
Setelah berhasil menenangkan Tara. Eggy dan Almira membawa nya kembali ke dalam rumah sakit lebih tepat nya di ruangan rawat inap khusus untuk Egga.
Pak Wijaya meminta pihak rumah sakit untuk memindahkan Egga ke ruangan khusus, beliau tidak ingin Egga berada di tengah - tengah orang - orang yang di rawat di ruangan ICU.
Mereka bertiga (Eggy, Almira dan Tara) merasa heran, ada keributan apa di ruangan abang nya itu sehingga pengunjung yang lainnya sibuk mengerumuni hanya karena ingin mengetahui apa yang terjadi. Mereka pun menghampirinya dan Eggy segera menertibkan pengunjung rumah sakit tersebut.
"Maaf, ini ada apa ya? Kenapa kalian semua pada berkumpul di sini? Bukan kah ini rumah sakit? Harap untuk tidak membuat keributan di sini. Atau saya akan panggil security untuk mengusir kalian semua dari rumah sakit ini". Tanpa basa - basi Eggy mengancam mereka.
Eggy sudah tidak peduli lagi apa yang akan di katakan orang tentang nya, sebab ia sudah muak dengan orang - orang sekitar yang memiliki rasa ingin tahu yang semakin menjadi namun tidak berfaedah (bermanfaat) bagi diri nya mau pun orang lain.
Mereka pun ngacir berhamburan karena mereka sangat mengenali siapa Eggy di rumah sakit itu.
Almira dan Tara terkejut melihat sikap Eggy yang galak namun tegas.
Ia bersama istri nya dan Tara masuk ke dalam kamar Egga. Mereka melihat Zia beserta keluarga nya datang menjenguk Egga dan itu lah penyebab dari keributan yang terjadi.
"Ini semua salah kamu. Kalau saja kamu enggak dekat - dekat sama Egga ini semua enggak akan terjadi sama Egga". Teriaknya.
Zia menangis tersedu - sedu sambil menunjuk - menunjuk ke arah Ratna lalu menyalahkan nya.
Tara merasa geram melihat Zia menyudutkan Ratna.
"Lebih baik kamu pergi dari sini". Bentaknya.
"Cukup Buk... Ini semua bukan salah Mama. Ibuk enggak boleh menyalahkan Mama". Tanpa rasa takut Tara membela serta melindungi Ratna dari Zia.
__ADS_1
Yang lainnya terkejut melihat keberaniannya.
" Kamu anak kecil tahu apa ha?". Zia membentak nya, matanya memerah dan rasa nya ia ingin sekali menerkam Tara.
"Dasar anak jalanan, enggak pernah tahu sopan santun dan tidak tahu cara menghormati orang tua. Heran kenapa mereka bertiga ingin sekali mengadopsi anak jalanan seperti kamu". Zia meremas dagu Tara cukup keras bahkan kuku nya yang panjang melukai pipi bawah Tara. Pak Wijaya terkejut mendengarkan apa yang di katakan Zia.
" Apa - apa'an kamu Zia". Eggy membentak Zia lalu menyingkirkan tangan nya dari dagu Tara yang sedikit berdarah karena kuku Zia.
"Hah...! Aku penasaran apa istimewa nya sih anak jalanan ini sampai - sampai kalian membela nya mati - matian ha ha ha. Memang nya dia itu siapa? Dia sama sekali enggak ada hubungan darah sama kalian semua, dia hanya sampah yang di kutip di jalanan. Kenapa kalian begitu membelanya?". Tangan Zia enggak hentinya menempelengkan kepala Tara.
#Plaaaaak.....
Ratna melayangkan tamparannya pada pipi Zia cukup keras sehingga hampir jatuh ke lantai. Ia sudah tak kuasa menahan emosinya.
Mata Zia terbelalak melihat Ratna berani nya menamparnya. Nafas nya menggebu - gebu sembari memegang pipinya.
Zia dan yang lainnya terdiam, seperti Zia meninggalkan goresan pada pipi Tara, seperti itu juga Ratna meninggalkan bekas tamparan pada pipi Zia serta tamparan bagi hatinya.
"Zia ayok kita pulang". Orang tua nya menyeretnya untuk segera pulang dari rumah sakit. Pak Wijaya melirik mereka.
" Zia masih mau di sini Pa Ma, Zia mau di sini bersama Egga". Rengeknya sembari menahan tangannya pada tempat tidur Egga.
"Sudah, Ayok Zia. Kamu bikin malu saja. Lagian percuma kita di sini. Percuma kamu menunggu orang yang setengah hidup seperti Egga, enggak ada guna nya. Nanti Papa akan carikan cowok lain untuk kamu yang jauh lebih dari Egga". Dengan gamblang nya ia berkata di depan keluarga Wijaya.
Sontak membuat Pak Wijaya tertawa kecil mendengar ucapan rekan kerja nya itu lalu menyadari sesuatu.
__ADS_1
"Tapi Pa... Zia mau nya sama Egga, enggak mau sama yang lain. Zia cinta nya sama Egga hu hu hu". Zia merengek seperti anak kecil, dan orang tuanya tetap bersikeras memaksanya untuk pulang dan melarang nya untuk menemui Egga lagi.
" Papa lihat sendiri kan? Bahkan Papa juga mendengar dengan telinga Papa sendiri sebenarnya apa yang telah terjadi, walau pun Papa belum mendengarkan nya secara detail tapi Eggy rasa sudah cukup untuk membuktikan bahwa apa yang Papa tuduhkan pada Dokter Ratna itu salah besar". Eggy menertawakan Papa nya, bukan bermaksud kurang ajar namun ia tertawa karena Zia sendiri lah yang mengatakan bahwa Tara itu anak jalanan yang di adopsi oleh mereka bertiga, bukan anak Ratna yang di peralat untuk menjebak Egga masuk ke dalam perangkap Ratna.
"Papa sadar kalau Papa salah karena sudah menuduh Dokter Ratna seperti itu. Papa juga sadar bahwa Zia bukan perempuan yang baik untuk Egga. Lihat saja orang tua nya memaksanya untuk menjauhi Egga karena sekarang Egga sudah tidak bisa berbuat apa - apa hu hu hu. Papa salah hu hu hu. Maafin Papa hu hu hu". Pak Wijaya menangis tersedu - sedu lalu berlutut pada Eggy, secepat kilat Eggy mencegah Papa nya untuk berlutut di hadapannya dan memohon maaf pada anak - anak nya.
Eggy, Almira dan Bu Hanna juga menangis. Eggy menggelengkan kepalanya.
"Pa... Papa enggak perlu minta maaf. Yang Papa perlu kan Papa tuh harus lebih percaya pada kami anak - anak Papa, darah daging Papa hu hu hu". Eggy memeluk sang Papa dengan erat, tangisan mereka semakin pecah di hadapan Egga yang masih tidak sadarkan diri namun air mata Egga mengalir ke pipi nya seakan - akan ia merasakan dan menyaksikan nya juga.
...
Ratna membawa Tara ke ruangannya, ia tidak berkata sepatah kata pun pada Tara, ia hanya diam mengobati luka pada pipi Tara sembari meneteskan air mata nya. Tara menghapus air mata Ratna dan menggelengkan kepalanya untuk tidak menangis lagi.
Ratna tersenyum menatap Tara lalu memeluknya.
"Egga, aku mohon lekas kembali lah bersama kami. Kami sangat membutuhkan kamu dan sangat merindukan kamu". Lirihnya dalam hati.
...
Ratna memutuskan Tara tinggal bersamanya untuk sementara dan tidak peduli resiko yang ia hadapi, apakah Mama nya menerima Tara atau tidak. Namun beruntung nya mereka berdua, sang Mama tak sedikit pun keberatan atas semua yang terjadi dan beliau menerima Tara dengan berbesar hati.
Setiap hari Ratna selalu menjenguk Egga dengan diam - diam di saat keluarga Wijaya tidak berjaga di ruangan nya. Ratna memilih untuk menghindari mereka untuk saat ini, karena ia tidak ingin ada keributan lagi yang di sebabkan olehnya.
Namun sebenarnya Pak Wijaya dan Eggy mengetahui bahwa Ratna sedang menghindari mereka lalu menemui Egga dengan diam - diam.
__ADS_1
Ratna selalu memberikan suport pada Egga agar Egga memiliki keinginan untuk sadar kembali dengan cepat, ia tak pernah berputus asa, ia selalu berusaha untuk Egga walau pun Egga tidak pernah memberikannya respon walau hanya sekali.
Tak menutup kemungkinan, di balik ketegaran nya ia pun sering kali tak kuasa menahan kesedihannya dan menangis di samping Egga.