Keikhlasan Hati

Keikhlasan Hati
Chapter 75 #S3


__ADS_3

Di tepian balkon terlihat basah di sebabkan hujan yang turun.


Tidak terlalu deras namun suhu udaranya cukup dingin ketika menyentuh pada kulit siapa pun.


"Alhamdulillah hujan". Almira berseru sembari tersenyum bahagia kemudian ia berdoa ketika ia melihat hujan turun.


" Allahhumma Sayyiban Nafi'an".


Ia pun iseng membuka jendela kamar lalu mengulurkan tangannya karena ia ingin merasakan air hujan menetes pada telapak tangannya. Sempat ia memejamkan matanya sejenak merasakan dinginnya air hujan yang sudah membasahi tangannya.


Eggy tersenyum melihat kelakuan Almira seperti anak kecil yang baru pertama kali merasakan air hujan.


"Hayo... Lagi ngapain?". Ia memeluk Almira dari belakang dan mengagetkannya.


Sontak ia membuka matanya dan menoleh.


"Eh he he he Suam bikin terkejut saja lah".


"Mau mandi hujan? Hmm?". Eggy menghentakkan pipinya pada pipi Almira dengan lembut.


"Enggak lho. Ist cuma mau ngerasain air hujannya saja hi hi hi. Lagian enggak enak mandi hujan kalau hujan nya cuma rintik - rintik manja kayak gini hi hi hi". Tangan Almira masih tetap keluar dari jendela, kemudian Eggy pun menyambut tangan Almira lalu menggenggamnya dengan erat. Tangan keduanya pun merasakan air hujan yang membasahi genggaman tangan mereka.


"Sudah aah, tangan Suam pegal di keluarin ke jendela gini, mending kita duduk saja sambil bercerita". Eggy menarik tangannya dan tangan Almira kemudian menutup jendela kamar itu.


Almira menggelengkan kepalanya.


"Hmmp... Memang lah Suam ini, kan Ist masih mau menikmati air hujan nya".


" Sudah malam. Enggak bagus buat kesehatan. Mending kita duduk di sini. Suam mau manja - manja sama Ist". Eggy menarik tubuh Almira kemudian memangku nya.


"Dasar ngeselin". Almira menahan tawanya dari balik tatapan tajamnya kemudian menyenderkan kepalanya pada dada Eggy.


" Ehh terbalik lah. Kan Suam yang mau di manja - manja, kenapa Ist yang bersandar manja kayak gini di pelukan Suam".Ujarnya sembari mendorong tubuh Almira dengan pelan.


"Hmmp Iya".


Almira memanyunkan bibir nya kemudian mereka bertukar posisi, dimana Eggy yang bersandar di pelukan Almira.


Eggy tertawa kecil kemudian menciumnya.


" Gemes he he he".


"Oh ya Gimana kondisi Bang Egga dan Dokter Ratna Suam?". Almira bertanya sembari membelai rambut Eggy.


" Kondisi Bang Egga Alhamdulillah sudah agak mendingan, Bang Egga cuma kecapekan saja. Kalau Dokter Ratna masih belum juga siuman pasca operasi pemasangan ring pada jantungnya". Jawabnya sembari memainkan tangan kiri Almira.


Almira /"Hmm...! Besok Ist jenguk Dokter Ratna boleh enggak Suam?"


" Boleh lah sayang, tapi jangan bawa Ghifari ya". Eggy menarik hidung Almira.


Almira /"Siap bos. In Sya ALLAH Ist ke rumah sakit nya pas Ghifari lagi sekolah kok he he he".


"Sip 👍". Eggy mengacungi kedua jempol nya tepat di depan wajah Almira.


Almira /"Hmm... Ist salut sama pengorbanan Dokter Ratna. Ist saja tidak tahu bakalan sanggup atau tidak melakukan hal yang sama untuk Suam".


" Kalau menurut Suam, Ist bakalan ngelakuin hal sama untuk Suam". Eggy semakin mendongakkan kepalanya agar ia melihat dengan jelas wajah Almira.


Almira mengerutkan dahinya.


"Kenapa menurut Suam begitu? Alasannya?".


" Alasannya karena Suam tahu kalau Ist itu orangnya lebih mementingkan orang lain ketimbang diri Ist sendiri. Ist pasti melakukan apa pun untuk membahagiakan orang - orang yang Ist sayangi. Betul enggak?". Eggy menyentil bibir Almira dengan lembut sembari mengedipkan matanya.


Almira tersenyum simpul menatap Eggy kemudian ia mencium Eggy (terbalik).


"Emm... Ist baru sadar ternyata Bang Egga sama Dokter Ratna itu punya ikatan batin. Semalam jantung Bang Egga mendadak sakit itu pasti karena jantung Dokter Ratna dalam keadaan tidak baik atau malah sebaliknya. Berarti mereka merasakan apa yang di rasakan satu sama lain sejak pertukaran itu". Almira menduganya.


"Hem bisa jadi Ist. Karena dengan kebetulan setelah Suam memeriksa Bang Egga, Suam langsung dapat telpon dari rumah sakit, mereka ngasi tahu kalau Dokter Ratna sedang sekarat". Eggy berpikir hal yang sama.


"Tuh kan, pasti mereka kontak batin. Itu kali ya yang nama nya cinta sejati. Mereka punya ikatan batin dan merasakan apa yang di rasakan oleh pasangannya". Ujarnya sembari melihat langit - langit kamar mereka.


Eggy /"Sama kayak kita berdua, ya kan?. Jangan kan batin bahkan semua yang kita miliki sudah menyatu hi hi hi".


Alis mata kiri Almira naik seketika sambil memandangi Eggy.


"Hm? Masa sih? Ayo kita coba dulu, betul enggak sih kita punya ikatan batin".


Eggy pun bangkit kemudian duduk berhadapan dengan Almira.


" Jadi selama ini Ist enggak pernah ngerasain apa yang Suam rasakan?".


Almira menaikkan kedua bahunya.


"Entah. Makanya kita coba dulu, biar kita tahu kita punya ikatan batin atau enggak".


Eggy mengusap wajahnya.


" Ist mau nyoba dengan cara apa? Ist mau menebak apa yang ada di dalam pikiran Suam? Hm?".


Almira /"Ya enggak gitu juga lah. Ist kan bukan ahlinya membaca pikiran orang, lagian bukan itu yang di maksud dengan kontak batin".


"Terus caranya gimana? Hm?". Eggy memutar bola matanya kemudian mencubit kedua pipinya.


Almira berpikir sejenak kemudian menemukan caranya setelah Eggy mencubit pipinya.


" Nah! Ist tahu cara nya". Almira menjetikkan jarinya.


Kemudian ia menyentil jidat Eggy cukup keras, sontak membuat Eggy terkejut dan merintih kesakitan.


"Ist apa - apaan sih? Kenapa Suam nya di sentil kayak gitu? Sakit lho Ist, au...". Rintihnya sembari mengusap jidatnya.


Almira hanya berpikir dalam diamnya seperti menunggu sesuatu.


" Ist sama sekali enggak merasa kesakitan waktu jidat Suam di sentil". Ia berkata sembari memegang jidatnya.


Eggy menepuk jidatnya sembari geleng - geleng kepala ternyata itu lah cara Almira untuk membuktikan bahwa mereka punya ikatan batin atau tidak.


"Ya ALLAH sayang. Jadi cara ini yang Ist maksud?".


Almira /" Iya. Karena kan Bang Egga merasa sakit di jantungnya dan Dokter Ratna juga merasakannya. Jadi kalau Ist menyentil jidat Suam terus jidat Ist ngerasa sakit juga berarti kita termasuk punya ikatan batin. Tapi Ist sama sekali enggak ngerasain apa - apa sih Suam. Berarti kita enggak punya ikatan batin lah Suam. Apa Ist kurang keras ya menyentil jidat Suam?".


Eggy enggak sampai pikir Almira akan melakukan hal konyol seperti itu.


"Astaghfirullah sayang ha ha ha. Enggak gitu juga caranya. Sini - sini Suam sentil juga jidatnya Ist biar Ist juga ngerasain nya ha ha ha". Eggy menarik tubuh Almira dan siap - siap menyentil jidatnya.


Almira menggelengkan kepalanya sembari menutupi jidatnya. Ia berusaha menghindarinya.


"Ha ha ha enggak mau".


" Sini. Katanya mau punya ikatan batin sama Suam berarti jidat Ist harus di sentil juga ha ha ha". Eggy menarik tangan Almira yang sedang menutupi jidatnya.


Almira /"Ha ha ha enggak. Sudah, jidat Suam saja sini Ist sentil lagi ho ho ho".


"Enak saja, katanya Ist yang pengen ngerasain apa yang Suam rasain. Jadi jidat Ist juga harus di sentil, sini. Biar ngerasain gimana sakitnya jidat Suam Ist sentil barusan. Hm!". Eggy pun berhasil menarik tangan Almira. Ia pun sudah siap untuk meluncurkan sentilan jari nya pada jidat Almira yang mulus. Almira cuma bisa pasrah lalu menutup matanya ketika jari Eggy sudah hampir mendarat pada jidatnya.


#Cup....


Eggy mengecup jidat Almira lalu tertawa kecil melihat tampang Almira.


Almira pun membuka matanya.


"Mana mungkin Suam sanggup membiarkan Ist juga merasakan sakit yang Suam rasakan. Rasa sakit Suam cukup Suam saja yang merasakan nya, terus rasa sakit Ist dan Ghifari biarkan Suam juga merasakan nya". Tuturnya dengan lembut sembari mengelus pipi Almira.


Almira merasa terharu.


"Um... to tuit (so sweet)...! Maafin Ist ya Suam karena sudah menyentil jidat Suam sampai merah gini. Pasti sakit ya Suam?". Ucapnya, air matanya pun mengalir ke pipinya sembari ia mengelus jidat Eggy yang memerah akibat sentilannya.


"Enggak apa - apa kok sayang. Jangan kan di sentil, kalau Ist mau nyawa Suam, nih Suam kasi langsung he he he. Ngapain Ist nangis - nangis, dasar baper (bawa perasaan) he he he". Eggy menyeka air mata Almira yang mengalir di pipinya.


" Hmm abis nya Suam manis kali sih, kan jadi nangis Ist nya hu hu hu". Almira kembali menangis sambil tertawa.

__ADS_1


"Lah ha ha ha emang nya Suam gula?". Eggy terbahak.


Almira /" Bukan gula tapi madu karena Ist ratu lebahnya hi hi hi".


"Dasar gemes he he he Ummmmmuach". Eggy benar - benar gemas pada Almira sampai ia mencubit pipi Almira dengan bertubi - tubi kemudian menciumnya bahkan Eggy nekat menggigit pipinya karena sangkin gemesnya.


...


Omen masih tetap menunggu Ratna sampai ia tidak tertidur hingga esok hari nya. Ia pun juga belum berani untuk memberitahu orang tua Ratna sebelum ia siuman.


"Aah au sh... sakit nya pinggang ku ini Aaah...". Rintihnya karena ia meregangkan tulang pinggangnya yang sudah terasa pegal akibat duduk semalaman.


" Mati aku, sudah jam 6 pagi rupanya".


Omen pun bergegas keluar dari kamar rawat inap Ratna setelah ia melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Tak lupa ia memesankan kepada perawat untuk mengawasi Ratna karena ia tidak di jaga oleh siapa pun.


Omen melangkah dengan kaki seribu setelah ia memarkirkan mobilnya di depan studionya. Ia pun melihat Imam sudah tiba di sana dan sedang mempersiapkan peralatan photo shoot yang akan di mulai 1 jam lagi.


"Wei Bang... Kok gembel kali gaya kau? Abis dari mana rupanya kau?". Imam bertanya ketika ia melihat kondisi Omen.


" Dari rumah sakit. Kau sudah menyiapkan semua peralatan aku?". Omen menggaruk kepalanya sembari melihat sekeliling studionya sudah rapi dan bersih.


Imam /"Sudah lah, enggak kau tengok (lihat) sudah rapi gini studionya. Oh ya kau ngapain ke rumah sakit Bang? Sakit lagi kau?".


"Hmm. Enggak. Aku ke rumah sakit karena ngejaga si Ratna, dia masuk ke rumah sakit semalam". Jawabnya.


" Serius lah kau Bang? Sakit apa Kak Ratna? Kok bisa sampai masuk ke rumah sakit?".


"Kecapekan saja dia. Eh iya aku lupa. Itu di depan mobil siapa? Hoaamm... Enggak mungkin itu mobil kau kan". Omen baru teringat bahwa ada mobil berwarna merah sudah terparkir di depan studio nya sebelum ia memarkirkan mobilnya.


Imam menepuk jidat.


" Ya ampun aku yang jadi nya lupa. Itu ada tamu kau datang, dia lagi nungguin di ruangan kau, sudah dari tadi dia nungguin kau Bang bahkan dia yang duluan datang ke sini dari pada aku".


Alis mata Omen menyatu.


"Siapa?".


" Enggak tahu aku siapa Bang. Yang pasti nya dia cewek, cakep pulak lagi. Nanti kenalin ke aku ya Bang hi hi hi". Imam menaik turunkan alis matanya sambil cengengesan.


Omen menjitak kepala Imam sembari meliriknya dengan mata tajamnya.


"Kau lah pulak nya. Kerja saja kau bagus - bagus, nyari duit banyak - banyak baru kau pikirin soal perempuan. Malu kalau kau punya perempuan tapi tak ada duit kau".


" Hiiissst iyaaa... Lagian kan bisa sambilan sih Bang, biar makin semangat aku ngejalani hidup ini hi hi hi".


Omen /"Mau sambilan kek sepuluh kek, tetap saja, kau enggak boleh macam - macam di sini. Ya sudah aku mau jumpain tamu ku dulu. Kau kerja yang bagus - bagus, jangan perempuan saja yang ada di otak kau itu".


"Bang". Imam menghentikan langkah kakinya.


" Apa lagi?". Omen menoleh ke belakang.


"Mandi kau dulu napa Bang, paling enggak nya cuci muka sama gigi kau itu. Bau jigong (bau ences atau liur) kau Bang. Masa iya kau mau jumpain cewek cantik kayak gitu hiiissssst". Ujarnya sembari menutup hidungnya serta berekspresi jijik melihat tampang Omen.


Omen pun mencium tubuhnya sembari melihat dirinya sendiri dan ia pun merasakan bau tubuhnya yang belum mandi sejak kemarin.


"Haiiih. Ya sudah aku mandi dulu. Kau bilang sama dia tunggu bentar".


" Iyaaaa. Enggak usah pakai dandan lama kau ya Bang. Kasihan anak orang nungguin kau dari tadi, lagian bentar lagi anak - anak pada ngumpul".


"Iya lho. Bising kali pun kau. Sudah sana kau jumpain dia dulu". Omen memplototi matanya kemudian bergegas menuju kamar mandi.


" Iyaaaa". Imam segera ke ruangan Omen untuk memberitahu tamu nya agar bersabar menunggu nya sebentar.


Tak lama Omen pun segera menemui tamu nya itu. Omen sangat terkejut melihat wanita itu. Wanita itu sudah memasang senyuman nya ketika ia melihat Omen masuk ke dalam ruangannya.


"Hai".


" Widya? Ngapain kamu ke sini?". Omen bertanya dengan datar.


Widya pun mendekati Omen kemudian menyambar tubuhnya.


"Aku rindu kali sama kamu".


Widya /" Kamu apa kabar?".


"Aku baik. Kamu sendiri apa kabar nya?". Omen balik bertanya sembari melihat Widya dari ujung rambut hingga kakinya, penampilan nya terlihat berubah dari sebelumnya, bahkan ia terlihat semakin cantik dan modis.


Wajah Widya mendadak murung ketika Omen menanyakan kabarnya.


" Aku lagi enggak baik Men. Banyak hal buruk yang terjadi sama aku setelah kamu meninggalkan aku".


Suasana menjadi hening seketika. Kini mereka pun duduk dengan rasa canggung.


"Setelah kamu ninggalin aku, hidup aku terasa hancur dan hampa".


" Bukan nya kamu akan menikah sama teman kerja kamu itu?". Omen ingat sekali penyebab mereka putus karena orang ke tiga yaitu teman kerja Widya.


Widya menggelengkan kepalanya.


"Boro - boro dia mau menikahi aku. Dia sudah menghilang bagaikan di telan bumi setelah tahu aku hamil karena nya. Aku melakukan apa yang kamu pinta, aku minta pertanggung jawaban sama dia ehh dia nya malah menghilang he he he. Hingga akhirnya aku frustasi dan bersikeras untuk menggugurkan kandungan aku. Aku wanita yang buruk bukan?".


Omen mulai simpatik dengan cerita sedih Widya. Ia pun mendekati Widya kemudian mengusap air matanya.


"Kamu enggak usah bersedih seperti ini. Kamu bukan wanita yang buruk kok, cuma dia nya saja yang bodoh sudah menyia - nyiakan wanita seperti kamu".


Widya menatap mata Omen yang sebenarnya masih menyimpan rasa sayang untuk nya.


" Maafin aku ya Men. Bodohnya aku telah mengkhianati kamu. Andai waktu bisa berputar kembali, mungkin enggak akan seperti ini jadinya, bahkan mungkin kita sudah memenuhi impian kita bersama". Lirihnya.


"Sudah lah. Yang lalu biar lah berlalu, enggak perlu kita bicarakan lagi. Lagian aku sama sekali tidak membenci kamu kok. Aku pun sudah memaafkan kamu dari dulu. Kamu enggak perlu merasa bersalah sama aku". Omen tersenyum pada nya.


Kemudian Widya nekat menciumnya. Sontak membuat Omen mendorong tubuh Widya karena ia teringat pada Ratna.


"Maaf Wid". Ia pun bangkit dari duduk nya.


" Seperti nya aku harus siap - siap karena sebentar lagi aku mau memotret model - model aku. Maaf ya Wid, lain kali kita mengobrol lagi. Aku harus buru - buru". Omen meninggalkan Widya sendirian di ruangannya.


Omen berlari ke kamar mandi, ia pun mengatur nafasnya kemudian ia mencuci wajah nya.


"Huh... Kenapa Widya harus kembali?".


#Tring...


Omen merogoh kantong celana nya untuk mengambil ponselnya. Ia pun melihat pesan WhatsApp yang baru masuk.


" Hai Men. Ini aku Rania. Kamu masih ingat sama aku?".


Omen terheran mendapatkan pesan dari seorang Rania.


"Rania? Dia dapat dari mana nomor aku?".


Omen pun segera membalas pesannya.


" Hai juga. Masih ingat lah siapa sih yang enggak ingat sama kamu, top model nomor satu dan yang paling cantik he he he 😊. Kamu dapat dari mana nomor aku?". Send.


#Tring...


Secepat itu Rania membalas pesannya.


"He he he syukur lah kalau begitu, kamu bisa saja memujinya fu fu fu ☺. Aku dapat nomor kamu dari Pak Suwandi. Enggak apa - apa kan aku minta nomor kamu?".


#Omen /" Oh. Enggak masalah kok. Oh ya. Memang ada apa nge-WA aku sepagi ini? Apa kamu mau memakai jasa kami lagi ya? Hi hi hi".


"Woi Bang.....!". Tiba - tiba Imam berteriak memanggilnya sembari menggedor pintu kamar mandi itu.


" Apa?". Teriaknya. Ia sempat terkejut.


Imam /"Ngapain kau di kamar mandi lama - lama? Orang ini sudah pada ngumpul ini. Mau jam berapa lagi sesi pemotretan nya? Nanti orang ini ngamok - ngamok sama kau".


"Iya bentar. Perut aku lagi sakit kali ini. Sabar lah". Omen menyimpan ponselnya kemudian ia pun keluar dari kamar mandi dan berpura - pura memasang tampang sakit perut ketika ia melihat Imam.

__ADS_1


Imam /" Lama kali kau. Orang itu sudah suntuk itu nungguin kau".


Omen memegang perutnya sembari berpura - pura merintih kesakitan.


"Nama nya aku lagi sakit perut. Sabar lah. Masuk angin mungkin aku ini karena enggak tidur semalam. Oh ya ngomong - ngomong sudah pulang belum tamu aku tadi?".


" Sudah. Enggak lama kau keluar dari ruangan, dia pun keluar. Eh iya dia siapa Bang?".


Omen menoyor jidat Imam.


"Kepo kali kau. Sudah ahh kata nya orang itu sudah nunggu, kau malah ngajakin aku bercakap (mengobrol) lagi, malah di depan kamar mandi pulak lagi huuh".


" Huft. Tinggal kasi tahu saja apa susah nya sih Bang. Siapa sih Bang tuh cewek? Kok bening kali orangnya". Imam menyusul Omen berjalan menuju ke ruang pemotretan.


"Kepo. Ku colok biji mata kau nanti ya kalau sekali lagi kau bilang - bilang dia bening".


" Hiis parah kali lah kau. Nanti ku bilang sama Mamak kau dan Kak Ratna kalau kau ketemu sama cewek cantik di sini. Biar tahu rasa kau Bang". Ia malah mengancam Omen.


Omen /"Bilang lah sana, enggak takut aku sama ancaman kau itu ha ha ha. Lagian orang itu sudah enggak heran kalau aku ketemu sama cewek - cewek cantik. Lweeek 😝".


"Hiiiist".


Imam memonyongkan bibirnya dan terpaksa menyimpan rasa penasarannya.


...


Perlahan Ratna membuka matanya kemudian ia melihat ke sekelilingnya terlihat samar.


"Alhamdulillah. Akhirnya Dokter Ratna sadar juga". Almira berseru lalu mendekatinya.


Sesuai rencananya, ia pun menjenguk Dokter Ratna setelah ia mengantar Ghifari ke sekolah.


Ratna mengerutkan dahinya melihat Almira.


" Aku lagi dimana?".


"Dokter Ratna lagi di rumah sakit". Eggy menjawab pertanyaannya.


Ratna beralih melihat Eggy. Ia merasa kebingungan.


Eggy /" Kemarin Dokter Ratna jatuh pingsan dan mengalami kritis. Jadi secepatnya saya mengambil tindakan untuk memasang ring pada jantung Dokter agar tidak memperburuk kondisi Dokter. Untung nya Omen langsung membawa Dokter ke sini".


Ratna terkejut kemudian ia memejamkan matanya sejenak.


Almira dan Eggy saling melirik, mereka juga merasa sedih dengan kondisinya.


Almira memegang pundak Ratna dan sesekali mengusapnya.


"Apa kalian sudah bilang sama Egga soal ini?". Ratna akhirnya berani bertanya dan menyinggung soal pendonoran itu.


Eggy /" Belum. Aku belum bisa ngasi tahu ke Bang Egga kalau Dokter Ratna lah pendonor itu karena kondisi Bang Egga masih belum memungkinkan untuk menerima kenyataan ini".


Air mata Ratna mengalir seketika.


"Bagus lah kalau begitu. Aku pun berharap kalian enggak akan ngasi tahu Egga soal ini, paling enggak sampai ia benar - benar sembuh".


Eggy /" Dokter Ratna tenang saja kalian pasti akan sembuh secepatnya. Aku pasti akan berusaha mencari jantung untuk Dokter Ratna, aku sangat berhutang budi sama Dokter Ratna karena Dokter sudah menyelamatkan Bang Egga".


Ratna tersenyum.


"Itu bukan lah hutang. Aku sama sekali tidak ingin kalian membalas atas perbuatan ku. Aku benar - benar ikhlas melakukannya".


Almira dan Eggy terdiam seribu bahasa sembari melihat Ratna.


...


" Hemm... Suam jadi bingung". Kini Almira dan Eggy sudah berada di ruangan Eggy setelah mereka membiarkan Ratna beristirahat.


"Bingung kenapa Suam?". Almira meliriknya.


" Suam bingung, apa Suam bilang sama Bang Egga atau tidak soal ini. Karena kedua pilihan itu sama - sama menyakitkan untuk mereka berdua". Jawabnya.


Almira mendekati Eggy lalu melingkarkan tangannya dari belakang.


"Hmm... Kalau itu enggak usah Suam pikirin dulu. Sekarang yang harus Suam pikirin itu bagaimana caranya menemukan pendonor itu dan menyembuhkan Dokter Ratna".


Eggy mendongakkan kepalanya kemudian tersenyum melihat Almira.


"Iya sayang. Ist doa kan ya supaya pendonor itu secepatnya di temukan".


Almira mencium kening Eggy.


"Iya, Ist pasti akan mendoakannya. Tapi kali ini Suam harus memastikannya sendiri siapa pendonor itu biar kejadian ini enggak terulang lagi he he he".


Eggy pun menganggukkan kepalanya sembari tertawa kecil.


" Iya. Kalau bisa jantung yang nusuk Bang Egga kita congkel karena gara - gara dia maka nya jadi kayak gini". Eggy malah menyalahkan preman yang sudah menusuk Egga tempo lalu.


"Ha ha ha mulut Suam itu. Ada - ada saja lah. Ngeri kali omongannya pakai mau nyongkel - nyongkel jantung orang. Kriminal itu namanya". Almira mencubit kedua lengan Eggy.


" Ha ha ha, habis nya Suam geram kali sama itu berandalan. Gara - gara dia saja ini semuanya. Nyawa, cinta dan kebahagian orang melayang di buatnya. Iya, Suam sumpahin tuh orang enggak bakalan tenang hidup nya". Eggy mengumpat orang tersebut.


Almira gemas pada Eggy sehingga ia menepuk pundak Eggy cukup keras.


"Iiiih sudah lah Suam. Istighfar Suam. Suam enggak boleh nyumpahin orang. Enggak baik. kita serahkan saja semuanya sama ALLAH. Biarkan ALLAH yang membalas semua perbuatannya. ALLAH pasti tidak akan tinggal diam. Justru ALLAH akan marah sama Suam kalau Suam terus mengumpat".


"Astaghfirullah. Suam terpancing emosi jadinya. Suam enggak akan mengumpatnya lagi. Gara - gara mengumpat dia Suam pun habis di pukuli sama Ist. Hufft". Eggy mengelus dadanya menyadari perkataannya.


" He he he, habisnya Suam ngegemesin sih Ummmm". Almira mencubit kedua pipi Eggy karena ia merasa gemas.


...


Ratna termenung sembari memandang ke arah jendela. Perasaannya masih berkecamuk memikirkan Egga.


#Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum".


Ratna menoleh ke arah orang yang sudah mengucapkan salam untuk nya. Ia menyunggingkan senyum nya menyambut senyuman Omen yang berjalan mendekatinya sambil membawa bungkusan berupa makanan untuk Ratna.


" Maaf ya aku tadi pagi ninggalin kamu sendirian dan baru sekarang ke sini he he he".


Ratna hanya tersenyum sembari mengedipkan matanya.


"Oh ya, aku bawa'in donat untuk kamu. Karena aku enggak tahu apa makanan kesukaan kamu makanya aku bawakan ini he he he. Eh... tapi kamu boleh enggak makan ini?". Omen mengeluarkan kotak yang berisi donat itu dari plastik nya.


Ratna /" Aku belum boleh makan makanan begituan. Aku cuma boleh makan bubur, buah dan sayur".


"Jiaaah jadi gimana donk ini?". Omen merasa kecewa.


Ratna /" Ya sudah kamu makan saja sendiri, kata nya kamu lagi kemarok makan he he he".


"Hemmp enggak gitu juga kali Rat. Makan segini banyak nya, yang ada aku bakalan muntah - muntah he he he". Membayangkan nya saja Omen sudah merasa enek.


Ratna /" He he he. Oh ya. Kamu bilang - bilang ke Mama aku enggak kalau aku di sini?".


Omen menepuk jidatnya.


"Oh iya! Aku lupa Rat. Ya ampun. padahal niat nya kalau kamu sudah bangun aku bakalan langsung bilang ke Mama kamu, tapi aku malah kelupaan karena heboh di studio. Maaf ya Rat".


Ratna /" Enggak apa - apa kok. Nanti aku sendiri yang akan ngabarin ke Mama ku. Mungkin Mama ku lagi khawatir kali karena anak nya enggak pulang - pulang he he he".


Omen merasa bersalah.


"Maaf ya. Ya sudah kalau gitu biar aku hubungi Mama kamu sekarang ya?".


" Enggak usah. Biar aku saja yang menghubungi nya. Terimakasih ya Man".


"Kamu enggak perlu berterimakasih sama aku. Itu sudah kewajiban aku sebagai teman kamu he he he". Ujarnya namun Omen merasa aneh menyebutkan hubungan mereka adalah sebuah pertemanan.


...

__ADS_1


Omen menatap wajah Ratna yang sedang tertidur pulas setelah ia meminum obatnya.


" Andai saja kita di pertemukan lebih awal Rat. Entah kenapa semakin aku mengenal mu aku semakin berat untuk memutuskan perjodohan kita. Aku enggak tahu apakah rasa ini adalah rasa cinta atau hanya rasa kagum saja terhadap mu karena pengorbanan mu untuk Egga begitu besar. Rasa itu muncul dengan tiba - tiba dan membuat ku merasa dilema". Dari lubuk hatinya yang terdalam berkata yang sebenarnya.


__ADS_2