
"Om... Papa dimana?". Mereka terkejut dengan kedatangan Tara bersama dengan Bu Diah, ia masih merasa bingung kenapa mendadak ia di suruh ke rumah sakit sedangkan ia tidak melihat sosok Egga di antara mereka.
Mereka memandangnya dengan lirih. Eggy pun memutuskan untuk mengajak mereka masuk ke suatu ruangan.
"Papa".
Tara terkejut dan langsung berlari ketika ia melihat Egga berbaring dan tak berdaya dengan alat - alat medis yang menempel pada tubuhnya.
Egga di diagnosa koma permanent di karena kan obeng tersebut tembus menusuk hingga ke jantung nya dan membuat jantung Egga menjadi rusak parah. Beruntung nya nyawa Egga masih terselamatkan, itu karena keinginan nya untuk tetap hidup lebih kuat (alias memang belum ajalnya), hanya saja ia harus menghabisi sisa hidup nya dengan berbaring tak berdaya bagaikan mayat hidup.
Ratna yang sejak tadi menemaninya, ia langsung menyingkir dari sisi Egga agar yang lain bisa melihat Egga dengan dekat.
"Pa... Maafin Tara Pa. Gara - gara Tara Papa jadi seperti ini hu hu hu. Harusnya biarin saja Tara di jalanan, Papa enggak usah melindungi Tara dari mereka hu hu hu hu. Harusnya dari awal Tara enggak usah jadi anak angkat Papa, Mama Tari dan Mama Ratna hu hu hu, harus nya kita enggak usah ketemu biar Papa enggak akan seperti ini hu hu hu". Tara meratap dan menyalahkan dirinya sendiri. Ia benar - benar terpukul melihat kondisi Egga.
Tangisan semua orang yang ada di ruangan ICU semakin pecah. Eggy mendekati Tara.
"Tara... Yuk ikut Om sama Tante Almira. Biarin Papa istirahat bentar ya sayang".
Eggy dan Almira membawanya keluar ruangan agar menenangkan Tara, dan ia pun menuruti mereka.
Tak kalah sedihnya dari Tara. Pak Wijaya dan Bu Hanna mendekati Egga sembari mengusap - ngusap kepalanya.
"Nak kenapa kamu jadi seperti ini? Hu hu hu". Bu Hanna mengusap - ngusap wajah Egga yang terlihat pucat
" Maafin Papa Nak. Kalau saja waktu itu Papa langsung mau mendengarkan kamu nak. Mungkin tidak terjadi seperti ini hu hu hu". Pak Wijaya masih menyalahkan dirinya.
Perlahan Ratna memberanikan dirinya untuk mendekati keduanya.
"Sudah Pak, Buk. Mungkin Egga tidak akan senang jika tahu Bapak dan Ibu menyalahkan diri sendiri atas kejadian ini. Lebih baik kita berdoa saja sama ALLAH, agar ALLAH memberikan mu'zizat nya pada Egga dan kita semua, Aamiin".
__ADS_1
Pak Wijaya dan Bu Hanna melihat ketulusan dan kecintaannya terhadap anak mereka begitu besar. Bahkan ia terlihat lebih tegar dengan mudahnya memberikan semangat pada mereka. Bu Hanna tersenyum pada Ratna lalu memeluknya dengan hangat.
...
Eggy dan Almira membawa Tara ke taman rumah sakit itu. Tara masih belum bisa mengontrol tangisannya.
"Suam ke kede (warung) dulu ya sayang?".
" Tapi Suam kan masih sakit, jalan saja agak kepayahan itu. Ist saja yang ke sana ya?".
"Enggak usah sayang. Suam sudah baikan kok. Mending Ist bujuk saja Tara biar enggak sedih lagi. Ist kan paling jago kalau membujuk orang yang lagi sedih apa lagi anak kecil he he he. Ya sudah Suam cuma bentaran saja kok". Eggy pergi meninggalkan kedua nya sebentar.
" Hemm Suam jalan nya pelan - pelan". Teriaknya, Eggy hanya melambaikan tangannya tanpa melihat ke belakang.
Perlahan Almira menggeserkan duduk nya sedikit mendekat pada Tara.
"Kamu pasti sangat sayang sekali sama Papa Egga. Benar kan?". Almira tersenyum pada nya.
"Wah beruntung sekali ya Papa Egga banyak yang sayang sama Papa Egga, apa lagi di sayangi sama kamu he he he. Tapi... Alangkah beruntung nya Papa Egga, kalau kamu enggak sedih dan enggak menangisi Papa Egga. Justru Papa Egga akan marah kalau tahu kamu sedih seperti ini. Lebih baik kamu doa kan saja Papa Egga agar segera sadar dan sembuh total, biar kita semua bisa berkumpul lagi sama Papa Egga. Buat apa kamu sedih - sedih dan menyalahkan diri kamu sendiri toh itu enggak akan mengembalikan waktu yang sudah terlewat karena semua ini memang sudah takdir dari ALLAH kita tidak bisa menolaknya. Kamu pasti belum bisa memahami dan masih bingung apa yang tante bilang ke kamu barusan karena wajar, kamu juga masih terlalu kecil untuk bisa memahaminya he he he. Tapi yang pasti, ini terjadi bukan karena kamu, kamu enggak boleh menyalahkan diri kamu sendiri dan enggak boleh sedih lagi". Almira berusaha membujuknya dengan lemah lembut dan kasih sayang.
Tara menoleh memperhatikan wajah Almira yang sendu dan merasa sejuk bila memandangnya. Ia pun menyeka sisa air matanya lalu tersenyum pada Almira.
"Tara ngerti kok maksud Ibuk eh Tante. Hanya saja Tara masih tidak mengerti kenapa ALLAH selalu ingin mengambil semua yang Tara punya. Dari lahir Tara sudah di takdir kan tidak memiliki orang tua, lalu di rawat oleh beberapa orang tua di panti asuhan, di saat Tara berumur 5 tahun Tara di usir dari panti asuhan karena di tuduh mencuri dan ALLAH membuat Tara hidup sebatang kara di jalanan dan tidak memiliki apa pun hingga akhirnya ALLAH mempertemukan Tara dengan Mama Tari lalu ALLAH mengambilnya lagi dan sekarang begitu juga, ALLAH juga sudah membuat Papa Egga seperti ini. Tara merasa ini semua kesalahan dari Tara, Tara membawa sial untuk Mama Tari, Mama Ratna dan Papa Egga". Ia mencurahkan sedikit cerita perih nya pada Almira.
Air mata Almira mengalir di pipinya, ia turut bersedih atas penderitaan anak sekecil itu, anak kecil yang harusnya sekolah, belajar dan bermain bersama dengan anak - anak seumurnya malah di tuntut untuk bisa kuat menghadapi dunia.
Almira merangkulnya dan berusaha untuk tidak menangis.
"Kamu enggak boleh berkata seperti itu. Apa yang ada di dunia ini, itu semuanya milik ALLAH jadi wajar ALLAH mau mengambil nya kapan saja dari kita. Kita enggak boleh marah dan enggak boleh menyalahkan karena itu adalah hak ALLAH. Ini semua titipan dari ALLAH, bahkan kita sendiri pun titipan dari ALLAH dan sewaktu - waktu ALLAH pasti akan mengambil kita juga. Yang harus kita lakukan selama kita hidup, kita harus ikhlas atas ketentuan dari ALLAH walau pun itu sangat menyakitkan buat kita bahkan rasa itu ingin sekali kita mengakhiri hidup kita sendiri. Tapi kembali lagi, kita harus mengingat bahwa kita punya ALLAH yang selalu berada di sisi kita. Betul kan? Jadi Tara harus berlapang dada, bersyukur dan ikhlas atas apa yang sudah ALLAH tentukan untuk Tara, enggak boleh mengeluh".
__ADS_1
Entah kenapa hati Tara semakin tenang karena Almira.
"Tante masih ingat enggak waktu pertama kali kita ketemu?".
" Ingat. Waktu itu kamu pura - pura nabrak Mama Tari padahal kamu mau menipu tante dan Mama Tari. Iya kan? He he he". Almira tertawa mengingat kejadian itu.
Tara tertunduk malu.
"Tara minta maaf ya tante karena waktu itu sudah menjebak tante".
" Enggak apa - apa kok. Lagian tante juga sudah tidak memikirkan itu lagi kok he he he. Tante sudah memaafkan kamu he he he".
"Tara pikir orang kaya itu bakalan sama semua nya, mereka sombong, selalu merendahkan orang susah apa lagi orang - orang kecil seperti Tara. Ternyata pemikiran Tara salah, enggak semua orang kaya seperti itu he he he. Apa lagi tante, tante juga sama kayak Mama Tari, sudah tahu Tara pernah menipu kalian tapi tetap saja baik sama Tara dan memberikan kasih sayang seorang ibu pada Tara. Tara beruntung sekali bisa di pertemukan sama orang - orang baik seperti Tante, Mama Tari dan yang lainnya".
Almira tertawa kecil mendengarnya, ia merasa seperti melihat diri nya yang dulu, menganggap orang kaya itu sama saja.
Ia memeluk Tara dengan penuh kasih sayang.
"He he he, kamu ya... Masih kecil tapi punya pemikiran yang dewasa. Tante saja salut sama kamu, anak seusia kamu, bisa sekuat ini menghadapi dunia yang keras he he he".
Tara tersenyum sembari merasakan pelukan hangat dari Almira.
" Eh Om Eggy kok enggak balik - balik ya dari tadi". Leher Almira menjadi panjang karena celingukan mencari sosok suami nya.
Kemudian ia tertawa kecil ketika ia melihat Eggy ternyata sudah sejak tadi berada di kursi taman yang satu nya dan ternyata ia pun mendengarkan obrolan mereka.
Almira menggelengkan kepala nya sembari tersenyum memandangi Eggy dari kejauhan, lalu memberikan nya kode untuk menghampiri mereka.
"Ini dia Om Eggy nya". Seru nya setelah Eggy berjalan mendekati mereka.
__ADS_1
" Maaf ya Om lama, tadi di kede nya ramai sekali, jadi Om mesti antri he he he". Eggy berpura - pura pada Tara, lalu menyodorkan bungkusan yang berisi minuman serta cemilan untuk Tara. Almira hanya tertawa kecil karena Eggy membohongi Tara.