
Flash back...
"Uweeek... Uweeeek....". Tari merasa mual sejak terbangun di subuh hari. Dia harus bolak - balik ke kamar mandi karena rasa mual yang ia rasakan.
" Kamu kenapa beib?". Egga khawatir ketika ia melihat wajah Tari yang begitu pucat pasih.
Tari menggelengkan kepala nya.
"Enggak apa - apa beib. Mungkin aku masuk angin soal nya kemarin aku enggak makan". Jawab nya sembari memegang perut nya.
Egga mendekatinya.
" Kita ke rumah sakit saja ya?".
"Kan kita memang mau ke rumah sakit, kamu ngantari aku kerja he he he".
" Bukan itu lho sayang, maksud aku, kita ke rumah sakit nya ngecheck kesehatan kamu, bukan untuk kerja he he he ".
"Enggak usah beib. Lagian hari ini aku ada janji sama dokter senior aku untuk diskusi penangan pasien aku yang sedang sekarat". Tari berusaha menguatkan diri nya.
" Ya.. Tapi kamu lagi kayak gini. Harus nya kamu istirahat. Lihat wajah kamu pucat banget gitu". Egga menyentuh wajah Tari.
" Enggak apa - apa kok beib. Masa pembasmi penyakit kalah sama penyakit he he he". Celetuk nya sembari tertawa kecil menatap wajah Egga. Ia tak ingin Egga terlalu khawatir.
Meski masih merasakan mual dan enggak enak badan, Tari masih tetap kuat melaksanakan tugas nya sebagai dokter. Ia adalah kepala dokter di rumah sakit itu, bukan karena rumah sakit itu milik mertua nya melainkan, memang kemampuan nya sebagai dokter yang membuat diri nya menjadi kepala dokter di rumah sakit itu.
"Dok... Seperti nya anda sedang tidak enak badan ya?". Seorang asisten nya bertanya kepada nya ketika ia melihat wajah Tari.
" Iya, saya lagi masuk angin saja".
" Apa sebaiknya dokter istirahat saja dulu? Wajah dokter terlihat pucat banget".
Tari tersenyum.
" Enggak apa - apa kok. Tadi saya sudah minum obat kok. Ya sudah yuk, kita lanjut ke jadwal berikut nya". Ia pun beranjak dari duduk nya. Pandangan nya terlihat samar dan perlahan menghitam, sempat ia memegang kepala nya menahan rasa pusing yang datang tiba - tiba, hingga akhir nya ia pun jatuh pingsan karena sudah tak kuat menahan tumpuan nya.
Sontak membuat asisten nya terkejut dan sigap.
" Dokter.... Dok... Dok...". Ia menepuk - nepuk pelan pipi Tari dan ia gelagapan meraih telpon yang ada di atas meja.
"Hallo...Dokter kepala jatuh pingsan, di ruangan nya, cepat".
" Dok... Dokter...".
Tak lama Tari pun di bawa ke IGD untuk pemeriksaan. Suasana sempat riuh karena diri nya. Usai di tangani oleh mereka, akhir nya Tari sadar. Perlahan ia membuka mata nya.
" Kamu ya, sudah aku bilang kalau kerja itu jangan terlalu di porsir". Salah satu dokter yang menangani diri nya yang kebetulan teman dekat Tari mengomelin nya. Ia adalah Astri, dokter kandungan di rumah sakit itu.
Tari tersenyum simpul melihat wanita cantik berbadan montok itu. Kemudian ia bangkit dari tidur nya.
" Kalau aku enggak kayak gini kan, kamu enggak bakalan ada kesempatan untuk merawat dokter kesayangan kamu he he he".
" Issh... Bisa - bisa nya ya kamu". Cibir nya menatap sinis.
" He he he, oh ya ngomong - ngomong kenapa kamu yang nangani aku? Kemana dokter umum? ".
" Iya, mereka lagi sibuk semua. Terus ada sebagian yang ngegantiin kamu. Karena cuma aku yang standby maka nya aku yang di sini nangani kamu he he he".
" Oh, kira'in ". Tari tersenyum hopeless.
Dokter Astri sempat bingung namun ia cepat menangkap dari raut wajah Tari. Ia menggenggam tangan Tari. Ia paham maksud Tari.
" Kamu yang sabar saja, memang belum waktu nya. Yang penting kalian yakin saja".
__ADS_1
Tari tersenyum menatap orang yang selalu memberinya semangat.
" Terimakasi ya Stri. Kamu itu yang paling the best, tanpa aku bilang, kamu sudah memahami nya sendiri. Aku rasa kamu punya kemampuan indra ke enam he he he".
" Siapa dulu, aku gitu lho! He he he".
Mereka tertawa karena menghibur.
"Oh ya, kamu mau bantuin aku enggak?". Tari tiba - tiba mengingat sesuatu.
Astri mengerutkan dahi nya.
" Bantu apa?".
" Aku mau kamu memeriksa ulang kesehatan rahim aku".
" Lho bukan nya kalian sudah pernah melakukan pemeriksaan itu ya sebelum kalian menikah? Dan hasil nya baik - baik saja kan? ".
" Iya, tapi aku mau memastikan nya saja lagi. Tapi kali ini hanya aku saja yang di periksa dan lagi aku minta juga sama kamu, jangan ada yang tahu soal pemeriksaan ini terutama Egga".
Astri menatap wajah pengharapan itu.
" Hmm.... Ya sudah. Aku akan ngebantu kamu. Eh... Tapi harus ada imbalan nya ya?". Astri menahan tawa nya.
" Terserah kamu, aku akan kasih apa saja yang kamu mau ".
" Hmm... Okay kalau gitu. Tanda tangan ini dulu ". Astri menyodor kan selembar kertas yang berisikan gambar seorang dokter yang mirip dengan Tari.
" Apa ini?". Tari sempat bingung, ia pun melihat gambar itu.
" Itu hasil gambar anak aku. Dia ngefans banget sama kamu, jadi dia ngelukis kamu, terus dia nyuruh aku minta tangan kamu. Haiiiih.... Aku saja yang Mama nya, tak pernah dia lukis hiks hiks hiks sedih nya aku ".
Tari tertawa kecil mendengarkan nya, sembari mengamati gambar itu. Tari memang sosok yang penyayang terhadap anak kecil, sama seperti Egga. Tak heran banyak anak kecil yang menyukai diri nya.
.
" Hasil nya belum bisa keluar sekarang Tar, kemungkinan besok atau lusa karena kamu kan enggak mau ada yang tahu soal test ini, jadi aku buat kamu ikut sesuai antrian seperti pasien lain nya dan aku juga tidak menggunakan nama kamu dalam test itu ".
" Hmmp, enggak apa - apa kok. Eh tapi, aku besok sama Egga mau balik ke Medan, soal nya keponakan kami di rawat di rumah sakit, kemungkinan kami di sana sekitar seminggu gitu lah". Tari ingat bahwa ia memiliki jadwal pulang kampung bersama sang suami.
" Oh... Anak si Eggy? ".
Tari mengangguk kan kepala nya.
" Hmm... Ya sudah nanti kalau hasil nya sudah keluar, aku langsung kabari ke kamu. Nanti aku kirim hasil test nya ke email kamu ".
Tari meraih tangan Astri, sembari tersenyum ia berucap.
" Terimakasi banyak ya Stri".
.
.
Air mata Tari hampir tumpah ketika ia membuka email yang di janjikan oleh Astri. Tangan nya gemetar serta sekujur tubuh nya hampir lemas. Hati nya begitu hancur bahwa hasil test tersebut menyatakan ia positif mengidap kanker rahim stadium dua.
Secepat kilat ia menyeka air mata nya yang sempat menetes ketika Almira melirik diri nya. Ia berusaha untuk tetap tenang dan menutupi kesedihan nya.
" Kamu enggak apa - apa beib?". Egga pun tiba di kantor polisi bersama Eggy.
"Enggak apa - apa kok sayang, semua nya sudah di serahkan sama pihak berwajib kok". Tari tersenyum simpul, ia ingin sekali menangis ketika ia melihat wajah sang suami namun tidak ia lakukan, sebab ia tahu, itu akan membuat Egga merasa sedih.
Flash on...
__ADS_1
Tari masih menatap hasil test nya yang ada di ponsel nya. Ia sama sekali tidak bergeming dan hanya air mata yang berkata.
.
.
Seluruh keluarga sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan terkecuali keluarga kecil Eggy yang tidak ada. Mereka begitu menikmati sarapan pagi mereka sembari mengobrol ringan.
" Gimana perusahaan kamu di Jakarta Ga? ". Pak Wijaya bertanya pada anak sulung nya itu.
" Alhamdulillah lancar Pa. Sekarang kami sedang mengerjakan proyek baru Pa ". Jawab nya, ia menatap sang Papa, sedangkan yang lain alias Bu Hanna dan Tari hanya mendengarkan obrolan mereka.
" Alhamdulillah, bagus kalau gitu. Mudah - mudah proyek baru ini goal seperti proyek - proyek sebelumnya".
" Aamiin Pa ".
" Oh ya Tari, kamu gimana di rumah sakit? Aman? ". Kali ini beliau beralih ke Tari, ia seperti bos yang meminta laporan kepada anak buah nya hi hi hi.
" Alhamdulillah aman Pa ". Tari tersenyum.
" Hmmpt, senang Papa ngedengar nya. Eh iya! Sebelum kalian pulang, kamu sempat kan main ke rumah sakit di sini. Sekalian kamu ajarin adik ipar kamu jadi dokter yang baik hi hi hi".
Tari tersenyum simpul.
" Iya Pa, kebetulan In Sya ALLAH hari ini Tari mau ke sana karena Tari memang sudah janjian sama teman lama Tari di sana".
Egga melirik Tari, ia sama sekali tidak mengetahui mengenai rencana istri nya.
" Bagus lah kalau gitu. Jangan lupa kamu pantau si Eggy, sudah betul apa enggak kerja dia"
"Lah emang nya si Eggy belum jadi dokter yang baik ya bang? Bukan nya Eggy dokter terbaik dari seluruh dokter di rumah sakit kita, bahkan si Maya saja kalah sama Eggy ". Bu Hanna menyambung dan membela Eggy.
" Bagi abang, dia itu belum jadi dokter yang baik". Pak Wijaya enggak mau kalah.
Tari dan Egga tertawa kecil melihat kedua orang tua mereka berdebat perihal orang yang tidak ada di antara mereka.
Usai mereka menyelesaikan sarapan mereka.
Mereka pun masuk ke dalam kamar masing - masing tapi tidak dengan Bu Hanna, beliau masih sibuk di dapur bersama Bu Atik.
"Beib... Kok kamu enggak ada bilang ke aku sebelumnya soal rencana kamu mau ke rumah sakit jumpai teman lama kamu?". Egga menghentikan langkah Tari yang ingin masuk ke dalam kamar mandi.
Tari menoleh.
" Iya maaf beib. Tadi pagi aku mau ngasi tahu ke kamu ehh kelupaan juga karena kamu sudah turun ke bawah ".
" Hmmpt. Ya sudah, nanti aku antar kamu ke rumah sakit ya?". Egga mengelus pipi Tari.
" Kan kamu harus ke kantor sama Papa jam 9 ini. Kamu lupa ya? He he he".
Egga menepuk jidat nya.
"Oh iya...! Hufft... Maaf ya beib, aku jadi nya enggak bisa ngantar kamu".
" Enggak apa - apa, lagian kan masih banyak yang mau antar jemput aku ". Tari menaikkan alis mata nya naik turun.
" Siapa?". Raut Egga menaruh rasa cemburu.
"Supir taxi online. Ha ha ha". Tari terbahak.
Egga mencubit pipi nya, lalu menarik pinggang Tari hingga mendekat. Egga membelai rambut hitam Tari sembari menatap nya.
"Beib...! Mengenai tadi malam, kamu enggak boleh lagi ya ngomong kayak gitu? Aku enggak suka. Berulang kali aku bilang ke kamu, apa pun yang terjadi kita harus melewati nya bersama - sama. Dan apa pun yang terjadi aku akan tetap selalu ada di samping kamu".
__ADS_1
Mata Tari berkaca - kaca menatap Egga yang juga menatap diri nya. Hati nya terasa sesak, sempat ia menarik nafas nya. Dengan kuat ia tersenyum sembari mengangguk pelan.