyata panggilan tersebut dari sang suami alias Egga.
Tari kembali beralih ke arah Siboy, ia melihat Siboy belum juga siap menghabiskan makanan nya. Tari melirik jam tangan nya yang sudah semakin sore, di tambah lagi Egga yang sudah menunggu diri nya di rumah.
" Mmm... Gini.. Saya enggak bisa nemeni kamu sampai selesai soal nya saya sudah di telpon sama suami saya untuk pulang. Jadi, kalau saya ninggalin kamu sendirian di sini enggak apa - apa kan? Tapi kamu tenang saja, saya yang akan bayar makanan kamu. Dan kamu juga boleh pesan untuk makan malam kamu di sini ".
Siboy melirik Tari kemudian mengangguk pelan
" Ya sudah, saya tinggal ya?". Tari pun beranjak lalu menghampiri kasir.
" Pak berapa pesanan saya yang tadi? Terus sekalian kalau saya minta tolong ke bapak untuk menyiapkan setiap makan siang dan makan malam anak itu setiap hari nya. Ini uang nya untuk sebulan". Tari menyodorkan beberapa lembar uang seratus ribuan kepada sang kasir yang kebetulan pemilik rumah makan itu.
" Baik bu. Oh ya ibu kok baik kali sama pengamen itu? Hati - hati lho buk, nanti bisa - bisa dia melunjak terus berbuat modus sama ibu". Bapak pemilik rumah makan itu memperingati Tari.
Tari hanya tersenyum.
" Ya sudah pak. Tolong pastikan makan siang dan makan malam anak itu ya? Saya dokter di rumah sakit itu, kemungkinan saya akan memantau nya ".
Bapak - bapak paruh baya itu menoleh ke rumah sakit yang kebetulan pihak rumah sakit mengambil catering makanan para pegawai rumah sakit termasuk para dokter. Beliau sedikit tertegun menatap Tari.
" Baik buk. Saya akan selalu pasti kan anak itu makan di sini setiap hari nya he he he".
__ADS_1
" Terimakasih pak. Saya permisi dulu". Tari tersenyum dan berjalan keluar rumah makan itu.
Bapak itu menggaruk kepala nya sembari melihat Siboy, pengamen yang sering ia usir ketika Siboy ingin mengamen di tempat nya. Ia merasa bingung serta penasaran, kenapa seorang dokter seperti Tari begitu perhatian dengan nya.