
#Ting Tong... Ting Tong....
Egga langsung membuka pintu rumah nya ketika ia mendengar bunyi bel rumah nya berbunyi berulang kali.
"Ehh kau Gy, masuk". Egga mempersilahkan Eggy masuk ke dalam rumah nya.
" Assalamualaikum". Seru nya ketika Eggy melangkah masuk ke rumah abang nya.
"Waalaikumussalam. Oh ya kau kemari mau ngantar hasil medic nya Tara kan? Bukan mau ngebawa berita buruk apa pun. Ehh tapi Mama baik - baik saja kan?".
Eggy melemparkan map putih yang berisi hasil medic Tara kemudian ia duduk di sofa.
" Nah. Mama enggak apa - apa malah sudah baikan kok. Oh ya Mama nyuruh kau pulang ke rumah temui Mama terus Mama juga bilang bawa Tara dan Dokter Ratna sekalian".
"Papa juga nyuruh?". Egga merasa cemas untuk bertemu orang tua nya pada saat ini di tambah lagi harus membawa Ratna dan Tara.
Eggy menaikkan kedua bahunya.
" Mungkin. Oh ya Bang, kau yakin bakal berurusan sama berandalan - berandalan itu?".
"Yakin lah, kalau mereka tidak di tindak secepatnya mungkin akan ada banyak korban yang mereka celakai. Ini bukan soal Tara juga tapi soal generasi anak bangsa yang harus kita lindungi". Egga mengepalkan tangannya dengan lantang ✊
" Sudah kayak pejuang politik kau lama - lama bang. Tapi kan kita bisa menyerahkan semuanya sama pihak yang berwajib, enggak harus kita turun tangan seutuhnya".
"Ha ha ha, lagian tinggal sedikit lagi untuk membasmi orang - orang seperti mereka. Masa kita sudah nyerah, ngitung - ngitung kita membantu pekerjaan pihak berwajib he he he".
"Hmmp... Ye lah. Pokoknya kau ngadepin mereka harus ada aku. Jangan sendirian, kalau bisa kita bawa juga pasukan - pasukan kita".
" He he he, gaya kali kau, mana ada pasukan kita, kau kata anak president punya pasukan ha ha ha".
"Ha ha ha kita kan anak president juga sih bang. President negara Wijaya ha ha ha". Celetuknya sembari menepuk punggung abang nya.
" Ha ha ha, iya juga". Egga memeriksa hasil medic tersebut dan membacanya dengan teliti. "Tulisan kau jelek kali Gy, enggak ngerti aku".
" Tulisan aku bukan jelek oon, tapi tulisan dokter memang harus seperti itu jadi biar enggak mudah di pahami sama orang biasa".
"Elleh enggak harus kayak gitu, memang tulisan kau jelek kok ha ha ha".
" Hiiiist.... Oh ya aku dengar Papa bikin keributan ya di kantor kau?". Eggy menyinggung masalah kemarin.
"He em... Kau tahu dari mana soal itu?".
" Tadi malam Mama nelpon aku, Mama ngadu sama aku sampai nangis - nangis kalau kau sama Papa bertengkar kemarin".
__ADS_1
Egga menarik nafas nya yang terasa sesak karena mendengar sang Mama menangis sebab dirinya.
"Oh ya nanti kalau ada apa - apa aku titip Tara ya sama kelen". Egga mengalihkan topik pembicaraan mereka agar ia tidak terpancing menangis di depan Eggy.
"Maksud kau ada apa - apa gimana?". Eggy mengerutkan dahinya.
" Ya... Mana tahu kan, nanti kalau aku pergi dinas keluar kota atau apa gitu. Jadi aku minta tolong nya dari sekarang. Nitip si Tara ke tempat kelen biar sekalian ada kawan main nya Ghifari he he he".
"Iya, ku pikir entah apa lah. Lagian mesti kali, tinggal kau antar saja sudah si Tara nya ke rumah. Ngapain minta izin nya sekarang". Permintaan Egga membuat Eggy menjadi khawatir.
" Ciiih, jangan mikir yang aneh - aneh kau, lagian ya wajar lah aku minta izin, aku kan punya gengsi juga ha ha ha". Egga menggeplak kepala Eggy sembari tertawa kecil melihat Eggy yang mendadak datar memandangnya.
"Makan lah tuh gengsi kau".
" Ha ha ha, oh ya sekalian juga bilang sama Mama, Mama jangan sedih - sedih lagi mikirin aku apa lagi sampai nangis, Mama harus jaga kesehatannya. Dan bilang juga semua nya akan baik - baik saja".
"Hmm". Jawab nya singkat, Eggy memahami apa yang di rasakan oleh Egga. Sempat ia menepuk punggung abang nya untuk memberinya semangat.
.
.
Egga memandangi wajah Ratna yang terlihat berseri saat ia mengajarkan Tara cara menulis. Senyuman Egga tak lepas dari bibirnya.
Ratna menyadari bahwa Egga sedang memandanginya. Ia menaikkan kedua alisnya seperti memberi kode, kenapa memandangnya seperti itu. Egga pun tertawa kecil sembari menggelengkan kepala nya.
Waktu sudah berlalu cukup lama. Usai belajar Tara di disiplinkan agar jangan tidur terlalu lama, ia pun pamit pada Egga dan Ratna untuk masuk ke dalam kamarnya. Kemudian Ratna bersiap - siap untuk pulang.
"Yuk". Ratna mengajak Egga untuk mengantarnya pulang.
" Malas". Egga mengeluarkan jurus mengeraskan langkah kaki nya agar ia bisa menahan Ratna lebih lama lagi di rumahnya. Ia merebahkan tubuh nya di sofa sembari menutup wajahnya dengan bantal.
"Jangan gitu lah Ga, ini sudah jam 9 malam, Mama ku sudah pulang, besok pun aku ada jadwal pagi di rumah sakit. Ayok lah". Ratna menarik tangan Egga dengan manja.
" Bentar lagi napa". Egga menarik balik tangan Ratna dan itu cukup membuat Ratna jatuh di atas tubuh nya.
#Awkward
Ratna terpaku menatap wajah Egga yang jaraknya terlalu dekat, sedangkan Egga semakin melingkarkan tangannya pada tubuh Ratna.
"Bentar lagi, aku mau meluk wanita sempurna ini dulu". Ujar nya sembari memejamkan mata nya untuk merasakan hangatnya tubuh mereka satu sama lain.
" Nanti di lihat sama Bu Diah lho Ga, enggak enak". Ratna berusaha menarik tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Biarin saja, lagian kan Bu Diah sudah tahu kalau kita akan menikah". Egga membuka matanya, ia pun menatap wajah Ratna dengan jarak yang dekat.
" Jangan gitu lah Ga, walau pun kita akan menikah bukan berarti kita bisa melakukan apa pun seenak nya saja. Lagian nanti kalau tiba - tiba Tara turun terus ngeliat kita begini, hayo".
Egga malah memejamkan matanya kembali dan semakin memeluknya dengan erat.
"Bentar saja, aku hanya ingin melepaskan rasa rindu ku sebentar, aku mau menebus nya karena dari kemarin aku tidak melihat kamu". Bisiknya.
Ratna pun tediam dan menuruti Egga serta merasakan pelukan Egga.
" Oh ya. Tadi pagi Eggy datang ke rumah, dia sudah bawa'in hasil medic nya Tara, terus Eggy juga bilang kalau Mama sama Papa ku nyuruh kita ke rumah untuk bertemu mereka".
Ratna menarik nafasnya dan Egga merasakannya dengan jelas.
"Kenapa? Kok narik nafas gitu?".
"Aku takut Ga. Aku takut mereka tidak akan merestui kita sampai kapan pun. Dan mungkin Papa sama Mama kamu enggak akan suka sama aku". Lirihnya.
Egga menyentuh pipi Ratna dengan lembut.
" Hey... Jangan berpikiran seperti itu sayang. Itu enggak akan terjadi, mereka pasti akan merestui hubungan kita dan mereka pasti menyukai kamu lalu menerima kamu sebagai menantu mereka".
Ratna menenggelamkan wajah nya pada dada Egga, ia merasa sedih dan cemas.
"Sudah lah sayang, kamu jangan sedih seperti ini. Kita harus yakin demi cinta kita dan demi Tara. Dan aku juga yakin Almarhumah Tari pun pasti mendukung kita". Egga mengeratkan pelukannya berusaha menguatkan Ratna.
Hampir 15 menit Egga memeluknya seakan tidak ingin melepaskanya. Ia pun mengantar Ratna pulang sampai ke rumah nya.
" Terimakasi ya Ga, sudah nganterin aku pulang".
Tanpa segan, Egga memeluk tubuh Ratna kembali di depan rumah Ratna dan tak peduli jika orang sekitar melihat nya.
"Kamu enggak perlu berterimakasih sama aku, karena itu sudah kewajiban aku". Tuturnya sembari membelai rambut Ratna.
" He eem... Kamu hati - hati di jalan ya, nanti jangan ngebut - ngebut bawa mobil nya".
Egga melepaskan pelukannya kemudian menganggukkan kepalanya.
"Iya, ya sudah. Aku pamit ya, daaa". Ia melambaikan tangan sambil berjalan mendekati mobilnya.
" Daaa... Nanti kalau sudah sampai di rumah langsung kabari aku ya?". Ratna juga melambaikan tangannya.
Egga hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kemudian ia pun berlalu dengan mobilnya. Entah kenapa perasaan Ratna mendadak tidak enak, ia merasakan ada yang aneh pada Egga, tidak seperti biasanya.
__ADS_1