
Flash Back...
"Dok... Gimana kondisi Egga pada saat ini?". Ratna menanyakan kondisi Egga pada Eggy
Suasana berubah menjadi melo setiap kali membahas kondisi Egga.
" Untuk saat ini belum ada kemajuan Dok. Kemungkinan secepatnya aku dan Papa akan mencari pendonor jantung yang cocok untuk Bang Egga. Karena mau bagaimana pun usaha kita, kalau jantung Bang Egga tidak ada pencakokkan jantung sama sekali, usaha kita selama ini akan menjadi sia - sia. Itu sama saja kita hanya memperlambat waktu Bang Egga bukan berusaha untuk membuat Bang Egga sadar".
Ratna semakin terpukul mendengar kondisi Egga yang tidak memberikan tanda - tanda untuk ia kembali pada mereka.
"Ya sudah Om, pakai jantung Tara saja. Tarok (letak kan) saja jantung Tara ke dalam tubuh Papa". Begitu berani nya ia memberikan jantung serta nyawa nya untuk Egga tanpa tahu resiko yang ia dapatkan.
Almira dan Ratna menitihkan air mata nya mendengarkan ia rela berkorban untuk Egga.
...
Tanpa pikir panjang Ratna mendatangi dokter specialis jantung yang ada di rumah sakit itu. Selain Eggy, Dokter tersebut adalah Dokter yang menangani Egga juga dan salah satu dokter specialis jantung terbaik di Indonesia. Ratna berkonsultasi pada Dokter tersebut yang bernama Dokter Richard.
"Apa kamu yakin sama keputusan kamu ini? Kamu kan tahu sendiri resiko besar yang akan terjadi". Dokter Richard tidak begitu yakin pada Ratna.
Ratna /" Saya yakin Dok. Saya akan menerima apa pun resikonya".
Dokter Richard terdiam sejenak melihat raut wajah Ratna yang begitu yakin lalu penasaran padanya /"Kenapa kamu melakukan ini semua?".
Ratna /"Karena saya sangat mencintainya Dok. Jangan kan untuk menukarkan jantung saya bahkan saya rela memberikan nyawa saya untuknya". Jawabnya dengan tenang dan membuat siapa pun yang mendengarnya menjadi merinding serta terharu.
Bagaimana tidak. Ratna rela menukarkan jantung miliknya dengan jantung milik Egga yang sudah hampir tidak berfungsi lagi. Ia tidak peduli resiko yang ia dapatkan nantinya, bagi nya yang terpenting adalah menyelamatkan Egga.
...
#Daddy angkat telpon. Daddy angkat telpon...
Di tengah malam ponsel Eggy berdering di saat mereka sudah tertidur pulas dan membuat Eggy terbangun sembari meraba ponselnya yang terletak di atas meja.
"Hmm? Assalamualaikum. Siapa ini?". Masih dalam keadaan mengantuk ia menjawab panggilan tersebut.
" Apa?". Sontak membuat Eggy terbangun dan segar bugar.
"Iya... Iya... Saya akan ke rumah sakit sekarang juga. Iya".
Eggy bergegas untuk bersiap - siap ke rumah sakit sehingga membangunkan Almira.
" Suam mau kemana tengah malam gini?". Tanyanya dengan mata yang masih kreyep - kreyep.
Eggy /"Suam mau ke rumah sakit sayang". Jawabnya sembari memakai jaketnya.
"Tengah malam gini? Memang nya ada apa? Apa ada yang gawat darurat?". Almira pun bangkit lalu duduk dengan lemas.
" Bukan ada gawat darurat Ist. Tadi Suam dapat telpon dari Dokter Richard, katanya dia sudah mendapatkan donor jantung untuk Bang Egga". Mata Eggy berbinar - binar di saat ia mengatakan berita bahagia itu.
"Alhamdulillah Ya ALLAH. Mudah - mudahan pencakokan nya cocok sama Bang Egga". Almira juga turut bersyukur sembari mengusap wajahnya yang sudah segar.
" Aamiin. Doa'in saja ya sayang mudah - mudahan di beri kemudahan sama ALLAH". Eggy mendekati Almira lalu mengelus kepala Almira.
"Aamiin".
" Ya sudah Suam berangkat ya sayang". Eggy mencium kening Almira dan siap meluncur ke rumah sakit.
Almira /"Iya Suam. Suam hati - hati di jalan".
"Iya sayang. Ya sudah. Assalamualaikum". Eggy melambaikan tangannya lalu menutup pintu kamar mereka.
" Waalaikumussalam ".
...
Kini Eggy sudah bersama dengan Dokter Richard di ruangannya. Eggy masih merasa harap - harap cemas dengan berita yang berikan oleh Dokter Richard dan enggak sabar ingin mengetahui selengkapnya.
Eggy /" Jadi gimana Dok, apa jantung milik pendonor benar - benar cocok untuk abang saya?".
Dokter Richard memberikan hasil pemeriksaan jantung sang pendonor. Secepatnya Eggy membaca hasil tersebut dengan teliti.
"Beruntungnya jantung pendonor cocok untuk Pak Egga hanya saja harapan Pak Egga untuk selamat cuma 20% dan kalau pun Pak Egga selamat kemungkinan Pak Egga enggak akan bisa seperti sebelumnya. Ya bisa di bilang kemungkinan buruknya Pak Egga akan mengalami komplikasi atau pun kelumpuhan permanent pada kakinya".
Eggy terdiam memikirkan dampak buruk yang akan terjadi pada Egga. Ia merasa gusar dan sedih memikirkan hasil dari keduanya tidak lah baik untuk Egga.
Ia memijat dahinya sembari menatap selembar kertas yang ia pegang.
"Bismillahhirrohmanirrohiim. Ya ALLAH jika ini memang yang terbaik untuk Abang ku maka berikan lah kemudahan bagi kami. Ya ALLAH hanya Engkau lah sebaik - baik nya penolong kami, hamba-Mu". Eggy memejamkan matanya sembari memanjatkan doa di dalam hatinya, air mata nya sempat mengalir ke pipinya dan secepatnya ia menghapusnya.
Eggy /" Baik Dok. Mari kita mencoba nya, dan kami akan menerima apa pun resikonya, tapi saya minta Dokter untuk tidak memberitahukan soal ini kepada keluarga saya terlebih dahulu".
Dokter Richard /"Baik Dok. Saya akan melakukan yang terbaik untuk Pak Egga dengan seluruh kemampuan saya".
Eggy /"Terimakasih banyak Dok. Oh ya! Kalau boleh tahu siapa pendonor itu?".
Dokter Richard terdiam sejenak.
"Maaf Dok, saya hanya menjalankan amanah saja, sang pendonor meminta saya untuk tidak memberitahukan identitasnya termasuk Dokter Eggy".
Eggy mengerutkan dahinya.
" Lalu sama siapa kami harus berterimakasih dan membalas semua jasanya? Lagian kan saya juga harus turun tangan dalam operasi ini, bagaimana bisa saya tidak boleh mengetahui siapa si pendonor itu".
__ADS_1
Dokter Richard /"Maaf Dok, saya hanya memenuhi permintaan si pendonor dan... Si pendonor juga meminta kalau Dokter Eggy tidak harus turun tangan dalam operasi ini. Beliau hanya mempercayai saya saja".
"Apa? Enggak bisa gitu lah Dok! Dari mana saya bisa tahu dan percaya kalau si pendonor itu benar - benar ingin menyelamatkan abang saya. Yang saya takut kan ini sebuah penipuan. Bisa - bisa abang saya akan celaka. Kalau sudah begitu siapa yang akan bertanggung jawab?". Eggy mulai terpancing emosinya sempat ia menghentakkan tangannya pada meja.
Dokter Richard /"Dokter tenang saja. Saya akan menjamin semuanya. Dan saya yakin bahwa si pendonor benar - benar tulus ingin memberikan kehidupan kembali kepada Pak Egga. Dan si pendonor tidak memiliki tujuan lain dan tidak meminta imbalan apa pun dari keluarga Dokter, beliau hanya meminta agar Pak Egga segera sembuh. Itu saja".
Eggy terdiam serta meredam emosinya. Ia sebenarnya sangat penasaran siapa sang pendonor ini, ia berpikir keras dan menebak - nebak orang - orang yang berada di sekitar mereka terutama orang - orang yang berada di sekitar Egga.
Namun ia kembali memikirkan kesembuhan Egga terlebih dahulu dan setelah itu mungkin ia akan mencari tahu siapa pendonor tersebut.
...
Eggy akhirnya memberitahu seluruh keluarganya mengenai adanya pendonor untuk Egga. Mereka begitu bahagia mendapatkan kabar tersebut.
Tak terkecuali, Eggy juga memberitahu Ratna soal itu. Ia sengaja memergoki Ratna yang duduk di samping Egga.
"Ehem... Dok". Eggy sengaja berdehem agar Ratna mengetahui kedatangannya.
Ratna pun menoleh dan tersenyum.
" Eh Dok".
Eggy /" Emm... Dok, saya mau ngasi tahu ke Dokter kalau Bang Egga sudah mendapatkan donor jantung dan In Sya ALLAH Bang Egga akan di operasi besok pagi".
Mata Ratna berkaca - kaca menahan tangisnya.
"Alhamdulillah Ya ALLAH. Mudah - mudahan proses operasi besok di beri kemudahan". Serunya.
Eggy /"Aamiin. Tapi Dokter Ratna besok akan ke sini kan menemani kami?".
Ratna tersenyum.
"In Sya ALLAH aku akan usaha'in Dok, karena kebetulan besok jadwal aku penuh seharian. Lagian kan masih ada kalian yang selalu setia menemani Egga, jadi aku enggak terlalu di perlukan kali bukan he he he".
Eggy /" Enggak boleh gitu lah Kak ngomongnya. Justru Kakak orang yang paling di butuhkan sama Bang Egga".
"Kakak?".
Eggy /" Iya! Kan Dokter Ratna akan menjadi Kakak ipar aku, jadi mulai sekarang aku akan berusaha untuk memanggil Dokter Ratna dengan panggilan Kakak he he he".
"Bisa saja Dokter Eggy ini he he he".
Ratna tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya lalu melihat ke arah Egga yang masih berbaring seperti mayat hidup.
...
Hari yang mendebarkan pun telah tiba, dimana hari itu adalah hari penentuan kehidupan dua orang insan yang sama - sama berjuang untuk bahagia bersama.
Egga di posisikan di dalam ruang operasi, lebih tepatnya di samping Ratna yang sudah berbaring di atas tempat tidur dan juga sudah mengenakan baju pasien. Ia sudah di bawa ke ruang operasi beberapa jam sebelum pihak keluarga Wijaya tiba di rumah sakit. Tak seorang pun yang mengetahuinya kecuali Dokter Richard dan asistennya.
Ratna meneteskan air matanya melihat ke sisi kirinya yang terdapat sosok Egga yang sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi.
Ratna berusaha meraih tangan Egga lalu menggenggam nya.
"Ga kamu harus kuat, kamu harus sembuh. Aku yakin kamu bisa melewati semua ini. Ya ALLAH, aku memohon pada-Mu. Tolong berikan kesembuhan pada orang yang aku cintai ini, tolong berikan ia kesempatan untuk kembali dan tolong berikan kemudahan bagi kami. Jika Engkau mengabulkan doa ku maka aku akan ikhlas melepaskan nya, aku akan pergi dari kehidupannya dan enggak akan membuatnya merasa sedih lagi. Hanya saja berikan aku waktu sampai aku melihatnya membukakan matanya kembali". Pintanya di dalam hati kemudian matanya terpejam karena tak kuasa menahan bius yang telah di suntikan oleh Dokter Richard padanya.
"Berikan kami kesempatan Ya ALLAH".
Entah kenapa di dalam bawah alam sadar mereka. Keduanya sama - sama mengingat saat - saat bahagia yang pernah mereka lewati bersama, baik pada saat berdua mau pun pada saat mereka sedang bermain dan tertawa bahagia bersama dengan Tara.
...
Proses operasi pun berjalan dengan lancar. Egga langsung di larikan ke ruangan yang berbeda agar Eggy bisa mengambil alih untuk pemeriksaan lanjutan Egga.
Sedangkan Ratna masih di tangani oleh Dokter Richard. Kondisinya mendadak kritis setelah jantung nya sudah berpindah pada tempatnya. Dokter Richard berusaha semampunya.
Qadarallah (takdir ALLAH).
Ratna mampu melewati masa kritisnya begitu cepat. Keinginan nya untuk hidup lebih lama sangat lah kuat. Kemudian Ratna di pindahkan ke ruangannya.
Ratna membuka mata nya secara perlahan, ia melihat Dokter Richard masih tetap menjaga dirinya.
"Syukur lah kamu sudah sadar Rat". Raut wajah Dokter Richard terlihat bahagia melihat Ratna begitu cepat siuman.
" Bagaimana kondisi Egga Dok?". Ia langsung menanyakan kondisi Egga ketimbang memikirkan dirinya yang masih sekarat.
Richard /"Puji Tuhan. Pak Egga baik - baik saja, operasi nya berjalan dengan lancar dan jantung kamu langsung bekerja dengan cepat di saat di letakkan pada tubuh Pak Egga. Ajaibnya kondisi Pak Egga lebih baik dari sebelumnya meski Pak Egga masih dalam keadaan koma. Semoga saja Pak Egga secepatnya bisa siuman".
Ratna sedikit bernafas lega mendengarkan kondisi Egga yang membaik.
"Saya salut dengan keberanian kamu Rat. Mungkin Tuhan sudah membantu kalian, karena jarang sekali bahkan tidak pernah sekali pun pendonor jantung bisa bertahan seperti kamu. Apa lagi yang ada di dalam tubuh kamu itu terdapat jantung yang tidak sehat, jantung yang seharusnya tidak berfungsi lagi. Ternyata keajaiban Tuhan itu nyata dan saya menyaksikan nya sendiri. Ini pengalaman pertama buat saya. Saya saja sampai merinding he he he". Dokter Richard memamerkan bulu kuduk nya yang sudah berdiri sejak tadi. Ratna hanya bisa tersenyum melihatnya.
"Tapi Rat...".
Ratna melihat Dokter Richard dan menunggu Dokter Richard untuk melanjutkan ucapannya.
"Tapi sekarang masalah nya ada di kamu. Kamu tidak bisa hidup dengan jantung itu selamanya karena jantung Pak Egga ternyata lebih buruk dari yang kita kira dan itu sangat membahayakan nyawa kamu. Kamu harus mendapatkan jantung baru itu sebelum jantung itu menggerogoti seluruh organ tubuh kamu. Dan secepatnya saya akan mencarikan donor jantung untuk diri kamu. Saya pasti akan menolong kamu Rat". Pernyataan Dokter Richard membuat Ratna hanya bisa pasrah dan ikhlas.
Dengan perlahan ia meletakkan tangannya pada dadanya, ia merasakan detakan jantung itu berdetak begitu lemah dan sesekali ia merasakan nyeri pada dadanya.
"Aku harus kuat. Aku harus kuat paling tidak sampai aku melihatnya membukakan matanya". Batinnya berkata.
...
__ADS_1
Hanya 1 hari Ratna di rawat di rumah sakit, ia terpaksa kembali ke rumahnya agar tidak di curigai oleh siapa pun terutama Tara. Bahkan Dokter Richard melarang keras atas keputusan nya itu namun Ratna tetap bersikeras untuk pulang meski ia harus menahan rasa sakit yang luar biasa pada jantungnya.
" Mama sudah pulang?". Tara mengagetkannya ketika ia melihat Ratna berjalan dengan mengendap - endap masuk ke dalam rumahnya.
Ratna menoleh lalu tersenyum pada Tara.
"Eh iya sayang. Kamu sudah bangun ternyata". Ia mengusap kepala Tara.
" Iya Ma. Muka Mama kok pucat sekali? Mama enggak tidur ya semalaman?". Tara melihat wajah Ratna yang begitu pucat dan lemas.
Ratna menyembunyikan tangan nya agar Tara tidak melihat dan bertanya soal perban bekas impusnya/"Iya nih. Mungkin Mama kecapekan karena banyak sekali pasien yang harus Mama tangani he he he".
Tara /"Emm... Ya sudah Mama cepat istirahat biar Mama tidak semakin lemas dan sakit. Nanti Tara bawakan sarapan ke kamar Mama ya".
Ratna /"Enggak usah sayang, nanti Mama saja yang ngambil sendiri sarapannya. Kalau kamu mau sarapan, sarapan saja duluan sama Oma. Mama mau istirahat dulu di kamar biar nanti siang kita ke rumah sakit jenguk Papa".
Tara menganggukkan kepala nya.
"Iya Ma".
Ratna pun meninggalkan Tara, ia masuk ke dalam kamarnya secepatnya karena ia sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya lebih lama lagi, jika terlambat mungkin ia akan pingsan di hadapan anak angkatnya itu.
Dengan perlahan Ratna menggapai tempat tidurnya bahkan seluruh tubuhnya bergetar cukup hebat.
" Aku harus kuat. Aku harus kuat". Ucapnya sembari meneteskan air matanya.
...
Meski masih butuh istirahat yang cukup lama bahkan sangat lama, Ratna memaksakan dirinya untuk membawa Tara untuk menemui Egga sesuai dengan janjinya.
Ratna memandangi wajah Egga, sempat ia meneteskan air matanya lalu segera menyekanya sembari menahan rasa sakit pada jantungnya
Adzan zuhur berkumandang di mesjid rumah sakit itu, dengan bergantian mereka segera melaksanakan sholat zuhur agar mereka juga bergantian menemani Egga.
Tara mendekati Egga usai ia mengerjakan sholatnya, sempat ia mendoakan kesembuhan Egga.
Mata Tara terbuka lebar ketika ia melihat Egga menggerak - gerakan jarinya.
"Ma... Tangan Papa bergerak - gerak Ma. Cepat lihat Ma". Tara memanggil Ratna dengan semangat.
" Ya ALLAH....". Secepat kilat Ratna mendekati Egga dan menyaksikan Egga sedang menggerak - gerakan jari nya. Ratna menangis bahagia.
"Alhamdulillah Ya ALLAH.....!". Ratna segera memencet tombol darurat untuk memanggil Eggy.
" Ya ALLAH sayang". Ratna tidak berani memeriksa kondisi Egga dengan sendiri, ia harus menunggu Eggy segera ke kamar Egga.
Tak butuh waktu yang lama Eggy dan tim medis lainnya pun tiba dengan cemas.
"Ada apa Dok? Apa ada yang salah dengan Bang Egga?". Eggy mendadak panik karena tiba - tiba ada panggilan darurat dari kamar inap abang nya lalu melihat Ratna dan Tara menangis.
"Egga menggerakkan jari - jari nya Dok hu hu hu". Ratna menunjuk kan pada tangan Egga yang masih bergerak.
" Alhamdulillah Ya ALLAH". Eggy melakukan sujud syukur sambil menangis bahagia akhirnya Egga bebas dari masa koma nya.
Eggy secepat nya memeriksa kondisi Egga lebih lanjut, semua kondisi tubuh Egga baik - baik saja. Bahkan Egga juga merespon di saat Eggy menyenterkan mata nya dengan senter kecil khusus memeriksa mata. Bola mata nya mengikuti arah cahaya senter tersebut bahkan merespon nya dengan cepat.
Ia langsung menghubungi orang tua nya serta istrinya.
Mereka sangat bahagia mendengar kabar itu dan langsung bergegas menuju ke rumah sakit.
Mereka menangis bahagia karena Egga pasti akan sembuh. Mereka mendekati Egga namun Eggy melarang nya agar tidak mengganggu sistem saraf Egga yang baru saja bekerja kembali.
"Tar... Tari... Jangan tinggalkan aku lagi, tolong jangan tinggalin aku Tar". Mereka semakin terkejut mendengar Egga bergumam semakin lama semakin jelas. Sepertinya Egga sedang bermimpi bertemu dengan Tari.
Dada Ratna tiba - tiba terasa nyeri, perlahan ia berjalan mundur untuk keluar dari kamar itu.
"Aku harus kuat, aku harus kuat. Bertahan lah Rat, sedikit lagi. Kamu pasti bisa". Ia berkata dalam hati nya sembari memegang dadanya.
" Pa... Papa... Pa Tari ninggalin Egga lagi Pa... Papa... Tari mau kemana Pa... Papa mau bawa Egga kemana Paaaa ... Papa... Haaaah...". Egga tersentak hingga tubuh nya terangkat. Nafas nya seperti di tarik begitu menyesakkan.
"ALLAHHU AKBAR......". Mereka berseru secara serentak sambil menangis bahagia lalu Bu Hanna spontan memeluknya.
" Ya ALLAH Ga.... Alhamdulillah Ya ALLAH Akhirnya kamu bangun juga nak hu hu hu". Bu Hanna mengusap - ngusap wajah Egga.
Air mata Ratna semakin mengalir deras sambil tersenyum bahagia akhirnya ia melihat orang yang ia cintai sudah membukakan matanya. Dengan perlahan ia melangkah keluar dari kamar itu.
Ratna terduduk lemas sembari menangis bahagia. Ingin sekali ia berada di dekat lelaki yang ia cintai itu lalu memeluknya dengan erat, namun bagi nya itu tidak mungkin, mengingat kondisinya yang tidak memungkinkan serta mengingat orang tua Egga sangat tidak menyukai diri nya. Ratna lebih baik menjauh, kondisinya semakin lemah, bagi nya melihat Egga sudah sadar saja sudah cukup membuatnya menjadi manusia yang paling bahagia di dunia dan ia juga sudah memenuhi keinginannya.
"Ma... Mama kok keluar dari kamar Papa? Mama masih kurang enak badan ya? Wajah Mama semakin pucat". Tara mengejutkan Ratna. Ternyata ia menyusul Ratna keluar ketika ia menyadari bahwa Ratna sudah tidak berada di dalam kamar.
Ratna menoleh pada nya lalu menyeka air matanya.
" Enggak apa - apa sayang. Mama tiba - tiba mual saja maka nya Mama keluar, mungkin Mama kelaparan he he he. Eh kamu kok keluar? Kata nya kamu sudah rindu sekali sama Papa. Sekarang Papa sudah bangun kamu malah keluar, sana gih masuk, nanti Papa nyari'in kamu lho".
Tara /"Mama enggak masuk ke dalam juga?".
" Nanti saja sayang. Kamu saja yang masuk duluan nanti Mama menyusul". Ratna terpaksa mendorong tubuh Tara dengan pelan karena menyuruhnya masuk kembali ke dalam kamar. Tara pun menurutinya lalu masuk ke dalam kamar.
Sebelum Tara kembali memanggilnya dengan segera ia beranjak dari tempat itu dan bersembunyi dari Tara ketika ia melihat Tara sedang mencarinya.
"Maafin Mama. Kamu tidak bisa melihat Mama seperti ini. Mama sudah tidak bisa lagi menjaga kamu. Tara harus menjadi anak yang pintar yang selalu menjaga Papa dan tetap lah berada di sisi Papa". Lirihnya dalam hati sembari mengintip Tara yang sedang sibuk mencarinya.
Kemudian ia pergi meninggalkan rumah sakit dengan tergopoh - gopoh setelah ia melihat Tara kembali ke dalam kamar Egga dengan rasa kecewa.
__ADS_1