Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 41 #S3


__ADS_3

"Sayang...".


" Hmm?".


Eggy mendekati Almira yang sedang mengambil pakaiannya untuk berangkat kerja, namun secepat kilat ia menjauh dari Eggy.


"Jangan dekat - dekat, kalau mau ngomong, ngomong saja, enggak usah pakai dekat - dekat".


" Hufft. Iya iya. Ini Suam jauh - jauh". Eggy pun menurutinya lalu duduk kembali di atas tempat tidur.


"Oh ya, Suam mau cerita ke Ist kalau si Omen minta Suam untuk balik lagi ikutan photo shoot seperti dulu dan kemarin Suam ke studio jumpain Omen ehh enggak tahunya sampai di sana, Suam langsung di kenali sama founder brand xxx, terus dia meminta Suam untuk menjadi brand ambassador pada brand nya itu".


Sontak Almira membalikkan badannya melihat ke arah Eggy.


" Terus Suam terima?".


"Belum. Awalnya Suam mau mempertimbangkannya lalu meminta izin sama Ist, di bolehin atau enggak. Tapi setelah Suam mengobrol dengannya membuat Suam jadi mengurungkan niat Suam dan enggak mau untuk kerja sama dengan produk brand miliknya".


" Kenapa? Apa mereka buat perjanjian yang menentang kerjaan Suam ya?".


"Bukan itu, kami juga belum mengobrol sampai ke situ. Yang bikin Suam enggak mau itu karena dia orang nya sedikit arogan terus sepertinya dia orangnya sombong".


Tanpa sadar Almira menghampirinya dengan memegang pakaian Eggy di tangannya.


" Suam enggak boleh su'udzon kayak gitu. Enggak baik. Kalau memang Suam tidak mau ya sudah, tapi jangan sampai berprasangka buruk pada orang lain".


"Hmm iya Ist. Oh ya.. Kalau misal Suam terima tawarannya, kira - kira Ist ngizinin enggak?".


" Hmm... Tergantung. Kalau Suam photo shootnya enggak sama model - model cewek Ist bakalan ngizini, terus sama satu lagi, tergantung bayarannya he he he". Almira menyengir dengan matanya yang berbinar - binar.


Eggy menepuk jidatnya.


"Dasar binik matrek he he he".


" Ist kan matrek nya cuma sama Suam doank bukan sama cowok lain".


"Ooopp.. Ngomong apa itu, enggak ada. Cukup Suam enggak ada orang lain. Jangan sebut - sebut kata cowok lain. Okay?".


" Iyaaaaaa makanya jangan suka sering bilang Ist matrek hufft".


"Huuffft haafft huffft... Nafas nya nih masuk ke hidung Suam. Apa lagi ini, apa ini dekat - dekat? Tadi di suruhnya lakiknya jauh - jauhin dia ehh ini malah dia yang dekat - dekat". Eggy menyadari Almira lalu mendorong - dorong pelan tubuh Almira.


Dengan spontan Almira menjauh lalu melemparkan pakaian Eggy ke wajahnya.


"Iiiih... Ya ALLAH enggak sopan kali lah binik ku ini, masa pakaian lakiknya main di campak - campak gitu ngasi ke lakiknya". Eggy mendelikkan matanya pada Almira seolah - olah ia marah.


" Ya maaf, abisnya Suam dorong - dorong Ist kayak tadi. Hmm ya sudah, Suam siap - siap saja dulu, Ist mau turun ke bawah mau nengok sarapannya sudah di siapkan atau belum sama Kak Umi".


"Hmm...". Eggy tidak meliriknya sama sekali.


" Sudah, enggak usah ngambek kayak gitu". Almira membalikkan badannya setelah ia melihat raut wajah Eggy yang cemberut. Ketika ia membuka pintu, secara tiba - tiba Eggy memeluknya dari belakang lalu menciumnya.


"I love you". Ucapnya pada telinga Almira.


Sontak membuat Almira terkejut lalu ngacir keluar kamar meninggalkan Eggy di dalam kamar, ia terbahak karena tingkah aneh istrinya.


.


.


Eggy mengangkat ponselnya ketika ia melihat Omen menelponnya di tengah kesibukannya.


"Hmm Assalamualaikum. Ada apa?".


Dari tempat lain.


" Gimana? Sudah ada keputusan kau soal kerja sama kemarin?".


"Kau yaa, orang ngucapin salam, bukan nya di jawab malah nyerobot saja kau".


"He he he ya maaf. Waalaikumsalam. Ya sudah jawab pertanyaan aku tadi, gimana?".


"Masih belum. Soalnya aku belum tahu binik aku ngizinin atau enggak nya".


Meski Eggy sedang menerima telpon dari Omen namun ia masih tetap fokus dengan dokumen - dokumen yang bergeletakan di atas mejanya.


" Jiaaah... Tapi kau sudah ceritain kan sama Almira soal kemarin?".


"Sudah. Tapi aku nya yang masih berat kalau di izinin sama Almira nantinya".


" Berat kenapa?".


"Sudah lah, nanti saja kita bicarain nya, aku lagi banyak kerjaan ini. Nanti bersalahan pulak aku ngisi dokumen pasien - pasien aku".


" Iya iya. Nanti kabarin aku kalau kau sudah siap kerjanya, biar aku datangi kau langsung ke tempat kau".


"Hmmmp...".


" Ya sudah.. Assalamualaikum".


"Waalaikumussalam".


Tok.. Tok.. Tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari seseorang. Tanpa menoleh ke arah pintu, Eggy mengizinkan orang tersebut untuk masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


" Permisi Dok. Ini calon asisten dokter yang akan mengikuti wawancara hari ini". Seorang staf wanita di rumah sakit nya menunjukkan seorang laki - laki yang berbadan tegap tinggi, berkulit sawo matang serta wajah yang bisa terbilang tampan.


Eggy mengangkat wajah nya untuk melihat keduanya terutama pada calon asistennya itu.


"Oh... Iya. Ya sudah terimakasih, kamu boleh keluar. Dan kamu silahkan duduk dulu, saya harus menyelesaikan pekerjaan saya sebentar".


Staf itu pun keluar dari ruangan, sedang kan calon asisten Eggy duduk seperti yang di pinta Eggy. Mata laki - laki tersebut begitu liar melirik seisi ruangan Eggy yang terlihat seperti kamar sendiri, tak seperti ruangan dokter biasanya, ini seperti kamar pribadi yang begitu nyaman. Sesekali ia melirik Eggy yang masih fokus tanpa menghiraukan dirinya.


"Kamu mau minum apa?".


" Ha?". Ia merasa kikuk karena tawaran Eggy yang mengejutkannya.


"Eng.. Enggak usah dok. Saya enggak haus kok he he he".


"Kamu jangan malu - malu. Kalau memang mau minum ya sudah silahkan kamu mau minum apa, biar saya pesankan sama ob nya". Eggy melirik nya lalu menutup dokumen nya.


" He he he, beneran enggak usah dok. Saya enggak haus. Lagian saya bawa air mineral kok he he he". Ia menunjukkan botol air yang ia letak di sebelah kakinya.


"Hmm.. Ya sudah kalau gitu". Eggy bangkit dari duduknya lalu berjalan menuju lemari dokumen - dokumen penting nya dan duduk kembali.


"Nama kamu siapa?".


" Nama saya Agung Prawira Siregar dok". Dengan lantang ia menyebutkan namanya.


"Kamu tahu saya lagi butuh asisten pribadi dari siapa?". Kali ini Eggy fokus pada laki - laki yang ada di hadapannya.


"Saya mengetahui informasi ini dari Mbak Aulia mantan asisten Dokter".


" Ouhmmm... Kamu siapanya Aulia?". Eggy mulai membuka berkas lamaran dan curriculum vitae (cv) laki - laki tersebut.


Agung menjawab pertanyaan Eggy.


"Saya... Saya teman nya Mbak Aulia Dok".


Eggy melirik wajahnya yang menyimpan sesuatu ketika ia menjawab pertanyaannya.


" Hmm... Baik lah karena ini adalah interview kamu yang terakhir, terus seharusnya istri saya juga ikut nge interview kamu, tapi karena istri saya lagi kurang sehat jadi mau enggak mau saya sendiri yang harus ngasi tahu ke kamu. Mulai besok kamu harus stand by di rumah sakit satu jam sebelum saya sampai. Nanti staf yang tadi akan memberikan kamu pekerjaan serta jadwal saya yang harus kamu pelajari".


"Baik dok".


" Ingat! Saya enggak suka dengan orang yang enggak sigap karena saya berada di rumah sakit bisa 24 jam. Tapi bukan berarti saya tidak memberikan kamu istirahat. Kalau kamu merasa bingung, kamu bisa tanya - tanya pada Aulia bagaimana selama ini dia menjadi asisten saya".


Agung mengangguk pelan sembari tersenyum.


"Baik Dok. Saya mengerti. Terimakasih banyak ya Dok".


" Iya sama - sama. Ya sudah kamu sudah boleh keluar dan temui staf saya yang membawa kamu ke sini". Eggy berdiri dari duduk dan Agung pun menyusul lalu mengulurkan tangan nya pada Eggy.


"Sekali lagi terimakasih Dok".


Eggy melirik jam tangan nya, ia melihat waktu menunjukkan pukul 3. Eggy bergegas membereskan barang - barang nya lalu ke luar dari ruangannya.


"Bang Eggy".


Ketika Eggy menyusuri ruang tunggu, ia mendengar seorang wanita memanggil dirinya. Eggy pun menoleh ke pusat suara yang tepat di belakangnya. Ia melihat sosok Lana tersenyum melangkah menghampiri dirinya.


" Lana?". Eggy mengerutkan dahinya lalu membalas senyumannya.


"Apa kabar Bang?". Seperti biasa, Lana bersikap sok akrab dengannya.


" Alhamdulillah baik. Kamu ngapain ke sini? Lagi jenguk seseorang atau kamu yang berobat?".


"Aku yang berobat Bang, kebetulan aku lagi nungguin obatnya he he he".


" Oh".


"Oh ya. Apa kabar Kak Rara bang? Sehat?".


" Alhamdulillah sehat kok".


"Hmm... Jadi kangen pengen ketemu sama Kak Rara, tapi payah, jadwal aku pun banyak hufft".


" He he he. Yang sabar, kalau memang berjodoh kalian pasti ketemu kok. Tapi kalau memang lagi ada waktu senggang datang lah main - main ke rumah he he he".


"In Sya ALLAH Bang, kalau aku ada waktu pasti main ke rumah kalian kok".


" Hmm.. Oh ya, aku enggak bisa lama - lama ini soal nya aku sudah di tunggu sama orang. Enggak apa - apakan aku tinggal duluan?".


"Oh, iya enggak apa - apa kok bang he he he".


"Ya sudah, aku tinggal duluan ya?". Eggy melangkahkan kaki nya meninggalkan Lana, namun....


" Oh iya lupa Bang. Si Ari masih berkomunikasi lagi enggak sama Kak Rara?".


Langkah kaki Eggy terhenti mendengar pertanyaan Lana, ia pun membalikkan badannya melihat Lana.


"Kenapa kamu bertanya nya seperti itu?". Eggy mengerutkan keningnya.


" Ya... Aku pikir setelah kami bercerai, Si Ari bakalan datang ke Kak Rara".


"Kenapa kamu berpikir si Ari akan ngedatangi Almira? Bukan kah tidak ada hubungannya dengan perceraian kalian". Keingintahuannya semakin memuncak.


" Di bilang ada hubungannya pasti ada, tapi di bilang enggak ada hubungannya juga iya".


"Maksudnya?".

__ADS_1


Karena rasa penasarannya, ia mengurungkan niatnya untuk menemui Omen. Ia lebih memilih mengobrol dengan Lana ketimbang menemui Omen. Mereka akhirnya berakhir di caffe yang tak jauh dari rumah sakit hanya untuk menghilangkan rasa penasarannya dengan cerita Lana.


"Maksud kamu apa, bilang kalau perceraian kalian ada hubungannya dengan Almira?". Eggy memburu dirinya agar segera mendapatkan jawaban dari Lana.


"Sebenarnya ini bukan kesalahan dari Kak Rara, tapi jujur perceraian kami memang karena Kak Rara. Aku pikir setelah aku menjadi istri nya Ari, Ari bakalan mencintai aku. Tapi sayangnya enggak. Aku merasakan kalau Ari itu hanya menjadikan ku istrinya bukan menjadi wanita yang ia cintai. Dia masih mencintai Kak Rara. Bahkan dia sering kali salah menyebutkan nama aku menjadi Kak Rara".


Darah Eggy berdesir mendengarkan Lana dengan seksama tak sedikit pun ia mencelah pembicaraan Lana.


"Awalnya aku masih bisa bertahan menjalani hubungan aku dengannya, tapi lama kelamaan aku jadi merasa hampa, aku sama sekali merasa enggak bahagia walau pun aku sudah menjadi istrinya. Aku lebih sering menghabiskan waktu aku di luar rumah bersama teman - teman aku, aku merasa enggak nyaman dan sudah tidak ada lagi ketentraman dalam hati aku ketika aku melihatnya. Makanya aku memutuskan untuk meminta cerai dengannya dan membebaskannya dari hubungan yang penuh dengan tekanan batin".


"Kamu yang sabar ya. Semua ujian ini pasti ada hasil yang akan membawa kamu menuju kebahagiaan kamu. Mungkin kebahagiaan kamu bukan bersama Ari, bisa jadi bersama dengan orang lain". Eggy tersenyum menyemangatinya.


" Terimakasih banyak ya Bang sudah dengerin curhatan aku he he he".


"Iya, enggak masalah he he he".


" Oh ya, aku juga mau minta maaf sama abang terutama sama Kak Rara kalau selama ini aku sering mengutuk kalian atas perceraian kami he he he. Dan aku juga mau ngingetin ke abang, jangan sekali pun abang lengah sama Kak Rara sebab Ari akan mengambil celah untuk mendekati Kak Rara. Aku bukannya menakuti abang, tapi ini memang kenyataannya. Ari benar - benar ingin mendapatkan Kak Rara kembali".


Jantung Eggy berdegup kencang karena peringatan dari Lana. Dia juga tidak sepenuhnya mempercayai ucapan Lana, namun begitu ia harus tetap berhati - hati.


Ucapan Lana masih terngiang di telinganya, sehingga ia tiba di rumah pun ia tidak fokus ketika Ghifari bertanya pada nya.


Almira memperhatikan Eggy sejak ia pulang, Almira merasakan keanehan dari suami nya itu.


Almira melihat Eggy sedang melamun di balkon kamarnya. Ia menghampirinya tanpa suara lalu memeluk tubuh Eggy dari belakang dan mengejutkannya.


"Kenapa tiba - tiba meluk Suam gini? Sudah enggak mual lagi kalau dekat - dekat sama Suam?". Eggy membalikkan badannya agar ia bisa melihat wajah Almira. Mereka pun saling melingkarkan tangannya ke pinggang mereka satu sama lain.


" Masih. Tapi entah kenapa tiba - tiba Ist kangen saja sama Suam, pengen di manja he he he".


Eggy menarik hidung Almra dengan gemes.


"Ummm.. Awas kalau sampai muntah ya karena meluk - meluk Suam. Jangan sampai nyalahin Suam lagi".


" He he he iyaaaa". Almira menunjukkan semua giginya yang putih alias nyengir.


"Suam rindu sama Ist". Eggy mencium dahinya dan memeluknya dengan erat.


"Suam lagi banyak kerjaan ya di rumah sakit? Atau masih kepikiran soal tawaran yang jadi brand ambassador itu?".


" Enggak kok sayang. Suam enggak lagi mikirin keduanya kok". Eggy menyelipkan rambut Almira yang terurai ke telinganya.


"Jadi Suam lagi mikirin apa, karena sejak Suam pulang, Ist perhatiin Suam itu banyak melamun".


" Enggak ada kok sayang. Suam cuma capek saja, apa lagi beberapa hari ini kerjaan Suam yang ngehandle Suam sendiri karena belum ada penggantinya Aulia".


"Mmm... Jadi sampai sekarang belum dapat juga penggantinya Aulia?".


" Sudah. Mulai besok dia kerjanya".


"Ohmm... Gimana orang nya Suam?".


" Ya enggak gimana - gimana".


"Ya maksud Ist, asisten baru Suam itu gimana? Cocok enggak sesuai standart nya Suam, terus orang nya cakep atau enggak".


Eggy menatap Almira dengan mata tajam.


"Mentang - mentang asistennya Suam laki - laki, langsung di tanya cakep atau enggak nya hiiist".


" Lho memangnya Ist salah nanya kayak gitu?".


"Huuuffft... Untung saja Ist tadi enggak bisa ikut nge interview dia. Kalau enggak hmmm, pasti sudah meletik (genit) ini Ist nya".


"Iiiss apa pulak gitu".


" Apa pulak, apa pulak. Sejak Ist hamil, hormon Ist itu berubah - ubah. Malah Ist itu keseringan genitnya". Eggy memplototinnya.


"Mana ada. Mana ada Ist genit - genit. Sama Suam pun Ist enggak ada genit - genit kok".


"Iya sama Suam memang enggak ada genit - genit. Tapi Ist sering genit itu sama aktor drakor yang sering Ist tonton itu, siapa nama nya? Lee mihuu?".


" Lee min hoo".


"Haaa itu... Enggak ada tuh genit - genit sama dia? Sampai - sampai Ist sering buat status foto - fotonya, apa enggak genit tuh namanya".


" Itu kan beda Suam. Masa gitu saja di bilang genit? Lagian kan Ist bukan nya langsung ke orang nya huufft".


"Enggak ada beda nya. Sama saja itu. Pokoknya Ist enggak boleh lagi update status foto cowok lain selain Suam. Kalau enggak, setiap hari Suam ajak Ist begadang".


" Hmmm iyaaa. Sama artis saja kok cemburu, gimana kalau sama laki - laki yang beneran mau sama Ist ya? Haiiih".


"Kalau sampai itu terjadi, Suam enggak akan tinggal diam. Dan Suam pastikan laki - laki itu tidak akan berani mendekati Ist". Kali ini nada bicara Eggy terdengar serius, tidak seperti sebelumnya yang masih terdengar candaannya.


Almira terdiam menatap wajah Eggy. Ia menyadari bahwa Eggy memang sedang menyimpan sesuatu di pikirannya namun enggan untuk memberitahu Almira.


#Ya...!


Sungguh mudah mendapatkan apa yang kita inginkan.


Namun begitu sulit mempertahankan apa yang kita dapatkan.


#Ke khawatiran ku takkan ku biarkan menjadi beban di pundak mu.


Dan ke khawatiran ku juga takkan membuat ku menjadi lengah dengan mu.

__ADS_1


__ADS_2